4 June 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Para Pejuang Akademisi Suku Baduy

Asep Kurnia by Asep Kurnia
February 10, 2025
in Esai
Tugas Etnis Baduy: “Ngasuh Ratu Ngayak Menak”

Asep Kurnia

BADUY tak lagi gelap gulita seperti dulu, kini tampak remang-remang menuju situasi transparan. Isolasi diri yang menjadi ciri khusus tampaknya berkurang tak seperti tempo dulu. Bendungan “menolak pemodernan dan perubahan” yang selalu mereka pertahankan, kini tembok bendungan itu mulai retak-retak dan air berpolutan modern mulai merembes, bahkan sudah mengalir deras walau belum jebol secara total.

Kesederhanaan yang menjadi ciri khas pun kian memudar dan berganti menjadi berwarna, karena mereka mulai rajin bersolek dengan bedak-bedak non alamiah. Itulah wajah Baduy yang bisa kita lihat sekarang.

Wajah Baduy yang kini kian berseri sesungguhnya akibat adanya polesan-polesan  dari “doktor khusus kecantikan” Baduy yang penulis sebut “Sang Pejuang dan Sang Pengabdi” suku Baduy.  Di tulisan terdahulu sudah penulis paparkan satu doktor spesialis (akademisi ) yang mengurus tentang ragam kebutuhan suku Baduy yaitu Prof. Sihab dengan segala perjuangan dan kekaryaannya. Di episode ini penulis izin memaparkan pejuang akademisi lainnya dengan kespesialisannya dan kekaryaanya.

Dr. Drs. Imam B. Prasodjo, M.A,Ph.D 

Di negeri ini, siapa yang tidak kenal dengan nama besar seorang tokoh masyarakat Dr. Imam B. Prasodjo? Agak aneh bila ilmuwan, cendikiawan, pejabat, politikus, peduliwan kemanusiaan dan lembaga negara plus Lembaga Swadaya Masyarakat tidak mengenal beliau. Tidak usah penulis jelaskan panjang lebar siapa beliau di dunia pendidikan dan dalam bidang sosial kemasyarakatan. Pembaca dan publik sudah lebih tahu dan hafal bagaimana piawainya ketika beliau menjadi narasumber di berbagai acara dan bagaimana perhatiannya kepada lingkungan sosial budaya dan kaum dhuafa.  

Di artikel ini, kisah beliau menjadi begitu familier dengan suku Baduy-lah yang ingin penulis kisahkan dikaitkan dengan beliau sebagai pemerhati lingkungan sosial budaya, karena beliau adalah sosiolog ulung yang bersamaan menjabat Presiden Direktur “ Yayasan Nurani Dunia” yang bergerak di bidang sosial kemanusiaan.

Perkenalan pertama antara bidan Eros Rosita sebagai finalis di acara “Danamod Award 2008 “ yang mengantarkan seorang Dr. Imam  B. Prasodjo menjadi respek dan interest terhadap suku Baduy. Beliau adalah  juri senior di acara tersebut yang memutuskan bidan Eros Rosita sebagai pemenang finalis katagori Individu tentang Pemberdayaan Masyarakat atas perannya dalam : “ Memberdayakan dengan mengajak warga Baduy di Desa Kanekes, Banten yang mencakup 59 kampung untuk peduli pada kesehatan dengan memberi penyuluhan-penyuluhan ke setiap kampung “ ( 14 Agustus 2008 ) .  

Bidan Eros Rosita adalah salah satu petugas kesehatan Kabupaten Lebak yang ditugaskan secara khusus sebagai bidan suku Baduy sampai sekarang. Boleh dong sedikit pamer, bidan Eros Rosita itu adalah mantan pacarnya penulis alias istriku…hehehe. (baca kisahnya nanti di episode Para Pengabdi Suku Baduy).

