23 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Misi Rahasia | Cerpen Sarah Monica

Sarah Monica by Sarah Monica
February 16, 2025
in Cerpen
Misi Rahasia | Cerpen Sarah Monica

Ilustrasi tatkala.co | Rusdy

AIR asin kepahitan itu menghantam wajahnya hingga hidung dan mulutnya yang setengah terbuka tersedak. Ia terbangun kaget, terbatuk-batuk dalam kondisi masih setengah sadar. Tangannya mengusap wajahnya yang berbuih dan berpasir, matanya terasa perih. Perlahan ia mengamati tubuh serta sekelilingnya, mencoba memahami apa yang terjadi.

Samar-samar ingatannya berkumpul, pemuda bertubuh kurus kering itu tadi sore sedang melepas lelah di pinggir pantai. Tanpa terasa, langit senja telah mengantarkan tidur yang panjang ke peraduan malam. Air laut sudah naik menyelimuti kakinya yang telanjang.

Di tengah keterkejutan karena hampir saja digulung ombak, Samin nama pemuda itu, mendengar sayup-sayup percakapan tanpa wujud. Suara yang timbul tenggelam dibawa hembusan angin laut.

Samin bangkit mencari sumber suara tersebut. Tangannya meraih karung plastik miliknya yang basah kuyup dijilat air laut. Ia berjalan menyusuri pasir, dingin menembus tulang. Makin keras, makin jelas, Samin memperlambat langkahnya, lebih memfokuskan lagi pendengarannya. Dari kejauhan ia melihat kabut merah di balik bebatuan karang.

Malam itu merupakan malam paling gulita, tanpa setitik pun cahaya bintang dan rembulan. Tetapi dari tempatnya bersembunyi, Samin menyaksikan sosok-sosok dalam bias kemerahan. Jantungnya berdegub nyaris meloncat keluar dari rongga dada.

Sebuah sidang sepertinya sedang berlangsung. Setan-setan dengan jubah dan lencana kebesaran memenuhi arena persidangan di tengah laut pekat nan senyap. Dari tempat Samin mengintip, makhluk-makhluk itu mengelilingi sebuah singgasana pembesar.

Sebagian berdiri di permukaan, menyembulkan kepala dari dalam air, ada pula yang melayang-layang, siap sedia mendengarkan arahan dan titah komandan tertinggi.

Mereka adalah seluruh perwakilan setan mulai tingkat kolonel hingga jenderal dipanggil dari berbagai penjuru daerah. Ada rapat besar untuk merespons agenda kebijakan terbaru pemerintahan manusia.

“Apapun rencana baik makhluk-makhluk bau tanah ini harus kita gagalkan!”

“Kuasai mereka! Kerdilkan mentalnya! Paham?!” gelegar setan yang duduk di singgasana. Tanduknya tegak jemawa di kepalanya yang tidak simetris.

“Ya! Lemahkan Jiwanya!” seru setan lain dari tengah kerumunan.

Gerombolan setan aneka bentuk riuh dengan geraman, desisan, lolongan, tawa melengking. Mengungkapkan persetujuan mereka.

Samin gemetaran sekujur tubuh. Ia ingin lari sejauh mungkin meninggalkan pemandangan itu, tapi kakinya tak kuasa, seolah terpaku di sana.

Pemimpin setan menyeringai senang, tiga matanya berkilat menyisir pandang ke para bawahan dan abdi setia di hadapannya.

“Siapkan semua anggota terbaik kalian di pusat kota maupun pelosok desa. Tempatkan mereka di tiap punggung manusia. Menjadi bayang-bayang mereka dalam segala aktivitas bangun dan tidur.”

“Pengaruhi dan hancurkan dari lubuk hati. Hihihi…” setan lain menyahut dari atas riak gelombang.

“Dan kerja mereka pun akan sia-sia,” celetuk setan berperut buncit berkepala anjing.

“Betul. Hahahaaa…” Sang komandan terbahak-bahak, diikuti gemuruh tawa dari seluruh anggota dewan sidang yang hadir.

Tawa mereka mengguncang ombak raksasa hingga membangunkan tidur makhluk-makhluk lain di kedalaman samudera. Tawa yang menyentak Samin, membuatnya terlempar tak sadarkan diri.

