31 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Menelisik Napas Puisi di Bali, Ketika Kata-Kata Bertahan Melawan Zaman

Nyoman Budarsana by Nyoman Budarsana
July 20, 2026
in Khas
Menelisik Napas Puisi di Bali, Ketika Kata-Kata Bertahan Melawan Zaman

Pertemuan bertajuk "Penyair dan Ketangguhan Kata: Menelisik Napas Puisi di Bali" di Beranda Pustaka Festival Seni Bali Jani 2026 | Foto: Istimewa

DI Beranda Pustaka Festival Seni Bali Jani (FSBJ) VIII tahun 2026 yang dipenuhi percakapan hangat pada Sabtu (18/7), para penyair dari berbagai generasi duduk melingkar tanpa sekat. Tak ada gegap gempita panggung atau sorot lampu pertunjukan. Yang terdengar justru kisah-kisah tentang kegelisahan, proses kreatif, dan keyakinan bahwa puisi masih memiliki tempat di tengah dunia yang semakin bising oleh arus digital.

Pertemuan bertajuk “Penyair dan Ketangguhan Kata: Menelisik Napas Puisi di Bali” itu mempertemukan alumni Sanggar Minum Kopi (SMK) dengan penyair lintas generasi. Mereka tidak sekadar membahas buku-buku puisi terbaru, tetapi juga menelusuri perjalanan sastra Bali yang tumbuh dari ruang-ruang komunitas hingga akhirnya menemukan pembacanya melalui halaman-halaman buku. Diskusi ini juga mengajukan pertanyaan yang terus relevan: Masih layakkah puisi diperjuangkan di era sekarang?

Jawaban atas pertanyaan itu tidak disampaikan melalui teori-teori yang rumit. Ia lahir dari pengalaman para penyair yang telah bertahun-tahun menulis, menerbitkan karya, sekaligus membangun ekosistem sastra. Bagi mereka, puisi bukan sekadar rangkaian kata indah, melainkan cara memahami zaman dan merawat kepekaan.

Percakapan kemudian mengalir menuju jejak Sanggar Minum Kopi, sebuah komunitas yang telah menjadi salah satu simpul penting dalam perjalanan sastra Bali.

Didirikan pada Juni 1985 oleh Sthiraprana Duarsa, Dige Amertha, dan Boping Suryadi, Sanggar Minum Kopi lahir dari kegelisahan tiga mahasiswa Universitas Udayana terhadap kehidupan sastra pada masanya. Dari ruang perjumpaan yang sederhana, sanggar itu berkembang menjadi tempat belajar bersama bagi penyair, pembaca puisi, dan pelaku seni, sekaligus melahirkan banyak nama yang kemudian memberi warna dalam perkembangan sastra Indonesia.

Pertemuan bertajuk “Penyair dan Ketangguhan Kata: Menelisik Napas Puisi di Bali” di Beranda Pustaka Festival Seni Bali Jani 2026 | Foto: Istimewa

Perjalanan komunitas tersebut juga tidak dapat dipisahkan dari sosok Umbu Landu Paranggi. Melalui dorongannya, sastra dipahami bukan sebagai kerja yang sunyi dan individual, melainkan praktik kolektif yang terus dirawat bersama. Forum apresiasi puisi digelar secara rutin setiap pekan, mempertemukan pembacaan karya, diskusi, hingga kritik sastra yang berlangsung terbuka.

Tradisi itu terus hidup melalui kehadiran para pinisepuh, Umbu Landu Paranggi dan Frans Nadjira, yang secara berkala datang mendampingi anggota sanggar. Dari ruang-ruang sederhana itulah lahir semangat berkesenian yang terus diwariskan lintas generasi.

Kehadiran para alumni bersama penyair muda dalam diskusi ini menjadi penanda bahwa sastra tidak pernah berhenti pada satu angkatan. Ia terus bergerak melalui perjumpaan, dialog, dan kesediaan untuk saling belajar.

Di tengah perubahan zaman, para penyair juga berbagi pengalaman tentang bagaimana kegelisahan perlahan berubah menjadi buku puisi. Menurut mereka, menulis puisi hari ini tidak berhenti pada proses kreatif semata. Sebuah buku lahir melalui tahapan panjang, mulai dari pemilihan tema, penyuntingan, hingga memikirkan cara agar karya dapat menemukan pembacanya, baik melalui media cetak maupun platform digital.