Dua bulan dari penobatan tersebut, beliau langsung menyambangi tanah ulayat Baduy melalui kunjungan supervisi ke rumah bidan Eros dan observasi lapangan. Maka sejak kunjungan pertamanya ke Baduy, beliau terkaget-kaget, terperangah dan kagum terhadap suku Baduy; yang beliau sebut Baduy adalah sesuatu suku yang antik, aset budaya paling seksi di Banten yang memiliki nilai estetika yang dapat di eksplorasi dan memiliki nilai jual tinggi. Itu pandangan pertama beliau pada Baduy. Tapi setelah beliau banyak interaksi dengan masyarakat Baduy beliau mengatakan :  “Sekarang saya sudah disini menyatakan, Baduy sebagai aset nilai budaya tidak pantas dijadikan komoditi“. Pernyataan itu penulis sebut sebagai kesimpulan beliau terhadap suku Baduy.

Dengan pernyataan yang sedikit menyengat bahwa Baduy jangan dijadikan komoditi, beliau akhirnya memutar haluan model program membantu Baduy dengan cara membantu mengembangkan budaya suku Baduy khsususnya, Baduy Luar itu yang pertama. Kedua, memberdayakan masyarakat Baduy di bidang kesehatan sesuai dengan program-program unggulan pilihan bidan Eros Rosita, yaitu memelekan masyarakat untuk ikut menjadi akseptor Keluarga Berencana (KB), meningkatkan derajat kesehatan ibu dan anak.

Berikutnya mengubah hukum adat (paradigma) dari asalnya menolak kesehatan modern  menjadi menerima pelayanan kesehatan modern dan menggeser perilaku kesehatan dari asalnya dijemput (didatangi) dibalik menjadi mendatangi petugas dan layanan kesehatan sampai membantu membelikan tanah sekaligus membangun Imah Pangubaran dan Pusat Informasi Baduy.

Berbagai program bantuan memberdayakan kesehatan Baduy beliau lakukan secara berkelanjutan dan berkesinambungan hampir 5 tahun berturut-turut bagaikan pepatah penulis: “Tiada Hari, Minggu, Bulan dan Tahun tanpa beraksi di Baduy.” Setiap kunjungan ke Baduy dipastikan membawa berbagai kebutuhan kesehatan dari mulai penyedian berbagai obat-obatan terutama alat kontrasepsi KB plus alat-alat kesehatan yang disimpan di PMB-nya bidan Eros yang mengelola Imah Pangubaran Baduy, dan semuanya digratiskan.

Beliau bekerja sama dengan PT. JNE pimpinan Moch, Johari Zein dan Yayasan Nurani Dunia yang beliau pimpin serta dengan BKKBN pusat. Perjuangan tanpa lelahnya beliau dalam mendukung peningkatan pelayanan kesehatan warga Baduy melalui bidan Eros membuahkan hasil yang luar biasa terhadap perubahan pola kesehatan masyarakat Baduy, terutama pencapaian akseptor KB sampai di tahun 2013 tercatat 1.200 akseptor KB aktif dari hampir seluruh kampung Baduy Luar.

Selain memperjuangkan peningkatan derajat sehat masyarakat Baduy,  beliau juga memberdayakan warga Baduy tentang pentingnya sanitasi lingkungan dengan sosialisasi penggunaan air bersih dan jamban serta WC. Beliau meprakarsai diadakannya tampungan air dan Jamban. Bantuan toren, selang dan kloset pun dibelikan sampai pada proses pemasangan.

Pemberdayaan anak muda untuk mengubah gula merah dengan jahe merah dijadikan Gula Semut yang menjadi hak cipta Baduy juga dilakukan. Amir dan Sarpin adalah tokoh muda yang menjadi agent of change Baduy didiklat khusus oleh beliau sekaligus dibelikan alat-alat peramu Gula Semut. Dan sampai sekarang Gula Semut, Gula Jahe, Bandrek Baduy akhirnya menjadi kuliner hak cipta asli Baduy.

Sangat banyak tindakan-tindakan kemanusiaan beliau yang diperuntukan suku Baduy, termasuk bantuan spesial pada Baduy Dalam Cibeo membelikan tanah 4 hektar di luar Baduy, dikelola atau diurus oleh warga Baduy Luar tetapi segala hasil dari tanah tersebut diperuntukan untuk warga Baduy Dalam Cibeo. Hal lainnya yang tidak kalah bermanfaatnya adalah pemberian sepeda motor kepada 4 relawan guru yang peduli terhadap pendidikan Baduy dan sekitar Baduy; juga bantuan 25 sepeda untuk siswa SMP yang rapat dengan tanah ulayat Baduy. Beliau juga aktif memfasilitasi dalam mengurus KTP warga Baduy sampai mempertemukan ke pejabat pusat, di antaranya ke Menteri Dalam Negeri. 

