19 July 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Membaca Alam yang Tersimpan dalam Serat —Menafsir “Barik” Karya Dr. Sn. Inty Nahari

Angga Wijaya by Angga Wijaya
July 19, 2026
in Ulas Rupa
Membaca Alam yang Tersimpan dalam Serat —Menafsir “Barik” Karya Dr. Sn. Inty Nahari

ADA kecenderungan menarik dalam perkembangan seni kriya beberapa tahun terakhir. Para perupa tidak lagi hanya berbicara tentang keterampilan mengolah bahan, tetapi juga berusaha mengembalikan perhatian kita kepada asal-usul material itu sendiri. Bahan tidak lagi diperlakukan sekadar sebagai medium untuk melahirkan bentuk, melainkan sebagai pembawa ingatan, pengetahuan, bahkan cara pandang terhadap kehidupan.

Pembacaan seperti itulah yang muncul ketika membaca karya Barik ciptaan Dr. Sn. Inty Nahari, S.Pd., M.Ds., dosen Magister Terapan Industri Kreatif Fakultas Vokasi Universitas Negeri Surabaya.

Karya yang dipamerkan dalam pameran kriya internasional Becoming: Prakriti–Pustaka–Padma di Agung Rai Museum of Art (ARMA), Ubud, menghadirkan tenun kluwung berbahan serat daun nanas dari kawasan Gunung Kelud. Namun, yang ditawarkan Barik sesungguhnya jauh melampaui persoalan teknik menenun atau eksplorasi material. Karya ini mengajak kita membaca hubungan yang nyaris terlupakan, yakni hubungan manusia dengan alam yang melahirkannya.

Di tengah dunia yang semakin mengagungkan teknologi dan produksi massal, kita terbiasa melihat material sebagai sesuatu yang harus tunduk kepada kehendak manusia. Kayu dipotong agar lurus. Batu dipahat hingga sesuai rancangan. Kain diproduksi agar seluruh permukaannya sama. Standar industri membentuk cara kita memandang keindahan, bahwa semakin seragam, semakin dianggap sempurna.

Pameran kriya internasional Becoming: Prakriti–Pustaka–Padma di Agung Rai Museum of Art (ARMA), Ubud

Barik memilih jalan yang berbeda. Alih-alih menghapus karakter alami serat daun nanas, Inty Nahari justru mempertahankannya. Perbedaan warna, garis-garis kecokelatan, ketebalan serat, hingga tekstur yang muncul selama proses pengolahan menjadi bagian dari bahasa visual karya. Tidak ada usaha menyembunyikan ketidakteraturan. Yang terjadi justru sebaliknya; ketidakteraturan dirayakan sebagai identitas material.

Pilihan artistik ini terasa sederhana, tetapi sesungguhnya menyimpan kritik yang cukup tajam terhadap cara pandang modern. Kita hidup dalam budaya yang selalu ingin menyempurnakan segala sesuatu. Sesuatu yang retak dianggap rusak, yang berbeda dipandang cacat, dan yang tidak sesuai standar, segera disingkirkan.

Padahal alam tidak pernah bekerja dengan logika seperti itu. Tidak ada dua helai daun yang benar-benar sama. Juga, tidak ada dua batang pohon yang tumbuh dengan bentuk identik. Bahkan, bebatuan di dasar sungai pun memiliki permukaan yang berbeda-beda. Alam selalu menghadirkan variasi, dan justru di sanalah letak keindahannya. Barik mengajak kita kembali belajar dari cara alam bekerja.

Sebagai penulis dan jurnalis yang pernah mengenyam studi Antropologi Budaya, saya selalu percaya bahwa benda tidak pernah benar-benar diam. Setiap benda membawa sejarahnya sendiri. Sebilah keris memuat pengetahuan metalurgi, kepercayaan, sekaligus perjalanan sebuah kebudayaan. Gerabah menyimpan cerita tentang tanah, api, dan masyarakat yang menggunakannya. Demikian pula serat daun nanas dalam karya ini.

