30 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Dari Stres Jadi Rileks: Menjadikan Musik Sebagai Pertolongan Pertama Emosi

Muhammad Syahrul Wafda by Muhammad Syahrul Wafda
July 19, 2026
in Esai
Mengapa Desain ‘User Interface’ Aplikasi Meditasi Selalu Bernuansa Pastel?

Muhammad Syahrul Wafda

MENGINGAT banyaknya pengguna media sosial saat ini, orang-orang gemar membagikan musik yang mereka dengarkan di platform seperti Instagram, WhatsApp, dan TikTok. Apakah ini sekadar untuk mencari sebuah validasi untuk terlihat menarik dengan membagikan lagu-lagu yang jarang diketahui atau justru cara untuk melepas stres?

Pernahkah Anda mengalami hari yang begitu melelahkan hingga satu-satunya hal yang ingin Anda lakukan hanyalah mendengarkan lagu favorit? Menariknya, kebiasaan sederhana itu lebih dari sekadar pelarian sesaat. Bagi banyak orang, musik menjadi semacam “pertolongan pertama” saat emosi sedang kacau. Baik saat menghadapi beban kerja yang menumpuk, tugas kuliah yang tiada habisnya, hubungan sosial yang rumit, maupun kehidupan yang terasa berjalan terlalu cepat, orang sering kali beralih ke musik sebelum mencari bentuk bantuan lainnya.

Fenomena ini semakin nyata seiring dengan langkah berbagai platform besar seperti Spotify, Apple Music, dan YouTube Music yang menyediakan jutaan lagu serta fitur daftar putar (playlist) yang memungkinkan pengguna mengelompokkan lagu berdasarkan genre atau suasana hati. Hal ini secara jelas menunjukkan adanya pemahaman intuitif bahwa musik memiliki kekuatan untuk mengubah suasana hati seseorang, sebuah proses yang dikenal sebagai regulasi emosi.

Regulasi emosi berkaitan dengan bagaimana seseorang mengenali perasaan yang sedang dialaminya dan menampilkan perilaku yang sesuai dengan situasi yang dihadapi. Proses ini juga mencangkup pengelolaan emosi negatif seperti kesedihan, kemarahan, dan kecemasan. Sedangkan secara emosi positif mencakup kebahagiaan, ketenangan, dan kedamaian (Khamini dkk., 2026).

Musik Penghilang Rasa Stres

Stres merupakan bagian tak terpisahkan dari kehidupan modern. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) bahkan mengakui gangguan kesehatan mental dan stres sebagai salah satu tantangan kesehatan terbesar di abad ke-21. Berbagai faktor mulai dari tekanan akademis, tuntutan pekerjaan, dan kesulitan finansial hingga arus informasi yang tiada henti melalui media sosial membuat orang lebih rentan mengalami kelelahan mental. Ironisnya, tidak semua orang memiliki akses ke layanan konseling atau terapi psikologis. Di sinilah musik hadir sebagai salah satu sarana pelepasan yang paling mudah diakses.

Saat seseorang mendengarkan musik yang disukainya, otak tidak sekadar menangkap suara sebagai rangkaian nada. Musik justru mengaktifkan berbagai sistem saraf otak yang berkaitan dengan emosi, ingatan, perhatian, dan sistem imbalan. Aktivasi ini memicu pelepasan neurotransmiter seperti dopamin, yang sering dikaitkan dengan perasaan senang, kesejahteraan, dan motivasi.

Oleh karena itu, tidak mengherankan jika suasana hati seseorang dapat berubah dalam hitungan menit setelah mendengarkan lagu yang tepat. Temuan ini didukung oleh penelitian yang dilakukan oleh Martina de Witte berjudul “Effects of music interventions on stress-related outcomes: a systematic review and two meta-analyses” yang menyimpulkan bahwa intervensi musik dapat secara efektif mengurangi stres, sehingga membenarkan peningkatan penggunaannya untuk mengatasi masalah ini baik dalam konteks medis maupun kesehatan mental (Witte dkk., 2020).

Variasi Genre Musik Penghilang Stres

Namun, ada sebuah anggapan keliru yang umum terjadi. Banyak orang beranggapan bahwa musik klasik atau melodi instrumental yang menenangkan adalah jenis musik paling efektif untuk meredakan stres.

