14 September 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Malam Ini | Cerpen Lanang Taji

Lanang Taji by Lanang Taji
January 11, 2025
in Cerpen
Malam Ini | Cerpen Lanang Taji

Illustrasi: Gede Busuk

MALAM ini adalah malam yang sama, yang mengerogoti setiap sel, berdenyut. Malam yang sama, dengan bintang di kejauhan. Berkerlip di antara awan tipis tertiup angin. Ini adalah malam yang sama dengan lolongan anjing. Tak ada cerita yang bisa diceritakan, tak ada kisah yang perlu dikisahkan.

Dalam layar 6 inchi, seorang lelaki bicara dengan lelaki lain, tentang hidupnya, tentang kisahnya, tentang kesibukannya. Berganti perempuan lain bercerita tentang dirinya dengan ceritanya. Berganti orang yang lain dengan cerita lain. Berganti orang lain dengan kisah lain. Berlipat-lipat saling tindih menindih. Dari kemarin, hari ini hingga besok. Penuh cerita tentang orang ini dan kisah tentang orang itu. Sesekali berganti tentang gosip negara, aib pemerintah, romantisme sejarah, dan omong kosong masa depan.

Sesekali berganti fatamorgana harapan, berganti ilusi kemakmuran, berganti celoteh keadilan, berlipat-lipat saling melipat. Diceritakan orang ini, dilanjutkan orang itu, diinginkan orang ini, ditolak orang itu. Cerita diceritakan, kisah dikisahkan, diucapkan berulang-ulang, menjelma celoteh sumbang memenuhi hari.

Orang bicara pencapaian, bicara keberhasilan, bicara kegagalan, bicara kejatuhan, bicara kebangkitan. Bicara pagi di siang hari, bicara siang di malam hari, bicara pagi di malam hari, lipat-melipat, tindih-menindih saling timpa, saling jejal.

Sementara kulit perlahan terkelupas, meninggalkan tubuh yang menghidupinya. Cahaya kian memudar, napas kian pendek dan jejalan cerita kian mejemukan.

Apa pertanyaan yang perlu ditanyakan? Jawaban hanya celoteh sumbang dari serangkaian lipatan cerita yang terus diceritakan.

Malam ini adalah malam kemarin, malam yang sama. Dengan lolongan anjing, bintang di kejauhan, awan tipis dan layar 6 inchi penuh cerita. Cerita yang diceritakan berulang-ulang, malam ini adalah malam kemarin.

Seseorang berbaring dalam kedinginan kamar, menyusun rencana untuk pagi hari nanti. Menyusun rencana dengan rapi, dengan detail, rencana untuk setiap detik, setiap menit, setiap jam, dengan rapi. Menyusun rencana dengan rapi. Namun hidup tak membiarkan rencana itu berjalan sesuai rencana yang telah direncanakan.

Orang lain di kamar yang lain menghempaskan tubuhnya di kasur. Coba menarik dirinya dari kekacauan yang disuguhkan hidup sepanjang hari tadi. Kekacauan yang tidak diinginkannya. Membenamkan diri pada lelap yang coba untuk dimasuki, lelap yang dalam tanpa dasar. Lari dari kekacauan yang disajikan. Namun hidup tak membiarkan dia semudah itu terkubur dalam lelap.

Malam ini adalah malam yang sama, malam yang lahir dari himpitan informasi yang menjejal. Malam yang dibangun oleh celotehan sumbang yang berputar dan menggema menyesakkan dada. Celotehan tentang ini, tentang itu, tentang mereka, ceolotehan yang menyesakkan.

Namun malam ini adalah malam yang masih bisa aku nikmati, masih hidup untuk bisa melaluinya. Bukankah masih hidup berarti masih baik?

Dan hidup hanya perjalanan kesendirian, perjalanan diri menyusuri setapak berlumpur yang pada setiap harinya akan dibukakan oleh hidup.

Berencana? Hanya milik keluarga yang dipaksa mempercayai rencana di bawah pengawasan babinsa. Mereka membuat seolah diri memiliki kuasa untuk membuat rencana, berencana, yang pada kenyataannya tidak.

Malam ini adalah malam yang sama, seperti kemarin. Bintang yang sama di kejauhan sana, lolongan anjing yang sama dan awan yang sama. dan malam yang sama untuk merencanakan esok. Esok yang direncanakan malam ini, adalah esok yang lebih baik daripada esok yang direncanakan malam kemarin yang menjadi tadi pagi malam ini.

