14 May 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Melihat Diri Sendiri ala (Gus Mus) KH. A. Mustofa Bisri

Jaswanto by Jaswanto
March 9, 2025
in Ulas Buku
Melihat Diri Sendiri ala (Gus Mus) KH. A. Mustofa Bisri

Buku Melihat Diri Sendiri karya (Gus Mus) KH. A. Mustofa Bisri | Foto: Jaswanto

HARI-HARI ini, menurut saya, membaca kembali buku Melihat Diri Sendiri: Refleksi dan Inspirasi (2019) karya KH. A. Mustofa Bisri adalah suatu hal yang tepat. Bukan saja karena kondisi sosial-agama-politik bangsa yang sedang semerawut, tapi juga ini bulan Ramadan—bulan yang cocok untuk lebih banyak refleksi, merenung, melihat diri sendiri.

Saya nyaris lupa bahwa di rak buku saya di rumah terselip buku setebal 294 halaman terbitan Diva Press itu kalau saja saya tidak mencari buku Indonesia Kita-nya Nurcholis Madjid. Buku tersebut berdiri tepat di sebelah Indonesia Kita—dan akhirnya membuat saya mengurungkan niat untuk membaca kembali buku Cak Nur ini. Maka pada sore menjelang buka puasa, saya putuskan untuk kembali memetik hikmah-nasihat dari buku Melihat Diri Sendiri.

Buku ini memuat 50-an esai karya Gus Mus—panggilan akrab KH. A. Mustofa Bisri—yang pernah dimuat di berbagai koran dan majalah, sebagaimana pengakuan Gus Mus dalam sekapur sirihnya, “dalam rentang waktu sejak menjelang ambruknya Orde Baru hingga ramai-ramainya orang menari-nari mengikuti gendang yang ditabuh Bush bin Bush (Presiden Amerika yang kerasukan “jin teror”) dan sekutunya.” Esai-esai tersebut dibagi menjadi enam bagian dengan maksud memudahkan pembaca yang ingin langsung membaca bagian-bagian yang dipilihnya. Dan ini jelas membantu pembaca (tidak sabaran) seperti saya.

Ya, tentu saja saya tidak langsung membaca semua esai. Apalagi yang tertib dari esai pertama sampai terakhir secara berurutan. Saya membaca esai-esai yang menurut saya pendek dan saya anggap mudah memahaminya. Begitulah. Maka saya mulai membaca Niat (hal.58).

Sebagaimana judulnya, esai yang menjadi pembuka bagian kedua—keberagamaan—itu, membahas tentang niat kita dalam melakukan sesuatu. Amal atau perbuatan apa pun tergantung niatnya, kata Gus Mus. “Dua orang yang sama-sama tidur, bisa jadi yang satu mendapat pahala dan yang lain tidak. Sebab, yang satu tidur dengan niat beristirahat agar ketika bangun energinya kembali dan dapat melakukan kegiatan ibadah dengan optimal, sedangkan yang lain tidur asal tidur.” Tak hanya memberi contoh soal tidur, Gus juga menyinggung soal pernyataan orang yang berpolitik.

Niat yang menjadi standar sah dan kualitas amal itu, menurut Gus Mus, muncul dari hati, bukan dari mulut. Seorang politisi bisa saja menyatakan bahwa perbuatannya didasarkan atas niat yang baik, niat ibadah, dan mungkin orang-orang yang mendengarnya percaya, tetapi siapa sangka itu hanya sekadar ucapan manis di mulut tapi lain di hati. Maka tak mengherankan jika masih banyak pemimpin di negara ini yang korupsi, menipu, dan lebih mementingkan diri sendiri daripada kepentingan rakyat. Itu karena sejak awal niatnya bukan murni mengabdi, melainkan menguasai.

Urusan niat ini kelihatannya sederhana, tapi sebenarnya tidak. Hanya diri sendiri dan Tuhan yang tahu niat seseorang. Kata Gus Mus, terkadang perbuatan yang tampak duniawi, lantaran niat yang benar, memiliki nilai ibadah. Sebaliknya, ada amalan yang tampaknya ibadah, lantaran niat yang salah, menjadi sekadar perbuatan duniawi yang tak ada pahalanya, bahkan bisa berbalik menjadi kedurhakaan. “Membaca al-Quran dengan niat mendapat piala, tentu tidak sama dengan niat mendapat pahala.”—dalam esai Taat, Ibadah, dan Taqarrub (hal. 72).

