24 April 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Misi Rahasia | Cerpen Sarah Monica

Sarah Monica by Sarah Monica
February 16, 2025
in Cerpen
Misi Rahasia | Cerpen Sarah Monica

Ilustrasi tatkala.co | Rusdy

AIR asin kepahitan itu menghantam wajahnya hingga hidung dan mulutnya yang setengah terbuka tersedak. Ia terbangun kaget, terbatuk-batuk dalam kondisi masih setengah sadar. Tangannya mengusap wajahnya yang berbuih dan berpasir, matanya terasa perih. Perlahan ia mengamati tubuh serta sekelilingnya, mencoba memahami apa yang terjadi.

Samar-samar ingatannya berkumpul, pemuda bertubuh kurus kering itu tadi sore sedang melepas lelah di pinggir pantai. Tanpa terasa, langit senja telah mengantarkan tidur yang panjang ke peraduan malam. Air laut sudah naik menyelimuti kakinya yang telanjang.

Di tengah keterkejutan karena hampir saja digulung ombak, Samin nama pemuda itu, mendengar sayup-sayup percakapan tanpa wujud. Suara yang timbul tenggelam dibawa hembusan angin laut.

Samin bangkit mencari sumber suara tersebut. Tangannya meraih karung plastik miliknya yang basah kuyup dijilat air laut. Ia berjalan menyusuri pasir, dingin menembus tulang. Makin keras, makin jelas, Samin memperlambat langkahnya, lebih memfokuskan lagi pendengarannya. Dari kejauhan ia melihat kabut merah di balik bebatuan karang.

Malam itu merupakan malam paling gulita, tanpa setitik pun cahaya bintang dan rembulan. Tetapi dari tempatnya bersembunyi, Samin menyaksikan sosok-sosok dalam bias kemerahan. Jantungnya berdegub nyaris meloncat keluar dari rongga dada.

Sebuah sidang sepertinya sedang berlangsung. Setan-setan dengan jubah dan lencana kebesaran memenuhi arena persidangan di tengah laut pekat nan senyap. Dari tempat Samin mengintip, makhluk-makhluk itu mengelilingi sebuah singgasana pembesar.

Sebagian berdiri di permukaan, menyembulkan kepala dari dalam air, ada pula yang melayang-layang, siap sedia mendengarkan arahan dan titah komandan tertinggi.

Mereka adalah seluruh perwakilan setan mulai tingkat kolonel hingga jenderal dipanggil dari berbagai penjuru daerah. Ada rapat besar untuk merespons agenda kebijakan terbaru pemerintahan manusia.

“Apapun rencana baik makhluk-makhluk bau tanah ini harus kita gagalkan!”

“Kuasai mereka! Kerdilkan mentalnya! Paham?!” gelegar setan yang duduk di singgasana. Tanduknya tegak jemawa di kepalanya yang tidak simetris.

“Ya! Lemahkan Jiwanya!” seru setan lain dari tengah kerumunan.

Gerombolan setan aneka bentuk riuh dengan geraman, desisan, lolongan, tawa melengking. Mengungkapkan persetujuan mereka.

Samin gemetaran sekujur tubuh. Ia ingin lari sejauh mungkin meninggalkan pemandangan itu, tapi kakinya tak kuasa, seolah terpaku di sana.

Pemimpin setan menyeringai senang, tiga matanya berkilat menyisir pandang ke para bawahan dan abdi setia di hadapannya.

“Siapkan semua anggota terbaik kalian di pusat kota maupun pelosok desa. Tempatkan mereka di tiap punggung manusia. Menjadi bayang-bayang mereka dalam segala aktivitas bangun dan tidur.”

“Pengaruhi dan hancurkan dari lubuk hati. Hihihi…” setan lain menyahut dari atas riak gelombang.

“Dan kerja mereka pun akan sia-sia,” celetuk setan berperut buncit berkepala anjing.

“Betul. Hahahaaa…” Sang komandan terbahak-bahak, diikuti gemuruh tawa dari seluruh anggota dewan sidang yang hadir.

Tawa mereka mengguncang ombak raksasa hingga membangunkan tidur makhluk-makhluk lain di kedalaman samudera. Tawa yang menyentak Samin, membuatnya terlempar tak sadarkan diri.

Sebersit sinar emas muncul di ufuk timur. Peserta sidang segera melesat hilang, menjalankan tugas di wilayah kekuasaan masing-masing.

*

“Dana itu besar sekali kan? Ambil saja sedikit untukmu, mereka tidak akan tahu.”

