12 September 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Masa Depan Pendidikan di Era AI: ChatGPT dan Perplexity, Alat Bantu atau Tantangan Baru?

Putu Gangga Pradipta by Putu Gangga Pradipta
March 14, 2025
in Esai
Masa Depan Pendidikan di Era AI: ChatGPT dan Perplexity, Alat Bantu atau Tantangan Baru?

Gangga Pradipta

DI era digital yang semakin maju, kecerdasan buatan (AI) telah merambah ke berbagai aspek kehidupan, termasuk dunia pendidikan. Kehadiran teknologi ini memberikan kemudahan luar biasa dalam mengakses informasi, menyelesaikan tugas, hingga memahami konsep-konsep yang kompleks. Dua platform AI yang tengah naik daun di kalangan pelajar adalah ChatGPT dan Perplexity.

Keduanya menawarkan solusi instan yang membantu dalam proses belajar. Namun, apakah teknologi ini benar-benar mendukung pengembangan intelektual, atau justru membuat pelajar semakin bergantung hingga kehilangan kemampuan berpikir kritis?

ChatGPT yang dikembangkan oleh OpenAI adalah model bahasa berbasis AI yang mampu menghasilkan teks menyerupai tulisan manusia. Dengan kemampuannya menjawab pertanyaan, memberikan penjelasan mendalam, hingga membantu dalam menulis esai, ChatGPT menjadi favorit bagi banyak pelajar.

Di sisi lain, Perplexity AI menawarkan pendekatan yang sedikit berbeda. Platform ini berfungsi sebagai mesin pencari berbasis AI yang tidak hanya memberikan jawaban tetapi juga mengutip sumber-sumber terpercaya, memungkinkan pengguna mendapatkan informasi yang lebih kredibel.

Kemudahan yang ditawarkan kedua platform ini memicu peningkatan penggunaannya di kalangan pelajar. Sebuah survei yang dilakukan pada 24 Mei 2023 di Departemen Sosiologi Universitas Negeri Padang menunjukkan bahwa 79,4% mahasiswa telah mengetahui dan menggunakan ChatGPT dalam berbagai konteks akademis maupun non-akademis (Naradidik).

Data itu menunjukkan bahwa pelajar dan mahasiswa semakin bergantung pada AI dalam kegiatan sehari-hari. Namun, muncul pertanyaan mendasar: apakah penggunaan AI ini benar-benar meningkatkan kualitas pembelajaran, atau justru melemahkan kemandirian pelajar?

Tidak dapat disangkal bahwa ChatGPT dan Perplexity membawa berbagai manfaat signifikan dalam dunia pendidikan. Salah satu keunggulan utama adalah efisiensi dalam mengakses informasi. Sebelum adanya AI, pelajar harus mencari referensi dari berbagai buku atau artikel jurnal yang memakan waktu. Dengan teknologi ini, mereka bisa mendapatkan rangkuman materi dalam hitungan detik.

Selain itu, AI juga membantu memahami konsep yang sulit. Misalnya, bagi siswa yang kesulitan dalam matematika, ChatGPT dapat memberikan langkah-langkah penyelesaian soal secara rinci. Perplexity, dengan fitur pencarian berbasis AI-nya, membantu siswa dalam mencari referensi akademik yang lebih terpercaya. Tidak hanya itu, bagi pelajar yang memiliki keterbatasan dalam menulis esai atau laporan, AI dapat memberikan saran struktur tulisan, memperbaiki tata bahasa, hingga membantu mengembangkan ide. Dengan demikian, teknologi ini dapat menjadi mentor virtual yang mendukung proses belajar-mengajar.

Di balik semua manfaat tersebut, penggunaan AI dalam pendidikan juga menghadirkan tantangan besar, terutama dalam hal ketergantungan. Pelajar yang terlalu sering menggunakan ChatGPT untuk menjawab tugas-tugas akademik bisa kehilangan kemampuan berpikir kritis.

Sebuah penelitian yang dilakukan oleh UNESCO menunjukkan bahwa terlalu banyak mengandalkan AI dalam belajar dapat menghambat perkembangan keterampilan kognitif siswa, karena mereka lebih sering menerima jawaban daripada mencari tahu sendiri (UNESCO, 2023).

Jika kebiasaan ini terus berkembang, pelajar akan semakin malas menganalisis informasi, dan pada akhirnya, bisa menurunkan daya kreativitas mereka.

