4 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Pengabdi Suku Baduy: Dua Tahun Ditolak, Kini Disayangi

Asep Kurnia by Asep Kurnia
February 17, 2025
in Esai
Pengabdi Suku Baduy: Dua Tahun Ditolak, Kini Disayangi

Bidan Eros Rosita / Foto Dok. Asep Kurnia

SUATU komunitas adat dimana pun tidak bisa berdiam diri pada satu kondisi tertentu, karena  putaran perkembangan zaman mengharuskan untuk berubah. Artinya, kapan pun akan dan pasti mengalami perubahan. 

Baduy adalah salah satu contoh komunitas yang terus mengalami perubahan di berbagai aspek baik sosial , budaya dan ekonomi.  Padahal suku Baduy yang sampai ini masih berkategori sebagai Komunitas Adat Terpencil dan masih termasuk Desa Adat.

Perubahan yang begitu cepat dan sporadis di Baduy sudah tidak bisa lagi dipungkiri, bahwa itu bukti nyata yang menunjukkan mereka terpaksa atau tidak harus mengalami dan mengikuti perubahan sekaligus demi memenuhi tuntutan kebutuhan zaman; kalau tidak mau kesulitan dan terkucilkan dalam pergaulan dunia.

Sudah menjadi rumus baku bahwa perubahan itu terjadi akibat adanya pengaruh dan faktor penyebab lainnya. Menurut penulis , perubahan itu terjadi hanya oleh dua faktor, pertama yaitu faktor internal yang berpengertian bahwa perubahan itu datang dari keinginan,  motivasi dan inisiatif diri sendiri atau masyarakat. Kedua, faktor  eksternal dalam artian ada desain khusus dari pihak luar yang diperuntukkan  membantu memberdayakan serta mengubah pola hidup dan aspek kehidupan lain yang bermanfaat bagi kemajuan sesuai kebutuhannya.

Pada poin faktor eksternal inilah penulis ingin memberi sumbangsih informasi dan pengetahuan pada publik  tentang sosok-sosok manusia Pengabdi dan Pembaharu (agent of change) yang memiliki andil besar terhadap terjadinya perubahan paradigma atau pola berpikir para tokoh adat, masyarakat dan kawula muda  atau new generation Baduy. Tentunya pengabdi dan pembaharu yang dimaksudkan adalah pengabdi dan pembaharu menurut versi penulis yang memiliki ciri khusus. 

Ruang lingkup pengabdian itu luas, bisa di pegunungan,  di tengah samudra,  di rimba belantara begitu pun di kota dan di pedesaan. Bisa juga dilakukan di berbagai lembaga resmi pemerintahan  atau organisasi masyarakat ,  bisa  dilakukan oleh seorang pegawai,  guru, atau jabatan profesi lainnya. Sifatnya melayani masyarakat dengan gerakan 3E yaitu Enlighten, Educate & Empower (mencerahkan,  mendidik dan memberdayakan).

Satu syarat terpenting bagi seseorang dinyatakan sebagai “pengabdi” adalah tindakannya selalu berkelanjutan (terus menerus) dalam melakukan darma bakti. Lalu siapakah sosok-sosok pengabdi Suku Baduy itu ? Berikut kisahnya.

Dua Tahun Ditolak Baduy

Baduy sebagai salah satu suku yang kuat memegang aturan adat dengan sebutan Pikukuh Katujuh (amanat leluhur) selalu diterjemahkan sebagai suku tertinggal, kelompok prasejahtera,  tidak berpendidikan, tidak paham tentang hidup sehat, hidup sederhana tetap tradisional apa adanya ,  menolak modernisasi dan menghindari hidup berpola modern, dan sebutan lainnya. Itu adalah problematika yang mereka hadapi dari masa ke masa.

Menolak pelayanan kesehatan modern dan pendidikan formal adalah dilema dan problem terberat yang sudah terjadi berpuluh tahun ke belakang sejak Baduy mulai dibuka penampilannya di ruang publik.

Sejak 50 tahun ke belakang informasi tentang suku Baduy tidak pernah ramai menghiasi ruang publik. Mereka sangat silent and hidden activity ketika berkomunikasi dan bersilaturahmi dengan pihak luar Baduy, termasuk berkunjung ke pemerintahan saat melaksanakan  tugas ritual  Seba-nya (silaturahmi).

