4 June 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Mencari Titik Terang di Goa Peteng, Gumi Delod Ceking   

I Nyoman Tingkat by I Nyoman Tingkat
February 16, 2025
in Tualang
Mencari Titik Terang di Goa Peteng, Gumi Delod Ceking   

Sekaa Unen Jaba Bualu mapajar di Madya Mandala Pura Gunung Payung (13/2/2024)

KAMIS Umanis Sinta, 13 Februari 2025, sehari menjelang hari Kasih Sayang (Valentine Day), adalah  hari pertama Nyejer Pujawali di Pura Dang Kahyangan Gunung Payung Desa Adat Kutuh, Gumi Delod Ceking. Pujawali yang jatuh pada Purnama Sasih Kawulu, pada 2025 menjadi istimewa bersamaan dengan Buda Kliwon Sinta (12 Februari 2025) yang disebut Pagerwesi. Ida Bhatara nyejer selama tiga hari sampai Sabtu Pon Sinta, 15 Februari 2025.  

Nyejer hari pertama menjadi menarik dan meriah karena Sekaa Unen Jaba Bualu ngaturang ayah mapajar di Madya Mandala Pura. Menarik karena  mampu merapatkan barisan para pemedek terkonsentrasi di panggung yang disebut kalangan tanpa rangki. Pemedek menikmati tontonan dan tuntuan sambil melepas rutinitas kerja dengan tekanan yang kadang membuat bad mood.

Meriah karena banyaknya pemedek dura desa (luar Desa Adat Kutuh) yang tangkil ngaturang bakti selain dari Sekaa Unen Jaba Bualu juga dari luar Sekaa Unen.  Semua persembahan dari Sekaa Unen Jaba Bualu gratis dan pemedek bebas memotret dari berbagai angle untuk diberitakan di Media Sosial masing-masing. Kemeriahan dan kemenarikannya menembus batas ruang dan waktu, sekala niskala (nyata dan maya).

Sekaa Unen Jaba Bualu mapajar di Madya Mandala Pura Gunung Payung (13/2/2024)

Begitulah prosesi berkesenian di Pura Dang Kahyangan Gunung Payung berlangsung secara turun – temurun sebagai seni persembahan yang menjadi cikal bakal turunnya taksu dari Kahyangan kepada penari yang mendapat fulung ketakson. Itulah sebabnya, ketika selesai ngodak pelawatan sebagai Pralingga Ida Bhatara, prosesi pasupati dilakukan dengan ngerehang pada saat  hari baik (suba dewasa) tengah malam di tempat sepi keramat dengan lampu-lampu dimatikan.  Ngerehang itu adalah proses penyepuhan untuk memperkuat sinar taksu di tengah gelap malam, tak ubahnya masuk ke goa peteng di dalam dan di luar diri.

Goa Peteng di dalam diri adalah goa gue (jagat alit, mikrokosmos), sedangkan goa peteng di luar diri adalah Goa Duwe (jagat agung, makrokosmos). Sinar taksu adalah mempersatukan sinar di dalam dengan di luar melalui ritual banten penyadaran. Prosesnya tidak instan, tetapi melalui tahapan dengan langkah-langkah metodik didaktik berdasarkan pendekatan desa kala patra. Pendekatan ini adalah kearifan lokal yang visioner menembus batas ruang dan waktu. Hal itu lahir melalui proses renungan mendalam (kontemplasi) saat sepi di malam gelap, segelap Goa Peteng tempat yang djadikan taman usadha (terapi Kesehatan) melalui proses malukat.

Begitulah ketika Sekaa Unen Jaba Bualu mapajar di Pura Gunung Payung, tiba-tiba saja saya kembali teringat Goa Peteng di Banjar Cengiling Jimbaran. Memang secara historis, Pura Goa Peteng dan Pura Gunung Payung adalah jejak perjalanan Dang Hyang Nirartha dengan status Pura Dang Kahyangan. Yang berbeda, Gunung Payung di atas tebing (ngampan) sedangkan Goa Peteng di tegalan abian rada tersembunyi. Persamaannya, keduanya memiliki sumber air (Tirta) yang ajaib. Gunung Payung di Kubung Patirtan di bawah pohon awar-awar, Goa Peteng di sela-sela siagan sungai kecil di bawah tanah yang airnya mengalir jernih, konon terhubung dengan Uluwatu.