Selain itu, tidak semua jawaban yang diberikan oleh ChatGPT atau Perplexity selalu benar. AI bekerja dengan memprediksi kata-kata berdasarkan pola data yang sudah ada, bukan berdasarkan pemahaman seperti manusia. Akibatnya, ada risiko informasi yang tidak akurat atau kurang relevan dengan konteks yang sedang dipelajari. Jika pelajar hanya menyalin tanpa melakukan verifikasi, mereka bisa mendapatkan pemahaman yang salah tentang suatu materi.

Salah satu dampak negatif lain dari penggunaan ChatGPT dan Perplexity adalah meningkatnya kasus plagiarisme. Beberapa pelajar mungkin tergoda untuk menyalin jawaban yang diberikan oleh AI tanpa memahami isinya. Hal ini berbahaya karena dapat menurunkan integritas akademik. Beberapa universitas di dunia bahkan mulai mengambil langkah tegas terhadap penggunaan AI dalam tugas akademik.

Universitas Cambridge, misalnya, telah mengeluarkan kebijakan bahwa mahasiswa yang ketahuan menggunakan AI tanpa mencantumkan sumbernya dapat dianggap melakukan pelanggaran akademik (The Guardian, 2023). Dengan demikian, meskipun AI bisa menjadi alat bantu yang bermanfaat, penggunaannya tetap harus diawasi agar tidak menurunkan standar akademik yang sudah ada.

Agar pelajar tetap mendapatkan manfaat dari AI tanpa mengalami ketergantungan, penting untuk memahami cara penggunaan yang bijak. AI sebaiknya digunakan untuk memberikan gambaran umum atau ide awal, bukan sebagai sumber utama dalam menyelesaikan tugas. Siswa harus tetap membaca buku, jurnal ilmiah, dan berdiskusi dengan guru atau dosen untuk mendapatkan pemahaman yang lebih mendalam. Karena AI tidak selalu memberikan jawaban yang benar, penting untuk selalu melakukan verifikasi terhadap informasi yang diberikan. Siswa harus membandingkan hasil yang diperoleh dari AI dengan sumber akademik yang lebih kredibel.

Alih-alih hanya menerima jawaban dari AI, siswa sebaiknya menggunakan AI untuk mengajukan pertanyaan yang lebih kompleks dan mencoba memahami jawabannya dengan pendekatan analitis. Dengan begitu, mereka tetap melatih kemampuan berpikir kritis. Pelajar sebaiknya menggunakan AI untuk memperbaiki tata bahasa, mengembangkan ide, atau mengasah kemampuan menulis, bukan sekadar menyalin jawaban yang diberikan.

Dengan begitu, AI akan menjadi alat bantu yang efektif, bukan pengganti usaha belajar. Selain itu, belajar tidak hanya tentang mencari jawaban, tetapi juga berdiskusi dan bertukar pendapat. Pelajar harus tetap berinteraksi dengan guru dan teman sekelas agar proses pembelajaran lebih kaya dan interaktif.

Teknologi AI seperti ChatGPT dan Perplexity menawarkan berbagai manfaat dalam dunia pendidikan, mulai dari efisiensi dalam mencari informasi hingga membantu memahami konsep yang sulit. Namun, jika tidak digunakan dengan bijak, AI dapat membuat pelajar kehilangan kemampuan berpikir kritis dan mandiri.

Oleh karena itu, penting bagi pelajar untuk menyeimbangkan penggunaan teknologi dengan pengembangan keterampilan berpikir. AI seharusnya menjadi alat bantu yang mendukung pembelajaran, bukan menjadi pengganti usaha belajar itu sendiri. Dengan kesadaran ini, generasi muda dapat tumbuh menjadi individu yang tidak hanya melek teknologi tetapi juga memiliki daya analisis yang tajam dan kreativitas yang tinggi.

Di masa depan, pendidikan yang ideal bukan hanya soal menguasai teknologi, tetapi juga bagaimana menggunakannya dengan cara yang benar. Sebagai pelajar, pilihan ada di tangan kita: apakah kita akan membiarkan AI berpikir untuk kita, atau kita akan menggunakan AI sebagai alat untuk berpikir lebih kritis dan kreatif? [T]

Penulis: Putu Gangga Pradipta
Editor: Adnyana Ole

  • BACA JUGA:
Guru, Teknologi, dan Resolusi
Psikoterapi dengan Kecerdasan Buatan: Sejauh Apa Kecerdasan Buatan akan Menggantikan Manusia?
Apakah “Puisi Mesin” Adalah Puisi?
Tags: Chat GPTChatGPTPendidikan
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

SOMYA DAN ŚŪNYA: Yang Terlupakan dari Gemuruh Euforia Ogoh-Ogoh

Next Post

Melihat Diri Sendiri ala (Gus Mus) KH. A. Mustofa Bisri

Putu Gangga Pradipta

Putu Gangga Pradipta

Lahir di Surabaya, kini sedang menempuh pendidikan di SMA Negeri 1 Singaraja.

