14 May 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Kawalu, Bulan Puasanya Suku Baduy

Asep Kurnia by Asep Kurnia
March 8, 2025
in Esai
Tugas Etnis Baduy: “Ngasuh Ratu Ngayak Menak”

Asep Kurnia

SUKU Baduy sangat menyadari demi tetap tegak dan berdirinya kesukuan mereka, maka adat istiadat dan pusaka leluhur harus terus tetap dijaga dan dilestarikan keberadaannya dengan diwariskan terus menerus kepada anak cucunya secara lisan, tegas dan mengikat.

Pikukuh karuhun dan Amanat Wiwitan tersebut diterapkan secara baku pada kehidupan sehari- hari mereka berupa kegiatan-kegiatan atau ritual adat yang ditetapkan secara resmi dan tersusun, sistimatis pada sistem penanggalan adat (kalender adat) mereka, mulai dari bulan Safar (Kapat) awal tahun sampai bulan Katiga akhir tahun.

Dari sekian banyak kegiatan adat yang ditetapkan suku Baduy, ada yang disebut dengan “Bulan Kawalu”  dengan katagori sangat wajib dilaksanakan oleh seluruh masyarakat adat Baduy, baik kelompok Baduy Luar maupun  Baduy Dalam (Tangtu). Bulan Kawalu ini dianggap bulan yang sakral bagi mereka, karena di tiga bulan (Kasa-Karo-Katiga) pada penanggalan adat Baduy kegiatanya menyangkut hari khusus keagamaan.

Seluruh warganya wajib menyucikan diri secara lahir dan batin dengan cara melaksanakan Puasa Satu Hari pada setiap bulan, tetapi tidak melakukan sahur dulu (seperti puasanya umat Islam) dan bukanya diatur sesuai dengan ketentuan adat berkisar pada jam 4-6 sore. Tergantung cepat lambat beresnya yang memasak makanan untuk buka puasa.

Pelaksanaan puasa termaksudkan adalah pada bulan Kasa: tanggal 17 di Tangtu Cikeusik dan Cikartawana, tanggal 18-nya di Tangtu Cibeo. Pada bulan Karo: tanggal 18 di Tangtu Cikeusik, tanggal 19 di Tangtu Cikartawana dan Cibeo. Pada bulan Katiga kembali lagi seperti pada bulan Kasa yaitu tanggal 17 di Tangtu Cikeusik dan Cikartawana, tanggal 18 di Tangtu Cibeo.

Ingat yah , jadwal itu dicantumkan resmi di penanggalan adat mereka yang hampir selalu bertepatan memulainya di  bulan Februari dan berakhir di bulan Mei tahun Masehi dan diumumkan ke semua pihak terkait.

Bulan Kasa disebut Kawalu Teumbeuy yang artinya Kawalu awal. Teumbeuy atau miteumbeuyan adalah istilah dalam bahasa Sunda yang memiliki arti mengawali atau memulainya suatu kegiatan. Bulan Karo disebutnya Kawalu Tengah dan Bulan Katiga disebut Kawalu Tutug atau kawalu akhir.

Pembaca mungkin bertanya, apa yang dilakukan mereka di Kawalu Teumbeuy, Kawalu Tengah dan Kawalu Tutug?  Adakah perbedaan yang mencolok dalam pelaksanaan dan tata nilai dari ketiga bulan Kawalu tersebut? Lalu apa kegiatan mereka dari tanggal 1-16 dan 19 -30 di bulan Kasa dan Katiga, tanggal 1-17 dan 20-30 di bulan Karo? Mari kita simak penjelasan berikut.

Inti Ritual Adat di Bulan Kawalu

Komunitas adat Baduy adalah sosok masyarakat yang dari waktu ke waktu, tahun ke tahun, generasi ke generasi hidup penuh dengan keharmonisan, kesederhanaan, ketaatan, keikhlasan, kukuh pengkuh dalam mempetahankan dan melaksanakan apa yang disebut pikukuh karuhun dan amanat wiwitan (hukum adat).

Kawalu, Ngalaksa dan Seba adalah rangkaian kegiatan adat yang berkesnimabungan dan disakralkan untuk dilaksanakan secara tepat waktu dan tepat nilai. Termasuk Ritual Muja selama 3 hari dalam setahun di bulan Kalima di Sasaka Domas atau mereka namakan Inti Jagat suatu tempat yang amat sakral di Hutan Tititpan  dan Tutupan.