Dari beberapa problematika yang dihadapi Baduy,  kesehatan dan pendidikan serta kesejahteraan adalah 3 aspek yang menjadi sorotan utama pemerintah dan para pemerhati Baduy. Berbagai program dan terobosan untuk membantu menghijrahkan mereka dari 3 aspek yang dianggap jauh tertinggal dari kondisi tetangga saudara sebangsa dan setanah air yang sudah lebih maju kerap disodorkan pada mereka. Termasuk berbagai kajian khusus tentang Baduy sulit untuk diterapkan, tetap mentok dengan bahasa yang kurang enak yaitu “ditolak”, dengan alasan klasik bahwa semua tawaran itu lagi-lagi dinyatakan bertentangan dengan sosial budaya dan hukum adat mereka.

Sampai tahun 1997 saat  penulis bersama istri  datang ke Baduy untuk menunaikan tugas negara menjadi petugas kesehatan di suku Baduy, situasi  “penolakan pola hidup modern” masih kencang dirasakan. Aura kata buyut pamali atau pantangan dan larangan adat begitu kuat mencengkeram di kehidupan mereka. Ucapan tokoh adat dan putusan Lembaga Adat Tangtu Tilu Jaro Tujuh merupakan kepastian hukum yang tidak bisa diutak-atik.

Saat itu bagi masyarakat Baduy menerima orang luar Baduy  atau bersilaturahmi dengan orang luar Baduy menjadi kendala tersendiri yang sulit dipecahkan, mengingat doktrin kuat dari  para tokoh adat tentang penanaman rasa takut bahwa orang luar atau asing itu dicurigai  akan merusak kehidupan mereka. “Kami mah sieun dijual tonggong ka pamarentah (kami takut dicatut nama ke pemerintah)” itu pesan psikologis yang menempel erat di pemikiran warga Baduy.

Sehingga saat kami datang ke mereka, seluruh pasang mata warga mengawasi penuh dengan kecurigaan bahwa kita akan mencelakakan , merusak dan menjual mereka. Itu situasi dan kondisi serta tantangan terberat selama 2 tahun pertama (1997-1999) kami bertugas di Suku Baduy. Mereka masih menolak kedatangan  kami (bidan Eros Rosita dan Penulis), walau sudah dijelaskan bahwa kami sebagai petugas resmi kesehatan dari pihak pemerintah untuk suku Baduy.

“Kekakuan” Masyarakat Baduy Luar dan Hukum Adat Mulai Lentur

Pada saat kami datang, resistensi sosial suku Baduy, terutama ketakutan terhadap perubahan bagaikan tembok tebal yang sulit untuk ditembus. Jangankan untuk bisa mengubah pola hidup sehat dan mengubah cara pandang mereka,  bertemu dan menerima orang luar saja mereka begitu sulit dan selektif sekali. Itu situasi kondisi riil saat kami mengawali ditugaskan ke suku Baduy. Sehingga interaksi kami sebagai petugas dengan masyarakat Baduy sungguh sulit  sekali dilakukan.  Sempat kami patah semangat dan putus asa untuk mengundurkan diri dan minta pindah tugas.

Tetapi, tepat mengakhiri 2 tahun kami terus melakukan sosialisai dan pendekatan kepada mereka, datanglah mukjizat dan keajaiban berkat sebutir permen  Lolipop,  mereka akhirnya  mulai menerima keberadaan istri penulis sebagai bidan suku Baduy.

Untuk lebih mengakrabi tentang siapa sosok bidan suku Baduy, penulis coba sajikan kutipan profil dan curhatan bidan Suku Baduy yang ditulis pada tahun 2019 oleh bidan Eros Rosita berikut ini.

“Saya mulai ditugaskan oleh Dinas Kesehatan  (Dinkes) Kabupaten Lebak pada tahun 1997, tepatnya pada tanggal  25 September 1997 untuk menjadi Bidan Desa  Kanekes dengan SK Bidan PTT Desa Terpencil No KP.00.03.1.1.12512 (Perpanjangan masa bakti 3 tahun kedua ) NR.PTT : 10.4.008.041 yang ditanda tangani oleh Dr.H.E , Maohjar Djamhur, MPH, Kepala Kanwil Kesehatan Propinsi Jawa Barat. Dengan surat tugas No :800 /228/ KEPEG tanggal 01 Oktober 1997 tertanda tangan Dr. H. Djadja Buddy Suhardja S. MPH. Kepala Dinkes Kabupaten Lebak, ternyata berada di wilayah pembinaan  Puskesmas Cisimeut, Kecamatan Leuwidamar.

