31 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Menelisik Napas Puisi di Bali, Ketika Kata-Kata Bertahan Melawan Zaman

Nyoman Budarsana by Nyoman Budarsana
July 20, 2026
in Khas
Menelisik Napas Puisi di Bali, Ketika Kata-Kata Bertahan Melawan Zaman

Pertemuan bertajuk "Penyair dan Ketangguhan Kata: Menelisik Napas Puisi di Bali" di Beranda Pustaka Festival Seni Bali Jani 2026 | Foto: Istimewa

DI Beranda Pustaka Festival Seni Bali Jani (FSBJ) VIII tahun 2026 yang dipenuhi percakapan hangat pada Sabtu (18/7), para penyair dari berbagai generasi duduk melingkar tanpa sekat. Tak ada gegap gempita panggung atau sorot lampu pertunjukan. Yang terdengar justru kisah-kisah tentang kegelisahan, proses kreatif, dan keyakinan bahwa puisi masih memiliki tempat di tengah dunia yang semakin bising oleh arus digital.

Pertemuan bertajuk “Penyair dan Ketangguhan Kata: Menelisik Napas Puisi di Bali” itu mempertemukan alumni Sanggar Minum Kopi (SMK) dengan penyair lintas generasi. Mereka tidak sekadar membahas buku-buku puisi terbaru, tetapi juga menelusuri perjalanan sastra Bali yang tumbuh dari ruang-ruang komunitas hingga akhirnya menemukan pembacanya melalui halaman-halaman buku. Diskusi ini juga mengajukan pertanyaan yang terus relevan: Masih layakkah puisi diperjuangkan di era sekarang?

Jawaban atas pertanyaan itu tidak disampaikan melalui teori-teori yang rumit. Ia lahir dari pengalaman para penyair yang telah bertahun-tahun menulis, menerbitkan karya, sekaligus membangun ekosistem sastra. Bagi mereka, puisi bukan sekadar rangkaian kata indah, melainkan cara memahami zaman dan merawat kepekaan.

Percakapan kemudian mengalir menuju jejak Sanggar Minum Kopi, sebuah komunitas yang telah menjadi salah satu simpul penting dalam perjalanan sastra Bali.

Didirikan pada Juni 1985 oleh Sthiraprana Duarsa, Dige Amertha, dan Boping Suryadi, Sanggar Minum Kopi lahir dari kegelisahan tiga mahasiswa Universitas Udayana terhadap kehidupan sastra pada masanya. Dari ruang perjumpaan yang sederhana, sanggar itu berkembang menjadi tempat belajar bersama bagi penyair, pembaca puisi, dan pelaku seni, sekaligus melahirkan banyak nama yang kemudian memberi warna dalam perkembangan sastra Indonesia.

Pertemuan bertajuk “Penyair dan Ketangguhan Kata: Menelisik Napas Puisi di Bali” di Beranda Pustaka Festival Seni Bali Jani 2026 | Foto: Istimewa

Perjalanan komunitas tersebut juga tidak dapat dipisahkan dari sosok Umbu Landu Paranggi. Melalui dorongannya, sastra dipahami bukan sebagai kerja yang sunyi dan individual, melainkan praktik kolektif yang terus dirawat bersama. Forum apresiasi puisi digelar secara rutin setiap pekan, mempertemukan pembacaan karya, diskusi, hingga kritik sastra yang berlangsung terbuka.

Tradisi itu terus hidup melalui kehadiran para pinisepuh, Umbu Landu Paranggi dan Frans Nadjira, yang secara berkala datang mendampingi anggota sanggar. Dari ruang-ruang sederhana itulah lahir semangat berkesenian yang terus diwariskan lintas generasi.

Kehadiran para alumni bersama penyair muda dalam diskusi ini menjadi penanda bahwa sastra tidak pernah berhenti pada satu angkatan. Ia terus bergerak melalui perjumpaan, dialog, dan kesediaan untuk saling belajar.

Di tengah perubahan zaman, para penyair juga berbagi pengalaman tentang bagaimana kegelisahan perlahan berubah menjadi buku puisi. Menurut mereka, menulis puisi hari ini tidak berhenti pada proses kreatif semata. Sebuah buku lahir melalui tahapan panjang, mulai dari pemilihan tema, penyuntingan, hingga memikirkan cara agar karya dapat menemukan pembacanya, baik melalui media cetak maupun platform digital.

Mereka memandang proses tersebut sebagai ikhtiar menangkap denyut kehidupan, lalu menerjemahkannya ke dalam bahasa puitis yang berakar pada kebudayaan Bali, namun tetap terbuka terhadap realitas modern.