Dalam esai lain, Gus Mus menyinggung soal pemandangan orang-orang yang berebut mencium Hajar Aswad—batu hitam yang terpasang di pojok dekat pintu Ka’bah—dengan tak jarang malah menyakiti sesama jamaah. Gus Mus mengambarkan: “Sesekali, terlihat beberapa orang terpental kena sodok ‘saiang-saiang’ mereka sesama jamaah, kemudian kembali melaju merangsek lagi. Wajah mereka yang berhasil mencium batu hitam yang dikeramatkan itu, meskipun tampak lusuh dan kusut, jelas sekali memancarkan kelegaan dan kepuasan.”—esai Sikap Keberagamaan (hal.62).

Dengan kritis Gus Mus menegaskan, mencium Hajar Aswad adalah sunah, sedangkan mengganggu dan menyakiti sesama mukmin—yang notabene juga sedang melaksanakan ibadah—adalah haram. Bagaimana mungkin seorang muslim ingin melaksanakan kesunahan dengan melakukan keharaman? Lebih muskil lagi bila pelanggaran larangan agama itu dilakukan untuk memuaskan diri sendiri—mencari pengalaman rohani atau apa pun namanya—bersamaan dengan dan atas nama pelaksanaan ibadah agama. Ringkasnya, aneh rasanya jika ibadah dilakukan bersamaan dengan menyakiti sesama, atau membuat ibadah orang lain menjadi terganggu.

Hikmah dalam buku ini tidak hanya Gus Mus sampaikan lewat contoh kasus dalam ibadah Islam saja, tapi juga lewat sepak bola. Pada bagian ketiga—norma pergaulan hidup—Gus Mus menulis esai dengan judul Permainan Sepak Bola (hal.106). Dalam esai ini sang kiai menyampaikan beberapa hal betapa sepak bola telah menjadi olah raga yang paling—atau setidaknya termasuk yang paling—digemari di dunia sebelum menyampaikan pesan moral di akhir tulisan.

Kata Gus Mus, hidup tak lebih dari permainan, seperti permainan sepak bola itu. Orang berlari, berebut sesuatu yang sepele untuk kemudian dilepas dan dikejar-kejar lagi. Mereka yang mengejar dan berebut harta, misalnya, setelah berhasil mendapatkannya ada yang melepasnya secara sukarela, ada yang terpaksa melepaskannya. Demikian pula mereka yang mengejar dan berebut kursi dan kekuasaan. Untuk merebut, kalau perlu menyikut, menendang, dan menginjak saudara sendiri. Dan tak jarang orang yang berperangai religius pun melakukannya.

Soal pemimpin  yang berbuat memau-gue, Gus Mus menyampaikannya lewat esai Norma Pegaulan Hidup (hal 123). Dalam esai ini, dengan gamblang Gus Mus menggambarkan betapa banyak pemimpin di negara ini masih berbuat semaunya sendiri tanpa rasa malu dan sungkan. Coba pikir, tulis Gus Mus, alangkah banyaknya orang yang memiliki kedudukan sangat terhormat, dengan gagah memamerkan ketidaktahumaluannya, pada saat orang-orang yang kedudukannya jauh lebih rendah daripadanya saja—karena sudah menganggapnya pemimpin mereka—merasa sangat dipermalukan dengan sikapnya. Ada—kalau tidak banyak—tokoh pemimpin yang seharusnya bertanggungjawab, tanpa malu-malu selalu hanya tanggung asal jawab.

Dalam esai yang kemudian menjadi judul buku ini, Melihat Diri Sendiri (hal. 268), Gus Mus mengingatkan bahwa pandangan yang berlebihan terhadap materi dan segala yang duniawi-lah kiranya yang benar-benar menyeret orang menjadi pribadi yang egois. Kegilaab terhadap materi dan segala yang duniawi—yang sebetulnya sepele menurut Gus Mus—itu kemudian memunculkan kebakhilan, keserakahan, arogansi, dan sifat-sifat lain yang cenderung mengabaikan, bahkan melecehkan pihak lain. Dan setiap orang berpotensi memiliki sifat demikian.

