24 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Saiban: Kerinduan yang Tak Terucap dan Tak Terungkap

Chris Triwarseno by Chris Triwarseno
January 26, 2025
in Ulas Buku
Saiban: Kerinduan yang Tak Terucap dan Tak Terungkap

Sampul buku puisi Saiban

Judul: Saiban
Penulis: Oka Rusmini
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
ISBN: 978-602-06-8014-9
Cetakan Pertama: Oktober 2024
Tebal: 72 hlm.; 13.5 x 20 cm

“Saiban: Kerinduan yang Tak Terucap dan Tak Terungkap” mungkin terasa asing bagi kita yang bukan umat Hindu atau tidak tinggal di Bali. Namun, bagi Oka Rusmini, saiban adalah denyut nadi tradisi yang mengalir dalam darahnya. Tradisi mebaten, memberikan sesaji, menjadi aktivitas sehari-hari masyarakat Bali. Persembahan ini dikenal sebagai banten saiban, sesaji kecil yang dipersembahkan setelah memasak.

Dalam pandangan Oka Rusmini, banten saiban lebih dari sekadar materi. Ia melambangkan rasa syukur karena hari ini ada sepiring nasi untuk melanjutkan hidup. Dengan pemaknaan ini, “Saiban” menjadi judul tepat bagi dua puluh sembilan puisi dalam kumpulan ini. Judul ini mengingatkannya pada ibunya, sosok yang selalu memasak untuk keluarga.

Bagi Oka Rusmini, “Saiban” menyimpan makna mendalam. Bukan hanya sekedar sesaji, tetapi memiliki filosofi yang luas. Ia tidak hanya mencerminkan rasa syukur karena telah mengandung anak-anaknya, tetapi juga melahirkan karya-karya dari rahim pikirannya. Karya-karya tersebut meliputi: “Monolog Pohon,” “Kenanga” (dulu bernama Gurat-Gurat), “Tarian Bumi,” “Sagra,” “Patiwangi” (kemudian berubah nama menjadi Warna Kita), “Pandora,”  “Tempurung,” “Akar Pule,” dan “Saiban”. Kumpulan puisi “Saiban,” yang meraih penghargaan Kusala Sastra Khatulistiwa, ditulis antara tahun 2008 hingga 2014. Buku ini dicetak kembali Penerbit Gramedia Pustaka Utama pada bulan Oktober 2024.

Puisi-puisi dalam “Saiban” berbicara tentang cinta dan kehidupan yang berdenyut. Salah satu puisinya, puisi yang keenam membahas cinta dengan kedalaman emosional. Oka Rusmini menggunakan kafe sebagai latar untuk menceritakan peristiwa akrab di sekitar kita—kerinduan dan kenangan. Kenangan adalah memori yang mengingatkan kita pada peristiwa masa lalu dan dapat direkonstruksi kembali.

Melalui kafe dan elemen-elemen seperti segelas wine atau sepiring roti, ia merekonstruksi peristiwa dalam puisinya. Kerinduan menyimpan perasaan rindu serta latar belakangnya dalam rekaman kenangan. Kenangan sering kali disimpan, meski ada keinginan untuk mengungkapkannya kembali.

Keterungkapannya beragam; salah satu cara mengungkapkan adalah tanpa kata—cukup melalui perasaan. Puisi Oka Rusmini berhasil membangun narasi kerinduan tanpa perlu diucapkan. Perasaan memiliki daya ungkap lebih kuat daripada kata-kata. Misalnya, melalui citraan “matamu yang biru, laut, dan ombak,” puisi ini menggambarkan kerinduan melalui pandangan seseorang.

Namun, kenangan kadang membuat perasaan hampa—”mungkin mendekati layu.” Ketidakhadiran seseorang yang dirindukan menciptakan kekosongan. Suasana tak sepenuhnya dinikmati terlihat saat “aku tak ingin memakannya,” meskipun telah “kupesan secangkir kopi.” Peralatan makan hadir sebagai kamuflase kenikmatan, tetapi semua itu sia-sia tanpa kehadiran orang tercinta.

Di dalam kesunyian “hanya diam memandangmu,” bayangan rindu tak berkesudahan terus diciptakan. Begitu detailnya perangkap rindu memerangkap perasaan. Larik “harum susu dan keju tubuhmu menyentuh kulitku” membangkitkan perasaan lekat.

Saat perasaan tak menentu muncul, gelombang rindu mengguncang—”kurasakan ombak menerpa tubuhku.” Tanda-tanda mulai menyampaikan pesan—”kau mulai menatapku,” “aku gemetar,” dan “tak ada senyuman.” Pertanyaan simbolik seperti “kau sulut rokok” dan “sore itu kau tak meneguk minumanmu” terus mencari jawaban.

Jika pertanyaan simbolik tak menemukan jawaban, pertanyaan reflektif bisa menjadi alternatif—tentang kehadiran atau ketidakhadiran seseorang. Seorang lelaki tanpa nama telah memasuki kebun hatinya; ia memetik jantung dan memanah hatinya—membuatnya jatuh cinta.

