11 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Menelisik Napas Puisi di Bali, Ketika Kata-Kata Bertahan Melawan Zaman

Nyoman Budarsana by Nyoman Budarsana
July 20, 2026
in Khas
Menelisik Napas Puisi di Bali, Ketika Kata-Kata Bertahan Melawan Zaman

Pertemuan bertajuk "Penyair dan Ketangguhan Kata: Menelisik Napas Puisi di Bali" di Beranda Pustaka Festival Seni Bali Jani 2026 | Foto: Istimewa

DI Beranda Pustaka Festival Seni Bali Jani (FSBJ) VIII tahun 2026 yang dipenuhi percakapan hangat pada Sabtu (18/7), para penyair dari berbagai generasi duduk melingkar tanpa sekat. Tak ada gegap gempita panggung atau sorot lampu pertunjukan. Yang terdengar justru kisah-kisah tentang kegelisahan, proses kreatif, dan keyakinan bahwa puisi masih memiliki tempat di tengah dunia yang semakin bising oleh arus digital.

Pertemuan bertajuk “Penyair dan Ketangguhan Kata: Menelisik Napas Puisi di Bali” itu mempertemukan alumni Sanggar Minum Kopi (SMK) dengan penyair lintas generasi. Mereka tidak sekadar membahas buku-buku puisi terbaru, tetapi juga menelusuri perjalanan sastra Bali yang tumbuh dari ruang-ruang komunitas hingga akhirnya menemukan pembacanya melalui halaman-halaman buku. Diskusi ini juga mengajukan pertanyaan yang terus relevan: Masih layakkah puisi diperjuangkan di era sekarang?

Jawaban atas pertanyaan itu tidak disampaikan melalui teori-teori yang rumit. Ia lahir dari pengalaman para penyair yang telah bertahun-tahun menulis, menerbitkan karya, sekaligus membangun ekosistem sastra. Bagi mereka, puisi bukan sekadar rangkaian kata indah, melainkan cara memahami zaman dan merawat kepekaan.

Percakapan kemudian mengalir menuju jejak Sanggar Minum Kopi, sebuah komunitas yang telah menjadi salah satu simpul penting dalam perjalanan sastra Bali.

Didirikan pada Juni 1985 oleh Sthiraprana Duarsa, Dige Amertha, dan Boping Suryadi, Sanggar Minum Kopi lahir dari kegelisahan tiga mahasiswa Universitas Udayana terhadap kehidupan sastra pada masanya. Dari ruang perjumpaan yang sederhana, sanggar itu berkembang menjadi tempat belajar bersama bagi penyair, pembaca puisi, dan pelaku seni, sekaligus melahirkan banyak nama yang kemudian memberi warna dalam perkembangan sastra Indonesia.

Pertemuan bertajuk “Penyair dan Ketangguhan Kata: Menelisik Napas Puisi di Bali” di Beranda Pustaka Festival Seni Bali Jani 2026 | Foto: Istimewa

Perjalanan komunitas tersebut juga tidak dapat dipisahkan dari sosok Umbu Landu Paranggi. Melalui dorongannya, sastra dipahami bukan sebagai kerja yang sunyi dan individual, melainkan praktik kolektif yang terus dirawat bersama. Forum apresiasi puisi digelar secara rutin setiap pekan, mempertemukan pembacaan karya, diskusi, hingga kritik sastra yang berlangsung terbuka.

Tradisi itu terus hidup melalui kehadiran para pinisepuh, Umbu Landu Paranggi dan Frans Nadjira, yang secara berkala datang mendampingi anggota sanggar. Dari ruang-ruang sederhana itulah lahir semangat berkesenian yang terus diwariskan lintas generasi.

Kehadiran para alumni bersama penyair muda dalam diskusi ini menjadi penanda bahwa sastra tidak pernah berhenti pada satu angkatan. Ia terus bergerak melalui perjumpaan, dialog, dan kesediaan untuk saling belajar.

Di tengah perubahan zaman, para penyair juga berbagi pengalaman tentang bagaimana kegelisahan perlahan berubah menjadi buku puisi. Menurut mereka, menulis puisi hari ini tidak berhenti pada proses kreatif semata. Sebuah buku lahir melalui tahapan panjang, mulai dari pemilihan tema, penyuntingan, hingga memikirkan cara agar karya dapat menemukan pembacanya, baik melalui media cetak maupun platform digital.

