22 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Perlindungan Sastra untuk Kekerasan Terhadap Anak:  Catatan dari Pustaka Adiparwa

Putu Eka Guna Yasa by Putu Eka Guna Yasa
July 23, 2024
in Esai
Pawisik Durga, Galungan, dan Cinta Kasih

Putu Eka Guna Yasa

KASUS pembuangan orok atau bayi seolah tak pernah berhenti. Kejadian ini tentu ironis, sebab di tengah-tengah tak semua orang tua beruntung mendapatkan titipan anak biologis dari Tuhan, sejumlah oknum orang tua justru tega mengakhiri hidup anak-anaknya yang nirdosa. Kita tentu bisa saja berasumsi ada kejadian luar biasa yang menyebabkan mereka memilih untuk menempuh jalan ini. Motif yang paling lumbrah pasti hamil di luar nikah. Akan tetapi, dengan motif apapun tindakan yang berujung pada pembunuhan sangat disayangkan dan tidak boleh ditiru!

Perbuatan itu jelas melanggar hukum dan bertentangan dengan nilai-nilai sastra yang kita warisi di Bali. Kita tidak akan membahas lebih jauh pasal-pasal hukum yang bisa menjerat seorang ibu apabila melakukan tindakan seperti ini. Melainkan mencoba mencari jejak perlindungan terhadap anak yang kemungkinan terselip dalam warisan-warisan sastra kita.

Jejak perlindungan anak sejatinya telah diwacanakan dalam pustaka Adiparwa. Karya sastra tersebut mengisahkan satu fragmen penting tentang penetapan hukuman terhadap anak melalui kisah seorag pertapa bernama Bhagawan Animandawya dengan hakim surgai, yaitu Yamadipati.

Yamadipati yang menjabat sebagai hakim memang bertugas untuk menjatuhkan hukuman bagi jiwa-jiwa manusia setelah mati. Akan tetapi, sebagai tokoh yang dipercaya menjatuhkan hukuman, Yamadipati sendiri juga tidak luput dari hukuman. Pada suatu saat, Resi Animandawya tengah melakukan tapa, brata, yoga, dan samadhi. Secara lebih khusus, beliau menggelar brata yang mahaberat yaitu diam atau monabrata. Suatu brata yang berat dapat dipastikan juga akan mendapatkan godaan yang berat. Seseorang baru berhak mendapatkan pujian, setelah lulus dari berbagai ujian. Begitulah siklusnya.

Kala Sang Pendeta melakukan tapa brata, ternyata pada saat yang bersamaan ada seorang pencuri yang bersembunyi di pertapaannya. Para pasukan kerajaan yang berusaha menyisir pencuri tersebut hingga sampai pertapaan Resi Animandawya akhirnya bertemu dengan Sang Pendeta.

Para pasukan tersebut bertanya kepada Sang Pendeta apakah beliau melihat pencuri yang melarikan berbagi barang berharga dari kerajaan. Meskipun barangkali Sang Pendeta mendengar pertanyaan para pasukan, beliau ternyata teguh melakukan tapa brata. Berkali-kali para pasukan bertanya, tetapi tidak mendapatkan sepatah katapun. Oleh sebab itulah mereka kemudian masuk ke dalam pertapaan. Betapa mereka terperangah, ternyata pencuri itu benar ada di tengah katyagan, tempat sang pendeta melakukan aktivitas kebrahmanaan.

Karena situasi inilah para pasukan tersebut menuduh Resi Animandawya bersekongkol dengan si pencuri. Akibat kemarahan raja yang kecewa atas dugaan persekongkolan Sang Resi, akhirnya beliau dijatuhi hukuman dengan cara yang sangat kejam, yaitu menusuk pantat beliau dengan tombok.

Meski menahan rasa sakit yang luar biasa, yoga Sang Pendeta yang sudah matang mampu membuat beliau tahan atas sakit tusukan tombak itu. Tombak raja tentu tidak hanya menyakiti fisik Resi Animandawya, tetapi juga batinnya. Karena beliau memang tidak bersalah. Terlebih, beliau tengah melakukan janji diri yaitu mona brata ‘diam’.

Para Resi lainnya yang tahu kejadian ini tidak hanya protes kepada Sang Raja, tetapi juga segera mengonfirmasi Raja Alam Baka yang menetapkan hukuman kepada manusia, Yamadipati. Kaum Resi itu paham betul bahwa segala kejadian di dunia ini tidak akan berlangsung tanpa intervensi dari Yamadipati. Ketika ditanyai soal alasan penjatuhan hukuman terhadap Resi itu, Yamadipati mengatakan bahwa saat Resi Animandawya masih anak-anak, beliau  sempat menusuk-nusuk pantat capung. Oleh karena itulah, ketika dewasa Sang Resi harus mendapatkan hukuman yang setimpal akibat perbuatannya,

Mendengar pernyataan Yamadipati, para Resi itu tidak setuju. Sebab, seorang anak yang belum berumur empat belas tahun tidak dapat dijatuhi hukuman (yadikang rare magawe doşa ri padblas tahun wayahnya, yogya tibāna daņdha). Di umur itu, anak-anak tidak sepantasnya mendapatkan hukuman, karena mereka belum paham baik dan buruk (tan yogya tibāna danda, ikang rare yan tuning kinahanan ing idĕp hala hayu). Dengan alasan itulah, para Resi kemudian mengutuk Yamadipati agar bereinkarnasi ke dunia menjadi seseorang yang berkaki pincang. Ia adalah Widura, Perdana menteri kerajaan Hastina Pura.

