2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Misi Rahasia | Cerpen Sarah Monica

Sarah Monica by Sarah Monica
February 16, 2025
in Cerpen
Misi Rahasia | Cerpen Sarah Monica

Ilustrasi tatkala.co | Rusdy

AIR asin kepahitan itu menghantam wajahnya hingga hidung dan mulutnya yang setengah terbuka tersedak. Ia terbangun kaget, terbatuk-batuk dalam kondisi masih setengah sadar. Tangannya mengusap wajahnya yang berbuih dan berpasir, matanya terasa perih. Perlahan ia mengamati tubuh serta sekelilingnya, mencoba memahami apa yang terjadi.

Samar-samar ingatannya berkumpul, pemuda bertubuh kurus kering itu tadi sore sedang melepas lelah di pinggir pantai. Tanpa terasa, langit senja telah mengantarkan tidur yang panjang ke peraduan malam. Air laut sudah naik menyelimuti kakinya yang telanjang.

Di tengah keterkejutan karena hampir saja digulung ombak, Samin nama pemuda itu, mendengar sayup-sayup percakapan tanpa wujud. Suara yang timbul tenggelam dibawa hembusan angin laut.

Samin bangkit mencari sumber suara tersebut. Tangannya meraih karung plastik miliknya yang basah kuyup dijilat air laut. Ia berjalan menyusuri pasir, dingin menembus tulang. Makin keras, makin jelas, Samin memperlambat langkahnya, lebih memfokuskan lagi pendengarannya. Dari kejauhan ia melihat kabut merah di balik bebatuan karang.

Malam itu merupakan malam paling gulita, tanpa setitik pun cahaya bintang dan rembulan. Tetapi dari tempatnya bersembunyi, Samin menyaksikan sosok-sosok dalam bias kemerahan. Jantungnya berdegub nyaris meloncat keluar dari rongga dada.

Sebuah sidang sepertinya sedang berlangsung. Setan-setan dengan jubah dan lencana kebesaran memenuhi arena persidangan di tengah laut pekat nan senyap. Dari tempat Samin mengintip, makhluk-makhluk itu mengelilingi sebuah singgasana pembesar.

Sebagian berdiri di permukaan, menyembulkan kepala dari dalam air, ada pula yang melayang-layang, siap sedia mendengarkan arahan dan titah komandan tertinggi.

Mereka adalah seluruh perwakilan setan mulai tingkat kolonel hingga jenderal dipanggil dari berbagai penjuru daerah. Ada rapat besar untuk merespons agenda kebijakan terbaru pemerintahan manusia.

“Apapun rencana baik makhluk-makhluk bau tanah ini harus kita gagalkan!”

“Kuasai mereka! Kerdilkan mentalnya! Paham?!” gelegar setan yang duduk di singgasana. Tanduknya tegak jemawa di kepalanya yang tidak simetris.

“Ya! Lemahkan Jiwanya!” seru setan lain dari tengah kerumunan.

Gerombolan setan aneka bentuk riuh dengan geraman, desisan, lolongan, tawa melengking. Mengungkapkan persetujuan mereka.

Samin gemetaran sekujur tubuh. Ia ingin lari sejauh mungkin meninggalkan pemandangan itu, tapi kakinya tak kuasa, seolah terpaku di sana.

Pemimpin setan menyeringai senang, tiga matanya berkilat menyisir pandang ke para bawahan dan abdi setia di hadapannya.

“Siapkan semua anggota terbaik kalian di pusat kota maupun pelosok desa. Tempatkan mereka di tiap punggung manusia. Menjadi bayang-bayang mereka dalam segala aktivitas bangun dan tidur.”

“Pengaruhi dan hancurkan dari lubuk hati. Hihihi…” setan lain menyahut dari atas riak gelombang.

“Dan kerja mereka pun akan sia-sia,” celetuk setan berperut buncit berkepala anjing.

“Betul. Hahahaaa…” Sang komandan terbahak-bahak, diikuti gemuruh tawa dari seluruh anggota dewan sidang yang hadir.

Tawa mereka mengguncang ombak raksasa hingga membangunkan tidur makhluk-makhluk lain di kedalaman samudera. Tawa yang menyentak Samin, membuatnya terlempar tak sadarkan diri.

Sebersit sinar emas muncul di ufuk timur. Peserta sidang segera melesat hilang, menjalankan tugas di wilayah kekuasaan masing-masing.