Manusia berencana, hidup menentukan.

Hujan turun malam ini, awan berhasil menjaga kandungannya untuk melahirkan. Dia menutup kerlip bintang. Akhirnya ada yang bisa dilahirkan kelabu awan, hujan. Anak mahal yang selalu coba digugurkan oleh manusia yang tidak ingin rencananya hancur, lewat pawang, lewat laser.

Rencana selalu menjadi orientasi, padahal itu hanya rencana.

Lalu berdoa setiap hari, setiap menit, setiap detik hanya untuk memohon rencana diwujudkan. Rencanaku, rencanamu, rencana kita, rencana kami, dan luput pada hidup yang memiliki kuasanya sendiri.

Apa yang akan terjadi jika hidup tidak seperti apa yang direncanakan?

Apa pertanyaan yang perlu ditanyakan? Jawaban hanya celoteh sumbang dari serangkaian lipatan cerita yang terus diceritakan.

Hidup memiliki kuasanya, berkuasa pada setiap diri yang merasa memiliki rencana akan diri, akan hidup. Walau pada kenyataanya tubuh ini, diri ini hanya bisa merencanakan.  Dan lupa bahwasanya seonggok daging ini hanya pertarungan mati-lahir-mati-lahir,yang berlangsung pada setiap detiknya.

Malam ini adalah malam yang sama seperti malam kemarin, ketika hidup coba direncanakan dan diberangus oleh hidup itu sendiri. Karena rencana hanya rencana, hidup yang menentukan.

Ada kemeja yang disiapkan, kemeja yang licin oleh setrika. Ada celana wangi yang tersedia. Ada sepatu mengkilap yang berubah menjadi cermin, yang siap sedia melangkahi hari. Itu semua, mereka semua siap, disiapkan dalam rencana. Siap sedia untuk menghadapi pagi dengan serangkaian rupa penghakiman. Siap sedia.

Namun hidup berencana lain.

Rencana hanya rencana, hidup punya rencananya sendiri.

Terhisaplah pada kasur, hingga jumawa tak menghinggapimu. Terlelaplah hingga sadar, rencana hanya rencana, dan harapan yang ingin digapai lewat setiap rencana menampar diri. Hadir untuk sekedar mengingatkan, hidup yang menghidupi bukan dalam kuasa kepemilikan diri. Dan tidak bisa dalam kuasa diri.

Marah, tentu saja marah. Marah karena apa yang direncanakan tidak seperti yang hidup hadirkan. Marah karena ingin tidak terwujud. Marah, pasti marah, karena kecewa apa yang direncanakan tak seperti dalam rencana.

Namun malam ini adalah malam yang sama, seperti malam kemarin. Malam di mana rencana coba disusun, dan hidup membentangkan harinya, kenyataan menghacurkan susunan rencana.

Bentangan hari di mana hidup tidak menginginkan aku hadir, tidak menginkan dirimu ada.

Ini hanya alasan, atau kalian bisa membacanya sebagai alasan, sebagai pembenaran atas ketidakmampuan untuk mewujudkan apa yang direncanakan. Ya, kalian bisa membacanya sebagai alasan, sebagai pembenaran.

Tepat ketika pembacaan itu hadir menjadi penghakiman, tepat di sana, pembelajaran hadir.

Pembelajaran bahwasanya setiap simpul keterhubungan, hadir dalam fondasi kepentingan. Hidup memberi setapak jalan pada tiap diri, menghadirkan persimpangan pertemuan, melahirkan ekspektasi satu sama yang lain. Menghadirkan harapan satu sama yang lain.

Namun harapan, seperti halnya mimpi hanya fatamorgana.

Dan dalam persimpangan, dalam pertemuan, dalam harap, hidup memberi jalan pada tiap diri, pada tiap kesendirian. setapak yang berbeda, kubangan yang lain, lumpur yang beda, dihadirkan hidup untuk tiap diri yang hidup.

Namun persimpangan dan pertemuan tak memahami rencana hidup, satu-satunya rencana yang disadari adalah rencana diri. Jadi ketika rencana yang direncanakan tak sesuai dengan rencana, menyalahkan adalah cara paling mudah untuk menerima kenyataan bahwasanya rencana tak lagi sesuai dengan apa yang direncanakan.