Membaca fragmen kisah Yamadipati dalam pustaka Adiparwa di atas kita merasa ada jejak-jejak purba perlindungan terhadap anak. Dalam karya sastra tersebut secara terang benderang disebutkan bahwa seorang anak yang belum berumur empat belas tahun tidak boleh dijatuhi hukuman.

Pada saat yang bersamaan, kita juga dapat memaknai pustaka ini sebagai bentuk perlindungan sastra terhadap anak. Di usianya yang belum lebih dari empat belas tahun, pantang memberikan hukuman dan tindakan kekerasan lainnya terhadap seorang anak, meskipun orang tua dengan berbagai alasan dan otoritas kadang melakukan hal itu terhadap putranya. Sampai di sini, barangkali penting bagi kita merenungkan petikan Kakawin Niti Sastra tentang pendidikan anak sesuai dengan tingkat umurnya.

Karya sastra yang dalam tradisi Bali diyakini karya Dang Hyang Nirartha ini menjelaskan bahwa anak yang berumur lima tahun patut diperlakukan seperti anak raja (Tiŋkahiŋ sutaśasaneka kadi rāja tanaya ri sĕdĕŋ limaŋ tawun). Apabila ia sudah berumur tujuh tahun patut diperlakukan seperti pelayan (saptaŋ warṣa warā hulun).  

Sementara itu, ketika usianya sudah menginjak sepuluh tahun, ia mulai diajarkan aksara (sapuluhiŋ tahun ika wurukĕn riŋ akṣara). Jika sudah enam belas tahun perlakukan seperti sahabat baik, dan berhati-hati menunjukkan kesalahannya (yapwan sodaṣawarṣa tulya wara mitra tinaha taha denta mīdana). Jika ia sendiri sudah berkeluarga dan berputra, orang tuanya cukup hanya mengamat-amati saja tingkahnya. Apabila dalam keadaan tertentu orang tua ingin memberikan nasihat, ia cukup menyampaikannya dengan isyarat (yan wus putra suputra yiŋhalana solahika wurukĕn iŋ nayeŋ gita).

Penjalasan pustaka Niti Sastra di atas adalah ilmu parenting cara Jawa Kuno dan Bali.  Kenapa kita perlu menerapkan pola pendidikan tersebut kepada sang anak? Sebab, pustaka Slokantara menyatakan bahwa membuat seratus sumur kalah pahalanya dengan membuat satu telaga, membuat seratus telaga kalah pahalanya dengan membuat satu yadnya, seratus yadnya dikahkan dengan kelahiran satu putra yang teguh melaksanakan tapa, brata, yoga, samadhi dan berbagai kebagikan untuk sesamanya.

Selamat Hari Anak Nasional.   

BACA artikel lain dari penulis PUTU EKA GUNA YASA

Dari Ujung Lidah sampai Ujung Pangrupak: Membaca Saraswati sebagai Momentum Literasi
Jelajah Sungai dalam Sastra dan Sarira
Patibrata: Pesan Teduh dan Teguh dari Sita dalam Kakawin Rāmāyana
Hutang Budi kepada Petani: Kesaksian Sastra Kawi dan Bali
Tags: anak-anakhari anak nasionalkekerasan terhadap perempuan dan anaksastra
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Arja “Alas Langit Peteng”: Manis & Pangus — Catatan TA Mahasiswa Pendidikan Bahasa Bali Undiksha

Next Post

Pedagang Kaki Lima di Pinggiran Danau Beratan: Dianggap Mengganggu, Dikejar-kejar Petugas

Putu Eka Guna Yasa

Putu Eka Guna Yasa

Pembaca lontar, dosen FIB Unud, aktivitis BASAbali Wiki

Related Posts

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
0
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

Read moreDetails

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

Read moreDetails

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
0
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

Read moreDetails

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
0
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

Read moreDetails

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
0
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

Read moreDetails

Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

by I Wayan Yudana
October 19, 2026
0
Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

ADA pemandangan yang belakangan terasa tidak biasa di Bali. Orang-orang rela antre berjam-jam di SPBU, bahkan bertahan hingga malam, demi...

Read moreDetails

Membaca “Nyama Selam”, Melampaui Perdebatan Kata

by Angga Wijaya
October 19, 2026
0
Membaca “Nyama Selam”, Melampaui Perdebatan Kata

SEBELUM memulai esai ini, izinkan saya menyampaikan penghargaan kepada IGA Darma Putra atas keterlibatannya dalam perbincangan mengenai istilah selam dan...

Read moreDetails
Next Post
Pedagang Kaki Lima di Pinggiran Danau Beratan: Dianggap Mengganggu, Dikejar-kejar Petugas

Pedagang Kaki Lima di Pinggiran Danau Beratan: Dianggap Mengganggu, Dikejar-kejar Petugas

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.
Ulas Buku

Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.

SUNGGUH beruntung, saya mendapatkan buku Karya Visual dengan Multi Sensorik karya IB Putra Adnyana ini. Meski baru sampai bab III...

by Hartanto
October 21, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

by Chusmeru
October 21, 2026
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami
Esai

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

by Angga Wijaya
October 20, 2026
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya
Esai

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri
Esai

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co