19 July 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Bangkitlah Bali: Kesadaran Selalu Dimulai dari Keberanian Mengakui Kenyataan

Agung Sudarsa by Agung Sudarsa
July 19, 2026
in Esai
Bangkitlah Bali: Kesadaran Selalu Dimulai dari Keberanian Mengakui Kenyataan

“People will do anything, no matter how absurd, in order to avoid facing their own souls.” Manusia rela melakukan apa saja agar tidak perlu menghadapi jiwanya sendiri. Dalam psikologi Jung, setiap orang memiliki shadow atau sisi bayangan yang sering disembunyikan karena tidak nyaman untuk diakui.

Mengakui Dukkha sebagai Awal Kebangkitan

Salah satu ajaran paling revolusioner dari Buddha justru dimulai dari sebuah pengakuan yang sederhana namun sangat berani: hidup mengandung dukkha. Kata dukkha sering diterjemahkan sebagai penderitaan, tetapi maknanya jauh lebih luas. Ia mencakup ketidakpuasan, kegelisahan, ketidakpastian, dan segala bentuk ketidakseimbangan yang melekat pada kehidupan. Buddha tidak berhenti pada diagnosis itu. Beliau tidak mengajak manusia meratapi nasib, melainkan menggunakannya sebagai titik awal untuk bangkit menuju pencerahan.

Makna kata Buddha sendiri adalah “yang telah bangun” atau “yang telah sadar”. Kesadaran lahir bukan karena menutup mata terhadap kenyataan, melainkan karena berani melihat kenyataan apa adanya. Selama seseorang masih hidup dalam penyangkalan, ia sesungguhnya masih tertidur. Kebangkitan selalu dimulai dari keberanian mengakui bahwa ada sesuatu yang perlu diperbaiki.

Pelajaran inilah yang sangat relevan bagi Bali hari ini. Sebelum berbicara tentang solusi, kita harus terlebih dahulu memiliki keberanian moral untuk bertanya: benarkah Bali sedang baik-baik saja?

Jung dan Bayangan yang Enggan Kita Hadapi

Carl Jung pernah mengatakan, “People will do anything, no matter how absurd, in order to avoid facing their own souls.” Manusia rela melakukan apa saja agar tidak perlu menghadapi jiwanya sendiri. Dalam psikologi Jung, setiap orang memiliki shadow atau sisi bayangan yang sering disembunyikan karena tidak nyaman untuk diakui.

Fenomena ini ternyata tidak hanya terjadi pada individu, tetapi juga pada masyarakat. Sebuah bangsa, bahkan sebuah daerah, dapat memiliki collective shadow—bayangan kolektif berupa masalah-masalah yang sengaja diabaikan karena dianggap mengganggu kenyamanan.

Kita lebih senang memamerkan keberhasilan daripada mengakui kelemahan. Kita lebih mudah membuat slogan daripada melakukan evaluasi. Kita lebih suka mengatakan bahwa semuanya berjalan baik daripada menerima kenyataan bahwa ada sesuatu yang mulai menyimpang.

Padahal, sebagaimana dikatakan Jung, justru ketika kita menolak melihat bayangan itulah masalah menjadi semakin besar. Bayangan tidak pernah hilang hanya karena diabaikan. Ia justru tumbuh dalam kegelapan.

Apakah Bali Benar-Benar Baik-Baik Saja?

Bali tetaplah pulau yang luar biasa. Alamnya indah, budayanya kaya, spiritualitasnya menginspirasi dunia. Semua itu layak disyukuri dan dijaga. Namun rasa syukur tidak boleh berubah menjadi penyangkalan terhadap persoalan yang nyata.

Di berbagai tempat, alih fungsi lahan pertanian terus berlangsung. Tekanan terhadap kawasan pesisir dan hutan mangrove memunculkan kekhawatiran banyak pihak. Kemacetan semakin sering terjadi. Persoalan sampah dan air bersih menjadi tantangan yang semakin terasa. Banyak generasi muda menghadapi perubahan sosial yang begitu cepat, sementara nilai-nilai budaya dan spiritual diuji oleh derasnya arus komersialisasi.