Related Posts

Pasar Tradisional : Membaca Tanda, Merawat Manusia

by Tri Nugroho Adi
September 11, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

"Pinten niki, Bu?"  (Berapa ini, Bu?) "Tigang doso gangsal ewu." (Tiga puluh lima ribu ) "Waduh... mboten saged kirang? Kula...

Read moreDetails

DNA Pancasila Masih Utuh, Cuma Epigenetik Bangsa Mungkin Eror

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 10, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

INI gegara ada informasi tentang penelitian David Sinclair dari Harvard, yang mengatakan bahwa proses penuaan bisa dibalikkan kembali melalui terapi...

Read moreDetails

Kita Salah Menghitung Kesunyian

by Angga Wijaya
September 10, 2026
0
Kita Salah Menghitung Kesunyian

SETIAP 10 September, kita menjadi masyarakat yang tiba-tiba pandai berbicara tentang bunuh diri. Poster bermunculan di media sosial. Kutipan dibagikan....

Read moreDetails

Tubuh yang Saya Suruh Begadang

by Angga Wijaya
September 9, 2026
0
Tubuh yang Saya Suruh Begadang

SELAMA kira-kira sepuluh tahun terakhir, saya punya kebiasaan yang barangkali tidak terlalu baik bagi tubuh, yakni, begadang. Saya menulis pada...

Read moreDetails

Hari Olahraga Nasional: Dari Lapangan ke FYP, dari Medali ke “Endorse”

by Chusmeru
September 9, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

SEPULUH hingga dua puluh tahun silam perayaan Hari Olahraga Nasional (Haornas) tanggal 9 September identik dengan kegiatan senam di lapangan....

Read moreDetails

Kepemimpinan Feminis sebagai Strategi Rekonsiliasi Sosial di Tengah Polarisasi Politik

by Jerry Indrawan
September 8, 2026
0
Mungkinkah Korut Serang AS?

POLARISASI politik yang menguat dalam konteks demokrasi kontemporer telah memicu fragmentasi sosial yang sangat mengkhawatirkan di berbagai belahan dunia, termasuk...

Read moreDetails

Pemakaman Massal Kata “Saya Tidak Tahu”

by Wayan Gde Yudane
September 7, 2026
0
Pemakaman Massal Kata “Saya Tidak Tahu”

SELAMAT datang di era di mana kedalaman berpikir resmi digantikan oleh kecepatan reaksi. Sebuah masa yang sangat efisien, di mana...

Read moreDetails

Menilik Bentuk Visioner Naskah Rawa Gambut Garapan Teater Potlot

by Adwan SA
September 6, 2026
0
Menilik Bentuk Visioner Naskah Rawa Gambut Garapan Teater Potlot

JAUH sebelum Tuan Gubernur mendorong pengadaan puluhan unit motor trail sebab helikopter kebanggaannya kewalahan dalam menangani kebakaran hutan dan lahan,...

Read moreDetails

Jangan-Jangan Kita Semua Mbah Darmi, 25 Ribu Hari ini, 10 Juta Esok Hari

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 5, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

BAGI Mbah Darmi, KTP mungkin hanyalah kartu identitas. Benda kecil yang disimpan di dompet atau tempat aman, diperlukan ketika mengurus...

Read moreDetails

Topi Para Penyintas Kanker

by Angga Wijaya
September 5, 2026
0
Topi Para Penyintas Kanker

Di Poliklinik Onkologi sebuah rumah sakit besar di Denpasar, Bali, saya kerap melihat para perempuan memakai tutup kepala atau topi....