Illustrasi: Gede Busuk

Malam ini adalah malam yang sama seperti malam kemarin, di mana anjing melolong, bintang di kejauhan, dan awan tipis yang terhempas oleh tiupan angin.

Dan keterkejutan apa yang harus diratapi?

Apa pertanyaan hang perlu ditanyakan? Jawaban hanya celoteh sumbang dari serangkaian lipatan cerita yang terus diceritakan.

Dan dengan mudah menyalahkan adalah cara cepat untuk menghadapi kenyataan hidup yang dihadirkan oleh hidup. Dan kita, aku dan kamu tak akan peduli pada kenyataan bahwasanya hidup menghadirkan lubang, kubangan, lumpur dan setapak yang beda untuk setiap diri. Lupa pada bagaimana hidup menghadirkan jalan hidup dan kehidupan pada setiap diri.

Dan persimpangan yang menghadirkan pertemuan telah merajut kita, setiap diri ini menjadi jalinan untuk saling menyalahkan dan saling mengkambinghitamkan atas rencana yang direncanakan, atas rencana diri masing-masing, atas rencana kita yang telah direncanakan. Seolah diri ini dan kita memiliki kuasa atas hidup sehingga bisa menghadirkan kenyataan seperti apa yang direncanakan.

Pertemuan yang dihadirkan oleh persimpangan yang melahirkan persinggungan mewujudkan rencana, dan penghakiman, dan pengkambinghitaman ketika  rencana pupus oleh hidup.

Malam ini adalah malam yang sama seperti malam kemain, bintang berkelip di kejauhan, anjing melolong dan awan tipis berarak dihembus angin.

Malam yang sama yang hadir setiap malam untuk sekadar mengingat bahwanya pertemuan yang hadir di setiap persimpangan lahir dan dilahirkan oleh hidup, lahir ketika hidup menginginkannya.

Persimpangan melahirkan ingin, melahirkan harap, melahirkan mimpi, melahirkan rencana. Yang ingin diwujudkan, dinyatakan. Namun itu hanya rencana. Namun jika apa yang direncanakan, diagendakan tidak sesuai dengan agenda, dengan rencana kambing hitam butuh dilahirkan. Selalu seperti itu dan akan selalu seperti itu.

Adam dan hawa butuh seekor ular pembujuk atas ingin menyantap apel, kita terlahir dengan konstruksi semacam itu. Membutuhkan kambing hitam untuk setiap kenyataan yang tak sesuai dengan rencana.

Dan malam ini adalam malam yang sama. dengan bintang di kejauhan, lolongan anjing dan kabut yang memudar tertiup angin.

Malam yang sama seperti kemarin.

Dan setiap persimpangan dan persinggunggan yang dilahirkan hidup, hanya sebuah ruang untuk mengkambinghitamkan, ruang untuk menyalahkan.

Karena satu-satunya alasan pertemuan dan persinggungan di antara diri tercipta adalah kepentingan diri sendiri. Dan jika kepentingan diri yang direncanakan tak menyata, menyalahkan diri yang lain jauh lebih mudah daripada menyalahhkan diri sendiri.

Dan saya salah karena menulis ini.

Dan meminta maaf karena terlalu naif untuk percaya manusia bisa saling mengerti. Tidak manusia tidak akan pernah saling mengerti, mereka mengerti dalam kepentingan diri sendiri. Jika tidak seperti apa yang diri rencanakan, mereka akan mencipkan kambing hitam untuk dimangsa. [T]

19.12.24

KLIK untuk BACA cerpen lain

Perempuan Sumur | Cerpen IBW Widiasa Keniten
Bola di Pekarangan Mbah Rojek | Cerpen Andi Wirambara
Kembali | Cerpen Karisma Nur Fitria
Arus Pelayaran | Cerpen Karisma Nur Fitria
Tanah Kuburan Bapak | Cerpen Jaswanto
Burung-Burung di Langit Mekkah | Cerpen Khairul A. El Maliky
Tags: Cerpen
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Wacana Politisasi  Pilkada ke DPRD

Next Post

Puisi-puisi Kadek Bintang Krisnanti | Danau Sunter, Mari Menari

Lanang Taji

Lanang Taji

Part time citizen, full time netizen. tukang tulis di I NI timpalkopi

Related Posts

Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

by Dodik Suprayogi
September 13, 2026
0
Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

MATAHARI kian meninggi di atas cakrawala, tetapi pelataran sekolah masih terasa lengang. Jarum jam sudah menunjukkan pukul delapan pagi, sementara...