Bagi para penyair, pekerjaan mereka bukan sekadar merangkai kata-kata. Menulis puisi membutuhkan ketekunan, disiplin, dan kesabaran. Di balik setiap larik terdapat proses panjang yang sering kali tidak terlihat oleh pembaca.

Suasana diskusi yang cair membuat pembahasan meluas pada posisi puisi sebagai praktik kebudayaan. Puisi dipandang tidak hanya menghadirkan keindahan bahasa, tetapi juga menjadi ruang untuk menyimpan ingatan kolektif, merekam perubahan zaman, dan menjembatani dialog antargenerasi.

Pertemuan bertajuk “Penyair dan Ketangguhan Kata: Menelisik Napas Puisi di Bali” di Beranda Pustaka Festival Seni Bali Jani 2026 | Foto: Istimewa

Di tengah derasnya arus informasi yang serba cepat, para peserta justru melihat puisi semakin relevan. Ketika dunia bergerak semakin tergesa, puisi menghadirkan kesempatan bagi manusia untuk berhenti sejenak, merenung, dan kembali menemukan kedalaman pengalaman hidup.

Mereka juga melihat buku puisi sebagai artefak budaya yang merekam cara suatu masyarakat memahami zamannya. Pada saat yang sama, penyair masa kini tidak menutup diri terhadap perkembangan teknologi. Media sosial, visual, hingga berbagai platform digital dimanfaatkan sebagai ruang baru untuk memperluas jangkauan pembaca tanpa kehilangan kedalaman karya.

Namun, satu hal yang dianggap tetap menjadi fondasi adalah komunitas. Pengalaman Sanggar Minum Kopi menunjukkan bahwa ekosistem sastra bertahan bukan semata karena hadirnya buku-buku baru, melainkan karena adanya ruang perjumpaan yang terus mempertemukan penyair, pembaca, dan penikmat sastra dalam tradisi berdiskusi, membaca karya, saling mengkritik, dan melakukan regenerasi.

Menjelang akhir diskusi, optimisme terasa memenuhi ruangan. Di tengah berbagai perubahan, para peserta meyakini puisi akan selalu menemukan jalannya sendiri. Selama manusia masih memiliki perasaan, kegelisahan, dan harapan, selama itu pula puisi akan tetap hidup.

Bagi para penyair Bali, memperjuangkan puisi bukan semata-mata demi memperoleh panggung atau pengakuan. Yang jauh lebih penting adalah menjaga bahasa, merawat kepekaan, dan menghadirkan ruang refleksi bagi masyarakat.

“Puisi tidak akan pernah mati selama masih ada penyair yang berani jujur pada keresahannya dan pembaca yang mau meluangkan waktu untuk berhenti sejenak dan merenung,” pungkas moderator diskusi, Wayan Juniartha.[T]

Sumber/Penulis: Rilis/Nyoman Budarsana
Editor: Jaswanto

Tags: Beranda PustakaFestival Bali Janifestival seni bali jani 2026
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Lomba Lagu Pop Bali Festival Seni Bali Jani VIII 2026 Bak “Perang Bintang”

Next Post

Nasib Antek-Antek Ronaldo dan Real Madrid di Piala Dunia 2026

Nyoman Budarsana

Nyoman Budarsana

Editor/wartawan tatkala.co

Related Posts

Belanda Menyebutnya Ekspedisi, Bali Menyebutnya Agresi: Pertarungan Narasi tentang Perang di Bali 1846-1950 — Dari Tur dan Diskusi Buku “Merebut Bali” karya Anne-Lot Hoek

by Wahyu Mahaputra
October 30, 2026
0
Belanda Menyebutnya Ekspedisi, Bali Menyebutnya Agresi: Pertarungan Narasi tentang Perang di Bali 1846-1950 — Dari Tur dan Diskusi Buku “Merebut Bali” karya Anne-Lot Hoek

SETIDAKNYA 7,05 juta wisatawan mancanegara melintasi pintu gerbang Bandar Udara Internasional I Gusti Ngurah Rai setiap tahunnya. Bali telah lama...

Read moreDetails

Pekan CERIA di Jimbaran, Merawat Alam dan Budaya dari Imajinasi Anak-Anak

by Nyoman Budarsana
October 30, 2026
0
Pekan CERIA di Jimbaran, Merawat Alam dan Budaya dari Imajinasi Anak-Anak

WAJAH-wajah polos penuh semangat memenuhi Jimbaran Hub, Kuta Selatan, Badung, Bali, pada Kamis pagi, 29 Oktober 2026. Sisa air hujan...

