13 July 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Berbahasa Bali dengan Cara Berpikir Bahasa Indonesia: Arah Perubahan atau Kepunahan?

Putu Eka Guna Yasa by Putu Eka Guna Yasa
February 16, 2025
in Bahasa
Berbahasa Bali dengan Cara Berpikir Bahasa Indonesia: Arah Perubahan atau Kepunahan?

Ilustrasi tatkala.co

Pesan di atas merupakan salah satu kenyataan penggunaan bahasa Bali mutakhir yang menarik diperhatikan. Konteksnya, seseorang yang menjadi narasumber dalam satu acara pembinaan terlambat datang. Oleh sebab itu, dia menginformasikan keterlambatannya kepada panitia. Pada bagian akhir percakapan, panitia yang mengharapkan kehadirannya menjawab dengan ungkapan: ditunggu kerauhannya ‘ditunggu kedatangannya’.

Berdasarakan kutipan chat di atas, kita tidak hanya melihat gejala campur kode antara bahasa Indonesia dalam kata ditunggu yang menyisip di antara percakapan bahasa Bali, tetapi juga kata yang diproduksi dengan cara berpikir bahasa Indonesia. Kata itu adalah kerauhannya. Kata ini diduga merupakan terjemahan langsung dari kata datang dalam bahasa Indonesiayang diterjemahkan menjadi rauh dalam bahasa Bali Alus. Lalu, untuk menyampakaian kedatangan, penutur menambahkan imbuhan ke- -an dalam bahasa Indonesia. Dari proses itu, terciptalah kata kerauhan yang ditambah lagi dengan enklitik –nya dengan harapan makna yang sejajar dengan kedatangannya.

Seorang penutur bahasa Bali aktif tentu bisa tersenyum membaca pesan itu. Sebab, kata kerauhan sendiri sesungguhnya memiliki makna khusus dalam budaya Bali, yaitu telah masuknya entitas makhluk halus (niskala) ke dalam tubuh seseorang sehingga menyebabkan dirinya kehilangan kesadaran. Dalam satu acara pembinaan, seorang pembina pasti diharapkan dapat mengontrol diri sehingga tidak disusupi makhluk halus sehingga kehilangan kesadaran. Dalam kondisi nirkesadaran, pembinaan tidak akan mungkin dilakukan.

Sebelum sampai pada kalimat yang disarankan, kita melihat fenomena di atas sebagai gejala yang jamak dalam penggunaan bahasa Bali Alus saat ini. Mari kita perhatikan bagian penutup surat di bawah ini.

Tentu sejak awal deretan penggunaan bentuk hormat  itu harus dihargai karena sikap positif penuturnya, termasuk rasa hormat yang ia ingin tunjukkan kepada mitra wicaranya. Akan tetapi, penggunaan bentuk ini menjadi kurang sesuai karena kata kedatangan dalam bahasa Indonesia bermakna n 1 hal datang; datangnya. Misalnya, kedatangan delegasi kita disambut dengan meriah; 2 cak telah didatangi (diserang, ditimpa, dan sebagainya): rumahnya kedatangan penjahat. Dalam bahasa Bali, kata yang bermakna perihal datang atau datangnya cukup diekspresikan dengan pangrauh ‘kedatangan, datangnya’. Awalan pa(N)- dalam bahasa Bali memang salah satu maknanya adalah berhubungan dengan perihal tertentu. Oleh sebab itu, ungkapan ditunggu kerauhannya salah satu alternatifnya dapat diganti dengan jantos tiang pangrauh druéné (bisa juga menyebut nama mitra wicara)‘saya tunggu kedatangan saudara’.

Fenomena serupa tidak hanya ditemukan dalam bentuk chat, tetapi juga dapat ditemukan dalam konten-konten media sosial. Salah satunya dapat dilihat pada postingan di bawah ini.

Kata ngabinayang di atas, diduga diterjemahkan dari kata beda yang dalam bahasa Bali Alus adalah bina. Selanjutnya, untuk membuat kata membedakan, penutur menambahkan imbuhan Nga- dan -ang/yang. Bertitik tolak dari proses inilah muncul kata ngabinayang. Padahal, pembentukan kata membedakan dalam bahasa Bali cukup dengan kata minayang. Kenapa? Karena untuk mengubah bentuk dasar bina sesungguhnya hanya diproses dari imbuhan N- dan -ang/yang sehingga bentuknya menjadi minayang dengan makna ‘membedakan’. Kalimat itu bisa menjadi minayang kruna-kruna mabasa Bali ‘membedakan kosakata bahasa Bali’.

