9 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Dari Stres Jadi Rileks: Menjadikan Musik Sebagai Pertolongan Pertama Emosi

Muhammad Syahrul Wafda by Muhammad Syahrul Wafda
July 19, 2026
in Esai
Mengapa Desain ‘User Interface’ Aplikasi Meditasi Selalu Bernuansa Pastel?

Muhammad Syahrul Wafda

MENGINGAT banyaknya pengguna media sosial saat ini, orang-orang gemar membagikan musik yang mereka dengarkan di platform seperti Instagram, WhatsApp, dan TikTok. Apakah ini sekadar untuk mencari sebuah validasi untuk terlihat menarik dengan membagikan lagu-lagu yang jarang diketahui atau justru cara untuk melepas stres?

Pernahkah Anda mengalami hari yang begitu melelahkan hingga satu-satunya hal yang ingin Anda lakukan hanyalah mendengarkan lagu favorit? Menariknya, kebiasaan sederhana itu lebih dari sekadar pelarian sesaat. Bagi banyak orang, musik menjadi semacam “pertolongan pertama” saat emosi sedang kacau. Baik saat menghadapi beban kerja yang menumpuk, tugas kuliah yang tiada habisnya, hubungan sosial yang rumit, maupun kehidupan yang terasa berjalan terlalu cepat, orang sering kali beralih ke musik sebelum mencari bentuk bantuan lainnya.

Fenomena ini semakin nyata seiring dengan langkah berbagai platform besar seperti Spotify, Apple Music, dan YouTube Music yang menyediakan jutaan lagu serta fitur daftar putar (playlist) yang memungkinkan pengguna mengelompokkan lagu berdasarkan genre atau suasana hati. Hal ini secara jelas menunjukkan adanya pemahaman intuitif bahwa musik memiliki kekuatan untuk mengubah suasana hati seseorang, sebuah proses yang dikenal sebagai regulasi emosi.

Regulasi emosi berkaitan dengan bagaimana seseorang mengenali perasaan yang sedang dialaminya dan menampilkan perilaku yang sesuai dengan situasi yang dihadapi. Proses ini juga mencangkup pengelolaan emosi negatif seperti kesedihan, kemarahan, dan kecemasan. Sedangkan secara emosi positif mencakup kebahagiaan, ketenangan, dan kedamaian (Khamini dkk., 2026).

Musik Penghilang Rasa Stres

Stres merupakan bagian tak terpisahkan dari kehidupan modern. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) bahkan mengakui gangguan kesehatan mental dan stres sebagai salah satu tantangan kesehatan terbesar di abad ke-21. Berbagai faktor mulai dari tekanan akademis, tuntutan pekerjaan, dan kesulitan finansial hingga arus informasi yang tiada henti melalui media sosial membuat orang lebih rentan mengalami kelelahan mental. Ironisnya, tidak semua orang memiliki akses ke layanan konseling atau terapi psikologis. Di sinilah musik hadir sebagai salah satu sarana pelepasan yang paling mudah diakses.

Saat seseorang mendengarkan musik yang disukainya, otak tidak sekadar menangkap suara sebagai rangkaian nada. Musik justru mengaktifkan berbagai sistem saraf otak yang berkaitan dengan emosi, ingatan, perhatian, dan sistem imbalan. Aktivasi ini memicu pelepasan neurotransmiter seperti dopamin, yang sering dikaitkan dengan perasaan senang, kesejahteraan, dan motivasi.

Oleh karena itu, tidak mengherankan jika suasana hati seseorang dapat berubah dalam hitungan menit setelah mendengarkan lagu yang tepat. Temuan ini didukung oleh penelitian yang dilakukan oleh Martina de Witte berjudul “Effects of music interventions on stress-related outcomes: a systematic review and two meta-analyses” yang menyimpulkan bahwa intervensi musik dapat secara efektif mengurangi stres, sehingga membenarkan peningkatan penggunaannya untuk mengatasi masalah ini baik dalam konteks medis maupun kesehatan mental (Witte dkk., 2020).

Variasi Genre Musik Penghilang Stres

Namun, ada sebuah anggapan keliru yang umum terjadi. Banyak orang beranggapan bahwa musik klasik atau melodi instrumental yang menenangkan adalah jenis musik paling efektif untuk meredakan stres.

