29 April 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Kisah “Watugunung Runtuh” Mencair di Tangan Kokar Bali pada Pembukaan Bulan Bahasa Bali VII

Nyoman Budarsana by Nyoman Budarsana
February 2, 2025
in Panggung
Kisah “Watugunung Runtuh” Mencair di Tangan Kokar Bali pada Pembukaan Bulan Bahasa Bali VII

Fragmentari “Sewaka Kurma Raja” dari Kokar Bali pada pembukaan Bulan Bahasa Bali VII di Taman Busaya Bali | Foto: tatkala.co/Bud

KISAH tentang Watugunung berperang dengan Dewa Wisnu—yang kisahnya kemudian dikenal dengan kisah Watugunung Runtuh—memang kerap diangkat ke atas panggung dalam bentuk seni pertunjukan, sehingga kisah itu termasuk akrab di telinga orang Bali. Namun, justru karena kisahnya cukup lumrah itulah maka seniman panggung selalu punya tantangan untuk menemukan metode pemanggungan yang selalu baru, agar kisah kisah itu juga selalu terasa baru.  

Sanggar Kokar Bali, SMKN 3 Sukawati Gianyar, sepertinya juga mencari-cari hal baru ketika kisah itu dipanggungkan sebagai fragmentari dalam pembukaan Bulan Bahasa Bali (BBB) ke-7, di Gedung Ksirarnawa, Taman Budaya Bali, Sabtu, 1 Februari 2025.  

Fragmentari dengan kisah Watugung versus Dewa Wisnu ini, oleh Sanggar Kokar Bali, diberi tajuk “Sewaka Kurma Raja”. Sesolahan (pertunjukan) itu cukup menarik dan mendapat sambutan meriah dari penonton.  

Meski disebut fragmentari, sesungguhnya sesolahan “Sewaka Kurma Raja” itu tidaklah murni sebagai fragmentari yang dikenal secara umum dalam dunia seni pertunjukan di Bali. Di dalamnya tentu saja ada tarian, tapi juga ada unsur-unsur teater, atau pendramaan yang terbebaskan dari unsur tarian.  

Sasolahan yang didukung sebanyak 35 penari, 30 penabuh dan 3 gerong (penyanyi), ini juga menampilkan 2 dalang. Seorang dalang pertama menceritakan garapan fragmentari itu sendirti, kemudian seorang dalang lagi berteater yang bercerita tentang cerita yang disajikan dalam fragmentari itu.

Cerita Berbingkai

“Konsep garapan ini adalah cerita berbingkai,” Dewa Putu Selamet Raharja yang menjadi penggarap tari dalam pementasan itu.

Garapan itu diawali dengan penampilan anak-anak dengan seorang lelingsir (kakek) di suatu tempat. Lelingsir itu mengajak cucu-cucunya mesanti (matembang), tetapi saat menuju suatu tempat, banyak anak-anak yang megamel dengan tidak pada tempatnya. Artinya, mereka kurang etika. Ada yang memainkan gamelan sambil berdiri, membelakangi gamelan bahkan melangkahi gamelan.

Fragmentari “Sewaka Kurma Raja” dari Kokar Bali pada pembukaan Bulan Bahasa Bali VII di Taman Budaya Bali | Foto: tatkala.co/Bud

Ada pula yang memanfaatkan kesempatan itu untuk berpacaran, sehingga lelingir memberikan wejangan dengan memberikan satua (cerita) tentang Watugunung yang mengawini ibunya.

Para dewa di surga tidak menjadi tenang karena di bumi ada manusia yang menikahi ibunya sendiri.

Lelingsir itu mengisahkan, di daerah Himalaya, bumi yang subur, rakyatnya makmur itu berkat dipimpin oleh seorang raja yang bernama Watugunung. Ia memiliki istri, akni Dewi Sintakasih. Suatu kali Dewi Sintakasih menyadari bahwa Watugunung adalah anaknya sendiri ang waktu kecil pergi.

Sudah jelas-jelas ini adalah hubungan yang terlarang, lalu Dewi Sintakasih meminta Watugunung bersedia menikahi istri Dewa Wisnu. Mendengar hal itu Watugunung lalu mengutus Sang Waregadean untuk membawa surat lamaran ke Wisnu Loka, tempat tinggal Dewa Wisnu.

