25 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Gendewa   |   Cerpen Dian Havivia

Dian Havivia by Dian Havivia
January 26, 2025
in Cerpen
Gendewa   |   Cerpen Dian Havivia

Ilustrasi tatkala.co | Rusdy

KALAU mau mendengar suara tiupan sangkakala, buatlah Gendewa marah, demikian orang-orang berkata. Namun, selama berteman dengannya, aku belum pernah mendengarnya bicara apalagi sampai marah-marah. Hanya suara desis-desis aneh yang keluar dari lubang mulut dan hidungnya.

Aku dan Gendewa lahir pada tahun yang sama, pada hari ketika alam semesta sedang buruk perangainya. Ombak tiba-tiba mengamuk, menghambur ke rumah-rumah lalu menyeretnya ke tengah laut. Banyak orang mati tanpa dikuburkan. Sedangkan pada waktu bersamaan, ibuku dan ibu Gendewa sedang mati-matian mengeluarkan kami dari rahim mereka masing-masing. Akan tetapi, setelah kami lahir, hanya Gendewa yang disangkut-pautkan dengan perangai alam semesta itu. Bukan apa-apa, saat itu memang tersiar kabar bahwa Gendewa adalah anak haram. Ibunya melakukan hubungan terlarang dengan seorang laki-laki bernama Imam Hasan yang bekerja di proyek tambang pasir. Orang-orang tahu, Imam Hasan adalah pemimpin proyek tambang pasir itu. Seringkali orang-orang mencuri kesempatan untuk menggebuk Imam Hasan saat mereka melakukan perlawanan menolak pengerukan pasir di dekat permukiman mereka. Meski demikian, Imam Hasan bukan orang bodoh. Ia menggunakan jabatannya dengan sewenang-wenang untuk balas menggebuk orang-orang itu. Pengerukan pasir yang semula dilakukan dengan takaran yang legal sekali dalam beberapa hari berubah menjadi dilakukan setiap hari. Itulah sebabnya bencana alam kerap terjadi dan memaksa orang-orang mengungsi.

Tak hanya itu, Imam Hasan juga gemar merendam anak-anak di pembuangan tinja dan mengencingi mereka. Ia juga mencampakkan Ibu Gendewa begitu saja.

Mungkin karena Gendewa tak lain adalah anak Imam Hasan, orang-orang jadi turut membencinya.

Kebenciaan itu semakin menjadi-jadi saat orang-orang melihat tumbuh kembang Gendewa yang tidak seperti bayi pada umumnya. Pada saat berusia satu bulan, tubuh Gendewa membengkak seperti bayi gajah yang berusia sebelas bulan. Pun, ketika ia memasuki usia remaja, tubuhnya semakin membengkak seperti tubuh sebelas gajah dewasa yang disatukan. Meski demikian banyak perempuan yang punya bayi tergerak untuk menyusuinya. Namun, dalam sekali teguk air susu perempuan-perempuan itu langsung terkuras habis, termasuk air susu ibuku yang akhirnya membuatnya berhenti menyusuiku.

Pada tiap tengah bulan sebelas, orang-orang sudah siap mengungsi. Tidak semua, memang. Ada juga yang tak mau mengungsi. Bukan karena mereka pemberani, melainkan karena mereka  tidak punya sanak saudara untuk ditumpangi atau tidak punya uang untuk membayar lahan pengungsian. Sebagai gantinya mereka memaki-maki Gendewa sambil mengumpulkan potongan-potongan kayu atau bambu untuk melindungi rumah mereka dari amukan ombak.

Bapakku sendiri akan mengikat sampannya di samping rumah, kemudian membantu aku dan ibuku membawa barang-barang. Sebelum meninggalkan pesisir, sejenak ibuku akan menatap sampan itu, dan berkata kepada bapakku:

‘’Semoga sampan itu tetap di sana sampai bencana lewat, ya, Pak. Agar kita tidak membeli lagi.’’

Suatu waktu, pada situasi seperti itu, aku sengaja menghampiri Gendewa yang sedang berbaring di pasir pantai. Tubuh raksasanya teronggok bagai batu karang. Aku berjinjit naik ke pergelangan tangannya, kemudian memanjat tubuhnya, dan bergelantungan di batang hidungnya yang kembang-kempis. Dari atas tubuhnya seolah-olah aku bisa melihat luasnya dunia.