Kenyataannya, penelitian menunjukkan bahwa efektivitas musik sangat bergantung pada preferensi pribadi. Sebuah lagu yang terasa menenangkan bagi seseorang mungkin tidak memberikan efek yang sama bagi orang lain. Kenangan, pengalaman hidup, budaya, dan bahkan tahapan hidup seseorang turut memengaruhi cara otak merespons suatu lagu. Oleh karena itu, tidak ada satu pun genre musik yang dapat dianggap sebagai “obat universal” bagi semua orang.

Fenomena ini menjelaskan mengapa sebagian orang merasa damai saat mendengarkan musik klasik, sementara yang lain justru menemukan ketenangan lebih besar dalam musik pop, jazz, indie, atau bahkan rock. Selama musik tersebut memberikan rasa aman dan kesejahteraan serta membantu meredakan tekanan emosional tanpa menimbulkan dampak negatif, musik dapat menjadi sarana yang efektif untuk pengaturan emosi.

Musik dan Psikologi Komunikasi

Menariknya, musik juga berfungsi sebagai sarana untuk mengenali diri sendiri. Saat seseorang memilih lagu tertentu ketika sedang merasa sedih, marah, atau kecewa, pada dasarnya ia sedang menjalani proses mengenali emosinya sendiri. Tidak semua orang mampu mengungkapkan perasaan mereka melalui kata-kata. Namun, banyak orang dapat berkata, “Lagu ini benar-benar mencerminkan apa yang saya rasakan.”

Dalam bidang psikologi komunikasi, musik dapat berperan sebagai medium komunikasi intrapersonal, yaitu cara berkomunikasi seseorang dengan dirinya sendiri. Selain itu, musik juga memfasilitasi proses refleksi diri.

Banyak lagu memiliki lirik yang mengajak pendengarnya untuk menemukan makna dalam pengalaman hidup, menerima kehilangan, menumbuhkan harapan baru, atau sekadar mengingat bahwa emosi negatif tidak akan berlangsung selamanya. Dengan demikian, mendengarkan musik sering kali lebih dari sekadar hiburan semata, hal itu merupakan sebuah proses untuk menemukan makna dalam pengalaman hidup.

Kesimpulan

Pada akhirnya, musik mengajarkan kita bahwa pemulihan emosi tidak selalu hadir melalui cara-cara yang rumit. Terkadang, mendengarkan lagu yang tepat selama beberapa menit saja sudah cukup untuk memberi jeda bagi pikiran, membantu hati menerima keadaan, serta mengumpulkan energi untuk kembali menghadapi hidup.

Musik mungkin bukan solusi bagi setiap masalah, namun ia adalah teman setia saat emosi kita berada di titik terendah. Di tengah kehidupan yang serba cepat dan penuh tekanan, kita tidak selalu bisa mengendalikan peristiwa di luar diri kita, tetapi kita bisa memilih bagaimana menyikapinya. Salah satu cara termudah adalah dengan menekan tombol play. Sebab, di balik setiap nada dan lirik, musik tidak hanya ditangkap oleh telinga, melainkan didengar dengan hati. [T]

Tags: musikstress
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Lomba Cerpen Festival Seni Bali Jani 2026 Diikuti 172 Peserta, Juri Soroti Orisinalitas Karya di Era AI

Next Post

Membaca Alam yang Tersimpan dalam Serat —Menafsir “Barik” Karya Dr. Sn. Inty Nahari

Muhammad Syahrul Wafda

Muhammad Syahrul Wafda

Mahasiswa Prodi S2 Komunikasi Penyiaran Islam, Fakultas Dakwah UIN SAIZU Purwokerto, Jawa Tengah

Related Posts

Sastra Terjemahan sebagai Diplomasi Budaya: Mengenang Peran Vern Cork sebagai Penerjemah Sastra Indonesia dari Australia

by I Nyoman Darma Putra
August 8, 2026
0
Sastra Terjemahan sebagai Diplomasi Budaya: Mengenang Peran Vern Cork sebagai Penerjemah Sastra Indonesia dari Australia

SASTRA terjemahan telah lama menjadi salah satu media diplomasi budaya Indonesia. Namun, keberadaannya sebagai bagian dari kegiatan diplomasi budaya yang...

Read moreDetails

Indonesia dalam Secangkir Kopi

by Ahmad Fatoni
August 7, 2026
0
Indonesia dalam Secangkir Kopi

PAGI itu saya duduk di sebuah cafe kecil di pinggiran kota. Tidak ada yang istimewa. Meja kayu yang mulai kusam,...