Mereka memandang proses tersebut sebagai ikhtiar menangkap denyut kehidupan, lalu menerjemahkannya ke dalam bahasa puitis yang berakar pada kebudayaan Bali, namun tetap terbuka terhadap realitas modern.

Bagi para penyair, pekerjaan mereka bukan sekadar merangkai kata-kata. Menulis puisi membutuhkan ketekunan, disiplin, dan kesabaran. Di balik setiap larik terdapat proses panjang yang sering kali tidak terlihat oleh pembaca.

Suasana diskusi yang cair membuat pembahasan meluas pada posisi puisi sebagai praktik kebudayaan. Puisi dipandang tidak hanya menghadirkan keindahan bahasa, tetapi juga menjadi ruang untuk menyimpan ingatan kolektif, merekam perubahan zaman, dan menjembatani dialog antargenerasi.

Pertemuan bertajuk “Penyair dan Ketangguhan Kata: Menelisik Napas Puisi di Bali” di Beranda Pustaka Festival Seni Bali Jani 2026 | Foto: Istimewa

Di tengah derasnya arus informasi yang serba cepat, para peserta justru melihat puisi semakin relevan. Ketika dunia bergerak semakin tergesa, puisi menghadirkan kesempatan bagi manusia untuk berhenti sejenak, merenung, dan kembali menemukan kedalaman pengalaman hidup.

Mereka juga melihat buku puisi sebagai artefak budaya yang merekam cara suatu masyarakat memahami zamannya. Pada saat yang sama, penyair masa kini tidak menutup diri terhadap perkembangan teknologi. Media sosial, visual, hingga berbagai platform digital dimanfaatkan sebagai ruang baru untuk memperluas jangkauan pembaca tanpa kehilangan kedalaman karya.

Namun, satu hal yang dianggap tetap menjadi fondasi adalah komunitas. Pengalaman Sanggar Minum Kopi menunjukkan bahwa ekosistem sastra bertahan bukan semata karena hadirnya buku-buku baru, melainkan karena adanya ruang perjumpaan yang terus mempertemukan penyair, pembaca, dan penikmat sastra dalam tradisi berdiskusi, membaca karya, saling mengkritik, dan melakukan regenerasi.

Menjelang akhir diskusi, optimisme terasa memenuhi ruangan. Di tengah berbagai perubahan, para peserta meyakini puisi akan selalu menemukan jalannya sendiri. Selama manusia masih memiliki perasaan, kegelisahan, dan harapan, selama itu pula puisi akan tetap hidup.

Bagi para penyair Bali, memperjuangkan puisi bukan semata-mata demi memperoleh panggung atau pengakuan. Yang jauh lebih penting adalah menjaga bahasa, merawat kepekaan, dan menghadirkan ruang refleksi bagi masyarakat.

“Puisi tidak akan pernah mati selama masih ada penyair yang berani jujur pada keresahannya dan pembaca yang mau meluangkan waktu untuk berhenti sejenak dan merenung,” pungkas moderator diskusi, Wayan Juniartha.[T]

Sumber/Penulis: Rilis/Nyoman Budarsana
Editor: Jaswanto

Tags: Beranda PustakaFestival Bali Janifestival seni bali jani 2026
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Lomba Lagu Pop Bali Festival Seni Bali Jani VIII 2026 Bak “Perang Bintang”

Next Post

Nasib Antek-Antek Ronaldo dan Real Madrid di Piala Dunia 2026

Nyoman Budarsana

Nyoman Budarsana

Editor/wartawan tatkala.co

Related Posts

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
0
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

Read moreDetails

 “Tur Mencari Kebebasan: Jakarta—Bogor—Tangerang” —Berkenalan ke Publik yang Lebih Luas

by Rusdy Ulu
September 29, 2026
0
 “Tur Mencari Kebebasan: Jakarta—Bogor—Tangerang” —Berkenalan ke Publik yang Lebih Luas

TIGA tahun telah terlewat, dua buku telah dirilis oleh Beatriff Collective. Buku pertama bertajuk “(Se-)Putar Musik” (2025), kemudian “Memahami Musik,...

Read moreDetails

Menari di Langit Batu Tampih, Ribuan Rare Angon Hidupkan Tradisi Layang-Layang

by Nyoman Budarsana
September 28, 2026
0
Menari di Langit Batu Tampih, Ribuan Rare Angon Hidupkan Tradisi Layang-Layang

SEMARAK dan meriah. Begitulah suasana yang terlihat di kawasan Pantai Batu Tampih, Desa Pangkung Tibah, Kecamatan Kediri, Kabupaten Tabanan, Minggu...

