2 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Dramaturgi Drama Modern Bahasa Bali Terus Dicari | Dari Lomba Drama Modern Bulan Bahasa Bali VII

Nyoman Budarsana by Nyoman Budarsana
February 16, 2025
in Panggung
Dramaturgi Drama Modern Bahasa Bali Terus Dicari  | Dari Lomba Drama Modern Bulan Bahasa Bali VII

Teater Jineng Smasta | Foto: Bud

KETIKA menonton penampilan lima peserta pada Wimbakara (Lomba) Drama Bali Modern dalam ajang Bulan Bahasa Bali (BBB) VII-2025, muncul harapan besar akan lahirnya pemain-pemain teater atau kelompok drama berbahasa Bali yang mumpuni di Bali.

Bermain di Gedung Ksirarnawa, Taman Budaya Bali, Denpasar, Jumat 14 Pebruari 2025, hampir semua peserta (dari nomor undi 6 hingga undi 10) itu berhasil  dengan gaya yang berbeda. Sejumlah peserta seperti menemukan dramaturgi teater bahasa Bali–yang tentu saja mereka cari dengan proses latihan yang cukup melelahkan.

Lima peserta yang tampil itu masing-masing memiliki keunggulan dan kekhasan. Mereka tak hanya menghibur, tetapi sepertinya bisa menjadi gambaran sebuah perkembangan seni drama modern berbahasa Bali di Pulau Dewata.

Lima peserta lomba yang tampil itu adalah, Teater Takhta, Teater Jungut Sari, SMA N 1 Kuta Utara, Teater Jineng Smasta, dan Komunitas Seni Wong Samar. Mereka mengangkat kisah yang sangat beragam.

Memang ada yang mengangkat kisah mirip-mirip, seperti kisah tentang sawah, tetapi gaya penyutradaraan yang ditampilkan sangat beda. Tokoh-tokoh yang ditampilkan juga berbeda, serta properti pendukung garapan itu juga beda, pastinya lebih kreatif. Bahkan, adanya kejutan-kejutan itu menjadi sebuah pembelajaran untuk perkembangan teater ke depan.

Dari kelima kelompok teater itu, Teater Jungut Sari dari SMA Negeri 1 Sukawati, tampil penuh pesona dengan penemuan bentuk-bentuk pemanggungan yang kreatif. Drama yang mengangkat judul “Medal Medil”.

Teater Jungut Sari dari SMA Negeri 1 Sukawati | Foto: Bud

Drama ini menampilkan lelakut—orang-orangan di sawah di atas panggung. Orang-orang sawah biasanya menggunakan daun-daunan kering, tetapi ini justru dimainkan oleh manusia. Manusia memerankan orang-orangnya sawah. Dan sungguh berhasil.

Kisah Medal-Medil ini menarik. Seorang tokoh, I Made Lempog, membidik burung tekukur di topi, di atas kepala I Pekak Regeg. Bukannya burung yang mati, melainkan I Pekak Regeg yang lunglai.

Untuk menutupi perbuatannya itu, mayat I Pekak Regeg dibuat menjadi lelakut bersanding dengan lelakut lain berjejer di sawah.

Teater Jineng Smasta menampilkan drama realis berjudul “Nini Kija Jani” yang mengangkat kegelisahan perginya Dewa Nini, dewanya padi akibat ulah manusia. Sang sutradara sangat kreatif, dimana tokoh padi, bikul (tikus), dan cetrung (nama burung) bukan menjadi tokoh realis, tetapi imajiner yang menggambarkan pemikiran, perasaan kondisi psikis dan fenomena yang sedang dialami masyarakat Bali—rakyat kecil yang semakin terdesak di tanah kelahirannya.

Sementara tokoh manusia, seperti Wayan Kayun, mempresentarikan sebagai penguasa, investor yang hanya mengeruk keuntungan di tanah Bali. Tokoh padi, bikul, dan cetrung tak kuasa melihat kerakusan manusia, sehingga melakukan demonstrasi agar tanah warisan itu tidak dijual.

Adegan ini digarap dengan pendramaan, dengan bangunan karakter dan sifat-sifat manusia dalam bentuk gerak dan kata-kata puisi.

