23 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Misi Rahasia | Cerpen Sarah Monica

Sarah Monica by Sarah Monica
February 16, 2025
in Cerpen
Misi Rahasia | Cerpen Sarah Monica

Ilustrasi tatkala.co | Rusdy

AIR asin kepahitan itu menghantam wajahnya hingga hidung dan mulutnya yang setengah terbuka tersedak. Ia terbangun kaget, terbatuk-batuk dalam kondisi masih setengah sadar. Tangannya mengusap wajahnya yang berbuih dan berpasir, matanya terasa perih. Perlahan ia mengamati tubuh serta sekelilingnya, mencoba memahami apa yang terjadi.

Samar-samar ingatannya berkumpul, pemuda bertubuh kurus kering itu tadi sore sedang melepas lelah di pinggir pantai. Tanpa terasa, langit senja telah mengantarkan tidur yang panjang ke peraduan malam. Air laut sudah naik menyelimuti kakinya yang telanjang.

Di tengah keterkejutan karena hampir saja digulung ombak, Samin nama pemuda itu, mendengar sayup-sayup percakapan tanpa wujud. Suara yang timbul tenggelam dibawa hembusan angin laut.

Samin bangkit mencari sumber suara tersebut. Tangannya meraih karung plastik miliknya yang basah kuyup dijilat air laut. Ia berjalan menyusuri pasir, dingin menembus tulang. Makin keras, makin jelas, Samin memperlambat langkahnya, lebih memfokuskan lagi pendengarannya. Dari kejauhan ia melihat kabut merah di balik bebatuan karang.

Malam itu merupakan malam paling gulita, tanpa setitik pun cahaya bintang dan rembulan. Tetapi dari tempatnya bersembunyi, Samin menyaksikan sosok-sosok dalam bias kemerahan. Jantungnya berdegub nyaris meloncat keluar dari rongga dada.

Sebuah sidang sepertinya sedang berlangsung. Setan-setan dengan jubah dan lencana kebesaran memenuhi arena persidangan di tengah laut pekat nan senyap. Dari tempat Samin mengintip, makhluk-makhluk itu mengelilingi sebuah singgasana pembesar.

Sebagian berdiri di permukaan, menyembulkan kepala dari dalam air, ada pula yang melayang-layang, siap sedia mendengarkan arahan dan titah komandan tertinggi.

Mereka adalah seluruh perwakilan setan mulai tingkat kolonel hingga jenderal dipanggil dari berbagai penjuru daerah. Ada rapat besar untuk merespons agenda kebijakan terbaru pemerintahan manusia.

“Apapun rencana baik makhluk-makhluk bau tanah ini harus kita gagalkan!”

“Kuasai mereka! Kerdilkan mentalnya! Paham?!” gelegar setan yang duduk di singgasana. Tanduknya tegak jemawa di kepalanya yang tidak simetris.

“Ya! Lemahkan Jiwanya!” seru setan lain dari tengah kerumunan.

Gerombolan setan aneka bentuk riuh dengan geraman, desisan, lolongan, tawa melengking. Mengungkapkan persetujuan mereka.

Samin gemetaran sekujur tubuh. Ia ingin lari sejauh mungkin meninggalkan pemandangan itu, tapi kakinya tak kuasa, seolah terpaku di sana.

Pemimpin setan menyeringai senang, tiga matanya berkilat menyisir pandang ke para bawahan dan abdi setia di hadapannya.

“Siapkan semua anggota terbaik kalian di pusat kota maupun pelosok desa. Tempatkan mereka di tiap punggung manusia. Menjadi bayang-bayang mereka dalam segala aktivitas bangun dan tidur.”

“Pengaruhi dan hancurkan dari lubuk hati. Hihihi…” setan lain menyahut dari atas riak gelombang.

“Dan kerja mereka pun akan sia-sia,” celetuk setan berperut buncit berkepala anjing.

“Betul. Hahahaaa…” Sang komandan terbahak-bahak, diikuti gemuruh tawa dari seluruh anggota dewan sidang yang hadir.

Tawa mereka mengguncang ombak raksasa hingga membangunkan tidur makhluk-makhluk lain di kedalaman samudera. Tawa yang menyentak Samin, membuatnya terlempar tak sadarkan diri.

Sebersit sinar emas muncul di ufuk timur. Peserta sidang segera melesat hilang, menjalankan tugas di wilayah kekuasaan masing-masing.