Read moreDetails

“Gigolo Pendidikan”, Oemar Bakrie, dan Saat Kasih Sayang Guru Menjadi Barang Premium

by Petrus Imam Prawoto Jati
August 7, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

BEBERAPA hari lalu saya iseng melontarkan istilah yang terdengar keterlaluan.  Gigodik, “Gigolo Pendidikan”. Bayangan saya sederhana. Jangan-jangan sekarang ada "profesi"...

Read moreDetails

Bali, Surga dengan Kemacetan Kronis

by Agung Sudarsa
August 6, 2026
0
Bali, Surga dengan Kemacetan Kronis

Dampak Pembangunan Brutal dan Ugal-ugalan, Ledakan Kendaraan Tanpa Jeda, atau Buruknya Transportasi Umum? "Sanur makin macet, namun kenapa fasilitas wisata...

Read moreDetails

Puisi dan Heidegger: Membebaskan Kata dari Cengkeraman Teknokrasi

by Arief Rahzen
August 6, 2026
0
Puisi dan Heidegger: Membebaskan Kata dari Cengkeraman Teknokrasi

COBA hentikan sejenak geseran jempol Anda di atas layar gawai. Di luar sana, dunia hari ini bergerak dalam ritme yang...

Read moreDetails

Menjadi Lebih “Sakti” di Luar Jembrana

by Angga Wijaya
August 6, 2026
0
Menjadi Lebih “Sakti” di Luar Jembrana

KALIMAT itu masih saya ingat dengan jelas. Mendiang Bang D.S. Putra mengucapkannya suatu sore, ketika kami berbincang santai bersama beberapa...

Read moreDetails

Pertemuan Rutin, Agenda Lama: Pilkada Lewat DPRD, Lagi

by Luthfi Hasanal Bolqiah
August 5, 2026
0
Sepiring Nasi, Sekeping Legitimasi

PERTEMUAN itu seharusnya selesai sebagai berita protokoler. Pada Senin, 3 Agustus 2026, jajaran pimpinan MPR datang ke Istana Kepresidenan. Mereka...

Read moreDetails

NOL KILOMETER ̶S̶I̶N̶G̶A̶R̶A̶J̶A̶ BULELENG : Titik Start Berbenah, Bukan Sekadar Bersolek dan Beautifikasi

by Sugi Lanus
August 4, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

ADA banyak sambutan positif dan keceriaan di tengah peresmian tugu Nol Kilometer di depan Kantor Bupati Buleleng. Titik yang dibenahi...

Read moreDetails

Presiden di Dalam Kepala Saya

by Angga Wijaya
August 3, 2026
0
Presiden di Dalam Kepala Saya

"Man is an animal suspended in webs of significance he himself has spun." Manusia adalah makhluk yang bergantung pada jejaring...

Read moreDetails

Korupsi di Indonesia: Persekongkolan Antara Kuasa dan Modal

by Chusmeru
August 3, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

KORUPSI, sebagaimana narkoba dan terorisme bukanlah kejahatan tunggal. Selalu melibatkan orang lain. Korupsi adalah persekongkolan, perselingkuhan, jaringan, dan kongkalikong. Korupsi...

Read moreDetails
Next Post
Membaca Alam yang Tersimpan dalam Serat —Menafsir “Barik” Karya Dr. Sn. Inty Nahari

Membaca Alam yang Tersimpan dalam Serat ---Menafsir "Barik" Karya Dr. Sn. Inty Nahari

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

“Batur Paramanugraha” untuk Dua Desa, “Batur Kawinugraha” untuk Tiga Seniman
Khas

“Batur Paramanugraha” untuk Dua Desa, “Batur Kawinugraha” untuk Tiga Seniman

SEJARAH Desa Adat Batur tidak hanya tercatat melalui peristiwa Rarud Batur 1926, tetapi juga melalui hubungan yang terbangun antara masyarakat...

by Rusdy Ulu
August 9, 2026
Merawat Kebersamaan Melalui Tradisi ‘Sambelan’
Kuliner

Merawat Kebersamaan Melalui Tradisi ‘Sambelan’

"BU, kulo mung mbekto kuluban godhong kates nggih? Lha ya mung niku sing wonten teng  nggriyo ." (Bu, saya hanya...

by Tri Nugroho Adi
August 9, 2026
Sastra Terjemahan sebagai Diplomasi Budaya: Mengenang Peran Vern Cork sebagai Penerjemah Sastra Indonesia dari Australia
Esai

