2 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Dia Dipa, Dia Barista, Dia Tunarungu: Tetes Kopi Racikan Cerita Hidupnya

Arix Wahyudhi Jana Putra by Arix Wahyudhi Jana Putra
April 17, 2025
in Persona
Dia Dipa, Dia Barista, Dia Tunarungu: Tetes Kopi Racikan Cerita Hidupnya

Dipa sedang meracik kopi | Foto: Arix

DI tepi hilir sungai Tukad Banyuasri—sebuah sungai yang membentang di bagian barat kota Singaraja—terciumlah aroma air payau. Cukup menyengat. Meski begitu, tak surut niat saya untuk jenak di tepi sungai itu, di sebuah tempat yang asri, di bawah rimbun pohon besar.

Tempat ini berada di pinggir kota, di antara gemuruh Jalan Ahmad Yani Singaraja dan riuh Pasar Banyuasri. Saya ke tempat itu hendak minum kopi sembari duduk-duduk, karena seorang teman pernah memberitahu: di tepi sungai itu ada tempat ngopi yang asyik.

Di tempat itu ada gedung cukup besar. PLUT—Pusat Layanan Usaha Terpadu. Dari namanya kita tahu gedung itu milik Pemerintah Kabupaten Buleleng. Di sebelah baratnya ada kolam renang, tempat atlet-atlet renang baku latihan sehari-hari.

Nah, pada bagian tipis dari Gedung PLUT itu terdapat kafe, tempat ngopi—tempat yang ditata cukup apik. Charity Café Coffee Talk, begitu namanya. Ngopi di Charity Coffee, kata seorang teman, kita tak hanya menghirup kopi, melainkan juga menghirup udara ang agak lebih segar dari tempat-tempat lain di kota Singaraja.

Saya datang ke tempat itu bersama Nyoman Suyasa, seorang teman dari Buleleng Social Community (BSC), sebuah lembaga dengan orang-orang yang selalu memiliki gerakan sosial kemanusiaan di Buleleng. Kami duduk di kursi, di kafe itu, di ruang terbuka dengan aroma alam yang masih terasa.

Seorang lelaki menghampiri kami, memberikan selampir daftar menu.  Ia tidak berbicara, hanya menyodorkan daftar menu sembari sedikit tersenyum. Lelaki itu, sebagai penjual, sebagai barista sekaligus juga sebagai pelanan, tampak berbeda, tampak istimewa.

Satu kopi americano saya pesan, tanpa gula. Dan secangkor espresso dipesan oleh Suyasa, teman saya.

“Dia memang berbeda!” kata Suyasa berbisik kepada saya.

Suyasa menggesera sedikit duduknya untuk bisa dekat dengan saya. Ia bicara tentang lelaki itu, barista itu.

Suyasa menjelaskan, barista itu adalah anak binaan dari BSC, yang berarti memang sudah dikenal dengan baik oleh Suyasa.

“Barista itu binaan Eka Tirta, pemilik BSC,” lanjut Suyasa.

Suyasa kemudian menjelaskan, lelaki barista itu bernama Gede Saputra Suandipa. Akrab dipanggil Dipa. Lelaki itu punya rahasia kecil dalam hidupnya. Ia tunarungu. Tapi ia adalah pejuang.

Dipa sedang meracik kopi | Foto: Arix

Tunarungu, sebuah kondisi yang di mata banyak orang sering dianggap sebagai kekurangan yang sangat sulit untuk ditutupi. Namun, bagi Dipa, itu bukan akhir, melainkan awal perjalanan dia menghidupi dirinya lewat kesehariannya yang ditemani wangi kopi. Tempat di areal PLUT itu menjadi saksi bisu perjalanan Dipa untuk meraih masa depan.

Dipa bukanlah nama yang dikenal banyak orang. Ia tak lahir dari cerita gemilang yang sering terpampang di layar ponsel kita. Ia adalah potret nyata dari kegigihan dan usaha seorang anak yang terbungkus dalam keheningan.