Berbeda pula dengan penampilan teater dari SMAN 1 Kuta Utara. Sebagai penampil ketiga, teater asal Badung ini menampilkan jenis teater gerak dan suara dalam kata-kata puisi, yang estetis, dinamis, ritmis, dan mistis.

Penampilan teater dari SMAN 1 Kuta Utara | Foto: Bud

Suasana adegan bukannya menampilkan properti benda-benda mati, tetapi diwujudkan oleh para pemain teater itu sendiri dalam bentuk laku-gerak. Perubahan suasana diwujudkan melalui gerak tari, pola lantai dan nyanyian-nyanyian, juga kata-kata.

Teater ini mengangkat judul “Bhuana” yang menggambarkan, bumi lahir dari ledakan dan panas, tetapi dalam prosesnya, ia juga melahirkan kehidupan. Manusia lahir dari rahim Bumi, merangkak di tanah, belajar berjalan, lalu mulai memahami dunia di sekitar mereka.

Alam mengajari mereka mendengar, membaca arus, dan menghitung waktu, sehingga dari bahasa alam itu mereka menciptakan aksara menuliskan pemahaman mereka tentang dunia, merangkai ilmu pengetahuan, dan membangun peradaban.

Dewan juri Mas Ruscitadewi mengatakan, Lomba Modern Berbahasa Bali pada bagian kedua yang menampilkan lima peserta ini, seperti sebuah perayaan Drama Modern Bali. Sebab, berbagai jenis drama modern tampil secara maksimal, dengan kekuatan aktor, tata artistik, seperti musik atau suara, tata panggung dan busana.

Menurut Mas Ruscitadewi, tehnik penyutradaraan dalam membawakan karya sastra atau naskah yang bertema alam, semua tampil sukses dalam pemanggungannya, menampilkan tontonan yang menarik, juga bersifat tuntunan.

Penampilan teater pertama membawakan naskah yang berkarakter magis tragedi, melibatkan banyak pemain,  dengan dialog-dialog yang tumpah tindih antar pemain, sehingga terkesan kacau, kurang dan fokus, juga dalam pengadengannya.

Penampil teater kedua yang juga melibatkan banyak pemain tampil lebih artistik, dengan menguatan fokus-fokus adegan, ada kejutan-kejutan yang tak biasa menguatkan penampilannya. Sayang penutupnya masih terkesan biasa.

Penampil teater ketiga menampilkan jenis teater gerak dan suara dalam kata-kata puisi, yang estetis, dinamis, ritmis, dan mistis. Mengangkat tema dunia,  jenis teater yang diambil menjadikan alur pertunjukan relatif datar, pergantian adegan seperti terpotong-potong.

Penampil teater keempat, membawakan cerita bertema sawah, yang melibatkan banyak pemain yang dipentaskan secara apik dan estetik, pertunjukan drama ini pada dominan dengan tari, lagu dan musik yang memukau. Sayang ceritanya kurang kuat.

Penampil teater kelima yang juga membawakan cerita bertema sawah, mengangkat drama jenis realis dengan dialog-dialog realis yang ditampilkan di atas panggung besar. Sehingga terkesan lambat dan kedodoran.

“Jujur, lomba bagian kedua ini beda dengan lomba di bagian pertama. Kali ini, terasa seperti perayaan Drama Modern Bali karena berbagai jenis drama modern tampil secara maksimal, dengan kekuatan aktor, tata artistik, seperti musik atau suara, tata panggung dan busana,” kata Mas Ruscitadewi.

Tehnik penyutradaraan dalam membawakan karya sastra atau naskah yang bertema alam. “Secara umum semua penampilan sukses dalam pemanggungannya, menampilkan tontonan yang menarik, juga bersifat tuntunan,” paparnya.

Penampilan teater dari SMAN 1 Kuta Utara | Foto: Bud

Penampilan grup teater ini sangat membanggakan bagi perkembangan teater berbahasa Bali di Bali. Semuanya memiliki keunggulan, sehingga masing-masing teater memiliki kelebihan yang menjadi ciri khas masing-masing. Meski semua tampil bagus-bagus, namun yang akan memenangkan lomba ini adalah yang paling kreatif.

“Teater yang tampil hari sekarang ini, sangat kuat-kuat. Kami selaku juri pasti akan sulit memberikan juara,” imbuh Mas Ruscitadewi yang juga seorang sastrawan.