Kawalu menurut keyakinan Baduy adalah merupakan bulan suci, bulan kebahagian dan bulan kemuliaan yang isinya kegiatan-kegiatan berdoa untuk keselamatan alam dan umat manusia.

Isi kegiatan lainnya adalah beribadah puasa, memohon ampunan dosa dari berbagai kesalahan terutama kesalahan pengrusakan pada lingkungan alam atau mencemari atau mengotori alam, bersyukur atas keselamatan, kesehatan dan keberhasilan melaksanakan berbagai “Rukun Ibadah Agama Slam Sunda Wiwitan” dan amanat leluhur lainnya.

Kawaluadalah bulan yang terbuka untuk memohon kepada Yang Maha Kuasa (Gusti Maha Suci) yang menciptakan bumi dan langit, bulan yang penuh barokah, bulan untuk membersihkan diri dan lingkungan alam serta medekatkan diri pada Yang Maha Kuasa.

Di bulan Kawalu mereka wajib mengiritatau memperkecil dan mempersempit perilaku buruk atau negatif untuk melakukan dosa dan kesalahan serta menghindari mengotori lingkungan alam baik secara lahir maupun secara batin. Selain kegiatan tersebut di atas, pada bulan Kawalu dilakukan kegiatan mensyukuri dan ucapan terima kasih pada Nyi Pohaci Sanghiyang Asri atau Dewi Sri atas kemurahannya telah memberkahi hasil panen yang baik ataupun hasil panen kurang menguntungkan.

Selain kegiatan inti berpuasa pada bulan Kawalu dilaksanakan pula kegiatan pembersihan lingkungan dengan sasaran utama adalah pembersihan terhadap barang-barang dari luar yang berbau modern yang digunakan masyarakat Baduy serta membersihkan lingkungan dari kekotoran-kekotoran akibat perilaku yang salah (pelanggaran), baik yang dilakukan oleh masyarakat internal Baduy maupun masyarakat luar Baduy.

Kegiatan pembersihan ini ada 2 katagori.

Pertama, pembersihan secara batin. Pembersihan ini lebih ditujukan pada pembersihan terhadap masalah yang terjadi akibat pelanggaran-pelanggaran yang dilakukan oleh warga Baduy atau warga luar Baduy yang dianggap telah mengotori tanah leluhur dan mengotori jiwa atau rohani.

Kedua, pembersihan secara lahiriah atau material, di mana kegiatan ini berkaitan erat dengan pembersihan kebendaan yang digunakan masyarakat Baduy yang dianggap bertentangan dengan hukum adat. Perilakunya adalah dengan diadakannya “Razia Adat”oleh tim yang diberi tugas oleh tokoh adatdi seputaran wilayah Baduy Dalam terlebih dahulu, lalu dilanjutkan razia berbagai alat rumah tangga dan asesoris lainnya ke perkampungan Baduy Luar. Razia adat ini lebih ditekan, dilanjutkan, dan dilakukan pada setelah Kawalu. 

Setiap warga Baduy wajib melakukan puasa di tanggal yang telah ditentukan. Pada Kawalu teumbeuy dan Kawalu tengah warga Baduy Luar boleh berbuka di masing-masing kampung atau buka bersama di Baduy Dalam sesuai dengan niatnya sambal membawa padi atau makanan. Tetapi pada Kawalu tutug, masyarakat Baduy Luar cenderung berbuka puasanya di Baduy Dalam. Pada Kawalu tutug wajib melaksanakan ngalaksa (cacah jiwa ) mulai tanggal 20–27. Dimulai dari Baduy Dalam Cikeusik tanggal 20, Cibeo tanggal 21, Cikartawana tanggal 22.  Setelah itu ngalaksa di Baduy Luar, tempatnya di Dangka Cibengkung, Dangka Cipatik dan Dangka Serokokod. Dan tanggal 27 terakhir di Dangka Kamancing (Dangka Warega).  

Kawalu Disebut Bulan Larangan

Penetapan awal bulan Kawalu biasanya mulai berlaku di bulan Februari. Seperti untuk tahun 2025 ini mulai Kawalu teumbeuy tepat pada tanggal 1 Februari 2025 dan Kawalu tengah bersamaan dengan bulan Ramadhan, bulan puasanya umat Islam.

Menurut catatan khusus penulis, pelaksanaan bulan Kawalu di masyarakat Baduy yang berbarengan atau bertepatan dengan bulan puasanya umat Islam (Ramadhan) sudah 4 tahun berturut turut  (2022, 2023, 2024 dan 2025).