*

“Dana itu besar sekali kan? Ambil saja sedikit untukmu, mereka tidak akan tahu.”

Hmm…benar juga. Aku sudah mengabdi pada negara, aku berhak mengambil bagian. Orang yang dibisiki itu membatin. Dia memindahkan sebagian uang ke salah satu rekening perusahaannya. Kemudian mengubah laporan keuangan yang ada.

“Lihat, harganya bermacam-macam. Pilih yang paling murah, biar keuntunganmu makin besar.”

Kalau aku tukar dengan yang lebih murah, mereka pun tidak akan tahu perbedaan kualitasnya. Pemuda itu pun berbelanja semua bahan pokok yang dibutuhkan dengan harga paling rendah.

“Kamu pasti lelah sudah bekerja dari subuh. Cepat selesaikan pekerjaanmu di dapur agar dapat segera beristirahat.”

Mengapa aku tiba-tiba mengantuk sekali ya. Barangkali perlu tidur sejenak. Tak lama ibu yang ditiup ubun-ubunnya itu menguap berkali-kali. Ia pun menyudahi kerjanya tanpa menyadari masakannya belum matang.

Di jantung kota maupun sudut-sudut desa, semua prajurit setan bergerak cepat penuh siasat melaksanakan misi mereka. Bisik sini, rayu sana, menggoyangkan hati, dan membuai khayal-khayal manusia.

Mereka sukses besar. Tiap kali berhasil memperdaya korbannya, setan-setan akan tertawa terpingkal-pingkal, melompat-lompat terbang, bahkan jungkir balik kegirangan.

*

“Yakin mau makan itu? Dari baunya saja sudah bikin kamu mual,” suara setan membisiki.

Kok sekarang diwajibkan makan siang di sekolah? Aku punya uang, aku bisa jajan makanan yang lebih enak. Anak kecil yang dirayu tersebut menatap lekat-lekat makanan di mejanya.

Dengan pandangan menyelidiki, ia lihat nasi kekuningan, sayur oseng yang kematangan, jeruk kempes, dan sepotong kecil ayam goreng. Dia mencuil ayamnya, daging dalamnya masih sedikit kemerahan dan agak berbau amis.

Dia melihat ke sekeliling. Diperhatikannya wajah teman-teman kelasnya, sebagian besar ekspresi mereka tidak jauh berbeda. Sedangkan sisanya melahap makanan mereka sambil berceracau dengan sesama.

“Buang saja makanan tersebut. Tidak akan ada yang melihat,” bisikan itu seakan berbicara dari aliran darahnya.

Si anak pura-pura menyelesaikan makannya, lalu bergegas keluar menuju belakang sekolah. Berusaha sebisa mungkin menghindari berpapasan dengan guru atau siswa lain.

Di tembok belakang yang berbatasan dengan tempat pembuangan sampah, bocah tersebut melemparkan kardus makan siangnya. Usai itu ia berlari ke arah kantin.

Setan cebol tingkatan kopral yang ditugasi pekerjaan ini menyaksikan hasil kerjanya dengan tertawa geli. Gigi tajam hitam menonjol dari mulutnya yang lebar. Bangga akan keberhasilannya menggoda anak-anak manusia.

Dari balik tembok, Samin yang sedang memulung botol plastik memperhatikan semua kejadian tersebut. Ia mengenali makhluk yang pernah ia lihat gerombolan jenisnya dari tepi laut beberapa waktu lalu.

Selepas mengganggu anak tadi, setan itu menempel ke anak yang lain dan membisiki hal yang sama. Terus seperti itu sepanjang jam istirahat sekolah.

Ketika sedang mendekati kotak kardus yang tadi dibuang anak pertama, Samin terkejut bukan main karena sebuah kotak kardus lain melayang nyaris menghantam wajahnya.

Ia mengintip kotak-kotak kardus di depannya. Beruntung isinya tidak jatuh dalam posisi terbalik.

Sekian detik ia berusaha mencerna apa yang terjadi, lantas menangis tersedu-sedu. Tangannya meraih kedua kardus makanan itu, mengambil penutupnya yang terlempar tidak begitu jauh, kemudian berjalan pulang dengan kantong sampah tersampir di bahu.