Tentunya banyak poin-poin perjuangan beliau selama 14 tahun (2008 – 2021) yang tidak sempat dicatatakan di tulisan ini. Penulis bermunajat semoga segala amal baik beliau menjadi pahala dan dibalas berlipat ganda oleh Allah SWT juga bermanfaat untuk kemartabatan suku Baduy ke depan.

Ini pesan dan kesan beliau yang disampaikan ke publik. Beliau adalah akademisi yang menyebutkan :  “kalau membantu Baduy itu jadi dilematis, karena satu sisi membantu di sisi lain meracuni.” Tapi prinsip beliau adalah ikut berpartisipasi dan berkontribusi dalam meningkatkan derajat kesehatan masyarakat Baduy plus mengupayakan meningkatkan kesejahteran warga Baduy melalui permberdayaan masyarakat Baduy itu sendiri.

Semoga ke depan dan di depan akan ada dan bermunculan Imam B. Prasojdo masa kini untuk masa depan suku Baduy. Amien.

Prof. Dr. Moh Fadli S.H., M.Hum.

Penulis tidak terlalu banyak mengetahui profil beliau, karena beliau satu di antara sekian sahabat dari akademisi yang penampilan dan gesturnya kalem, santai, hemat berbicara dan someah (penuh etika). Tetapi kalau  soal bertukar pikiran beliau selalu menyisipkan dan menyusupkan kalimat penuh daging dan bergizi sehingga penulis pun ajrih (menaruh hormat pada beliau). Beliau ternyata merupakan dosen Hukum Adminitrasi Negara di Fakultas Hukum Brawijaya  yang menekuni Ilmu Hukum sejak dari Sarjana, Megister sampai meraih gelar Doktor di Universitas Padjajaran  Bandung tahun 2012.

Dari catatan yang ada, beliau adalah pengajar Hukum Tata Usaha Negara, Hukum Lingkungan, Hukum Islam, Ilmu Perundang-Undangan dan Hak Azasi Manusia di beberapa Universitas dan atau Perguruan Tinggi. Kesetiaan meneliti local wisdom di berbagai Komunitas Adat (etnis) di Indonesia adalah ciri khususnya beliau.

Termasuk kesetiaan meneliti dan mengkaji sosial budaya suku Baduy yang berkelanjutan serta tidak pernah berhenti dari tahun ke tahun berikutnya. Paling tidak 5 tahun berturut-turut (2019-2024) beliau dengan teamnya selalu mengadakan apa yang disebut Focus Group Discussion (FGD) yang mengangkat tema-tema trending dikaitkan dengan kharakter budaya keadatan Baduy, yang tentunya sangat memberi manfaat bagi kesukuan Baduy.

Dengan kesetiaan beliau rajin mengangkat topik yang berkaitan dengan local wisdom Baduy diarena publik dan akademik. Pada hakikatnya beliau telah sangat membantu menyebarluaskan informasi yang akurat serta mempulikasikan situasi dan kondisi nyata suku Baduy dari tahun ke tahun  selama kurang lebih 13 tahun (2012 – 2024) . Sehingga dengan publikasi beliau di forum resmi yang apik, epik, serta maching dengan kondisi riil di lapangan bisa sedikit demi sedikit meluruskan informasi ke-Baduy-an yang selama ini dirasakan selalu antagonis atau terpenggal penggal.  Inilah yang menjadi point penting kekaryaan Prof. Fadli bagi masyarakat Baduy.

Perjuangan beliau mengkonter berbagai informasi yang miring, tidak akurat dan terpenggal tentang cerita dan kisah kesejarahan suku Baduy dengan informasi akurat dari hasil kajiannya yang konkret dan orisinal selama 13 tahun telah sangat berhasil melunturkan pandangan-pandangan negatif tentang siapa Baduy sebenarnya di tataran akademik. 