Aku melirik ke arah bola matanya yang besar seperti planet. Gendewa melepas pandangannya jauh ke laut yang keruh. Sorot matanya ikut keruh. Seperti biasa aku berbicara banyak hal kepadanya. Gendewa sama sekali tidak menanggapi. Ia hanya mengeluarkan suara berdesis. Akan tetapi, aku yakin, ia sungguh-sungguh mendengarkan apa yang kukatakan dan mengerti apa yang kubicarakan.

Namun, hari itu, Gendewa membuka mulutnya, mengeluarkan suara, dan menjawab pertanyaanku. Aku terkejut sehingga membuatku terperosot dari hidungnya.

‘’Itu tulang-tulang manusia,’’ ucapnya. Aku terduduk di atas pahanya.

Gendewa mengangkat tangannya dan menunjuk ke kiri. Ia berkata: ‘’Kuburan di sana terbawa arus. Mungkin salah satu tulang itu adalah tulang ibuku.’’

‘’Sungguh?’’ tanyaku tercengang. ‘’Bagaimana bisa laut yang bersih dalam sekejap jadi keruh dan ombak yang lembut dalam sekejap jadi ganas sampai-sampai kuburan juga ikut terbawa arus? Apakah kau heran seperti aku juga heran?’’

Gendewa diam. Hampir saja aku berpikir bahwa aku tak akan lagi mendengar suaranya, tiba-tiba tangan kanannya mencapit tubuhku kemudian diletakkan di pundaknya. ‘’Kau tahu Imam Hasan?’’ tanyanya. Pertanyaan yang membuatku sedikit kikuk.

Aku membalas: ‘’Iya. Tapi aku cuma tahu namanya. Aku tidak tahu orangnya.’’

‘’Iya, itu. Aku juga cuma tahu namanya, juga perbuatan sewenang-wenangnya yang kudengar dari cerita orang.’’ Gendewa mengembuskan napas berat, membuat pasir-pasir basah bertebaran. ‘’Imam Hasan ke sini karena mengetahui kondisi pesisir yang dangkal. Kemudian dia coba keruk.’’

Aku hendak mengatakan bahwa Imam Hasan adalah bapaknya, tapi cepat-cepat kuurungkan.

‘’Lalu apa hubungannya dengan laut yang keruh dan ombak yang ganas?’’

‘’Yang jelas tidak ada sangkut-pautnya dengan kelahiranku.’’

Aku diam. Sedikit kaget mendengar balasannya. Aku tidak berani bertanya apa-apa lagi. Aku hanya mendengarkannya bicara mengenai orangtuaku yang mau merawatnya dan menanggung makan dan minumnya. Dari pundak Gendewa, aku melihat orang-orang yang tidak mengungsi memungut batu-batu dan melempar batu-batu itu ke arah Gendewa. Mereka mencaci maki Gendewa. Aku tahu, mereka melakukannya tidak lain dan tidak bukan untuk membuat Gendewa marah. Kalau alam semesta mengamuk, amarah Gendewa dapat menahan ombak ganas yang akan menghancurkan rumah-rumah mereka.

‘’Perbuatan sewenang-wenang Imam Hasan telah membuat laut jadi lebih dalam sehingga kemampuannya menyerap energi gelombang jadi berkurang,’’ ucap Gendewa.

‘’Laut keruh karena energi gelombang itu juga?’’

‘’Tidak. Tidak. Itu, karena tidak ada lagi tumbuhan laut yang hidup di dalam sana.’’

‘’Dari mana kau tahu?’’

‘’Aku tidak tahu. Aku asal bicara, yang jelas aku tidak mau bicara mengenai hal yang sama seperti orang-orang.’’

Orang-orang terus menerus melempar batu dan mencaci maki Gendewa. Mereka seperti tidak memedulikanku. Orangtuaku yang sedari tadi tampaknya mencari-cariku, berteriak menyuruhku turun dari tubuh Gendewa.

 ‘’Ke mana kau akan mengungsi?’’

Aku menaikkan bahu. ‘’Entah. Kata Ibu, kawasan pengungsian yang lama sudah penuh. Jadi, bapak menyewa kawasan baru, ‘’ kataku. ‘’Cukup mahal,’’ lanjutku setengah berbisik di telinga Gendewa.