Satu tambahan contoh lagi barangkali menarik kira cermati pada penggunaan kata di bawah ini.

Konten yang menarik banyak warganet di atas juga menunjukkan gejala yang tidak berbeda. Kata manados diasumsikan diterjemahkan dari kata bahasa Indonesia jadi yang dalam bahasa Bali bentuknya adalah dados. Kata itu lalu ditambahkan awalan ma- sehingga menjadi manados dengan harapan makna‘menjadi’. Padahal, dengan menggunakan kata dados saja maknanya sudah ‘menjadi’. Dengan demikian kalimat itu cukup ri kala iraga dados MC utawi ugrawakia ‘ketika kita menjadi pembawa acara”. Dalam konteks yang lain, khususnya karya sastra seperti geguritan penggunaan bentuk manados barangkali juga ditemukan. Hal ini semata-mata digunakan oleh pengarang untuk mematuhi aturan kepuitikan (padalingsa). Dengan demikian, berlaku lisensia puitika. Akan tetapi, dalam konteks penggunanaan tuturan biasa, sesungguhnya penggunaan kata dados sudah bermakna ‘menjadi’. Adakah fakta yang lainnya lagi? Kita bisa lihat di bawah ini.

 

Postingan di salah satu akun instagram di atas juga menarik, terutama penggunaan kata ngajaga. Kata ini diduga diterjemahkan dari kata jaga dalam bahasa Indonesia yang bentuknya sama dengan jaga dalam bahasa Bali. Pembuat konten barangkali menduga bahwa untuk menyusun kata menjaga dalam bahasa Bali, awalan yang digunakan adalah Nga- sehingga menjadi ngajaga dengan makna yang dimaksud adalah menjaga. Padahal, dengan pembubuhan awalan N- dalam bahasa Bali, kata jaga sudah menjadi nyaga dengan makna ‘menjaga’. Dengan demikian, salah satu alternatif bahasa Bali untuk kalimat akhir postingan tersebut adalah tur prasida nyaga (ngraksa) budaya ring jagat Bali ‘dan dapat menjaga budaya di Pulau Bali’.

Satu contoh lagi dari gambar di atas tampaknya cukup untuk membuktikan bahwa fenomena berbahasa Bali dengan cara berpikir bahasa Indonesia tidak hanya kasus yang jumlahnya terbatas. Akan tetapi, cukup luas dalam berbagai postingan di media sosial. Penjelasan menarik tentang alat penebang pohon dalam gambar tersebut diduga juga hasil penerjemahan dari bahasa Indonesia. Kalimat Kapak silih tunggilnyane mawiguna antuk ngebah punyan kayu memuat kejanggalan dalam penggunaan kata antuk.

Dalam kalimat tersebut, kata antuk yang bermakna ‘oleh, karena, tentang, dengan’ sehingga dalam kalimat ini tampak kurang sesuai. Asumsi kata antuk yang bermakna untuk barangkali disebabkan oleh dua faktor. Pertama, bentuk kata antuk yang sangat dekat dengan untuk dalam bahasa Indonesia. Kedua, bentuk turunan dari kata antuk yaitu mantuka (ring) yang salah satu maknanya memang ‘untuk, kepada’ misalnya mantuka ring Ratu Padanda sane wangiang titiang ‘kepada Ratu Padanda yang saya hormati’. Alternatif kalimat dalam konten Kapak silih tunggilnyane mawiguna antuk ngebah punyan kayu di atas adalah Kapak silih tunggilnyané mawiguna anggén ngebah punyan kayu ‘kapan salah satunya berguna untuk memotong pohon’.  

Refleksi

Berdasarkan sejumlah fakta kebahasaan di atas, kita melihat bahwa pengaruh bahasa Indonesia tidak hanya terjadi pada tataran kosakata, tetapi sudah masuk ke lapisan tata bahasa Bali. Perubahan dalam tataran kosakata terutama peminjaman kosakata tentu hal yang biasa dalam perjalanan hidup suatu bahasa. Bahkan, prosesnya bisa sangat cepat seiring kebutuhan komunikasi penuturnya. Dilihat dari sisi positif, pengaruh kosakata bahasa Indonesia juga bernilai dalam proses pengayaan bahasa Bali yang menyerapnya. Bahasa Bali pun melakukan hal yang sama dalam proses sejarahnya. Bahasa Bali bukan bahasa yang isolatif, tetapi aktif menyerap bahasa lain seperti Sankserta, Jawa Kuno, dan Melayu sepanjang sejarahnya.