Read moreDetails

Karya Agung Ki Pasek Badeg, Merawat Warisan Leluhur dan Meneguhkan Ikatan Pasemetonan

by Nyoman Budarsana
October 29, 2026
0
Karya Agung Ki Pasek Badeg, Merawat Warisan Leluhur dan Meneguhkan Ikatan Pasemetonan

ALUNAN lembut gamelan gangsa dan moncong reong berpadu dengan tembang-tembang klasik nan sakral, menghadirkan suasana khidmat yang sarat nuansa spiritual....

Read moreDetails

Semakin Personal Sebuah Cerita, Semakin Universal Ia Dibaca–Catatan Diskusi “The Global Lens: Why Local Stories Matter” di UWRF 2026

by Rusdy Ulu
October 26, 2026
0
Semakin Personal Sebuah Cerita, Semakin Universal Ia Dibaca–Catatan Diskusi “The Global Lens: Why Local Stories Matter” di UWRF 2026

SEPERTI apa kekuatan penuturan kisah lokal dalam karya sastra? Bagaimana seorang penulis memanfaatkan lanskap, identitas, dan pengalaman lokal untuk menciptakan...

Read moreDetails

Ngusaba Segara lan Ngusaba Nini Desa Adat Kusamba: Generasi Muda Jangan Malu Lestarikan Tradisi

by Wahyu Mahaputra
October 25, 2026
0
Ngusaba Segara lan Ngusaba Nini Desa Adat Kusamba: Generasi Muda Jangan Malu Lestarikan Tradisi

RATUSAN krama Desa Adat Kusamba berjalan beriringan dari Pura Puseh menuju Pura Segara, Minggu (25/10/2026). Mereka mengikuti tradisi mapeed, mengiringi...

Read moreDetails

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
0
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

Read moreDetails

“Satu Pemberhentian Lagi”: Film Pendek tentang Bus, Kemacetan, dan Pilihan Bertransportasi di Pekan Iklim Bali

by Ingga Adelia
October 18, 2026
0
“Satu Pemberhentian Lagi”: Film Pendek tentang Bus, Kemacetan, dan Pilihan Bertransportasi di Pekan Iklim Bali

Siang itu, Flow Workspace di kawasan Sanur, Denpasar, dipenuhi anak-anak muda, terutama pencinta film dan para aktor. Mereka berkumpul, bercakap-cakap,...

Read moreDetails

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
0
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

Read moreDetails

 “Tur Mencari Kebebasan: Jakarta—Bogor—Tangerang” —Berkenalan ke Publik yang Lebih Luas

by Rusdy Ulu
September 29, 2026
0
 “Tur Mencari Kebebasan: Jakarta—Bogor—Tangerang” —Berkenalan ke Publik yang Lebih Luas

TIGA tahun telah terlewat, dua buku telah dirilis oleh Beatriff Collective. Buku pertama bertajuk “(Se-)Putar Musik” (2025), kemudian “Memahami Musik,...

Read moreDetails

Menari di Langit Batu Tampih, Ribuan Rare Angon Hidupkan Tradisi Layang-Layang

by Nyoman Budarsana
September 28, 2026
0
Menari di Langit Batu Tampih, Ribuan Rare Angon Hidupkan Tradisi Layang-Layang

SEMARAK dan meriah. Begitulah suasana yang terlihat di kawasan Pantai Batu Tampih, Desa Pangkung Tibah, Kecamatan Kediri, Kabupaten Tabanan, Minggu...

Read moreDetails
Next Post
Nasib Antek-Antek Ronaldo dan Real Madrid di Piala Dunia 2026

Nasib Antek-Antek Ronaldo dan Real Madrid di Piala Dunia 2026

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Legenda Warung Kopi Tak Bernama di Kota Pelabuhan, Seberang Gardu Listrik Belanda
Kuliner

Legenda Warung Kopi Tak Bernama di Kota Pelabuhan, Seberang Gardu Listrik Belanda

PAGI-PAGI, Jalan Surapati di Singaraja memiliki kehidupan yang berbeda. Di antara bangunan-bangunan tua yang menyimpan ingatan masa kolonial, ada sebuah...

by I Wayan Artika
October 31, 2026
Ketika Novel “Yang Mulia (The Majesties)” karya Tiffany Tsao Pulang Kampung
Panggung

Ketika Novel “Yang Mulia (The Majesties)” karya Tiffany Tsao Pulang Kampung

HUJAN deras mengguyur Ubud pada Sabtu sore, 24 Oktober 2026. Namun, di Rumah Kayu, Taman Baca Ubud, suasana tetap hangat...

by Dede Putra Wiguna
October 31, 2026
Buku-Buku yang Dipuja, Sudahkah Kita Baca?
Esai

Buku-Buku yang Dipuja, Sudahkah Kita Baca?

