23 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Tirtayatra Toska Se-Delod Ceking  :  Pura  Goa Selonding   

I Nyoman Tingkat by I Nyoman Tingkat
February 7, 2025
in Tualang
Tirtayatra Toska Se-Delod Ceking  :  Pura  Goa Selonding   

Rombongan Toska memasuki Goa Selonding sambil merunduk agar tidak terantuk dinding goa yang sangat rendah, tetapi makin ke dalam langit-langit goa makin tinggi, pemedek leluasa berdiri (Foto : I Nyoman Tingkat)

KEKHUSUKAN persembahyangan di Pura Batu Pageh masih terbawa dalam  Perjalanan Tirtayatra Toska (SMA Negeri 2 Kuta Selatan) menuju Pura Goa Selonding di Desa Adat Pecatu. Jarak dari Pura Dalem Batu Pageh Banjar Kelod Desa Ungasan ke Pura Selonding sekitar 8 km ditempuh dalam waktu sekitar 15 menit.

Rombongan Toska berangkat dari Pura Dalem Batu Pageh sekitar pk.15.30 dan sampai Jaba Pura sekitar pk. 15.45 Wita. Waktu tempuh yang relatif singkat karena rombongan Toska melalui jalur jalan pintas, tidak melalui Jalan Utama Uluwatu.  Jalan Utama Uluwatu  menjelang sore selalu krodit,  senatiasa  pamer susu (padat merayap susul-susulan), bahkan bila nasib lagi apes dalam perjalanan bisa-bisa sampai pamer paha (padat merayap tanpa harapan) alias macet total tanpa bergerak.

Keluhan kemacetan di Kuta Selatan di Gumi Delod Ceking telah berkali-kali dilontarkan di grup whatshap Kecamatan Kuta Selatan. Memang masalah tidak pernah selesai dengan mengeluh. Paling-paling akan menimbulkan salah paham bahkan salah tampi. Seperti berita hoaks, yang salah ditampi dan dipercaya lama-lama disembah sebagai kebenaran. Akhirnya akan menemukan kebenaran baru yang berbeda dengan kebenaran itu sendiri.

Begitulah, perjalanan  pemburuan menapaktilasi kisah Lubdaka dalam merayakan Siwa Ratri kini dihadang oleh kemacetan demi kemacetan dengan hutan beton makin lebat tiada bersahabat. Mobil lalu lalang saling pepet. Klakson dan caci maki diumbar. Para pejalan kehidupan perlu berhati-hati,  lengah sedikit  bisa dicaplok macan modern (bulldozer) yang sering tidak disiplin menggunakan jalan.

Rombongan Toska memasuki Goa Selonding sambil merunduk agar tidak terantuk dinding goa yang sangat rendah, tetapi makin ke dalam langit-langit goa makin tinggi, pemedek leluasa berdiri | Foto : I Nyoman Tingkat

Tirtayatra se-Delod Ceking saat Siwa Ratri tidak ubahnya meniru perjalanan Lubdaka dengan tantangan yang berbeda. Jika zaman ilu Lubdaka  adalah juru boros (pemburu) di tengah hutan dengan aneka binatang buas yang disebut satwa. Ia harus berhati-hati dan sadar agar hasil buruannya maksimal. Bukan malah pemburu yang diburu satwa, tetapi pemburu yang mendapatkan satwa. Dalam konteks ajaran Hindu, yang diburu  adalah satwa(m) dengan mengendalikan rajah (agresivitas) dan tamah (kemalasan).

Begitulah bila kita refleksikan perjalanan Lubdaka dalam konteks kekinian. Secara substansial pesannya sama, tetapi tantangannya berbeda. Apa pun itu, sebagai pembelajar di sekolah kehidupan perlu fokus menuju tujuan : Pura Goa Selonding. Syukurlah, rombongan Toska sampai di Jaba Pura Selonding sesuai dengan rencana, saat matahari menjelang tenggelam.