Read moreDetails

Usaha Merawat Rasa di Tengah Bisingnya Informasi

by Nyoman Budarsana
September 27, 2026
0
Usaha Merawat Rasa di Tengah Bisingnya Informasi

BERITA tentang bencana, perang, pengungsian, sampah, persoalan air, dan menyusutnya ruang hidup datang hampir tanpa jeda. Sebagian muncul sebagai notifikasi...

Read moreDetails

Kondisi Situs Cagar Budaya Bale Kulkul Puri Pemecutan, Tak Terawat, Ditumbuhi Rumput dan Semak Belukar

by Jaswanto
September 24, 2026
0
Kondisi Situs Cagar Budaya Bale Kulkul Puri Pemecutan, Tak Terawat, Ditumbuhi Rumput dan Semak Belukar

“YA, kondisinya memang tak terawat―mungkin nggak peduli,” jawab Dewa Purwita Sukahet kepada tatkala.co saat dihubungi melalui direct message Instagram, Rabu...

Read moreDetails

Pesta Demokrasi di SMKS Kesehatan Bali Medika: Dihari Purnama dan Hanin Azzahra Siap Pimpin OSIS Kesbam

by Dede Putra Wiguna
September 21, 2026
0
Pesta Demokrasi di SMKS Kesehatan Bali Medika: Dihari Purnama dan Hanin Azzahra Siap Pimpin OSIS Kesbam

SUASANA aula SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar pada Kamis, 17 September 2026, berbeda dari biasanya. Ratusan siswa duduk menghadap panggung....

Read moreDetails

“Batubelah Art Space”: Membawa Sujana Suklu, Nyoman Sartini, dan Nyoman Darmadi ke Art & Bali 2026

by I Wayan Sujana Suklu
September 20, 2026
0
“Batubelah Art Space”: Membawa Sujana Suklu, Nyoman Sartini, dan Nyoman Darmadi ke Art & Bali 2026

Batubelah Art Space, dikomandoi Wayan Sabath Sukma Miarna ketika hadir dalam Art & Bali 2026 di Nuanu Creative City, Tabanan,...

Read moreDetails

Di Lapangan Undiksha, Puluhan Mahasiswa Membicarakan HAM dan Kebebasan Berpendapat—Konsolidasi September Hitam oleh BEM REMA Undiksha

by Rusdy Ulu
September 18, 2026
0
Di Lapangan Undiksha, Puluhan Mahasiswa Membicarakan HAM dan Kebebasan Berpendapat—Konsolidasi September Hitam oleh BEM REMA Undiksha

PULUHAN mahasiswa berpakain hitam berkumpul di Lapangan Upacara Universitas Pendidikan Ganesha (Undiksha), Kamis malam, 17 September 2026. Mereka mengikuti Konsolidasi...

Read moreDetails

Kemah Bintang SLB Negeri 1 Buleleng, Ajang Murid Bekebutuhan Khusus Bersinar

by Hasby Alfin Shidiq
September 16, 2026
0
Kemah Bintang SLB Negeri 1 Buleleng, Ajang Murid Bekebutuhan Khusus Bersinar

Pagi itu, suasana SLB Negeri Buleleng lebih riuh dari biasanya. Rombongan mobil isuzu berbondong datang memenuhi lapangan asrama. Di depan...

Read moreDetails

Perdagangan Bebas dan Masa Depan Petani di Indo-Pasifik

by Afgan Fadilla
September 14, 2026
0
Perdagangan Bebas dan Masa Depan Petani di Indo-Pasifik

“Perdagangan bebas di Indo-Pasifik tidak berlangsung dalam arena yang setara. Dalam sektor pertanian, integrasi pasar tanpa perlindungan yang memadai justru...

Read moreDetails
Next Post
Nasib Antek-Antek Ronaldo dan Real Madrid di Piala Dunia 2026

Nasib Antek-Antek Ronaldo dan Real Madrid di Piala Dunia 2026

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Sapta Timira dan Godaan Seorang Pemimpin
Esai

Sapta Timira dan Godaan Seorang Pemimpin

KEPEMIMPINAN sejati bukan sekadar kemampuan memerintah, melainkan kesanggupan mengendalikan diri. Sebab, tantangan terbesar seorang pemimpin sering kali bukan datang dari...

by Raka Prama Putra
October 10, 2026
Pameran Kolektif, Masih Pentingkah?
Ulas Rupa

Pameran Kolektif, Masih Pentingkah?

