15 July 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Patibrata: Pesan Teduh dan Teguh dari Sita dalam Kakawin Rāmāyana

Putu Eka Guna Yasa by Putu Eka Guna Yasa
April 21, 2024
in Esai
Pawisik Durga, Galungan, dan Cinta Kasih

Putu Eka Guna Yasa

PANAH bernama guhya wijaya yang diberikan Dewa Indra kepada Rama berhasil menggugurkan Rawana. Apakah masalah selesai? Ternyata tidak. Setelah musuh di luar diri dikalahkan, maka pertempuran yang sejati adalah perang melawan musuh yang konon tempatnya dekat. Pengarang kakawin Ramayana sejak awal telah mengingatkan bahwa musuh itu tidak jauh, ia dekat, ia berada di dalam diri, ia bermarkas di hati. Pada gilirannya, reinkarnasi Wisnu itu juga berhadapan dengan dirinya sendiri. Benih keraguan atas kesucian Sita yang telah lama di negeri musuh tumbuh, berbunga, mekar  dan berbuah dalam hatinya. Benalu keraguan yang telah tumbuh di pohon hati itu ternyata sulit dihilangkan. Ketika ia perlahan membesar, pohon cinta Rama-Sita yang justru diancamnya.

Dengan keraguan itu sesungguhnya Rama menunjukkan sisi kemanusiaannya. Ia juga menggunakan logika manusia pada umumnya, mana mungkin seorang perempuan yang telah lama di negeri musuh tidak pernah dijamah oleh penculiknya. Terlebih tempat diculiknya Sita adalah sarang raksasa yang aktivitas kesehariannya memang bergelut dalam dunia yang diklaim oleh pengarang berkecimpung dengn minuman keras, sanggama, pemerkosaan, perang, dan sejenisnya. Sekali lagi logika Rama sangat masuk akal. Meskipun Ia lupa, raksasa Rawana yang telah menculik istrinya itu juga adalah raksasa berkualitas, pemuja Siwa yang taat, dan tidak hanya ingin memenangkan tubuh tetapi sekaligus hati Sita.

Keraguan yang kuat itu disikapi oleh Rama dengan cara menyatakan ingin menceraikan Sita. Rama sama sekali tidak menggunakan kekuatan kedewataannya yang betel tingal untuk mengetahui salampah laku Sita selama berada di Alengka. Apabila Rama menggunakan kemampuannya itu, Ia tentu tahu bahwa istrinya selama berada di negeri Alengka dengan teguh menjalankan patibrata. Lalu apakah patibrata itu, apa godaannya, dan apa anugrah yang diterima Sita? Seperti itulah pada umumnya cara kita sebagai manusia pragmatis berpikir dengan orientasi apa yang hendak didapatkan ketika melaksanakan suatu ajaran. Dengan tidak melandaskan diri pada kewajiban, tidakkah kadar ketulusan pelaksanaan suatu ajaran akan berkurang?

Ajaran patibrata yang dijalani Sita tidak dinyatakan secara langsung, tetapi kita ketahui dari ungkapan-ungkapan Tri Jata, satu di antara perempuan raksasa baik hati anak Wibhisana yang melayani Sita selama disekap di taman Angsoka. Sita sendiri tidak pernah sekalipun menyatakan dirinya melaksanakan ajaran patibrata. Ajaran itu misalnya dinyatakan Tri Jata setelah menyaksikan penolakan mentah-mentah yang dilakukan Sita atas rayuan Rawana yang telah dipersiapkan dengan matang. Meski telah memberi berbagai hadiah, Sita tetap menolak untuk dipersunting Rawana. Maka dengan meminjam lidah Tri Jata, pengarang menyatakan tuwi satya tar papadha ring patibrata Sita benar-benar setia tanpa tanding dalam pelaksanaan Patibrata”.

Barangkali, tidak menyatakan diri melaksanakan suatu brata adalah bagian dari brata itu sendiri. Berbeda sekali dengan sejumlah penekun dunia spiritual saat ini yang dengan terang-terangan menyatakan diri sedang melakukan suatu brata. Justru ketika ada seseorang yang menyatakan diri melaksanakan brata tertentu, apalagi sampai menggembar-gemborkannya, kita patut bertanya kesejatian brata yang dilakukannya. Konon brata adalah janji diri yang sifatnya sangat personal. Seseorang yang menempuhnya harus siap dengan kesendirian sebagai hadiah pertama atas janji dirinya, sementara godaan adalah hadiah berikutnya. Tanpa godaan kualitas brata seseorang tidak akan diketahui. Baru mendapatkan godaan, belum tentu juga seseorang akan menerima anugrah.  