Pelurusan informasi ke-Baduy-an yang selama ini simpang siur terutama karena penggunaan literatur oleh researcher yang berbeda dengan fakta di lapangan yang mengakibatkan biasnya sebuah kajian tentang Baduy berhasil dihindari. Pelurusan informasi itu tidak mudah, perlu perjuangan secara akademis yang rumit dan panjang bukan? Berkat pengkajian secara akademik yang dilakukan secara terus menerus oleh Prof. Fadli, maka bias-bias kajian yang selama ini sering terjadi menjadi mereda.

Maka, atas dasar narasi di atas penulis berani memasukkan Prof, Fadli sebagai Pejuang Akademisi Suku Baduy versi penulis.  Sampai saat ini beliau tidak berhenti memasarkan berbagai budaya adiluhung dan local wisdom Baduy ke berbagai pihak yang ditemani oleh murid terkasihnya  Dosen Fakultas Hukum Untirta, ahli hukum Baduy Dr. Mohamad Noor Fajar A.AF.S.H, M.H.

Baduy yang kini tumbuh dari Baduy masa lalu. Kekinian Baduy adalah bagian yang tak terpisahkan dari hasil polesan para pejuang, pengabdi, dan pembaharu  masa lalu Baduy. Baca kisah dan cerita tentang Baduy pada tulisan-tulisan berikutnya. [T]

Penulis: Asep Kurnia
Editor: Adnyana Ole

  • BACA esai-esai tentang BADUY
  • BACA esai-esai lain dari penulis ASEP KURNIA
“The Baduy Warrior”: Pejuang Suku Baduy
Para Pejuang dan Pengabdi Suku Baduy
Sekilas Informasi Wisata  Saba Budaya  Baduy
Efek Intensitas Wisatawan Saba Budaya Baduy
Kalender Adat dan ”Kolenjer” — [Bagian 1]: Panduan Kehidupan Etnis Baduy
Tugas Etnis Baduy: “Ngasuh Ratu Ngayak Menak”
Tags: kesehatanmasyarakat adatPariwisataProvinsi BantenSuku Baduy
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

“Anak Luh Ané Katiben Iusan Cédan Jagat”: Misoginis “Anak Muani Ané Tusing Kena Iusan Pakibeh Jagat”

Next Post

Ngurah Panca Prasetya dan Pilihan untuk Bekerja di Desa  |  Cerita dari Buleleng Timur

Asep Kurnia

Asep Kurnia

Pemerhati Baduy, tinggal di tapal batas Baduy

Related Posts

Sekaa Teruna: Menjaga Tradisi, Mencetak Pemimpin

by Kadek Agus Yoga Dwipranata
June 4, 2026
0
Sekaa Teruna: Menjaga Tradisi, Mencetak Pemimpin

DI tengah arus globalisasi dan perkembangan teknologi yang berlangsung begitu cepat, generasi muda Bali menghadapi tantangan yang tidak sederhana. Mereka...

Read moreDetails

Korespondensi, Masihkah Diajarkan di Sekolah Kini?

by Angga Wijaya
June 4, 2026
0
Korespondensi, Masihkah Diajarkan di Sekolah Kini?

SIANG hari beberapa waktu lalu saat pulang kampung, saya membuka sebuah kotak lama berisi tumpukan surat. Kertas-kertas itu mulai menguning....

Read moreDetails

Pertemuan William James dan Vivekananda

by Agung Sudarsa
June 3, 2026
0
Pertemuan William James dan Vivekananda

Dua Biografi: Jalan dari Timur dan Barat SWAMI Vivekananda lahir dengan nama Narendra Nath Datta pada tahun 1863 di Kolkata,...

Read moreDetails

‘Nyama Kelod-Nyama Kaje’: Menakar Kerukunan Tradisional Menjadi Mesin Baru Pariwisata Inklusif Buleleng

by Eril Paizi
June 2, 2026
0
‘Nyama Kelod-Nyama Kaje’: Menakar Kerukunan Tradisional Menjadi Mesin Baru Pariwisata Inklusif Buleleng

JIKA ada wilayah di Bali yang paling fasih merawat keberagaman jauh sebelum kosakata "moderasi" riuh diperdebatkan di ruang-ruang seminar, tempat...

