3 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Saiban: Kerinduan yang Tak Terucap dan Tak Terungkap

Chris Triwarseno by Chris Triwarseno
January 26, 2025
in Ulas Buku
Saiban: Kerinduan yang Tak Terucap dan Tak Terungkap

Sampul buku puisi Saiban

Judul: Saiban
Penulis: Oka Rusmini
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
ISBN: 978-602-06-8014-9
Cetakan Pertama: Oktober 2024
Tebal: 72 hlm.; 13.5 x 20 cm

“Saiban: Kerinduan yang Tak Terucap dan Tak Terungkap” mungkin terasa asing bagi kita yang bukan umat Hindu atau tidak tinggal di Bali. Namun, bagi Oka Rusmini, saiban adalah denyut nadi tradisi yang mengalir dalam darahnya. Tradisi mebaten, memberikan sesaji, menjadi aktivitas sehari-hari masyarakat Bali. Persembahan ini dikenal sebagai banten saiban, sesaji kecil yang dipersembahkan setelah memasak.

Dalam pandangan Oka Rusmini, banten saiban lebih dari sekadar materi. Ia melambangkan rasa syukur karena hari ini ada sepiring nasi untuk melanjutkan hidup. Dengan pemaknaan ini, “Saiban” menjadi judul tepat bagi dua puluh sembilan puisi dalam kumpulan ini. Judul ini mengingatkannya pada ibunya, sosok yang selalu memasak untuk keluarga.

Bagi Oka Rusmini, “Saiban” menyimpan makna mendalam. Bukan hanya sekedar sesaji, tetapi memiliki filosofi yang luas. Ia tidak hanya mencerminkan rasa syukur karena telah mengandung anak-anaknya, tetapi juga melahirkan karya-karya dari rahim pikirannya. Karya-karya tersebut meliputi: “Monolog Pohon,” “Kenanga” (dulu bernama Gurat-Gurat), “Tarian Bumi,” “Sagra,” “Patiwangi” (kemudian berubah nama menjadi Warna Kita), “Pandora,”  “Tempurung,” “Akar Pule,” dan “Saiban”. Kumpulan puisi “Saiban,” yang meraih penghargaan Kusala Sastra Khatulistiwa, ditulis antara tahun 2008 hingga 2014. Buku ini dicetak kembali Penerbit Gramedia Pustaka Utama pada bulan Oktober 2024.

Puisi-puisi dalam “Saiban” berbicara tentang cinta dan kehidupan yang berdenyut. Salah satu puisinya, puisi yang keenam membahas cinta dengan kedalaman emosional. Oka Rusmini menggunakan kafe sebagai latar untuk menceritakan peristiwa akrab di sekitar kita—kerinduan dan kenangan. Kenangan adalah memori yang mengingatkan kita pada peristiwa masa lalu dan dapat direkonstruksi kembali.

Melalui kafe dan elemen-elemen seperti segelas wine atau sepiring roti, ia merekonstruksi peristiwa dalam puisinya. Kerinduan menyimpan perasaan rindu serta latar belakangnya dalam rekaman kenangan. Kenangan sering kali disimpan, meski ada keinginan untuk mengungkapkannya kembali.

Keterungkapannya beragam; salah satu cara mengungkapkan adalah tanpa kata—cukup melalui perasaan. Puisi Oka Rusmini berhasil membangun narasi kerinduan tanpa perlu diucapkan. Perasaan memiliki daya ungkap lebih kuat daripada kata-kata. Misalnya, melalui citraan “matamu yang biru, laut, dan ombak,” puisi ini menggambarkan kerinduan melalui pandangan seseorang.

Namun, kenangan kadang membuat perasaan hampa—”mungkin mendekati layu.” Ketidakhadiran seseorang yang dirindukan menciptakan kekosongan. Suasana tak sepenuhnya dinikmati terlihat saat “aku tak ingin memakannya,” meskipun telah “kupesan secangkir kopi.” Peralatan makan hadir sebagai kamuflase kenikmatan, tetapi semua itu sia-sia tanpa kehadiran orang tercinta.

Di dalam kesunyian “hanya diam memandangmu,” bayangan rindu tak berkesudahan terus diciptakan. Begitu detailnya perangkap rindu memerangkap perasaan. Larik “harum susu dan keju tubuhmu menyentuh kulitku” membangkitkan perasaan lekat.

Saat perasaan tak menentu muncul, gelombang rindu mengguncang—”kurasakan ombak menerpa tubuhku.” Tanda-tanda mulai menyampaikan pesan—”kau mulai menatapku,” “aku gemetar,” dan “tak ada senyuman.” Pertanyaan simbolik seperti “kau sulut rokok” dan “sore itu kau tak meneguk minumanmu” terus mencari jawaban.