Setelah musim badai berlalu, aku dan orangtuaku kembali ke permukiman di pesisir itu. Kami melihat banyak rumah setengah hancur meski ada pula yang masih utuh. Sampan kami sudah lenyap. Bersama Bapak, aku langsung mencari Gendewa. Kami membawa banyak makanan untuknya. Seperti biasa, kami menemukan Gendewa sedang terlentang di pasir pantai. Selama di pengungsian kami banyak membicarakan Gendewa. Entah mengapa, aku merasa kagum padanya. Bapak dan ibuku juga kagum padanya.

‘’Setelah marah-marah kamu butuh makan yang banyak. Habiskan semua, ’’ kata bapakku sambil mengelus-elus pundak Gendewa.

Aku berjinjit dan memanjat tubuh Gendewa. Aku mendaki ke daun telinganya. Dari sana aku memandang hamparan laut. Tak jauh dari pantai, aku melihat orang-orang berkerumunan, menghadang sekelompok orang berseragam. Di antaranya aku melihat Imam Hasan. Sebetulnya, aku tahu siapa Imam Hasan. Aku pernah melihatnya merendam anak-anak di pembuangan tinja dan mengencingi mereka. Beberapa orang dari kerumunan yang menghadang itu, berlari ke arah Gendewa. Mereka memungut apa saja dan melemparkannya ke tubuh dan muka Gendewa. Mereka mencaci maki Gendewa dengan lebih kejam dari biasanya.

‘’Ayo, marahlah! Tolong, marahlah, Gendewa! Marah dan usir mereka semua, dasar anak haram jadah!’’ Seru orang-orang itu.

Gendewa bangkit, membuat tubuhku terpelanting. Bapak ikut terpelanting terkena tubuhku. Aku menyaksikan Gendewa berdiri, dari mulut dan hidungnya terdengar bunyi gemuruh. Gendewa sedang mengumpulkan amarahnya. Sungguh, aku tidak sabar menyaksikan kemarahan Gendewa, tidak sabar menunggu suara tiupan sangkakala. [T]

Penulis: Dian Havivia
Editor: Adnyana Ole

KLIK untuk BACA cerpen lain

Malam Ini | Cerpen Lanang Taji
Tonyan Kayu | Cerpen Ni Wayan Wijayanti
Kami Hidup di Sepanjang Sungai Kalimalang | Cerpen Pry S.
Mors Vincit Omnia | Cerpen Kiki Sulistyo
Bercakap-Cakap dengan Pencuri
Tukang Sulap dan Bocah Pemain Biola | Cerpen Hasan Aspahani
Sedihku Berakhir di Verona | Cerpen Putu Arya Nugraha
Tags: Cerpen
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Gery dan Sangkarnya  |  Dongeng dari Papua

Next Post

Makna Siwaratri  [Mencari Terang dalam Kegelapan]: Menuju Peleburan Papa Klesa

Dian Havivia

Dian Havivia

Lahir di Ampenan, 11 Juli 2002. Selain menulis cerita pendek, ia juga sedang menempuh pendidikan tinggi di Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam, Universitas Islam Negeri (UIN), Mataram, serta turut bergiat di Komunitas Akarpohon.

Related Posts

Sosok Misterius  |  Cerpen Asmaran Dani

by Asmaran Dani
August 16, 2026
0
Sosok Misterius  |  Cerpen Asmaran Dani

WARGA di Jalan XXX dibuat gempar sosok lelaki yang seperti sedang melakukan meditasi selama berbulan-bulan. Lelaki itu menghabiskan waktu dengan...

Read moreDetails

Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

by Khairul A. El Maliky
June 28, 2026
0
Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

HUJAN di Surabaya malam itu turun bukan sekadar membasahi aspal, melainkan seolah ingin menghapus jejak darah yang tumpah di lantai...

Read moreDetails

Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

by Sri Romdhoni Warta Kuncoro
June 26, 2026
0
Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

SETELAH perang Baratayudha Jayabinangun rampung dan darah terakhir mengering di padang Kurusetra, Semar menanggalkan pakaian pamomong para ksatria. Ia tidak...

Read moreDetails

Lubang | Cerpen Asmaran Dani

by Asmaran Dani
June 21, 2026
0
Lubang | Cerpen Asmaran Dani

LUBANG menjadi neraka jahanam yang membakar kehidupanku. Di mana saja, lubang selalu ada. Lubang pipet, lubang kloset, lubang tutup odol,...