Dipa berusia 21 tahun, lulusan Sekolah Luar Biasa (SLB). Seperti kopi yang baru diseduh, mungkin pernah terbesit dalam pikirannya, bahwa hidup terasa pahit. Namun, siapa sangka, pahit itu justru menjadi bahan bakar yang menggerakkan langkahnya.

Akan terdengar aneh dibayangkan, apalagi dilihat, kini Dipa berdiri gagah di balik meja barista, melayani pelanggan dengan senyum sumringahnya sisi paling tipis dari Gedung PLUT Singaraja.

Hening Bukan Berarti Diam

Saya mengajak Dipa ngobrol, Kesan pertama, ia hanya diam, dan saya kebingungan, apa yang harus saya lakukan, apa yang harus aku tanggapi.

Dipa dengan gestur lincahnya kemudian mengajak berbicara tanpa kata. Ia memainkan tangannya untuk memberi isyarat. Dan itulah bahasa dia. Saya tak begitu paham, maka Suyasa kemudian menjadi sukarelawan penerjemah.

Dari bahasa isyarat Dipa mengatakan banyak hal. Misalnya, bagi dia, dunia adalah kanvas kosong yang sering dia tulis tanpa adanya suara. Sejak kecil, ia tumbuh dalam hening, tapi bukan berarti tanpa cerita. Ia belajar memahami dunia dengan caranya sendiri melalui sentuhan, gerakan, dan tatapan.

Walaupun ia sedikit malu setiap berbicara dengan orang lain, tapi niat dia untuk belajar hal baru itulah bekal dia untuk menghadapi kekurangannya. 

Saya tidak ingin diam saja. Dengan konyolnya saya menodongkan gawai untuk bisa berbicara dengannya. Saya menulis di gawai, lalu gawai saya sodorkan agar ia membacanya.

Terlihat konyol. Tapi setidaknya sudah saya temukan celah untuk ngobrol. Saya bertanya, “Bagaimana kamu bisa terpikir untuk menjadi barista kopi?”

Dia hanya tersenyum, tanpa menjawab pertanyaan itu. Saya tanya lagi, “Yang paling sederhana deh, bagaimana cara kamu untuk menjajakan kopimu ini?”

Kedua kalinya saya tidak mendapatkan jawaban.

Namun seorang perempuan, yang berdiri di samping Dipa, yang juga seorang pelayan di kafe itu, menyahut.

“Dia bisa menjajakan kopi itu tanpa sepatah kata pun,” perempuan itu. Namanya Reka. Saya tersenyum, memandang perempuan itu. Rasanya seperti sudah akrab.

“Awalnya memang susah untuk menyuruhnya melayani pelanggan, aku ajari dia perlahan, dan sekarang justru aku yang bisa bahasa isyarat,” kata Reka sedikit tertawa.

Saya (penulis) ngobrol dengan Dipa lewat perantara gawai | Foto: Arix

Dunia tak perlu mendengar suaranya, tetapi dunia perlu tahu bahwa orang seperti dia ada. Di tengah keterbatasannya, Dipa menemukan cara untuk berbicara. Lewat gerakan tangannya, lewat senyum yang tulus, dan gawai yang selalu ia bawa bagaikan buku tulis digital, ia mengungkapkan lebih banyak hal daripada yang bisa dijelaskan lewat suara.

Namun, dunia luar tak selalu ramah. Dipa tahu bagaimana rasanya dilihat hanya sebagai “yang berbeda.” Tapi ia memilih untuk tak menyerah pada pandangan sempit itu. 

Hal-hal yang Menuntunnya

Perjalanan Dipa menuju dunia kopi dimulai dari tangan Eka Tirta, pengelola BSC itu. Ekat melihat potensi di balik keheningan Dipa. Yakin, tidak mudah untuk menjelaskan dan menuntun, tafsirku, mungkin Eka Tirta percaya bahwa setiap individu memiliki ceritanya sendiri untuk diceritakan, tak peduli seberapa sunyi hidup mereka.