Sampai di sini, benang merah dari “kesalahan berpikir”, anggap saja begitu, yang disampaikan Gus Mus dalam setiap esainya dalam buku Melihat Diri Sendiri ini adalah boleh jadi menggambarkan semangat beragama yang tinggi, tetapi tidak diimbangi dengan pemahaman dan penalaran agama itu sendiri. Beragama, tapi tidak berilmu—beriman tanpa ilmu.

Melalui buku ini, Gus Mus berhasil menyampaikan pesan-pesan moral dan spiritual dengan cara yang indah dan menyentuh (jangan lupa, beliau juga seorang penyair), yang mampu meresap ke dalam hati banyak orang, melampaui sekat-sekat agama, budaya, dan ideologi. Dan seperti yang telah tertulis di sampul belakang buku, dalam Melihat Diri Sendiri, Gus Mus mengajak pembaca untuk mengembala ego, memenapkan (mengendapkan) ke-aku-an kita supaya bisa menjadi manusia sejati. Banyak renungan kehidupan yang diwedar sang kiai dalam buku ini; mulai masalah kebangsaan, keagamaan, politik, hingga diri pribadi. Semuanya itu hanya berpangkal satu tujuan, yakni agar kita tidak menjadi manusia yang linglung. [T]

Penulis: Jaswanto
Editor: Adnyana Ole

  • BACA JUGA:
Pembahasan Buku “Representasi Ideologi Dalam Sastra Lekra” Karya I Wayan Artika
Saiban: Kerinduan yang Tak Terucap dan Tak Terungkap
Aku yang Sudah Lama Hilang: Menelisik Perubahan dalam Diri
Tags: BukuGus Musresensi bukuUlas buku
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Masa Depan Pendidikan di Era AI: ChatGPT dan Perplexity, Alat Bantu atau Tantangan Baru?

Next Post

Transformasi Ubud: Gambaran Daerah Lain di Bali yang Juga Bergerak ke Arah Serupa

Jaswanto

Jaswanto

Editor/Wartawan tatkala.co

Related Posts

Makassar yang Sempat Terabaikan

by Moch. Ferdi Al Qadri
April 16, 2026
0
Makassar yang Sempat Terabaikan

Judul: Makasssar Nol Kilometer Penulis: Anwar J. Rahman, dkk. Penerbit: Tanahindie Press Tahun: 2014 Halaman: xviii + 255 MAKASSAR-NYA satu,...

Read moreDetails

Menggugat Kanon, Mengarsip yang Obskur

by Farhan M. Adyatma
March 27, 2026
0
Menggugat Kanon, Mengarsip yang Obskur

Judul: Terdepan, Terluar, Tertinggal: Antologi Puisi Obskur Indonesia 1945-2045 Penulis: Martin Suryajaya Penerbit: Anagram Tahun terbit: Agustus 2020 Jumlah halaman:...

Read moreDetails

‘Coming Up For Air’, Menghirup Udara yang Tak Lagi Sama

by Radha Dwi Pradnyani
March 25, 2026
0
‘Coming Up For Air’, Menghirup Udara yang Tak Lagi Sama

Judul: Menghirup Udara Segar Judul Asli: Coming Up For Air Penulis: George Orwell Penerjemah: Berliani M. Nugraha Tahun Terbit: 2021...

Read moreDetails

Tubuh, Ingatan, dan Sebuah Paradoks —Membaca Kembali ‘Perawan Remaja dalam Cengkeraman Militer’

by Inno Koten
March 22, 2026
0
Tubuh, Ingatan, dan Sebuah Paradoks —Membaca Kembali ‘Perawan Remaja dalam Cengkeraman Militer’

YANG orang ingat dari Pramoedya Ananta Toer (Pram) adalah ikhtiarnya untuk menyelamatkan martabat manusia. Ia menulis tentang mereka yang kalah,...