Read moreDetails

‘Teror Pocong’ dan Hantu-Hantu di Singgasana Kekuasaan

by Early NHS
June 2, 2026
0
(Semoga) Tak Ada Revolusi Hari Ini!

BELAKANGAN ini, pocong sedang ramai dibicarakan. Berbagai video pendek yang menampilkan sosok berkain kafan beredar luas di media sosial, pesan...

Read moreDetails

(Tidak Ada) Literasi Digital

by I Wayan Artika
June 2, 2026
0
(Tidak Ada) Literasi Digital

LITERASI digital berkaitan dengan proses kognitif terhadap apa yang dilihat seseorang pada layar komputer ketika menggunakan media yang terhubung melalui...

Read moreDetails

Bali Sané Mangkin: Pembiasaan Laku Malalaksana?

by Rsi Suwardana
June 1, 2026
0
Bali Sané Mangkin: Pembiasaan Laku Malalaksana?

PEMBIASAAn terhadap cara pandang ataupun perbuatan yang tidak sepantasnya (mala-laksana/malalaksana) adalah benalu. Pembiasaan ini mengaburkan batas antara yang patut dan...

Read moreDetails

Perayaan Hari Lahir Pancasila Zaman Now, Dari Seremoni Menuju Kesadaran Kolektif

by Agung Sudarsa
June 1, 2026
0
Perayaan Hari Lahir Pancasila Zaman Now, Dari Seremoni Menuju Kesadaran Kolektif

Hari Lahir Pancasila: Merayakan Gagasan Besar Bangsa Setiap tanggal 1 Juni bangsa Indonesia memperingati Hari Lahir Pancasila. Pada hari itu,...

Read moreDetails

Awas Ada Pocong!

by Dede Putra Wiguna
May 31, 2026
0
Awas Ada Pocong!

BELAKANGAN ini, masyarakat di berbagai daerah di Indonesia dihebohkan oleh kemunculan ‘pocong jadi-jadian’. Sosok yang biasanya ada dalam cerita horor...

Read moreDetails

Membaca Kembali W.S. Rendra di Tengah Wacana Penutupan Prodi

by Ahmad Fatoni
May 31, 2026
0
Membaca Kembali W.S. Rendra di Tengah Wacana Penutupan Prodi

……………..Aku bertanya:Apakah gunanya pendidikanbila hanya akan membuat seseorang menjadi asingdi tengah kenyataan persoalannya?Apakah gunanya pendidikanbila hanya mendorong seseorangmenjadi layang-layang di...

Read moreDetails
Next Post
Ngurah Panca Prasetya dan Pilihan untuk Bekerja di Desa  |  Cerita dari Buleleng Timur

Ngurah Panca Prasetya dan Pilihan untuk Bekerja di Desa  |  Cerita dari Buleleng Timur

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Pandemi, Hukum Rta, dan Keimanan Saya

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cinta dan Penyesalan | Cerpen Dede Putra Wiguna

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

‘Nalaskara’, Menafsir Nyala Siat Geni dalam Gerak yang Dinamis dan Penuh Semangat
Panggung

‘Nalaskara’, Menafsir Nyala Siat Geni dalam Gerak yang Dinamis dan Penuh Semangat

SOROT lampu panggung perlahan menghangatkan Wantilan Pura Puseh Desa Adat Batuan, Gianyar, Sabtu malam, 30 Mei 2026. Setelah denting gamelan...

by Dede Putra Wiguna
June 4, 2026
Cukup Telulas?
Bahasa

Cukup Telulas?

BISA jadi telanjur terbentuk stigma tiga belas identik dengan celaka, sial, dan segala bentuk ketidakberuntungan maka sangat penting diupayakan menghindari...

by Komang Berata
June 4, 2026
Sekaa Teruna: Menjaga Tradisi, Mencetak Pemimpin
Esai

Sekaa Teruna: Menjaga Tradisi, Mencetak Pemimpin

DI tengah arus globalisasi dan perkembangan teknologi yang berlangsung begitu cepat, generasi muda Bali menghadapi tantangan yang tidak sederhana. Mereka...

by Kadek Agus Yoga Dwipranata
June 4, 2026
Korespondensi, Masihkah Diajarkan di Sekolah Kini?
Esai

Korespondensi, Masihkah Diajarkan di Sekolah Kini?