Dalam perjalanan ke rumah, tangisnya makin menjadi-jadi. Samin berpikir kadang hidup begitu tidak adil. Ada orang-orang untuk sekadar mencari makan, mereka harus bergumul setengah mati mengaduk sampah. Namun orang lainnya begitu mudah membuang-buang makanan mereka.

Di sisi lain, tangisan Samin juga menyelipkan rasa malu pada Tuhan. Sudah seminggu anaknya terbaring dengan panas tinggi, mengigau tiap malam ingin makan daging ayam.

Siang ini Tuhan menjawab doanya, ia bisa pulang membawakan makanan tersebut untuk anak istrinya.

*

Keesokan hari Samin melewati jalan yang sama, saat matanya menangkap pemandangan tidak biasa. Kali ini kotak-kotak kardus menumpuk lebih banyak di tempat pembuangan sampah sekolah.

Ia mendekati tumpukan kardus yang menggunung tersebut, dan terhenyak. Pikirannya melayang ke suatu peristiwa lampau dalam sidang dewan setan yang tak sengaja ia saksikan. Samin mencoba menghubungkan teka-teki pengalaman dirinya.

Akhirnya ia memutuskan membawa pulang semua kotak kardus berisikan makanan yang masih utuh tersebut. Dalam perjalanan menuju rumah, Samin melewati pengemis kecil yang tertidur di trotoar, ia meletakkan sebuah kardus di depannya.

Samin memasuki kawasan pembuangan sampah akhir. Bangunan-bangunan reyot dari seng dan kardus berjejer sepanjang gunung sampah rumah tangga. Beberapa laki-laki tua maupun muda terlihat mengorek-ngorek timbunan berbau busuk itu.

Dengan berjalan menyelinap, Samin berupaya menghampiri semua rumah yang masih tetangganya itu tanpa terlihat siapapun. Merogoh kardus makanan dari karung putih yang ia panggul, meletakkannya di tiap rumah yang ia datangi.

Menjelang sore, kala para penghuni kembali dari kerja memulung, mereka menemukan sekotak makanan itu di depan pintu rumahnya.

Esok dan hari demi hari sesudahnnya, Samin selalu mendatangi sekolah-sekolah dasar ataupun menengah dekat tempat tinggalnya untuk mengambil kotak makanan dari bak sampah mereka.

Di waktu yang sama pula ia sering berpapasan dengan makhluk-makhluk berwujud tidak karuan yang berkeliaran di sekitar sekolah. Mengikuti para pelajar ke sana kemari, bergelayut di bahu mereka, mencorongkan mulutnya ke wajah anak-anak manusia tersebut.

Terkadang setan-setan itu memergoki Samin yang sedang memperhatikan segala tingkah laku mereka, namun mereka tidak memperdulikannya. Samin pun tetap mengerjakan misinya sendiri.

Pengamen jalanan, pemulung, orang gila, pengemis dengan berbagai kostum boneka atau superhero ia berikan sekotak makanan secara sembunyi-sembunyi.

Samin terus menyusuri jalan raya, kampung-kampung kumuh, pasar nelayan, membagikan kardus-kardus makan siang gratis untuk tiap orang malang yang ia temui.

Tak terasa dirinya sampai di tepian laut. Teriakan laki-laki dan perempuan memancing perhatiannya. Samin mendekati kumpulan orang-orang di dermaga. Beberapa orang terlihat menarik sesosok tubuh dari dalam air. Tubuhnya tersangkut di kayu-kayu pancang dermaga.

Memasuki kerumunan lebih dekat, Samin menyaksikan jasad lelaki yang tengah diangkat itu sudah membengkak dan kulitnya membiru. Ia menangkap sekilas wajah orang mati tersebut. Wajahnya sendiri. [T]

Jakarta, 3 Februari 2025

  • KLIK untuk BACA cerpen lain
Buket Mawar Merah |  Cerpen Yuditeha
Go-Sex | Cerpen Sonhaji Abdullah
Masak Apa Hari Ini?   |   Cerpen Lanang Taji
Gendewa   |   Cerpen Dian Havivia
Tags: Cerpen
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Puisi-puisi Willy Fahmy Agiska  |  Alerta

Next Post

Berbahasa Bali dengan Cara Berpikir Bahasa Indonesia: Arah Perubahan atau Kepunahan?