Ia tidak hanya berasal dari tanaman, ia juga membawa jejak hujan, cahaya matahari, tanah vulkanik Kelud, musim yang berganti, tangan petani yang memanen, hingga tangan perupa yang mengolahnya menjadi tenunan. Serat itu adalah arsip ekologis yang masih hidup. Ia menyimpan perjalanan panjang sebelum akhirnya hadir sebagai karya seni.

Oleh Inty Nahari, dijelaskan bahwa setiap perubahan warna pada serat merupakan bagian dari proses alam yang tidak sepenuhnya dapat dikendalikan manusia. Perbedaan itu bukan kekurangan, melainkan identitas yang perlu dipertahankan. Pandangan tersebut menjadikan material bukan sekadar objek yang dibentuk, tetapi mitra yang ikut menentukan arah penciptaan. Saya kira, di sinilah letak kekuatan Barik. Karya ini tidak berbicara tentang alam sebagai pemandangan yang indah, melainkan berbicara tentang alam sebagai subjek yang mempunyai suaranya sendiri.

Pameran kriya internasional Becoming: Prakriti–Pustaka–Padma di Agung Rai Museum of Art (ARMA), Ubud

Dalam banyak kebudayaan Nusantara, hubungan manusia dengan alam memang tidak pernah dipahami sebagai hubungan penguasaan. Orang Bali mengenal konsep Tri Hita Karana yang menempatkan harmoni dengan lingkungan sebagai salah satu dasar kehidupan. Di berbagai daerah lain, masyarakat adat memiliki aturan mengenai hutan, mata air, atau gunung yang tidak boleh diperlakukan sembarangan. Semua itu lahir dari kesadaran sederhana bahwa manusia tidak hidup sendirian.

Modernitas perlahan mengubah cara pandang tersebut. Hutan menjadi angka produksi, gunung menjadi cadangan tambang, sungai menjadi saluran industri, dan tanah menjadi komoditas. Dalam logika seperti itu, nilai alam ditentukan terutama oleh manfaat ekonominya. Yang tidak menghasilkan keuntungan mudah kehilangan makna. Pilihan Inty Nahari menggunakan serat daun nanas menjadi penting dibaca dalam konteks tersebut.

Selama ini, daun nanas lebih sering dipandang sebagai sisa pertanian. Setelah buah dipanen, daunnya jarang memperoleh perhatian. Melalui Barik, material yang dianggap limbah justru memperoleh kehidupan baru. Ia berubah menjadi medium estetik sekaligus medium refleksi.

Transformasi ini menunjukkan bahwa inovasi tidak selalu berarti menemukan bahan baru. Kadang-kadang inovasi justru lahir dari kemampuan membaca kembali apa yang selama ini kita abaikan. Di tangan seniman, limbah berubah menjadi pengetahuan; yang biasa menjadi luar biasa, dan yang nyaris dibuang menjadi sesuatu yang mengundang perenungan. Di sinilah seni bekerja. Bukan semata menghasilkan benda yang indah, melainkan membuka kemungkinan baru untuk membaca dunia.

Jika diperhatikan lebih lama, kekuatan Barik tidak hanya terletak pada pilihan materialnya, tetapi juga pada cara material itu disusun menjadi bahasa visual. Di sinilah karya Inty Nahari bergerak melampaui fungsi wastra sebagai benda pakai dan memasuki wilayah seni rupa.

Permukaan tenunan itu tidak mengejar komposisi yang simetris. Garis-garis serat bergerak dengan ritme yang berubah-ubah, kadang rapat, kadang renggang, seolah mengikuti cara alam menumbuhkan daun yang tidak pernah benar-benar lurus. Warna-warna alaminya, dari krem pucat hingga cokelat yang lebih pekat, tidak membentuk gradasi yang dirancang secara matematis. Perbedaan itu lahir dari perjalanan material itu sendiri, yakni, dari cahaya matahari yang berbeda, kadar air yang berubah, proses pencucian, hingga waktu pengeringan. Yang kita lihat bukan sekadar hasil akhir, melainkan jejak dari sebuah proses panjang.