*

“Dana itu besar sekali kan? Ambil saja sedikit untukmu, mereka tidak akan tahu.”

Hmm…benar juga. Aku sudah mengabdi pada negara, aku berhak mengambil bagian. Orang yang dibisiki itu membatin. Dia memindahkan sebagian uang ke salah satu rekening perusahaannya. Kemudian mengubah laporan keuangan yang ada.

“Lihat, harganya bermacam-macam. Pilih yang paling murah, biar keuntunganmu makin besar.”

Kalau aku tukar dengan yang lebih murah, mereka pun tidak akan tahu perbedaan kualitasnya. Pemuda itu pun berbelanja semua bahan pokok yang dibutuhkan dengan harga paling rendah.

“Kamu pasti lelah sudah bekerja dari subuh. Cepat selesaikan pekerjaanmu di dapur agar dapat segera beristirahat.”

Mengapa aku tiba-tiba mengantuk sekali ya. Barangkali perlu tidur sejenak. Tak lama ibu yang ditiup ubun-ubunnya itu menguap berkali-kali. Ia pun menyudahi kerjanya tanpa menyadari masakannya belum matang.

Di jantung kota maupun sudut-sudut desa, semua prajurit setan bergerak cepat penuh siasat melaksanakan misi mereka. Bisik sini, rayu sana, menggoyangkan hati, dan membuai khayal-khayal manusia.

Mereka sukses besar. Tiap kali berhasil memperdaya korbannya, setan-setan akan tertawa terpingkal-pingkal, melompat-lompat terbang, bahkan jungkir balik kegirangan.

*

“Yakin mau makan itu? Dari baunya saja sudah bikin kamu mual,” suara setan membisiki.

Kok sekarang diwajibkan makan siang di sekolah? Aku punya uang, aku bisa jajan makanan yang lebih enak. Anak kecil yang dirayu tersebut menatap lekat-lekat makanan di mejanya.

Dengan pandangan menyelidiki, ia lihat nasi kekuningan, sayur oseng yang kematangan, jeruk kempes, dan sepotong kecil ayam goreng. Dia mencuil ayamnya, daging dalamnya masih sedikit kemerahan dan agak berbau amis.

Dia melihat ke sekeliling. Diperhatikannya wajah teman-teman kelasnya, sebagian besar ekspresi mereka tidak jauh berbeda. Sedangkan sisanya melahap makanan mereka sambil berceracau dengan sesama.

“Buang saja makanan tersebut. Tidak akan ada yang melihat,” bisikan itu seakan berbicara dari aliran darahnya.

Si anak pura-pura menyelesaikan makannya, lalu bergegas keluar menuju belakang sekolah. Berusaha sebisa mungkin menghindari berpapasan dengan guru atau siswa lain.

Di tembok belakang yang berbatasan dengan tempat pembuangan sampah, bocah tersebut melemparkan kardus makan siangnya. Usai itu ia berlari ke arah kantin.

Setan cebol tingkatan kopral yang ditugasi pekerjaan ini menyaksikan hasil kerjanya dengan tertawa geli. Gigi tajam hitam menonjol dari mulutnya yang lebar. Bangga akan keberhasilannya menggoda anak-anak manusia.

Dari balik tembok, Samin yang sedang memulung botol plastik memperhatikan semua kejadian tersebut. Ia mengenali makhluk yang pernah ia lihat gerombolan jenisnya dari tepi laut beberapa waktu lalu.

Selepas mengganggu anak tadi, setan itu menempel ke anak yang lain dan membisiki hal yang sama. Terus seperti itu sepanjang jam istirahat sekolah.

Ketika sedang mendekati kotak kardus yang tadi dibuang anak pertama, Samin terkejut bukan main karena sebuah kotak kardus lain melayang nyaris menghantam wajahnya.

Ia mengintip kotak-kotak kardus di depannya. Beruntung isinya tidak jatuh dalam posisi terbalik.

Sekian detik ia berusaha mencerna apa yang terjadi, lantas menangis tersedu-sedu. Tangannya meraih kedua kardus makanan itu, mengambil penutupnya yang terlempar tidak begitu jauh, kemudian berjalan pulang dengan kantong sampah tersampir di bahu.