Walau demikian, Mas Ruscitadewi menyayangkan teater yang tampil di hari pertama itu tidak menonton penampilan teater pada hari kedua. Demikian, pula teater yang terakhir tidak menonton pertunjukan teater sebelunnya. Padahal, proses belajar teater itu pada saat menonton pertunjukan teater itu.

“Terlihat sekali orang yang sering menonton itu akan jauh mengalami perubahan. Orang yang sudah melihat penampilan temannya itu akan tampil beda. Orang yang menutup diri, tidak akan mendapatkan pelajaran,” imbuhnya.

Memang ada peserta yang menyajikan konsep penyutradaraan yang sedikit lemah, tetapi ada pula yang melebihi para senior dalam konsep penyutradaraan. Cerita yang diangkat pun diolah sangat kreatif, dan acting mereka penih penjiwaan. Mereka, tidak hanya menyanyi dan suara, tetapi memadukan semua unsur teater itu.

“Ini menjadi semangat kita kedepan, ada yang bisa menyentuh, dan semoga ini bisa diwariskan kepada adik-adiknya. Sevavm teater ini bagus sekali dipakai untuk memahani diri,” sebutnya.

Teater Jineng Smasta | Foto: Bud

Hal senada dikatakan dewan juri lainnya, Wayan Sugita. Ia mengakui penampilan para peserta lomba setingkat SMA dan SMK ini betul-betul memukau. Mereka yang tampil, seakan memahami apa itu teaeter. Hanya saja, mereka terkadang lemah dalam menyikapi tema dari lomba drama itu.

Dalam sebuah pertunjukan drama, menurutnya, tema menjadi sangat penting untuk menyampaikan isi dari pada garapan itu.

Misalnya mengtupas tema “Jagat Kerti – Jagra Hitha Samasta” kali ini, hampir sebagai besar mengangkat dunia persawahan.

“Terkadang sutradara itu lupa menyambungkan bagaimana pemuliaan bahasa, akrasa dan sastra itu. Itu menjadi kelemahannya yang tidak menyambung. Kalau masalah kemampuan, itu luar biasa kreatifnya,” kata seniman yang biasa memerankan Patih Agung ini. [T]

Reporter/Penulis: Budarsana
Editor: Adnyana Ole

Tema Kekinian dalam Drama Modern Berbahasa Bali, Dari Demokrasi Hingga Tanah yang Dijual
Kisah “Watugunung Runtuh” Mencair di Tangan Kokar Bali pada Pembukaan Bulan Bahasa Bali VII
Kebebasan Ekspresi dalam Lintas Semester dan Mata Kuliah | Dari Gelar Karya Mahasiswa Pendidikan Sendratasik UPMI Bali
Tags: Bahasa BaliBulan Bahasa Balidrama modern
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Berbahasa Bali dengan Cara Berpikir Bahasa Indonesia: Arah Perubahan atau Kepunahan?

Next Post

Mencari Titik Terang di Goa Peteng, Gumi Delod Ceking   

Nyoman Budarsana

Nyoman Budarsana

Editor/wartawan tatkala.co

Related Posts

Angker Pancer Joged Pingitan, Upaya Menghidupkan Kembali Warisan Sakral Singapadu

by Nyoman Budarsana
August 2, 2026
0
Angker Pancer Joged Pingitan, Upaya Menghidupkan Kembali Warisan Sakral Singapadu

MALAM merayap pelan di Tempekan Selat, Banjar Apuan, Desa Singapadu, Kecamatan Sukawati, Kabupaten Gianyar. Di catus pata yang biasanya menjadi...

Read moreDetails

Tiga Belas Penulis Muda Mempresentasikan Karya di Singaraja Literary Festival ——Dari Sesi Presentasi dan Diskusi Karya Emerging Writers MTN Lab x SLF 2026

by Dede Putra Wiguna
August 1, 2026
0
Tiga Belas Penulis Muda Mempresentasikan Karya di Singaraja Literary Festival ——Dari Sesi Presentasi dan Diskusi Karya Emerging Writers MTN Lab x SLF 2026

PADA hari ketiga Singaraja Literary Festival (SLF) 2026, Minggu, 5 Juli 2026, di Kawasan Museum Buleleng, tiga belas penulis muda...