Mata tidak diarahkan untuk mencari satu pusat perhatian sebagaimana pada lukisan yang mengandalkan titik fokus. Sebaliknya, pandangan bergerak perlahan menyusuri permukaan tenunan, mengikuti irama yang dibentuk oleh tekstur. Ruang-ruang kosong yang muncul di sela-sela serat tidak terasa sebagai kekurangan komposisi. Ia justru menjadi jeda yang membuat keseluruhan karya memperoleh napas. Dalam pengertian ini, Barik lebih menyerupai lanskap yang terus berubah daripada selembar kain yang telah selesai dikerjakan.

Di titik inilah karya tersebut menemukan kualitas puitisnya. Kita tidak sedang melihat representasi Gunung Kelud atau hamparan kebun nanas. Lanskap itu tidak hadir sebagai gambar, ia hadir sebagai pengalaman material. Cahaya, hujan, tanah vulkanik, panas matahari, dan waktu seolah mengendap menjadi tekstur. Yang ditampilkan bukan bentuk alam, melainkan bekas-bekas kehidupan yang ditinggalkan alam pada setiap helai serat.

 Karya “Barik” 

Cara kerja seperti ini mengingatkan saya pada pandangan antropolog Tim Ingold tentang material. Menurutnya, proses membuat bukanlah tindakan memaksakan bentuk kepada bahan, melainkan mengikuti kecenderungan yang telah dimiliki material itu sendiri. Perajin tidak sepenuhnya mengendalikan kayu, tanah, atau serat. Ia belajar memahami arah geraknya, lalu bekerja bersamanya. Pemikiran tersebut terasa menemukan pantulannya dalam Barik. Inty Nahari tidak memaksa serat daun nanas kehilangan wataknya. Ia justru memberi ruang agar karakter alami material ikut menentukan wajah karya.

Pendekatan semacam ini terasa penting pada masa ketika manusia semakin yakin mampu mengendalikan segala sesuatu. Kita membangun bendungan untuk mengatur sungai, merekayasa benih agar panen lebih cepat, dan mengubah bentang alam demi memenuhi kebutuhan industri. Berbagai kemajuan itu memang membawa manfaat, tetapi juga melahirkan ilusi bahwa manusia adalah penguasa tunggal atas bumi.

Sejarah berkali-kali membuktikan bahwa keyakinan tersebut rapuh. Letusan gunung api, banjir, kekeringan, hingga perubahan iklim mengingatkan bahwa alam selalu memiliki hukumnya sendiri. Manusia dapat mengelola sebagian proses alam, tetapi tidak pernah benar-benar menguasainya.

Kesadaran akan keterbatasan itu justru terasa hadir dalam Barik. Karya ini tidak memuja alam secara romantis, tetapi juga tidak menempatkan manusia sebagai pusat dari segala sesuatu. Yang dibangun adalah hubungan yang lebih setara, hubungan yang lahir dari penghormatan terhadap karakter material dan kesediaan untuk mendengarkan apa yang disampaikan alam.

Tema besar pameran, Becoming, menemukan gaungnya dalam proses penciptaan karya ini. Menjadi, dalam pengertian tersebut, bukanlah bergerak menuju keadaan yang sempurna, melainkan menerima bahwa kehidupan selalu berada dalam perubahan. Serat daun nanas tidak lahir sebagai karya seni. Ia tumbuh sebagai bagian dari tanaman, dipanen, dipisahkan dari daunnya, dicuci, dikeringkan, lalu ditenun. Setelah memasuki ruang pamer, ia kembali mengalami kehidupan baru melalui tatapan dan tafsir setiap pengunjung.

Dengan demikian, karya tidak pernah benar-benar selesai ketika meninggalkan studio. Ia terus hidup di dalam pengalaman orang yang membacanya. Setiap orang mungkin menemukan makna yang berbeda. Ada yang melihat kegigihan tangan perajin, ada pula yang membaca kegelisahan ekologis. Juga, ada pula yang menemukan renungan tentang waktu dan kesabaran. Seluruh kemungkinan itu membuat Barik tetap bergerak. Ia terus menjadi, sebagaimana tema pameran yang menaunginya.

Pada akhirnya, saya melihat Barik bukan sebagai karya yang menawarkan jawaban atas krisis lingkungan, melainkan sebuah undangan untuk mengubah cara memandang dunia. Perubahan besar tidak selalu lahir dari teknologi yang revolusioner atau kebijakan yang ambisius. Sering kali ia dimulai dari perubahan yang jauh lebih sederhana, yakni cara kita memperlakukan benda-benda yang selama ini dianggap biasa.