Rombongan Toska diantar menuju Beji Pura Selonding di bangkiang ngampan  oleh Jro Mangku Nyoman Suprapta bersama Jro Mangku Istri. Sekitar 5 menit dari area parkir, menapaki anak tangga yang ergonomis dengan pemandangan laut lepas Pantai Bali Selatan. Tampak ombak bercengkrama dengan air yang tenang. Situasi demikian adalah hiburan menyenangkan di ruang kelas pembelajaran tanpa batas. Segara tanpa tepi. Sungguh bikin klangenan yang oleh kaum bijaksana menyebut lango.

Begitulah seyogyanya belajar, tidak hanya sebatas bermain surfing di atas ombak yang indah, tetapi juga menyelam di kedalaman laut dengan tenang untuk memperoleh mutiara sebagai bekal kehidupan. Inilah konsep deep learning ala Abdul Mu’ti, Mendikdasmen yang membawa program 7 kebiasaan Anak Indonesia hebat dengan 8 profil lulusan.

Begitu pula halnya, saat rombongan Toska memasuki Taman Beji Pura Selonding di bawah goa, persisnya di bangkiang ngampan seperti Goa Pura Dalem Batu Pageh. Goa Selonding mengajarkan pemedek untuk merunduk sebagai simbol kerendahhatian agar mencapai Utama Mandala yang cukup lapang dan pembelajar bisa berdiri tegak bebas.

Rombongan Toska meninggalkan Goa Selonding | Foto : Dayu Dena

Di Utama Mandala yang mahatenang sinar matahari sore leluasa merasuk ke tengah goa. Begitu pula, angin laut dan suara ombak leluasa bercengkrama dengan sinar matahari di mulut goa hingga merasuk ke goa hrdaya para pemedek yang berkepekaan. Ngulangunin pisan. Sayangnya, di tebing-tebing Goa Selonding tidak bertemu pohon pandan apalagi bunganya, wangi pudaknya sebagai dirasakan Sang Mahakawi Wiku dalam perjalanannya sepanjang ngampan Delod Ceking.

Menurut Pak Sungada, seniman Pecatu yang berkali-kali meraih juara tingkat dunia dalam lomba ukir salju, mengatakan, konon ketika sang raja (mungkin Kawi Wiku Nirartha) sampai di sana mendengar suara gaib gamelan Selonding sehingga tempat itu dinamakan Selonding dan lambat laun didirikan Pura. “Ditambahkan, menurut Dinas Purbakala, di Goa Selonding tertanam sebuah harta karun yang tidak boleh digali. Pura Selonding juga terhubung dengan Pura Uluwatu”. Pernyataan Sungada itu berelasi dan  tertera di papan nama Pura.

Sebagaimana persembahyangan di Pura sebelumnya, persembayangan di Beji Pura Goa Selonding dengan pancasembah. Saya berkesempatan mengidungkan Kidung Mogi mengiring pemujaan yang dilakukan oleh Jro Mangku Nyoman Suprapta agar tidak tulah karena kebodohan. “Mogi tan kacarkra bawa, titiang I katunan sami…”

Persembahyangan bersama dengan Pancasembah di tengah Goa Selonding yang sepi hening  dituntun oleh Jro Mangku Nyoman Suprapta didampingi Jro Mangku Istri. Kekhusukan terasa saat sembahyang sebagaimana terasa di Pura Dalem Batu Pageh dan Pura Goa Gong. Sembahyang di Goa Selonding ibaratnya malukat jika mencermati statusnya sebagai beji-nya Pura Selonding dengan sumber tirta dari tristisan air di antara stalaktit. Mirip dengan di Goa Gong dan Goa Batu Pageh. Selesai sembahyang diakhiri dengan nunas tirta dan bija. Terasa segar dengan udara sejuk bebas dari polusi diiringi deburan ombak yang tenang di Pantai Laut Selatan. Sungguh hikmat bin nikmat.

Sebelum meninggalkan Goa Selonding, tidak lupa memainkan kamera dari berbagai angle dengan aneka gaya mengatur cahaya. Bagi keluarga besar Toska termasuk saya, tangkil ke Pura Goa Selonding adalah untuk kali pertama. Walaupun tradisi Tirtayatra se-Delod Ceking telah dilaksanakan tahun sebelumnya, Pura Selonding baru dituju pada Siwa Ratri 27 Januari 2025.