SIANG hari beberapa waktu lalu saat pulang kampung, saya membuka sebuah kotak lama berisi tumpukan surat. Kertas-kertas itu mulai menguning....

by Angga Wijaya
June 4, 2026
Baduy Luar,  Etalase Pariwisata Banten
Tualang

Baduy Luar,  Etalase Pariwisata Banten

SEHARI di Baduy Luarbersama Bandesa/Panglingsir Desa Adat di Badung pada Jumat Paing Gumbreg, 15 Mei 2026, selain merasakan suasana alami...

by I Nyoman Tingkat
June 3, 2026
Dokter Gia: Pilihan Kata Mengolah Rasa
Bahasa

Dokter Gia: Pilihan Kata Mengolah Rasa

DOKTER Gia Pratama (dr. Gia) —seorang dokter dan penulis yang aktif di media sosial untuk mengedukasi masyarakat dalam dunia kesehatan—pernah...

by I Made Sudiana
June 3, 2026
Dari Kamar Biasa ke Pengalaman Luar Biasa —Cerita Desa Kedisan Berbenah
Khas

Dari Kamar Biasa ke Pengalaman Luar Biasa —Cerita Desa Kedisan Berbenah

DESA Kedisan di Kintamani, Bangli, itu sebenarnya sudah “menjual” tanpa harus banyak usaha. Pemandangan Danau Batur yang tenang, udara sejuk, dan suasana desa yang...

by Ni Luh Putu Intan Nirmalasari
June 3, 2026
Dari Panggung Proklamasi di Desa Depeha: Ketika Siswa SD Mengumandangkan Kembali Teks Proklamasi yang Sakral
Panggung

Dari Panggung Proklamasi di Desa Depeha: Ketika Siswa SD Mengumandangkan Kembali Teks Proklamasi yang Sakral

SELASA pagi, 2 Juni 2026, udara dingin bergerak pelan hingga memenuhi setiap sudut Wantilan Kantor Desa Depeha, Kecamatan Kubutambahan, Buleleng....

by Komang Sujana
June 3, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Reforma Agraria : Ketika Rakyat Hanya Memegang HGB di Atas HPL Bank Tanah

REFORMA Agraria merupakan salah satu agenda konstitusional yang lahir dari cita-cita besar para pendiri bangsa untuk mewujudkan keadilan sosial di...

by I Made Pria Dharsana
June 3, 2026
‘Ruwating Bumi’ —Tradisi Perang Gandu yang Menjelma Komposisi Semar Pegulingan
Panggung

‘Ruwating Bumi’ —Tradisi Perang Gandu yang Menjelma Komposisi Semar Pegulingan

MALAM itu, di Wantilan Pura Puseh Desa Adat Batuan, Gianyar, karya berjudul ‘Ruwating Bumi’ membuka rangkaian Diseminasi Karya Tugas Akhir...

by Dede Putra Wiguna
June 3, 2026
Refleksi Harmoni dalam Panggung Seni —Ketika Mahasiswa Sendratasik UPMI Bali Merawat Tradisi Melalui Karya Inovatif
Panggung

Refleksi Harmoni dalam Panggung Seni —Ketika Mahasiswa Sendratasik UPMI Bali Merawat Tradisi Melalui Karya Inovatif

DI tengah derasnya arus modernisasi yang terus menguji ketahanan budaya Bali, seni pertunjukan kembali menegaskan perannya sebagai ruang refleksi sekaligus...

by Dede Putra Wiguna
June 3, 2026
Pertemuan William James dan Vivekananda
Esai

Pertemuan William James dan Vivekananda

Dua Biografi: Jalan dari Timur dan Barat SWAMI Vivekananda lahir dengan nama Narendra Nath Datta pada tahun 1863 di Kolkata,...

by Agung Sudarsa
June 3, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co