Mereka memandang proses tersebut sebagai ikhtiar menangkap denyut kehidupan, lalu menerjemahkannya ke dalam bahasa puitis yang berakar pada kebudayaan Bali, namun tetap terbuka terhadap realitas modern.

Bagi para penyair, pekerjaan mereka bukan sekadar merangkai kata-kata. Menulis puisi membutuhkan ketekunan, disiplin, dan kesabaran. Di balik setiap larik terdapat proses panjang yang sering kali tidak terlihat oleh pembaca.

Suasana diskusi yang cair membuat pembahasan meluas pada posisi puisi sebagai praktik kebudayaan. Puisi dipandang tidak hanya menghadirkan keindahan bahasa, tetapi juga menjadi ruang untuk menyimpan ingatan kolektif, merekam perubahan zaman, dan menjembatani dialog antargenerasi.

Pertemuan bertajuk “Penyair dan Ketangguhan Kata: Menelisik Napas Puisi di Bali” di Beranda Pustaka Festival Seni Bali Jani 2026 | Foto: Istimewa

Di tengah derasnya arus informasi yang serba cepat, para peserta justru melihat puisi semakin relevan. Ketika dunia bergerak semakin tergesa, puisi menghadirkan kesempatan bagi manusia untuk berhenti sejenak, merenung, dan kembali menemukan kedalaman pengalaman hidup.

Mereka juga melihat buku puisi sebagai artefak budaya yang merekam cara suatu masyarakat memahami zamannya. Pada saat yang sama, penyair masa kini tidak menutup diri terhadap perkembangan teknologi. Media sosial, visual, hingga berbagai platform digital dimanfaatkan sebagai ruang baru untuk memperluas jangkauan pembaca tanpa kehilangan kedalaman karya.

Namun, satu hal yang dianggap tetap menjadi fondasi adalah komunitas. Pengalaman Sanggar Minum Kopi menunjukkan bahwa ekosistem sastra bertahan bukan semata karena hadirnya buku-buku baru, melainkan karena adanya ruang perjumpaan yang terus mempertemukan penyair, pembaca, dan penikmat sastra dalam tradisi berdiskusi, membaca karya, saling mengkritik, dan melakukan regenerasi.

Menjelang akhir diskusi, optimisme terasa memenuhi ruangan. Di tengah berbagai perubahan, para peserta meyakini puisi akan selalu menemukan jalannya sendiri. Selama manusia masih memiliki perasaan, kegelisahan, dan harapan, selama itu pula puisi akan tetap hidup.

Bagi para penyair Bali, memperjuangkan puisi bukan semata-mata demi memperoleh panggung atau pengakuan. Yang jauh lebih penting adalah menjaga bahasa, merawat kepekaan, dan menghadirkan ruang refleksi bagi masyarakat.

“Puisi tidak akan pernah mati selama masih ada penyair yang berani jujur pada keresahannya dan pembaca yang mau meluangkan waktu untuk berhenti sejenak dan merenung,” pungkas moderator diskusi, Wayan Juniartha.[T]

Sumber/Penulis: Rilis/Nyoman Budarsana
Editor: Jaswanto

Tags: Beranda PustakaFestival Bali Janifestival seni bali jani 2026
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Lomba Lagu Pop Bali Festival Seni Bali Jani VIII 2026 Bak “Perang Bintang”

Next Post

Nasib Antek-Antek Ronaldo dan Real Madrid di Piala Dunia 2026

Nyoman Budarsana

Nyoman Budarsana

Editor/wartawan tatkala.co

Related Posts

Okokan Menggema, Tanah Lot Art & Food Festival VII Resmi Dibuka

by Nyoman Budarsana
August 29, 2026
0
Okokan Menggema, Tanah Lot Art & Food Festival VII Resmi Dibuka

“Dug dug, dag, dug dug.., dag dug dag…, jedug kapak, jedug kapak…!” SUARA kendang dan okokan menggema mengiringi pembukaan Tanah...

Read moreDetails

Sugi Lanus Bedah Akar “Brain Drain” dan Masa Depan Talenta Bali Utara di Buleleng Festival 2026

by Komang Puja Savitri
August 20, 2026
0
Sugi Lanus Bedah Akar “Brain Drain” dan Masa Depan Talenta Bali Utara di Buleleng Festival 2026

Masa depan sumber daya manusia di Bali Utara menjadi salah satu isu yang mengemuka dalam rangkaian agenda budaya tahunan Buleleng...