Dalam adegan inilah kemudian terjadi perubahan bentuk pemanggungan. Lelingsir yang tadinya berperan sebagai pencerita, kemudian mengambil peran sebagai Sang Waregadean. Tokoh ini sangat lucu, dengan suara terbata-bata serta dengan busana yang beda. Ia yang memggunakan bahasa Bali lumrah, berhasil membuat penonon tertawa. Penari widiadara dan widiadari serta Dewa Wisnu seakan ditotok diam. Sementara Sang Waregadean yang diperankan oleh lelingsir itu yang menguasai panggung untuk menari.

Ketika Sang Waregadean mengilang, para penari kembali menari. Dewa Wisnu sangat marah dan merobek surat yang dibawa oleh Waregadean itu. Dewa Wisnu menyuruh Waregadean untuk pulang ke bumi dan mengatakan kepada Watugunung untuk berperang melawan Dewa Wisnu.

Perang pun tak terelakan lagi antara Watugunung dan Dewa Wisnu, namun Watugunung sangat Sakti tidak bisa dikalahkan, Dewa Wisnu sangat sedih dan menangis tidak bisa mengalahkan Watugunung. Dalam situasi yang kritis dalanglah Begawan Wrespati dan mengutus Bagawan Lumanglang turun ke bumi untuk mengintai kelemahan Watugunung.

Fragmentari “Sewaka Kurma Raja” dari Kokar Bali pada pembukaan Bulan Bahasa Bali VII di Taman Budaya Bali | Foto: tatkala.co/Bud

Pada adegan ini, lelingsir itu kembali mendapat tugas, yaitu memerankan Bagawan Lumanglang untuk mengintai kelemahan Watugunung. Sebelum berangkat, lelingsir itu dirias seperti kuwa-kuwa (laba-laba). Lelingsir itu juga diajar cara berjalan, sehingga mirip dengan kuwa-kuwa. Lelingsir itu kemudian mulai mengintai dengan masuk ke puri.

Saat Watugunung bercengkrama dengan istrinya tentang kenapa sulit untuk dikalahkan oleh Dewa Wisnu. Watugunung menyampaikan rahasia atau kelemahannya kalau berhadapan dengan kurma berkuku tajam. Hal itu didengar oleh Begawan Lumanglang yang sedang menjadi laba-laba lalu segera disampaikan kepada Dewa Wisnu. Mendengar hal itu Dewa Wisnu menjelma menjadi Kurma Raja dan mampu mengalahkan Watugunung. Jasad Watu Gunung jatuh ke bumi disebut Watu Gunung Runtuh.

Kemudian lelingsir bersama cucu-cucunya kemudian melanjutkan kegiatan mesanti.

Menyimak sesolahan itu, pada awal dan akhir itu merupakan garapan teater, sementara di tengah-tengahnya itu kisah dari fragmentari itu.

“Diawal diberikan cerita dari panitia untuk sebuah garapan fragmentari, namun atas berbagai pertimnbvangan tim, maka mengembangkan dengan seni teater, sehingga terwujud seperti teater tari,” kata Slamet Raharja.

Menurut Dewa Slamet, kendala penggarapan tidak begitu banyak, tetapi masalah waktu karena banyak kesibukan siswa dan guru dalam mengurus pembelajaran di sekolah.

“Namun, kami tetap bersemangbat untuk menyukseskan BBB ini, sehingga rasa bersyukur garapan seni ini bisa terwujud,” katanya.

Pembukaan BBB yang Meriah

Pementasan fragmentari dari Sanggar Kokar Bali itu adalah pamungkas dari seluruh rangkaian acara pembukaan Bulan Bahasa Bali (BBB) VI Tahun 2025 oleh Penjabat (Pj) Gubernur Bali Sang Made Mahendra Jaya.

Acara pembukaan itu sendiri dikemas dengan sajian seni yang atraktif, empat penari pria memainkan pajeng (payung besar), dan empat penari wanita menarikan property mirip bunga teratai raksasa yang bisa mekar dan kuncup.   