Mengatakan bahwa persoalan-persoalan itu ada bukan berarti membenci pembangunan. Sebaliknya, justru karena mencintai Bali, kita merasa perlu mengingatkan ketika arah pembangunan berpotensi mengurangi keseimbangan antara manusia, alam, dan budaya.

Sikap kritis yang berlandaskan data dan kepedulian adalah bentuk cinta yang dewasa. Diam bukan selalu berarti bijaksana. Dalam situasi tertentu, diam justru dapat membuat persoalan semakin sulit diperbaiki.

Kesadaran adalah Awal Revolusi Peradaban

Dalam novelty penelitian saya di Anand Krishna Centre Kuta, saya menemukan Model Integratif Kesadaran, perjalanan manusia adalah proses peningkatan kualitas kesadaran. Pancamaya Kosha menggambarkan lima lapis kesadaran manusia, dari kesadaran fisik sampai kebahagiaan sejati. Tujuh chakra menunjukkan proses transformasi kesadaran. Sementara Peta Kesadaran David R. Hawkins memperlihatkan parameternya, bagaimana manusia bergerak dari rasa takut, marah, dan kesombongan menuju keberanian, cinta, kedamaian, hingga pencerahan. Semua perjalanan itu memiliki satu titik awal yang sama, yaitu kesadaran.

Orang yang sakit baru mencari pengobatan setelah menyadari dirinya sakit. Seorang pecandu baru bisa pulih ketika mengakui kecanduannya. Sebuah masyarakat baru akan melakukan perubahan ketika berani mengakui adanya masalah.

Karena itu, mengakui bahwa Bali menghadapi tantangan bukanlah bentuk pesimisme. Justru itulah optimisme yang sejati. Optimisme bukan berpura-pura bahwa semuanya baik-baik saja, tetapi percaya bahwa masalah dapat diselesaikan apabila dihadapi bersama.

Dalam skala individu, proses ini disebut pertobatan, introspeksi, atau refleksi. Dalam skala masyarakat, proses ini disebut kebangkitan kolektif.

Dari Bersuara Menuju Kebangkitan Bali

Bali tidak membutuhkan masyarakat yang gemar mengeluh tanpa solusi. Namun Bali juga tidak membutuhkan masyarakat yang memilih diam ketika melihat persoalan. Yang dibutuhkan adalah warga yang memiliki keberanian untuk bersuara secara santun, argumentatif, dan bertanggung jawab.

Bersuara bukan berarti memusuhi pemerintah. Bersuara bukan berarti anti-investasi. Bersuara bukan pula menolak pembangunan. Bersuara adalah bentuk partisipasi warga negara dalam menjaga arah pembangunan agar tetap berpijak pada nilai-nilai keadilan, keberlanjutan, dan kelestarian alam dan budaya.

Seorang dokter yang baik tidak akan mengatakan pasiennya sehat apabila hasil pemeriksaan menunjukkan adanya penyakit. Diagnosis memang bisa terasa tidak nyaman, tetapi tanpa diagnosis tidak akan ada terapi. Demikian pula Bali. Mengatakan bahwa ada persoalan bukanlah menyebarkan ketakutan, melainkan membuka pintu bagi penyembuhan.

Buddha mengajarkan bahwa setelah memahami dukkha, manusia harus berjalan di jalan menuju pembebasan. Jung mengajarkan bahwa manusia harus berani menghadapi bayangannya. Kedua ajaran itu bertemu pada satu titik: kesadaran mendahului perubahan.

Maka, kebangkitan Bali harus dimulai dari keberanian melihat kenyataan apa adanya. Kita membutuhkan dialog yang jujur, kritik yang membangun, kolaborasi yang tulus, dan kepemimpinan yang berani mendengar. Pemerintah, investor, akademisi, desa adat, tokoh agama, media, dan masyarakat sipil bukanlah lawan, melainkan mitra dalam menjaga Bali agar tetap menjadi rumah yang layak bagi generasi mendatang.

Jika kita terus berkata bahwa semuanya baik-baik saja, padahal tanda-tanda ketidakseimbangan semakin nyata, kita sedang meninabobokan diri. Namun jika kita berani mengatakan, “Ada yang perlu kita benahi bersama,” maka sesungguhnya kita sedang mengambil langkah pertama menuju kebangkitan.