Read moreDetails

Bibit Merdeka: Menabur Kemerdekaan dari Sebutir Benih         

by Agung Sudarsa
August 19, 2026
0
Bibit Merdeka: Menabur Kemerdekaan dari Sebutir Benih         

MENJELANG peringatan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia, kita biasanya kembali mengenang perjuangan para pahlawan, pengorbanan para pendahulu, dan lahirnya bangsa yang...

Read moreDetails

Delapan Meter di Atas Tanah, Ketut Suryadnya Menyambung Hidup dari Tuak

by Komang Puja Savitri
August 18, 2026
0
Delapan Meter di Atas Tanah, Ketut Suryadnya Menyambung Hidup dari Tuak

SEORANG laki-laki berkulit sawo matang mulai memanjat batang pohon lontar. Dua jeriken merah terikat di punggungnya, sementara sebilah pisau golok...

Read moreDetails

Abdi Budaya Nugraha 2026 untuk Mereka yang Menjaga Seni di Tengah Perubahan Kuta

by Nyoman Budarsana
August 18, 2026
0
Abdi Budaya Nugraha 2026 untuk Mereka yang Menjaga Seni di Tengah Perubahan Kuta

DI balik pertunjukan seni yang masih dapat disaksikan di Kuta, ada orang-orang yang bertahun-tahun berlatih, mengajar, berkarya, dan meneruskan pengetahuan...

Read moreDetails

Gaungkan Semangat Berjuang, Tut Karben Siap Pimpin Desa Guwang

by Dede Putra Wiguna
August 16, 2026
0
Gaungkan Semangat Berjuang, Tut Karben Siap Pimpin Desa Guwang

MALAM mulai turun di Banjar Danginjalan, Desa Guwang, Sukawati, Gianyar, Sabtu, 15 Agustus 2026. Di sebuah tempat makan yang baru...

Read moreDetails

“Jeg Gas Saja Dulu”: Ketika Gus Tolet Mengajak Calon Wisudawan UPMI Bali untuk Berani Melangkah

by Dede Putra Wiguna
August 16, 2026
0
“Jeg Gas Saja Dulu”: Ketika Gus Tolet Mengajak Calon Wisudawan UPMI Bali untuk Berani Melangkah

 “Saya cari tiga orang, yang mau bikin konten pendidikan dengan menggunakan baju Handmad Campah. Saya bayar Rp1,5 juta tiap bulan....

Read moreDetails

“Batur Paramanugraha” untuk Dua Desa, “Batur Kawinugraha” untuk Tiga Seniman

by Rusdy Ulu
August 9, 2026
0
“Batur Paramanugraha” untuk Dua Desa, “Batur Kawinugraha” untuk Tiga Seniman

SEJARAH Desa Adat Batur tidak hanya tercatat melalui peristiwa Rarud Batur 1926, tetapi juga melalui hubungan yang terbangun antara masyarakat...

Read moreDetails

Sthala Ubud Village Jazz Festival 2026 Resmi Dibuka—Merayakan Jazz yang Benar-Benar Jazz

by Dede Putra Wiguna
August 8, 2026
0
Sthala Ubud Village Jazz Festival 2026 Resmi Dibuka—Merayakan Jazz yang Benar-Benar Jazz

“JAZZ itu musik yang meneduhkan, tapi mengajak berpikir,” ujar Gede Diarta, seorang pemuda asal Denpasar yang sehari-hari bekerja sebagai karyawan...

Read moreDetails

Usaha Menumbuhkan Sanggar Putri Nyale dan Menata Masa Depan Dramatari Sasak

by Jaswanto
August 7, 2026
0
Usaha Menumbuhkan Sanggar Putri Nyale dan Menata Masa Depan Dramatari Sasak

DI ruang aula SMAN 4 Praya, Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat, beberapa pemuda-pemudi dari Sanggar Putri Nyale duduk di kursi...

Read moreDetails
Next Post
Nasib Antek-Antek Ronaldo dan Real Madrid di Piala Dunia 2026

Nasib Antek-Antek Ronaldo dan Real Madrid di Piala Dunia 2026

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Perkara Anarkis dan Anarkistis
Bahasa

Perkara Anarkis dan Anarkistis

Pernahkah Anda berpikir bahwa kata anarkis dan anarkistis itu sama saja? Walaupun kedua kata anarkis dan anarkistis sudah banyak ditulis,...

by I Made Sudiana
August 30, 2026
Anak-anak yang Beruntung: Mendengar Cerita Klasik Barat atau Cerita Klasik Timur?
Esai

Anak-anak yang Beruntung: Mendengar Cerita Klasik Barat atau Cerita Klasik Timur?

