14 May 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Tirtayatra Toska Se-Delod Ceking  :  Pura Luhur  Uluwatu   

I Nyoman Tingkat by I Nyoman Tingkat
February 9, 2025
in Tualang
Tirtayatra Toska Se-Delod Ceking  :  Pura Luhur  Uluwatu   

Penonton Kecak di Kawasan Luar Pura Uluwatu terpantau membludak dan mengular saat Siwa Ratri, 27-1-2025 [Foto I Nyoman Tingkat]

DARI 9 Pura yang menjadi objekperjalanan Tirtayatra Toska (SMA Negeri 2 Kuta Selatan) pada hari Suci Siwaratri, 27 Januari 2025, Pura Luhur Uluwatu menjadi tujuan terakhir, setelah bersembahyang di Pura Selonding. Jarak dari Pura Selonding ke Pura Luhur Uluwatu sekitar 5 km dengan waktu tempuh sekitar 10 menit saat lalu lintas Jalan Uluwatu lancar.

Rombongan Toska tiba di Parkir Pura Luhur Uluwatu menjelang sunset dengan angin barat mekuus sesuai dengan karakteristik Sasih Kapitu yang ditandai dengan hujan angin. Karakter itu selaras dengan kisah perburuan Lubdaka pada Purwanining Tilem Sasih Kapitu, sebagai simbol sapta timira (tujuh kegelapan) sebagai representasi dari kebodohan. Melalui perburuan satwa(m) kegelapan itu dicerahkan.

Saat rombongan Toska sampai di Pura Dalem Jurit Uluwatu, penonton kecak tampak menyemut menuju stage di tenggara Pura. Penonton tampak berjubel tertangkap kamera dari Pura Dalem Jurit Uluwatu. Sungguh pemandangan yang indah berlatar laut biru di sebelah barat.

Penonton Kecak di Kawasan Luar Pura Uluwatu terpantau membludak dan mengular saat Siwa Ratri, 27-1-2025 | Foto I Nyoman Tingkat

Penonton Kecak selain disuguhkan tarian dengan sesekali penonton dilibatkan dalam dialog, telah membuka hubungan komunikasi antara tetamu dari berbagai negara di belahan dunia. Seniman desa yang sukses melakukan diplomasi budaya tetapi belum dilirik para pembesar. Itu artinya kawasan luar Pura Uluwatu sudah menjadi Lembaga Pendidikan dan Kebudayaan yang perlu dirawat dengan kesadaran nekeng tuas senantiasamengedepankan keberlanjutan dan kelestarian alam yang ramah lingkungan. 

Namun, dalam setahun terakhir, Pura Luhur Uluwatu viral di media sosial dengan pemotongan tebing di sebelah utara Pura. Sejumlah pemedek yang tangkil menyayangkan pemotongan tebing itu. Alasannya, merusak keaslian dan kealamian tebing bila ditebang. Ibarat pohon besar yang telah lama dibatinkan dalam hati, bila tiba-tiba ditebang tanpa alasan yang jelas, akan membuat keseimbangan alam akan terganggu. Demikian pula tebing yang disebut ngampan penuh wibawa menjadi saksi berabad-abad bagi masyarakat sekitarnya. Di antara mereka yang berketetapan hati membatinkan wibawa tebing-tebing itu  merasa kehilangan cinta dan kesetiaan akan sejarah yang telah membentuknya.

Sejarah dipangkas melalui tebing yang ditebang. Semangat dan totalitas mental perjuangan Batu Pageh takluk di bawah relasi kuasa kapitalistik atas nama pariwisata. Begitulah pariwisata menjadi dewa pujaan baru yang kadang-kadang sampai menggadaikan situs-situs bersejarah dijarah kaum kapitalis.

Hal serupa juga terjadi pada saat reklamasi Pura Serangan pada 1990-an. Kisah seru naik jukung/jangolan untuk tangkil ke Pura Sakenan telah menghapus sejarah ingatan kolektif umat. Padahal, naik jukung/jangolan adalah tontonan bagi wisatawan yang dapat mendatangkan cuan. Kala itu, nelayan pemilik jukung/jangolan panen saat Pujawali di Pura Sakenan.