Di Kubung Patirtan Gunung Payung terdapat Patung Dang Hyang Dwijendra dekat pohon awar-awar, begitu pula di Goa Peteng terdapat patung beliau, di bawah pohon beringin yang  rimbun dengan ranting-ranting menjulur ke tanah. Terkesan Magis. Lalu, hubungan Hindu – Buda juga tampak baik di Pura Gunung Payung maupun di Pura Goa Peteng, seperti juga di Pura Goa Gong dan Pura Batu Pageh. Itu artinya jejak Siwa – Buda terpatri sejak dulu, zaman ilu. Lebih-lebih jika memerhatikan Sekaa Unen dengan Barong Landung yang biasanya ngaturang ayah di Pura Karang Boma saat Tumpek Landep.

Jika ditarik lebih lanjut, ke teks sastra tentu bisa diapresiasi melalui geguritan Sampik Ingtay. Lalu, jika kita buka halaman budaya Bali yang lain jejak juga ditemukan di Pura Dalem Balingkang dan Pura Batur. Jika kita buka dunia perdagangan, jelas hubungan Bali – Cina berelasi melalui alat jual beli uang kepeng (pis bolong) yang sampai kini dilestarikan penggunaannya dalam ritual upacara, walaupun pis bolong-nya kini banyak yang palsu. Belum lagi, dari segi tarinya, Baris Cina di Sanur dan Renon Kota Denpasar. Peninggalan Konco tertua Budha di Gumi Delod Ceking ada di Desa Adat Tanjung Benoa.

Cina dengan Agama Buda-nya tampaknya sudah mengintai Bali sejak zaman ilu dan berakulturasi dengan budaya setempat, bahkan sampai ke tempat yang paling gelap sekali pun. Mencari terang di tempat gelap, di Goa Peteng melalui jalan berbatu melewati abian yang kering kerontang pada musim kemarau. Hijau memukau kala musim hujan, bisa bertemu pengangon di dalam perjalanan. Keroncongan sapi adalah musik hiburan tradisi agraris mengiringi perjalanan menuju pendakian spiritual yang tidak mudah, perlu kesadaran matahari dengan kesabaran ibu pertiwi. Begitulah perjalanan menuju Pura Goa Peteng sebagai tempat melakukan terapi kesehatan secara alami.

Dengan memerhatikan tipikal manusia Hindu Bali yang tidak memiliki budaya berwisata, eksplorasi pengalaman religius di Gumi Delod Ceking bisa menjadi pilihan wisata spiritual dengan Tirtayatra berfokus pada lokus Goa-Goa yang berdekatan dengan medan eksotik bin cantik memantik alam pikiran untuk kreatif inovatif. Kesegaran udara dan kealamian goa tanpa polesan adalah tinggalan peradaban purba zaman mesolitikum. Secara historis, masa itu adalah peradaban zaman berburu, hidup berpindah-pindah secara nomaden dari goa ke goa. Mulut goa yang sempit dengan lambung goa yang besar menampung  sampai puluhan bahkan ratusan pemedek. Pengandaian goa gue sebagai mikrokosmos dengan Goa Duwe sebagai makrokosmos menjadi relevan.

Pura Goa Peteng Cengiling Jimbaran Gumi Delod Ceking

Dalam konteks pariwisata kini, goa-goa ini perlu dijelajah sebagai destinasi wisata minat khusus. Bagi umat Hindu Bali, menjelajah goa-goa di Gumi Delod Ceking adalah menjelajah goa gue. Menjelajah ke tengah rimba diri yang juga dipenuhi oleh binatang buas yang agresif (rajas) dan binatang kemalasan (tamas) yang perlu dikendalikan dengan pegangan ajaran agama (satwam). Untuk itulah, Goa Peteng seyogyanya menjadi goa pencerahan walaupun melalui perjalanan yang melelahkan. Namanya juga wisata spiritual minat khusus : khusus bagi mereka yang ingin menjinakkan ternak-ternak dalam diri dengan masuk ke goa-goa yang terhubung satu sama lain. Lalu, bertemu di Pura Goa Peteng Alam Tunjung Mekar sebagai mana terpatri di pintu masuk candi. Menemukan tunjung mekar di dalam goa gue, di padma hrdaya, sebagai pusat gravitasi kesadaran.