Karena padatnya acara-acara adat pada ketiga bulan Kawalu itu, maka pada bulan tersebut sering disebut sebagai “Bulan Larangan.”, di mana awalnya bahwa seluruh kawasan tanah ulayat Baduytertutup dan ditutup bagi para pengunjung terutama ke kawasan Baduy Dalam. Tetapi sekarang aturan adat itu mulai diperlunak atau ada semacam dispensasi bahwa kunjungan ke kawasan Baduy Luar menjadi diperbolehkan. Entah karena memang itu adalah upaya pelurusan pemberlakukan hukum adat atau karena ada faktor lain, misalnya karena faktor intensifnya kunjungan wisatawan, penulis belum paham. Wait and see saja yah !

Menurut penulis ada banyak hal yang mendasari, paling tidak empat alasan mengapa bulan Kawalu disebut juga Bulan Larangan sehingga pemerintah Desa Kanekes mengirimkan surat pemberitahuan secara resmi kepada pemerintah untuk disebarluaskan ke masyarakat.

Alasan utamanya adalah sebagai inisiatif dari pihak adat agar pelaksanaan Kawalu tetap dalam keadaan tentram, tenang, khidmat, aman dan terkendali sesuai amanat adat, sehingga terhindar dari gangguan, keramaian dan kegaduhan.

 Kedua, karena tamu atau pengunjung berbeda budaya dan keyakinan dengan mereka, maka langsung atau tidak langsung menurut mereka pasti akan memberikan dampak yang kurang baik terhadap kekhidmatan pelaksanaan Kawalu.

Ketiga, bahwa dengan memberikan surat pemberitahuan secara resmi diharapkan pemerintah mengambil langkah-langkah secara jauh hari untuk membantu agar pelaksanaan Kawalu terjaga keamanannya.

Dan, alasan yang paling faktual bahwa di bulan Kawalu itu ada larangan-larangan yang berlaku khusus bagi warga Baduy, yaitu pola makan tidak sembarangan terutama bagi warga Baduy Dalam  (tidak boleh makan telur, daging-dagingan), dilarang melaksanakan kegiatan-kegiatan upacara yang ramai seperti perkawinan, sunatan, dan dilarang memotong atau membunuh hewan dan larangan lainnya sesuai dengan hukum adat mereka.

Intisari atau pendek kata pada bulan Kawalu itu seluruh aktifitas warga Baduy secara khusus difokuskan pada kegiatan keagamaan , pembersihan lahir batin untuk mengekang hawa nafsu keduniawian dan menghindari dari perbuatan-perbuatan dosa yang merugikan diri sendiri, masyarakat dan lingkungan alam.

Selama tiga bulan mereka beribadah secara khusus dan diakhiri dengan kegiatan adat  Ngalaksa  pada minggu terkahir di bulan Katiga mulai dari tanggal 21-27  sampai pada awal tahun baru mereka di bulan Safar (Kapat ) yang dilanjutkan dengan Ritual Seba Baduy. [T]

Penulis: Asep Kurnia
Editor: Adnyana Ole

  • BACA esai-esai tentang BADUY
  • BACA esai-esai lain dari penulis ASEP KURNIA

Para Pejuang dan Pengabdi Suku Baduy
Sekilas Informasi Wisata  Saba Budaya  Baduy
Pengabdi Suku Baduy: Dua Tahun Ditolak, Kini Disayangi

                                   

Tags: bulan puasamasyarakat adatProvinsi BantenSuku Baduy
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Hendrik Zumario, Sehari-hari Memupuk Bonsai dengan Kesabaran dan Keuletan

Next Post

SOMYA DAN ŚŪNYA: Yang Terlupakan dari Gemuruh Euforia Ogoh-Ogoh

Asep Kurnia

Asep Kurnia

Pemerhati Baduy, tinggal di tapal batas Baduy

Related Posts

Etika dan Empati di Atas Panggung: Peran MC dalam Menjaga Marwah Acara

by Fitria Hani Aprina
May 13, 2026
0
“Parasocial Relationship”: Antara Hiburan, Pelarian Emosional, dan Strategi Komunikasi Bisnis di Era Digital

PERISTIWA viral pada lomba cerdas cermat MPR baru-baru ini menjadi refleksi penting mengenai urgensi profesionalisme seorang Master of Ceremony (MC)...