Memasuki Pura Uluwatu | Foto: Mia Indra Dewi

Sakenan menjanjikan panen yang seken kala puja wali tiba. Kini, naik jukung/jangolan ke Serangan tinggal kenangan yang membatin di kalangan orang-orang tua. Mereka bernostalgia menuju Serangan, Sira angen. Anak cucunya hanya akan mendengar kisah samar-samar bahkan gamang bila tutur tetua mereka terputus. Kata Majalah Tempo,  “Jika tidak dituliskan, bahkan cerita-cerita perjalanan paling dramatis pun akan hilang ditelan zaman”.

Hampir bersamaan dengan  Serangan diserang reklamasi dengan penanda Pura Sakenan, Kawasan Pura Tanah Lot juga diserang investor. Ada perlawanan kala itu dari masyarakat, toh Proyek Pariwisata Tanah Lot tetap berjalan dengan ikon Bali Nirwana Resort (BNR). Sempat viral saat itu Canang Sari dengan sesari bola golf sebagai sarana promosi pariwisata (Kumbara, 2001). Begitulah pariwisata budaya dibangun menapikan suara-suara orang pinggiran yang tak kuasa menolak. Menolak apalagi melawan tidak kuat menanggung beban. Akhirnya, masyarakat Bali, koh ngomong !

Hubungan Pura Luhur Uluwatu, Pura Tanah Lot dan Pura Sakenan terbangun secara sekala dan secara niskala. Secara sekala, Uluwatu, Tanah Lot dan Sakenan sama-sama dekat laut. Uluwatu dekat laut di ketinggian penuh wibawa lebih-lebih bila sunset tiba dengan cuaca cerah. Warna merah jingga keperakan di ufuk Barat seakan mengirimkan signal pada umat-Nya untuk tidur dengan mimpi indah. Demikian pula dengan Pura Tanah Lot yang mengandalkan sunset sama-sama banjir kunjungan wisatawan.

Sementara itu, Pura Sakenan dekat laut di dataran rendah yang landai sungguhlah damai. Bila cuaca baik, maka bukit-bukit di Gumi Delod Ceking akan tampak jelas. Sore ketika jukung-jukung nelayan merapat sungguh pemandangan yang indah dan memberikan cakrawala harapan sejauh  mata memandang.

Dari pemberitaan detikbali, dikabarkan telah terjadi polemik perubahan nama Pantai  Serangan menjadi Pantai Kura-kura, sejak World Water Forum (WWF) digelar di Nusa Dua Bali pada 18-25 Mei 2024. Forum Dunia tentang air di tengah krisis air di kawasan sekitar tempat forum berlangsung. Inilah disebut dunia sungsang dalam gaya bahasa disebut paradoks.

Secara niskala, para pemedek di ketiga Pura ini saling mendoakan dan saling menjaga keasrian dan keunikan masing-masing. Menuntun umat-Nya untuk memagari diri sekuat Batu Pageh menjaga dan merawat kesucian-Nya melalui ritual-ritual yang telah dijalankan sesuai pakemnya. Selain itu, ketiga Pura ini juga menjadi simbol penyatuan Siwa-Budha yang tidak terpisahkan, dengan Pura Sakenan sebagai simpul Budha. Buktinya, upacara-upacara besar yang digelar di Bali, kehadiran dua pendeta itu adalah sebuah keniscayaan.

Pura Luhur Uluwatu adalah teks hidup penuh wibawa  yang memenuhi syarat kohesi dan koherensi bila diandaikan paragraf dalam sebuah wacana besar tentang Bali. Secara Kohesivitas, Pura Luhur Uluwatu  dengan Pura-Pura lain di Bali secara fisikal terhubung, lebih-lebih berstatus Pura Sad Kahyangan di Ujung Barat Daya dalam perspektif Padma Bhuana.