Sebagaimana seseorang tidak akan pernah mencapai pencerahan tanpa terlebih dahulu menyadari adanya dukkha, Bali pun tidak akan mengalami kebangkitan tanpa keberanian mengakui tantangan yang sedang dihadapinya.

Bangkitlah Bali. Bukan dengan kemarahan, melainkan dengan kesadaran. Bukan dengan kebencian, melainkan dengan cinta. Sebab hanya kesadaran yang mampu mengubah kritik menjadi solusi, kepedulian menjadi gerakan, dan harapan menjadi kenyataan. Itulah makna terdalam dari menjadi “terjaga”—bukan hanya bagi individu, tetapi juga bagi seluruh masyarakat Bali. [T]

Tags: bali
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Membaca Alam yang Tersimpan dalam Serat —Menafsir “Barik” Karya Dr. Sn. Inty Nahari

Next Post

Agung Pramana Hadirkan “After Exotic 1931” di ARTJOG 2026 —Menelisik Jejak Kolonial di Balik Eksotisme Bali

Agung Sudarsa

Agung Sudarsa

Agung Sudarsa, SE, SH, MH adalah Wakil Ketua Prajaniti Hindu Indonesia Provinsi Bali bidang Sosial Budaya, Direktur LBH Manusia Merdeka, jurnalis indonesiaexpose.co.id, dan kandidat doktor di UHN I Gusti Bagus Sugriwa Denpasar dengan disertasi: Inner Peace, Communal Love, Global Harmony: Yoga, Meditasi, dan Visi Anand Krishna tentang One Earth, One Sky, One Humankind

Related Posts

Krisis Baru Abad 21: Ketika Mesin Berpikir, Manusia Berhenti Merenung?

by Hairunnisa Br. Sagala
July 19, 2026
0
Krisis Baru Abad 21: Ketika Mesin Berpikir, Manusia Berhenti Merenung?

KONON, yang membedakan manusia dari makhluk lain bukan semata kemampuan berbicara, melainkan kemampuan merenung. Dari renungan lahir kebijaksanaan. Dari kebijaksanaan...

Read moreDetails

Langsung ke Intinya: Siapa Juara Piala Dunia?

by Nur Inayah Yushar
July 19, 2026
0
Gelar Langit, Gaji Bumi: Gelar Mentereng tapi Dompet Kering, Rahasia Dapur Dosen yang Akhirnya Dibongkar di MK

BAGI kelompok orang yang tidak mengikuti sepak bola, riuh rendah Piala Dunia sering kali terasa seperti latar belakang suara yang...

Read moreDetails

Dari Stres Jadi Rileks: Menjadikan Musik Sebagai Pertolongan Pertama Emosi

by Muhammad Syahrul Wafda
July 19, 2026
0
Mengapa Desain ‘User Interface’ Aplikasi Meditasi Selalu Bernuansa Pastel?

MENGINGAT banyaknya pengguna media sosial saat ini, orang-orang gemar membagikan musik yang mereka dengarkan di platform seperti Instagram, WhatsApp, dan...

Read moreDetails

Kepemimpinan Transformasional sebagai Jantung Kebijakan Publik dan Komunikasi Politik Modern

by Jerry Indrawan
July 16, 2026
0
Mungkinkah Korut Serang AS?

TANTANGAN birokrasi di era disrupsi global saat ini menuntut perubahan fundamental dalam paradigma pengelolaan pemerintahan dan cara pemimpin berinteraksi dengan...

Read moreDetails

Dunia adalah Cermin Kesadaran Manusia

by Agung Sudarsa
July 16, 2026
0
Dunia adalah Cermin Kesadaran Manusia

Kita Melihat Dunia Sebagaimana Diri Kita Mengamati perilaku sang istri selama belasan tahun sebagai guru TK, saya punya ungkapan: Seorang...

Read moreDetails

Satu Bahasa Dua Realitas: Mengapa Roy Suryo dan Jokowi Mustahil Saling Memahami?

by Nur Inayah Yushar
July 16, 2026
0
Gelar Langit, Gaji Bumi: Gelar Mentereng tapi Dompet Kering, Rahasia Dapur Dosen yang Akhirnya Dibongkar di MK

DALAM panggung politik kontemporer Indonesia, perseteruan antara mantan Menteri Pemuda dan Olahraga, Roy Suryo, dan mantan Presiden Joko Widodo (Jokowi)...