Jika pertanyaan simbolik tak menemukan jawaban, pertanyaan reflektif bisa menjadi alternatif—tentang kehadiran atau ketidakhadiran seseorang. Seorang lelaki tanpa nama telah memasuki kebun hatinya; ia memetik jantung dan memanah hatinya—membuatnya jatuh cinta.

Mungkin ini adalah buah rindu yang telah diperam sebelumnya. Kadang segala usaha dilakukan untuk menolak kebenaran perasaan; dengan tidak memberikan ruang bagi pengakuan rindu atau cinta di hati. Ini adalah penolakan bersifat kamuflase.

Meskipun dengan kesadaran penuh—”aku telah melumuri tubuhku dengan pandan berduri,” kerinduan tetap menemukan jalannya untuk terwujud. Cinta semakin nyata dalam bayangan rindu yang berusaha dilenyapkan.

Oka Rusmini piawai mendramatisir ungkapan cinta dan kerinduan. Larik “di kafe ini aku serasa menunggumu” dan “berharap cairan putih itu membunuhmu” menciptakan ambiguitas perasaan—rindu yang harus dipertahankan atau dilenyapkan. Sebuah reaksi perasaan yang paling esensial.

Jika rindu harus dilenyapkan, puncaknya adalah merelakannya—hilang bahkan dalam kenangan sekalipun. Namun kehilangan kadang juga menemukan kembali rekaman-rekaman perasaan yang tak sepenuhnya kita lenyapkan.

Dengan “kucoba mencari namamu” dan “meluncur di jalan Google,” kerinduan berusaha dimunculkan kembali; berharap menemukan harapan yang mungkin tersangkut di sudut jalan atau kehilangan nama baru yang tak pernah dibisikkan.

Kehampaan mungkin mewakili perasaan tak kunjung menemukan harapan—”kurasakan hawa dingin menyergap tengkukku.” “Kesepian terus mencongkel tubuhku;” harapan hanyalah ilusi membaringkan perasaan.

Ilusi bergerak eksploratif menstimulasi perasaan bawah sadar; “seorang pelayan tersenyum menatapku tajam,”  “kulihat matamu menjelma di matanya.” Kehadiran semu tiba-tiba muncul—”tapi aku tak ingin menghindar.”

Kerinduan menyesakkan; tidak ada penantian tanpa ujung—penantian adalah ruang tunggu kerinduan. Kerinduan tak terucap dan tak terungkap—”berharap kau mengirim sebaris huruf.”

Kerinduan dalam puisi ini mewakili epilog Oka Rusmini dalam buku “Saiban.” Seperti anak lahir dari rahim jasmani, anak-anak rohaninya terlahir dari rahim pikirannya dengan rasa sakit luar biasa. “Saiban” baginya adalah upacara persembahan bagi semua pembaca yang masih berada di ruang tunggu kerinduan. [T]

Penulis: Chris Triwarseno
Editor: Adnyana Ole

  • BACA artikel lain dari penulis CHRIS TRIWARSENO
Negara Tidak Hadir dalam Perkara-perkara Nyaris Puitis
Rendezvous: Puisi-puisi yang Melawan Keberserakan Kata-kata
Puisi-puisi Chris Triwarseno | Puasa yang Berpuisi, Puisi yang Berpuasa
Tags: buku kumpulan puisibuku puisiOka RusminiPuisiresensi
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

“Nostalgic Tourism” : Reduksi dan Kanalisasi Kenangan

Next Post

Gery dan Sangkarnya  |  Dongeng dari Papua

Chris Triwarseno

Chris Triwarseno

Alumnus Teknik Geodesi UGM, dan karyawan swasta yang tinggal di Ungaran. Penulis puisi, cerpen, resensi dan esai. Buku antologi puisi tunggalnya berjudul : Staycation Sepasang Puisi (2024), Sebilah Lidah (2023) dan Bait-bait Pujangga Sepi (2022). Karya-karyanya berupa puisi, cerpen, resensi dan esai diterbitkan di beberapa media cetak dan media online, seperti : Jawa Pos, republika.id, mediaindonesia.com, Suara Merdeka, Kaltim Post, Lombok Post, sastramedia.com, pojoktim.com, kurungbuka.com, nongkrong.co, borobudurwriters.id, balipolitica.com, tatkala.co , dll

Related Posts

Kisah Pinggiran 1965: Belajar Empati dari Lasmi

by Abdul Karim Abraham
September 29, 2026
0
Kisah Pinggiran 1965: Belajar Empati dari Lasmi

LASMI, perempuan muda yang cukup populer di kampungnya. Penampilannya sederhana, ia tidak mengenakan aksesoris apapun, kecuali jam tangan dengan tali...

