9 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Bangkitlah Bali: Kesadaran Selalu Dimulai dari Keberanian Mengakui Kenyataan

Agung Sudarsa by Agung Sudarsa
July 19, 2026
in Esai
Bangkitlah Bali: Kesadaran Selalu Dimulai dari Keberanian Mengakui Kenyataan

“People will do anything, no matter how absurd, in order to avoid facing their own souls.” Manusia rela melakukan apa saja agar tidak perlu menghadapi jiwanya sendiri. Dalam psikologi Jung, setiap orang memiliki shadow atau sisi bayangan yang sering disembunyikan karena tidak nyaman untuk diakui.

Mengakui Dukkha sebagai Awal Kebangkitan

Salah satu ajaran paling revolusioner dari Buddha justru dimulai dari sebuah pengakuan yang sederhana namun sangat berani: hidup mengandung dukkha. Kata dukkha sering diterjemahkan sebagai penderitaan, tetapi maknanya jauh lebih luas. Ia mencakup ketidakpuasan, kegelisahan, ketidakpastian, dan segala bentuk ketidakseimbangan yang melekat pada kehidupan. Buddha tidak berhenti pada diagnosis itu. Beliau tidak mengajak manusia meratapi nasib, melainkan menggunakannya sebagai titik awal untuk bangkit menuju pencerahan.

Makna kata Buddha sendiri adalah “yang telah bangun” atau “yang telah sadar”. Kesadaran lahir bukan karena menutup mata terhadap kenyataan, melainkan karena berani melihat kenyataan apa adanya. Selama seseorang masih hidup dalam penyangkalan, ia sesungguhnya masih tertidur. Kebangkitan selalu dimulai dari keberanian mengakui bahwa ada sesuatu yang perlu diperbaiki.

Pelajaran inilah yang sangat relevan bagi Bali hari ini. Sebelum berbicara tentang solusi, kita harus terlebih dahulu memiliki keberanian moral untuk bertanya: benarkah Bali sedang baik-baik saja?

Jung dan Bayangan yang Enggan Kita Hadapi

Carl Jung pernah mengatakan, “People will do anything, no matter how absurd, in order to avoid facing their own souls.” Manusia rela melakukan apa saja agar tidak perlu menghadapi jiwanya sendiri. Dalam psikologi Jung, setiap orang memiliki shadow atau sisi bayangan yang sering disembunyikan karena tidak nyaman untuk diakui.

Fenomena ini ternyata tidak hanya terjadi pada individu, tetapi juga pada masyarakat. Sebuah bangsa, bahkan sebuah daerah, dapat memiliki collective shadow—bayangan kolektif berupa masalah-masalah yang sengaja diabaikan karena dianggap mengganggu kenyamanan.

Kita lebih senang memamerkan keberhasilan daripada mengakui kelemahan. Kita lebih mudah membuat slogan daripada melakukan evaluasi. Kita lebih suka mengatakan bahwa semuanya berjalan baik daripada menerima kenyataan bahwa ada sesuatu yang mulai menyimpang.

Padahal, sebagaimana dikatakan Jung, justru ketika kita menolak melihat bayangan itulah masalah menjadi semakin besar. Bayangan tidak pernah hilang hanya karena diabaikan. Ia justru tumbuh dalam kegelapan.

Apakah Bali Benar-Benar Baik-Baik Saja?

Bali tetaplah pulau yang luar biasa. Alamnya indah, budayanya kaya, spiritualitasnya menginspirasi dunia. Semua itu layak disyukuri dan dijaga. Namun rasa syukur tidak boleh berubah menjadi penyangkalan terhadap persoalan yang nyata.

Di berbagai tempat, alih fungsi lahan pertanian terus berlangsung. Tekanan terhadap kawasan pesisir dan hutan mangrove memunculkan kekhawatiran banyak pihak. Kemacetan semakin sering terjadi. Persoalan sampah dan air bersih menjadi tantangan yang semakin terasa. Banyak generasi muda menghadapi perubahan sosial yang begitu cepat, sementara nilai-nilai budaya dan spiritual diuji oleh derasnya arus komersialisasi.