Read moreDetails

Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI

by Angga Wijaya
May 12, 2026
0
Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI

JAUH sebelum ada teknologi kecerdasan buatan (AI), sejak dulu saya menulis dengan banyak perbendaharaan kata. Salah satunya “sunyi”. Terlebih dalam...

Read moreDetails

Jebakan Kepercayaan Diri Digital: Mengapa Generasi Z Rentan di Hadapan AI

by Marina Rospitasari
May 12, 2026
0
“Aura Farming” Pacu Jalur: Kilau Viral, Makna Tergerus, Sebuah Analisis Budaya Digital

Marc Prensky, peneliti pendidikan Amerika yang memperkenalkan istilah digital natives pada 2001, menulis dengan penuh keyakinan. Ia berargumen bahwa anak-anak...

Read moreDetails

Eksistensi Suku Baduy di Era Digitalisasi dan ‘Artificial Intelligence’

by Asep Kurnia
May 11, 2026
0
Tugas Etnis Baduy: “Ngasuh Ratu Ngayak Menak”

SAAT penulis baca informasi tentang makhluk bernama Artificial Intelligence  (AI) terus terang sangat tercengang dan ngeri sekali, bagaimana mungkin manusia...

Read moreDetails

Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein

by Agung Sudarsa
May 11, 2026
0
Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein

Satyendra Nath Bose: Saintis Sunyi dari India Satyendra Nath Bose lahir di Kolkata, India, pada 1 Januari 1894, di tengah...

Read moreDetails

Gagal Itu Indah

by Agung Sudarsa
May 10, 2026
0
Gagal Itu Indah

Merekonstruksi Arti Sebuah Kegagalan DALAM kehidupan modern, kegagalan sering dipandang sebagai akhir dari perjalanan. Seseorang dianggap berhasil bila mencapai standar...

Read moreDetails

Ayah Menularkan Kebiasaan Membaca

by Angga Wijaya
May 10, 2026
0
Ayah Menularkan Kebiasaan Membaca

DI tanganku ada sebuah buku. Aku baru membacanya setelah membelinya dari toko buku daring sekitar seminggu lalu. Buku itu kubeli...

Read moreDetails

Pertama Kali Jadi Orang Tua  —Wajar Jika Tak Sempurna

by Putu Nata Kusuma
May 9, 2026
0
Pertama Kali Jadi Orang Tua  —Wajar Jika Tak Sempurna

SELALU ada hal-hal pertama dalam hidup kita. Hal-hal pertama yang memberi pengalaman berharga di masa depan nanti. Kali pertama bersepeda,...

Read moreDetails

BAKAR SAMPAH BERTENTANGAN DENGAN PRINSIP HINDU BALI

by Sugi Lanus
May 9, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

— Catatan Harian Sugi Lanus, 8 Mei 2026 Pemimpin umat atau pemimpin masyarakat yang membiarkan masyarakat membakar sampah secara terbuka...

Read moreDetails

Paradoks Pendidikan, Anggaran Naik Tinggi, Kualitas Terus Merosot

by Jro Gde Sudibya
May 8, 2026
0
Paradoks Pendidikan, Anggaran Naik Tinggi, Kualitas Terus Merosot

Tanggapan terhadap esai "Sekolah Kejuruan: Penyumbang Tertinggi Pengangguran? —Sebuah Tamparan ke Muka Kita Bersama", tatkala.co, 8 Mei 2026 --- PENDIDIKAN...

Read moreDetails
Next Post
SOMYA DAN ŚŪNYA: Yang Terlupakan dari Gemuruh Euforia Ogoh-Ogoh

SOMYA DAN ŚŪNYA: Yang Terlupakan dari Gemuruh Euforia Ogoh-Ogoh

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Karena Tak Sabaran, Tika Pagraky Luncurkan Tiga Lagu Sekaligus dan Buka Cerita di Balik “Bli Made”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cinta dan Penyesalan | Cerpen Dede Putra Wiguna

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

“Parasocial Relationship”: Antara Hiburan, Pelarian Emosional, dan Strategi Komunikasi Bisnis di Era Digital
Esai

Etika dan Empati di Atas Panggung: Peran MC dalam Menjaga Marwah Acara

PERISTIWA viral pada lomba cerdas cermat MPR baru-baru ini menjadi refleksi penting mengenai urgensi profesionalisme seorang Master of Ceremony (MC)...