 Kemudian pada tahun 2001 menjadi Bidan Teladan , pada bulan Nopember tahun 2000  diangkat menjadi PNS dengan tugas khusus membina suku Baduy ketika Kabupaten Lebak masih termasuk Propinsi Jawa Barat.  Di manakah tugas PTT awal pertama kerja? Sangat jauh, yaitu pada tahun 1994 di desa terpencil yang bernama Desa Mangkualam, Kecamatan Cimanggu, Kabupaten Pandeglang yang sangat berdekatan sekali dengan Cagar Alam Ujung Kulon.

Sedetik tidak terpikir dan sejenak tak terbayangkan, bahwa saya akan menetap di Ciboleger sebagai kampung terdekat tempat transit awal menuju Tanah Ulayat Adat Baduy, dan tak sedikit pun berpikir bahwa saya akan mampu menyenangi tugas dan kewajiban sebagai Bidan Khusus Pembina Suku baduy. Tapi  ternyata, kehendak dan keputusan Tuhan memang tak dapat saya tolak, bahwa saya memang diciptakan dan dipersiapkan untuk menolong masyarakat Baduy dalam meningkatkan “derajat sehat“ hidup masyarakat Baduy secara umum dan “derajat kesehatan ibu anak“ secara khusus. 

Kini saya sangat meyakini bahwa tugas negara ini adalah sebuah tugas mulia yang harus saya lakukan dengan penuh kesadaran, kesabaran, ketabahan, ketelitian,  tanggungjawab, terencana dan terukur serta penuh percaya diri, bahwa pekerjaan ini akan sangat  bermanfaat bagi orang banyak; termasuk diri saya sendiri. Semoga akan bernilai ibadah. Amien.

Tugas awal saya di suku Baduy cukup membuat saya hampir putus asa. Mengapa? Karena ternyata Baduy bukan masyarakat biasa seperti yang kita kenal. Baduy adalah masyarakat yang pada kehidupan sehari-harinya sangat  ketat dan kuat dalam memegang aturan adat (memegang Pikukuh Karuhun).  Mereka sangat patuh terhadap ucapan para pemuka adat dan sangat takut melanggar adat,  sehingga mereka sangat menjauhkan diri dari kehidupan modern.

Tak terhitung bentuk-bentuk hambatan, tantangan serta ancaman yang saya hadapi dalam melaksanakan tugas kebidanan, baik secara fisik karena letak geografis yang sangat sulit, wilayah yang sangat luas dan penyebaran kampung yang sangat banyak serta jaraknya berjauhan.

Secara psikis sering bertentangan dengan hukum dan acara-acara adat, ditambah lagi dengan kebiasaan masyarakat berladang di tempat yang jauh, sehingga sulit untuk bertemu atau berkumpul,  karena tiap hari rutinitasnya adalah pergi pagi pulang sore untuk berladang.

Hal lain yang tak kalah menyulitkan saya dalam menunaikan tugas baik dalam memberikan pelayanan kesehatan, memberikan penyuluhan, mengajak, maupun dalam memengertikan serta menyadarkan mereka akan pentingnya kesehatan ibu dan anak adalah karena mereka dilarang bersekolah secara formal, sehingga pola pikir dan pola hidup mereka sangat sederhana sekali. Yach bisa pembaca bayangkan bagaimana sulitnya saya menghadapai  masyarakat yang tidak mengenyam pendidikan?

 Tapi berkat dukungan moril bapak saya (Idi Rosidi), atasan-atasan saya di Dinas Kesehatan Kabupaten Lebak serta intensifnya kunjungan Ibu Ketua IBI dan anggota IBI Kabupaten dan Propinsi Banten ke suku Baduy; bahkan tahun 2008 ibu Harni Kusno ketua IBI pusat beserta pengurus IBI Provinsi mengunjungi Baduy (Desa Kanekes). Tidak henti-hentinya beliau memberikan arahan, masukan dan petunjuk pada saya.