Akan tetapi, perubahan di tataran tata bahasa (gramatikal) sesungguhnya hal yang relatif tidak biasa karena memerlukan proses yang panjang. Sebab, tata bahasa yang digunakan seseorang secara tidak langsung juga merefleksikan tata berpikir penuturnya. Setidaknya, apabila pengaruh suatu bahasa lain sudah sampai di lapisan tata bahasa, kita dapat mengetahui indikasi pilihan bahasa yang dominan digunakan penuturnya dalam keseharian.

Jika hal ini banyak terjadi dalam bahasa Bali, terutama ragam bahasa Bali Alus, artinya variasi bahasa ini di kalangan masyarakat tertentu tidak lagi menjadi kebiasaan keseharian yang digunakan secara alamiah. Oleh sebab itu, untuk mengekspresikan bahasa Bali Alus, penutur menggunakan cara berpikir bahasa Indonesia terlebih dahulu lalu berusaha menerjemahkannya ke dalam bahasa Bali.

Kita tidak perlu sungkan mengakui bahwa dalam penulisan teks-teks pidato, sambutan, pembawa acara, bahkan awig-awig, dan yang lainnya memang kerap dimulai dari bahasa Indonesia. Jika ini benar, penggunaan bahasa Bali Alus bagi sebagian penutur bahasa Bali saat ini mirip dengan mempelajari bahasa kedua, bahkan mungkin ketiga. Oleh sebab itu, kerancuan dan kekacuaan akan potensial terjadi. Dalam istilah ilmu Sosiolinguistik fenomena kedwibahasaan ini disebut interferensi.

Apabila dugaan bahwa penggunaan bahasa Bali (terutama halus) kerap diawali dari proses terjemahan dari bahasa Indonesia, pemecahan yang ditawarkan untuk menghindari melekatnya pengaruh bahasa Indonesia dalam bahasa Bali (Alus), yaitu dengan mempelajari tata bahasa Bali dilengkapi dengan kamusnya. Sebab, tidak semua pembentukan kata dalam bahasa Indonesia sejajar hasilnya dengan bentuk bahasa Bali.

Contohnya, kata pembukaan dalam bahasa Indonesia hanya berbentuk pamungkah dalam bahasa Bali (bukan pamungkahan), kedatangan seperti yang dijelaskan di atas hanya berbentuk pangrauh ‘kedatangan’, ‘datangnya’ (bukan karauhan) dan yang lainnya. Dengan mempelajari tata bahasa Bali dibekali kamus, hasil terjemahan kita dari bahasa Indoensia ke dalam bahasa Bali juga menjadi lebih maksimal dan natural. Bukankah salah satu kritera terjemahan yang baik justru tidak diketahui sebagai hasil terjemahan?

Di samping itu, cara yang bisa dilakukan untuk menghindari melekatnya pengaruh bahasa lain khususnya bahasa Indonesia dalam bahasa Bali adalah mendekatkan penggunaan bahasa tersebut dalam konteks keseharian. Pengalaman menggunakan bahasa Bali Alus dalam keseharian sesuai dengan konteksnya seperti guru dengan murid, interaksi antarwangsa, rapat pemuda dan adat, upacara agama, dan seterusnya bisa membuat penutur menggunakan bahasa itu secara lebih alami.

Demikian pula dalam konteks pembelajaran, membaca teks-teks atau wacana bahasa Bali akan menginstal struktur bahasa Bali itu secara organik dalam ceruk-ceruk batin pelajar bahasa Bali. Sejak dulu tokoh-tokoh pendidik mumpuni kita seperti Bapak Wayan Simpen AB, I Gusti Bagus Sugriwa, dan lainnya telah melakukan pembinaan bahasa Bali dengan teks-teks Bali. Bagi penulis, buku Purwa Aksara karya I Wayan Simpen AB yang salah satu teksnya berjudul Pura Sakenan bahkan melekat hingga saat ini. Demikian pula generasi yang lebih tua, buku Rama Dewa berbahasa Bali karya I Gusti Bagus Sugriwa pasti selalu dikenang di dalam hati.

