2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Dari Ujung Lidah sampai Ujung Pangrupak: Membaca Saraswati sebagai Momentum Literasi

Putu Eka Guna Yasa by Putu Eka Guna Yasa
July 12, 2024
in Esai
Pawisik Durga, Galungan, dan Cinta Kasih

Putu Eka Guna Yasa

SABAN enam bulan sekali, masyarakat Hindu memperingati hari turunnya pengetahuan ke dunia yang diperantarai oleh seorang ibu bergelar Saraswati. Ketika turun ke dunia, beliau tidak hanya berkenan menempati bangunan mati berbentuk fisik-material, tetapi juga berstana di tubuh manusia yang hidup bernama lidah.

Lidah sebagai stana Saraswati disebutkan secara simbolis-filosofis dalam karya sastra Uttara Kanda. Pustaka itu menarasikan fragmen turunnya Saraswati ke lidah ketika Brahma hendak memberi anugerah kepada raksasa yang bernama Kumbakarna. Menyusupnya Saraswati ke lidah Kumbakarna menyebabkan ia kehilangan kendali untuk menyampaikan harapannya usai melakukan tapa brata yang berat. Kumbakarna gagal mendapatkan anugerah kesenangan abadi atau sukasadda karena Dewi Saraswati membelokkan lidahnya sehingga ia mengucapkan permohonan untuk tidur terus ‘supta saddha’.

Berangkat dari perenungan terhadap cerita di atas kita mendapatkan kesan bahwa lidah sebagai penghasil kata-kata menjadi manifestasi utama pengetahuan atau Saraswati. Baik dalam karya sastra maupun realita, kata-kata yang diujarkan orang menjadi parameter sejauh mana ia terpelajar atau kekurangan ajar. Dalam karya sastra Bhisma Parwa misalnya, kata-kata yang diucapkan Krisna mampu mencerahkan kegelapan batin dari Arjuna menghadapi situasi perang. Sementara itu, dalam karya sastra Bharatta Yuddha, kata-kata Bhagawan Biasa menyingkirkan kabut yang menyelimuti kekacauan pikiran Drupadi pasca kematian anak-anaknya.

Kata-kata dengan demikian adalah manifestasi Saraswati yang secara fisik didengar lalu dicerap oleh indra pendengaran seseorang ketika bertutur dengan mitra wicaranya. Memang benar kata-kata yang didengar itu tidak hilang untuk sementara karena otak memiliki memori yang tidak kita ketahui dengan pasti berapa besar kapasitasnya. Kita juga tidak pernah menghitung dalam sehari, berapa kata yang didengar dan mampu diingat oleh otak? Tidak hanya itu, kita seringkali tidak terampil dan tidak punya kekuasaan penuh untuk memilah sari-sari kata yang mesti didengar atau “sampah kata” yang mesti kita buang ke tempatnya. Entah kenapa “sampah kata” yang bisa melukai perasaan pemiliknya lebih lama melekat dalam ingatan.  Dari seratus ujaran baik, satu ujaran yang menyakitkan bisa diingat oleh otak bahkan hingga akhir hayat.

 Itulah salah satu kelemahan dari ujaran yang disampaikan secara lisan. Tuturan itu akan lenyap dilahap udara dan sirna seiring melemahnya kemampuan otak akibat umur yang tak mampu diukur. Para pelajar di masa lampau sangat menyadari hakikat alami ini. Oleh sebab itu, mereka menciptakan simbol-simbol visual yang dapat digunakan untuk mengabadikan sari-sari pemikiran, sari-sari pengetahuan, dan sari-sari pengalaman hidupnya sehingga dapat diwariskan kepada generasi berikutnya.

Simbol-simbol visual itu semula sangat sederhana berupa tampak-tampak tangan yang ditempel di dinding gua. Melalui simbol itulah mereka menunjukkan eksistensinya. Seiring kemajuan daya berpikir dan berkreasinya, manusia lalu menciptakan tanda-tanda yang identik dengan alam sekitarnya. Gunung diwujudkan dalam bentuk segitiga, matahari/bulan dalam wujud bulat, areal diwujudkan dalam bentuk segi empat, dan seterusnya. Tidak hanya berhenti pada simbol-simbol alam, pengetahuan yang dimiliki manusia menuntunnya untuk membuat simbol-simbol yang dapat mewakili ujaran. Pada awalnya simbol-simbol ujaran itu mewakili suku kata seperti ka, kha, ga, gha, nga, selanjutnya mereka berhasil menemukan simbol yang mewakili satu bunyi untuk satu simbol. Evolusi kemampuan dan kemajuan berpikir manusia dalam menciptakan simbol itulah yang menghasilkan aksara.

Aksara berasal dari bahasa Sanskerta yaitu akar kata a yang artinya tidak dan ksara yang artinya termusnahkan. Dengan demikian aksara berarti sesuatu yang tidak termusnahkan. Kenapa disebut tidak termusnahkan? Karena aksara berfungsi mengawetkan dan mengabadikan pikiran melalui kata-kata dalam wujud grafis dan visual. Aksara-aksara inilah yang menanggung beban untuk mengabadikan pengetahuan pasca dituturkan atau diwahyukan secara lisan. Oleh sebab itu, dalam keyakinan para intelektual-spiritual di masa lampau, aksara lalu dijadikan stana untuk memuja pengetahuan atau Saraswati.

Bersandar pada uraian di atas, kita mengetahui bahwa ada proses penggenahan Saraswati dari lidah dalam tubuh manusia sampai pada aksara. Hal inilah yang menyebabkan pada saat hari suci Saraswati untuk sesaat dari pagi hari sampai siang, kita tidak diperkenankan membaca aksara karena Saraswati sedang diturunkan dalam aksara-aksara tersebut. Yang dipuja sekali lagi adalah aksara, bukan medianya!