Penyerahan Dana Punia Kepala SMA Negeri 2 Kuta Selatan kepada Pemangku Pura Luhur Uluwatu | Foto Mia Indra Dewi

Kedudukan Pura Luhur Uluwatu sebagai Sad Kahyangan berhadap-hadapan dengan posisi Pura Besakih, Pura Andakasa, dan Pura Batur. Oleh karena itu, daya wisesa Pura Luhur Uluwatu merepresentasikan Brahma (Pura Andakasa), Wisnu (Pura Batur), dan Siwa (Besakih) sebagai mana dilansir www.babadbali.com. Jadi, Pura Luhur Uluwatu menjadi pusat kemahakekuasaan Tuhan dalam manifestasinya sebagai Trimurti.

Dengan demikian, Pura Luhur Uluwatu yang berada di kaki Pulau Bali, Gumi Delod Ceking, tak ubahnya titik pusat refleksi untuk kesehatan lahir batin Bali Pulina. Sebagai mana layaknya manusia, kaki mesti kokoh berdiri agar seimbang gerak langkah pembangunan Bali sesuai dengan Trihita Karana.

Keterhubungan Pura Luhur Uluwatu dengan Pura Prasanak terdekat yang berada di wilayah Desa Adat Pecatu adalah penanda kohesivitas sekala. Menurut I Ketut Wiana,Pura Prasanak Uluwatu antara lain Pura Goa Selonding, Pura Pererepan di Desa Adat Pecatu,Pura Dalem Kulat, Pura Karang Boma, Pura Pengleburan, Pura Batu Metandal, dan Pura Goa Tengah. Sebagai Pura Sad Kahyangan, menurut I Ketut Wiana,  Pura Luhur Uluwatu memiliki wilayah hutan kekeran dengan radius 5 km.

Dengan menjadikan Pura Uluwatu sebagai titik pusat radius, maka 5 km ke barat adalah laut Uluwatu juga menjadi radius kekeran. Jadi, kekeran Pura Ulawatu meliputi  laut dan darat sebagai reprentasi segara–giri dan menjadi tanggung jawab bersama menjaga hubungan harmonis dalam keseimbangan. Jangan sampai wilayah dikaping apalagi dipagari pemilik modal.

Secara koherensi, sejumlah pemedek yang tangkil ke Pura Luhur Uluwatu secara turun-temurun dengan segala dinamikanya telah membangun hubungan batin dengan getar frekuensi  melalui kisah cerita dan berita. Ceritanya  akan bersifat ideosinkratik tetapi beritanya relatif sama dengan kekuatan data dan fakta. Ada perubahan pasti karena kehidupan itu berproses penuh dinamika. Tidak kekal, anica disebut dalam tradisi Budha.

Namun demikian, pembelajar di sekolah kehidupan mesti ngeh beradaptasi dan sadar membaca Uluwatu sebagai teks dengan tanda-tanda baca yang menyertainya. Agar teks menjadi jenar galang apadang bagi umat-Nya, maka relasi kuasa di ke-dini-an sewajarnya membangun hubungan harmoni dengan Hyang Kuasa di ke-Ditu-an.

Oleh karena relasi kuasa di kedinian sarat dengan dominasi ego, pembelajar di sekolah kehidupan perlu menyalakan lilin dari dalam goa diri untuk  melihat persoalan lebih dalam, jernih, dan tercerahkan.  Inilah pembelajaran yang mendalam  (deep learning) seperti diinisiasi Prof. Dr. Abdul Mu’ti, Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah. Dengan cara itulah, Pendidikan bermutu untuk semua termasuk kearifbijaksanaan dalam melaksanakan pembangunan berbasis kearifan lokal. Investor seharusnya tunduk pada kearifan lokal di mana tanah dipijak tanpa merusak dan memborbardir topografi Kawasan sesuai dengan konsep keberlanjutan dan keberseimbangan.

Foto bersama mengakhiri Tirtayatra Toska di Pura Uluwatu | Foto : Dayu Dena

Dengan pikiran liar ke mana-mana itu, saya membayangkan Uluwatu  selalu di ulu hati umat-Nya. Walaupun suara-suara miring yang menyertai segala dinamika terkait dengan tata ruang, Uluwatu masih tetap ramai didatangi pemedek untuk bersimpuh/bersila memuja-Nya, tak terkecuali rombongan Toska melaksanakan Tirtayatra saat hari Suci Siwa Ratri, pada 27 Januari 2025. Sebagaimana namanya, Tirtayatra adalah perjalanan suci mencari tirta amerta untuk ketenangan lahir batin saat berguru menimba ilmu.