IBG Agastia (1987) menyebutnya berpaling ke dalam diri-sendiri setelah melalui proses penjelajahan teks dari karya Jawa Kuno (Wyasa, Walmiki, Tantular, Nirartha, Ranggawasita) hingga pengarang modern seperti Shakespeare. Tulis Agastia, “Penciptaan dunia dimulai di dalam diri manusia sendiri. Pada mulanya semua merupakan kegelapan ; kemudian terbit cahaya dan dipisahkan dari kegelapan…Cahaya itu senantiasa dipersamakan dengan kebenaran dan kebebasan”.

Senada dengan statemen itu, mencermati penyupatan dua ular naga oleh Dang Hyang Nirartha yang melapangkan jalannya menuju Goa Gong, maka Goa Peteng adalah Goa Pencerahan. Menemukan jalan titik terang di tengah kegelapan Goa Peteng. Sangatlah logis bila Goa Gong adalah Pusat Perguruan (Pasraman) Tinggi Rohani tempo doeloe melengkapi goa-goa di Gumi Delod Ceking sebagai goa bertuah. Sinarnya melesat sampai ke ujung dunia, diminat orang segala negeri, termasuk dari Negeri Cina. Tuntutlah ilmu sampai ke Negeri Cina, barangkali perlu dikoreksi  menjadi tuntutlah ilmu sampai ke Gumi Delod Ceking. Menemui sang diri di goa gue.

Begitulah Goa Peteng menjadi penanda penting bagi peningkatan kualitas diri manusia Bali sejak dulu, kini, dan nanti. Pasangan Gubernur Bali terpilih (Koster-Giri) dengan visi Sat Kerthi Loka Bali tentu berkesempatan untuk memproteksi tinggalan-tinggalan goa-goa itu agar situs-situs penuh ritus yang kudus itu tidak tercemar, apalagi sampai berpindah tangan ke investor. Jangan sampai terjadi. Oleh karena itu,menemui goa gue di Goa Duwe adalah menyadari goa peteng diri untuk mohon pencerahan melalui prosesi malukat agar tis, dayuh menjalankan kehidupan menuju sehat lahir batin. Rahayu sekala niskala. [T]

Penulis: I Nyoman Tingkat
Editor: Adnyana Ole

  • BACA artikel lain dari penulis  NYOMAN TINGKAT
Rahajeng Pagerwesi dari Pura Goa Peteng di Gumi Delod Ceking   
Tirtayatra Toska Se-Delod Ceking  :  Pura Luhur  Uluwatu   
Tirtayatra Toska Se-Delod Ceking  :  Pura  Goa Selonding   
Tirtayatra Toska Se-Delod Ceking  :  Pura  Batu Pageh  
Tirtayatra Toska Se-Delod Ceking  :  Pura Goa Gong 
Tirtayatra Toska Se-Delod Ceking  :  Pura Gunung Payung
Tirtayatra Toska Se-Delod Ceking :  Pura Geger Dalem Pemutih dan Pura Karang Boma
Tirtayatra Toska Se-Delod Ceking :  Pura Taman Mumbul dan Pura Ratu Ayu Dalem Mumbul
Tags: Desa Adat JimbaranPura Goa Peteng
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Dramaturgi Drama Modern Bahasa Bali Terus Dicari | Dari Lomba Drama Modern Bulan Bahasa Bali VII

Next Post

Pengabdi Suku Baduy: Dua Tahun Ditolak, Kini Disayangi

I Nyoman Tingkat

I Nyoman Tingkat

Kepala SMA Negeri 2 Kuta Selatan, Bali

Related Posts

Baduy Luar,  Etalase Pariwisata Banten

by I Nyoman Tingkat
June 3, 2026
0
Baduy Luar,  Etalase Pariwisata Banten

SEHARI di Baduy Luarbersama Bandesa/Panglingsir Desa Adat di Badung pada Jumat Paing Gumbreg, 15 Mei 2026, selain merasakan suasana alami...

Read moreDetails

Ke Pacet Mereka Kembali

by Jaswanto
June 2, 2026
0
Ke Pacet Mereka Kembali

DI pertigaan Krian arah Mojosari, kendaraan berplat L dan W beriring-iringan menyesaki jalan menuju ke titik yang sama. Mobil-motor dari...