Satu orang penari laki-laki berbadan besar berperan sebagai Bedawang Nala, seekor penyu raksasa dalam mitologi Bali yang membawa seluruh dunia di punggungnya. Para penari itu bergerak dengan koreografi apik. Pada tengah lagu, seorang penari berbusana raja membawa globe, lambang bumi lalu diserahkan kepada Pj. Gubernur dan ditaruh di kepala bedawang nala. Acara kemudian berlanjut pada sesolahan Pragmentari Sewaka Kurma Raja.

Pembukaan Bulan Bahasa Bali VII | Foto: tatkala.co/Bud

Pj Gubernur menjelaskan, festival sebulan penuh merupakan bentuk komitmen Pemerintah Provinsi (Pemprov) Bali dalam menjaga dan memajukan bahasa, aksara, dan sastra Bali.

BBB wujud implementasi Peraturan Daerah Provinsi Bali Nomor 1 Tahun 2018 tentang Bahasa, Aksara, dan Sastra Bali dan Peraturan Gubernur Bali Nomor 80 Tahun 2018 tentang Perlindungan dan Penggunaan Bahasa, Aksara, dan Sastra Bali serta Penyelenggaraan BBB.

Nilai-nilai luhur orang Bali termuat dalam lontar-lontar yang menggunakan bahasa Bali. Nilai-nilai dalam bahasa Bali telah menjadi inspirasi masyarakat dunia. Selain digunakan sebagai alat komunikasi, bahasa Bali sarat nilai-nilai universal. “Saya, mengajak masyarakat Bali ikut melestarikan penggunaan bahasa Bali sebagai warisan leluhur orang Bali,” ajaknya.

Penggunaan bahasa Bali dimulai dari lingkup keluarga, sekolah, tempat kerja, dan wajib dilakukan pada acara-acara adat di Bali. BBB ke-7 ini mengangkat tema ‘Jagat Kerthi – Jagra Hita Samasta’, bermakna Bulan Bahasa Bali menjadi altar pemuliaan bahasa, aksara, dan sastra Bali sebagai sumber kesadaran menuju harmoni semesta raya.

Perhelatan BBB terus berinovasi agar selaras dengan perkembangan zaman. BBB VII Tahun 2025 dipolakan menggunakan terobosan inovatif dengan pengaplikasian Ekosistem Kerangka Statistik Budaya (KSB) dengan menata BBB melalui kelima standar Ekosistem KSB di atas, maka BBB akan menjadi lebih hidup dan dinamis.

Seluruh masyarakat Bali ikut memeriahkan BBB ke-7, tak hanya pemerintah tetapi juga di desa adat, desa dinas, lembaga pendidikan, hingga swasta. “Bulan Bahasa Bali menjadi wahana membumikan bahasa Bali sehingga hidup dalam jiwa setiap orang Bali.Mari lestarikan bahasa, aksara, dan sastra Bali untuk menggapai dunia,” kata Pj Gubernur.

Pembukaan Bulan Bahasa Bali VII | Foto: tatkala.co/Bud

Kepala Dinas Kebudayaan Bali Prof. Dr. I Gede Arya Sugiartha melaporkan, BBB bertujuan untuk mengajak para yowana Bali mengenal nilai-nilai luhur para tetua Bali. Nilai-nilai itu menjadi modal besar menghadapi tantangan dunia saat ini. “BBB ke-7 dikemas lebih kekinian dibanding penyelenggaraan sebelumnya. Digarap dengan ekosistem yang konseptual, dinamis, dan kreatif guna menarik perhatian kalangan muda Bali,” ujarnya.

Ajang  BBB VII menyajikan Utsawa (Festival), Wimbakara (Lomba), Sasolahan (Panggung Apreasiasi Sastra), Widyatula (Seminar), Kriyaloka (Workshop), Rekaaksara (Pameran), dan Bali Kerthi Nugraha Mahottama. “Untuk acara lomba akan melibatkan penggunaan platform digital seperti media sosial. Pemanfaatan teknologi yang dekat dengan generasi muda saat ini, diharapkan lebih mendekatkan anak muda dengan konten bahasa Bali.