Read moreDetails

Menyingkap Hak Atas Tubuh dalam Novel “Korpus Uterus” karya Sasti Gotama di Singaraja Literary Festival 2026

by Dede Putra Wiguna
August 1, 2026
0
Menyingkap Hak Atas Tubuh dalam Novel “Korpus Uterus” karya Sasti Gotama di Singaraja Literary Festival 2026

 “Perempuan punya hak atas tubuhnya sendiri!” Kalimat itu meluncur tegas dari Sasti Gotama saat membahas novel Korpus Uterus di Singaraja...

Read moreDetails

Membincangkan Makna Pulang dalam Novel “Rumah” Karya J.S. Khairen di Singaraja Literary Festival 2026

by Dede Putra Wiguna
July 31, 2026
0
Membincangkan Makna Pulang dalam Novel “Rumah” Karya J.S. Khairen di Singaraja Literary Festival 2026

 “Rumah itu sebenarnya apa?” Pertanyaan itu terus mengemuka sepanjang diskusi buku Rumah karya J.S. Khairen pada hari ketiga Singaraja Literary...

Read moreDetails

13 Tahun Bersetia Dengan Jazz  ——Cerita Menjelang Sthala Ubud Village Jazz Festival 2026

by Wahyu Mahaputra
July 30, 2026
0
13 Tahun Bersetia Dengan Jazz  ——Cerita Menjelang Sthala Ubud Village Jazz Festival 2026

Di tengah menjamurnya festival musik yang kian mengaburkan batas antar-genre demi menjangkau pasar yang lebih luas, Sthala Ubud Village Jazz...

Read moreDetails

“Yang Hilang Yang Terus Berjuang”, Pertunjukan 30 Tahun Kudatuli di Singaraja

by Yahya Umar
July 28, 2026
0
“Yang Hilang Yang Terus Berjuang”, Pertunjukan 30 Tahun Kudatuli di Singaraja

jika rakyat pergiketika penguasa pidatokita harus hati-hatibarangkali mereka putus asa kalau rakyat sembunyidan berbisik-bisikketika membicarakan masalahnya sendiripenguasa harus waspada dan...

Read moreDetails

‘Tak Sepatah Kata’: Ketika 100 Tahun Puisi Indonesia di Bali Menjelma Menjadi Sebuah Pertunjukan

by Dede Putra Wiguna
July 25, 2026
0
‘Tak Sepatah Kata’: Ketika 100 Tahun Puisi Indonesia di Bali Menjelma Menjadi Sebuah Pertunjukan

RUANGAN Gedung Ksirarnawa mendadak sunyi. Lampu panggung meredup, hanya menyisakan seberkas cahaya yang jatuh pada seorang lelaki yang duduk di...

Read moreDetails

“Katarsis Jiwa Kelam”: Ketika Geguritan ‘Bagus Diarsa’ Menjelma Drama Musikal Kontemporer di Festival Seni Bali Jani 2026

by Dede Putra Wiguna
July 25, 2026
0
“Katarsis Jiwa Kelam”: Ketika Geguritan ‘Bagus Diarsa’ Menjelma Drama Musikal Kontemporer di Festival Seni Bali Jani 2026

KETIKA Bagus Diarsa tampak sibuk menatap layar telepon genggamnya, di sampingnya berdiri sosok berwajah penuh riasan, berbusana merah menyala. Dialah...

Read moreDetails

Siap-siap ke Lovina Festival 2026

by Komang Puja Savitri
July 24, 2026
0
Siap-siap ke Lovina Festival 2026

"Hari ini kesiapan sudah seratus persen," ucap Bupati Buleleng I Nyoman Sutjidra membuka jumpa pers di Spice Dive Beach Club,...

Read moreDetails

Bunyi Mata Ugra, Harmoni Tradisi dan Spiritualitas di Panggung Festival Seni Bali Jani VIII 2026

by Nyoman Budarsana
July 23, 2026
0
Bunyi Mata Ugra, Harmoni Tradisi dan Spiritualitas di Panggung Festival Seni Bali Jani VIII 2026

PERTIKAIAN dan peperangan kerap melahirkan penderitaan, kebencian, dendam, serta luka yang membekas dalam jiwa. Namun, di balik kehancuran itu selalu...