Karena masyarakat di masa lampau menulis di atas lontar maka secara sederhana dikatakan mantenin lontar ‘mengupacarai lontar’. Sejatinya bukan lontarnya yang dipuja tetapi aksara sebagai sarana menuangkan pengetahuan, aksara sebagai media literasi yang mencerdaskan! Sayang, usai mengupacarai lontar, budaya literasi tidak berlanjut. Membersihkan dan mengupacarai hanya sebatas ritual yang tidak termanifestasi menjadi aktivitas literal berupa baca-tulis yang massif dan berkesinambungan.

Saat ini, Saraswati juga disimbolkan dengan patung di hampir setiap instansi pendidikan. Penting direnungkan, semoga saja ini tidak bermakna daya literasi aksara kita menjadi semakin melemah akibat daya pikat perwujudan fisikal. Parahnya lagi, apabila proses pematungan itu menyebabkan orang tidak menemukan sisi keindahan atau kecantikan halus di atas guratan aksara yang sama-sama sebagai stana Saraswati.    

Saat Dewi Saraswati turun pada Saniscara Umanis Watugunung kita puja beliau dengan sarana sesaji untuk mendapatkan anugerah pengetahuan. Usai memuja dengan sesaji, setiap harinya kita puja Saraswati dengan sarana kesungguhan dan kerendahan hati agar jernih pengetahuan dapat ditimba lalu mengalir ke ceruk-ceruk batin. Pustaka Sri Purana menekankan upacara tersebut hanya dilakukan dari pagi sampai siang, sebab ketika sore beliau telah kembali ke Brahmalaya. Kenapa demikian? Barangkali Saraswati adalah simbol fajar baru yang senantiasa mengusir kegelapan hati dan pikiran melalui pengetahuan. Sudah saatnya, Saraswati menjadi momentum kebangkitan kesadaran literasi. [T]

BACA artikel lain dari penulis PUTU EKA GUNA YASA

Jelajah Sungai dalam Sastra dan Sarira
Patibrata: Pesan Teduh dan Teguh dari Sita dalam Kakawin Rāmāyana
Hutang Budi kepada Petani: Kesaksian Sastra Kawi dan Bali
Tags: Dewi SaraswatiHari Raya SaraswatiHari Saraswatihindulontar
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

“Mind Reader” dari Band Rock Balian: Emosi yang Mendalam

Next Post

Jalan-Jalan Pagi di Desa Pai, Thailand: Gambaran Nyata Desa Wisata

Putu Eka Guna Yasa

Putu Eka Guna Yasa

Pembaca lontar, dosen FIB Unud, aktivitis BASAbali Wiki

Related Posts

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
0
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

Read moreDetails

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
0
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

Read moreDetails

Manusia Purba di Kota Denpasar

by Angga Wijaya
October 1, 2026
0
Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

Read moreDetails

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
0
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

Read moreDetails

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

by Chusmeru
September 30, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

Read moreDetails

Cara Sederhana Menilai Kesehatan Bangsa

by Putu Arya Nugraha
September 29, 2026
0
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter

PARA ahli sering berdebat mengenai kemajuan dan kesejahteraan negara kita, memakai berbagai indikator yang kadang sulit dipahami. Beberapa indikator yang...

Read moreDetails

Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

by Ahmad Hirzan Anwari
September 29, 2026
0
Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

PADA 12 September 2026, saya menerima informasi dari grup WhatssApp. Isinya permohonan delegasi untuk mengikuti latihan kader bela negara yang...

Read moreDetails

Kusala Sastra Katulistiwa yang Menyalakan Cahaya di Jalan Sunyi Sastra

by Emi Suy
September 29, 2026
0
Kusala Sastra Katulistiwa yang Menyalakan Cahaya di Jalan Sunyi Sastra

ADA jalan yang tidak pernah benar-benar ramai. Sastra berjalan di sana, kadang ditemani lampu kecil dari sebuah kamar, meja kerja...

Read moreDetails

Brigitta Hauser-Schäublin: Batur, “Pasihan”, dan Peluang Diskusi Setelahnya

by Jero Penyarikan Duuran Batur
September 28, 2026
0
Brigitta Hauser-Schäublin: Batur, “Pasihan”, dan Peluang Diskusi Setelahnya

Puspawacana penulis tujukan untuk mendiang Ibu Prof. Brigitta Hauser-Schäublin yang telah berpulang ke kedamaian pada medio 2025. Penulis mengucapkan terima...

Read moreDetails

Melamar Kerja Saat Usia Tak Lagi Muda

by Angga Wijaya
September 27, 2026
0
Melamar Kerja Saat Usia Tak Lagi Muda

DUA hari lalu, saat membuka media sosial, saya melihat informasi lowongan kerja sebagai kontributor penulis pada sebuah media online nasional....

Read moreDetails
Next Post
Jalan-Jalan Pagi di Desa Pai, Thailand: Gambaran Nyata Desa Wisata

Jalan-Jalan Pagi di Desa Pai, Thailand: Gambaran Nyata Desa Wisata

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

by Chusmeru
September 30, 2026
Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”
Budaya

Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”

TABANAN | TATKALA -- Dua pelajar muda asal Tabanan, Bali, I Putu Bagus Sastra Vedanta Wiyasa dan Ni Kadek Ayu...

by Rusdy Ulu
September 30, 2026
Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?
Opini

Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

PENDIDIKAN gratis kembali menjadi pembicaraan publik pasca Presiden Prabowo Subianto pada 18 September 2026 menyatakan komitmennya agar biaya pendidikan pada...

by Dini Nastiti Wardani
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co