15 July 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Pengabdi Suku Baduy: Dua Tahun Ditolak, Kini Disayangi

Asep Kurnia by Asep Kurnia
February 17, 2025
in Esai
Pengabdi Suku Baduy: Dua Tahun Ditolak, Kini Disayangi

Bidan Eros Rosita / Foto Dok. Asep Kurnia

SUATU komunitas adat dimana pun tidak bisa berdiam diri pada satu kondisi tertentu, karena  putaran perkembangan zaman mengharuskan untuk berubah. Artinya, kapan pun akan dan pasti mengalami perubahan. 

Baduy adalah salah satu contoh komunitas yang terus mengalami perubahan di berbagai aspek baik sosial , budaya dan ekonomi.  Padahal suku Baduy yang sampai ini masih berkategori sebagai Komunitas Adat Terpencil dan masih termasuk Desa Adat.

Perubahan yang begitu cepat dan sporadis di Baduy sudah tidak bisa lagi dipungkiri, bahwa itu bukti nyata yang menunjukkan mereka terpaksa atau tidak harus mengalami dan mengikuti perubahan sekaligus demi memenuhi tuntutan kebutuhan zaman; kalau tidak mau kesulitan dan terkucilkan dalam pergaulan dunia.

Sudah menjadi rumus baku bahwa perubahan itu terjadi akibat adanya pengaruh dan faktor penyebab lainnya. Menurut penulis , perubahan itu terjadi hanya oleh dua faktor, pertama yaitu faktor internal yang berpengertian bahwa perubahan itu datang dari keinginan,  motivasi dan inisiatif diri sendiri atau masyarakat. Kedua, faktor  eksternal dalam artian ada desain khusus dari pihak luar yang diperuntukkan  membantu memberdayakan serta mengubah pola hidup dan aspek kehidupan lain yang bermanfaat bagi kemajuan sesuai kebutuhannya.

Pada poin faktor eksternal inilah penulis ingin memberi sumbangsih informasi dan pengetahuan pada publik  tentang sosok-sosok manusia Pengabdi dan Pembaharu (agent of change) yang memiliki andil besar terhadap terjadinya perubahan paradigma atau pola berpikir para tokoh adat, masyarakat dan kawula muda  atau new generation Baduy. Tentunya pengabdi dan pembaharu yang dimaksudkan adalah pengabdi dan pembaharu menurut versi penulis yang memiliki ciri khusus. 

Ruang lingkup pengabdian itu luas, bisa di pegunungan,  di tengah samudra,  di rimba belantara begitu pun di kota dan di pedesaan. Bisa juga dilakukan di berbagai lembaga resmi pemerintahan  atau organisasi masyarakat ,  bisa  dilakukan oleh seorang pegawai,  guru, atau jabatan profesi lainnya. Sifatnya melayani masyarakat dengan gerakan 3E yaitu Enlighten, Educate & Empower (mencerahkan,  mendidik dan memberdayakan).

Satu syarat terpenting bagi seseorang dinyatakan sebagai “pengabdi” adalah tindakannya selalu berkelanjutan (terus menerus) dalam melakukan darma bakti. Lalu siapakah sosok-sosok pengabdi Suku Baduy itu ? Berikut kisahnya.

Dua Tahun Ditolak Baduy

Baduy sebagai salah satu suku yang kuat memegang aturan adat dengan sebutan Pikukuh Katujuh (amanat leluhur) selalu diterjemahkan sebagai suku tertinggal, kelompok prasejahtera,  tidak berpendidikan, tidak paham tentang hidup sehat, hidup sederhana tetap tradisional apa adanya ,  menolak modernisasi dan menghindari hidup berpola modern, dan sebutan lainnya. Itu adalah problematika yang mereka hadapi dari masa ke masa.

Menolak pelayanan kesehatan modern dan pendidikan formal adalah dilema dan problem terberat yang sudah terjadi berpuluh tahun ke belakang sejak Baduy mulai dibuka penampilannya di ruang publik.

Sejak 50 tahun ke belakang informasi tentang suku Baduy tidak pernah ramai menghiasi ruang publik. Mereka sangat silent and hidden activity ketika berkomunikasi dan bersilaturahmi dengan pihak luar Baduy, termasuk berkunjung ke pemerintahan saat melaksanakan  tugas ritual  Seba-nya (silaturahmi).