Terobosan lain dilakukan yakni melalui produk-produk Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) yang dijual di stan-stan BBB. Produk kuliner akan menggunakan kemasan yang mengandung aksara, sastra, dan bahasa Bali. “Aksara Bali juga akan dijumpai pada produk-produk fashion yang dijual,” ucap mantan Rektor Institut Seni Indonesia (ISI) Denpasar ini. [T]

Reporter/Penulis: Budarsana
Editor: Adnyana Ole

Gede Candra Gupta, Andalkan Logat Buleleng, Juara Lomba Bebanyolan di Bulan Bahasa Bali 2024
“Hidup Baik Untuk Belajar Mati” | Pesan Wayang Cenk-Blonk di Bulan Bahasa Bali
Sandya Gita Smaradahana, Sesolahan KOKAR Bali pada Pembukaan Bulan Bahasa Bali 2024
Tags: Bulan Bahasa Balikesenian baliKokar Baliseni pertunjukanSMKN 3 Sukawati
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Tirtayatra Toska Se-Delod Ceking  :  Pura Gunung Payung

Next Post

Kuliner sebagai Ikon Wisata: Ya Makan, Ya Wisata

Nyoman Budarsana

Nyoman Budarsana

Editor/wartawan tatkala.co

Related Posts

Diseminasi dan Penayangan Perdana Film Dokumenter “Dibia – Hanuman Hitam”: Menelusuri Laku Kesenian Bali melalui Sosok Maestro

by Dede Putra Wiguna
April 29, 2026
0
Diseminasi dan Penayangan Perdana Film Dokumenter “Dibia – Hanuman Hitam”: Menelusuri Laku Kesenian Bali melalui Sosok Maestro

CINEPOLIS Plaza Renon menjadi titik temu antara ingatan, penghormatan, dan refleksi. Di sanalah BALIDOC menggelar diseminasi sekaligus penayangan perdana film...

Read moreDetails

Peringatan Hari Tari Sedunia di UPMI: Lomba Tari Bali Jadi Ruang Menjaga Tradisi dan Menggerakkan Generasi

by Dede Putra Wiguna
April 27, 2026
0
Peringatan Hari Tari Sedunia di UPMI: Lomba Tari Bali Jadi Ruang Menjaga Tradisi dan Menggerakkan Generasi

LOMBA Tari Bali yang digelar pada 25–26 April 2026 di Auditorium Redha Gunawan, Universitas PGRI Mahadewa Indonesia (UPMI Bali), menjadi...

Read moreDetails

Stan Kreatif dan Gelar Karya Jadi Cara Siswa SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar Memaknai Hari Kartini

by Dede Putra Wiguna
April 22, 2026
0
Stan Kreatif dan Gelar Karya Jadi Cara Siswa SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar Memaknai Hari Kartini

GERIMIS turun tipis di halaman SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam) pada Senin pagi, 21 April 2026. Langit tampak mendung,...

Read moreDetails

Ketika Musik, Lukisan, dan Kesadaran Bertemu dalam Nyanyian Dharma

by Pranita Dewi
April 20, 2026
0
Ketika Musik, Lukisan, dan Kesadaran Bertemu dalam Nyanyian Dharma

Pertunjukan Nyanyian Dharma digelar di Ruang Taksu, Gedung Dharma Negara Alaya (DNA), Denpasar, Minggu (19/4) malam, menampilkan kolaborasi musik dengan...

Read moreDetails

‘Wellnes Conference’ di Bali Spirit Festival: Preventif Ciri ‘Wellness Tourism’, Kuratif Tujuan ‘Medical Tourism’

by I Nyoman Darma Putra
April 19, 2026
0
‘Wellnes Conference’ di Bali Spirit Festival: Preventif Ciri ‘Wellness Tourism’, Kuratif Tujuan ‘Medical Tourism’

Perbedaan antara wellness tourism dengan medical tourism menjadi salah satu pertanyaan dalam dalam Wellness Conference (Wellness Talk Show), Kamis, 16 April 2026, di Pelataran Hotel, Ubud....