Dalam perjalanan ke rumah, tangisnya makin menjadi-jadi. Samin berpikir kadang hidup begitu tidak adil. Ada orang-orang untuk sekadar mencari makan, mereka harus bergumul setengah mati mengaduk sampah. Namun orang lainnya begitu mudah membuang-buang makanan mereka.

Di sisi lain, tangisan Samin juga menyelipkan rasa malu pada Tuhan. Sudah seminggu anaknya terbaring dengan panas tinggi, mengigau tiap malam ingin makan daging ayam.

Siang ini Tuhan menjawab doanya, ia bisa pulang membawakan makanan tersebut untuk anak istrinya.

*

Keesokan hari Samin melewati jalan yang sama, saat matanya menangkap pemandangan tidak biasa. Kali ini kotak-kotak kardus menumpuk lebih banyak di tempat pembuangan sampah sekolah.

Ia mendekati tumpukan kardus yang menggunung tersebut, dan terhenyak. Pikirannya melayang ke suatu peristiwa lampau dalam sidang dewan setan yang tak sengaja ia saksikan. Samin mencoba menghubungkan teka-teki pengalaman dirinya.

Akhirnya ia memutuskan membawa pulang semua kotak kardus berisikan makanan yang masih utuh tersebut. Dalam perjalanan menuju rumah, Samin melewati pengemis kecil yang tertidur di trotoar, ia meletakkan sebuah kardus di depannya.

Samin memasuki kawasan pembuangan sampah akhir. Bangunan-bangunan reyot dari seng dan kardus berjejer sepanjang gunung sampah rumah tangga. Beberapa laki-laki tua maupun muda terlihat mengorek-ngorek timbunan berbau busuk itu.

Dengan berjalan menyelinap, Samin berupaya menghampiri semua rumah yang masih tetangganya itu tanpa terlihat siapapun. Merogoh kardus makanan dari karung putih yang ia panggul, meletakkannya di tiap rumah yang ia datangi.

Menjelang sore, kala para penghuni kembali dari kerja memulung, mereka menemukan sekotak makanan itu di depan pintu rumahnya.

Esok dan hari demi hari sesudahnnya, Samin selalu mendatangi sekolah-sekolah dasar ataupun menengah dekat tempat tinggalnya untuk mengambil kotak makanan dari bak sampah mereka.

Di waktu yang sama pula ia sering berpapasan dengan makhluk-makhluk berwujud tidak karuan yang berkeliaran di sekitar sekolah. Mengikuti para pelajar ke sana kemari, bergelayut di bahu mereka, mencorongkan mulutnya ke wajah anak-anak manusia tersebut.

Terkadang setan-setan itu memergoki Samin yang sedang memperhatikan segala tingkah laku mereka, namun mereka tidak memperdulikannya. Samin pun tetap mengerjakan misinya sendiri.

Pengamen jalanan, pemulung, orang gila, pengemis dengan berbagai kostum boneka atau superhero ia berikan sekotak makanan secara sembunyi-sembunyi.

Samin terus menyusuri jalan raya, kampung-kampung kumuh, pasar nelayan, membagikan kardus-kardus makan siang gratis untuk tiap orang malang yang ia temui.

Tak terasa dirinya sampai di tepian laut. Teriakan laki-laki dan perempuan memancing perhatiannya. Samin mendekati kumpulan orang-orang di dermaga. Beberapa orang terlihat menarik sesosok tubuh dari dalam air. Tubuhnya tersangkut di kayu-kayu pancang dermaga.

Memasuki kerumunan lebih dekat, Samin menyaksikan jasad lelaki yang tengah diangkat itu sudah membengkak dan kulitnya membiru. Ia menangkap sekilas wajah orang mati tersebut. Wajahnya sendiri. [T]

Jakarta, 3 Februari 2025

  • KLIK untuk BACA cerpen lain
Buket Mawar Merah |  Cerpen Yuditeha
Go-Sex | Cerpen Sonhaji Abdullah
Masak Apa Hari Ini?   |   Cerpen Lanang Taji
Gendewa   |   Cerpen Dian Havivia
Tags: Cerpen
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Puisi-puisi Willy Fahmy Agiska  |  Alerta

Next Post

Berbahasa Bali dengan Cara Berpikir Bahasa Indonesia: Arah Perubahan atau Kepunahan?