Mengatakan bahwa persoalan-persoalan itu ada bukan berarti membenci pembangunan. Sebaliknya, justru karena mencintai Bali, kita merasa perlu mengingatkan ketika arah pembangunan berpotensi mengurangi keseimbangan antara manusia, alam, dan budaya.

Sikap kritis yang berlandaskan data dan kepedulian adalah bentuk cinta yang dewasa. Diam bukan selalu berarti bijaksana. Dalam situasi tertentu, diam justru dapat membuat persoalan semakin sulit diperbaiki.

Kesadaran adalah Awal Revolusi Peradaban

Dalam novelty penelitian saya di Anand Krishna Centre Kuta, saya menemukan Model Integratif Kesadaran, perjalanan manusia adalah proses peningkatan kualitas kesadaran. Pancamaya Kosha menggambarkan lima lapis kesadaran manusia, dari kesadaran fisik sampai kebahagiaan sejati. Tujuh chakra menunjukkan proses transformasi kesadaran. Sementara Peta Kesadaran David R. Hawkins memperlihatkan parameternya, bagaimana manusia bergerak dari rasa takut, marah, dan kesombongan menuju keberanian, cinta, kedamaian, hingga pencerahan. Semua perjalanan itu memiliki satu titik awal yang sama, yaitu kesadaran.

Orang yang sakit baru mencari pengobatan setelah menyadari dirinya sakit. Seorang pecandu baru bisa pulih ketika mengakui kecanduannya. Sebuah masyarakat baru akan melakukan perubahan ketika berani mengakui adanya masalah.

Karena itu, mengakui bahwa Bali menghadapi tantangan bukanlah bentuk pesimisme. Justru itulah optimisme yang sejati. Optimisme bukan berpura-pura bahwa semuanya baik-baik saja, tetapi percaya bahwa masalah dapat diselesaikan apabila dihadapi bersama.

Dalam skala individu, proses ini disebut pertobatan, introspeksi, atau refleksi. Dalam skala masyarakat, proses ini disebut kebangkitan kolektif.

Dari Bersuara Menuju Kebangkitan Bali

Bali tidak membutuhkan masyarakat yang gemar mengeluh tanpa solusi. Namun Bali juga tidak membutuhkan masyarakat yang memilih diam ketika melihat persoalan. Yang dibutuhkan adalah warga yang memiliki keberanian untuk bersuara secara santun, argumentatif, dan bertanggung jawab.

Bersuara bukan berarti memusuhi pemerintah. Bersuara bukan berarti anti-investasi. Bersuara bukan pula menolak pembangunan. Bersuara adalah bentuk partisipasi warga negara dalam menjaga arah pembangunan agar tetap berpijak pada nilai-nilai keadilan, keberlanjutan, dan kelestarian alam dan budaya.

Seorang dokter yang baik tidak akan mengatakan pasiennya sehat apabila hasil pemeriksaan menunjukkan adanya penyakit. Diagnosis memang bisa terasa tidak nyaman, tetapi tanpa diagnosis tidak akan ada terapi. Demikian pula Bali. Mengatakan bahwa ada persoalan bukanlah menyebarkan ketakutan, melainkan membuka pintu bagi penyembuhan.

Buddha mengajarkan bahwa setelah memahami dukkha, manusia harus berjalan di jalan menuju pembebasan. Jung mengajarkan bahwa manusia harus berani menghadapi bayangannya. Kedua ajaran itu bertemu pada satu titik: kesadaran mendahului perubahan.

Maka, kebangkitan Bali harus dimulai dari keberanian melihat kenyataan apa adanya. Kita membutuhkan dialog yang jujur, kritik yang membangun, kolaborasi yang tulus, dan kepemimpinan yang berani mendengar. Pemerintah, investor, akademisi, desa adat, tokoh agama, media, dan masyarakat sipil bukanlah lawan, melainkan mitra dalam menjaga Bali agar tetap menjadi rumah yang layak bagi generasi mendatang.