Read moreDetails

Eksplorasi Material dan Gerak, Serangkai Inovasi Komunitas Wayang Ental di Festival Wayang Bali Utara 2026

by Komang Puja Savitri
April 14, 2026
0
Eksplorasi Material dan Gerak, Serangkai Inovasi Komunitas Wayang Ental di Festival Wayang Bali Utara 2026

SEJAK awal, ada rasa penasaran yang menggantung di antara penonton yang duduk lesehan di wantilan Museum Soenda Ketjil. Wayang, dalam...

Read moreDetails

Membaca Buleleng dalam Museum Soenda Ketjil —Catatan Kecil dari Festival Wayang Bali Utara 2026

by Son Lomri
April 12, 2026
0
Membaca Buleleng dalam Museum Soenda Ketjil —Catatan Kecil dari Festival Wayang Bali Utara 2026

MALAM itu, Kamis, 9 April 2026, ada pertunjukan wayang kulit serangkaian Festival Wayang Bali Utara (FWB) di Wantilan Pelabuhan Tua...

Read moreDetails

Museum Soenda Ketjil: Kebanggaan Budaya atau Sekadar Ketakutan Akan Kehilangan?

by I Nengah Juliawan
April 11, 2026
0
Museum Soenda Ketjil: Kebanggaan Budaya atau Sekadar Ketakutan Akan Kehilangan?

MUSEUM Soenda Ketjil di Singaraja tidak hanya menjadi ruang sunyi yang menyimpan masa lalu, melainkan juga ruang publik yang terus...

Read moreDetails

Tradisi yang Mulai Bernegosiasi dengan Zaman —Dari Pentas Wayang Bungkulan di Festival Wayang Bali Utara 2026

by Komang Puja Savitri
April 11, 2026
0
Tradisi yang Mulai Bernegosiasi dengan Zaman —Dari Pentas Wayang Bungkulan di Festival Wayang Bali Utara 2026

WAYANG sebagai produk masa lalu yang kini diratapi, ditangisi oleh orang-orang karena hampir hilang di tengah hiburan dunia digital. Pertunjukan...

Read moreDetails

Ubud Artisan Market dalam Kehangatan Paskah, Rayakan Kreativitas, Komunitas, dan Akhir Pekan di Ubud

by tatkala
April 5, 2026
0
Ubud Artisan Market dalam Kehangatan Paskah, Rayakan Kreativitas, Komunitas, dan Akhir Pekan di Ubud

Yayasan Mudra Swari Saraswati dengan bangga kembali menghadirkan Ubud Artisan Market (UAM), curated market yang merayakan kreativitas, komunitas, dan kerajinan...

Read moreDetails
Next Post
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

Kuliner sebagai Ikon Wisata: Ya Makan, Ya Wisata

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Karena Tak Sabaran, Tika Pagraky Luncurkan Tiga Lagu Sekaligus dan Buka Cerita di Balik “Bli Made”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • AJARAN LELUHUR BALI TENTANG MEMILAH SAMPAH

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Resistensi Penutur: antara “Mempunyai” dan “Memunyai” dalam Bahasa Indonesia
Bahasa

Resistensi Penutur: antara “Mempunyai” dan “Memunyai” dalam Bahasa Indonesia

BARU-BARU ini, dalam perhelatan Seminar Nasional Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia (Sandibasa) IV, Universitas PGRI Mahadewa Indonesia, saya mempresentasikan sebuah makalah...

by I Made Sudiana
April 29, 2026
Sambeng Agung, Perang Hama dari Canggu di Pesta Kesenian Bali 2025
Budaya

Pesta Kesenian Bali 2026 Angkat Isu-isu Sosial Aktual Lewat Panggung dan Seminar Seni

Pesona Pesta Kesenian Bali (PKB) masih memukau, dinamis dan relevan. Buktinya, pesta seni milik masyarakat Bali ini berhasil mempertahankan tradisi,...

by Nyoman Budarsana
April 29, 2026
Rahasia Daya Tarik yang Tidak Bisa Dibeli atau Dipoles
Esai

Rahasia Daya Tarik yang Tidak Bisa Dibeli atau Dipoles

DI tengah dunia yang begitu bising oleh standar dan penilaian, banyak orang tumbuh dengan keyakinan bahwa daya tarik ditentukan oleh...

by T.H. Hari Sucahyo
April 29, 2026
“Sing Nyidang Ngomong”, Saat Mr. Rayen Bicara tentang Luka Rumah Tangga dari Sudut Pandang Anak
Pop

