2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Perlindungan Sastra untuk Kekerasan Terhadap Anak:  Catatan dari Pustaka Adiparwa

Putu Eka Guna Yasa by Putu Eka Guna Yasa
July 23, 2024
in Esai
Pawisik Durga, Galungan, dan Cinta Kasih

Putu Eka Guna Yasa

KASUS pembuangan orok atau bayi seolah tak pernah berhenti. Kejadian ini tentu ironis, sebab di tengah-tengah tak semua orang tua beruntung mendapatkan titipan anak biologis dari Tuhan, sejumlah oknum orang tua justru tega mengakhiri hidup anak-anaknya yang nirdosa. Kita tentu bisa saja berasumsi ada kejadian luar biasa yang menyebabkan mereka memilih untuk menempuh jalan ini. Motif yang paling lumbrah pasti hamil di luar nikah. Akan tetapi, dengan motif apapun tindakan yang berujung pada pembunuhan sangat disayangkan dan tidak boleh ditiru!

Perbuatan itu jelas melanggar hukum dan bertentangan dengan nilai-nilai sastra yang kita warisi di Bali. Kita tidak akan membahas lebih jauh pasal-pasal hukum yang bisa menjerat seorang ibu apabila melakukan tindakan seperti ini. Melainkan mencoba mencari jejak perlindungan terhadap anak yang kemungkinan terselip dalam warisan-warisan sastra kita.

Jejak perlindungan anak sejatinya telah diwacanakan dalam pustaka Adiparwa. Karya sastra tersebut mengisahkan satu fragmen penting tentang penetapan hukuman terhadap anak melalui kisah seorag pertapa bernama Bhagawan Animandawya dengan hakim surgai, yaitu Yamadipati.

Yamadipati yang menjabat sebagai hakim memang bertugas untuk menjatuhkan hukuman bagi jiwa-jiwa manusia setelah mati. Akan tetapi, sebagai tokoh yang dipercaya menjatuhkan hukuman, Yamadipati sendiri juga tidak luput dari hukuman. Pada suatu saat, Resi Animandawya tengah melakukan tapa, brata, yoga, dan samadhi. Secara lebih khusus, beliau menggelar brata yang mahaberat yaitu diam atau monabrata. Suatu brata yang berat dapat dipastikan juga akan mendapatkan godaan yang berat. Seseorang baru berhak mendapatkan pujian, setelah lulus dari berbagai ujian. Begitulah siklusnya.

Kala Sang Pendeta melakukan tapa brata, ternyata pada saat yang bersamaan ada seorang pencuri yang bersembunyi di pertapaannya. Para pasukan kerajaan yang berusaha menyisir pencuri tersebut hingga sampai pertapaan Resi Animandawya akhirnya bertemu dengan Sang Pendeta.

Para pasukan tersebut bertanya kepada Sang Pendeta apakah beliau melihat pencuri yang melarikan berbagi barang berharga dari kerajaan. Meskipun barangkali Sang Pendeta mendengar pertanyaan para pasukan, beliau ternyata teguh melakukan tapa brata. Berkali-kali para pasukan bertanya, tetapi tidak mendapatkan sepatah katapun. Oleh sebab itulah mereka kemudian masuk ke dalam pertapaan. Betapa mereka terperangah, ternyata pencuri itu benar ada di tengah katyagan, tempat sang pendeta melakukan aktivitas kebrahmanaan.

Karena situasi inilah para pasukan tersebut menuduh Resi Animandawya bersekongkol dengan si pencuri. Akibat kemarahan raja yang kecewa atas dugaan persekongkolan Sang Resi, akhirnya beliau dijatuhi hukuman dengan cara yang sangat kejam, yaitu menusuk pantat beliau dengan tombok.

Meski menahan rasa sakit yang luar biasa, yoga Sang Pendeta yang sudah matang mampu membuat beliau tahan atas sakit tusukan tombak itu. Tombak raja tentu tidak hanya menyakiti fisik Resi Animandawya, tetapi juga batinnya. Karena beliau memang tidak bersalah. Terlebih, beliau tengah melakukan janji diri yaitu mona brata ‘diam’.