Bahkan di tahun 2012 saat ada kunjungan bunda Asmuyeni IBI Pusat dan bunda Emi IBI Provinsi Banten pun memberi arahan bersamaan dengan kejadian saya menolong melahirkan warga Baduy Dalam Cikartawana. 

Saya sangat mengingat pesannya: ”Jangan hiraukan ibu yang berkunjung ke desa, tapi lihatlah dan segera tangani ibu dan bayi daripada kami, Ros ingat bekerja tulus ikhlas mengabdi mengemban amanat bangsa“. Juga yang tak kalah pentingnya dukungan moral dan spritual dari suamiku (Asep Kurnia)  yang selalu menemani dan mendampingi  hampir di setiap kegiatan, baik pada kegiatan penyuluhan, kunjungan rumah, pendekatan pada tokoh adat, bahkan pada kegiatan pelayanan atau pertolongan medis.

Akhirnya “bongkahan batu” hambatan yang sangat terjal itu pada tahun kedua dari tugas dapat saya lalui. Kini setelah hampir 22 tahun akhirnya saya dapat diterima sebagai petugas kesehatan kemudian  dipercayai. Dan yang paling saya banggakan  adalah, kini   mereka sangat membutuhkan saya bukan hanya sebagai bidan saja.

Mungkin kawan-kawan seprofesi tidak akan percaya bahwa pada awalnya saya dibenci, kemudian ditakuti, lalu dijauhi hingga akhirnya dipercaya dan disayangi. Mengapa dibenci karena anggapan mereka saya orang asing yang akan merusak kebiasaan dan budaya  mereka.

Mengapa ditakuti karena mereka menganggap saya akan mencelakakan dan menjerumuskan mereka, dan mengapa saya dijauhi karena mereka ragu terhadap gerak-gerik dan tingkah laku saya  dalam memperkenalkan tugas kebidanan. Dan mengapa sekarang mereka sangat mempercayaiku dan menyayangiku karena saya telah dapat membuktikan bahwa apa yang saya lakukan pada mereka bermanfat bagi kesehatan dan kehidupan mereka.

Kebahagian yang paling istimewa dan jadi momentum catatan sejarah berharga bagi saya adalah bisa mengubah hukum adat yang asalnya menolak pelayanan kesehatan modern menjadi menerima pelayanan kesehatan modern. Dalam bahasa undang-undangnya, saya bisa meng-Amandemen.

Semoga kepercayaan mereka ini tidak pernah berhenti sampai kapan pun! Kemarin, sekarang  dan nanti seluruh jiwaku dan ragaku akan tetap diperuntukkan bagi Baduy demi pengabdian yang abadi agar mereka berhijrah. Saya akan terus mencerahkan mereka, mengedukasi mereka, dan memberdayakan mereka dari generasi ke generasi. Amien“.

Bila pembaca merasa penasaran tentang sosok para pengabdi suku Baduy, simak episode berikutnya. [T]

Penulis: Asep Kurnia
Editor: Adnyana Ole

  • BACA esai-esai tentang BADUY
  • BACA esai-esai lain dari penulis ASEP KURNIA
Para Pejuang Akademisi Suku Baduy
“The Baduy Warrior”: Pejuang Suku Baduy
Para Pejuang dan Pengabdi Suku Baduy
Sekilas Informasi Wisata  Saba Budaya  Baduy
Efek Intensitas Wisatawan Saba Budaya Baduy
Tags: kesehatanmasyarakat adatProvinsi BantenSuku Baduy
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Mencari Titik Terang di Goa Peteng, Gumi Delod Ceking   

Next Post

Dewa Gede Widiatmika dan Ketut Prameisti Adinda Divani, Duta GenRe UPMI Bali 2025

Asep Kurnia

Asep Kurnia

Pemerhati Baduy, tinggal di tapal batas Baduy

Related Posts

Presiden di Dalam Kepala Saya

by Angga Wijaya
August 3, 2026
0
Presiden di Dalam Kepala Saya

"Man is an animal suspended in webs of significance he himself has spun." Manusia adalah makhluk yang bergantung pada jejaring...