Read moreDetails

Aku Mau Jadi Penguin! —Ulasan Novel “Di Tanah Lada” Karya Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie

by Kadek Wisnu Oktaditya
September 12, 2026
0
Aku Mau Jadi Penguin! —Ulasan Novel “Di Tanah Lada” Karya Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie

AWALNYA saya mengira nama ‘Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie’ adalah nama pena. Ternyata saya salah. Kemudian dari nama unik dan ajaib inilah saya...

Read moreDetails

Makna Komunikasi di Balik Lagu: Ulas Buku Hermeneusical Karya Ahmad Sihabudin

by Chusmeru
September 3, 2026
0
Makna Komunikasi di Balik Lagu: Ulas Buku Hermeneusical Karya Ahmad Sihabudin

Judul Buku: HERMENEUSICAL Menafsir Musik dalam Komunikasi Manusia Penulis      : Prof.Dr. Ahmad Sihabudin, M.Si Penerbit    : Indigo Media, Kota Tangerang...

Read moreDetails

SEBUT SAJA NAGA DALAM GELAP: Dunia Lain, Tan Lioe Ie, dan Cahaya Pink Floyd

by IRZI
August 3, 2026
0
SEBUT SAJA NAGA DALAM GELAP: Dunia Lain, Tan Lioe Ie, dan Cahaya Pink Floyd

Pengantar singkat: Buku puisi Soto Otak ODGJ, tidak pernah menjadi "isu besar" yang cukup menarik perhatian pembela hak asasi manusia,...

Read moreDetails

Tuhan Yang Maha Puisi

by Heski Dewabrata
August 1, 2026
0
Tuhan Yang Maha Puisi

The Ingredients of Easter: Three nails, Two pieces of wood, a crown of thorns, a fair share of lashing, and...

Read moreDetails

SNERAYUZA: Ketika Studio Menjadi Sajak, Ketika Lukisan Menjadi Puisi

by I Wayan Sujana Suklu
July 26, 2026
0
SNERAYUZA: Ketika Studio Menjadi Sajak, Ketika Lukisan Menjadi Puisi

SEBUAH buku yang selesai dibaca ketika halaman terakhir ditutup. Ada pula buku yang baru mulai dibaca justru setelah kita menutupnya....

Read moreDetails

Kehilangan, Bahasa, dan Memori Kolektif dalam Karya Sastra —Membaca “Singkarak, Riang dan Sendunya” Karya Ragdi F Daye

by Azwar
July 17, 2026
0
Kehilangan, Bahasa, dan Memori Kolektif dalam Karya Sastra —Membaca “Singkarak, Riang dan Sendunya” Karya Ragdi F Daye

Singkarak, Riang dan Sendunya merupakan kumpulan cerpen karya Ragdi F Daye yang diterbitkan Rumahkayu Pustaka pada Mei 2026. Buku ini...

Read moreDetails

“Koloni”: Semut, Semesta, dan Seni Merawat Kehidupan

by I Made Sujaya
July 16, 2026
0
“Koloni”: Semut, Semesta, dan Seni Merawat Kehidupan

Novel Koloni pertama kali diluncurkan oleh Gramedia pada 22 Agustus 2025. Sejak diluncurkan hingga kini, novel ini terus mendapat perhatian...

Read moreDetails

Yang Paling Dalam, Yang Tetap Online  —Prolog untuk Buku Puisi “Yang Paling Dalam, Yang Paling Diam” karya Chris Triwarseno

by IRZI
July 12, 2026
0
Yang Paling Dalam, Yang Tetap Online  —Prolog untuk Buku Puisi “Yang Paling Dalam, Yang Paling Diam” karya Chris Triwarseno

KITA tidak memulai dari halaman kosong. Kita masuk ketika semuanya sudah berlangsung. Layar sudah menyala, jempol bergerak hampir tanpa perintah,...

Read moreDetails

Mahindu, Si Perempuan Tembikar

by Mas Ruscitadewi
July 10, 2026
0
Mahindu, Si Perempuan Tembikar

Risalah Perempuan-Perempuan Tembikar yang dipakai sebagai judul kumpulan puisi ini mengisyaratkan pilihan, penilaian dan sudut pandang penyair dalam membahas masalah...

Read moreDetails
Next Post
Gery dan Sangkarnya  |  Dongeng dari Papua

Gery dan Sangkarnya  |  Dongeng dari Papua

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah
Esai

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara
Esai

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co