LOMBA Menyanyi Lagu Pop Bali dalam Festival Seni Bali Jani (FSBJ) VIII Tahun 2026 berlangsung bak “perang bintang”. Hampir seluruh finalis tampil dengan kualitas vokal yang memukau. Penguasaan teknik bernyanyi, cengkok khas lagu Bali, hingga penghayatan terhadap lirik disuguhkan secara maksimal, membuat setiap penampilan selalu disambut tepuk tangan meriah dari penonton.
Sebanyak 25 finalis tampil di Gedung Ksirarnawa, Taman Budaya Provinsi Bali, Minggu (19/7/2026). Mereka merupakan peserta yang lolos dari proses seleksi berlapis, sehingga seluruh finalis menunjukkan kemampuan vokal yang merata, mulai dari kontrol nada, dinamika, hingga kemampuan menjangkau nada-nada tinggi.
Lomba tersebut turut disaksikan Ketua TP PKK Provinsi Bali Ny. Putri Suastini Koster, didampingi Kurator Festival Seni Bali VIII, jajaran Dinas Kebudayaan Provinsi Bali, para penyanyi, akademisi seni, serta masyarakat pecinta musik Bali.
Kualitas para finalis membuat sejumlah penonton menyebut kompetisi ini sebagai “perang bintang”. Banyak peserta diketahui telah malang melintang dalam berbagai kompetisi menyanyi, baik di tingkat daerah maupun nasional.
“Banyaknya peserta yang memiliki kualitas bagus mungkin karena meredupnya ajang BRTV maupun Bintang Radio,” ujar Jung, salah seorang penonton.
Setiap peserta membawakan dua lagu, yakni lagu wajib “Bali Sutrepti” ciptaan I Gede Darna dan satu lagu pilihan yang mengacu pada tema Festival Seni Bali Jani VIII, “Kembara Sukma: Atma Kerthi”, yang bermakna pengembaraan menuju jiwa mahasuci. Seluruh penampilan diiringi permainan keyboard yang mampu menyesuaikan karakter masing-masing lagu.
Tak hanya kualitas vokal, penampilan busana para finalis juga menjadi daya tarik tersendiri. Mereka mengenakan beragam rancangan yang tetap mengangkat endek dan tenun Bali, mulai dari busana adat, busana nasional berbahan endek, hingga perpaduan busana modern dengan udeng endek. Kehadiran wastra Bali itu sekaligus menjadi ruang promosi bagi produk UMKM lokal.
Dewan juri yang terdiri atas Agung Wirasutha, Agung Ocha, dan Ayu Saraswati mengakui kualitas para finalis sangat merata. Menurut Agung Wirasutha, peserta tidak hanya berasal dari Kota Denpasar, tetapi juga dari Kabupaten Buleleng dan daerah lain di Bali.
“Event seperti ini luar biasa dan patut diapresiasi. Mudah-mudahan melalui lomba ini akan lahir bintang-bintang baru dari Pulau Dewata,” ujarnya.
Meski demikian, ia mengingatkan pentingnya artikulasi dalam bernyanyi. Menurutnya, seorang penyanyi harus mampu menyampaikan pesan yang ingin disampaikan pencipta lagu melalui pelafalan yang jelas, penekanan aksen, serta penguasaan vokal yang baik.
“Yang terpenting adalah mampu menampilkan jati diri. Jangan pernah mengekor orang lain. Jadilah diri sendiri dan tampilkan yang terbaik,” pesannya.
Agung Ocha menambahkan, penilaian lomba mencakup tiga aspek utama, yakni vokalitas, musikalitas, dan penampilan (performance). Ketiganya harus dikuasai secara seimbang.
Ia juga mengingatkan pentingnya menjaga ketenangan sebelum naik ke atas panggung.
“Saya melihat beberapa peserta yang sudah sering mengikuti lomba justru terlihat kurang tenang. Sebelum bernyanyi, tenangkan diri terlebih dahulu, resapi lagu yang akan dibawakan sehingga kita bisa menyanyi dari hati. Itu yang paling penting,” katanya.