Kenyataannya, penelitian menunjukkan bahwa efektivitas musik sangat bergantung pada preferensi pribadi. Sebuah lagu yang terasa menenangkan bagi seseorang mungkin tidak memberikan efek yang sama bagi orang lain. Kenangan, pengalaman hidup, budaya, dan bahkan tahapan hidup seseorang turut memengaruhi cara otak merespons suatu lagu. Oleh karena itu, tidak ada satu pun genre musik yang dapat dianggap sebagai “obat universal” bagi semua orang.

Fenomena ini menjelaskan mengapa sebagian orang merasa damai saat mendengarkan musik klasik, sementara yang lain justru menemukan ketenangan lebih besar dalam musik pop, jazz, indie, atau bahkan rock. Selama musik tersebut memberikan rasa aman dan kesejahteraan serta membantu meredakan tekanan emosional tanpa menimbulkan dampak negatif, musik dapat menjadi sarana yang efektif untuk pengaturan emosi.

Musik dan Psikologi Komunikasi

Menariknya, musik juga berfungsi sebagai sarana untuk mengenali diri sendiri. Saat seseorang memilih lagu tertentu ketika sedang merasa sedih, marah, atau kecewa, pada dasarnya ia sedang menjalani proses mengenali emosinya sendiri. Tidak semua orang mampu mengungkapkan perasaan mereka melalui kata-kata. Namun, banyak orang dapat berkata, “Lagu ini benar-benar mencerminkan apa yang saya rasakan.”

Dalam bidang psikologi komunikasi, musik dapat berperan sebagai medium komunikasi intrapersonal, yaitu cara berkomunikasi seseorang dengan dirinya sendiri. Selain itu, musik juga memfasilitasi proses refleksi diri.

Banyak lagu memiliki lirik yang mengajak pendengarnya untuk menemukan makna dalam pengalaman hidup, menerima kehilangan, menumbuhkan harapan baru, atau sekadar mengingat bahwa emosi negatif tidak akan berlangsung selamanya. Dengan demikian, mendengarkan musik sering kali lebih dari sekadar hiburan semata, hal itu merupakan sebuah proses untuk menemukan makna dalam pengalaman hidup.

Kesimpulan

Pada akhirnya, musik mengajarkan kita bahwa pemulihan emosi tidak selalu hadir melalui cara-cara yang rumit. Terkadang, mendengarkan lagu yang tepat selama beberapa menit saja sudah cukup untuk memberi jeda bagi pikiran, membantu hati menerima keadaan, serta mengumpulkan energi untuk kembali menghadapi hidup.

Musik mungkin bukan solusi bagi setiap masalah, namun ia adalah teman setia saat emosi kita berada di titik terendah. Di tengah kehidupan yang serba cepat dan penuh tekanan, kita tidak selalu bisa mengendalikan peristiwa di luar diri kita, tetapi kita bisa memilih bagaimana menyikapinya. Salah satu cara termudah adalah dengan menekan tombol play. Sebab, di balik setiap nada dan lirik, musik tidak hanya ditangkap oleh telinga, melainkan didengar dengan hati. [T]

Tags: musikstress
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Lomba Cerpen Festival Seni Bali Jani 2026 Diikuti 172 Peserta, Juri Soroti Orisinalitas Karya di Era AI

Next Post

Membaca Alam yang Tersimpan dalam Serat —Menafsir “Barik” Karya Dr. Sn. Inty Nahari

Muhammad Syahrul Wafda

Muhammad Syahrul Wafda

Mahasiswa Prodi S2 Komunikasi Penyiaran Islam, Fakultas Dakwah UIN SAIZU Purwokerto, Jawa Tengah

Related Posts

Anak-anak yang Beruntung: Mendengar Cerita Klasik Barat atau Cerita Klasik Timur?

by Teguh Wahyu Pranata,
August 30, 2026
0
Anak-anak yang Beruntung: Mendengar Cerita Klasik Barat atau Cerita Klasik Timur?

SAYA memiliki seorang keponakan perempuan, ia kini memasuki umur 5 tahun. Beberapa bulan terakhir keponakan saya mulai belajar membaca, menggabungkan...

Read moreDetails

Apa yang (Sebaiknya) Kita Bicarakan saat Membicarakan Masa Depan Transportasi Publik di Bali?

by I Nyoman Gede Maha Putra
August 30, 2026
0
Apa yang (Sebaiknya) Kita Bicarakan saat Membicarakan Masa Depan Transportasi Publik di Bali?