Dari beberapa problematika yang dihadapi Baduy,  kesehatan dan pendidikan serta kesejahteraan adalah 3 aspek yang menjadi sorotan utama pemerintah dan para pemerhati Baduy. Berbagai program dan terobosan untuk membantu menghijrahkan mereka dari 3 aspek yang dianggap jauh tertinggal dari kondisi tetangga saudara sebangsa dan setanah air yang sudah lebih maju kerap disodorkan pada mereka. Termasuk berbagai kajian khusus tentang Baduy sulit untuk diterapkan, tetap mentok dengan bahasa yang kurang enak yaitu “ditolak”, dengan alasan klasik bahwa semua tawaran itu lagi-lagi dinyatakan bertentangan dengan sosial budaya dan hukum adat mereka.

Sampai tahun 1997 saat  penulis bersama istri  datang ke Baduy untuk menunaikan tugas negara menjadi petugas kesehatan di suku Baduy, situasi  “penolakan pola hidup modern” masih kencang dirasakan. Aura kata buyut pamali atau pantangan dan larangan adat begitu kuat mencengkeram di kehidupan mereka. Ucapan tokoh adat dan putusan Lembaga Adat Tangtu Tilu Jaro Tujuh merupakan kepastian hukum yang tidak bisa diutak-atik.

Saat itu bagi masyarakat Baduy menerima orang luar Baduy  atau bersilaturahmi dengan orang luar Baduy menjadi kendala tersendiri yang sulit dipecahkan, mengingat doktrin kuat dari  para tokoh adat tentang penanaman rasa takut bahwa orang luar atau asing itu dicurigai  akan merusak kehidupan mereka. “Kami mah sieun dijual tonggong ka pamarentah (kami takut dicatut nama ke pemerintah)” itu pesan psikologis yang menempel erat di pemikiran warga Baduy.

Sehingga saat kami datang ke mereka, seluruh pasang mata warga mengawasi penuh dengan kecurigaan bahwa kita akan mencelakakan , merusak dan menjual mereka. Itu situasi dan kondisi serta tantangan terberat selama 2 tahun pertama (1997-1999) kami bertugas di Suku Baduy. Mereka masih menolak kedatangan  kami (bidan Eros Rosita dan Penulis), walau sudah dijelaskan bahwa kami sebagai petugas resmi kesehatan dari pihak pemerintah untuk suku Baduy.

“Kekakuan” Masyarakat Baduy Luar dan Hukum Adat Mulai Lentur

Pada saat kami datang, resistensi sosial suku Baduy, terutama ketakutan terhadap perubahan bagaikan tembok tebal yang sulit untuk ditembus. Jangankan untuk bisa mengubah pola hidup sehat dan mengubah cara pandang mereka,  bertemu dan menerima orang luar saja mereka begitu sulit dan selektif sekali. Itu situasi kondisi riil saat kami mengawali ditugaskan ke suku Baduy. Sehingga interaksi kami sebagai petugas dengan masyarakat Baduy sungguh sulit  sekali dilakukan.  Sempat kami patah semangat dan putus asa untuk mengundurkan diri dan minta pindah tugas.

Tetapi, tepat mengakhiri 2 tahun kami terus melakukan sosialisai dan pendekatan kepada mereka, datanglah mukjizat dan keajaiban berkat sebutir permen  Lolipop,  mereka akhirnya  mulai menerima keberadaan istri penulis sebagai bidan suku Baduy.

Untuk lebih mengakrabi tentang siapa sosok bidan suku Baduy, penulis coba sajikan kutipan profil dan curhatan bidan Suku Baduy yang ditulis pada tahun 2019 oleh bidan Eros Rosita berikut ini.

“Saya mulai ditugaskan oleh Dinas Kesehatan  (Dinkes) Kabupaten Lebak pada tahun 1997, tepatnya pada tanggal  25 September 1997 untuk menjadi Bidan Desa  Kanekes dengan SK Bidan PTT Desa Terpencil No KP.00.03.1.1.12512 (Perpanjangan masa bakti 3 tahun kedua ) NR.PTT : 10.4.008.041 yang ditanda tangani oleh Dr.H.E , Maohjar Djamhur, MPH, Kepala Kanwil Kesehatan Propinsi Jawa Barat. Dengan surat tugas No :800 /228/ KEPEG tanggal 01 Oktober 1997 tertanda tangan Dr. H. Djadja Buddy Suhardja S. MPH. Kepala Dinkes Kabupaten Lebak, ternyata berada di wilayah pembinaan  Puskesmas Cisimeut, Kecamatan Leuwidamar.