Sarah Monica

Sarah Monica

Penulis dan peneliti. Buku antologi puisinya “Bangkitnya Kemurungan” (Yogyakarta, 2023) memperoleh penghargaan Anugerah Kawistara 2024 dari Balai Bahasa Provinsi Jawa Barat.

Related Posts

Sosok Misterius  |  Cerpen Asmaran Dani

by Asmaran Dani
August 16, 2026
0
Sosok Misterius  |  Cerpen Asmaran Dani

WARGA di Jalan XXX dibuat gempar sosok lelaki yang seperti sedang melakukan meditasi selama berbulan-bulan. Lelaki itu menghabiskan waktu dengan...

Read moreDetails

Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

by Khairul A. El Maliky
June 28, 2026
0
Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

HUJAN di Surabaya malam itu turun bukan sekadar membasahi aspal, melainkan seolah ingin menghapus jejak darah yang tumpah di lantai...

Read moreDetails

Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

by Sri Romdhoni Warta Kuncoro
June 26, 2026
0
Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

SETELAH perang Baratayudha Jayabinangun rampung dan darah terakhir mengering di padang Kurusetra, Semar menanggalkan pakaian pamomong para ksatria. Ia tidak...

Read moreDetails

Lubang | Cerpen Asmaran Dani

by Asmaran Dani
June 21, 2026
0
Lubang | Cerpen Asmaran Dani

LUBANG menjadi neraka jahanam yang membakar kehidupanku. Di mana saja, lubang selalu ada. Lubang pipet, lubang kloset, lubang tutup odol,...

Read moreDetails

Barong yang Memakan Tuan | Cerpen Aksara Caramellia

by Aksara Caramellia
June 20, 2026
0
Barong yang Memakan Tuan | Cerpen Aksara Caramellia

DARAH itu bukan milik kurban, melainkan milik kesabaran yang sudah lama membusuk di bawah tapel kayu pulai. Sejak kecil aku...

Read moreDetails

Kebun yang Tak Pernah Ditanami | Cerpen Dodik Suprayogi

by Dodik Suprayogi
June 14, 2026
0
Kebun yang Tak Pernah Ditanami | Cerpen Dodik Suprayogi

TERDAPAT petak tanah di samping rumah yang selalu membuat tetangga gatal ingin berkomentar. "Sayang sekali, Bram, tanah sesubur ini dibiarkan...

Read moreDetails

Metode Khusus bagi Ann yang Cantik | Cerpen Bella Paring Gusti

by Bella Paring Gusti
June 13, 2026
0
Metode Khusus bagi Ann yang Cantik | Cerpen Bella Paring Gusti

“Cause there’ll be no sunlight if I lose you, baby … there’ll be no clear skies if I lose you,...

Read moreDetails

Mbak Erna | Cerpen Krisogonus Kusman

by Krisogonus Kusman
June 7, 2026
0
Mbak Erna | Cerpen Krisogonus Kusman

DALAM keluarganya, Mbak Erna adalah anak pertama dari empat bersaudara. Ketiga adiknya laki-laki; adik kedua kelas XII yang hampir lulus,...

Read moreDetails

Di Dada Penjaga, Aku Pernah Dicintai | Cerpen Ahmad Sihabudin

by Ahmad Sihabudin
June 6, 2026
0
Di Dada Penjaga, Aku Pernah Dicintai | Cerpen Ahmad Sihabudin

KABUT turun seperti tirai sutra yang disobek dari langit. Pagi itu, udara di kaki Gunung Cikurai tidak sekadar dingin; ia...

Read moreDetails

Dunia Tidak Berutang Bentuk pada Harapanmu | Cerpen Wayan Gde Yudane

by Wayan Gde Yudane
June 6, 2026
0
Dunia Tidak Berutang Bentuk pada Harapanmu | Cerpen Wayan Gde Yudane

JANU datang ke Bali dengan koper besar, tiga buku filsafat yang belum selesai dibaca, dan keyakinan yang jauh lebih besar...

Read moreDetails
Next Post
Berbahasa Bali dengan Cara Berpikir Bahasa Indonesia: Arah Perubahan atau Kepunahan?

Berbahasa Bali dengan Cara Berpikir Bahasa Indonesia: Arah Perubahan atau Kepunahan?