Sebersit sinar emas muncul di ufuk timur. Peserta sidang segera melesat hilang, menjalankan tugas di wilayah kekuasaan masing-masing.

*

“Dana itu besar sekali kan? Ambil saja sedikit untukmu, mereka tidak akan tahu.”

Hmm…benar juga. Aku sudah mengabdi pada negara, aku berhak mengambil bagian. Orang yang dibisiki itu membatin. Dia memindahkan sebagian uang ke salah satu rekening perusahaannya. Kemudian mengubah laporan keuangan yang ada.

“Lihat, harganya bermacam-macam. Pilih yang paling murah, biar keuntunganmu makin besar.”

Kalau aku tukar dengan yang lebih murah, mereka pun tidak akan tahu perbedaan kualitasnya. Pemuda itu pun berbelanja semua bahan pokok yang dibutuhkan dengan harga paling rendah.

“Kamu pasti lelah sudah bekerja dari subuh. Cepat selesaikan pekerjaanmu di dapur agar dapat segera beristirahat.”

Mengapa aku tiba-tiba mengantuk sekali ya. Barangkali perlu tidur sejenak. Tak lama ibu yang ditiup ubun-ubunnya itu menguap berkali-kali. Ia pun menyudahi kerjanya tanpa menyadari masakannya belum matang.

Di jantung kota maupun sudut-sudut desa, semua prajurit setan bergerak cepat penuh siasat melaksanakan misi mereka. Bisik sini, rayu sana, menggoyangkan hati, dan membuai khayal-khayal manusia.

Mereka sukses besar. Tiap kali berhasil memperdaya korbannya, setan-setan akan tertawa terpingkal-pingkal, melompat-lompat terbang, bahkan jungkir balik kegirangan.

*

“Yakin mau makan itu? Dari baunya saja sudah bikin kamu mual,” suara setan membisiki.

Kok sekarang diwajibkan makan siang di sekolah? Aku punya uang, aku bisa jajan makanan yang lebih enak. Anak kecil yang dirayu tersebut menatap lekat-lekat makanan di mejanya.

Dengan pandangan menyelidiki, ia lihat nasi kekuningan, sayur oseng yang kematangan, jeruk kempes, dan sepotong kecil ayam goreng. Dia mencuil ayamnya, daging dalamnya masih sedikit kemerahan dan agak berbau amis.

Dia melihat ke sekeliling. Diperhatikannya wajah teman-teman kelasnya, sebagian besar ekspresi mereka tidak jauh berbeda. Sedangkan sisanya melahap makanan mereka sambil berceracau dengan sesama.

“Buang saja makanan tersebut. Tidak akan ada yang melihat,” bisikan itu seakan berbicara dari aliran darahnya.

Si anak pura-pura menyelesaikan makannya, lalu bergegas keluar menuju belakang sekolah. Berusaha sebisa mungkin menghindari berpapasan dengan guru atau siswa lain.

Di tembok belakang yang berbatasan dengan tempat pembuangan sampah, bocah tersebut melemparkan kardus makan siangnya. Usai itu ia berlari ke arah kantin.

Setan cebol tingkatan kopral yang ditugasi pekerjaan ini menyaksikan hasil kerjanya dengan tertawa geli. Gigi tajam hitam menonjol dari mulutnya yang lebar. Bangga akan keberhasilannya menggoda anak-anak manusia.

Dari balik tembok, Samin yang sedang memulung botol plastik memperhatikan semua kejadian tersebut. Ia mengenali makhluk yang pernah ia lihat gerombolan jenisnya dari tepi laut beberapa waktu lalu.

Selepas mengganggu anak tadi, setan itu menempel ke anak yang lain dan membisiki hal yang sama. Terus seperti itu sepanjang jam istirahat sekolah.

Ketika sedang mendekati kotak kardus yang tadi dibuang anak pertama, Samin terkejut bukan main karena sebuah kotak kardus lain melayang nyaris menghantam wajahnya.

Ia mengintip kotak-kotak kardus di depannya. Beruntung isinya tidak jatuh dalam posisi terbalik.

Sekian detik ia berusaha mencerna apa yang terjadi, lantas menangis tersedu-sedu. Tangannya meraih kedua kardus makanan itu, mengambil penutupnya yang terlempar tidak begitu jauh, kemudian berjalan pulang dengan kantong sampah tersampir di bahu.