Read moreDetails

Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

by Ahmad Sihabudin
September 12, 2026
0
Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

MALAM di rumah sakit selalu terasa lebih panjang daripada malam di tempat lain. Jarum jam di dinding ruang perawatan menunjukkan...

Read moreDetails

Lelaku Daun Jati Terakhir | Cerpen Nur Kamilia

by Nur Kamilia
September 6, 2026
0
Lelaku Daun Jati Terakhir | Cerpen Nur Kamilia

MUSIM kemarau di kampung kami tidak datang dengan membawa angin kering atau debu jalanan yang mengepul. Ia datang lewat suara...

Read moreDetails

Si Gending | Cerpen Nanda Gayatri

by Nanda Gayatri
September 5, 2026
0
Si Gending | Cerpen Nanda Gayatri

GENDING. Namanya didendangkan berulang kali di sudut-sudut perkumpulan warga di kompleks perumahan tempat aku tinggal. Ada yang bilang ia adalah...

Read moreDetails

Surat dari Pulau Seberang | Cerpen Ari Murdimanto

by Ari Murdimanto
August 30, 2026
0
Surat dari Pulau Seberang | Cerpen Ari Murdimanto

Sahabatku, Di tempatku yang baru kini, jauh dari pelukan kabut tebal dan wangi dupa Hyang Dwipa, aku sering duduk terdiam...

Read moreDetails

Sosok Misterius  |  Cerpen Asmaran Dani

by Asmaran Dani
August 16, 2026
0
Sosok Misterius  |  Cerpen Asmaran Dani

WARGA di Jalan XXX dibuat gempar sosok lelaki yang seperti sedang melakukan meditasi selama berbulan-bulan. Lelaki itu menghabiskan waktu dengan...

Read moreDetails

Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

by Khairul A. El Maliky
June 28, 2026
0
Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

HUJAN di Surabaya malam itu turun bukan sekadar membasahi aspal, melainkan seolah ingin menghapus jejak darah yang tumpah di lantai...

Read moreDetails

Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

by Sri Romdhoni Warta Kuncoro
June 26, 2026
0
Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

SETELAH perang Baratayudha Jayabinangun rampung dan darah terakhir mengering di padang Kurusetra, Semar menanggalkan pakaian pamomong para ksatria. Ia tidak...

Read moreDetails

Lubang | Cerpen Asmaran Dani

by Asmaran Dani
June 21, 2026
0
Lubang | Cerpen Asmaran Dani

LUBANG menjadi neraka jahanam yang membakar kehidupanku. Di mana saja, lubang selalu ada. Lubang pipet, lubang kloset, lubang tutup odol,...

Read moreDetails

Barong yang Memakan Tuan | Cerpen Aksara Caramellia

by Aksara Caramellia
June 20, 2026
0
Barong yang Memakan Tuan | Cerpen Aksara Caramellia

DARAH itu bukan milik kurban, melainkan milik kesabaran yang sudah lama membusuk di bawah tapel kayu pulai. Sejak kecil aku...

Read moreDetails
Next Post
Puisi-puisi Kadek Bintang Krisnanti | Danau Sunter, Mari Menari

Puisi-puisi Kadek Bintang Krisnanti | Danau Sunter, Mari Menari

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

SPEEDY!, Film Anak-Anak yang Mengajak Orang Tua Berkaca —Catatan Minikino Film Week 12
Ulas Film

SPEEDY!, Film Anak-Anak yang Mengajak Orang Tua Berkaca —Catatan Minikino Film Week 12

PERKEMBANGAN teknologi yang pesat di era globalisasi menyita perhatian publik dari berbagai aspek, mulai dari ekonomi, transportasi, hiburan, hingga lembaga...

by Arya Dhamma Nanda
September 13, 2026
Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi
Cerpen

Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

MATAHARI kian meninggi di atas cakrawala, tetapi pelataran sekolah masih terasa lengang. Jarum jam sudah menunjukkan pukul delapan pagi, sementara...

by Dodik Suprayogi
September 13, 2026
Puisi-Puisi Selendang Sulaiman | 0,63 dolar
Puisi