KITA yang terlampau serius atau memang ongkos sebuah industri adalah kekakuan kreatifitas. Barangkali unek-unek semacam ini yang berputar-putar di kepalaku...

by Made Chandra
October 10, 2026
“De Liunan Lala-Lele!” — Efektivitas Orang Bali dalam Berbicara
Esai

“De Liunan Lala-Lele!” — Efektivitas Orang Bali dalam Berbicara

"De Liunan Lala-Lele!" Kalimat itu sering saya dengar sebagai orang Bali, terutama ketika maksud lawan bicara dianggap kurang jelas, berputar-putar,...

by Angga Wijaya
October 10, 2026
China, Tibet, dan Bali: Ketika Pembangunan Kehilangan Mata Ketiga
Esai

China, Tibet, dan Bali: Ketika Pembangunan Kehilangan Mata Ketiga

China yang Membuat Dunia Terpesona China hari ini sulit untuk tidak dikagumi. Dalam beberapa dekade, negeri itu berubah menjadi salah...

by Agung Sudarsa
October 10, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

“In Money We Trust”, Kembalikan Baliku Padaku

SIDANG pembaca yang budiman, akhir-akhir ini ramai dibicarakan orang, menyoal lontaran Arya Wedakarna (AWK). Di tengah polemik tentang pengalaman sejumlah...

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 9, 2026
Sandyakalaning Demokrasi — Sekumpulan Esai Sosial dan Politik
Buku Tatkala

Sandyakalaning Demokrasi — Sekumpulan Esai Sosial dan Politik

Judul: Sandyakalaning Demokrasi - Sekumpulan Esai Sosial dan Politik Penerbit: PT Tatkala Sekala Media Penulis: Teddy Chrisprimanata Putra ISBN: Masih...

by Buku Tatkala
October 9, 2026
 “Kembalikan Kedua Orang Tuaku!” Begitu Seorang Anak Memohon Pada Film “Spirited Away” Karya Hayao Miyazaki
Ulas Film

 “Kembalikan Kedua Orang Tuaku!” Begitu Seorang Anak Memohon Pada Film “Spirited Away” Karya Hayao Miyazaki

SUDAH bertahun-tahun semenjak film ini lahir, saya tak pernah sekalipun menonton film-film Ghibli. Karena terhalang kendala biaya, juga karena saya...

by Wisnu Oktaditya
October 9, 2026
Mengulik Pengalaman Citra Sasmita di Cornell University
Persona

Mengulik Pengalaman Citra Sasmita di Cornell University

APA yang terjadi ketika tradisi dipakai sebagai ruang dialog dan ruang untuk bertanya secara kritis? Pertanyaan semacam itu terasa penting...

by Wayan Jengki Sunarta
October 9, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Transformasi Kontrak Digital dan Masa Depan Notaris Indonesia…

SEMUA orang bicara kontrak/perjanjian digital. Apakah ini hanya tren teknologi, atau sudah menjadi realitas hukum? Perkembangan teknologi digitalisasi begitu pesatnya,...

by I Made Pria Dharsana
October 8, 2026
“Samarasā”: Ubud Writers & Readers Festival 2026 Mengajak Masyarakat Saling Memahami Lewat Sastra dan Budaya
Panggung

“Samarasā”: Ubud Writers & Readers Festival 2026 Mengajak Masyarakat Saling Memahami Lewat Sastra dan Budaya

MEMAHAMI orang lain tidak selalu mudah. Apalagi ketika perbedaan pandangan semakin sering memisahkan, percakapan berubah menjadi perdebatan, dan orang lebih...

by Dede Putra Wiguna
October 8, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Kita Semua Sehat, Sampai Tubuh Menuntut Tagihannya

KAPAN terakhir kali kita bertanya, "Gimana kabar mental gue hari ini?" Kita hafal jadwal servis motor. Kita ingat tanggal bayar...

by Tri Nugroho Adi
October 8, 2026
Mengubah Cara Pandang terhadap Pembelajaran Membaca
Esai

Mengubah Cara Pandang terhadap Pembelajaran Membaca

MEMBACA selama ini kerap diposisikan sebagai keterampilan reseptif dalam pembelajaran bahasa. Bersama menyimak, membaca dipahami sebagai keterampilan untuk menerima bahasa,...

by I Kadek Adhi Dwipayana
October 8, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co