Dalam perjalanan ke rumah, tangisnya makin menjadi-jadi. Samin berpikir kadang hidup begitu tidak adil. Ada orang-orang untuk sekadar mencari makan, mereka harus bergumul setengah mati mengaduk sampah. Namun orang lainnya begitu mudah membuang-buang makanan mereka.

Di sisi lain, tangisan Samin juga menyelipkan rasa malu pada Tuhan. Sudah seminggu anaknya terbaring dengan panas tinggi, mengigau tiap malam ingin makan daging ayam.

Siang ini Tuhan menjawab doanya, ia bisa pulang membawakan makanan tersebut untuk anak istrinya.

*

Keesokan hari Samin melewati jalan yang sama, saat matanya menangkap pemandangan tidak biasa. Kali ini kotak-kotak kardus menumpuk lebih banyak di tempat pembuangan sampah sekolah.

Ia mendekati tumpukan kardus yang menggunung tersebut, dan terhenyak. Pikirannya melayang ke suatu peristiwa lampau dalam sidang dewan setan yang tak sengaja ia saksikan. Samin mencoba menghubungkan teka-teki pengalaman dirinya.

Akhirnya ia memutuskan membawa pulang semua kotak kardus berisikan makanan yang masih utuh tersebut. Dalam perjalanan menuju rumah, Samin melewati pengemis kecil yang tertidur di trotoar, ia meletakkan sebuah kardus di depannya.

Samin memasuki kawasan pembuangan sampah akhir. Bangunan-bangunan reyot dari seng dan kardus berjejer sepanjang gunung sampah rumah tangga. Beberapa laki-laki tua maupun muda terlihat mengorek-ngorek timbunan berbau busuk itu.

Dengan berjalan menyelinap, Samin berupaya menghampiri semua rumah yang masih tetangganya itu tanpa terlihat siapapun. Merogoh kardus makanan dari karung putih yang ia panggul, meletakkannya di tiap rumah yang ia datangi.

Menjelang sore, kala para penghuni kembali dari kerja memulung, mereka menemukan sekotak makanan itu di depan pintu rumahnya.

Esok dan hari demi hari sesudahnnya, Samin selalu mendatangi sekolah-sekolah dasar ataupun menengah dekat tempat tinggalnya untuk mengambil kotak makanan dari bak sampah mereka.

Di waktu yang sama pula ia sering berpapasan dengan makhluk-makhluk berwujud tidak karuan yang berkeliaran di sekitar sekolah. Mengikuti para pelajar ke sana kemari, bergelayut di bahu mereka, mencorongkan mulutnya ke wajah anak-anak manusia tersebut.

Terkadang setan-setan itu memergoki Samin yang sedang memperhatikan segala tingkah laku mereka, namun mereka tidak memperdulikannya. Samin pun tetap mengerjakan misinya sendiri.

Pengamen jalanan, pemulung, orang gila, pengemis dengan berbagai kostum boneka atau superhero ia berikan sekotak makanan secara sembunyi-sembunyi.

Samin terus menyusuri jalan raya, kampung-kampung kumuh, pasar nelayan, membagikan kardus-kardus makan siang gratis untuk tiap orang malang yang ia temui.

Tak terasa dirinya sampai di tepian laut. Teriakan laki-laki dan perempuan memancing perhatiannya. Samin mendekati kumpulan orang-orang di dermaga. Beberapa orang terlihat menarik sesosok tubuh dari dalam air. Tubuhnya tersangkut di kayu-kayu pancang dermaga.

Memasuki kerumunan lebih dekat, Samin menyaksikan jasad lelaki yang tengah diangkat itu sudah membengkak dan kulitnya membiru. Ia menangkap sekilas wajah orang mati tersebut. Wajahnya sendiri. [T]

Jakarta, 3 Februari 2025

  • KLIK untuk BACA cerpen lain
Buket Mawar Merah |  Cerpen Yuditeha
Go-Sex | Cerpen Sonhaji Abdullah
Masak Apa Hari Ini?   |   Cerpen Lanang Taji
Gendewa   |   Cerpen Dian Havivia
Tags: Cerpen
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Puisi-puisi Willy Fahmy Agiska  |  Alerta

Next Post

Berbahasa Bali dengan Cara Berpikir Bahasa Indonesia: Arah Perubahan atau Kepunahan?