 Kemudian pada tahun 2001 menjadi Bidan Teladan , pada bulan Nopember tahun 2000  diangkat menjadi PNS dengan tugas khusus membina suku Baduy ketika Kabupaten Lebak masih termasuk Propinsi Jawa Barat.  Di manakah tugas PTT awal pertama kerja? Sangat jauh, yaitu pada tahun 1994 di desa terpencil yang bernama Desa Mangkualam, Kecamatan Cimanggu, Kabupaten Pandeglang yang sangat berdekatan sekali dengan Cagar Alam Ujung Kulon.

Sedetik tidak terpikir dan sejenak tak terbayangkan, bahwa saya akan menetap di Ciboleger sebagai kampung terdekat tempat transit awal menuju Tanah Ulayat Adat Baduy, dan tak sedikit pun berpikir bahwa saya akan mampu menyenangi tugas dan kewajiban sebagai Bidan Khusus Pembina Suku baduy. Tapi  ternyata, kehendak dan keputusan Tuhan memang tak dapat saya tolak, bahwa saya memang diciptakan dan dipersiapkan untuk menolong masyarakat Baduy dalam meningkatkan “derajat sehat“ hidup masyarakat Baduy secara umum dan “derajat kesehatan ibu anak“ secara khusus. 

Kini saya sangat meyakini bahwa tugas negara ini adalah sebuah tugas mulia yang harus saya lakukan dengan penuh kesadaran, kesabaran, ketabahan, ketelitian,  tanggungjawab, terencana dan terukur serta penuh percaya diri, bahwa pekerjaan ini akan sangat  bermanfaat bagi orang banyak; termasuk diri saya sendiri. Semoga akan bernilai ibadah. Amien.

Tugas awal saya di suku Baduy cukup membuat saya hampir putus asa. Mengapa? Karena ternyata Baduy bukan masyarakat biasa seperti yang kita kenal. Baduy adalah masyarakat yang pada kehidupan sehari-harinya sangat  ketat dan kuat dalam memegang aturan adat (memegang Pikukuh Karuhun).  Mereka sangat patuh terhadap ucapan para pemuka adat dan sangat takut melanggar adat,  sehingga mereka sangat menjauhkan diri dari kehidupan modern.

Tak terhitung bentuk-bentuk hambatan, tantangan serta ancaman yang saya hadapi dalam melaksanakan tugas kebidanan, baik secara fisik karena letak geografis yang sangat sulit, wilayah yang sangat luas dan penyebaran kampung yang sangat banyak serta jaraknya berjauhan.

Secara psikis sering bertentangan dengan hukum dan acara-acara adat, ditambah lagi dengan kebiasaan masyarakat berladang di tempat yang jauh, sehingga sulit untuk bertemu atau berkumpul,  karena tiap hari rutinitasnya adalah pergi pagi pulang sore untuk berladang.

Hal lain yang tak kalah menyulitkan saya dalam menunaikan tugas baik dalam memberikan pelayanan kesehatan, memberikan penyuluhan, mengajak, maupun dalam memengertikan serta menyadarkan mereka akan pentingnya kesehatan ibu dan anak adalah karena mereka dilarang bersekolah secara formal, sehingga pola pikir dan pola hidup mereka sangat sederhana sekali. Yach bisa pembaca bayangkan bagaimana sulitnya saya menghadapai  masyarakat yang tidak mengenyam pendidikan?

 Tapi berkat dukungan moril bapak saya (Idi Rosidi), atasan-atasan saya di Dinas Kesehatan Kabupaten Lebak serta intensifnya kunjungan Ibu Ketua IBI dan anggota IBI Kabupaten dan Propinsi Banten ke suku Baduy; bahkan tahun 2008 ibu Harni Kusno ketua IBI pusat beserta pengurus IBI Provinsi mengunjungi Baduy (Desa Kanekes). Tidak henti-hentinya beliau memberikan arahan, masukan dan petunjuk pada saya.