Read moreDetails

Korupsi di Indonesia: Persekongkolan Antara Kuasa dan Modal

by Chusmeru
August 3, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

KORUPSI, sebagaimana narkoba dan terorisme bukanlah kejahatan tunggal. Selalu melibatkan orang lain. Korupsi adalah persekongkolan, perselingkuhan, jaringan, dan kongkalikong. Korupsi...

Read moreDetails

Saat Lidah Kelu Bicara Cinta, Maka Lahirlah Lagu

by Tri Nugroho Adi
August 2, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

"Mengapa sebagian perasaan memilih menjadi musik?" Ada seseorang yang berjam-jam memandangi layar kosong. Ia mampu berbicara kepada banyak orang, tetapi...

Read moreDetails

Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang

by IGP Weda Adi Wangsa
August 2, 2026
0
Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang

CALONARANG merupakan kisah terkenal yang berasal dari wilayah Jawa Timur. Produk yang lahir pada zaman Jawa Kuno ini tersedia dalam...

Read moreDetails

Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang

by Angga Wijaya
August 2, 2026
0
Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang

PAGI belum benar-benar terang ketika seorang perempuan keluar dari pekarangan rumahnya di Denpasar. Di tangannya tergenggam sebuah canang sari, yakni...

Read moreDetails

Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal

by I Wayan Yudana
August 1, 2026
0
Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal

"Kalau dunia merayakan Hari Kasih Sayang dengan setangkai mawar, Bali telah merayakannya sejak berabad-abad lalu dengan doa, gamelan, dan ketulusan...

Read moreDetails

Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya

by Agung Sudarsa
August 1, 2026
0
Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya

"Sebuah peradaban tidak runtuh karena kekurangan orang pintar. Peradaban runtuh ketika orang-orang pintarnya memilih diam. Ketika ilmu kehilangan keberanian, kekuasaan...

Read moreDetails

𝗣𝗘𝗥𝗜𝗡𝗚𝗔𝗧𝗔𝗡 𝗚𝗨𝗥𝗨𝗛 𝗦𝗨𝗞𝗔𝗥𝗡𝗢𝗣𝗨𝗧𝗥𝗔 𝗨𝗡𝗧𝗨𝗞 𝗕𝗔𝗟𝗜

by Sugi Lanus
July 31, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

— 𝗖𝗮𝘁𝗮𝘁𝗮𝗻 𝗛𝗮𝗿𝗶𝗮𝗻 𝗦𝘂𝗴𝗶 𝗟𝗮𝗻𝘂𝘀, 𝟯𝟬 𝗝𝘂𝗹𝗶 𝟮𝟬𝟮𝟲. 𝗧𝗮𝗵𝘂𝗻 𝟭𝟵𝟳𝟲 𝗚𝘂𝗿𝘂𝗵 𝗦𝘂𝗸𝗮𝗿𝗻𝗼𝗽𝘂𝘁𝗿𝗮 𝘁𝗲𝗹𝗮𝗵 𝗺𝗲𝗺𝗯𝗲𝗿𝗶𝗸𝗮𝗻 𝗽𝗲𝗿𝗶𝗻𝗴𝗮𝘁𝗮𝗻 𝗯𝗮𝗵𝘄𝗮: 𝗕𝗲𝗻𝗰𝗮𝗻𝗮 𝗸𝗼𝗺𝗲𝗿𝘀𝗶𝗮𝗹𝗶𝘀𝗮𝘀𝗶 𝗱𝗮𝗻 𝗲𝗸𝘀𝗽𝗹𝗼𝗶𝘁𝗮𝘀𝗶...

Read moreDetails

Latah Pendidikan yang Mencemaskan

by Petrus Imam Prawoto Jati
July 30, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SIDANG pembaca yang budiman, kita sama-sama paham jika bicara soal pendidikan, semua selalu dimulai dengan niat baik. Setidaknya, begitulah yang...

Read moreDetails

Sasih Karo Kehilangan Made Taro

by I Nyoman Tingkat
July 30, 2026
0
Sasih Karo Kehilangan Made Taro

“UNTUK belajar tentang anatomi gajah, ajaklah murid ke kebun binatang, jangan membawa gajah ke dalam kelas.” Kalimat analogi dari Rabindranath...