Puisi-Puisi Selendang Sulaiman | 0,63 dolar

0,63 dolar pada siapa kami percayakan cintasaat kemiskinan menjelma komoditas digitaldiperdagangkan antar-platform dan benuadalam kardus air mata paling banal? negara...

by Selendang Sulaiman
September 13, 2026
STREET SOLACE —Sebuah Manifesto tentang Bali yang Perlahan Menghilang
Esai

STREET SOLACE —Sebuah Manifesto tentang Bali yang Perlahan Menghilang

Ada sesuatu yang ganjil pada jalan-jalan Bali hari ini. Mereka semakin ramai, semakin lebar, semakin terang, semakin mahal. Tetapi entah...

by Wayan Gde Yudane
September 13, 2026
Dari Palawakya hingga Sloka di Utsawa Dharmagita XXXIII-2026, Semangat Generasi Muda Rawat Sastra Bali
Panggung

Dari Palawakya hingga Sloka di Utsawa Dharmagita XXXIII-2026, Semangat Generasi Muda Rawat Sastra Bali

Pagi itu, alunan nada dan pesan filosofis kembali menggema di Art Center, Taman Budaya Provinsi Bali. Suara-suara suci yang dilantunkan...

by Nyoman Budarsana
September 13, 2026
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter
Esai

Penyakit Autoimun, Ketika Salah Satu Musuh Paling Berbahaya Adalah Diri Sendiri

SAINS tak menjawab semua pertanyaan manusia. Di bidang medis misalnya, apa penyebab penyakit autoimun, seperti penyakit lupus? Sains belum memberikan...

by Putu Arya Nugraha
September 13, 2026
Bagaimana Menjaga Bahasa Bali Tetap Hidup? — Dari Kuliah Tamu Widyā Wacana UPMI Bali
Khas

Bagaimana Menjaga Bahasa Bali Tetap Hidup? — Dari Kuliah Tamu Widyā Wacana UPMI Bali

BAHASA Bali telah melintasi perjalanan sejak abad IX hingga XXI. Selama rentang waktu itu, bahasa Bali berubah, menyerap pengaruh bahasa...

by Dede Putra Wiguna
September 13, 2026
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU
Esai

KUNJUNGAN BRAHMANA JAWA KE TANAH INDIA (BHUMI JAMBUDWIPA)

TIGA brahmana Jawa pernah berkunjung ke India. Kisah perjalanan spiritual ini tertuang di dalam pustaka lontar Tantu Pagelaran (atau Tantu...

by Sugi Lanus
September 12, 2026
Aku Mau Jadi Penguin! —Ulasan Novel “Di Tanah Lada” Karya Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie
Ulas Buku

Aku Mau Jadi Penguin! —Ulasan Novel “Di Tanah Lada” Karya Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie

AWALNYA saya mengira nama ‘Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie’ adalah nama pena. Ternyata saya salah. Kemudian dari nama unik dan ajaib inilah saya...

by Kadek Wisnu Oktaditya
September 12, 2026
Utsawa Dharmagita XXXIII-2026: Ketika Sastra Suci Menggema di Taman Budaya Bali
Panggung

Utsawa Dharmagita XXXIII-2026: Ketika Sastra Suci Menggema di Taman Budaya Bali

Jeda hanya sesaat. Setelah kulkul dipukul oleh Gubernur Bali Wayan Koster sebagai tanda dibukanya Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali XXXIII,...

by Nyoman Budarsana
September 12, 2026
YouNITE Fest Vol. 1: Ketika Forum GenRe Denpasar Hadirkan Ruang bagi Anak Muda untuk Bersuara dan Bergerak
Panggung

YouNITE Fest Vol. 1: Ketika Forum GenRe Denpasar Hadirkan Ruang bagi Anak Muda untuk Bersuara dan Bergerak

ANAK muda acap menjadi sasaran kebijakan. Namun, seberapa sering mereka benar-benar diberi ruang untuk bersuara, menyampaikan gagasan, bahkan menentukan arah...

by Dede Putra Wiguna
September 12, 2026
Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin
Cerpen

Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

MALAM di rumah sakit selalu terasa lebih panjang daripada malam di tempat lain. Jarum jam di dinding ruang perawatan menunjukkan...

by Ahmad Sihabudin
September 12, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co