Pertanyaan saya tadi justru terjawab oleh Suyasa, teman ngopi saya itu, tentang bagaimana Dipa bisa menjadi barista.

“Dipa itu awalnya berbekal pelatihan pembuatan kopi yang lahir dari kerjasama antara BSC tempat kerja saya dengan UMKM Buleleng,” kata Suyasa.

Tanpa ragu, kata Suyasa, berbekal rasa ingin tahu dan ingin belajar, Dipa mengikuti kegiatan itu.

Belajar dari kegiatan itu, diimbangi dengan ikut sertanya dia di setiap event yang ada di Buleleng, seperti Buleleng UMKM Expo, sampai akhitrnya ia menemukan panggungnya di Charity Cafe.

Dipa belajar bagaimana meracik kopi, memilih biji terbaik, dan menyajikan rasa yang melekat di lidah setiap pelanggan. Di balik meja barista, Dipa bukan hanya seorang pekerja. Ia adalah seorang peramu kopi dengan rasa dan harapan mendapat umpan balik senyuman pelanggan yang menyapanya. 

Setiap kali ia menuang kopi ke dalam cangkir, terlihat polos seolah-olah ia sedang menuangkan kisah hidupnya. Ada ketekunan, dan ada cinta. Ini tidak adil, karena ia bisa mendengar setiap tetes kopi yang jatuh dari mesin kopi itu.

Tapi, meski tak ia dengar, suara tetes kopi yang jatuh dari mesin kopi itu  barangkali jadi refleksi dirinya yang akan berubah jadi tetesan kebahagiaan di tengah dunia luas yang ia ciptakan sendiri.

Dari Senyumnya, Harapan Itu Muncul

Kini, Dipa tak ragu untuk menjalani hari-harinya dengan senyum hasil tempaan hatinya yang tulus itu. Ia menyeduh kopi dengan keuletan yang tak terbatas saat memutar sendok kopi.

Saya kira, saya tidak akan bisa mendapatkan jawaban apapun dari Dipa. Namun saat ingin pulang, dia menodongkan gawainya. Di layar gawai tertulis apa yang hendak dia katakan.

 “Aku ingin membuat coffeshop sendiri suatu saat nanti!” Begitu tulisnya.

Terbayang pelanggan yang datang ke kedai itu nanti, selain menikmati kopi, tetapi juga melihat bagaimana kerja, sebagai kata benda, tidak memandang siapa. Kalimat yang ia berikan itu seketika membuat saya lupa akan pertanyaan-pertanyaan saya yang tidak dijawabnya.

Dari Dipa kita belajar satu hal, bahwa hidup bukan tentang apa yang kita miliki atau apa yang kita dengar, melainkan tentang bagaimana kita memilih untuk melangkah. Setiap orang punya tempat di dunia ini, meski jalan mereka terlihat berbeda. [T]

Reporter/Penulis: Arix Wahyudhi Jana Putra
Editor; Adnyana Ole

Penulis adalah mahasiswa prodi Ilmu Komunikasi STAHN Mpu Kuturan Singaraja yang sedang menjalani Praktik Kerja Lapangan (PKL) di tatkala.co.

  • BACA JUGA:
3 Mahasiswa STAHN Mpu Kuturan: Kuliah, Bisnis Kopi “Mai Nongki”, dan Hadapi Tantangannya
Mahasiswi Undiksha Ajak Disabilitas Lantunkan Gamelan Mulut dan Menari Pendet
Farm Brew & Co, Menikmati Kopi di Tanah Legendanya
Tags: baristakopitunarungu
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

METASTOMATA: Metamorphosis Manifesto Galang Kangin  di Neka Art Museum, Ubud

Next Post

Sredek, Makanan Pokok, dan Bagaimana Ia Nyaris Dilupakan

Arix Wahyudhi Jana Putra

Arix Wahyudhi Jana Putra

Gede Arix Wahyudhi Jana Putra. Mahasiswa prodi Ilmu Komunikasi STAHN Mpu Kuturan Singaraja

Related Posts

Rumah Kata di Jalan Nangka

by Angga Wijaya
July 9, 2026
0
Rumah Kata di Jalan Nangka

SIANG itu, rolling door Pustaka Bali Seni di Jalan Nangka No. 103,  Denpasar, Bali, terbuka lebar. Dari luar, tempat itu...