Apresiasi dan Revitalisasi

Sampai di sini, apakah fenomena bahasa Bali yang diuraikan sekilas di atas menunjukkan arah perubahan atau kepunahan? Jawabannya sejauh ini tentu masih ke arah perubahan, khususnya menguatnya pengaruh fitur bahasa Indonesia ke dalam struktur gramatikal bahasa Bali dalam ranah bahasa ragam tinggi (istilah dalam situasi diglosia). Penggelembungan isu kepunahan dalam catatan ini tak berbeda dari hulu semangat para pendahulu yang memiliki elan untuk eling ‘waspada’ bahwa usaha revitalisasi tak boleh berhenti.

Demikian pula sejumlah tawaran yang diulas di atas tentu bukan perspektif dan jalan yang tunggal. Banyak cara yang dapat dilakukan seseorang untuk mencapai ragam berbahasa Bali yang patut ‘benar’ dan lenggut ‘indah’. Termasuk pula kemaksimalan rasa dalam pengekspresian bahasa Bali. Catatan ini hanya bertujuan untuk memancing diskusi bahwa barangkali ada hal yang luput dari pengamatan kita sebagai pencinta bahasa Bali dalam tataran mikro bahasa Bali.

Di sisi lain, dalam situasi kering dan kurangnya penggunaan bahasa Bali di media sosial, usaha sejumlah konten kreator yang mendedikasikan diri dan hatinya untuk membuat serta ikut mendidik masyarakat juga sangat perlu diapresiasi. Terlebih, dibanding hal yang kurang dan tanpa kesengajaan, tentu lebih banyak hal yang benar yang disampaikan mereka kepada masyarakat yang berselancar di jagat media sosial. Tetes keringat karya mereka senantiasa kita butuhkan untuk membanjiri kanal-kanal media sosial dengan bahasa Bali dalam sehari-hari.

Dengan demikian, satu hal yang juga perlu dicatat, apabila kita ingin mempertahankan dan mengembangkan eksistensi bahasa Bali dengan berbagai kekayaan ragam dan rasanya, kita masih sangat memerlukan keterlibatan multipihak. Dalam hal ini, kreativitas konten kreator, kecanggihan dengan ahli IT, regulasi pemerintah, pelaksanaan Bulan Bahasa Bali, Festival Tunas Bahasa Ibu, guru Bahasa Bali, peneliti, dan salah ujung tombaknya tentu ada di tangan Sang Pembawa Lentera Bahasa: Penyuluh Bahasa Bali. Kepada mereka yang di bulan ini tengah disibukkan dengan berbagai jadwal menjadi pembina, juri, dan panitia Bulan Bahasa Bali, penulis membungkukkan badan dan mencakupkan tangan hanya dengan ungkapan: terima kasih. [T]

Penulis: Putu Eka Guna Yasa
Editor: Adnyana Ole

  • BACA artikel lain dari penulis PUTU EKA GUNA YASA
“Ketika Memberi”, Bagaimana Memadankannya ke Bahasa Bali?
Pinih Sira Ragane?
Fenomena Kontraksi “Kegiatan” menjadi “Giat”
Tags: BahasaBahasa BaliBulan Bahasa Bali
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Misi Rahasia | Cerpen Sarah Monica

Next Post

Dramaturgi Drama Modern Bahasa Bali Terus Dicari | Dari Lomba Drama Modern Bulan Bahasa Bali VII

Putu Eka Guna Yasa

Putu Eka Guna Yasa

Pembaca lontar, dosen FIB Unud, aktivitis BASAbali Wiki

Related Posts

Merawat Harapan Optimistis Lewat Kalimat Adjektival

by I Made Sudiana
June 29, 2026
0
Merawat Harapan Optimistis Lewat Kalimat Adjektival

SETELAH melewati rentetan perawatan medis yang panjang dan melelahkan, pernahkah Anda berbisik pada diri sendiri, "Apakah tubuh ini akan kembali...

Read moreDetails

Semantik Logistik Modern: Kargo, Ekspedisi, dan Paket

by I Made Sudiana
June 25, 2026
0
Semantik Logistik Modern: Kargo, Ekspedisi, dan Paket

BAGI orang awam di bidang kargo seperti saya, kata kargo selalu memantik imajinasi tentang gudang yang pengap, deru mesin, aroma...

Read moreDetails

Duri Akar dan “Sungga”

by Komang Berata
June 24, 2026
0
Duri Akar dan “Sungga”

SAYA bukan tukang panen umbi yang cakap. Memanen umbi gembili, dua kali ujung linggis yang saya ayunkan justru menghunjam dan...