Read moreDetails
Next Post
Melihat Diri Sendiri ala (Gus Mus) KH. A. Mustofa Bisri

Melihat Diri Sendiri ala (Gus Mus) KH. A. Mustofa Bisri

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Utsawa Dharmagita XXXIII-2026: Ketika Sastra Suci Menggema di Taman Budaya Bali
Panggung

Utsawa Dharmagita XXXIII-2026: Ketika Sastra Suci Menggema di Taman Budaya Bali

Jeda hanya sesaat. Setelah kulkul dipukul oleh Gubernur Bali Wayan Koster sebagai tanda dibukanya Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali XXXIII,...

by Nyoman Budarsana
September 12, 2026
YouNITE Fest Vol. 1: Ketika Forum GenRe Denpasar Hadirkan Ruang bagi Anak Muda untuk Bersuara dan Bergerak
Panggung

YouNITE Fest Vol. 1: Ketika Forum GenRe Denpasar Hadirkan Ruang bagi Anak Muda untuk Bersuara dan Bergerak

ANAK muda acap menjadi sasaran kebijakan. Namun, seberapa sering mereka benar-benar diberi ruang untuk bersuara, menyampaikan gagasan, bahkan menentukan arah...

by Dede Putra Wiguna
September 12, 2026
Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin
Cerpen

Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

MALAM di rumah sakit selalu terasa lebih panjang daripada malam di tempat lain. Jarum jam di dinding ruang perawatan menunjukkan...

by Ahmad Sihabudin
September 12, 2026
Puisi Ahmad Fatoni | Teruslah Bodoh, Negeri Sedang Membutuhkannya
Puisi

Puisi Ahmad Fatoni | Teruslah Bodoh, Negeri Sedang Membutuhkannya

Puisi-Resensi atas Novel Teruslah Bodoh Jangan Pintar karya Tere Liye Teruslah bodoh, jangan pintar,sebab negeri ini menyukai kepalayang mudah menganggukdan...

by Ahmad Fatoni
September 12, 2026
Pembukaan Utsawa Dharmagita 2026: Orang Bali Harus Pintar Secara Kognitif dan Punya Nilai moral
Budaya

Pembukaan Utsawa Dharmagita 2026: Orang Bali Harus Pintar Secara Kognitif dan Punya Nilai moral

Suasana pembukaan Utsawa Dharmagita Provinsi Bali XXIII Tahun 2026 berlangsung semarak di Taman Budaya Bali, Jumat 11 September 2026. Sebuah...

by Ayu Kahuatu Tamar
September 11, 2026
Ubud Art Collect: Ketika Seni dan Ekosistem Kreatif Ubud Bertemu Publik dalam Ruang yang Lebih Dekat
Pameran

Ubud Art Collect: Ketika Seni dan Ekosistem Kreatif Ubud Bertemu Publik dalam Ruang yang Lebih Dekat

SELAMA tiga hari, 4–6 September 2026, Wantilan Ubud berubah menjadi titik temu bagi wajah seni yang beragam. Lukisan tradisional berdampingan...

by Dede Putra Wiguna
September 11, 2026
Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu
Panggung

Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu

JUMAT, 11 September 2026, Nuanu Creative City di Tabanan, Bali, menjelma jadi panggung pertama Art & Bali platform seni tahunan...

by Ingga Adelia
September 11, 2026
Mengenal PVC WPC Wall Panel untuk Dekorasi Dinding Estetis
Gaya

Mengenal PVC WPC Wall Panel untuk Dekorasi Dinding Estetis

  Untuk dekorasi dinding yang estetis, Decorindo Perkasa menyediakan wall panel PVC WPC yang hadir sebagai solusi modern memadukan fungsi...

by tatkala
September 11, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Pasar Tradisional : Membaca Tanda, Merawat Manusia

"Pinten niki, Bu?"  (Berapa ini, Bu?) "Tigang doso gangsal ewu." (Tiga puluh lima ribu ) "Waduh... mboten saged kirang? Kula...

by Tri Nugroho Adi
September 11, 2026
Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda
Panggung

Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda

Jangan menganggap Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali sekadar rutinitas dengan sajian yang berulang. Tahun ini, panggung UDG XXXIII tahun 2026...

by Nyoman Budarsana
September 10, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

DNA Pancasila Masih Utuh, Cuma Epigenetik Bangsa Mungkin Eror

INI gegara ada informasi tentang penelitian David Sinclair dari Harvard, yang mengatakan bahwa proses penuaan bisa dibalikkan kembali melalui terapi...

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 10, 2026
Puisi, Luka, dan Ruang Untuk Pulang —Catatan Reflektif dari Kelas Sastra Masuk Sekolah
Khas

Puisi, Luka, dan Ruang Untuk Pulang —Catatan Reflektif dari Kelas Sastra Masuk Sekolah

JUMAT, 28 Agustus 2026. Kursi-kursi bergeser. Beberapa siswa masih berbicara dengan teman di sebelahnya, sebagian membuka buku, sebagian lain menunggu...

by Emi Suy
September 10, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co