KAMI duduk di ruangan auditorium. Di atas panggung, seorang moderator memandu diskusi dengan empat orang narasumber yang secara bergantian memaparkan...

Read moreDetails

Demo Kok Cepat Pulang? Jangan-Jangan Kita Gagal Paham Soal Demonstrasi

by Petrus Imam Prawoto Jati
August 30, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

Ada yang kecewa setelah massa aksi AMPB dari Pati bubar. “Baru juga datang, kok sudah pulang?”  Komentar semacam itu berseliweran...

Read moreDetails

Siapa Membiayai Pangan Kita? ——Membuka Jalan Investasi Syariah ke Sektor Pangan

by Muhammad Farras Hanif
August 29, 2026
0
Siapa Membiayai Pangan Kita? ——Membuka Jalan Investasi Syariah ke Sektor Pangan

MAKANAN sehari-hari yang kita konsumsi tentu tidak hadir begitu saja di atas meja makan kita. Sepiring nasi tidak lahir begitu...

Read moreDetails

Sebelum Bali Dituduh Rasis, Ada Seorang Ibu yang Sedang Makan

by Angga Wijaya
August 29, 2026
0
Telenovela

SEBELUM Bali dituduh rasis, ada seorang ibu yang sedang makan. Kalimat itu mungkin terdengar terlalu sederhana untuk sebuah perkara yang...

Read moreDetails

LEVEL PERDEBATAN DALAM HINDU

by Sugi Lanus
August 29, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

— Sugi Lanus, Catatan Harian 29 Agustus 2026 Hindu mengenal struktur epistemologi yang berjenjang. Artinya apa? Hindu tidak memaksakan satu...

Read moreDetails

Di Bawah Lampu Kerlap-Kerlip: Membaca Fenomena “Coffee Shop” sebagai Teks Budaya

by Tri Nugroho Adi
August 28, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

"Segelas kopi tidak pernah hanya berisi kopi. Di dalamnya terseduh sejarah, identitas, percakapan, bahkan cara manusia memahami dirinya sendiri." MENJELANG...

Read moreDetails

BARONG BRUTUK: Dari Tarian Sakral ke Cerita Bergambar

by I Ketut Suar Adnyana
August 27, 2026
0
BARONG BRUTUK: Dari Tarian Sakral ke Cerita Bergambar

Kebudayaan tidak pernah benar-benar hidup hanya karena diwariskan. Sebuah tradisi akan tetap hidup apabila pengetahuan, nilai, simbol, dan ingatan yang...

Read moreDetails

Destinasi “Detour”: Tren Wisata Alternatif Menyimpang Rute Utama

by Chusmeru
August 27, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

BERWISATA kadang berjalan tidak sesuai dengan yang direncanakan. Di awal perjalanan sudah ditentukan destinasi wisata mana yang akan dikunjungi. Namun...

Read moreDetails

Melampaui Ingatan di Batas-batas Desa ——Catatan dari Karya Agung Ngusaba Desa dan Ngusaba Nini Desa Sibanggede

by Dharma Yuda
August 26, 2026
0
Melampaui Ingatan di Batas-batas Desa ——Catatan dari Karya Agung Ngusaba Desa dan Ngusaba Nini Desa Sibanggede

RANGKAIAN Karya Pedudusan Agung, Ngusaba Desa, dan Ngusaba Nini yang berpusat di Pura Puseh Sibanggede sudah mencapai akhir melalui upacara...

Read moreDetails
Next Post
Membaca Alam yang Tersimpan dalam Serat —Menafsir “Barik” Karya Dr. Sn. Inty Nahari

Membaca Alam yang Tersimpan dalam Serat ---Menafsir "Barik" Karya Dr. Sn. Inty Nahari

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Perkara Anarkis dan Anarkistis
Bahasa

Perkara Anarkis dan Anarkistis

Pernahkah Anda berpikir bahwa kata anarkis dan anarkistis itu sama saja? Walaupun kedua kata anarkis dan anarkistis sudah banyak ditulis,...

by I Made Sudiana
August 30, 2026
Anak-anak yang Beruntung: Mendengar Cerita Klasik Barat atau Cerita Klasik Timur?
Esai

Anak-anak yang Beruntung: Mendengar Cerita Klasik Barat atau Cerita Klasik Timur?