Sita mempelajari dan mempraktikkan langsung ajaran patibrata di sebuah universitas di luar negerinya bernama Alengka, setelah ia berhasil diculik Rawana dengan wujud pandeta di hutan Citrakuta.  Sita yang ditinggalkan Rama dan Laksmana mencari kidang emas seorang diri di hutan ternyata merasa kesepian. Memanfaatkan kesepian itu, Rawana merubah wujud menjadi seorang pendeta dan berhasil melarikannya. Seorang perempuan yang tengah kosong hatinya, perlu berhati-hati dari raksasa yang menyamar menjadi pendeta, barangkali itulah pesan yang dapat ditangkap dari fragmen ini. Sita sesungguhnya tidak sepenuhnya salah dalam kejadian ini, ia hanya setia pada konvensi tradisi, bahwa salah satu sumber kebenaran dapat diraih dari tutur kata pendeta. Memang demikianlah yang diungkapkan dalam teks-teks sastra. Niti Raja Sasana misalnya menyatakan bahwa sari-sari sastra dan baik-buruk kehidupan dapat dicari pada nasihat pendeta (reh saking pandita sami, kojaran sarining sastra, ala ayu benar sisip).

Dari gambaran pengarang, Sita bukanlah sosok yang lemah dalam intelektual, Ia adalah figur perempuan terpelajar. Pada zamannya ia membaca kitab-kitab parwa, purana, dan kanda. Oleh sebab itu, ketika dilanda kesedihan yang mendalam setelah berpisah dengan suaminya, Ia meminta tolong kepada Tri Jata untuk dibacakan kisah-kisah perpisahan dan pertemuan seperti yang tersurat dalam pustaka-pustaka tersebut. Tidak hanya itu, Sita juga menguasai ilmu kecantikan yang ia pelajari dari kitab Indrani Sastra. Dalam konteks penculikannya, Sita hanya kurang terlatih mengidentifikasi pendeta sejati dan pendeta samaran, sama juga dengan kita saat ini yang kurang peka menyadari sosok wiku nagara dan wiku raksasa.

Setelah diculik, Sita ditempatkan di taman Angsoka. Angsoka yang berarti taman bebas dari kesedihan, tak mampu sedikitpun mengobati lara hati Sita selama di Alengka yang long distance relation dengan Rama. Di taman itulah kualitas patibrata Sita diuji. Sita dibujuk oleh Rawana dengan berbagai hadiah berupa intan, permata, pakaian, dan perhiasan lainnya. Rawana bahkan telah membuatkan rumah yang terbuat dari permata umah manik sebagai tempat tidur, tetapi Sita lebih memilih menghabiskan malam-malamnya dengan berbaring di atas pertiwi.

Selain itu, Sang Dasanana juga menjanjikan Sita kedudukan di ketiga dunia. Jika Sita mau saja menerima permintaannya, Dewa Indra sekalipun akan dijadikan pelayannya. Meskipun Rawana telah menggunakan seluruh daya upaya, Sita bagaikan gunung yang tidak pernah goyah kesetiaannya. Keteguhan Sita lantas menyebabkan Rawana tidak lagi memilih pendekatan dialogis.  Ia berusaha melakukan tekanan psikologis dengan cara menipu Sita menggunakan penggalan kepala Rama. Hati Sita hancur, tetapi berhasil ditenangkan oleh informasi Wibisana yang menyatakan Rama masih hidup. Tekanan fisik juga sempat dilakukan Sang Dasamuka dengan menghunuskan keris kepada Sita, namun Dewi Janaki tak takut kepada kematian. Keteguhannya menyebabkan Rawana tidak berhasil sekalipun menjamah Sita.

Sita yang sesungguhnya telah tamat dari godaan cinta, harta, dan tahta yang ditawarkan Rawana, ternyata belum lulus. Ujian tahap akhir ditempuhnya ketika menghadapi keragu-raguan suaminya sendiri. Luka hati yang belum benar-benar kering atas penculikan yang dilakukan Rawana, dilanjutkan dengan sayatan luka baru dari penolakan Rama atas dirinya. Setelah Dasamuka berhasil dikalahkan, Rama justru menyangsikan integritas Sita selama berada di negeri Alengka. Ia pun takut, Sita akan mengotori keturunan Ragu apabila tidak menceraikan Dewi Janaki yang telah ternoda. Dengan sungguh-sungguh Ia lalu menawarkan Sita untuk kembali ke Metila, tinggal bersama Wibisana di negeri Alengka, menuju ke tempat Sugriwa, atau menetap bersama Barata dan Laksmana. Sungguh memilukan.