Read moreDetails

Mereka Menunggu di Setia Darma 

by Dede Putra Wiguna
May 29, 2026
0
Mereka Menunggu di Setia Darma 

LANGIT mendung siang itu terasa menenangkan. Sepasang turis asing berjalan pelan menyusuri jalan kecil yang dikelilingi semak dan rimbun pohon....

Read moreDetails

Refleksi Study Tiru ke Baduy Luar 

by I Nyoman Tingkat
May 27, 2026
0
Refleksi Study Tiru ke Baduy Luar 

PROGRAM Study Tiru selama tiga hari bersama Panglingsir/Bandesa Adat se-Badung dengan tujuan utama ke Baduy Luar pada Kamis Umanis Gumbreg,...

Read moreDetails

Menilik Petilasan Gajah Mada di Kebumen: Upaya Literasi Sejarah

by Chusmeru
May 25, 2026
0
Menilik Petilasan Gajah Mada di Kebumen: Upaya Literasi Sejarah

MENYIMPAN jejak sejarah panjang, Kabupaten Kebumen, Jawa Tengah mungkin tak setenar kota-kota besar di Indonesia. Namun keberadaan Kebumen tak bisa...

Read moreDetails

Kota Tua Tak Pernah Mati

by I Nyoman Tingkat
May 24, 2026
0
Kota Tua Tak Pernah Mati

PROGRAM Study Tiru selama tiga hari bersama Panglingsir/Bandesa Adat se- Badung dengan tujuan utama ke Baduy Luar pada Jumat Paing...

Read moreDetails

Oleh-Oleh dari Baduy Luar

by I Nyoman Tingkat
May 23, 2026
0
Oleh-Oleh dari Baduy Luar

MENGIKUTI rombongan Desa Adat se-Kabupaten Badung melakukan Study Tiru ke Baduy Luar, Provinsi Banten, Jumat Paing Gumbreg 15 Mei 2026,...

Read moreDetails

Berguru ke Baduy Luar

by I Nyoman Tingkat
May 21, 2026
0
Berguru ke Baduy Luar

SETELAH rombongan Desa Adat se-Kabupaten Badung melakukan persembahyangan di Pura Aditya Jaya Rawangun Jakarta Timur pada Kamis Umanis Gumbreg, 14...

Read moreDetails

BTR Ultra 2026 dan Hal-hal yang Menjadikannya Prestisius

by Julio Saputra
May 20, 2026
0
BTR Ultra 2026 dan Hal-hal yang Menjadikannya Prestisius

Roses are red Violets are blue 106,20 KM? WTF is wrong with you? SEBUAH papan merah bertuliskan kata-kata di atas...

Read moreDetails

Mengenal Banyumas, Wisata Alam dan Kuliner yang Autentik

by Chusmeru
April 30, 2026
0
Mengenal Banyumas, Wisata Alam dan Kuliner yang Autentik

NAMA Kabupaten Banyumas selalu identik dengan bahasa “Ngapak” yang sering dijadikan lelucon dalam film dan komedi. Banyumas lantas seolah mendapat...

Read moreDetails
Next Post
Pengabdi Suku Baduy: Dua Tahun Ditolak, Kini Disayangi

Pengabdi Suku Baduy: Dua Tahun Ditolak, Kini Disayangi

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Pandemi, Hukum Rta, dan Keimanan Saya

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cinta dan Penyesalan | Cerpen Dede Putra Wiguna

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

‘Nalaskara’, Menafsir Nyala Siat Geni dalam Gerak yang Dinamis dan Penuh Semangat
Panggung

‘Nalaskara’, Menafsir Nyala Siat Geni dalam Gerak yang Dinamis dan Penuh Semangat

SOROT lampu panggung perlahan menghangatkan Wantilan Pura Puseh Desa Adat Batuan, Gianyar, Sabtu malam, 30 Mei 2026. Setelah denting gamelan...

by Dede Putra Wiguna
June 4, 2026
Cukup Telulas?
Bahasa

Cukup Telulas?