Para Resi lainnya yang tahu kejadian ini tidak hanya protes kepada Sang Raja, tetapi juga segera mengonfirmasi Raja Alam Baka yang menetapkan hukuman kepada manusia, Yamadipati. Kaum Resi itu paham betul bahwa segala kejadian di dunia ini tidak akan berlangsung tanpa intervensi dari Yamadipati. Ketika ditanyai soal alasan penjatuhan hukuman terhadap Resi itu, Yamadipati mengatakan bahwa saat Resi Animandawya masih anak-anak, beliau  sempat menusuk-nusuk pantat capung. Oleh karena itulah, ketika dewasa Sang Resi harus mendapatkan hukuman yang setimpal akibat perbuatannya,

Mendengar pernyataan Yamadipati, para Resi itu tidak setuju. Sebab, seorang anak yang belum berumur empat belas tahun tidak dapat dijatuhi hukuman (yadikang rare magawe doşa ri padblas tahun wayahnya, yogya tibāna daņdha). Di umur itu, anak-anak tidak sepantasnya mendapatkan hukuman, karena mereka belum paham baik dan buruk (tan yogya tibāna danda, ikang rare yan tuning kinahanan ing idĕp hala hayu). Dengan alasan itulah, para Resi kemudian mengutuk Yamadipati agar bereinkarnasi ke dunia menjadi seseorang yang berkaki pincang. Ia adalah Widura, Perdana menteri kerajaan Hastina Pura.

Membaca fragmen kisah Yamadipati dalam pustaka Adiparwa di atas kita merasa ada jejak-jejak purba perlindungan terhadap anak. Dalam karya sastra tersebut secara terang benderang disebutkan bahwa seorang anak yang belum berumur empat belas tahun tidak boleh dijatuhi hukuman.

Pada saat yang bersamaan, kita juga dapat memaknai pustaka ini sebagai bentuk perlindungan sastra terhadap anak. Di usianya yang belum lebih dari empat belas tahun, pantang memberikan hukuman dan tindakan kekerasan lainnya terhadap seorang anak, meskipun orang tua dengan berbagai alasan dan otoritas kadang melakukan hal itu terhadap putranya. Sampai di sini, barangkali penting bagi kita merenungkan petikan Kakawin Niti Sastra tentang pendidikan anak sesuai dengan tingkat umurnya.

Karya sastra yang dalam tradisi Bali diyakini karya Dang Hyang Nirartha ini menjelaskan bahwa anak yang berumur lima tahun patut diperlakukan seperti anak raja (Tiŋkahiŋ sutaśasaneka kadi rāja tanaya ri sĕdĕŋ limaŋ tawun). Apabila ia sudah berumur tujuh tahun patut diperlakukan seperti pelayan (saptaŋ warṣa warā hulun).  

Sementara itu, ketika usianya sudah menginjak sepuluh tahun, ia mulai diajarkan aksara (sapuluhiŋ tahun ika wurukĕn riŋ akṣara). Jika sudah enam belas tahun perlakukan seperti sahabat baik, dan berhati-hati menunjukkan kesalahannya (yapwan sodaṣawarṣa tulya wara mitra tinaha taha denta mīdana). Jika ia sendiri sudah berkeluarga dan berputra, orang tuanya cukup hanya mengamat-amati saja tingkahnya. Apabila dalam keadaan tertentu orang tua ingin memberikan nasihat, ia cukup menyampaikannya dengan isyarat (yan wus putra suputra yiŋhalana solahika wurukĕn iŋ nayeŋ gita).

Penjalasan pustaka Niti Sastra di atas adalah ilmu parenting cara Jawa Kuno dan Bali.  Kenapa kita perlu menerapkan pola pendidikan tersebut kepada sang anak? Sebab, pustaka Slokantara menyatakan bahwa membuat seratus sumur kalah pahalanya dengan membuat satu telaga, membuat seratus telaga kalah pahalanya dengan membuat satu yadnya, seratus yadnya dikahkan dengan kelahiran satu putra yang teguh melaksanakan tapa, brata, yoga, samadhi dan berbagai kebagikan untuk sesamanya.