SAYA memiliki seorang keponakan perempuan, ia kini memasuki umur 5 tahun. Beberapa bulan terakhir keponakan saya mulai belajar membaca, menggabungkan...

by Teguh Wahyu Pranata,
August 30, 2026
Surat dari Pulau Seberang | Cerpen Ari Murdimanto
Cerpen

Surat dari Pulau Seberang | Cerpen Ari Murdimanto

Sahabatku, Di tempatku yang baru kini, jauh dari pelukan kabut tebal dan wangi dupa Hyang Dwipa, aku sering duduk terdiam...

by Ari Murdimanto
August 30, 2026
Puisi-puisi Supali Kasim | Air di Daun Talas
Puisi

Puisi-puisi Supali Kasim | Air di Daun Talas

Air di Daun Talas seberapa waktu bertahanair di daun talas dapat menerimakenyataan demi kenyataan tarian anginlantai licin dan tetabuhan riuhtanpa...

by Supali Kasim
August 30, 2026
Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [8]: Ketika AI Ikut Menulis: Kata-kata Tanpa Manusia

SETIAP era memiliki ancamannya masing-masing terhadap proses berpikir yang dalam. Pada masa otoritarianisme, ancamannya adalah sensor. Negara menentukan apa yang...

by Andre Syahreza
August 30, 2026
Apa yang (Sebaiknya) Kita Bicarakan saat Membicarakan Masa Depan Transportasi Publik di Bali?
Esai

Apa yang (Sebaiknya) Kita Bicarakan saat Membicarakan Masa Depan Transportasi Publik di Bali?

KAMI duduk di ruangan auditorium. Di atas panggung, seorang moderator memandu diskusi dengan empat orang narasumber yang secara bergantian memaparkan...

by I Nyoman Gede Maha Putra
August 30, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Demo Kok Cepat Pulang? Jangan-Jangan Kita Gagal Paham Soal Demonstrasi

Ada yang kecewa setelah massa aksi AMPB dari Pati bubar. “Baru juga datang, kok sudah pulang?”  Komentar semacam itu berseliweran...

by Petrus Imam Prawoto Jati
August 30, 2026
Reka Biambara dan Perjalanan Mengenal Kembali Material Sendiri
Pameran

Reka Biambara dan Perjalanan Mengenal Kembali Material Sendiri

SELAMA hampir tiga bulan, sejak awal Juni 2026, empat perupa muda asal Bali yaitu Made Ari, Made Arsana, Reka Biambara...

by Satria Aditya
August 30, 2026
Siapa Membiayai Pangan Kita? ——Membuka Jalan Investasi Syariah ke Sektor Pangan
Esai

Siapa Membiayai Pangan Kita? ——Membuka Jalan Investasi Syariah ke Sektor Pangan

MAKANAN sehari-hari yang kita konsumsi tentu tidak hadir begitu saja di atas meja makan kita. Sepiring nasi tidak lahir begitu...

by Muhammad Farras Hanif
August 29, 2026
Seni Rupa Anomali Cokot dan Putu Fajar Arcana
Ulas Rupa

Seni Rupa Anomali Cokot dan Putu Fajar Arcana

PADA tulisan kali ini, saya ingin menekuni proses kreatif karya rupa Putu Fajar Arcana yang bagi saya cukup menarik. Pasalnya,...

by Hartanto
August 29, 2026
Telenovela
Esai

Sebelum Bali Dituduh Rasis, Ada Seorang Ibu yang Sedang Makan

SEBELUM Bali dituduh rasis, ada seorang ibu yang sedang makan. Kalimat itu mungkin terdengar terlalu sederhana untuk sebuah perkara yang...

by Angga Wijaya
August 29, 2026
Duta Bahasa Provinsi Bali Serahkan Model Pembelajaran Serasi kepada SLB Negeri 2 Denpasar
Pendidikan

Duta Bahasa Provinsi Bali Serahkan Model Pembelajaran Serasi kepada SLB Negeri 2 Denpasar

DENPASAR | TATKALA.CO -- Duta Bahasa Provinsi Bali menyerahkan Model Pembelajaran Serasi (Strategi Berbasis Multimodal bagi Disabilitas Rungu untuk Menyusun...

by Rusdy Ulu
August 29, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co