Sarah Monica

Sarah Monica

Penulis dan peneliti. Buku antologi puisinya “Bangkitnya Kemurungan” (Yogyakarta, 2023) memperoleh penghargaan Anugerah Kawistara 2024 dari Balai Bahasa Provinsi Jawa Barat.

Related Posts

Penawar Letih Ghazali | Cerpen Made Bryan Mahararta

by Made Bryan Mahararta
September 27, 2026
0
Penawar Letih Ghazali | Cerpen Made Bryan Mahararta

GHAZALI menatap langit-langit rumah kecilnya bersama Bilqis sambil mendengarkan detik jam dinding yang seolah semakin keras tiap malam. Usianya kini...

Read moreDetails

Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

by Dodik Suprayogi
September 13, 2026
0
Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

MATAHARI kian meninggi di atas cakrawala, tetapi pelataran sekolah masih terasa lengang. Jarum jam sudah menunjukkan pukul delapan pagi, sementara...

Read moreDetails

Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

by Ahmad Sihabudin
September 12, 2026
0
Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

MALAM di rumah sakit selalu terasa lebih panjang daripada malam di tempat lain. Jarum jam di dinding ruang perawatan menunjukkan...

Read moreDetails

Lelaku Daun Jati Terakhir | Cerpen Nur Kamilia

by Nur Kamilia
September 6, 2026
0
Lelaku Daun Jati Terakhir | Cerpen Nur Kamilia

MUSIM kemarau di kampung kami tidak datang dengan membawa angin kering atau debu jalanan yang mengepul. Ia datang lewat suara...

Read moreDetails

Si Gending | Cerpen Nanda Gayatri

by Nanda Gayatri
September 5, 2026
0
Si Gending | Cerpen Nanda Gayatri

GENDING. Namanya didendangkan berulang kali di sudut-sudut perkumpulan warga di kompleks perumahan tempat aku tinggal. Ada yang bilang ia adalah...

Read moreDetails

Surat dari Pulau Seberang | Cerpen Ari Murdimanto

by Ari Murdimanto
August 30, 2026
0
Surat dari Pulau Seberang | Cerpen Ari Murdimanto

Sahabatku, Di tempatku yang baru kini, jauh dari pelukan kabut tebal dan wangi dupa Hyang Dwipa, aku sering duduk terdiam...

Read moreDetails

Sosok Misterius  |  Cerpen Asmaran Dani

by Asmaran Dani
August 16, 2026
0
Sosok Misterius  |  Cerpen Asmaran Dani

WARGA di Jalan XXX dibuat gempar sosok lelaki yang seperti sedang melakukan meditasi selama berbulan-bulan. Lelaki itu menghabiskan waktu dengan...

Read moreDetails

Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

by Khairul A. El Maliky
June 28, 2026
0
Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

HUJAN di Surabaya malam itu turun bukan sekadar membasahi aspal, melainkan seolah ingin menghapus jejak darah yang tumpah di lantai...

Read moreDetails

Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

by Sri Romdhoni Warta Kuncoro
June 26, 2026
0
Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

SETELAH perang Baratayudha Jayabinangun rampung dan darah terakhir mengering di padang Kurusetra, Semar menanggalkan pakaian pamomong para ksatria. Ia tidak...

Read moreDetails

Lubang | Cerpen Asmaran Dani

by Asmaran Dani
June 21, 2026
0
Lubang | Cerpen Asmaran Dani

LUBANG menjadi neraka jahanam yang membakar kehidupanku. Di mana saja, lubang selalu ada. Lubang pipet, lubang kloset, lubang tutup odol,...

Read moreDetails
Next Post
Berbahasa Bali dengan Cara Berpikir Bahasa Indonesia: Arah Perubahan atau Kepunahan?

Berbahasa Bali dengan Cara Berpikir Bahasa Indonesia: Arah Perubahan atau Kepunahan?

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

by Chusmeru
September 30, 2026
Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”
Budaya

Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”

TABANAN | TATKALA -- Dua pelajar muda asal Tabanan, Bali, I Putu Bagus Sastra Vedanta Wiyasa dan Ni Kadek Ayu...

by Rusdy Ulu
September 30, 2026
Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?
Opini

Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

PENDIDIKAN gratis kembali menjadi pembicaraan publik pasca Presiden Prabowo Subianto pada 18 September 2026 menyatakan komitmennya agar biaya pendidikan pada...

by Dini Nastiti Wardani
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co