Di dalam Barik, serat daun nanas tidak lagi diposisikan sebagai sisa pertanian yang kehilangan fungsi. Ia menjadi medium yang mempertemukan tanah, tumbuhan, manusia, dan ingatan. Yang semula dipandang sebagai limbah memperoleh kehidupan baru melalui proses kreatif.

Perubahan itu bukan sekadar perubahan fungsi material, melainkan juga perubahan cara berpikir. Seni, dalam pengertian ini, tidak menciptakan alam baru. Seni mengajari manusia melihat kembali alam yang telah lama berada di hadapannya, tetapi jarang benar-benar diperhatikan.

Pembacaan seperti itu sekaligus mengembalikan martabat seni kriya. Selama bertahun-tahun, kriya sering ditempatkan sebagai wilayah keterampilan tangan, seolah-olah gagasan hanya menjadi milik seni rupa murni. Padahal, karya seperti Barik memperlihatkan bahwa kriya dapat menjadi ruang penelitian material, ruang perjumpaan antara tradisi dan inovasi, sekaligus ruang untuk merumuskan kembali hubungan manusia dengan lingkungannya.

Melalui tenun kluwung dan serat daun nanas, Inty Nahari menunjukkan bahwa pengetahuan tradisional tidak berhenti sebagai warisan masa lalu. Ia tetap hidup karena terus dibaca ulang dan dipertemukan dengan persoalan-persoalan zaman.

Di tengah industri tekstil yang mengejar keseragaman, Barik justru merayakan perbedaan. Setiap helai serat memiliki warna, tekstur, dan arah yang tidak sama. Tidak ada yang dipaksa menjadi identik. Sikap artistik itu terasa sederhana, tetapi menyimpan pelajaran yang relevan bagi kehidupan yang lebih luas. Kebudayaan pun sesungguhnya tumbuh melalui keragaman, bukan keseragaman. Identitas tidak lahir dari upaya menyeragamkan segala sesuatu, melainkan dari kemampuan merawat perbedaan.

Tema Becoming akhirnya menemukan maknanya bukan hanya pada proses penciptaan karya, tetapi juga pada pengalaman kita sebagai pembaca. Kita datang kepada sebuah karya dengan pengetahuan tertentu, lalu pulang dengan kemungkinan pemahaman yang baru. Karya seni yang baik tidak berhenti pada kekaguman visual. Ia bekerja lebih lama di dalam pikiran, mengubah cara kita melihat benda-benda yang selama ini terasa biasa.

Dr. Sn. Inty Nahari, S.Pd., M.Ds., dosen Magister Terapan Industri Kreatif Fakultas Vokasi Universitas Negeri Surabaya | Dok. Pribadi

Sesudah membaca Barik, barangkali kita tidak lagi memandang sehelai kain dengan cara yang sama. Kita mulai menyadari bahwa setiap serat menyimpan perjalanan yang jauh lebih panjang daripada yang tampak di permukaannya. Ada tanah yang pernah dibasahi hujan, ada matahari yang mengeringkannya. Ada tangan yang sabar memisahkan serat demi serat. Juga, ada pengetahuan yang diwariskan tanpa banyak kata. Semua pengalaman itu tidak hilang ketika serat berubah menjadi tenunan. Ia tetap tinggal sebagai ingatan yang melekat pada material.

Barangkali itulah yang ingin diingatkan Inty Nahari melalui karya ini. Alam tidak pernah berhenti menulis kisahnya. Setiap pohon, setiap daun, setiap serat membawa catatan mengenai waktu yang telah dilaluinya. Persoalannya bukan apakah alam masih bercerita, melainkan apakah manusia masih memiliki kesediaan untuk mendengarkannya.

Di tengah dunia yang bergerak semakin cepat, Barik justru mengajarkan nilai yang semakin langka, yakni, kesabaran. Kesabaran untuk mengamati, kesabaran untuk menghargai proses, dan kesabaran untuk menerima bahwa tidak semua keindahan lahir dari sesuatu yang sempurna. Ada kalanya keindahan tumbuh dari bekas-bekas yang ditinggalkan waktu, dari tekstur yang tidak rata, dari warna yang berubah karena perjalanan panjang bersama alam.