Read moreDetails

Korupsi, Kekuasaan dan Keserakahan —Ketika Alam Sedang Bersih-Bersih

by Agung Sudarsa
July 15, 2026
0
Korupsi, Kekuasaan dan Keserakahan —Ketika Alam Sedang Bersih-Bersih

"Power tends to corrupt, and absolute power corrupts absolutely." Kalimat legendaris dari Lord Acton itu kembali terasa relevan ketika bangsa...

Read moreDetails

Dari Sekolah Sepi Menuju Sekolah Rakyat: Pendidikan Bukan Sekadar Transfer Informasi, tetapi Transformasi Kesadaran

by Agung Sudarsa
July 15, 2026
0
Sekolah Rakyat Vs Sekolah Reguler   

Ironi Pendidikan di Tengah Semangat Membangun Masa Depan Berita tentang SDN 6 Bhuana Giri di Bali yang selama empat tahun...

Read moreDetails

Membaca Hiper-Femininitas Melalui Lensa Politik Tubuh di Era Digital

by Surfian Rahmat AP
July 15, 2026
0
Membaca Hiper-Femininitas Melalui Lensa Politik Tubuh di Era Digital

DALAM beberapa tahun terakhir, lanskap media sosial seperti Instagram dan TikTok didominasi oleh proliferasi estetika “baddie”. Secara visual, seorang baddie...

Read moreDetails

Membaca Made Budhiana dari Sebuah Puisi

by Angga Wijaya
July 15, 2026
0
Maestro Made Budhiana Berpulang, Seni Rupa Indonesia Berduka

SAYA tidak mengenal Made Budhiana pertama kali melalui sebuah pameran lukisan. Bukan pula dari buku sejarah seni rupa Bali. Saya...

Read moreDetails
Next Post
Agung Pramana Hadirkan “After Exotic 1931” di ARTJOG 2026 —Menelisik Jejak Kolonial di Balik Eksotisme Bali

Agung Pramana Hadirkan “After Exotic 1931” di ARTJOG 2026 ---Menelisik Jejak Kolonial di Balik Eksotisme Bali

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kacak Kicak dan Pembacaan Akan Sesuatu yang Setengah-Setengah

    23 shares
    Share 23 Tweet 0
  • Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

BNN Kota Denpasar Ajak Murid Baru Tangkal Ancaman Narkoba di Ignite Fest Kesbam 2026
Khas

BNN Kota Denpasar Ajak Murid Baru Tangkal Ancaman Narkoba di Ignite Fest Kesbam 2026

 “Hari ini kalian mungkin berpikir narkoba itu urusan orang lain. Padahal, yang dibutuhkan pengedar hanya satu celah, yaitu rasa penasaran.”...

by Dede Putra Wiguna
July 19, 2026
Ignite Fest 2026, Wajah Baru MPLS di SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar
Khas

Ignite Fest 2026, Wajah Baru MPLS di SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar

SORAK-sorai ratusan murid baru memenuhi Aula SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam). Sesekali tepuk tangan bergemuruh tatkala acara diselingi penampilan...

by Dede Putra Wiguna
July 19, 2026
Mengapa Seniman Bali Kerap Menjadi Jago Kandang?  —Catatan Tentang Keberjarakan, Tradisi, dan Pada Siapa Karya Berbicara
Kritik Seni

Mengapa Seniman Bali Kerap Menjadi Jago Kandang?  —Catatan Tentang Keberjarakan, Tradisi, dan Pada Siapa Karya Berbicara

SEBELUM kalian marah-marah dengan judul tulisan ini, perlu dijelaskan topik ini adalah auto kritik yang aku layangkan pada tiap seniman...

by Made Chandra
July 19, 2026
Setiap Gerakan Punya Cerita  —Ulas Pentas Tari di Undiksha dan Terima Kasih Dua Hari Pengalamannya
Ulas Pentas

Setiap Gerakan Punya Cerita  —Ulas Pentas Tari di Undiksha dan Terima Kasih Dua Hari Pengalamannya

 “Teng! Tong! Teng! Tong! Teng! Tung! Pagi tiba alarm berbunyi...” Itu adalah suara dering alarm saya pukul tiga pagi yang...

by Putu Intan Juliantika
July 19, 2026
Krisis Baru Abad 21: Ketika Mesin Berpikir, Manusia Berhenti Merenung?
Esai

Krisis Baru Abad 21: Ketika Mesin Berpikir, Manusia Berhenti Merenung?