Read moreDetails

Di Hati Kami Orang Indonesia —Perempuan Swiss di Sumatra dan Jawa Selama 25 tahun: 1920-1945

by Sigit Susanto
March 17, 2026
0
Di Hati Kami Orang Indonesia —Perempuan Swiss di Sumatra dan Jawa Selama 25 tahun: 1920-1945

Judul: Im Herzen waren wir Indonesier Penulis: Gret Surbeck Penerbit: Limmat Verag, 2007 Tebal: 508 Bahasa : Jerman Christa Miranda, menemukan...

Read moreDetails

Membaca Luka Digital dan Kegelisahan Zaman  —Ulasan Buku Puisi ‘Anak-anak Luka di Dunia Maya’ Karya Yahya Umar

by Dian Suryantini
March 13, 2026
0
Membaca Luka Digital dan Kegelisahan Zaman  —Ulasan Buku Puisi ‘Anak-anak Luka di Dunia Maya’ Karya Yahya Umar

SASTRA sering kali menjadi cermin paling jujur bagi kehidupan sosial. Sastra tidak selalu menyampaikan fakta dalam bentuk angka, statistik, atau...

Read moreDetails

Ingatan, Kehilangan, dan Perlawanan dalam ‘Laut Bercerita’

by Muhammad Khairu Rahman
March 8, 2026
0
Ingatan, Kehilangan, dan Perlawanan dalam ‘Laut Bercerita’

NOVEL Laut Bercerita karya Leila S. Chudori merupakan salah satu karya sastra Indonesia kontemporer yang menghadirkan luka sejarah sebagai ruang...

Read moreDetails

Sugianto Membongkar Bali

by Wayan Esa Bhaskara
March 8, 2026
0
Sugianto Membongkar Bali

Judul Buku    : Aib Penulis          : I Made Sugianto Penerbit        : Pustaka Ekspresi Cetakan         : Pertama, Januari 2026 Tebal              :...

Read moreDetails

Catatan Kecil Tentang ‘Dokter Gila’ Karya Putu Arya Nugraha

by Putu Lina Kamelia
February 28, 2026
0
Catatan Kecil Tentang ‘Dokter Gila’ Karya Putu Arya Nugraha

Judul Buku : Dokter Gila Penulis : dr. Putu Arya Nugraha Penerbit : Tatkala Tahun : 2025 RUMAH itu mungil...

Read moreDetails

Membaca ‘Lampah Sang Pragina’, Membicarakan Kasta yang Itu-itu Saja  

by Wayan Esa Bhaskara
February 20, 2026
0
Membaca ‘Lampah Sang Pragina’, Membicarakan Kasta yang Itu-itu Saja  

Judul Buku: Lampah Sang Pragina Penulis: Ketut Sugiartha Penerbit: Pustaka Ekspresi Cetakan: Pertama, November 2025 Tebal: 116 halaman ISBN: 978-634-7225-31-3...

Read moreDetails
Next Post
Transformasi Ubud: Gambaran Daerah Lain di Bali yang Juga Bergerak ke Arah Serupa

Transformasi Ubud: Gambaran Daerah Lain di Bali yang Juga Bergerak ke Arah Serupa

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Karena Tak Sabaran, Tika Pagraky Luncurkan Tiga Lagu Sekaligus dan Buka Cerita di Balik “Bli Made”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cinta dan Penyesalan | Cerpen Dede Putra Wiguna

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

“Parasocial Relationship”: Antara Hiburan, Pelarian Emosional, dan Strategi Komunikasi Bisnis di Era Digital
Esai

Etika dan Empati di Atas Panggung: Peran MC dalam Menjaga Marwah Acara

PERISTIWA viral pada lomba cerdas cermat MPR baru-baru ini menjadi refleksi penting mengenai urgensi profesionalisme seorang Master of Ceremony (MC)...

by Fitria Hani Aprina
May 13, 2026
Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI
Esai

Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI

JAUH sebelum ada teknologi kecerdasan buatan (AI), sejak dulu saya menulis dengan banyak perbendaharaan kata. Salah satunya “sunyi”. Terlebih dalam...