Pada akhirnya, mungkin Barik tidak sedang mengajarkan cara menenun. Karya ini mengajarkan cara membaca. Membaca tanah yang melekat pada serat, membaca waktu yang tinggal pada warna, dan membaca alam yang selama ini terlalu sering kita perlakukan sebagai latar belakang kehidupan. Padahal, jauh sebelum manusia menciptakan kebudayaan, alamlah yang terlebih dahulu mengajarkan bagaimana kehidupan dapat ditenun, dengan pelan, tekun, dan penuh penghormatan. [T]

Penulis: Angga Wijaya
Editor: Adnyana Ole

Tags: Museum ARMAMuseum Arma UbudSeni KriyaSeni Rupa
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Dari Stres Jadi Rileks: Menjadikan Musik Sebagai Pertolongan Pertama Emosi

Next Post

Bangkitlah Bali: Kesadaran Selalu Dimulai dari Keberanian Mengakui Kenyataan

Angga Wijaya

Angga Wijaya

Penulis dan jurnalis asal Jembrana, Bali. Aktif menulis esai kebudayaan dan kehidupan urban Bali di berbagai media. Ia juga dikenal sebagai penyair dan telah menulis belasan buku puisi serta buku kumpulan esai.

Related Posts

Kitab yang Ditulis Alam —Membaca “The Sacred Text of Padma” karya Sumino dan Sarah Kasuhardi

by Angga Wijaya
July 15, 2026
0
Kitab yang Ditulis Alam —Membaca “The Sacred Text of Padma” karya Sumino dan Sarah Kasuhardi

TIDAK semua pengetahuan lahir dari buku. Jauh sebelum manusia mengenal aksara, alam telah lebih dahulu menjadi ruang belajar. Pohon mengajarkan...

Read moreDetails

Suardina dan Bahasa Tanah yang Tak Pernah Habis

by Angga Wijaya
July 8, 2026
0
Suardina dan Bahasa Tanah yang Tak Pernah Habis

DI Bale Daja Agung Rai Museum of Art (ARMA), Ubud, aroma tanah bakar seperti masih tertinggal di antara puluhan karya...

Read moreDetails

BARIK: Catatan Mengunjungi Pameran Sparsa Rupa

by Dewa Purwita Sukahet
July 7, 2026
0
BARIK: Catatan Mengunjungi Pameran Sparsa Rupa

“Ring wwang haywa nirāśrayeka gawayen tekeng mahānaśraya” – Niti Sastra SENI rupa kontemporer tidak lagi menekankan pada aspek pemaknaan sebuah...

Read moreDetails

Membongkar Praktik Artistik Pada Puisi Sebatang Kara: Dalam Pameran “Dialog Ferdi dan Opus Sastra”

by Mahesa Putra
July 6, 2026
0
Membongkar Praktik Artistik Pada Puisi Sebatang Kara: Dalam Pameran “Dialog Ferdi dan Opus Sastra”

SEPERTI sajian pada menu makan bergizi, yang ditimbang, ditakar, hingga diukur kepada siapa porsi makan ini layak dihidangkan. Kepada tubuh...

Read moreDetails

Unconditional Love: Cinta Tanpa Syarat

by Hartanto
July 4, 2026
0
Unconditional Love: Cinta Tanpa Syarat

PADA 3 Juli 2026 digelar pameran senirupa yang cukup menarik, pameran senirupa ini, menurut saya, lahir dari keyakinan bahwa seni...

Read moreDetails

Dari Plaju ke Hawkins: Membaca Puisi Dahlia Rasyad Melalui Pendekatan Serial Televisi “Stranger Things” pada Pameran Ferdi

by Mahesa Putra
June 30, 2026
0
Dari Plaju ke Hawkins: Membaca Puisi Dahlia Rasyad Melalui Pendekatan Serial Televisi “Stranger Things” pada Pameran Ferdi

PEMBACA tak perlu mengukur jarak antara Plaju dan Hawkins, apalagi harus repot-repot mencari tahu apa yang hendak dihidangkan di sana,...