Begitulah perjalanan Tirtayatra Toska di Gumi Delod Ceking memberikan pembelajaran Agama Hindu berbasis alam dengan menapaktilasi darmayatra Pujangga Dang Hyang Nirartha di Kaki Pulau Bali.        Tanpa sengaja, tulisan ketujuh dari perjalanan Tirtayatra Toska ini mulai digarap sesaat setelah Saraswati Puja  (8/2/2025) dan selesai saat Banyu Pinaruh (9/2/2025), setelah saya malukat di Pura Goa Peteng Jimbaran untuk merayakan Banyu Pinaruh. Menurut Jro Mangku Istri, Ni Ketut Sendi, sumber tirta di Pura Goa Peteng terhubung pula dengan Pura Luhur Uluwatu. Semoga dilapangkan jalan menulis Pura Goa Peteng pada edisi selanjutnya. [T]

Penulis: I Nyoman Tingkat
Editor: Adnyana Ole

  • BACA artikel lain dari penulis  NYOMAN TINGKAT
Tirtayatra Toska Se-Delod Ceking  :  Pura  Goa Selonding   
Tirtayatra Toska Se-Delod Ceking  :  Pura  Batu Pageh  
Tirtayatra Toska Se-Delod Ceking  :  Pura Goa Gong 
Tirtayatra Toska Se-Delod Ceking  :  Pura Gunung Payung
Tirtayatra Toska Se-Delod Ceking :  Pura Geger Dalem Pemutih dan Pura Karang Boma
Tirtayatra Toska Se-Delod Ceking :  Pura Taman Mumbul dan Pura Ratu Ayu Dalem Mumbul
Tags: Gumi Delod Cekingkuta selatanPura Luhur UluwatuSMAN 2 Kuta Selatantirtayatra
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

“Puja Stuti Saraswati” di Museum Lontar Dukuh Penaban-Karangasem: Festival di Tengah Alam

Next Post

“Anak Luh Ané Katiben Iusan Cédan Jagat”: Misoginis “Anak Muani Ané Tusing Kena Iusan Pakibeh Jagat”

I Nyoman Tingkat

I Nyoman Tingkat

Kepala SMA Negeri 2 Kuta Selatan, Bali

Related Posts

Mengenal Banyumas, Wisata Alam dan Kuliner yang Autentik

by Chusmeru
April 30, 2026
0
Mengenal Banyumas, Wisata Alam dan Kuliner yang Autentik

NAMA Kabupaten Banyumas selalu identik dengan bahasa “Ngapak” yang sering dijadikan lelucon dalam film dan komedi. Banyumas lantas seolah mendapat...

Read moreDetails

Pantai Mertasari Sanur, Ruang Kelas Bagi Toska   

by I Nyoman Tingkat
April 19, 2026
0
Pantai Mertasari Sanur, Ruang Kelas Bagi Toska   

JUMAT, 17 April 2026, sebanyak 67 siswa,  guru, dan tenaga kependidikan SMA Negeri 2 Kuta Selatan (Toska) melaksanakan pembelajaran di...

Read moreDetails

Ketika Nembang Macapat menjadi Bagian Hidup Warga Dusun Tengger di Gunung Kidul

by Laurensia Junita Della
April 19, 2026
0
Ketika Nembang Macapat menjadi Bagian Hidup Warga Dusun Tengger di Gunung Kidul

“Tanpa seni, dunia jadi hambar.” Saya tidak yakin dari mana saya mendapatkan kata-kata ini, tapi saya setuju. Sebagai orang yang...

Read moreDetails

Di Atas Awan, di Puncak Merbabu, Kami Menemukan Diri

by Muhammad Dylan Ibadillah Arrasyidi
April 14, 2026
0
Di Atas Awan, di Puncak Merbabu, Kami Menemukan Diri

HARI itu adalah hari yang telah lama saya nantikan. Hari ketika akhirnya saya bisa menyaksikan dunia dari ketinggian 3.145 mdpl,...