Bahkan di tahun 2012 saat ada kunjungan bunda Asmuyeni IBI Pusat dan bunda Emi IBI Provinsi Banten pun memberi arahan bersamaan dengan kejadian saya menolong melahirkan warga Baduy Dalam Cikartawana. 

Saya sangat mengingat pesannya: ”Jangan hiraukan ibu yang berkunjung ke desa, tapi lihatlah dan segera tangani ibu dan bayi daripada kami, Ros ingat bekerja tulus ikhlas mengabdi mengemban amanat bangsa“. Juga yang tak kalah pentingnya dukungan moral dan spritual dari suamiku (Asep Kurnia)  yang selalu menemani dan mendampingi  hampir di setiap kegiatan, baik pada kegiatan penyuluhan, kunjungan rumah, pendekatan pada tokoh adat, bahkan pada kegiatan pelayanan atau pertolongan medis.

Akhirnya “bongkahan batu” hambatan yang sangat terjal itu pada tahun kedua dari tugas dapat saya lalui. Kini setelah hampir 22 tahun akhirnya saya dapat diterima sebagai petugas kesehatan kemudian  dipercayai. Dan yang paling saya banggakan  adalah, kini   mereka sangat membutuhkan saya bukan hanya sebagai bidan saja.

Mungkin kawan-kawan seprofesi tidak akan percaya bahwa pada awalnya saya dibenci, kemudian ditakuti, lalu dijauhi hingga akhirnya dipercaya dan disayangi. Mengapa dibenci karena anggapan mereka saya orang asing yang akan merusak kebiasaan dan budaya  mereka.

Mengapa ditakuti karena mereka menganggap saya akan mencelakakan dan menjerumuskan mereka, dan mengapa saya dijauhi karena mereka ragu terhadap gerak-gerik dan tingkah laku saya  dalam memperkenalkan tugas kebidanan. Dan mengapa sekarang mereka sangat mempercayaiku dan menyayangiku karena saya telah dapat membuktikan bahwa apa yang saya lakukan pada mereka bermanfat bagi kesehatan dan kehidupan mereka.

Kebahagian yang paling istimewa dan jadi momentum catatan sejarah berharga bagi saya adalah bisa mengubah hukum adat yang asalnya menolak pelayanan kesehatan modern menjadi menerima pelayanan kesehatan modern. Dalam bahasa undang-undangnya, saya bisa meng-Amandemen.

Semoga kepercayaan mereka ini tidak pernah berhenti sampai kapan pun! Kemarin, sekarang  dan nanti seluruh jiwaku dan ragaku akan tetap diperuntukkan bagi Baduy demi pengabdian yang abadi agar mereka berhijrah. Saya akan terus mencerahkan mereka, mengedukasi mereka, dan memberdayakan mereka dari generasi ke generasi. Amien“.

Bila pembaca merasa penasaran tentang sosok para pengabdi suku Baduy, simak episode berikutnya. [T]

Penulis: Asep Kurnia
Editor: Adnyana Ole

  • BACA esai-esai tentang BADUY
  • BACA esai-esai lain dari penulis ASEP KURNIA
Para Pejuang Akademisi Suku Baduy
“The Baduy Warrior”: Pejuang Suku Baduy
Para Pejuang dan Pengabdi Suku Baduy
Sekilas Informasi Wisata  Saba Budaya  Baduy
Efek Intensitas Wisatawan Saba Budaya Baduy
Tags: kesehatanmasyarakat adatProvinsi BantenSuku Baduy
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Mencari Titik Terang di Goa Peteng, Gumi Delod Ceking   

Next Post

Dewa Gede Widiatmika dan Ketut Prameisti Adinda Divani, Duta GenRe UPMI Bali 2025

Asep Kurnia

Asep Kurnia

Pemerhati Baduy, tinggal di tapal batas Baduy

Related Posts

Dosen itu Buruh atau ‘Professional-Managerial Class?’

by Afgan Fadilla
July 13, 2026
0
Dosen itu Buruh atau ‘Professional-Managerial Class?’

PERDEBATAN mengenai apakah dosen itu buruh atau bukan semakin sering terdengar di media sosial dan berbagai ruang diskusi akademik di...

Read moreDetails

HINDU BALI OLENG KARENA TIGA PILAR SUCI TAK SEIMBANG?

by Sugi Lanus
July 12, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

— Sugi Lanus, Catatan Harian 8 Juli 2026 Agama Hindu di Bali berdiri di atas tiga pilar suci yang tak...