Read moreDetails

‘Intermedialitas Dialektis’ —Karya Rupa Putu Fajar Arcana & Cerpen Cindy Wijaya

by Hartanto
June 29, 2026
0
‘Intermedialitas Dialektis’ —Karya Rupa Putu Fajar Arcana & Cerpen Cindy Wijaya

PADA tahun 1999 sampai 2005 saya sempat membantu Bre Redana, mengkurasi karya-karya seni rupa yang berdialog dengan cerpen. Waktu itu,...

Read moreDetails

Fragmen Peristiwa pada Pameran ‘Dialog Ferdi dan Opus Sastra’ Minggu Pertama di Palembang

by Mahesa Putra
June 18, 2026
0
Fragmen Peristiwa pada Pameran ‘Dialog Ferdi dan Opus Sastra’ Minggu Pertama di Palembang

SEJAK pagi langit mendung, angin membuat barisan pohon kelapa di halaman Roemah Tumbuh Kembang menari. Padahal sudah satu minggu ini...

Read moreDetails

Menakar Isi Piring, Meruntuhkan Dinding Sakral  —Narasi Domestik Sebagai Episentrum Perlawanan Politis Perupa Perempuan Bali

by Oka Rusmini
June 15, 2026
0
Menakar Isi Piring, Meruntuhkan Dinding Sakral  —Narasi Domestik Sebagai Episentrum Perlawanan Politis Perupa Perempuan Bali

SEBUAH pertanyaan tidak pernah lahir dari ruang hampa. Di balik kalimat pendek, “What’s for Dinner?” atau “Mau makan malam apa?”,...

Read moreDetails

Karya Rupa Saka Rosanta, Dari Reinkarnasi, Pohon Kasih sampai Avatar Word

by Mas Ruscitadewi
June 13, 2026
0
Karya Rupa Saka Rosanta, Dari Reinkarnasi, Pohon Kasih sampai Avatar Word

Ida Kade Saka Rosanta, yang kerap dipanggil Gus Moyo memamerkan karya rupanya di Rumah Berdaya, jalan Raya Sesetan 280 Denpasar....

Read moreDetails
Next Post
Bangkitlah Bali: Kesadaran Selalu Dimulai dari Keberanian Mengakui Kenyataan

Bangkitlah Bali: Kesadaran Selalu Dimulai dari Keberanian Mengakui Kenyataan

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kacak Kicak dan Pembacaan Akan Sesuatu yang Setengah-Setengah

    23 shares
    Share 23 Tweet 0
  • Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

BNN Kota Denpasar Ajak Murid Baru Tangkal Ancaman Narkoba di Ignite Fest Kesbam 2026
Khas

BNN Kota Denpasar Ajak Murid Baru Tangkal Ancaman Narkoba di Ignite Fest Kesbam 2026

 “Hari ini kalian mungkin berpikir narkoba itu urusan orang lain. Padahal, yang dibutuhkan pengedar hanya satu celah, yaitu rasa penasaran.”...

by Dede Putra Wiguna
July 19, 2026
Ignite Fest 2026, Wajah Baru MPLS di SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar
Khas

Ignite Fest 2026, Wajah Baru MPLS di SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar

SORAK-sorai ratusan murid baru memenuhi Aula SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam). Sesekali tepuk tangan bergemuruh tatkala acara diselingi penampilan...

by Dede Putra Wiguna
July 19, 2026
Mengapa Seniman Bali Kerap Menjadi Jago Kandang?  —Catatan Tentang Keberjarakan, Tradisi, dan Pada Siapa Karya Berbicara
Kritik Seni

Mengapa Seniman Bali Kerap Menjadi Jago Kandang?  —Catatan Tentang Keberjarakan, Tradisi, dan Pada Siapa Karya Berbicara

SEBELUM kalian marah-marah dengan judul tulisan ini, perlu dijelaskan topik ini adalah auto kritik yang aku layangkan pada tiap seniman...

by Made Chandra
July 19, 2026
Setiap Gerakan Punya Cerita  —Ulas Pentas Tari di Undiksha dan Terima Kasih Dua Hari Pengalamannya
Ulas Pentas

Setiap Gerakan Punya Cerita  —Ulas Pentas Tari di Undiksha dan Terima Kasih Dua Hari Pengalamannya

 “Teng! Tong! Teng! Tong! Teng! Tung! Pagi tiba alarm berbunyi...” Itu adalah suara dering alarm saya pukul tiga pagi yang...

by Putu Intan Juliantika
July 19, 2026
Krisis Baru Abad 21: Ketika Mesin Berpikir, Manusia Berhenti Merenung?
Esai

Krisis Baru Abad 21: Ketika Mesin Berpikir, Manusia Berhenti Merenung?