Bersama Jro Mangku Nypman Suprapta di Utama Mandala Goa Selonding | Foto : Dayu Dena

Dari Goa Selonding selanjutnya menuju Pura Selonding. Di papan nama tertulis dengan dwiaksara (Bali dan Latin) : Pura Prasanak Ida Batara Luhur Uluwatu. Di bawahnya tertulis dengan dengan font lebih besar dengan huruf kapital :  PURA SELONDING. Setelah memasuki Utama Mandala, terkesan jejer kemiri Pura mirip Merajan, dengan nama-nama Dewa yang disembah tertulis di setiap pelinggih  beraksara Bali secara permanen.

Sebagai Pura yang diempon Desa Adat, Pemerintah Desa Adat Pecatu telah mengaplikasikan Perda Nomor 1 Tahun 2018 tentang Bahasa, Aksara, dan Sastra Bali yang diperkuat dengan Peraturan Gubernur Bali Nomor 80 Tahun 2018 tentang Perlindungan dan Pengunaan Bahasa, Aksara, dan Sastra Bali serta Penyelenggaraan Bulan Bahasa Bali.

Pada 2025, penyelenggaraan Bulan Bahasa Bali telah memasuki tahun ketujuh. Tema yang diusung, Jagat Kerthi Jagra Hita Samasta yang berarti Bulan Bahasa Bali merupakan altar pemuliaan Bahasa, Aksara, dan Sastra Bali sebagai sumber kesadaran menuju harmoni semesta raya. Kata “jagra” dalam tema, selaras dengan makna perayaan Siwaratri yang mengisyaratkan kesadaran ‘aturu’ melek semalam suntuk, berjaga-jaga agar tidak lepas kendali.  

Ngaturang sembah bakti di Pura Selonding serangkaian Siwaratri dengan bertirtayatra sebenarnya juga telah ikut merayakan Bulan Bahasa Bali dengan memuliakan Bahasa, Sastra, dan Aksara Bali. Bahasa Bali menjadi alat komunikasi antara pemedek dan pemangku. Puja Mantra yang dilantunkan pemangku adalah sastra dengan aksara bermakna, demikian juga kidung yang kami tembangkan adalah representasi dari sastra.

Sementara itu, Aksara Bali telah tertulis di Papan Nama Pura dan Pelinggih-Pelinggih di Pura Selonding. Seorang siswa yang belum fasih membaca Aksara Bali sebagai mana yang tertulis di Pelinggih dapat bertanya kepada guru. Di sini, guru telah memanfaatkan Pura sebagai altar pemujaan, altar pembelajaran, dan altar pemuliaan Aksara Bali. Siswa dapat belajar banyak hal. Inilah sekolah kehidupan nyata kontekstual berlandaskan teks susastra. Maka banggalah menjadi Nak Bali hidup di Bali. Jaen hidup di Bali!

Persembahyangan di Pura Selonding dengan halaman luas. Jejer Kemiri Pura seperti Merajan pada umumnya | Foto : Dayu Dena

Pura Selonding yang berada di tebing Pantai Selatan Kaki Pulau Bali telah lama menyedot energi para pemuja keindahan, tak terkecuali mahapujangga Dang Hyang Nirartha. Pilihan Tirtayatra Toska ke sini adalah sebagai apresiasi menghormati jejak-Nya sekaligus merangsang para siswa memuliakan Kawasan terdekatnya. Di sini telah lama lahir peradaban sastra yang menjadi kompas kehidupan beragama Hindu. Sebagaimana ditulis Aristoteles,  sastra adalah jalan keempat menuju kebenaran setelah Agama, Filsafat, dan Ilmu Pengetahuan.

Namun demikian, keindahan tebing dengan pemandangan laut Pantai Selatan yang memukau telah membuat Kawasan Selonding dan sekitarnya seperti gadis cantik yang membuat raja kapital terpikat untuk menaklukkannya. Nasib Kawasan Selonding dan sekitarnya pun setali tiga uang dengan Kawasan Pura Geger Dalem Pemutih, Pura Karang Boma Sawangan, Pura Gunung Payung, Pura Goa Gong, Pura Batu Pageh, dan Pura Uluwatu.