Read moreDetails

Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum

by I Wayan Artika
July 12, 2026
0
Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum

Materi ini akan disampaikan dalam Festival Seni Bali Jani VIII, Denpasar 20 Juli 2026 MENJADI dosen sastra bagi saya bukan...

Read moreDetails

Tak Ada Goresan yang Salah —Mengenang Made Budhiana

by Agung Bawantara
July 12, 2026
0
Tak Ada Goresan yang Salah —Mengenang Made Budhiana

Hal pertama yang saya ingat dari Made Budhiana bukanlah lukisan. Melainkan suara The Doors yang diputar keras-keras di studionya. Kadang...

Read moreDetails

Yang Tidak Pernah Selesai: Requiem untuk Made Budhiana

by Wayan Gde Yudane
July 11, 2026
0
Yang Tidak Pernah Selesai: Requiem untuk Made Budhiana

ADA perpisahan yang datang dengan perlahan, seolah memberi kita waktu untuk bersiap. Ada pula yang, meskipun telah lama kita nantikan...

Read moreDetails

Maestro Made Budhiana Berpulang, Seni Rupa Indonesia Berduka

by I Gede Made Surya Darma
July 10, 2026
0
Maestro Made Budhiana Berpulang, Seni Rupa Indonesia Berduka

DUNIA seni rupa Indonesia kembali berduka. Maestro seni rupa kontemporer Indonesia, Made Budhiana, berpulang pada Jumat, 10 Juli 2026, pukul...

Read moreDetails

Fenomena Desa Wisata: Viral Lalu Mati

by Chusmeru
July 10, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

Seiring dengan isu keberlanjutan lingkungan di destinasi wisata yang jadi orientasi wisatawan generasi Z dan milenial, desa wisata berkembang menjadi...

Read moreDetails

Niat Baik vs Nepotisme: Pelajaran Tata Negara dari Era Utsman

by Nur Inayah Yushar
July 9, 2026
0
Gelar Langit, Gaji Bumi: Gelar Mentereng tapi Dompet Kering, Rahasia Dapur Dosen yang Akhirnya Dibongkar di MK

SALAH satu jebakan terbesar dalam psikologi politik masyarakat Indonesia adalah kecenderungan memilih atau memercayai pemimpin hanya berdasarkan citra kesalehan, keluhuran...

Read moreDetails

Bali, Surga yang Sudah Overload

by Agung Sudarsa
July 9, 2026
0
Bali, Surga yang Sudah Overload

Ketika Surga Kehilangan Napas SELAMA puluhan tahun, Bali dipuja sebagai Pulau Dewata,The Last Paradise, surga tropis yang menghadirkan harmoni antara...

Read moreDetails

Bunglon di Republik Kita

by Petrus Imam Prawoto Jati
July 8, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

DI taman kebun belakang rumah saya ada 2 ekor bunglon yang hidup sehari-hari di situ. Tadinya tidak ada, tahu-tahu ada...

Read moreDetails
Next Post
Dewa Gede Widiatmika dan Ketut Prameisti Adinda Divani, Duta GenRe UPMI Bali 2025

Dewa Gede Widiatmika dan Ketut Prameisti Adinda Divani, Duta GenRe UPMI Bali 2025

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kacak Kicak dan Pembacaan Akan Sesuatu yang Setengah-Setengah

    23 shares
    Share 23 Tweet 0
  • Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Bali Megarupa VIII: Saat Spiritualitas, Tradisi, dan Seni Kontemporer Bertemu dalam Satu Ruang
Pameran

Bali Megarupa VIII: Saat Spiritualitas, Tradisi, dan Seni Kontemporer Bertemu dalam Satu Ruang

MEMASUKI Gedung Kriya, Taman Budaya Provinsi Bali, pengunjung seolah diajak melintasi beragam dunia. Di satu sudut, akar kayu menjelma simbol...

by Nyoman Budarsana
July 14, 2026
Kreativitas Tanpa Batas Warnai Lomba Tari Modern Festival Seni Bali Jani 2026
Khas

Kreativitas Tanpa Batas Warnai Lomba Tari Modern Festival Seni Bali Jani 2026

LOMBA Tari Modern dalam rangka Festival Seni Bali Jani (FSBJ) VIII Tahun 2026 menghadirkan beragam karya yang mencerminkan perkembangan seni...