BISA jadi telanjur terbentuk stigma tiga belas identik dengan celaka, sial, dan segala bentuk ketidakberuntungan maka sangat penting diupayakan menghindari...

by Komang Berata
June 4, 2026
Sekaa Teruna: Menjaga Tradisi, Mencetak Pemimpin
Esai

Sekaa Teruna: Menjaga Tradisi, Mencetak Pemimpin

DI tengah arus globalisasi dan perkembangan teknologi yang berlangsung begitu cepat, generasi muda Bali menghadapi tantangan yang tidak sederhana. Mereka...

by Kadek Agus Yoga Dwipranata
June 4, 2026
Korespondensi, Masihkah Diajarkan di Sekolah Kini?
Esai

Korespondensi, Masihkah Diajarkan di Sekolah Kini?

SIANG hari beberapa waktu lalu saat pulang kampung, saya membuka sebuah kotak lama berisi tumpukan surat. Kertas-kertas itu mulai menguning....

by Angga Wijaya
June 4, 2026
Baduy Luar,  Etalase Pariwisata Banten
Tualang

Baduy Luar,  Etalase Pariwisata Banten

SEHARI di Baduy Luarbersama Bandesa/Panglingsir Desa Adat di Badung pada Jumat Paing Gumbreg, 15 Mei 2026, selain merasakan suasana alami...

by I Nyoman Tingkat
June 3, 2026
Dokter Gia: Pilihan Kata Mengolah Rasa
Bahasa

Dokter Gia: Pilihan Kata Mengolah Rasa

DOKTER Gia Pratama (dr. Gia) —seorang dokter dan penulis yang aktif di media sosial untuk mengedukasi masyarakat dalam dunia kesehatan—pernah...

by I Made Sudiana
June 3, 2026
Dari Kamar Biasa ke Pengalaman Luar Biasa —Cerita Desa Kedisan Berbenah
Khas

Dari Kamar Biasa ke Pengalaman Luar Biasa —Cerita Desa Kedisan Berbenah

DESA Kedisan di Kintamani, Bangli, itu sebenarnya sudah “menjual” tanpa harus banyak usaha. Pemandangan Danau Batur yang tenang, udara sejuk, dan suasana desa yang...

by Ni Luh Putu Intan Nirmalasari
June 3, 2026
Dari Panggung Proklamasi di Desa Depeha: Ketika Siswa SD Mengumandangkan Kembali Teks Proklamasi yang Sakral
Panggung

Dari Panggung Proklamasi di Desa Depeha: Ketika Siswa SD Mengumandangkan Kembali Teks Proklamasi yang Sakral

SELASA pagi, 2 Juni 2026, udara dingin bergerak pelan hingga memenuhi setiap sudut Wantilan Kantor Desa Depeha, Kecamatan Kubutambahan, Buleleng....

by Komang Sujana
June 3, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Reforma Agraria : Ketika Rakyat Hanya Memegang HGB di Atas HPL Bank Tanah

REFORMA Agraria merupakan salah satu agenda konstitusional yang lahir dari cita-cita besar para pendiri bangsa untuk mewujudkan keadilan sosial di...

by I Made Pria Dharsana
June 3, 2026
‘Ruwating Bumi’ —Tradisi Perang Gandu yang Menjelma Komposisi Semar Pegulingan
Panggung

‘Ruwating Bumi’ —Tradisi Perang Gandu yang Menjelma Komposisi Semar Pegulingan

MALAM itu, di Wantilan Pura Puseh Desa Adat Batuan, Gianyar, karya berjudul ‘Ruwating Bumi’ membuka rangkaian Diseminasi Karya Tugas Akhir...

by Dede Putra Wiguna
June 3, 2026
Refleksi Harmoni dalam Panggung Seni —Ketika Mahasiswa Sendratasik UPMI Bali Merawat Tradisi Melalui Karya Inovatif
Panggung

Refleksi Harmoni dalam Panggung Seni —Ketika Mahasiswa Sendratasik UPMI Bali Merawat Tradisi Melalui Karya Inovatif

DI tengah derasnya arus modernisasi yang terus menguji ketahanan budaya Bali, seni pertunjukan kembali menegaskan perannya sebagai ruang refleksi sekaligus...

by Dede Putra Wiguna
June 3, 2026
Pertemuan William James dan Vivekananda
Esai

Pertemuan William James dan Vivekananda

Dua Biografi: Jalan dari Timur dan Barat SWAMI Vivekananda lahir dengan nama Narendra Nath Datta pada tahun 1863 di Kolkata,...

by Agung Sudarsa
June 3, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co