Semua kawasan itu menjadi incaran raja kapital sebagai pertanda bahwa kecantikan dan keindahannya mau dibungkus untuk para pelancong dan turis dari segala benoa. Benar puisi W.S. Rendra dalam judul “Sajak Pulau Bali”. Bait pertama puisinya, WS Rendra menulis, “Sebab percaya akan keampuhan industri/dan yakin bisa memupuk modal nasional/dari kesenian dan keindahan alam/maka Bali menjadi  obyek wisata…”.

Pada bagian bait berikutnya, WS Rendra menegaskan ; “… Kebudayaan rakyat ternoda/digencet standar dagang Internasional/Tarian-tarian bukan lagi suatu mantra/tetapi hanya sekedar tontonan hiburan/ Pahatan dan ukiran bukan lagi ungkapan jiwa/tetapi hanya sekedar kerajian tangan….”

Begitulah Bali dijual murah demi pariwisata telah mendegradasi kebudayaannya. Lama-kelamaan identitas Bali dengan tanah dan natah-nya dikhawatirkan  makin sempit dan terjepit. Kekhawatiran saya ternyata juga menjadi kekhawatiran WS Rendra sejak 1977 ketika |”Puisi Pulau Bali” ditulis. Di akhir puisinya, ia menegaskan : “… Hidup dikuasai kehendak manusia/tanpa menyimak jalannya alam/Kekuasaan dan kemauan manusia/yang dilembagakan dengan kuat/tidak mengacuhkan naluri ginjal/hati, empedu, sungai, dan hutan/

Di Bali :
pantai, gunung, tempat tidur dan pura,
telah dicemarkan !

Begitulah kekhawatirkan WS Rendra, penyair berjuluk Si Burung Merak 48 tahun silam membaca Bali dengan Puisi famplet. Sampai kini, kekhawatiran serupa juga saya rasakan. Semoga kekhawatiran saya tidak menjadi kenyataan dan Bali tetap menjadi incaran para pelancong segala negeri. Kembali ke Bali. Bali tetap kencana layak mendapatkan lencana di hati pengelana.  

Oh, ya… jeda sejenak. Kita lanjutkan perjalanan ke Pura Uluwatu pada efisode berikutnya, setelah Saraswati Sabtu Umanis Watugunung, 8 Februari 2025. Rahajeng Saraswati. Mengalirkan aliran ilmu pengetahuan ke lorong-lorong kegelapan menuju puncak terang cahaya gemilang. [T]

Penulis: I Nyoman Tingkat
Editor: Adnyana Ole

  • BACA artikel lain dari penulis  NYOMAN TINGKAT
Tirtayatra Toska Se-Delod Ceking  :  Pura  Batu Pageh  
Tirtayatra Toska Se-Delod Ceking  :  Pura Goa Gong 
Tirtayatra Toska Se-Delod Ceking  :  Pura Gunung Payung
Tirtayatra Toska Se-Delod Ceking :  Pura Geger Dalem Pemutih dan Pura Karang Boma
Tirtayatra Toska Se-Delod Ceking :  Pura Taman Mumbul dan Pura Ratu Ayu Dalem Mumbul
Tradisi “Mendak Hujan” di Gumi Delod Ceking     
Tags: Gumi Delod Cekingkuta selatanSMAN 2 Kuta Selatantirtayatra
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Tema Kekinian dalam Drama Modern Berbahasa Bali, Dari Demokrasi Hingga Tanah yang Dijual

Next Post

Lomba Gebogan Sambut Hari Suci Saraswati di UPMI Bali: Merangkai Buah dan Merajut Kebersamaan

I Nyoman Tingkat

I Nyoman Tingkat

Kepala SMA Negeri 2 Kuta Selatan, Bali

Related Posts

Dari Makam Ki Hadjar Dewantara sampai Candi Prambanan

by I Nyoman Tingkat
August 21, 2026
0
Dari Makam Ki Hadjar Dewantara sampai Candi Prambanan

SAYA tidak merencanakan bahwa ketika kembali ke Bali melalui Bandara Yogyakarta International Airport (YIA), Kulon Progo, dari Kota Yogyakarta, saya...