Hmm…benar juga. Aku sudah mengabdi pada negara, aku berhak mengambil bagian. Orang yang dibisiki itu membatin. Dia memindahkan sebagian uang ke salah satu rekening perusahaannya. Kemudian mengubah laporan keuangan yang ada.

“Lihat, harganya bermacam-macam. Pilih yang paling murah, biar keuntunganmu makin besar.”

Kalau aku tukar dengan yang lebih murah, mereka pun tidak akan tahu perbedaan kualitasnya. Pemuda itu pun berbelanja semua bahan pokok yang dibutuhkan dengan harga paling rendah.

“Kamu pasti lelah sudah bekerja dari subuh. Cepat selesaikan pekerjaanmu di dapur agar dapat segera beristirahat.”

Mengapa aku tiba-tiba mengantuk sekali ya. Barangkali perlu tidur sejenak. Tak lama ibu yang ditiup ubun-ubunnya itu menguap berkali-kali. Ia pun menyudahi kerjanya tanpa menyadari masakannya belum matang.

Di jantung kota maupun sudut-sudut desa, semua prajurit setan bergerak cepat penuh siasat melaksanakan misi mereka. Bisik sini, rayu sana, menggoyangkan hati, dan membuai khayal-khayal manusia.

Mereka sukses besar. Tiap kali berhasil memperdaya korbannya, setan-setan akan tertawa terpingkal-pingkal, melompat-lompat terbang, bahkan jungkir balik kegirangan.

*

“Yakin mau makan itu? Dari baunya saja sudah bikin kamu mual,” suara setan membisiki.

Kok sekarang diwajibkan makan siang di sekolah? Aku punya uang, aku bisa jajan makanan yang lebih enak. Anak kecil yang dirayu tersebut menatap lekat-lekat makanan di mejanya.

Dengan pandangan menyelidiki, ia lihat nasi kekuningan, sayur oseng yang kematangan, jeruk kempes, dan sepotong kecil ayam goreng. Dia mencuil ayamnya, daging dalamnya masih sedikit kemerahan dan agak berbau amis.

Dia melihat ke sekeliling. Diperhatikannya wajah teman-teman kelasnya, sebagian besar ekspresi mereka tidak jauh berbeda. Sedangkan sisanya melahap makanan mereka sambil berceracau dengan sesama.

“Buang saja makanan tersebut. Tidak akan ada yang melihat,” bisikan itu seakan berbicara dari aliran darahnya.

Si anak pura-pura menyelesaikan makannya, lalu bergegas keluar menuju belakang sekolah. Berusaha sebisa mungkin menghindari berpapasan dengan guru atau siswa lain.

Di tembok belakang yang berbatasan dengan tempat pembuangan sampah, bocah tersebut melemparkan kardus makan siangnya. Usai itu ia berlari ke arah kantin.

Setan cebol tingkatan kopral yang ditugasi pekerjaan ini menyaksikan hasil kerjanya dengan tertawa geli. Gigi tajam hitam menonjol dari mulutnya yang lebar. Bangga akan keberhasilannya menggoda anak-anak manusia.

Dari balik tembok, Samin yang sedang memulung botol plastik memperhatikan semua kejadian tersebut. Ia mengenali makhluk yang pernah ia lihat gerombolan jenisnya dari tepi laut beberapa waktu lalu.

Selepas mengganggu anak tadi, setan itu menempel ke anak yang lain dan membisiki hal yang sama. Terus seperti itu sepanjang jam istirahat sekolah.

Ketika sedang mendekati kotak kardus yang tadi dibuang anak pertama, Samin terkejut bukan main karena sebuah kotak kardus lain melayang nyaris menghantam wajahnya.

Ia mengintip kotak-kotak kardus di depannya. Beruntung isinya tidak jatuh dalam posisi terbalik.

Sekian detik ia berusaha mencerna apa yang terjadi, lantas menangis tersedu-sedu. Tangannya meraih kedua kardus makanan itu, mengambil penutupnya yang terlempar tidak begitu jauh, kemudian berjalan pulang dengan kantong sampah tersampir di bahu.

Dalam perjalanan ke rumah, tangisnya makin menjadi-jadi. Samin berpikir kadang hidup begitu tidak adil. Ada orang-orang untuk sekadar mencari makan, mereka harus bergumul setengah mati mengaduk sampah. Namun orang lainnya begitu mudah membuang-buang makanan mereka.

Di sisi lain, tangisan Samin juga menyelipkan rasa malu pada Tuhan. Sudah seminggu anaknya terbaring dengan panas tinggi, mengigau tiap malam ingin makan daging ayam.