Sastra Terjemahan sebagai Diplomasi Budaya: Mengenang Peran Vern Cork sebagai Penerjemah Sastra Indonesia dari Australia

SASTRA terjemahan telah lama menjadi salah satu media diplomasi budaya Indonesia. Namun, keberadaannya sebagai bagian dari kegiatan diplomasi budaya yang...

by I Nyoman Darma Putra
August 8, 2026
Sthala Ubud Village Jazz Festival 2026 Resmi Dibuka—Merayakan Jazz yang Benar-Benar Jazz
Khas

Sthala Ubud Village Jazz Festival 2026 Resmi Dibuka—Merayakan Jazz yang Benar-Benar Jazz

“JAZZ itu musik yang meneduhkan, tapi mengajak berpikir,” ujar Gede Diarta, seorang pemuda asal Denpasar yang sehari-hari bekerja sebagai karyawan...

by Dede Putra Wiguna
August 8, 2026
Bhisma yang Tak Pernah Mati di Kurukshetra: Membaca “Satya–Tyagya–Dharma” Karya Prof. Dr. Drs. I Wayan Suardana, M.Sn.
Ulas Rupa

Bhisma yang Tak Pernah Mati di Kurukshetra: Membaca “Satya–Tyagya–Dharma” Karya Prof. Dr. Drs. I Wayan Suardana, M.Sn.

DI Bali, mitos tidak pernah benar-benar menjadi masa lalu. Ia tidak hanya tinggal dalam lembar-lembar lontar atau cerita yang dituturkan...

by Angga Wijaya
August 7, 2026
Sudahi Isme-Ismemu Itu!
Kritik Seni

Sudahi Isme-Ismemu Itu!

ADA satu pertanyaan yang masih menjadi survei teratas ketika publik bertanya tentang karya seorang seniman. Karyamu ini gayanya apa? Abstrak,...

by Made Chandra
August 7, 2026
Indonesia dalam Secangkir Kopi
Esai

Indonesia dalam Secangkir Kopi

PAGI itu saya duduk di sebuah cafe kecil di pinggiran kota. Tidak ada yang istimewa. Meja kayu yang mulai kusam,...

by Ahmad Fatoni
August 7, 2026
Fakultas Bahasa dan Seni, UPMI Bali, Lepas 67 Sarjana dan Magister—‘Jangan Jadi Sarjana Kertas!
Pendidikan

Fakultas Bahasa dan Seni, UPMI Bali, Lepas 67 Sarjana dan Magister—‘Jangan Jadi Sarjana Kertas!

“HARI ini saya tidak sedang melihat sekelompok calon wisudawan. Saya sedang melihat sekumpulan wajah yang menyimpan cerita perjalanan yang berbeda-beda.”...

by Dede Putra Wiguna
August 7, 2026
“Tung Tung Uma”: Ketika Sawah Menjadi Medan Pertaruhan
Ulas Film

“Tung Tung Uma”: Ketika Sawah Menjadi Medan Pertaruhan

ADA satu hal yang langsung terasa begitu duduk menonton Tung Tung Uma, bagaimana Amrita Dharma memetakan setiap adegannya dengan begitu...

by Satria Aditya
August 7, 2026
Pantai Jimbaran dengan Kafe Ikan Bakarnya  
Tualang

Pantai Jimbaran dengan Kafe Ikan Bakarnya  

Sejak dahulu, Jimbaran, Kedonganan, Kelan, dan Kuta adalah daerah nelayan. Namun, yang terkenal hanya Jimbaran dan Kuta. Ketika Asosiasi Kepala...

by I Nyoman Tingkat
August 7, 2026
“Rumah”, Seni Instalasi Ni Nyoman Sani
Ulas Rupa

“Rumah”, Seni Instalasi Ni Nyoman Sani

PADA 10 April hingga 30 Juni 2026 lalu digelar pameran 12 Perupa Perempuan Indonesia. Perhelatan ini diinisiasi Indonesian Women Artists...

by Hartanto
August 7, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

“Gigolo Pendidikan”, Oemar Bakrie, dan Saat Kasih Sayang Guru Menjadi Barang Premium

BEBERAPA hari lalu saya iseng melontarkan istilah yang terdengar keterlaluan.  Gigodik, “Gigolo Pendidikan”. Bayangan saya sederhana. Jangan-jangan sekarang ada "profesi"...

by Petrus Imam Prawoto Jati
August 7, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co