DI Beranda Pustaka Festival Seni Bali Jani (FSBJ) VIII tahun 2026 yang dipenuhi percakapan hangat pada Sabtu (18/7), para penyair dari berbagai generasi duduk melingkar tanpa sekat. Tak ada gegap gempita panggung atau sorot lampu pertunjukan. Yang terdengar justru kisah-kisah tentang kegelisahan, proses kreatif, dan keyakinan bahwa puisi masih memiliki tempat di tengah dunia yang semakin bising oleh arus digital.
Pertemuan bertajuk “Penyair dan Ketangguhan Kata: Menelisik Napas Puisi di Bali” itu mempertemukan alumni Sanggar Minum Kopi (SMK) dengan penyair lintas generasi. Mereka tidak sekadar membahas buku-buku puisi terbaru, tetapi juga menelusuri perjalanan sastra Bali yang tumbuh dari ruang-ruang komunitas hingga akhirnya menemukan pembacanya melalui halaman-halaman buku. Diskusi ini juga mengajukan pertanyaan yang terus relevan: Masih layakkah puisi diperjuangkan di era sekarang?
Jawaban atas pertanyaan itu tidak disampaikan melalui teori-teori yang rumit. Ia lahir dari pengalaman para penyair yang telah bertahun-tahun menulis, menerbitkan karya, sekaligus membangun ekosistem sastra. Bagi mereka, puisi bukan sekadar rangkaian kata indah, melainkan cara memahami zaman dan merawat kepekaan.
Percakapan kemudian mengalir menuju jejak Sanggar Minum Kopi, sebuah komunitas yang telah menjadi salah satu simpul penting dalam perjalanan sastra Bali.
Didirikan pada Juni 1985 oleh Sthiraprana Duarsa, Dige Amertha, dan Boping Suryadi, Sanggar Minum Kopi lahir dari kegelisahan tiga mahasiswa Universitas Udayana terhadap kehidupan sastra pada masanya. Dari ruang perjumpaan yang sederhana, sanggar itu berkembang menjadi tempat belajar bersama bagi penyair, pembaca puisi, dan pelaku seni, sekaligus melahirkan banyak nama yang kemudian memberi warna dalam perkembangan sastra Indonesia.

Perjalanan komunitas tersebut juga tidak dapat dipisahkan dari sosok Umbu Landu Paranggi. Melalui dorongannya, sastra dipahami bukan sebagai kerja yang sunyi dan individual, melainkan praktik kolektif yang terus dirawat bersama. Forum apresiasi puisi digelar secara rutin setiap pekan, mempertemukan pembacaan karya, diskusi, hingga kritik sastra yang berlangsung terbuka.
Tradisi itu terus hidup melalui kehadiran para pinisepuh, Umbu Landu Paranggi dan Frans Nadjira, yang secara berkala datang mendampingi anggota sanggar. Dari ruang-ruang sederhana itulah lahir semangat berkesenian yang terus diwariskan lintas generasi.
Kehadiran para alumni bersama penyair muda dalam diskusi ini menjadi penanda bahwa sastra tidak pernah berhenti pada satu angkatan. Ia terus bergerak melalui perjumpaan, dialog, dan kesediaan untuk saling belajar.
Di tengah perubahan zaman, para penyair juga berbagi pengalaman tentang bagaimana kegelisahan perlahan berubah menjadi buku puisi. Menurut mereka, menulis puisi hari ini tidak berhenti pada proses kreatif semata. Sebuah buku lahir melalui tahapan panjang, mulai dari pemilihan tema, penyuntingan, hingga memikirkan cara agar karya dapat menemukan pembacanya, baik melalui media cetak maupun platform digital.
Mereka memandang proses tersebut sebagai ikhtiar menangkap denyut kehidupan, lalu menerjemahkannya ke dalam bahasa puitis yang berakar pada kebudayaan Bali, namun tetap terbuka terhadap realitas modern.
Bagi para penyair, pekerjaan mereka bukan sekadar merangkai kata-kata. Menulis puisi membutuhkan ketekunan, disiplin, dan kesabaran. Di balik setiap larik terdapat proses panjang yang sering kali tidak terlihat oleh pembaca.
Suasana diskusi yang cair membuat pembahasan meluas pada posisi puisi sebagai praktik kebudayaan. Puisi dipandang tidak hanya menghadirkan keindahan bahasa, tetapi juga menjadi ruang untuk menyimpan ingatan kolektif, merekam perubahan zaman, dan menjembatani dialog antargenerasi.

Di tengah derasnya arus informasi yang serba cepat, para peserta justru melihat puisi semakin relevan. Ketika dunia bergerak semakin tergesa, puisi menghadirkan kesempatan bagi manusia untuk berhenti sejenak, merenung, dan kembali menemukan kedalaman pengalaman hidup.
Mereka juga melihat buku puisi sebagai artefak budaya yang merekam cara suatu masyarakat memahami zamannya. Pada saat yang sama, penyair masa kini tidak menutup diri terhadap perkembangan teknologi. Media sosial, visual, hingga berbagai platform digital dimanfaatkan sebagai ruang baru untuk memperluas jangkauan pembaca tanpa kehilangan kedalaman karya.
Namun, satu hal yang dianggap tetap menjadi fondasi adalah komunitas. Pengalaman Sanggar Minum Kopi menunjukkan bahwa ekosistem sastra bertahan bukan semata karena hadirnya buku-buku baru, melainkan karena adanya ruang perjumpaan yang terus mempertemukan penyair, pembaca, dan penikmat sastra dalam tradisi berdiskusi, membaca karya, saling mengkritik, dan melakukan regenerasi.
Menjelang akhir diskusi, optimisme terasa memenuhi ruangan. Di tengah berbagai perubahan, para peserta meyakini puisi akan selalu menemukan jalannya sendiri. Selama manusia masih memiliki perasaan, kegelisahan, dan harapan, selama itu pula puisi akan tetap hidup.
Bagi para penyair Bali, memperjuangkan puisi bukan semata-mata demi memperoleh panggung atau pengakuan. Yang jauh lebih penting adalah menjaga bahasa, merawat kepekaan, dan menghadirkan ruang refleksi bagi masyarakat.
“Puisi tidak akan pernah mati selama masih ada penyair yang berani jujur pada keresahannya dan pembaca yang mau meluangkan waktu untuk berhenti sejenak dan merenung,” pungkas moderator diskusi, Wayan Juniartha.[T]
Sumber/Penulis: Rilis/Nyoman Budarsana
Editor: Jaswanto
























![Genesis: Rahim Bumi, Rahim Kehidupan —[Membaca Karya Keramik Ida Ayu Gede Artayani]](https://tatkala.co/wp-content/uploads/2026/07/angga.-genesis-350x250.png)
![Anak Sang Zaman —[Tafsir ‘Child in Time’ dari Deep Purple]](https://tatkala.co/wp-content/uploads/2026/07/sihab.-purple-350x250.png)