Jika kita terus berkata bahwa semuanya baik-baik saja, padahal tanda-tanda ketidakseimbangan semakin nyata, kita sedang meninabobokan diri. Namun jika kita berani mengatakan, “Ada yang perlu kita benahi bersama,” maka sesungguhnya kita sedang mengambil langkah pertama menuju kebangkitan.

Sebagaimana seseorang tidak akan pernah mencapai pencerahan tanpa terlebih dahulu menyadari adanya dukkha, Bali pun tidak akan mengalami kebangkitan tanpa keberanian mengakui tantangan yang sedang dihadapinya.

Bangkitlah Bali. Bukan dengan kemarahan, melainkan dengan kesadaran. Bukan dengan kebencian, melainkan dengan cinta. Sebab hanya kesadaran yang mampu mengubah kritik menjadi solusi, kepedulian menjadi gerakan, dan harapan menjadi kenyataan. Itulah makna terdalam dari menjadi “terjaga”—bukan hanya bagi individu, tetapi juga bagi seluruh masyarakat Bali. [T]

Tags: bali
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Membaca Alam yang Tersimpan dalam Serat —Menafsir “Barik” Karya Dr. Sn. Inty Nahari

Next Post

Agung Pramana Hadirkan “After Exotic 1931” di ARTJOG 2026 —Menelisik Jejak Kolonial di Balik Eksotisme Bali

Agung Sudarsa

Agung Sudarsa

Agung Sudarsa, SE, SH, MH adalah Wakil Ketua Prajaniti Hindu Indonesia Provinsi Bali bidang Sosial Budaya, Direktur LBH Manusia Merdeka, jurnalis indonesiaexpose.co.id, dan kandidat doktor di UHN I Gusti Bagus Sugriwa Denpasar dengan disertasi: Inner Peace, Communal Love, Global Harmony: Yoga, Meditasi, dan Visi Anand Krishna tentang One Earth, One Sky, One Humankind

Related Posts

Sastra Terjemahan sebagai Diplomasi Budaya: Mengenang Peran Vern Cork sebagai Penerjemah Sastra Indonesia dari Australia

by I Nyoman Darma Putra
August 8, 2026
0
Sastra Terjemahan sebagai Diplomasi Budaya: Mengenang Peran Vern Cork sebagai Penerjemah Sastra Indonesia dari Australia

SASTRA terjemahan telah lama menjadi salah satu media diplomasi budaya Indonesia. Namun, keberadaannya sebagai bagian dari kegiatan diplomasi budaya yang...

Read moreDetails

Indonesia dalam Secangkir Kopi

by Ahmad Fatoni
August 7, 2026
0
Indonesia dalam Secangkir Kopi

PAGI itu saya duduk di sebuah cafe kecil di pinggiran kota. Tidak ada yang istimewa. Meja kayu yang mulai kusam,...

Read moreDetails

“Gigolo Pendidikan”, Oemar Bakrie, dan Saat Kasih Sayang Guru Menjadi Barang Premium

by Petrus Imam Prawoto Jati
August 7, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

BEBERAPA hari lalu saya iseng melontarkan istilah yang terdengar keterlaluan.  Gigodik, “Gigolo Pendidikan”. Bayangan saya sederhana. Jangan-jangan sekarang ada "profesi"...

Read moreDetails

Bali, Surga dengan Kemacetan Kronis

by Agung Sudarsa
August 6, 2026
0
Bali, Surga dengan Kemacetan Kronis

Dampak Pembangunan Brutal dan Ugal-ugalan, Ledakan Kendaraan Tanpa Jeda, atau Buruknya Transportasi Umum? "Sanur makin macet, namun kenapa fasilitas wisata...