KONON, yang membedakan manusia dari makhluk lain bukan semata kemampuan berbicara, melainkan kemampuan merenung. Dari renungan lahir kebijaksanaan. Dari kebijaksanaan...

by Hairunnisa Br. Sagala
July 19, 2026
Gelar Langit, Gaji Bumi: Gelar Mentereng tapi Dompet Kering, Rahasia Dapur Dosen yang Akhirnya Dibongkar di MK
Esai

Langsung ke Intinya: Siapa Juara Piala Dunia?

BAGI kelompok orang yang tidak mengikuti sepak bola, riuh rendah Piala Dunia sering kali terasa seperti latar belakang suara yang...

by Nur Inayah Yushar
July 19, 2026
The Odyssey (2026): Nolan Gagal Memulangkan Odysseus
Ulas Film

The Odyssey (2026): Nolan Gagal Memulangkan Odysseus

SUDAH tentu, Christopher Nolan bukan sutradara pertama yang mengadaptasi epos Odyssey milik Homer. Kisah itu sudah ada sekitar 2.800 tahun...

by Bayu Wira Handyan
July 19, 2026
Agung Pramana Hadirkan “After Exotic 1931” di ARTJOG 2026 —Menelisik Jejak Kolonial di Balik Eksotisme Bali
Pameran

Agung Pramana Hadirkan “After Exotic 1931” di ARTJOG 2026 —Menelisik Jejak Kolonial di Balik Eksotisme Bali

BALI selama bertahun-tahun dikenal dunia sebagai pulau yang eksotis. Namun, di balik citra itu, tersimpan sejarah panjang tentang bagaimana representasi...

by Dede Putra Wiguna
July 19, 2026
Bangkitlah Bali: Kesadaran Selalu Dimulai dari Keberanian Mengakui Kenyataan
Esai

Bangkitlah Bali: Kesadaran Selalu Dimulai dari Keberanian Mengakui Kenyataan

"People will do anything, no matter how absurd, in order to avoid facing their own souls." Manusia rela melakukan apa...

by Agung Sudarsa
July 19, 2026
Membaca Alam yang Tersimpan dalam Serat —Menafsir “Barik” Karya Dr. Sn. Inty Nahari
Ulas Rupa

Membaca Alam yang Tersimpan dalam Serat —Menafsir “Barik” Karya Dr. Sn. Inty Nahari

ADA kecenderungan menarik dalam perkembangan seni kriya beberapa tahun terakhir. Para perupa tidak lagi hanya berbicara tentang keterampilan mengolah bahan,...

by Angga Wijaya
July 19, 2026
Mengapa Desain ‘User Interface’ Aplikasi Meditasi Selalu Bernuansa Pastel?
Esai

Dari Stres Jadi Rileks: Menjadikan Musik Sebagai Pertolongan Pertama Emosi

MENGINGAT banyaknya pengguna media sosial saat ini, orang-orang gemar membagikan musik yang mereka dengarkan di platform seperti Instagram, WhatsApp, dan...

by Muhammad Syahrul Wafda
July 19, 2026
Lomba Cerpen Festival Seni Bali Jani 2026 Diikuti 172 Peserta, Juri Soroti Orisinalitas Karya di Era AI
Khas

Lomba Cerpen Festival Seni Bali Jani 2026 Diikuti 172 Peserta, Juri Soroti Orisinalitas Karya di Era AI

MINAT masyarakat terhadap dunia sastra kembali menunjukkan geliat yang menggembirakan. Lomba Menulis Cerpen dalam rangka Festival Seni Bali Jani (FSBJ)...

by Nyoman Budarsana
July 18, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co