Read moreDetails
Next Post
Dewa Gede Widiatmika dan Ketut Prameisti Adinda Divani, Duta GenRe UPMI Bali 2025

Dewa Gede Widiatmika dan Ketut Prameisti Adinda Divani, Duta GenRe UPMI Bali 2025

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

SEBUT SAJA NAGA DALAM GELAP: Dunia Lain, Tan Lioe Ie, dan Cahaya Pink Floyd
Ulas Buku

SEBUT SAJA NAGA DALAM GELAP: Dunia Lain, Tan Lioe Ie, dan Cahaya Pink Floyd

Pengantar singkat: Buku puisi Soto Otak ODGJ, tidak pernah menjadi "isu besar" yang cukup menarik perhatian pembela hak asasi manusia,...

by IRZI
August 3, 2026
Presiden di Dalam Kepala Saya
Esai

Presiden di Dalam Kepala Saya

"Man is an animal suspended in webs of significance he himself has spun." Manusia adalah makhluk yang bergantung pada jejaring...

by Angga Wijaya
August 3, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Korupsi di Indonesia: Persekongkolan Antara Kuasa dan Modal

KORUPSI, sebagaimana narkoba dan terorisme bukanlah kejahatan tunggal. Selalu melibatkan orang lain. Korupsi adalah persekongkolan, perselingkuhan, jaringan, dan kongkalikong. Korupsi...

by Chusmeru
August 3, 2026
Menimbun Sunyi dengan Polusi Suara: Mengapa Teater Modern Bali Takut Diam
Kritik Seni

Menimbun Sunyi dengan Polusi Suara: Mengapa Teater Modern Bali Takut Diam

SALAH satu paradoks teater modern Bali hari ini adalah ketidakmampuannya mempercayai keheningan. Hampir setiap pertunjukan merasa perlu memenuhi panggung dengan...

by Wayan Gde Yudane
August 3, 2026
‘Another Brick in the Wall’ dan Krisis Hormat dalam Pendidikan Kontemporer
Ulas Musik

‘Another Brick in the Wall’ dan Krisis Hormat dalam Pendidikan Kontemporer

Pada tahun 1979, band rock progresif Inggris Pink Floyd merilis lagu “Another Brick in the Wall” (Part 2) dalam album...

by Ahmad Sihabudin
August 3, 2026
“Sinergi Air”, Ketika Cinta dan Seni Mengalir dalam Satu Pameran
Pameran

“Sinergi Air”, Ketika Cinta dan Seni Mengalir dalam Satu Pameran

DI sebuah galeri mungil yang tenang di kawasan Seminyak, langkah pengunjung melambat begitu memasuki ruang pamer. Dinding-dinding putih dipenuhi lukisan...

by Nyoman Budarsana
August 3, 2026
Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran
Tualang

Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran

SEBAGAIMANA Pura Ulun Swi pada umumnya, Pura Ulun Swi Jimbaran adalah Pura Subak dengan status Pura Kahyangan Jagat. Terkesan unik...

by I Nyoman Tingkat
August 2, 2026
Mantra Visual Made Wiradana
Ulas Rupa

Mantra Visual Made Wiradana

PADA tulisan kali ini, saya ingin "menekuni" karya Made Wiradana yang baru saja dipamerkan di Griya Santrian, Sanur, beberapa waktu...

by Hartanto
August 2, 2026
Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village
Ulas Musik

Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village

“Naik-naik ke puncak gunung, tinggi-tinggi sekali.” JIKA pembaca mendaki tangga lagu di platform musik, nihil kita temui musik folk di...

by Mahesa Putra
August 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Saat Lidah Kelu Bicara Cinta, Maka Lahirlah Lagu

"Mengapa sebagian perasaan memilih menjadi musik?" Ada seseorang yang berjam-jam memandangi layar kosong. Ia mampu berbicara kepada banyak orang, tetapi...

by Tri Nugroho Adi
August 2, 2026
Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang
Esai

Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang

CALONARANG merupakan kisah terkenal yang berasal dari wilayah Jawa Timur. Produk yang lahir pada zaman Jawa Kuno ini tersedia dalam...

by IGP Weda Adi Wangsa
August 2, 2026
Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang
Esai

Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang

PAGI belum benar-benar terang ketika seorang perempuan keluar dari pekarangan rumahnya di Denpasar. Di tangannya tergenggam sebuah canang sari, yakni...

by Angga Wijaya
August 2, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co