Read moreDetails

Sepak Bola, Bola Sepak, Football, dan Soccer: Riuh Bahasa di Tengah Piala Dunia

by I Made Sudiana
June 23, 2026
0
Sepak Bola, Bola Sepak, Football, dan Soccer: Riuh Bahasa di Tengah Piala Dunia

PERNAHKAH Anda merenung sejenak, bagaimana sebuah kata tentang olahraga yang dicintai seantero jagat ini bekerja di dalam kepala kita? Sungguh menarik mengamati...

Read moreDetails

Logika Angka Kuno di Pesta Kesenian Bali

by I Made Sudiana
June 18, 2026
0
Logika Angka Kuno di Pesta Kesenian Bali

PESTA Kesenian Bali (PKB) tahun 2026 ini telah memasuki tahun ke-48. Atmosfernya sudah tampak lewat berbagai atribut luar ruang yang...

Read moreDetails

Ketika Prasasti Keluar dari Kamus Arkeologi

by I Made Sudiana
June 13, 2026
0
Ketika Prasasti Keluar dari Kamus Arkeologi

SEJAK kapan sebuah kata harus tunduk pada makna yang kaku? Padahal, di tengah masyarakat, makna kata itu justru tumbuh dan...

Read moreDetails

Orang yang Hadir Kok Diminta Absen?

by Ni Wayan Suwini
June 12, 2026
0
Orang yang Hadir Kok Diminta Absen?

DALAM kehidupan sehari-hari, kata "absen" sangat akrab digunakan oleh masyarakat. Di sekolah, guru sering mengatakan, "Ayo, sebelum belajar kita absen...

Read moreDetails

Sihir Tiga Kode Huruf

by I Made Sudiana
June 8, 2026
0
Sihir Tiga Kode Huruf

PERNAHKAH Anda menyadari bahwa hidup kita hari ini perlahan-lahan dikendalikan oleh mantra tiga kode huruf? Dunia modern adalah rimba aksara...

Read moreDetails

Cukup Telulas?

by Komang Berata
June 4, 2026
0
Cukup Telulas?

BISA jadi telanjur terbentuk stigma tiga belas identik dengan celaka, sial, dan segala bentuk ketidakberuntungan maka sangat penting diupayakan menghindari...

Read moreDetails

Dokter Gia: Pilihan Kata Mengolah Rasa

by I Made Sudiana
June 3, 2026
0
Dokter Gia: Pilihan Kata Mengolah Rasa

DOKTER Gia Pratama (dr. Gia) —seorang dokter dan penulis yang aktif di media sosial untuk mengedukasi masyarakat dalam dunia kesehatan—pernah...

Read moreDetails
Next Post
Dramaturgi Drama Modern Bahasa Bali Terus Dicari  | Dari Lomba Drama Modern Bulan Bahasa Bali VII

Dramaturgi Drama Modern Bahasa Bali Terus Dicari | Dari Lomba Drama Modern Bulan Bahasa Bali VII

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kacak Kicak dan Pembacaan Akan Sesuatu yang Setengah-Setengah

    23 shares
    Share 23 Tweet 0
  • Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Rockestrasi, Ketika Rock dan Orkestra Bersatu di Festival Seni Bali Jani
Panggung

Rockestrasi, Ketika Rock dan Orkestra Bersatu di Festival Seni Bali Jani

DENTUMAN drum, raungan gitar listrik, dan koor ratusan penonton menggema di Panggung Madya Mandala, Taman Budaya Bali, Minggu (12/7/2026) malam....

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
“Sumpah Drupadi”, Panggung Refleksi tentang Martabat dan Keadilan
Panggung

“Sumpah Drupadi”, Panggung Refleksi tentang Martabat dan Keadilan

PERTUNJUKAN drama klasik persembahan Sanggar Teater Mini pada pembukaan Festival Seni Bali Jani (FSBJ) VIII Tahun 2026 membangkitkan nostalgia penonton,...

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
Festival Seni Bali Jani 2026 Resmi Bergulir, Ruang Kreativitas Baru Seni Modern dan Kontemporer Bali
Panggung

Festival Seni Bali Jani 2026 Resmi Bergulir, Ruang Kreativitas Baru Seni Modern dan Kontemporer Bali

Usai menutup rangkaian Pesta Kesenian Bali (PKB) XLVIII Tahun 2026, Pemerintah Provinsi Bali langsung membuka lembaran baru perjalanan kesenian melalui...

by Nyoman Budarsana
July 12, 2026
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU
Esai

HINDU BALI OLENG KARENA TIGA PILAR SUCI TAK SEIMBANG?