ADA satu hari ketika buku-buku diupacarai. Buku pelajaran, buku cerita, kitab suci, hingga lontar-lontar tua mendapat perlakuan istimewa. Semuanya ditata...

by Dede Putra Wiguna
October 31, 2026
Saraswati dan Wajah Kedamaian Bali — Ketika Ilmu Pengetahuan Diuji oleh Realitas Kehidupan
Esai

Saraswati dan Wajah Kedamaian Bali — Ketika Ilmu Pengetahuan Diuji oleh Realitas Kehidupan

BALI dikenal sebagai Pulau Dewata, sebuah pulau yang tidak hanya menawarkan keindahan alam, tetapi juga kekayaan tradisi, spiritualitas, dan nilai-nilai...

by Luh Irma Susanthi
October 31, 2026
Taman Pecangakan Disulap Jadi Playground Kreatif, Jembrana Creative Festival Digelar Dua Hari
Budaya

Taman Pecangakan Disulap Jadi Playground Kreatif, Jembrana Creative Festival Digelar Dua Hari

AKHIR pekan ini, Taman Pecangakan di jantung Kota Negara, Jembrana, punya agenda yang berbeda dari biasanya. Selama dua hari, Sabtu–Minggu,...

by tatkala
October 30, 2026
Belanda Menyebutnya Ekspedisi, Bali Menyebutnya Agresi: Pertarungan Narasi tentang Perang di Bali 1846-1950 — Dari Tur dan Diskusi Buku “Merebut Bali” karya Anne-Lot Hoek
Khas

Belanda Menyebutnya Ekspedisi, Bali Menyebutnya Agresi: Pertarungan Narasi tentang Perang di Bali 1846-1950 — Dari Tur dan Diskusi Buku “Merebut Bali” karya Anne-Lot Hoek

SETIDAKNYA 7,05 juta wisatawan mancanegara melintasi pintu gerbang Bandar Udara Internasional I Gusti Ngurah Rai setiap tahunnya. Bali telah lama...

by Wahyu Mahaputra
October 30, 2026
’Pers Hijau’ dan Tanggung Jawab Ekologis Publik
Esai

Di Ruang Tunggu Kehidupan

PAGI itu, saya kembali terbangun dengan pikiran yang sama: hari ini harus ke rumah sakit mana lagi? Hampir setengah tahun...

by Ahmad Sihabudin
October 30, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Elegi Rumah Pusaka Bernama Papua

SIDANG pembaca yang budiman, saya mengajak anda semua main ke sebuah rumah yang sangat luas. Rumah ini sangat asri, halamannya...

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 30, 2026
Pekan CERIA di Jimbaran, Merawat Alam dan Budaya dari Imajinasi Anak-Anak
Khas

Pekan CERIA di Jimbaran, Merawat Alam dan Budaya dari Imajinasi Anak-Anak

WAJAH-wajah polos penuh semangat memenuhi Jimbaran Hub, Kuta Selatan, Badung, Bali, pada Kamis pagi, 29 Oktober 2026. Sisa air hujan...

by Nyoman Budarsana
October 30, 2026
Alvin Tedjo: Potensi, Kesadaran, dan Ujian Waktu
Esai

Alvin Tedjo: Potensi, Kesadaran, dan Ujian Waktu

Potensi Manusia dan Lingkungan yang Membentuknya Kisah Alvin Tedjo menarik untuk direnungkan, bukan semata-mata karena ia merupakan keturunan Indonesia yang...

by Agung Sudarsa
October 29, 2026
Menulis yang Tak Tertahankan, Menyuarakan yang Terbungkam
Panggung

Menulis yang Tak Tertahankan, Menyuarakan yang Terbungkam

BAGAIMANA menuliskan luka yang sulit diungkapkan? Ketika trauma, kehilangan, dan ketidakadilan terasa begitu berat, mampukah kata-kata menggambarkan pengalaman yang menyakitkan...

by Dede Putra Wiguna
October 29, 2026
Labdanation Fashion Week Season III, Padukan Fashion Berkelanjutan dan Ambisi Rekor Dunia
Panggung

Labdanation Fashion Week Season III, Padukan Fashion Berkelanjutan dan Ambisi Rekor Dunia

PERAGAAN busana yang mengusung konsep tekstil berkelanjutan tampil memikat dalam Labdanation Fashion Week Season III di panggung terbuka Sira Village,...

by Nyoman Budarsana
October 29, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co