Read moreDetails

“Healing” ke Desa “Deaf Mute”, Bengkala: Perlawatan Tentang Mengada dan Menjadi

by Luh Putu Sendratari
August 18, 2026
0
“Healing” ke Desa “Deaf Mute”, Bengkala: Perlawatan Tentang Mengada dan Menjadi

SABTU, 15 Agustus 2026 tanpa direncanakan sebelumnya saya ada di Desa Bengkala. Bersama teman2 dari Universitas Pancasila (Dr Kunthi Tridewiyanti,...

Read moreDetails

Dari Malioboro ke Makam Ki Hadjar Dewantara

by I Nyoman Tingkat
August 16, 2026
0
Dari Malioboro ke Makam Ki Hadjar Dewantara

PEMILIHAN Duta SMA Tingkat Nasional Tahun 2026 dipusatkan di Kota Yogyakarta tepatnya di Indoluxe Hotel sebagai tempat belajar di kelas....

Read moreDetails

Kembali Bertamu di Air Terjun Parang Ijo pada Tahun 2026

by Laurensia Junita Della
August 15, 2026
0
Kembali Bertamu di Air Terjun Parang Ijo pada Tahun 2026

Ada kalanya rutinitas yang padat membuat kita ingin sejenak menjauh dari hiruk-pikuk kehidupan. Di tengah kesibukan yang seolah tidak ada...

Read moreDetails

Situ Cipondoh: Danau yang Menyimpan Air, Waktu, dan Kenangan

by Ahmad Sihabudin
August 10, 2026
0
Situ Cipondoh: Danau yang Menyimpan Air, Waktu, dan Kenangan

"Tempat-tempat tertentu tidak pernah benar-benar kita tinggalkan. Yang pergi sesungguhnya hanyalah usia kita." KEMARIN saya kembali mengunjungi Situ Cipondoh. Niatnya...

Read moreDetails

Pantai Jimbaran dengan Kafe Ikan Bakarnya  

by I Nyoman Tingkat
August 7, 2026
0
Pantai Jimbaran dengan Kafe Ikan Bakarnya  

Sejak dahulu, Jimbaran, Kedonganan, Kelan, dan Kuta adalah daerah nelayan. Namun, yang terkenal hanya Jimbaran dan Kuta. Ketika Asosiasi Kepala...

Read moreDetails

Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran

by I Nyoman Tingkat
August 2, 2026
0
Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran

SEBAGAIMANA Pura Ulun Swi pada umumnya, Pura Ulun Swi Jimbaran adalah Pura Subak dengan status Pura Kahyangan Jagat. Terkesan unik...

Read moreDetails

Mencari Rasa di Ranah Minang: Negeri yang Berbicara Lewat Masakan

by Ahmad Sihabudin
July 27, 2026
0
Mencari Rasa di Ranah Minang: Negeri yang Berbicara Lewat Masakan

"Perjalanan yang baik bukan sekadar memindahkan tubuh dari satu kota ke kota lain. Ia memindahkan cara pandang kita terhadap kehidupan."...

Read moreDetails

Menguak Pesanggrahan Prabu Siliwangi di ‘Kota Angin’ Majalengka

by Chusmeru
July 13, 2026
0
Menguak Pesanggrahan Prabu Siliwangi di ‘Kota Angin’ Majalengka

MENYUSURI jalanan di Kabupaten Majalengka mengingatkan berbagai julukan yang melekat pada daerah di bagian timur Provinsi Jawa Barat ini. Pertama...

Read moreDetails

Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

by Made Wirya
June 21, 2026
0
Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

Saya sangat jarang bergaul dengan alumni apa pun. Dari sekian puluh undangan reuni sekolah, kedatangan saya bisa dihitung dengan jari....