Mungkin ini adalah buah rindu yang telah diperam sebelumnya. Kadang segala usaha dilakukan untuk menolak kebenaran perasaan; dengan tidak memberikan ruang bagi pengakuan rindu atau cinta di hati. Ini adalah penolakan bersifat kamuflase.

Meskipun dengan kesadaran penuh—”aku telah melumuri tubuhku dengan pandan berduri,” kerinduan tetap menemukan jalannya untuk terwujud. Cinta semakin nyata dalam bayangan rindu yang berusaha dilenyapkan.

Oka Rusmini piawai mendramatisir ungkapan cinta dan kerinduan. Larik “di kafe ini aku serasa menunggumu” dan “berharap cairan putih itu membunuhmu” menciptakan ambiguitas perasaan—rindu yang harus dipertahankan atau dilenyapkan. Sebuah reaksi perasaan yang paling esensial.

Jika rindu harus dilenyapkan, puncaknya adalah merelakannya—hilang bahkan dalam kenangan sekalipun. Namun kehilangan kadang juga menemukan kembali rekaman-rekaman perasaan yang tak sepenuhnya kita lenyapkan.

Dengan “kucoba mencari namamu” dan “meluncur di jalan Google,” kerinduan berusaha dimunculkan kembali; berharap menemukan harapan yang mungkin tersangkut di sudut jalan atau kehilangan nama baru yang tak pernah dibisikkan.

Kehampaan mungkin mewakili perasaan tak kunjung menemukan harapan—”kurasakan hawa dingin menyergap tengkukku.” “Kesepian terus mencongkel tubuhku;” harapan hanyalah ilusi membaringkan perasaan.

Ilusi bergerak eksploratif menstimulasi perasaan bawah sadar; “seorang pelayan tersenyum menatapku tajam,”  “kulihat matamu menjelma di matanya.” Kehadiran semu tiba-tiba muncul—”tapi aku tak ingin menghindar.”

Kerinduan menyesakkan; tidak ada penantian tanpa ujung—penantian adalah ruang tunggu kerinduan. Kerinduan tak terucap dan tak terungkap—”berharap kau mengirim sebaris huruf.”

Kerinduan dalam puisi ini mewakili epilog Oka Rusmini dalam buku “Saiban.” Seperti anak lahir dari rahim jasmani, anak-anak rohaninya terlahir dari rahim pikirannya dengan rasa sakit luar biasa. “Saiban” baginya adalah upacara persembahan bagi semua pembaca yang masih berada di ruang tunggu kerinduan. [T]

Penulis: Chris Triwarseno
Editor: Adnyana Ole

  • BACA artikel lain dari penulis CHRIS TRIWARSENO
Negara Tidak Hadir dalam Perkara-perkara Nyaris Puitis
Rendezvous: Puisi-puisi yang Melawan Keberserakan Kata-kata
Puisi-puisi Chris Triwarseno | Puasa yang Berpuisi, Puisi yang Berpuasa
Tags: buku kumpulan puisibuku puisiOka RusminiPuisiresensi
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

“Nostalgic Tourism” : Reduksi dan Kanalisasi Kenangan

Next Post

Gery dan Sangkarnya  |  Dongeng dari Papua

Chris Triwarseno

Chris Triwarseno

Alumnus Teknik Geodesi UGM, dan karyawan swasta yang tinggal di Ungaran. Penulis puisi, cerpen, resensi dan esai. Buku antologi puisi tunggalnya berjudul : Staycation Sepasang Puisi (2024), Sebilah Lidah (2023) dan Bait-bait Pujangga Sepi (2022). Karya-karyanya berupa puisi, cerpen, resensi dan esai diterbitkan di beberapa media cetak dan media online, seperti : Jawa Pos, republika.id, mediaindonesia.com, Suara Merdeka, Kaltim Post, Lombok Post, sastramedia.com, pojoktim.com, kurungbuka.com, nongkrong.co, borobudurwriters.id, balipolitica.com, tatkala.co , dll

Related Posts

Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.

by Hartanto
October 21, 2026
0
Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.

SUNGGUH beruntung, saya mendapatkan buku Karya Visual dengan Multi Sensorik karya IB Putra Adnyana ini. Meski baru sampai bab III...

Read moreDetails

Merayakan 10 Tahun Cak Dlahom, Sosok Sufi yang Aneh dalam Buku Rusdi Mathari

by Ahmad Hirzan Anwari
October 13, 2026
0
Merayakan 10 Tahun Cak Dlahom, Sosok Sufi yang Aneh dalam Buku Rusdi Mathari

BUKU Rusdi Mathari berjudul Merasa Pintar, Bodoh Saja Tak Punya, genap berusia 10 tahuan. Buku Mojok, sebagai penerbit, merayakan ulang...

Read moreDetails

Jalan yang Mengubah Momen Menjadi Monumen: Menyusuri Perjalanan Batin dalam “Traveling With Soul” karya Meilani Dhamayanti

by Emi Suy
October 8, 2026
0
Jalan yang Mengubah Momen Menjadi Monumen: Menyusuri Perjalanan Batin dalam “Traveling With Soul” karya Meilani Dhamayanti

KITA sering berangkat dengan tujuan yang telah ditentukan, seolah jalan hanya perlu mengantar tubuh sampai ke sebuah tempat. Padahal, perjalanan...

