ISTILAH antek-antek Ronaldo bukan saya yang bikin. Saya mencurinya dari unggahan akun virdian_aurellio di media sosial. Waktu Argentina comeback melawan Inggris di semifinal, dia menulis, “Biasakan menonton Messi sampai menit terakhir.”
Saya baca itu sambil menarik napas panjang. Saya ada di lokasi nobar saat itu, melihat para decul (istilah untuk antek-antek Messi dan Barcelona) itu berjingkrak-jingkrak dan berteriak di depan mata kita. Sambil mengejek dengan muka songongnya.
Sebagai fans Real Madrid, saya sebenarnya sudah mulai kena mental sejak beberapa hari sebelumnya. Saat Mbappe bersama Prancis tumbang di tangan Spanyol. Mbappe adalah pemain Real Madrid dari Prancis, mendukung Prancis sama dengan mendukung Real Madrid. Akan tetapi, harapan terakhir untuk menghentikan Argentina ikut ambruk.
Portugal sudah gugur sejak babak 16 besar, dihentikan oleh Spanyol dengan skor 1-0.
Yang bikin tambah pening, Spanyol yang kini masuk final ini bukan Spanyol sembarangan. Di sana ada Lamine Yamal—bocah tengil sekaligus pemain Barcelona yang sedang ingin menyaingi Ronaldo dan Mpappe.
Spanyol masuk final setelah mengalahkan Prcancis. Di Squad Spanyol saat ini banyak pemain Barcelona. Ada pemain Atletico Madrid juga—dua club rival Real Madrid. Pokoknya kalau fans Real Madrid melihat susunan pemain Spanyol, rasanya seperti lagi buka daftar musuh.
Tidak bisa dimungkiri, secara tidak langsung di Piala Dunia 2026 ini, pertarungan fans Madrid dan fans Barcelona terjadi. Ada irisan antara pendukung kedua club itu dengan keberpihakan pada negara yang bermain di Piala Dunia 2026. Kalau pun bukan antara kedua club ini, maka irisan yang terjadi yaitu di antara antek-antek Ronaldo dan antek-antek Messi.
Saya ini fans Real Madrid. Fans Ronaldo juga. Tentu akan memilih portugal, dan akan menolak mendukung Argentina juga negara-negara yang diisi oleh pemain Barcelona. Sebab, rivalitas antara Real Madrid dan Barcelona ini abadi seperti sajak-sajak Sapardi.
Tahun lalu Madrid puasa gelar. Di Piala Dunia kali ini para pemain Madrid juga berguguran satu per satu. Mau cari hiburan ke mana lagi coba? Begitu Portugal tersingkir, penderitaan belum selesai. Justru di situlah masalah baru dimulai. Karena setelah tim kesayangan pulang, muncul pertanyaan yang lebih sulit daripada soal ujian matematika.
Sekarang dukung siapa?
Yang jelas, bukan Argentina. Kalau mendukung Argentina, siap-siap jadi korban bullying satu tongkrongan, bahkan ke mana pun kita pergi. Ini soal harga diri. Lebih baik tidak mendukung siapa-siapa dari pada harus dukung Messi.
Dan akhirnya saya mengamati. Ada tiga tipe antek-antek Ronaldo belakangan ini. Dan ini yang bisa dilakukan sepertinnya. Bahkan setelah Piala Dunia 2026 ini berakhir. Ini dia.
Pertama, ahli teori konspirasi
Inilah fase paling produktif. Tiba-tiba semua orang berubah jadi analis FIFA.
Ada yang mulai menghitung bagan turnamen. Ada yang membandingkan jalur Portugal dengan jalur Argentina. Ada yang menghitung jumlah peluit wasit. Ada yang menghitung berapa kali Messi lolos VAR. Pokoknya semua dihitung.
Kalimat yang paling sering muncul adalah “Argentina anak FIFA”, “Messi dilindungi FIFA.”, “Kalau bukan karena FIFA…” bla-bla-bla. Biar pertandingan sudah selesai, bahkan piala dunia berakhir, antek-antek Ronaldo akan tetap menggembar-gemborkan isu ini. Karena yang belum selesai barangkali rasa sakit hati.
Kedua, mendukung Spanyol sambil menahan malu
Ini pilihan yang berat. Karena di sana ada Lamine Yamal. Ada banyak pemain Barcelona. Ada aroma Camp Nou yang cukup kuat.
Sebagai fans Madrid, mendukung Spanyol rasanya seperti memesan es teh di club malam. Bisa diminum sambil seolah-olah itu bir dan seolah-seolah tidak ada yang melihat.
Tapi mau bagaimana lagi? Daripada melihat Messi mengangkat Piala Dunia lagi, yah, Spanyol juga tidak apa-apa lah. Kalimat “tidak apa-apa” diucapkan sambil menggertakkan gigi.
Ketiga, menghilang
Kalaupun pada akhirnya Argentina jadi juara Piala Dunia 2026, maka ini jalan ninja yang bisa kita lakukan.
Ini yang paling bijaksana. Tidak usah buka Facebook. Jangan buka TikTok. Instagram seperlunya.
Kalau ada teman mengirim meme Messi, cukup baca notifikasinya. Jangan dibuka.
Kalau ada yang menandai kita di komentar, pura-pura sinyal jelek.
Kalau ditanya, “Bang, kok sepi?”
Jawab saja, “Lagi fokus memperbaiki diri,” atau “Fokus skrispi, fokus kerjaan, fokus bikin puisi” atau apa pun terserah kalian. Yang penting jangan ladeni. Camkan itu.
Percayalah. Pendukung Messi ketika sedang juara itu tenaganya luar biasa. Mereka bisa menemukan komentar kita tahun 2022. Mereka bisa mengingat status yang bahkan kita sendiri sudah lupa pernah menulisnya.
Mereka bisa membuat utas sepanjang novel hanya untuk membalas satu kalimat kita.
Jadi, untuk sementara, diam adalah ibadah. Biarkan mereka menikmati pesta. Nanti kalau musim liga dimulai lagi, kita ribut lagi seperti biasa
Tetapi saya bersyukur—meski setengah-setengah—Spanyol mampu menumbangkan Argentina. Setidaknya lini masa tidak akan dipenuhi foto Messi mengangkat trofi Piala Dunia keduanya sambil diiringi caption, “GOAT tidak perlu dibantah lagi.”[T]
Penulis: Rusdy Ulu
Editor: Jaswanto























![Genesis: Rahim Bumi, Rahim Kehidupan —[Membaca Karya Keramik Ida Ayu Gede Artayani]](https://tatkala.co/wp-content/uploads/2026/07/angga.-genesis-350x250.png)
![Anak Sang Zaman —[Tafsir ‘Child in Time’ dari Deep Purple]](https://tatkala.co/wp-content/uploads/2026/07/sihab.-purple-350x250.png)