Selamat Hari Anak Nasional.   

BACA artikel lain dari penulis PUTU EKA GUNA YASA

Dari Ujung Lidah sampai Ujung Pangrupak: Membaca Saraswati sebagai Momentum Literasi
Jelajah Sungai dalam Sastra dan Sarira
Patibrata: Pesan Teduh dan Teguh dari Sita dalam Kakawin Rāmāyana
Hutang Budi kepada Petani: Kesaksian Sastra Kawi dan Bali
Tags: anak-anakhari anak nasionalkekerasan terhadap perempuan dan anaksastra
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Arja “Alas Langit Peteng”: Manis & Pangus — Catatan TA Mahasiswa Pendidikan Bahasa Bali Undiksha

Next Post

Pedagang Kaki Lima di Pinggiran Danau Beratan: Dianggap Mengganggu, Dikejar-kejar Petugas

Putu Eka Guna Yasa

Putu Eka Guna Yasa

Pembaca lontar, dosen FIB Unud, aktivitis BASAbali Wiki

Related Posts

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
0
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

Read moreDetails

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
0
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

Read moreDetails

Manusia Purba di Kota Denpasar

by Angga Wijaya
October 1, 2026
0
Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

Read moreDetails

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
0
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

Read moreDetails

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

by Chusmeru
September 30, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

Read moreDetails

Cara Sederhana Menilai Kesehatan Bangsa

by Putu Arya Nugraha
September 29, 2026
0
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter

PARA ahli sering berdebat mengenai kemajuan dan kesejahteraan negara kita, memakai berbagai indikator yang kadang sulit dipahami. Beberapa indikator yang...

Read moreDetails

Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

by Ahmad Hirzan Anwari
September 29, 2026
0
Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

PADA 12 September 2026, saya menerima informasi dari grup WhatssApp. Isinya permohonan delegasi untuk mengikuti latihan kader bela negara yang...

Read moreDetails

Kusala Sastra Katulistiwa yang Menyalakan Cahaya di Jalan Sunyi Sastra

by Emi Suy
September 29, 2026
0
Kusala Sastra Katulistiwa yang Menyalakan Cahaya di Jalan Sunyi Sastra

ADA jalan yang tidak pernah benar-benar ramai. Sastra berjalan di sana, kadang ditemani lampu kecil dari sebuah kamar, meja kerja...

Read moreDetails

Brigitta Hauser-Schäublin: Batur, “Pasihan”, dan Peluang Diskusi Setelahnya

by Jero Penyarikan Duuran Batur
September 28, 2026
0
Brigitta Hauser-Schäublin: Batur, “Pasihan”, dan Peluang Diskusi Setelahnya

Puspawacana penulis tujukan untuk mendiang Ibu Prof. Brigitta Hauser-Schäublin yang telah berpulang ke kedamaian pada medio 2025. Penulis mengucapkan terima...

Read moreDetails

Melamar Kerja Saat Usia Tak Lagi Muda

by Angga Wijaya
September 27, 2026
0
Melamar Kerja Saat Usia Tak Lagi Muda

DUA hari lalu, saat membuka media sosial, saya melihat informasi lowongan kerja sebagai kontributor penulis pada sebuah media online nasional....

Read moreDetails
Next Post
Pedagang Kaki Lima di Pinggiran Danau Beratan: Dianggap Mengganggu, Dikejar-kejar Petugas

Pedagang Kaki Lima di Pinggiran Danau Beratan: Dianggap Mengganggu, Dikejar-kejar Petugas

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

by Chusmeru
September 30, 2026
Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”
Budaya

Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”

TABANAN | TATKALA -- Dua pelajar muda asal Tabanan, Bali, I Putu Bagus Sastra Vedanta Wiyasa dan Ni Kadek Ayu...

by Rusdy Ulu
September 30, 2026
Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?
Opini

Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

PENDIDIKAN gratis kembali menjadi pembicaraan publik pasca Presiden Prabowo Subianto pada 18 September 2026 menyatakan komitmennya agar biaya pendidikan pada...

by Dini Nastiti Wardani
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co