Read moreDetails

Kisah Pinggiran 1965: Belajar Empati dari Lasmi

by Abdul Karim Abraham
September 29, 2026
0
Kisah Pinggiran 1965: Belajar Empati dari Lasmi

LASMI, perempuan muda yang cukup populer di kampungnya. Penampilannya sederhana, ia tidak mengenakan aksesoris apapun, kecuali jam tangan dengan tali...

Read moreDetails

Aku Mau Jadi Penguin! —Ulasan Novel “Di Tanah Lada” Karya Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie

by Wisnu Oktaditya
September 12, 2026
0
Aku Mau Jadi Penguin! —Ulasan Novel “Di Tanah Lada” Karya Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie

AWALNYA saya mengira nama ‘Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie’ adalah nama pena. Ternyata saya salah. Kemudian dari nama unik dan ajaib inilah saya...

Read moreDetails

Makna Komunikasi di Balik Lagu: Ulas Buku Hermeneusical Karya Ahmad Sihabudin

by Chusmeru
September 3, 2026
0
Makna Komunikasi di Balik Lagu: Ulas Buku Hermeneusical Karya Ahmad Sihabudin

Judul Buku: HERMENEUSICAL Menafsir Musik dalam Komunikasi Manusia Penulis      : Prof.Dr. Ahmad Sihabudin, M.Si Penerbit    : Indigo Media, Kota Tangerang...

Read moreDetails

SEBUT SAJA NAGA DALAM GELAP: Dunia Lain, Tan Lioe Ie, dan Cahaya Pink Floyd

by IRZI
August 3, 2026
0
SEBUT SAJA NAGA DALAM GELAP: Dunia Lain, Tan Lioe Ie, dan Cahaya Pink Floyd

Pengantar singkat: Buku puisi Soto Otak ODGJ, tidak pernah menjadi "isu besar" yang cukup menarik perhatian pembela hak asasi manusia,...

Read moreDetails

Tuhan Yang Maha Puisi

by Heski Dewabrata
August 1, 2026
0
Tuhan Yang Maha Puisi

The Ingredients of Easter: Three nails, Two pieces of wood, a crown of thorns, a fair share of lashing, and...

Read moreDetails

SNERAYUZA: Ketika Studio Menjadi Sajak, Ketika Lukisan Menjadi Puisi

by I Wayan Sujana Suklu
July 26, 2026
0
SNERAYUZA: Ketika Studio Menjadi Sajak, Ketika Lukisan Menjadi Puisi

SEBUAH buku yang selesai dibaca ketika halaman terakhir ditutup. Ada pula buku yang baru mulai dibaca justru setelah kita menutupnya....

Read moreDetails

Kehilangan, Bahasa, dan Memori Kolektif dalam Karya Sastra —Membaca “Singkarak, Riang dan Sendunya” Karya Ragdi F Daye

by Azwar
July 17, 2026
0
Kehilangan, Bahasa, dan Memori Kolektif dalam Karya Sastra —Membaca “Singkarak, Riang dan Sendunya” Karya Ragdi F Daye

Singkarak, Riang dan Sendunya merupakan kumpulan cerpen karya Ragdi F Daye yang diterbitkan Rumahkayu Pustaka pada Mei 2026. Buku ini...

Read moreDetails
Next Post
Gery dan Sangkarnya  |  Dongeng dari Papua

Gery dan Sangkarnya  |  Dongeng dari Papua

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Menyulam Masa Depan Laut Lovina
Liputan Khusus

Menyulam Masa Depan Laut Lovina

PUKUL berapa pun laut memanggil, Edi Harianto tahu apa yang harus dilakukannya. Lelaki berusia 50 tahun itu sudah akrab dengan...

by Jaswanto
October 24, 2026
Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar
Pendidikan

Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar

NILAI rata-rata Tes Kemampuan Akademik (TKA) Matematika di SMP Negeri 14 Denpasar baru mencapai 41,31. Dari 307 peserta didik, sekitar...

by Dede Putra Wiguna
October 24, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Selamat Datang di Negara “Clickbait”

SEPERTINYA sudah bukan lagi zamannya bertanya program mana yang paling bagus. Di negeri yang pandai menjual harapan, pertanyaan pertama justru...

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 24, 2026
Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat
Pendidikan

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat

SEBANYAK 693 lulusan Institut Agama Hindu Negeri (IAHN) Mpu Kuturan Singaraja resmi menyelesaikan pendidikan mereka dalam Wisuda II yang berlangsung...

by Wahyu Mahaputra
October 23, 2026
Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium
Panggung

Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium

KETIKA gamelan Bali disandingkan dengan instrumen Barat seperti biola (strings), gitar, saxophone, keyboard, dan piano, hasilnya adalah sebuah komposisi simfoni...

by Nyoman Budarsana
October 23, 2026
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co