“Sing Nyidang Ngomong”, Saat Mr. Rayen Bicara tentang Luka Rumah Tangga dari Sudut Pandang Anak

PADA banyak lagu tentang perselingkuhan, yang kita dengar biasanya hanya dua suara, mereka yang terlibat, mereka yang saling menyakiti. Jarang...

by Angga Wijaya
April 29, 2026
Diseminasi dan Penayangan Perdana Film Dokumenter “Dibia – Hanuman Hitam”: Menelusuri Laku Kesenian Bali melalui Sosok Maestro
Panggung

Diseminasi dan Penayangan Perdana Film Dokumenter “Dibia – Hanuman Hitam”: Menelusuri Laku Kesenian Bali melalui Sosok Maestro

CINEPOLIS Plaza Renon menjadi titik temu antara ingatan, penghormatan, dan refleksi. Di sanalah BALIDOC menggelar diseminasi sekaligus penayangan perdana film...

by Dede Putra Wiguna
April 29, 2026
Merayakan Rilisan dan Memutar Nostalgia di Record Store Day Market Bali 2026
Khas

Merayakan Rilisan dan Memutar Nostalgia di Record Store Day Market Bali 2026

SUASANA di Main Atrium, Living World Denpasar tak seperti biasanya. Kala itu, nuansa nostalgia terasa begitu kuat saat Record Store...

by Dede Putra Wiguna
April 28, 2026
Annam Brahman: Makanan adalah Tuhan
Esai

Annam Brahman: Makanan adalah Tuhan

Dari Dapur Menuju Kesadaran Ungkapan Annam Brahman dari Taittiriya Upanishad sering terdengar sederhana, bahkan terasa “terlalu duniawi” untuk ukuran nilai-nilai...

by Agung Sudarsa
April 28, 2026
Buku Terbit, Lalu Terlalu Banyak Selebrasi
Esai

Buku Terbit, Lalu Terlalu Banyak Selebrasi

BUKU terus lahir, hampir setiap waktu. Dari penulis lama, penulis baru; dari yang sudah punya nama, sampai yang masih mencari...

by Angga Wijaya
April 28, 2026
Sensasi dan Kejutan Seba Baduy 2026 sebagai Diplomasi Budaya
Esai

Sensasi dan Kejutan Seba Baduy 2026 sebagai Diplomasi Budaya

TAK dapat dipungkiri lagi bahwa Seba Baduy bukan lagi dimaknai hanya sebagai acara ritual sakral semata, tapi sudah melebihi dari...

by Asep Kurnia
April 27, 2026
Bersua dengan Tristiana Dewi: Ibu Rumah Tangga, Pengelola Dua Sanggar, dan Pengajar Ekstrakurikuler Tari Bali
Persona

Bersua dengan Tristiana Dewi: Ibu Rumah Tangga, Pengelola Dua Sanggar, dan Pengajar Ekstrakurikuler Tari Bali

DI sela waktu istirahat Lomba Tari Bali di UPMI Bali, Sabtu (25/4), sosok Putu Dian Tristiana Dewi berdiri mendampingi anak...

by Dede Putra Wiguna
April 27, 2026
Peringatan Hari Tari Sedunia di UPMI: Lomba Tari Bali Jadi Ruang Menjaga Tradisi dan Menggerakkan Generasi
Panggung

Peringatan Hari Tari Sedunia di UPMI: Lomba Tari Bali Jadi Ruang Menjaga Tradisi dan Menggerakkan Generasi

LOMBA Tari Bali yang digelar pada 25–26 April 2026 di Auditorium Redha Gunawan, Universitas PGRI Mahadewa Indonesia (UPMI Bali), menjadi...

by Dede Putra Wiguna
April 27, 2026
Bulan Pemberdayaan Perempuan Melalui Pendidikan
Esai

Bulan Pemberdayaan Perempuan Melalui Pendidikan

DUNIA mengakui1 April adalah tanggal olok-olok. Orang boleh berbohong pada 1 April yang disebut dengan April Mop. Tidak demikian dengan...

by I Nyoman Tingkat
April 27, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co