Read moreDetails

Puisi dan Heidegger: Membebaskan Kata dari Cengkeraman Teknokrasi

by Arief Rahzen
August 6, 2026
0
Puisi dan Heidegger: Membebaskan Kata dari Cengkeraman Teknokrasi

COBA hentikan sejenak geseran jempol Anda di atas layar gawai. Di luar sana, dunia hari ini bergerak dalam ritme yang...

Read moreDetails

Menjadi Lebih “Sakti” di Luar Jembrana

by Angga Wijaya
August 6, 2026
0
Menjadi Lebih “Sakti” di Luar Jembrana

KALIMAT itu masih saya ingat dengan jelas. Mendiang Bang D.S. Putra mengucapkannya suatu sore, ketika kami berbincang santai bersama beberapa...

Read moreDetails

Pertemuan Rutin, Agenda Lama: Pilkada Lewat DPRD, Lagi

by Luthfi Hasanal Bolqiah
August 5, 2026
0
Sepiring Nasi, Sekeping Legitimasi

PERTEMUAN itu seharusnya selesai sebagai berita protokoler. Pada Senin, 3 Agustus 2026, jajaran pimpinan MPR datang ke Istana Kepresidenan. Mereka...

Read moreDetails

NOL KILOMETER ̶S̶I̶N̶G̶A̶R̶A̶J̶A̶ BULELENG : Titik Start Berbenah, Bukan Sekadar Bersolek dan Beautifikasi

by Sugi Lanus
August 4, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

ADA banyak sambutan positif dan keceriaan di tengah peresmian tugu Nol Kilometer di depan Kantor Bupati Buleleng. Titik yang dibenahi...

Read moreDetails

Presiden di Dalam Kepala Saya

by Angga Wijaya
August 3, 2026
0
Presiden di Dalam Kepala Saya

"Man is an animal suspended in webs of significance he himself has spun." Manusia adalah makhluk yang bergantung pada jejaring...

Read moreDetails

Korupsi di Indonesia: Persekongkolan Antara Kuasa dan Modal

by Chusmeru
August 3, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

KORUPSI, sebagaimana narkoba dan terorisme bukanlah kejahatan tunggal. Selalu melibatkan orang lain. Korupsi adalah persekongkolan, perselingkuhan, jaringan, dan kongkalikong. Korupsi...

Read moreDetails
Next Post
Agung Pramana Hadirkan “After Exotic 1931” di ARTJOG 2026 —Menelisik Jejak Kolonial di Balik Eksotisme Bali

Agung Pramana Hadirkan “After Exotic 1931” di ARTJOG 2026 ---Menelisik Jejak Kolonial di Balik Eksotisme Bali

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Merawat Kebersamaan Melalui Tradisi ‘Sambelan’
Kuliner

Merawat Kebersamaan Melalui Tradisi ‘Sambelan’

"BU, kulo mung mbekto kuluban godhong kates nggih? Lha ya mung niku sing wonten teng  nggriyo ." (Bu, saya hanya...

by Tri Nugroho Adi
August 9, 2026
Sastra Terjemahan sebagai Diplomasi Budaya: Mengenang Peran Vern Cork sebagai Penerjemah Sastra Indonesia dari Australia
Esai

Sastra Terjemahan sebagai Diplomasi Budaya: Mengenang Peran Vern Cork sebagai Penerjemah Sastra Indonesia dari Australia

SASTRA terjemahan telah lama menjadi salah satu media diplomasi budaya Indonesia. Namun, keberadaannya sebagai bagian dari kegiatan diplomasi budaya yang...

by I Nyoman Darma Putra
August 8, 2026
Sthala Ubud Village Jazz Festival 2026 Resmi Dibuka—Merayakan Jazz yang Benar-Benar Jazz
Khas

Sthala Ubud Village Jazz Festival 2026 Resmi Dibuka—Merayakan Jazz yang Benar-Benar Jazz

“JAZZ itu musik yang meneduhkan, tapi mengajak berpikir,” ujar Gede Diarta, seorang pemuda asal Denpasar yang sehari-hari bekerja sebagai karyawan...

by Dede Putra Wiguna
August 8, 2026
Bhisma yang Tak Pernah Mati di Kurukshetra: Membaca “Satya–Tyagya–Dharma” Karya Prof. Dr. Drs. I Wayan Suardana, M.Sn.
Ulas Rupa

Bhisma yang Tak Pernah Mati di Kurukshetra: Membaca “Satya–Tyagya–Dharma” Karya Prof. Dr. Drs. I Wayan Suardana, M.Sn.