Read moreDetails
Next Post
Lomba Gebogan Sambut Hari Suci Saraswati di UPMI Bali: Merangkai Buah dan Merajut Kebersamaan

Lomba Gebogan Sambut Hari Suci Saraswati di UPMI Bali: Merangkai Buah dan Merajut Kebersamaan

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [4]: Kerumunan yang Tidak Bisa Dibaca

PADA 2010, sebuah platform bernama Nulisbuku.com mulai beroperasi dengan premis yang terdengar sangat sederhana sekaligus sangat radikal: siapa pun bisa...

by Andre Syahreza
August 22, 2026
Renungan Meja Makan
Esai

Renungan Meja Makan

DI banyak keluarga Indonesia, dulu, meja makan adalah tempat bersama untuk mengobrol, bertukar pikiran, atau berdiskusi sambil atau usai makan....

by Angga Wijaya
August 22, 2026
Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native
Esai

Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native

DIGITAL NATIVE, yaitu generasi yang tumbuh dalam lingkungan yang akrab dengan teknologi digital. Mereka terbiasa memperoleh informasi melalui mesin pencari,...

by I Ketut Suar Adnyana
August 22, 2026
Jaga Ekosistem Alam dan Lingkungan di Buleleng, Wabup Supriatna Lepaskan Tukik dan Bersihkan Saluran di Pantai Banjar
Lingkungan

Jaga Ekosistem Alam dan Lingkungan di Buleleng, Wabup Supriatna Lepaskan Tukik dan Bersihkan Saluran di Pantai Banjar

PEMERINTAH Kabupaten (Pemkab) Buleleng terus menguatkan komitmen terhadap pelestarian lingkungan melalui kegiatan Bersih Pantai dan Pelepasan Tukik di Pantai Banjar,...

by tatkala
August 21, 2026
Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata
Esai

Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata

BALI selama ini dibayangkan sebagai ruang sosial yang hangat, terbuka, dan penuh keramahan. Gambaran tentang orang Bali yang murah senyum,...

by I Ketut Suar Adnyana
August 21, 2026
Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [3]: Melayani Pembaca: Ketika Penulis Berhenti Memimpin

SESUATU bergeser setelah Ayat-Ayat Cinta menjadi fenomena nasional yang mengubah lanskap penerbitan Indonesia. Ayat-Ayat Cinta terbit pada 2004, segera menjadi...

by Andre Syahreza
August 22, 2026
Dari Makam Ki Hadjar Dewantara sampai Candi Prambanan
Tualang

Dari Makam Ki Hadjar Dewantara sampai Candi Prambanan

SAYA tidak merencanakan bahwa ketika kembali ke Bali melalui Bandara Yogyakarta International Airport (YIA), Kulon Progo, dari Kota Yogyakarta, saya...

by I Nyoman Tingkat
August 21, 2026
Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang
Esai

Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang

ADA kalanya sebuah sekolah menjadi tempat berlangsungnya sebuah kegiatan. Tetapi ada kalanya pula, sekolah justru menjadi bagian dari pesan yang...

by I Wayan Yudana
August 21, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Lomba Tujuhbelasan dan Pertanyaan tentang Kemerdekaan yang Kita Rayakan

---Kemerdekaan bukan hanya sesuatu yang diproklamasikan dan diperingati, tetapi sesuatu yang seharusnya dapat dialami manusia dalam kehidupan sehari-hari. PADA suatu...

by Tri Nugroho Adi
August 21, 2026
JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?
Esai

JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?

SAAT tulisan ini dibuat, JIA Curated mungkin sedang melaksanakan acara penutupan. Pamerannya sendiri berlangsung sejak tanggal 13 Agustus sampai 17...

by I Nyoman Gede Maha Putra
August 21, 2026
Buleleng Punya Kekayaan Sumber Daya Pangan Melimpah sebagai Modal Utama Melakukan Inovasi Pangan Lokal
Ekonomi

Buleleng Punya Kekayaan Sumber Daya Pangan Melimpah sebagai Modal Utama Melakukan Inovasi Pangan Lokal

BULELENG | TATKALA – Kabupaten Buleleng memiliki kekayaan sumber daya pangan yang melimpah. Mulai dari umbi-umbian, buah-buahan, hasil pertanian, peternakan,...

by tatkala
August 20, 2026
Sugi Lanus Bedah Akar “Brain Drain” dan Masa Depan Talenta Bali Utara di Buleleng Festival 2026
Khas

Sugi Lanus Bedah Akar “Brain Drain” dan Masa Depan Talenta Bali Utara di Buleleng Festival 2026

Masa depan sumber daya manusia di Bali Utara menjadi salah satu isu yang mengemuka dalam rangkaian agenda budaya tahunan Buleleng...

by Komang Puja Savitri
August 20, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co