SAYA memiliki seorang keponakan perempuan, ia kini memasuki umur 5 tahun. Beberapa bulan terakhir keponakan saya mulai belajar membaca, menggabungkan...

by Teguh Wahyu Pranata,
August 30, 2026
Surat dari Pulau Seberang | Cerpen Ari Murdimanto
Cerpen

Surat dari Pulau Seberang | Cerpen Ari Murdimanto

Sahabatku, Di tempatku yang baru kini, jauh dari pelukan kabut tebal dan wangi dupa Hyang Dwipa, aku sering duduk terdiam...

by Ari Murdimanto
August 30, 2026
Puisi-puisi Supali Kasim | Air di Daun Talas
Puisi

Puisi-puisi Supali Kasim | Air di Daun Talas

Air di Daun Talas seberapa waktu bertahanair di daun talas dapat menerimakenyataan demi kenyataan tarian anginlantai licin dan tetabuhan riuhtanpa...

by Supali Kasim
August 30, 2026
Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [8]: Ketika AI Ikut Menulis: Kata-kata Tanpa Manusia

SETIAP era memiliki ancamannya masing-masing terhadap proses berpikir yang dalam. Pada masa otoritarianisme, ancamannya adalah sensor. Negara menentukan apa yang...

by Andre Syahreza
August 30, 2026
Apa yang (Sebaiknya) Kita Bicarakan saat Membicarakan Masa Depan Transportasi Publik di Bali?
Esai

Apa yang (Sebaiknya) Kita Bicarakan saat Membicarakan Masa Depan Transportasi Publik di Bali?

KAMI duduk di ruangan auditorium. Di atas panggung, seorang moderator memandu diskusi dengan empat orang narasumber yang secara bergantian memaparkan...

by I Nyoman Gede Maha Putra
August 30, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Demo Kok Cepat Pulang? Jangan-Jangan Kita Gagal Paham Soal Demonstrasi

Ada yang kecewa setelah massa aksi AMPB dari Pati bubar. “Baru juga datang, kok sudah pulang?”  Komentar semacam itu berseliweran...

by Petrus Imam Prawoto Jati
August 30, 2026
Reka Biambara dan Perjalanan Mengenal Kembali Material Sendiri
Pameran

Reka Biambara dan Perjalanan Mengenal Kembali Material Sendiri

SELAMA hampir tiga bulan, sejak awal Juni 2026, empat perupa muda asal Bali yaitu Made Ari, Made Arsana, Reka Biambara...

by Satria Aditya
August 30, 2026
Siapa Membiayai Pangan Kita? ——Membuka Jalan Investasi Syariah ke Sektor Pangan
Esai

Siapa Membiayai Pangan Kita? ——Membuka Jalan Investasi Syariah ke Sektor Pangan

MAKANAN sehari-hari yang kita konsumsi tentu tidak hadir begitu saja di atas meja makan kita. Sepiring nasi tidak lahir begitu...

by Muhammad Farras Hanif
August 29, 2026
Seni Rupa Anomali Cokot dan Putu Fajar Arcana
Ulas Rupa

Seni Rupa Anomali Cokot dan Putu Fajar Arcana

PADA tulisan kali ini, saya ingin menekuni proses kreatif karya rupa Putu Fajar Arcana yang bagi saya cukup menarik. Pasalnya,...

by Hartanto
August 29, 2026
Telenovela
Esai

Sebelum Bali Dituduh Rasis, Ada Seorang Ibu yang Sedang Makan

SEBELUM Bali dituduh rasis, ada seorang ibu yang sedang makan. Kalimat itu mungkin terdengar terlalu sederhana untuk sebuah perkara yang...

by Angga Wijaya
August 29, 2026
Duta Bahasa Provinsi Bali Serahkan Model Pembelajaran Serasi kepada SLB Negeri 2 Denpasar
Pendidikan

Duta Bahasa Provinsi Bali Serahkan Model Pembelajaran Serasi kepada SLB Negeri 2 Denpasar

DENPASAR | TATKALA.CO -- Duta Bahasa Provinsi Bali menyerahkan Model Pembelajaran Serasi (Strategi Berbasis Multimodal bagi Disabilitas Rungu untuk Menyusun...

by Rusdy Ulu
August 29, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co