by Angga Wijaya
May 12, 2026
“Aura Farming” Pacu Jalur: Kilau Viral, Makna Tergerus, Sebuah Analisis Budaya Digital
Esai

Jebakan Kepercayaan Diri Digital: Mengapa Generasi Z Rentan di Hadapan AI

Marc Prensky, peneliti pendidikan Amerika yang memperkenalkan istilah digital natives pada 2001, menulis dengan penuh keyakinan. Ia berargumen bahwa anak-anak...

by Marina Rospitasari
May 12, 2026
Pameran ‘Arka Umbara’ di TAT Art Space, Hasil Dari Perjalanan 14 Seniman Jongsarad Bali
Pameran

Pameran ‘Arka Umbara’ di TAT Art Space, Hasil Dari Perjalanan 14 Seniman Jongsarad Bali

Ini yang menarik dari Jongsarad Bali, kolektif seniman lintas bidang yang beranggotakan perupa, desainer, dan pembuat film. Setiap perjalanan mereka,...

by Nyoman Budarsana
May 11, 2026
Pengunjung PKB 2026 Jangan Bawa Makanan dan Minuman dari Luar Taman Budaya
Budaya

Pengunjung PKB 2026 Jangan Bawa Makanan dan Minuman dari Luar Taman Budaya

MENJAGA kebersihan dan mengelola sampah dengan disiplin menjadi kunci agar Pesta Kesenian Bali (PKB) tetap nyaman untuk dikunjungi. Kebersihan merupakan...

by Nyoman Budarsana
May 11, 2026
Tugas Etnis Baduy: “Ngasuh Ratu Ngayak Menak”
Esai

Eksistensi Suku Baduy di Era Digitalisasi dan ‘Artificial Intelligence’

SAAT penulis baca informasi tentang makhluk bernama Artificial Intelligence  (AI) terus terang sangat tercengang dan ngeri sekali, bagaimana mungkin manusia...

by Asep Kurnia
May 11, 2026
Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein
Esai

Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein

Satyendra Nath Bose: Saintis Sunyi dari India Satyendra Nath Bose lahir di Kolkata, India, pada 1 Januari 1894, di tengah...

by Agung Sudarsa
May 11, 2026
Menjaga Tubuh, Menjaga Sesama —Catatan dari Sebuah Hari Kemanusiaan bersama SCAU
Khas

Menjaga Tubuh, Menjaga Sesama —Catatan dari Sebuah Hari Kemanusiaan bersama SCAU

Prolog: Datang dari Sebuah Informasi Sederhana Kadang sebuah perjalanan panjang dimulai dari kalimat yang sangat pendek. Saya mengetahui kegiatan ini...

by Emi Suy
May 11, 2026
Crocodile Tears (2024): Penjara Air Mata Buaya
Ulas Film

Crocodile Tears (2024): Penjara Air Mata Buaya

RAUNGAN reptil purba itu masih terdengar samar, terus hidup, bahkan ketika saya berjalan keluar bioskop. Semakin jauh, raungan itu masih...

by Bayu Wira Handyan
May 11, 2026
Pulang | Cerpen Dede Putra Wiguna
Cerpen

Pulang | Cerpen Dede Putra Wiguna

DI penghujung tahun, aku akhirnya memberanikan diri untuk merantau. Dari kampung, mencoba peruntungan di Ibu Kota. Berbekal ijazah sarjana manajemen,...

by Dede Putra Wiguna
May 10, 2026
Gagal Itu Indah
Esai

Gagal Itu Indah

Merekonstruksi Arti Sebuah Kegagalan DALAM kehidupan modern, kegagalan sering dipandang sebagai akhir dari perjalanan. Seseorang dianggap berhasil bila mencapai standar...

by Agung Sudarsa
May 10, 2026
Refleksi Usai Menonton Film ‘Pesta Babi’ di Ubud
Ulas Film

Refleksi Usai Menonton Film ‘Pesta Babi’ di Ubud

PADA tanggal 9 Mei 2026, di malam hari, sekitar pukul 18:15 , saya mengunjungi Sokasi Café and Living. Alamat café...

by Doni Sugiarto Wijaya
May 10, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co