Read moreDetails

Barong yang Memakan Tuan | Cerpen Aksara Caramellia

by Aksara Caramellia
June 20, 2026
0
Barong yang Memakan Tuan | Cerpen Aksara Caramellia

DARAH itu bukan milik kurban, melainkan milik kesabaran yang sudah lama membusuk di bawah tapel kayu pulai. Sejak kecil aku...

Read moreDetails

Kebun yang Tak Pernah Ditanami | Cerpen Dodik Suprayogi

by Dodik Suprayogi
June 14, 2026
0
Kebun yang Tak Pernah Ditanami | Cerpen Dodik Suprayogi

TERDAPAT petak tanah di samping rumah yang selalu membuat tetangga gatal ingin berkomentar. "Sayang sekali, Bram, tanah sesubur ini dibiarkan...

Read moreDetails

Metode Khusus bagi Ann yang Cantik | Cerpen Bella Paring Gusti

by Bella Paring Gusti
June 13, 2026
0
Metode Khusus bagi Ann yang Cantik | Cerpen Bella Paring Gusti

“Cause there’ll be no sunlight if I lose you, baby … there’ll be no clear skies if I lose you,...

Read moreDetails

Mbak Erna | Cerpen Krisogonus Kusman

by Krisogonus Kusman
June 7, 2026
0
Mbak Erna | Cerpen Krisogonus Kusman

DALAM keluarganya, Mbak Erna adalah anak pertama dari empat bersaudara. Ketiga adiknya laki-laki; adik kedua kelas XII yang hampir lulus,...

Read moreDetails

Di Dada Penjaga, Aku Pernah Dicintai | Cerpen Ahmad Sihabudin

by Ahmad Sihabudin
June 6, 2026
0
Di Dada Penjaga, Aku Pernah Dicintai | Cerpen Ahmad Sihabudin

KABUT turun seperti tirai sutra yang disobek dari langit. Pagi itu, udara di kaki Gunung Cikurai tidak sekadar dingin; ia...

Read moreDetails

Dunia Tidak Berutang Bentuk pada Harapanmu | Cerpen Wayan Gde Yudane

by Wayan Gde Yudane
June 6, 2026
0
Dunia Tidak Berutang Bentuk pada Harapanmu | Cerpen Wayan Gde Yudane

JANU datang ke Bali dengan koper besar, tiga buku filsafat yang belum selesai dibaca, dan keyakinan yang jauh lebih besar...

Read moreDetails
Next Post
Makna Siwaratri  [Mencari Terang dalam Kegelapan]: Menuju Peleburan Papa Klesa

Makna Siwaratri  [Mencari Terang dalam Kegelapan]: Menuju Peleburan Papa Klesa

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU
Esai

PROFESOR BAHASA BALI TERBAIK DARI JEPANG  — Kiprah Profesor Mayuko Hara dalam Riset Bahasa Bali Aga Pedawa dan Bahasa Indonesia

— Catatan Harian Sugi Lanus, 25 Agustus 2027 Siapa pakar terbaik Bahasa Bali di Jepang? Jika pertanyaan itu ditujukan ke...

by Sugi Lanus
August 25, 2026
Dari Genre ke Nalar: Sudah Relevankah Materi Bahasa Indonesia SMA dengan TKA?
Opini

Dari Genre ke Nalar: Sudah Relevankah Materi Bahasa Indonesia SMA dengan TKA?

DI kelas Bahasa Indonesia SMA, siswa bergerak dari laporan hasil observasi, anekdot, hikayat, negosiasi, biografi, dan puisi; lalu berjumpa argumentasi,...

by Gede Sidi Artajaya
August 25, 2026
Tanah Lot Art & Food Festival 2026, Merayakan Tradisi dari Gebogan hingga Kuliner Tabanan
Panggung

Tanah Lot Art & Food Festival 2026, Merayakan Tradisi dari Gebogan hingga Kuliner Tabanan

TANAH LOT kembali menjadi ruang perjumpaan seni, tradisi, dan kuliner dalam Tanah Lot Art & Food Festival ke-7. Festival yang...

by Nyoman Budarsana
August 25, 2026
Utsawa Dharmagita XXXIII, Merawat Tradisi Lisan dan Menanamkan Dharma kepada Generasi Muda
Budaya