— Sugi Lanus, Catatan Harian 8 Juli 2026 Agama Hindu di Bali berdiri di atas tiga pilar suci yang tak...

by Sugi Lanus
July 12, 2026
Pra-Ignite Fest Kesbam, Membangun Keakraban Sebelum Mengenal Lebih Jauh
Khas

Pra-Ignite Fest Kesbam, Membangun Keakraban Sebelum Mengenal Lebih Jauh

PAGI itu, matahari belum membumbung tinggi. Namun halaman SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam) sudah dipenuhi ratusan wajah baru penuh...

by Dede Putra Wiguna
July 12, 2026
Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum
Esai

Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum

Materi ini akan disampaikan dalam Festival Seni Bali Jani VIII, Denpasar 20 Juli 2026 MENJADI dosen sastra bagi saya bukan...

by I Wayan Artika
July 12, 2026
Yang Paling Dalam, Yang Tetap Online  —Prolog untuk Buku Puisi “Yang Paling Dalam, Yang Paling Diam” karya Chris Triwarseno
Ulas Buku

Yang Paling Dalam, Yang Tetap Online  —Prolog untuk Buku Puisi “Yang Paling Dalam, Yang Paling Diam” karya Chris Triwarseno

KITA tidak memulai dari halaman kosong. Kita masuk ketika semuanya sudah berlangsung. Layar sudah menyala, jempol bergerak hampir tanpa perintah,...

by IRZI
July 12, 2026
Tak Ada Goresan yang Salah —Mengenang Made Budhiana
Esai

Tak Ada Goresan yang Salah —Mengenang Made Budhiana

Hal pertama yang saya ingat dari Made Budhiana bukanlah lukisan. Melainkan suara The Doors yang diputar keras-keras di studionya. Kadang...

by Agung Bawantara
July 12, 2026
Keserakahan yang Menghancurkan Persaudaraan: Drama-Tari “Pemurtian Sunda Upasunda” Hidupkan Kembali Pesan Adiparwa di Piodalan Pura Dalem Desa Adat Ubud
Panggung

Keserakahan yang Menghancurkan Persaudaraan: Drama-Tari “Pemurtian Sunda Upasunda” Hidupkan Kembali Pesan Adiparwa di Piodalan Pura Dalem Desa Adat Ubud

SERANGKAIAN dengan Upacara Piodalan Pedudusan Alit di Pura Dalem Desa Adat Ubud pada Rahina Anggara Kasih Medangsia, hari Selasa (7/7/2026),...

by Agus Eka Cahyadi
July 11, 2026
Tubuh-Properti-Panggung “Gita Sarayu” Desa Selat, Karangasem: Catatan Ringkas dari Perspektif (Seni) Rupa
Ulas Pentas

Tubuh-Properti-Panggung “Gita Sarayu” Desa Selat, Karangasem: Catatan Ringkas dari Perspektif (Seni) Rupa

BERDAMAI dengan panggung terbuka Ardha Candra di Taman Budaya Bali, Art Centre di Denpasar tidaklah mudah, sebab siapa pun yang...

by Dewa Purwita Sukahet
July 11, 2026
Belajar, Mencoba, Lalu Menemukan—Dari Workshop Pembelajaran Mendalam Berbasis STEM di SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar
Khas

Belajar, Mencoba, Lalu Menemukan—Dari Workshop Pembelajaran Mendalam Berbasis STEM di SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar

SUASANA ruang pertemuan SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar hari itu terasa berbeda. Para guru berdiri mengelilingi meja, saling berdiskusi, tertawa,...

by Dede Putra Wiguna
July 11, 2026
Made Wiradana Hadirkan Kacatri, Menandai Transformasi Seni yang Berakar pada Laku Spiritual
Pameran

Made Wiradana Hadirkan Kacatri, Menandai Transformasi Seni yang Berakar pada Laku Spiritual

PERUPA Bali Made Wiradana kembali menegaskan perjalanan artistiknya melalui pameran tunggal bertajuk Kacatri yang digelar di Santrian Art Gallery, Sanur....

by I Gede Made Surya Darma
July 11, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co