KONON, yang membedakan manusia dari makhluk lain bukan semata kemampuan berbicara, melainkan kemampuan merenung. Dari renungan lahir kebijaksanaan. Dari kebijaksanaan...

by Hairunnisa Br. Sagala
July 19, 2026
Gelar Langit, Gaji Bumi: Gelar Mentereng tapi Dompet Kering, Rahasia Dapur Dosen yang Akhirnya Dibongkar di MK
Esai

Langsung ke Intinya: Siapa Juara Piala Dunia?

BAGI kelompok orang yang tidak mengikuti sepak bola, riuh rendah Piala Dunia sering kali terasa seperti latar belakang suara yang...

by Nur Inayah Yushar
July 19, 2026
The Odyssey (2026): Nolan Gagal Memulangkan Odysseus
Ulas Film

The Odyssey (2026): Nolan Gagal Memulangkan Odysseus

SUDAH tentu, Christopher Nolan bukan sutradara pertama yang mengadaptasi epos Odyssey milik Homer. Kisah itu sudah ada sekitar 2.800 tahun...

by Bayu Wira Handyan
July 19, 2026
Agung Pramana Hadirkan “After Exotic 1931” di ARTJOG 2026 —Menelisik Jejak Kolonial di Balik Eksotisme Bali
Pameran

Agung Pramana Hadirkan “After Exotic 1931” di ARTJOG 2026 —Menelisik Jejak Kolonial di Balik Eksotisme Bali

BALI selama bertahun-tahun dikenal dunia sebagai pulau yang eksotis. Namun, di balik citra itu, tersimpan sejarah panjang tentang bagaimana representasi...

by Dede Putra Wiguna
July 19, 2026
Bangkitlah Bali: Kesadaran Selalu Dimulai dari Keberanian Mengakui Kenyataan
Esai

Bangkitlah Bali: Kesadaran Selalu Dimulai dari Keberanian Mengakui Kenyataan

"People will do anything, no matter how absurd, in order to avoid facing their own souls." Manusia rela melakukan apa...

by Agung Sudarsa
July 19, 2026
Membaca Alam yang Tersimpan dalam Serat —Menafsir “Barik” Karya Dr. Sn. Inty Nahari
Ulas Rupa

Membaca Alam yang Tersimpan dalam Serat —Menafsir “Barik” Karya Dr. Sn. Inty Nahari

ADA kecenderungan menarik dalam perkembangan seni kriya beberapa tahun terakhir. Para perupa tidak lagi hanya berbicara tentang keterampilan mengolah bahan,...

by Angga Wijaya
July 19, 2026
Mengapa Desain ‘User Interface’ Aplikasi Meditasi Selalu Bernuansa Pastel?
Esai

Dari Stres Jadi Rileks: Menjadikan Musik Sebagai Pertolongan Pertama Emosi

MENGINGAT banyaknya pengguna media sosial saat ini, orang-orang gemar membagikan musik yang mereka dengarkan di platform seperti Instagram, WhatsApp, dan...

by Muhammad Syahrul Wafda
July 19, 2026
Lomba Cerpen Festival Seni Bali Jani 2026 Diikuti 172 Peserta, Juri Soroti Orisinalitas Karya di Era AI
Khas

Lomba Cerpen Festival Seni Bali Jani 2026 Diikuti 172 Peserta, Juri Soroti Orisinalitas Karya di Era AI

MINAT masyarakat terhadap dunia sastra kembali menunjukkan geliat yang menggembirakan. Lomba Menulis Cerpen dalam rangka Festival Seni Bali Jani (FSBJ)...

by Nyoman Budarsana
July 18, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co