Sita sebagai perempuan tegar tentu tidak menerima tuduhan yang dialamatkan kepadanya. Ia meminta Tri Jata untuk memberikan testimoni, sebab dialah saksi hidup selama Sita di Alengka.  Tri Jata telah menyampaikan betapa bakti dan setianya Sita selama berada di kerajaan Rawana. Dia berusaha meyakinkan Rama sebagai reinkarnasi Wisnu yang tampaknya dilanda kebingungan. Dalam konteks inilah pengarang menyampaikan ungkapan tatar hana saswatānulus yang artinya “tidak ada kehidupan yang sempurna”. Sebuah ungkapan yang saat ini biasa dikutip untuk dijadikan penutup dalam suatu pidato, sambutan, darma wacana dengan berbagai variasi tanpa pernah membaca sumbernya.

Tidak hanya meminta penjelasan Tri Jata, putri raja Janaka itu juga berseru kepada lima unsur alam semesta yaitu tanah, air, sinar, angin, dan udara yang ada di luar dan di dalam diri sebagai saksi. Kepada tanah yang menjadi tempat hidup semua ciptaan, kepada air yang menghidupi jagat, kepada sinar yang selalu ada siang dan malam, kepada angin yang menyusupi semua makhluk, dan kepada angkasa yang merangkul bumi, Sita meminta bantuan.  Akan tetapi sia-sia, karena Rama masih tetap tidak percaya.

Tidak ada jalan lain kecuali membuktikan kesuciannya dengan cara melabuh geni menceburkan diri ke dalam kobaran api. Kepada Dewa Agni sebagai saksi dunia Sita berikrar, jika ia ternoda maka tubuhnya akan terbakar. Akan tetapi, jika ia suci maka perlindungan dan pembuktian yang ia mohonkan. Tidak berselang lama, persiapan segara dilakukan oleh Laksmana. Kayu-kayu dibakar dengan lidah apinya yang berkobar. Sita terjun ke dalam lautan api, namun dirinya sama sekali tidak terbakar. Melainkan perasaan orang-orang yang melihat peristiwa itu yang hangus.

Api seketika berubah menjadi teratai emas (kanaka pangkaja), nyalanya menjadi kelopak daun (dadi dala tang dilah), dan asapnya menjadi keharuman bunga teratai (kukus arum). Dengan cara itu Sita membuktikan kesetiaannya. Itulah anugrah bagi ia yang melakukan ajaran patibrata. Ajaran patibrata yang dijalankan Ibunda Sita dalam kakawin Ramayana barangkali menitipkan pesan ketegaran dan kesetiaan kepada generasi yang disebut-sebut milenial kini. Kata Sita memang sangat dekat dengan Siti yang artinya pertiwi atau bumi. Sita dan Siti sama-sama menitipkan pesan ketegaran dan kesetiaan. Ibunda Sita setia terhadap Rama, sedangkan ibu bumi selalu setia pada bapa akasa.

Di zaman sekarang tentu kita bisa bertanya, apakah kesetiaan hanya harus dilakukan oleh seorang perempuan? Adakah sumber sastra yang menyebutkan kesetiaan seorang laki-laki? Jawabannya ada. Tetapi kita akan bahas di lain kesempatan. [T]

  • BACA artikel lain dari penulis PUTU EKA GUNA YASA
Hutang Budi kepada Petani: Kesaksian Sastra Kawi dan Bali
Niksayang Peplajahan: Tujuan Ida Padanda Made Sidemen Menjadi Pendeta
Nurat Asing Gon : Kunci Produktivitas Ida Padanda Made Sidemen dalam Bersastra
Tags: Kakawin RamayanalontarRamayana
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Ketut Buderasih, 81 Tahun, Masih Baca Buku, Tuntaskan Tetralogi Pramudya dan Buku Seno

Next Post

Perempuan-perempuan Tua Banjar Paketan itu Menari Gelatik dengan Gembira

Putu Eka Guna Yasa

Putu Eka Guna Yasa

Pembaca lontar, dosen FIB Unud, aktivitis BASAbali Wiki

Related Posts

Dosen itu Buruh atau ‘Professional-Managerial Class?’

by Afgan Fadilla
July 13, 2026
0
Dosen itu Buruh atau ‘Professional-Managerial Class?’

PERDEBATAN mengenai apakah dosen itu buruh atau bukan semakin sering terdengar di media sosial dan berbagai ruang diskusi akademik di...