Read moreDetails

Aubrey Nova dan Muhammad Ardiansyah: Sang Montir Mobil Kerdil

by Jaswanto
June 24, 2026
0
Aubrey Nova dan Muhammad Ardiansyah: Sang Montir Mobil Kerdil

GARA-GARA video di TikTok 2023 silam, Aubrey Nova kini jadi salah seorang seniman―atau sebut saja montir―muda yang lihai dalam memodifikasi...

Read moreDetails

Ketika Veni Calista dan Jesselyn Lauwreen Mengulek Sambal di Ubud Food Festival 2026

by Dede Putra Wiguna
June 2, 2026
0
Ketika Veni Calista dan Jesselyn Lauwreen Mengulek Sambal di Ubud Food Festival 2026

SORE itu, aroma cabai, terasi, dan rempah-rempah perlahan memenuhi Teater Kuliner Ubud Food Festival 2026. Di atas panggung, tak ada...

Read moreDetails

Helianti Hilman, Perempuan Penjaga Kearifan Pangan Nusantara di Panggung Dunia

by Dede Putra Wiguna
May 30, 2026
0
Helianti Hilman, Perempuan Penjaga Kearifan Pangan Nusantara di Panggung Dunia

TANGIS itu pecah di tengah tepuk tangan panjang audiens Ubud Food Festival 2026. Di perhelatan yang selama ini menjadi ruang...

Read moreDetails

Sosok Seniman I Made Kaek, Membangun Jembatan antara Seni Rupa dan Pariwisata Bali

by I Gede Made Surya Darma
May 22, 2026
0
Sosok Seniman I Made Kaek, Membangun Jembatan antara Seni Rupa dan Pariwisata Bali

Nama I Made Kaek bukanlah sosok asing dalam perkembangan seni rupa kontemporer Bali dan Indonesia. Perjalanannya sebagai seniman tumbuh dari...

Read moreDetails

Citra Sasmita, Seniman Indonesia Pertama Meraih Grand Prize Pada Ajang  Kompetisi Sovereign Art Prize 2026

by Nyoman Budarsana
May 20, 2026
0
Citra Sasmita, Seniman Indonesia Pertama Meraih Grand Prize Pada Ajang  Kompetisi Sovereign Art Prize 2026

CITRA  Sasmita, seniman perempuan asal Bali menjadi seniman Indonesia pertama yang  meraih penghargaan utama, Grand Prize Winner, pada ajang seni...

Read moreDetails

Bagus Dedy Permata Putra: Semangat Belajar dan Berkarya dari Tapel Ogoh-ogoh

by Dede Putra Wiguna
May 4, 2026
0
Bagus Dedy Permata Putra: Semangat Belajar dan Berkarya dari Tapel Ogoh-ogoh

DI antara deretan tapel ogoh-ogoh yang dipajang rapi di ruang lomba UPMI Bali, sosok Bagus Dedy Permata Putra (13) tampak...

Read moreDetails

Bersua dengan Tristiana Dewi: Ibu Rumah Tangga, Pengelola Dua Sanggar, dan Pengajar Ekstrakurikuler Tari Bali

by Dede Putra Wiguna
April 27, 2026
0
Bersua dengan Tristiana Dewi: Ibu Rumah Tangga, Pengelola Dua Sanggar, dan Pengajar Ekstrakurikuler Tari Bali

DI sela waktu istirahat Lomba Tari Bali di UPMI Bali, Sabtu (25/4), sosok Putu Dian Tristiana Dewi berdiri mendampingi anak...