Read moreDetails
Next Post
Mencari Titik Terang di Goa Peteng, Gumi Delod Ceking   

Mencari Titik Terang di Goa Peteng, Gumi Delod Ceking   

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran
Tualang

Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran

SEBAGAIMANA Pura Ulun Swi pada umumnya, Pura Ulun Swi Jimbaran adalah Pura Subak dengan status Pura Kahyangan Jagat. Terkesan unik...

by I Nyoman Tingkat
August 2, 2026
Mantra Visual Made Wiradana
Ulas Rupa

Mantra Visual Made Wiradana

PADA tulisan kali ini, saya ingin "menekuni" karya Made Wiradana yang baru saja dipamerkan di Griya Santrian, Sanur, beberapa waktu...

by Hartanto
August 2, 2026
Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village
Ulas Musik

Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village

“Naik-naik ke puncak gunung, tinggi-tinggi sekali.” JIKA pembaca mendaki tangga lagu di platform musik, nihil kita temui musik folk di...

by Mahesa Putra
August 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Saat Lidah Kelu Bicara Cinta, Maka Lahirlah Lagu

"Mengapa sebagian perasaan memilih menjadi musik?" Ada seseorang yang berjam-jam memandangi layar kosong. Ia mampu berbicara kepada banyak orang, tetapi...

by Tri Nugroho Adi
August 2, 2026
Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang
Esai

Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang

CALONARANG merupakan kisah terkenal yang berasal dari wilayah Jawa Timur. Produk yang lahir pada zaman Jawa Kuno ini tersedia dalam...

by IGP Weda Adi Wangsa
August 2, 2026
Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang
Esai

Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang

PAGI belum benar-benar terang ketika seorang perempuan keluar dari pekarangan rumahnya di Denpasar. Di tangannya tergenggam sebuah canang sari, yakni...

by Angga Wijaya
August 2, 2026
Angker Pancer Joged Pingitan, Upaya Menghidupkan Kembali Warisan Sakral Singapadu
Panggung

Angker Pancer Joged Pingitan, Upaya Menghidupkan Kembali Warisan Sakral Singapadu

MALAM merayap pelan di Tempekan Selat, Banjar Apuan, Desa Singapadu, Kecamatan Sukawati, Kabupaten Gianyar. Di catus pata yang biasanya menjadi...

by Nyoman Budarsana
August 2, 2026
Tuhan Yang Maha Puisi
Ulas Buku

Tuhan Yang Maha Puisi

The Ingredients of Easter: Three nails, Two pieces of wood, a crown of thorns, a fair share of lashing, and...

by Heski Dewabrata
August 1, 2026
Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal
Esai

Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal

"Kalau dunia merayakan Hari Kasih Sayang dengan setangkai mawar, Bali telah merayakannya sejak berabad-abad lalu dengan doa, gamelan, dan ketulusan...

by I Wayan Yudana
August 1, 2026
Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya
Esai

Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya

"Sebuah peradaban tidak runtuh karena kekurangan orang pintar. Peradaban runtuh ketika orang-orang pintarnya memilih diam. Ketika ilmu kehilangan keberanian, kekuasaan...

by Agung Sudarsa
August 1, 2026
Scared of Bums Rilis “Berlari”, Soundtrack Enerjik untuk “Pelari Kalcer”
Hiburan

Scared of Bums Rilis “Berlari”, Soundtrack Enerjik untuk “Pelari Kalcer”

ADA masa ketika identitas musik punk begitu lekat dengan citra hidup yang berantakan. Rokok, begadang, alkohol, dan semangat melawan apa...

by Dede Putra Wiguna
August 1, 2026
Tiga Belas Penulis Muda Mempresentasikan Karya di Singaraja Literary Festival ——Dari Sesi Presentasi dan Diskusi Karya Emerging Writers MTN Lab x SLF 2026
Panggung

Tiga Belas Penulis Muda Mempresentasikan Karya di Singaraja Literary Festival ——Dari Sesi Presentasi dan Diskusi Karya Emerging Writers MTN Lab x SLF 2026

PADA hari ketiga Singaraja Literary Festival (SLF) 2026, Minggu, 5 Juli 2026, di Kawasan Museum Buleleng, tiga belas penulis muda...

by Dede Putra Wiguna
August 1, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co