Read moreDetails

HINDU BALI OLENG KARENA TIGA PILAR SUCI TAK SEIMBANG?

by Sugi Lanus
July 12, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

— Sugi Lanus, Catatan Harian 8 Juli 2026 Agama Hindu di Bali berdiri di atas tiga pilar suci yang tak...

Read moreDetails

Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum

by I Wayan Artika
July 12, 2026
0
Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum

Materi ini akan disampaikan dalam Festival Seni Bali Jani VIII, Denpasar 20 Juli 2026 MENJADI dosen sastra bagi saya bukan...

Read moreDetails

Tak Ada Goresan yang Salah —Mengenang Made Budhiana

by Agung Bawantara
July 12, 2026
0
Tak Ada Goresan yang Salah —Mengenang Made Budhiana

Hal pertama yang saya ingat dari Made Budhiana bukanlah lukisan. Melainkan suara The Doors yang diputar keras-keras di studionya. Kadang...

Read moreDetails

Yang Tidak Pernah Selesai: Requiem untuk Made Budhiana

by Wayan Gde Yudane
July 11, 2026
0
Yang Tidak Pernah Selesai: Requiem untuk Made Budhiana

ADA perpisahan yang datang dengan perlahan, seolah memberi kita waktu untuk bersiap. Ada pula yang, meskipun telah lama kita nantikan...

Read moreDetails

Maestro Made Budhiana Berpulang, Seni Rupa Indonesia Berduka

by I Gede Made Surya Darma
July 10, 2026
0
Maestro Made Budhiana Berpulang, Seni Rupa Indonesia Berduka

DUNIA seni rupa Indonesia kembali berduka. Maestro seni rupa kontemporer Indonesia, Made Budhiana, berpulang pada Jumat, 10 Juli 2026, pukul...

Read moreDetails

Fenomena Desa Wisata: Viral Lalu Mati

by Chusmeru
July 10, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

Seiring dengan isu keberlanjutan lingkungan di destinasi wisata yang jadi orientasi wisatawan generasi Z dan milenial, desa wisata berkembang menjadi...

Read moreDetails

Niat Baik vs Nepotisme: Pelajaran Tata Negara dari Era Utsman

by Nur Inayah Yushar
July 9, 2026
0
Gelar Langit, Gaji Bumi: Gelar Mentereng tapi Dompet Kering, Rahasia Dapur Dosen yang Akhirnya Dibongkar di MK

SALAH satu jebakan terbesar dalam psikologi politik masyarakat Indonesia adalah kecenderungan memilih atau memercayai pemimpin hanya berdasarkan citra kesalehan, keluhuran...

Read moreDetails

Bali, Surga yang Sudah Overload

by Agung Sudarsa
July 9, 2026
0
Bali, Surga yang Sudah Overload

Ketika Surga Kehilangan Napas SELAMA puluhan tahun, Bali dipuja sebagai Pulau Dewata,The Last Paradise, surga tropis yang menghadirkan harmoni antara...

Read moreDetails

Bunglon di Republik Kita

by Petrus Imam Prawoto Jati
July 8, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

DI taman kebun belakang rumah saya ada 2 ekor bunglon yang hidup sehari-hari di situ. Tadinya tidak ada, tahu-tahu ada...

Read moreDetails
Next Post
Perempuan-perempuan Tua Banjar Paketan itu Menari Gelatik dengan Gembira

Perempuan-perempuan Tua Banjar Paketan itu Menari Gelatik dengan Gembira

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kacak Kicak dan Pembacaan Akan Sesuatu yang Setengah-Setengah

    23 shares
    Share 23 Tweet 0
  • Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ketika Kisah CEO Menyamar ala Drama Korea Hadir dalam Lawak Bali
Panggung

Ketika Kisah CEO Menyamar ala Drama Korea Hadir dalam Lawak Bali

KISAH CEO yang menyamar lazimnya identik dengan drama Korea yang dipenuhi ketegangan, romansa, dan konflik keluarga. Namun, cerita yang akrab...

by Nyoman Budarsana
July 15, 2026
“Unity in Harmony”Orkestra Brass Band ISI Bali dan Crescendo, Energi Baru di Festival Seni Bali Jani 2026
Panggung

“Unity in Harmony”Orkestra Brass Band ISI Bali dan Crescendo, Energi Baru di Festival Seni Bali Jani 2026

Gemuruh tiupan saksofon, dentuman drum, dan lengking gitar listrik memenuhi Gedung Ksirarnawa, Taman Budaya Bali, Senin (13/7/2026) malam. Melalui pertunjukan...