Read moreDetails

Berwisata ke Park Shanghai Surabaya

by Jaswanto
March 29, 2026
0
Berwisata ke Park Shanghai Surabaya

APA ada Surabaya di Shanghai? Saya kira tidak. Tapi ada Shanghai di Surabaya—meski hanya Shanghai-Shanghaian. Maksudnya, bukan Shanghai betulan. Hanya...

Read moreDetails

Menelusuri Jejak Gunung Api di Museum Geopark Batur, Kintamani

by Dede Putra Wiguna
March 24, 2026
0
Menelusuri Jejak Gunung Api di Museum Geopark Batur, Kintamani

KABUT tipis masih menggantung saat saya tiba di dataran tinggi Kintamani, Bangli, Bali. Udara dingin menempel di kulit, sementara di...

Read moreDetails

Desember yang Tak Pernah Usai —Catatan Harian 1982

by Ahmad Sihabudin
March 8, 2026
0
Desember yang Tak Pernah Usai —Catatan Harian 1982

DESEMBER 1982, kami baru naik kelas dua SMA. Umur masih belasan, dada penuh angin, kepala penuh peta yang belum tentu...

Read moreDetails

Menyusuri Heritage Kota, Memeluk Kaum Terpinggir —Kado Kecil Keluarga Sejarah Universitas Udayana untuk HUT ke-238 Kota Denpasar

by Kadek Surya Jayadi
February 28, 2026
0
Menyusuri Heritage Kota, Memeluk Kaum Terpinggir —Kado Kecil Keluarga Sejarah Universitas Udayana untuk HUT ke-238 Kota Denpasar

ADA banyak cara merayakan hari jadi suatu kota. Tak selamanya meski meriah, sebab yang sederhana pun kadang terasa semarak. Sebagaimana...

Read moreDetails

Berkunjung dan Belajar ke Desa Wisata Krebet, Bantul, Yogyakarta

by Nyoman Nadiana
February 26, 2026
0
Berkunjung dan Belajar ke Desa Wisata Krebet, Bantul, Yogyakarta

TANGGAL 4-8 Februari 2026 lalu, saya kembali menapaki Jakarta. Saya berkesempatan terlibat di pameran INACRAFT 2026, pameran craft dan textile...

Read moreDetails

Hujan Februari di Istana Maskerdam: Ziarah Romantis KEMAS UNUD di Situs Puri Agung Karangasem

by Kadek Surya Jayadi
February 21, 2026
0
Hujan Februari di Istana Maskerdam: Ziarah Romantis KEMAS UNUD di Situs Puri Agung Karangasem

RINTIK hujan mengiringi perjalanan kami Keluarga Mahasiswa Sejarah (KEMAS) Universitas Udayana, menuju Puri Agung Karangasem, Jumat 20 Februari 2026. Percuma...

Read moreDetails
Next Post
“Anak Luh Ané Katiben Iusan Cédan Jagat”: Misoginis “Anak Muani Ané Tusing Kena Iusan Pakibeh Jagat”

"Anak Luh Ané Katiben Iusan Cédan Jagat": Misoginis “Anak Muani Ané Tusing Kena Iusan Pakibeh Jagat”

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Karena Tak Sabaran, Tika Pagraky Luncurkan Tiga Lagu Sekaligus dan Buka Cerita di Balik “Bli Made”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cinta dan Penyesalan | Cerpen Dede Putra Wiguna

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

“Parasocial Relationship”: Antara Hiburan, Pelarian Emosional, dan Strategi Komunikasi Bisnis di Era Digital
Esai

Etika dan Empati di Atas Panggung: Peran MC dalam Menjaga Marwah Acara

PERISTIWA viral pada lomba cerdas cermat MPR baru-baru ini menjadi refleksi penting mengenai urgensi profesionalisme seorang Master of Ceremony (MC)...

by Fitria Hani Aprina
May 13, 2026
Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI
Esai

Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI

JAUH sebelum ada teknologi kecerdasan buatan (AI), sejak dulu saya menulis dengan banyak perbendaharaan kata. Salah satunya “sunyi”. Terlebih dalam...