by Nyoman Budarsana
July 14, 2026
Menjelajah Kosmologi Kreativitas Ketut Suwidiarta di Five Roastery & Art Café
Budaya

Menjelajah Kosmologi Kreativitas Ketut Suwidiarta di Five Roastery & Art Café

Di tengah riuh kafe yang biasanya dipenuhi aroma kopi dan percakapan santai, sebuah ruang diskusi tentang seni akan dibuka di...

by Nyoman Budarsana
July 14, 2026
Beranda Pustaka Hidupkan Festival Seni Bali Jani VIII, Hadirkan Ruang Literasi yang Hangat dan Inklusif
Khas

Beranda Pustaka Hidupkan Festival Seni Bali Jani VIII, Hadirkan Ruang Literasi yang Hangat dan Inklusif

DI tengah semarak pertunjukan seni yang mewarnai Festival Seni Bali Jani (FSBJ) VIII, hadir sebuah ruang yang menawarkan pengalaman berbeda....

by Nyoman Budarsana
July 14, 2026
Wayang Ental dan Ruang yang Tersisa Sebelum “Nanti Dulu”
Panggung

Wayang Ental dan Ruang yang Tersisa Sebelum “Nanti Dulu”

BAYANGAN adalah jiwa dari wayang kulit. Di tangan seorang dalang, lembar-lembar kulit hidup melalui permainan cahaya. Namun, Wayang Ental memilih...

by Nyoman Budarsana
July 14, 2026
Ketika Waktu Berpindah Tangan
Ulas Musik

Ketika Waktu Berpindah Tangan

Ada lagu yang tidak sekadar didengar, melainkan mengetuk zaman. The Times They Are a-Changin’ karya Bob Dylan adalah salah satunya....

by Ahmad Sihabudin
July 13, 2026
Menguak Pesanggrahan Prabu Siliwangi di ‘Kota Angin’ Majalengka
Tualang

Menguak Pesanggrahan Prabu Siliwangi di ‘Kota Angin’ Majalengka

MENYUSURI jalanan di Kabupaten Majalengka mengingatkan berbagai julukan yang melekat pada daerah di bagian timur Provinsi Jawa Barat ini. Pertama...

by Chusmeru
July 13, 2026
Membincangkan Posisi dan Potensi Sastra Indonesia di Singaraja Literary Festival 2026
Khas

Membincangkan Posisi dan Potensi Sastra Indonesia di Singaraja Literary Festival 2026

 “Generasi yang selalu difitnah inilah yang sebetulnya menghidupkan sastra masa kini.” Pernyataan JS Khairen itu menjadi salah satu penanda arah...

by Dede Putra Wiguna
July 13, 2026
Dosen itu Buruh atau ‘Professional-Managerial Class?’
Esai

Dosen itu Buruh atau ‘Professional-Managerial Class?’

PERDEBATAN mengenai apakah dosen itu buruh atau bukan semakin sering terdengar di media sosial dan berbagai ruang diskusi akademik di...

by Afgan Fadilla
July 13, 2026
Indonesia Flair Tandem 2026: Saat Bartender Menyulap Atraksi Menjadi Seni Pertunjukan
Panggung

Indonesia Flair Tandem 2026: Saat Bartender Menyulap Atraksi Menjadi Seni Pertunjukan

DENTING botol beradu dengan irama musik. Shaker melayang di udara, berputar beberapa kali sebelum kembali mendarat tepat di tangan sang...

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
Rockestrasi, Ketika Rock dan Orkestra Bersatu di Festival Seni Bali Jani
Panggung

Rockestrasi, Ketika Rock dan Orkestra Bersatu di Festival Seni Bali Jani

DENTUMAN drum, raungan gitar listrik, dan koor ratusan penonton menggema di Panggung Madya Mandala, Taman Budaya Bali, Minggu (12/7/2026) malam....

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
“Sumpah Drupadi”, Panggung Refleksi tentang Martabat dan Keadilan
Panggung

“Sumpah Drupadi”, Panggung Refleksi tentang Martabat dan Keadilan

PERTUNJUKAN drama klasik persembahan Sanggar Teater Mini pada pembukaan Festival Seni Bali Jani (FSBJ) VIII Tahun 2026 membangkitkan nostalgia penonton,...

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co