by Nyoman Budarsana
July 15, 2026
Bali Megarupa VIII: Saat Spiritualitas, Tradisi, dan Seni Kontemporer Bertemu dalam Satu Ruang
Pameran

Bali Megarupa VIII: Saat Spiritualitas, Tradisi, dan Seni Kontemporer Bertemu dalam Satu Ruang

MEMASUKI Gedung Kriya, Taman Budaya Provinsi Bali, pengunjung seolah diajak melintasi beragam dunia. Di satu sudut, akar kayu menjelma simbol...

by Nyoman Budarsana
July 14, 2026
Kreativitas Tanpa Batas Warnai Lomba Tari Modern Festival Seni Bali Jani 2026
Khas

Kreativitas Tanpa Batas Warnai Lomba Tari Modern Festival Seni Bali Jani 2026

LOMBA Tari Modern dalam rangka Festival Seni Bali Jani (FSBJ) VIII Tahun 2026 menghadirkan beragam karya yang mencerminkan perkembangan seni...

by Nyoman Budarsana
July 14, 2026
Menjelajah Kosmologi Kreativitas Ketut Suwidiarta di Five Roastery & Art Café
Budaya

Menjelajah Kosmologi Kreativitas Ketut Suwidiarta di Five Roastery & Art Café

Di tengah riuh kafe yang biasanya dipenuhi aroma kopi dan percakapan santai, sebuah ruang diskusi tentang seni akan dibuka di...

by Nyoman Budarsana
July 14, 2026
Beranda Pustaka Hidupkan Festival Seni Bali Jani VIII, Hadirkan Ruang Literasi yang Hangat dan Inklusif
Khas

Beranda Pustaka Hidupkan Festival Seni Bali Jani VIII, Hadirkan Ruang Literasi yang Hangat dan Inklusif

DI tengah semarak pertunjukan seni yang mewarnai Festival Seni Bali Jani (FSBJ) VIII, hadir sebuah ruang yang menawarkan pengalaman berbeda....

by Nyoman Budarsana
July 14, 2026
Wayang Ental dan Ruang yang Tersisa Sebelum “Nanti Dulu”
Panggung

Wayang Ental dan Ruang yang Tersisa Sebelum “Nanti Dulu”

BAYANGAN adalah jiwa dari wayang kulit. Di tangan seorang dalang, lembar-lembar kulit hidup melalui permainan cahaya. Namun, Wayang Ental memilih...

by Nyoman Budarsana
July 14, 2026
Ketika Waktu Berpindah Tangan
Ulas Musik

Ketika Waktu Berpindah Tangan

Ada lagu yang tidak sekadar didengar, melainkan mengetuk zaman. The Times They Are a-Changin’ karya Bob Dylan adalah salah satunya....

by Ahmad Sihabudin
July 13, 2026
Menguak Pesanggrahan Prabu Siliwangi di ‘Kota Angin’ Majalengka
Tualang

Menguak Pesanggrahan Prabu Siliwangi di ‘Kota Angin’ Majalengka

MENYUSURI jalanan di Kabupaten Majalengka mengingatkan berbagai julukan yang melekat pada daerah di bagian timur Provinsi Jawa Barat ini. Pertama...

by Chusmeru
July 13, 2026
Membincangkan Posisi dan Potensi Sastra Indonesia di Singaraja Literary Festival 2026
Khas

Membincangkan Posisi dan Potensi Sastra Indonesia di Singaraja Literary Festival 2026

 “Generasi yang selalu difitnah inilah yang sebetulnya menghidupkan sastra masa kini.” Pernyataan JS Khairen itu menjadi salah satu penanda arah...

by Dede Putra Wiguna
July 13, 2026
Dosen itu Buruh atau ‘Professional-Managerial Class?’
Esai

Dosen itu Buruh atau ‘Professional-Managerial Class?’

PERDEBATAN mengenai apakah dosen itu buruh atau bukan semakin sering terdengar di media sosial dan berbagai ruang diskusi akademik di...

by Afgan Fadilla
July 13, 2026
Indonesia Flair Tandem 2026: Saat Bartender Menyulap Atraksi Menjadi Seni Pertunjukan
Panggung

Indonesia Flair Tandem 2026: Saat Bartender Menyulap Atraksi Menjadi Seni Pertunjukan

DENTING botol beradu dengan irama musik. Shaker melayang di udara, berputar beberapa kali sebelum kembali mendarat tepat di tangan sang...

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co