Siang ini Tuhan menjawab doanya, ia bisa pulang membawakan makanan tersebut untuk anak istrinya.

*

Keesokan hari Samin melewati jalan yang sama, saat matanya menangkap pemandangan tidak biasa. Kali ini kotak-kotak kardus menumpuk lebih banyak di tempat pembuangan sampah sekolah.

Ia mendekati tumpukan kardus yang menggunung tersebut, dan terhenyak. Pikirannya melayang ke suatu peristiwa lampau dalam sidang dewan setan yang tak sengaja ia saksikan. Samin mencoba menghubungkan teka-teki pengalaman dirinya.

Akhirnya ia memutuskan membawa pulang semua kotak kardus berisikan makanan yang masih utuh tersebut. Dalam perjalanan menuju rumah, Samin melewati pengemis kecil yang tertidur di trotoar, ia meletakkan sebuah kardus di depannya.

Samin memasuki kawasan pembuangan sampah akhir. Bangunan-bangunan reyot dari seng dan kardus berjejer sepanjang gunung sampah rumah tangga. Beberapa laki-laki tua maupun muda terlihat mengorek-ngorek timbunan berbau busuk itu.

Dengan berjalan menyelinap, Samin berupaya menghampiri semua rumah yang masih tetangganya itu tanpa terlihat siapapun. Merogoh kardus makanan dari karung putih yang ia panggul, meletakkannya di tiap rumah yang ia datangi.

Menjelang sore, kala para penghuni kembali dari kerja memulung, mereka menemukan sekotak makanan itu di depan pintu rumahnya.

Esok dan hari demi hari sesudahnnya, Samin selalu mendatangi sekolah-sekolah dasar ataupun menengah dekat tempat tinggalnya untuk mengambil kotak makanan dari bak sampah mereka.

Di waktu yang sama pula ia sering berpapasan dengan makhluk-makhluk berwujud tidak karuan yang berkeliaran di sekitar sekolah. Mengikuti para pelajar ke sana kemari, bergelayut di bahu mereka, mencorongkan mulutnya ke wajah anak-anak manusia tersebut.

Terkadang setan-setan itu memergoki Samin yang sedang memperhatikan segala tingkah laku mereka, namun mereka tidak memperdulikannya. Samin pun tetap mengerjakan misinya sendiri.

Pengamen jalanan, pemulung, orang gila, pengemis dengan berbagai kostum boneka atau superhero ia berikan sekotak makanan secara sembunyi-sembunyi.

Samin terus menyusuri jalan raya, kampung-kampung kumuh, pasar nelayan, membagikan kardus-kardus makan siang gratis untuk tiap orang malang yang ia temui.

Tak terasa dirinya sampai di tepian laut. Teriakan laki-laki dan perempuan memancing perhatiannya. Samin mendekati kumpulan orang-orang di dermaga. Beberapa orang terlihat menarik sesosok tubuh dari dalam air. Tubuhnya tersangkut di kayu-kayu pancang dermaga.

Memasuki kerumunan lebih dekat, Samin menyaksikan jasad lelaki yang tengah diangkat itu sudah membengkak dan kulitnya membiru. Ia menangkap sekilas wajah orang mati tersebut. Wajahnya sendiri. [T]

Jakarta, 3 Februari 2025

  • KLIK untuk BACA cerpen lain
Buket Mawar Merah |  Cerpen Yuditeha
Go-Sex | Cerpen Sonhaji Abdullah
Masak Apa Hari Ini?   |   Cerpen Lanang Taji
Gendewa   |   Cerpen Dian Havivia
Tags: Cerpen
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Puisi-puisi Willy Fahmy Agiska  |  Alerta

Next Post

Berbahasa Bali dengan Cara Berpikir Bahasa Indonesia: Arah Perubahan atau Kepunahan?

Sarah Monica

Sarah Monica

Penulis dan peneliti. Buku antologi puisinya “Bangkitnya Kemurungan” (Yogyakarta, 2023) memperoleh penghargaan Anugerah Kawistara 2024 dari Balai Bahasa Provinsi Jawa Barat.

Related Posts

Guru Abdi | Cerpen I Made Sugianto

by Made Sugianto
April 12, 2026
0
Guru Abdi | Cerpen I Made Sugianto

PAGI baru menjelang, cahaya lembutnya merayap di balik pepohonan. Kadek Arya siap-siap berangkat mengajar ke sekolah. Tamat di Fakultas Sastra...