Sarah Monica

Sarah Monica

Penulis dan peneliti. Buku antologi puisinya “Bangkitnya Kemurungan” (Yogyakarta, 2023) memperoleh penghargaan Anugerah Kawistara 2024 dari Balai Bahasa Provinsi Jawa Barat.

Related Posts

Sang Penunggang Botol Bensin | Cerpen Sigit Susanto

by Sigit Susanto
October 18, 2026
0
Sang Penunggang Botol Bensin | Cerpen Sigit Susanto

“Bensin, bensin, cukup tiga puluh ribu satu botol,” seru suara Made Budija dari atas. Seorang anak muda berseragam cokelat sedang...

Read moreDetails

Penawar Letih Ghazali | Cerpen Made Bryan Mahararta

by Made Bryan Mahararta
September 27, 2026
0
Penawar Letih Ghazali | Cerpen Made Bryan Mahararta

GHAZALI menatap langit-langit rumah kecilnya bersama Bilqis sambil mendengarkan detik jam dinding yang seolah semakin keras tiap malam. Usianya kini...

Read moreDetails

Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

by Dodik Suprayogi
September 13, 2026
0
Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

MATAHARI kian meninggi di atas cakrawala, tetapi pelataran sekolah masih terasa lengang. Jarum jam sudah menunjukkan pukul delapan pagi, sementara...

Read moreDetails

Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

by Ahmad Sihabudin
September 12, 2026
0
Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

MALAM di rumah sakit selalu terasa lebih panjang daripada malam di tempat lain. Jarum jam di dinding ruang perawatan menunjukkan...

Read moreDetails

Lelaku Daun Jati Terakhir | Cerpen Nur Kamilia

by Nur Kamilia
September 6, 2026
0
Lelaku Daun Jati Terakhir | Cerpen Nur Kamilia

MUSIM kemarau di kampung kami tidak datang dengan membawa angin kering atau debu jalanan yang mengepul. Ia datang lewat suara...

Read moreDetails

Si Gending | Cerpen Nanda Gayatri

by Nanda Gayatri
September 5, 2026
0
Si Gending | Cerpen Nanda Gayatri

GENDING. Namanya didendangkan berulang kali di sudut-sudut perkumpulan warga di kompleks perumahan tempat aku tinggal. Ada yang bilang ia adalah...

Read moreDetails

Surat dari Pulau Seberang | Cerpen Ari Murdimanto

by Ari Murdimanto
August 30, 2026
0
Surat dari Pulau Seberang | Cerpen Ari Murdimanto

Sahabatku, Di tempatku yang baru kini, jauh dari pelukan kabut tebal dan wangi dupa Hyang Dwipa, aku sering duduk terdiam...

Read moreDetails

Sosok Misterius  |  Cerpen Asmaran Dani

by Asmaran Dani
August 16, 2026
0
Sosok Misterius  |  Cerpen Asmaran Dani

WARGA di Jalan XXX dibuat gempar sosok lelaki yang seperti sedang melakukan meditasi selama berbulan-bulan. Lelaki itu menghabiskan waktu dengan...

Read moreDetails

Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

by Khairul A. El Maliky
June 28, 2026
0
Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

HUJAN di Surabaya malam itu turun bukan sekadar membasahi aspal, melainkan seolah ingin menghapus jejak darah yang tumpah di lantai...

Read moreDetails

Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

by Sri Romdhoni Warta Kuncoro
June 26, 2026
0
Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

SETELAH perang Baratayudha Jayabinangun rampung dan darah terakhir mengering di padang Kurusetra, Semar menanggalkan pakaian pamomong para ksatria. Ia tidak...

Read moreDetails
Next Post
Berbahasa Bali dengan Cara Berpikir Bahasa Indonesia: Arah Perubahan atau Kepunahan?

Berbahasa Bali dengan Cara Berpikir Bahasa Indonesia: Arah Perubahan atau Kepunahan?

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.
Ulas Buku

Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.

SUNGGUH beruntung, saya mendapatkan buku Karya Visual dengan Multi Sensorik karya IB Putra Adnyana ini. Meski baru sampai bab III...

by Hartanto
October 21, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

by Chusmeru
October 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co