Menurutnya, teknik vokal yang baik tidak akan berarti apabila penyanyi gagal menyampaikan jiwa lagu.
“Saya juga melihat beberapa peserta bernyanyi seperti suaranya tertahan di belakang. Padahal suara harus keluar ke depan. Itu kembali lagi pada artikulasi. Dengan artikulasi yang baik, suara akan keluar lebih lepas sehingga power-nya lebih terasa,” tegasnya.
Senada dengan itu, Ayu Saraswati menekankan pentingnya memahami tiga unsur utama dalam lagu pop Bali, yakni wirama, wirasa, dan wiraga. Ketiga unsur tersebut, menurutnya, harus diawali dengan teknik pernapasan yang baik serta pemahaman terhadap makna lagu.
“Bagaimana kita bisa mengekspresikan sebuah lagu jika kita sendiri tidak memahami maknanya? Karena itu, wirama, wirasa, dan wiraga menjadi kunci utama,” ujarnya.
Ia menjelaskan, wirasa berkaitan dengan kemampuan menghayati isi lagu, sedangkan wiraga menyangkut ekspresi dan gerak tubuh yang selaras dengan suasana lagu.
“Kalau lagunya sedih, ekspresinya juga harus mencerminkan kesedihan. Begitu pula jika lagunya gembira. Namun secara keseluruhan saya melihat adik-adik peserta sudah mampu melakukan itu dengan sangat baik,” katanya.
Melihat kualitas peserta yang begitu merata, dewan juri akhirnya memutuskan menetapkan 10 besar sebelum menentukan tiga juara utama.
“Kalau hanya memilih tiga terbaik, terus terang cukup berat karena kualitas peserta sangat luar biasa. Syukurlah akhirnya diputuskan akan ada 10 besar, meskipun juara tetap hanya tiga orang,” ujar Ayu Saraswati.
Sementara itu, Kurator Festival Seni Bali Jani VIII, I Made Adnyana, mengatakan lomba menyanyi lagu pop Bali baru pertama kali digelar dalam rangkaian Festival Seni Bali Jani. Antusiasme masyarakat begitu tinggi hingga pendaftaran ditutup lebih awal pada akhir Juni setelah kuota 70 peserta terpenuhi.
Dari jumlah tersebut, peserta diseleksi menjadi 35 orang, kemudian mengerucut menjadi 25 finalis.
Menurut Adnyana, sebagian besar finalis merupakan penyanyi yang telah berpengalaman mengikuti berbagai kompetisi, sehingga persaingan berlangsung sangat ketat.
Para finalis membawakan lagu wajib “Bali Sutrepti” serta lagu pilihan seperti “Buana Santi” ciptaan Komang Darmayuda, “Taksu” karya Agung Ocha, hingga “Karma” ciptaan Yan Tawan.
“Memang ada satu-dua peserta yang penampilannya belum sepenuhnya mulus, misalnya masih ada nada yang fals, sedikit ragu, atau lupa sebagian lirik. Namun secara keseluruhan penampilan 25 finalis sangat luar biasa dan mendapat aplaus meriah dari penonton, termasuk Ibu Putri Koster yang setia mengikuti acara dari awal hingga selesai,” pungkasnya.[T]
Reporter/Penulis: Nyoman Budarsana
Editor: Jaswanto
























![Genesis: Rahim Bumi, Rahim Kehidupan —[Membaca Karya Keramik Ida Ayu Gede Artayani]](https://tatkala.co/wp-content/uploads/2026/07/angga.-genesis-350x250.png)
![Anak Sang Zaman —[Tafsir ‘Child in Time’ dari Deep Purple]](https://tatkala.co/wp-content/uploads/2026/07/sihab.-purple-350x250.png)