DI Bali, mitos tidak pernah benar-benar menjadi masa lalu. Ia tidak hanya tinggal dalam lembar-lembar lontar atau cerita yang dituturkan...

by Angga Wijaya
August 7, 2026
Sudahi Isme-Ismemu Itu!
Kritik Seni

Sudahi Isme-Ismemu Itu!

ADA satu pertanyaan yang masih menjadi survei teratas ketika publik bertanya tentang karya seorang seniman. Karyamu ini gayanya apa? Abstrak,...

by Made Chandra
August 7, 2026
Indonesia dalam Secangkir Kopi
Esai

Indonesia dalam Secangkir Kopi

PAGI itu saya duduk di sebuah cafe kecil di pinggiran kota. Tidak ada yang istimewa. Meja kayu yang mulai kusam,...

by Ahmad Fatoni
August 7, 2026
Fakultas Bahasa dan Seni, UPMI Bali, Lepas 67 Sarjana dan Magister—‘Jangan Jadi Sarjana Kertas!
Pendidikan

Fakultas Bahasa dan Seni, UPMI Bali, Lepas 67 Sarjana dan Magister—‘Jangan Jadi Sarjana Kertas!

“HARI ini saya tidak sedang melihat sekelompok calon wisudawan. Saya sedang melihat sekumpulan wajah yang menyimpan cerita perjalanan yang berbeda-beda.”...

by Dede Putra Wiguna
August 7, 2026
“Tung Tung Uma”: Ketika Sawah Menjadi Medan Pertaruhan
Ulas Film

“Tung Tung Uma”: Ketika Sawah Menjadi Medan Pertaruhan

ADA satu hal yang langsung terasa begitu duduk menonton Tung Tung Uma, bagaimana Amrita Dharma memetakan setiap adegannya dengan begitu...

by Satria Aditya
August 7, 2026
Pantai Jimbaran dengan Kafe Ikan Bakarnya  
Tualang

Pantai Jimbaran dengan Kafe Ikan Bakarnya  

Sejak dahulu, Jimbaran, Kedonganan, Kelan, dan Kuta adalah daerah nelayan. Namun, yang terkenal hanya Jimbaran dan Kuta. Ketika Asosiasi Kepala...

by I Nyoman Tingkat
August 7, 2026
“Rumah”, Seni Instalasi Ni Nyoman Sani
Ulas Rupa

“Rumah”, Seni Instalasi Ni Nyoman Sani

PADA 10 April hingga 30 Juni 2026 lalu digelar pameran 12 Perupa Perempuan Indonesia. Perhelatan ini diinisiasi Indonesian Women Artists...

by Hartanto
August 7, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

“Gigolo Pendidikan”, Oemar Bakrie, dan Saat Kasih Sayang Guru Menjadi Barang Premium

BEBERAPA hari lalu saya iseng melontarkan istilah yang terdengar keterlaluan.  Gigodik, “Gigolo Pendidikan”. Bayangan saya sederhana. Jangan-jangan sekarang ada "profesi"...

by Petrus Imam Prawoto Jati
August 7, 2026
Usaha Menumbuhkan Sanggar Putri Nyale dan Menata Masa Depan Dramatari Sasak
Khas

Usaha Menumbuhkan Sanggar Putri Nyale dan Menata Masa Depan Dramatari Sasak

DI ruang aula SMAN 4 Praya, Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat, beberapa pemuda-pemudi dari Sanggar Putri Nyale duduk di kursi...

by Jaswanto
August 7, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co