Utsawa Dharmagita XXXIII, Merawat Tradisi Lisan dan Menanamkan Dharma kepada Generasi Muda

UTSAWA Dharmagita (UDG) Provinsi Bali XXXIII Tahun 2026 kembali digelar. Itu artinya, lantunan sloka, palawakya, kakawin, kidung, hingga gaguritan kembali...

by Nyoman Budarsana
August 25, 2026
Perjalanan Pulang, Menemukan Ketenangan di Jalan yang Panjang [Catatan dari Kota Bandung]
Tualang

Perjalanan Pulang, Menemukan Ketenangan di Jalan yang Panjang [Catatan dari Kota Bandung]

ADA kalanya kita tidak membutuhkan perjalanan yang jauh untuk menemukan kebahagiaan. Kita hanya membutuhkan kesempatan untuk berhenti sejenak dari rutinitas,...

by Ahmad Sihabudin
August 25, 2026
Melalui “Samarasā”, UWRF 2026 Mengajak Kita Memahami Diri Sendiri, Mendengarkan Sudut Pandang Orang Lain, Membangun Empati, dan Bersama-Sama Menciptakan Perubahan
Panggung

Melalui “Samarasā”, UWRF 2026 Mengajak Kita Memahami Diri Sendiri, Mendengarkan Sudut Pandang Orang Lain, Membangun Empati, dan Bersama-Sama Menciptakan Perubahan

UBUD Writers & Readers Festival (UWRF) 2026 segera digelar. Memasuki tahun ke-23, salah satu festival sastra terbesar dan paling berpengaruh...

by Dede Putra Wiguna
August 25, 2026
Karnaval dan Kemacetan Sosial
Esai

Karnaval dan Kemacetan Sosial

ADA sesuatu yang terasa ganjil setiap kali bulan Agustus tiba. Bendera Merah Putih berkibar di depan rumah, umbul-umbul menghiasi gang,...

by Ahmad Fatoni
August 24, 2026
“Telur Segara, Bibit Kehidupan”, Metafora Jika Laut Adalah Makhluk Hidup
Ulas Rupa

“Telur Segara, Bibit Kehidupan”, Metafora Jika Laut Adalah Makhluk Hidup

PADA tahun 2023, terdapat sebuah pameran seni rupa yang mengangkat tentang laut dan ekosistemnya. Pameran tersebut berjudul “Surya Segara Rupa”...

by Savitri Sastrawan
August 24, 2026
Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [6]: Algoritma sebagai Kurator yang Tak Pernah Membaca

ADA satu paradoks yang jarang diucapkan dalam diskusi tentang ekosistem sastra digital, bahwa kurator terbesar sastra Indonesia hari ini adalah...

by Andre Syahreza
August 24, 2026
105 UMKM Lokal Raup Untung, Perputaran Ekonomi Buleleng Festival 2026 Tembus Rp3,091 Miliar  —— Bupati Sutjidra Ucapkan Terima Kasih
Ekonomi

105 UMKM Lokal Raup Untung, Perputaran Ekonomi Buleleng Festival 2026 Tembus Rp3,091 Miliar  —— Bupati Sutjidra Ucapkan Terima Kasih

PELAKSANAAN Buleleng Festival 2026 resmi ditutup Bupati Buleleng I Nyoman Sutjidra didampingi Wakil Bupati Gede Supriatna dari Panggung Utama Kawasan...

by tatkala
August 24, 2026
Ketika Kampus Negeri Bergeser Menjadi Arena Pasar Bebas
Opini

Ketika Kampus Negeri Bergeser Menjadi Arena Pasar Bebas

Masuk perguruan tinggi negeri (PTN) dulu sering dianggap seperti menembus gerbang prestise akademik. Seleksinya ketat, persaingannya tinggi, dan keberhasilannya sering...

by I Kadek Adhi Dwipayana
August 24, 2026
Sakrum: Sebuah Proses Meretas Jarak Duduk Ayah
Ulas Pentas

Sakrum: Sebuah Proses Meretas Jarak Duduk Ayah

SEBAGAI penari, aku bergerak dari kode satu ke kode gerak lainnya, sementara ayahku yang merupakan seorang pematung, bergerak dalam duduknya....

by Yanik Parta
August 24, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co