by Angga Wijaya
May 12, 2026
“Aura Farming” Pacu Jalur: Kilau Viral, Makna Tergerus, Sebuah Analisis Budaya Digital
Esai

Jebakan Kepercayaan Diri Digital: Mengapa Generasi Z Rentan di Hadapan AI

Marc Prensky, peneliti pendidikan Amerika yang memperkenalkan istilah digital natives pada 2001, menulis dengan penuh keyakinan. Ia berargumen bahwa anak-anak...

by Marina Rospitasari
May 12, 2026
Pameran ‘Arka Umbara’ di TAT Art Space, Hasil Dari Perjalanan 14 Seniman Jongsarad Bali
Pameran

Pameran ‘Arka Umbara’ di TAT Art Space, Hasil Dari Perjalanan 14 Seniman Jongsarad Bali

Ini yang menarik dari Jongsarad Bali, kolektif seniman lintas bidang yang beranggotakan perupa, desainer, dan pembuat film. Setiap perjalanan mereka,...

by Nyoman Budarsana
May 11, 2026
Pengunjung PKB 2026 Jangan Bawa Makanan dan Minuman dari Luar Taman Budaya
Budaya

Pengunjung PKB 2026 Jangan Bawa Makanan dan Minuman dari Luar Taman Budaya

MENJAGA kebersihan dan mengelola sampah dengan disiplin menjadi kunci agar Pesta Kesenian Bali (PKB) tetap nyaman untuk dikunjungi. Kebersihan merupakan...

by Nyoman Budarsana
May 11, 2026
Tugas Etnis Baduy: “Ngasuh Ratu Ngayak Menak”
Esai

Eksistensi Suku Baduy di Era Digitalisasi dan ‘Artificial Intelligence’

SAAT penulis baca informasi tentang makhluk bernama Artificial Intelligence  (AI) terus terang sangat tercengang dan ngeri sekali, bagaimana mungkin manusia...

by Asep Kurnia
May 11, 2026
Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein
Esai

Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein

Satyendra Nath Bose: Saintis Sunyi dari India Satyendra Nath Bose lahir di Kolkata, India, pada 1 Januari 1894, di tengah...

by Agung Sudarsa
May 11, 2026
Menjaga Tubuh, Menjaga Sesama —Catatan dari Sebuah Hari Kemanusiaan bersama SCAU
Khas

Menjaga Tubuh, Menjaga Sesama —Catatan dari Sebuah Hari Kemanusiaan bersama SCAU

Prolog: Datang dari Sebuah Informasi Sederhana Kadang sebuah perjalanan panjang dimulai dari kalimat yang sangat pendek. Saya mengetahui kegiatan ini...

by Emi Suy
May 11, 2026
Crocodile Tears (2024): Penjara Air Mata Buaya
Ulas Film

Crocodile Tears (2024): Penjara Air Mata Buaya

RAUNGAN reptil purba itu masih terdengar samar, terus hidup, bahkan ketika saya berjalan keluar bioskop. Semakin jauh, raungan itu masih...

by Bayu Wira Handyan
May 11, 2026
Pulang | Cerpen Dede Putra Wiguna
Cerpen

Pulang | Cerpen Dede Putra Wiguna

DI penghujung tahun, aku akhirnya memberanikan diri untuk merantau. Dari kampung, mencoba peruntungan di Ibu Kota. Berbekal ijazah sarjana manajemen,...

by Dede Putra Wiguna
May 10, 2026
Gagal Itu Indah
Esai

Gagal Itu Indah

Merekonstruksi Arti Sebuah Kegagalan DALAM kehidupan modern, kegagalan sering dipandang sebagai akhir dari perjalanan. Seseorang dianggap berhasil bila mencapai standar...

by Agung Sudarsa
May 10, 2026
Refleksi Usai Menonton Film ‘Pesta Babi’ di Ubud
Ulas Film

Refleksi Usai Menonton Film ‘Pesta Babi’ di Ubud

PADA tanggal 9 Mei 2026, di malam hari, sekitar pukul 18:15 , saya mengunjungi Sokasi Café and Living. Alamat café...

by Doni Sugiarto Wijaya
May 10, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co