Read moreDetails

Jarum Jam yang Mekar seperti Biru Mawar: Dua Adegan | Cerpen Polanco S. Achri

by Polanco S. Achri
April 11, 2026
0
Jarum Jam yang Mekar seperti Biru Mawar: Dua Adegan | Cerpen Polanco S. Achri

buat A.Hayya, Pak Saeful, dan Teater AwalGarut, juga seorang perempuan I. Ibu memandang jauh; sepasang matanya menggambarkan suatu yang tak...

Read moreDetails

Dia Hidup Lagi | Cerpen Supartika

by I Putu Supartika
April 10, 2026
0
Dia Hidup Lagi | Cerpen Supartika

- Katakan dia akan hidup lagi! - Dia sudah mati! - Dia akan hidup! Bangunkan dia. - Jangan, jangan, dia...

Read moreDetails

Manusia Plastik | Cerpen I Nyoman Sutarjana

by I Nyoman Sutarjana
April 5, 2026
0
Manusia Plastik | Cerpen I Nyoman Sutarjana

ASTRA menarik tangan ibunya, yang sedang jongkok. Sampah plastik yang dikumpulkan ibunya ia sisihkan. Ibu melepas cengkraman tangan Astra berusaha...

Read moreDetails

Kampung Halaman Tidak Pernah Lupa, Termasuk Aib Kita | Cerpen Ahmad Sihabudin

by Ahmad Sihabudin
April 4, 2026
0
Kampung Halaman Tidak Pernah Lupa, Termasuk Aib Kita | Cerpen Ahmad Sihabudin

SETIAP tahun, orang-orang kota mendadak berubah menjadi makhluk spiritual. Mereka yang biasanya mengeluh soal panas, debu, tetangga berisik, dan harga...

Read moreDetails

Tari Sunari | Cerpen Gede Aries Pidrawan

by Gede Aries Pidrawan
March 28, 2026
0
Tari Sunari | Cerpen Gede Aries Pidrawan

LUH Sunari merasa tubuhnya berat. Semua yang tampak di sekelilingnya hitam. Pekat. Saat itulah sebuah bayang mendekat. Bayangan itu begitu...

Read moreDetails

Aku Tak Bisa Menulis Cerpen  |  Cerpen Dede Putra Wiguna

by Dede Putra Wiguna
March 27, 2026
0
Aku Tak Bisa Menulis Cerpen  |  Cerpen Dede Putra Wiguna

AKU menatap layar laptop yang kosong. Luas, sunyi, dan membuat kepala terasa berdenyut. Kursor berkedip di pojok kiri atas dokumen,...

Read moreDetails

Umpan | Cerpen Putri Harya

by Putri Harya
March 22, 2026
0
Umpan | Cerpen Putri Harya

Aku tidak merasa melanggar norma. Aku juga tidak sedang melakukan dosa. Aku hanya mengusahakan takdirku dengan meniru apa yang sering...

Read moreDetails

Lebaran Tahun Ini | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

by Sri Romdhoni Warta Kuncoro
March 21, 2026
0
Lebaran Tahun Ini | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

DI kepalaku masih terngiang-ngiang oleh frasa nomina sayur bening dan lele goreng yang keluar dari mulut Darmuji. Sepertinya, itu merupakan...

Read moreDetails

Setahun Cinta di Kota Tua Karengan | Cerpen Ahmad Sihabudin

by Ahmad Sihabudin
March 15, 2026
0
Setahun Cinta di Kota Tua Karengan | Cerpen Ahmad Sihabudin

Di ujung timur Jawa, ada sebuah kota kecil bernama Karengan, tempat yang seperti berhenti pada usia tuanya. Jalanan sempit berlapis...

Read moreDetails
Next Post
Berbahasa Bali dengan Cara Berpikir Bahasa Indonesia: Arah Perubahan atau Kepunahan?

Berbahasa Bali dengan Cara Berpikir Bahasa Indonesia: Arah Perubahan atau Kepunahan?

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Berlari, Berbagi, Bereuni —Cerita dari Alumni Smansa Charity Fun Run 2026

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • I Nyoman Martono, Kreator Ogoh Ogoh ‘Regek Tungek’ yang Karya-karyanya Kerap Viral Tapi Namanya Jarang Disebut

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • AJARAN LELUHUR BALI TENTANG MEMILAH SAMPAH

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

‘Janji-janji Jepang’
Esai

‘Janji-janji Jepang’

SIANG  hari sering membawa kita pada hal-hal yang tidak direncanakan. Bukan hanya soal pekerjaan atau agenda, tetapi juga ingatan. Tiba-tiba...

by Angga Wijaya
April 23, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Menggugat Empati Elite kepada Rakyat