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [4]: Kerumunan yang Tidak Bisa Dibaca

PADA 2010, sebuah platform bernama Nulisbuku.com mulai beroperasi dengan premis yang terdengar sangat sederhana sekaligus sangat radikal: siapa pun bisa...

by Andre Syahreza
August 22, 2026
Renungan Meja Makan
Esai

Renungan Meja Makan

DI banyak keluarga Indonesia, dulu, meja makan adalah tempat bersama untuk mengobrol, bertukar pikiran, atau berdiskusi sambil atau usai makan....

by Angga Wijaya
August 22, 2026
Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native
Esai

Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native

DIGITAL NATIVE, yaitu generasi yang tumbuh dalam lingkungan yang akrab dengan teknologi digital. Mereka terbiasa memperoleh informasi melalui mesin pencari,...

by I Ketut Suar Adnyana
August 22, 2026
Jaga Ekosistem Alam dan Lingkungan di Buleleng, Wabup Supriatna Lepaskan Tukik dan Bersihkan Saluran di Pantai Banjar
Lingkungan

Jaga Ekosistem Alam dan Lingkungan di Buleleng, Wabup Supriatna Lepaskan Tukik dan Bersihkan Saluran di Pantai Banjar

PEMERINTAH Kabupaten (Pemkab) Buleleng terus menguatkan komitmen terhadap pelestarian lingkungan melalui kegiatan Bersih Pantai dan Pelepasan Tukik di Pantai Banjar,...

by tatkala
August 21, 2026
Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata
Esai

Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata

BALI selama ini dibayangkan sebagai ruang sosial yang hangat, terbuka, dan penuh keramahan. Gambaran tentang orang Bali yang murah senyum,...

by I Ketut Suar Adnyana
August 21, 2026
Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [3]: Melayani Pembaca: Ketika Penulis Berhenti Memimpin

SESUATU bergeser setelah Ayat-Ayat Cinta menjadi fenomena nasional yang mengubah lanskap penerbitan Indonesia. Ayat-Ayat Cinta terbit pada 2004, segera menjadi...

by Andre Syahreza
August 22, 2026
Dari Makam Ki Hadjar Dewantara sampai Candi Prambanan
Tualang

Dari Makam Ki Hadjar Dewantara sampai Candi Prambanan

SAYA tidak merencanakan bahwa ketika kembali ke Bali melalui Bandara Yogyakarta International Airport (YIA), Kulon Progo, dari Kota Yogyakarta, saya...

by I Nyoman Tingkat
August 21, 2026
Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang
Esai

Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang

ADA kalanya sebuah sekolah menjadi tempat berlangsungnya sebuah kegiatan. Tetapi ada kalanya pula, sekolah justru menjadi bagian dari pesan yang...

by I Wayan Yudana
August 21, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Lomba Tujuhbelasan dan Pertanyaan tentang Kemerdekaan yang Kita Rayakan

---Kemerdekaan bukan hanya sesuatu yang diproklamasikan dan diperingati, tetapi sesuatu yang seharusnya dapat dialami manusia dalam kehidupan sehari-hari. PADA suatu...

by Tri Nugroho Adi
August 21, 2026
JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?
Esai

JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?

SAAT tulisan ini dibuat, JIA Curated mungkin sedang melaksanakan acara penutupan. Pamerannya sendiri berlangsung sejak tanggal 13 Agustus sampai 17...

by I Nyoman Gede Maha Putra
August 21, 2026
Buleleng Punya Kekayaan Sumber Daya Pangan Melimpah sebagai Modal Utama Melakukan Inovasi Pangan Lokal
Ekonomi

Buleleng Punya Kekayaan Sumber Daya Pangan Melimpah sebagai Modal Utama Melakukan Inovasi Pangan Lokal

BULELENG | TATKALA – Kabupaten Buleleng memiliki kekayaan sumber daya pangan yang melimpah. Mulai dari umbi-umbian, buah-buahan, hasil pertanian, peternakan,...

by tatkala
August 20, 2026
Sugi Lanus Bedah Akar “Brain Drain” dan Masa Depan Talenta Bali Utara di Buleleng Festival 2026
Khas

Sugi Lanus Bedah Akar “Brain Drain” dan Masa Depan Talenta Bali Utara di Buleleng Festival 2026

Masa depan sumber daya manusia di Bali Utara menjadi salah satu isu yang mengemuka dalam rangkaian agenda budaya tahunan Buleleng...

by Komang Puja Savitri
August 20, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co