by Fitria Hani Aprina
May 13, 2026
Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI
Esai

Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI

JAUH sebelum ada teknologi kecerdasan buatan (AI), sejak dulu saya menulis dengan banyak perbendaharaan kata. Salah satunya “sunyi”. Terlebih dalam...

by Angga Wijaya
May 12, 2026
“Aura Farming” Pacu Jalur: Kilau Viral, Makna Tergerus, Sebuah Analisis Budaya Digital
Esai

Jebakan Kepercayaan Diri Digital: Mengapa Generasi Z Rentan di Hadapan AI

Marc Prensky, peneliti pendidikan Amerika yang memperkenalkan istilah digital natives pada 2001, menulis dengan penuh keyakinan. Ia berargumen bahwa anak-anak...

by Marina Rospitasari
May 12, 2026
Pameran ‘Arka Umbara’ di TAT Art Space, Hasil Dari Perjalanan 14 Seniman Jongsarad Bali
Pameran

Pameran ‘Arka Umbara’ di TAT Art Space, Hasil Dari Perjalanan 14 Seniman Jongsarad Bali

Ini yang menarik dari Jongsarad Bali, kolektif seniman lintas bidang yang beranggotakan perupa, desainer, dan pembuat film. Setiap perjalanan mereka,...

by Nyoman Budarsana
May 11, 2026
Pengunjung PKB 2026 Jangan Bawa Makanan dan Minuman dari Luar Taman Budaya
Budaya

Pengunjung PKB 2026 Jangan Bawa Makanan dan Minuman dari Luar Taman Budaya

MENJAGA kebersihan dan mengelola sampah dengan disiplin menjadi kunci agar Pesta Kesenian Bali (PKB) tetap nyaman untuk dikunjungi. Kebersihan merupakan...

by Nyoman Budarsana
May 11, 2026
Tugas Etnis Baduy: “Ngasuh Ratu Ngayak Menak”
Esai

Eksistensi Suku Baduy di Era Digitalisasi dan ‘Artificial Intelligence’

SAAT penulis baca informasi tentang makhluk bernama Artificial Intelligence  (AI) terus terang sangat tercengang dan ngeri sekali, bagaimana mungkin manusia...

by Asep Kurnia
May 11, 2026
Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein
Esai

Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein

Satyendra Nath Bose: Saintis Sunyi dari India Satyendra Nath Bose lahir di Kolkata, India, pada 1 Januari 1894, di tengah...

by Agung Sudarsa
May 11, 2026
Menjaga Tubuh, Menjaga Sesama —Catatan dari Sebuah Hari Kemanusiaan bersama SCAU
Khas

Menjaga Tubuh, Menjaga Sesama —Catatan dari Sebuah Hari Kemanusiaan bersama SCAU

Prolog: Datang dari Sebuah Informasi Sederhana Kadang sebuah perjalanan panjang dimulai dari kalimat yang sangat pendek. Saya mengetahui kegiatan ini...

by Emi Suy
May 11, 2026
Crocodile Tears (2024): Penjara Air Mata Buaya
Ulas Film

Crocodile Tears (2024): Penjara Air Mata Buaya

RAUNGAN reptil purba itu masih terdengar samar, terus hidup, bahkan ketika saya berjalan keluar bioskop. Semakin jauh, raungan itu masih...

by Bayu Wira Handyan
May 11, 2026
Pulang | Cerpen Dede Putra Wiguna
Cerpen

Pulang | Cerpen Dede Putra Wiguna

DI penghujung tahun, aku akhirnya memberanikan diri untuk merantau. Dari kampung, mencoba peruntungan di Ibu Kota. Berbekal ijazah sarjana manajemen,...

by Dede Putra Wiguna
May 10, 2026
Gagal Itu Indah
Esai

Gagal Itu Indah

Merekonstruksi Arti Sebuah Kegagalan DALAM kehidupan modern, kegagalan sering dipandang sebagai akhir dari perjalanan. Seseorang dianggap berhasil bila mencapai standar...

by Agung Sudarsa
May 10, 2026
Refleksi Usai Menonton Film ‘Pesta Babi’ di Ubud
Ulas Film

Refleksi Usai Menonton Film ‘Pesta Babi’ di Ubud

PADA tanggal 9 Mei 2026, di malam hari, sekitar pukul 18:15 , saya mengunjungi Sokasi Café and Living. Alamat café...

by Doni Sugiarto Wijaya
May 10, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co