RAKYAT Indonesia pasti masih ingat betul siapa menteri yang memanggul sekarung beras saat meninjau banjir di Sumatra Barat pada tanggal...

by Chusmeru
April 23, 2026
Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma
Esai

Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma

DALAM tradisi Sanātana Dharma, bumi tidak pernah diposisikan sebagai objek mati. Ia adalah ibu—hidup, sadar, dan layak dihormati. Konsep Bhumi...

by Agung Sudarsa
April 22, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

PTSL di Persimpangan: Antara Legalisasi Aset dan Ledakan Sengketa

PROGRAM Pendaftaran Tanah Sistematis Lengkap (PTSL) sejak awal dirancang sebagai jawaban negara atas persoalan klasik pertanahan: ketidakpastian hukum. Amanat tersebut...

by I Made Pria Dharsana
April 22, 2026
‘Panggil Namaku Kartini Saja’: Navicula, Kartini Kendeng, dan Nyanyian Perlawanan yang Tak Lekang
Ulas Musik

‘Panggil Namaku Kartini Saja’: Navicula, Kartini Kendeng, dan Nyanyian Perlawanan yang Tak Lekang

SAYA masih ingat pertama kali menonton video klip lagu “Kartini” dari Navicula. Klip yang sederhana, tidak ada dramatisasi berlebihan. Yang...

by Dede Putra Wiguna
April 22, 2026
Menanam Waktu di Tubuh Bumi —Performance Art Project No-Audiens di Bukit Arkana Sawe dan Segara Ambengan, Negara–Bali
Khas

Menanam Waktu di Tubuh Bumi —Performance Art Project No-Audiens di Bukit Arkana Sawe dan Segara Ambengan, Negara–Bali

“Menanam Waktu di Tubuh Bumi” Saniscara Tumpek Landep 18 april 2026, hadir sebagai sebuah praktik performance art tanpa audiens (no-audiens),...

by I Wayan Sujana Suklu
April 22, 2026
Stan Kreatif dan Gelar Karya Jadi Cara Siswa SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar Memaknai Hari Kartini
Panggung

Stan Kreatif dan Gelar Karya Jadi Cara Siswa SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar Memaknai Hari Kartini

GERIMIS turun tipis di halaman SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam) pada Senin pagi, 21 April 2026. Langit tampak mendung,...

by Dede Putra Wiguna
April 22, 2026
‘Pelestarian Lingkungan’, Pameran Tunggal Made Subrata di Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎
Pameran

‘Pelestarian Lingkungan’, Pameran Tunggal Made Subrata di Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎

MENUNGGU antrean check in, pasangan wisatawan mancanegara ini duduk manis di area lobi Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎. Mereka meletakkan tas,...

by Nyoman Budarsana
April 21, 2026
Perempuan dan Buku, Peringatan Hari Kartini di SMP Negeri 1 Singaraja
Pendidikan

Perempuan dan Buku, Peringatan Hari Kartini di SMP Negeri 1 Singaraja

Dalam rangka memperingati Hari Kartini, terbitlah kegiatan Talkshow dengan tema “ Perempuan Masa Kini dan Persamaan Gender”, di Ruang Guru...

by tatkala
April 21, 2026
Kartini Agraris: Wajah Baru Ketahanan Gizi
Esai

Kartini Agraris: Wajah Baru Ketahanan Gizi

JIKA satu abad lalu Raden Ajeng Kartini menggunakan pena dan kertas untuk meruntuhkan tembok pingit, kini generasi penerusnya khususnya perempuan...

by Dodik Suprayogi
April 21, 2026
‘Base Line Data’, Upaya untuk Mendeteks Perdagangan Liar Tukik di Kawasan Bentang Laut Sunda Kecil
Lingkungan

‘Base Line Data’, Upaya untuk Mendeteks Perdagangan Liar Tukik di Kawasan Bentang Laut Sunda Kecil

KEBERADAAN tukik atau penyu di Kawasan Bentang Laut Sunda Kecil yang meliputi Bali, NTB dan NTT,  telah memberi dampak positif...

by Son Lomri
April 21, 2026
I Gusti Agung Ratih Krisnandari Putri dan Perpaduan Unik Sosok Perempuan: Dokter, Pengusaha dan Pendidikan
Persona

I Gusti Agung Ratih Krisnandari Putri dan Perpaduan Unik Sosok Perempuan: Dokter, Pengusaha dan Pendidikan

PEREMPUAN muda yang memilih jadi pengusaha di Buleleng barangkali tidak sebanyak laki-laki, namun kehadiran mereka pastilah memberi pengaruh besar pada...

by Made Adnyana Ole
April 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co