Read moreDetails

I Gusti Agung Ratih Krisnandari Putri dan Perpaduan Unik Sosok Perempuan: Dokter, Pengusaha dan Pendidikan

by Made Adnyana Ole
April 21, 2026
0
I Gusti Agung Ratih Krisnandari Putri dan Perpaduan Unik Sosok Perempuan: Dokter, Pengusaha dan Pendidikan

PEREMPUAN muda yang memilih jadi pengusaha di Buleleng barangkali tidak sebanyak laki-laki, namun kehadiran mereka pastilah memberi pengaruh besar pada...

Read moreDetails

I Nyoman Martono, Kreator Ogoh Ogoh ‘Regek Tungek’ yang Karya-karyanya Kerap Viral Tapi Namanya Jarang Disebut

by Made Susanta Dwitanaya
March 26, 2026
0
I Nyoman Martono, Kreator Ogoh Ogoh ‘Regek Tungek’ yang Karya-karyanya Kerap Viral Tapi Namanya Jarang Disebut

NYALUK Sandi Kala (memasuki peralihan dari siang ke malam) di hari Pangrupukan di Desa  Tampaksiring, yang semakin tahun  semakin dikenal...

Read moreDetails
Next Post
Sredek, Makanan Pokok, dan Bagaimana Ia Nyaris Dilupakan

Sredek, Makanan Pokok, dan Bagaimana Ia Nyaris Dilupakan

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran
Tualang

Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran

SEBAGAIMANA Pura Ulun Swi pada umumnya, Pura Ulun Swi Jimbaran adalah Pura Subak dengan status Pura Kahyangan Jagat. Terkesan unik...

by I Nyoman Tingkat
August 2, 2026
Mantra Visual Made Wiradana
Ulas Rupa

Mantra Visual Made Wiradana

PADA tulisan kali ini, saya ingin "menekuni" karya Made Wiradana yang baru saja dipamerkan di Griya Santrian, Sanur, beberapa waktu...

by Hartanto
August 2, 2026
Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village
Ulas Musik

Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village

“Naik-naik ke puncak gunung, tinggi-tinggi sekali.” JIKA pembaca mendaki tangga lagu di platform musik, nihil kita temui musik folk di...

by Mahesa Putra
August 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Saat Lidah Kelu Bicara Cinta, Maka Lahirlah Lagu

"Mengapa sebagian perasaan memilih menjadi musik?" Ada seseorang yang berjam-jam memandangi layar kosong. Ia mampu berbicara kepada banyak orang, tetapi...

by Tri Nugroho Adi
August 2, 2026
Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang
Esai

Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang

CALONARANG merupakan kisah terkenal yang berasal dari wilayah Jawa Timur. Produk yang lahir pada zaman Jawa Kuno ini tersedia dalam...

by IGP Weda Adi Wangsa
August 2, 2026
Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang
Esai

Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang

PAGI belum benar-benar terang ketika seorang perempuan keluar dari pekarangan rumahnya di Denpasar. Di tangannya tergenggam sebuah canang sari, yakni...

by Angga Wijaya
August 2, 2026
Angker Pancer Joged Pingitan, Upaya Menghidupkan Kembali Warisan Sakral Singapadu
Panggung

Angker Pancer Joged Pingitan, Upaya Menghidupkan Kembali Warisan Sakral Singapadu

MALAM merayap pelan di Tempekan Selat, Banjar Apuan, Desa Singapadu, Kecamatan Sukawati, Kabupaten Gianyar. Di catus pata yang biasanya menjadi...

by Nyoman Budarsana
August 2, 2026
Tuhan Yang Maha Puisi
Ulas Buku

Tuhan Yang Maha Puisi

The Ingredients of Easter: Three nails, Two pieces of wood, a crown of thorns, a fair share of lashing, and...

by Heski Dewabrata
August 1, 2026
Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal
Esai

Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal

"Kalau dunia merayakan Hari Kasih Sayang dengan setangkai mawar, Bali telah merayakannya sejak berabad-abad lalu dengan doa, gamelan, dan ketulusan...

by I Wayan Yudana
August 1, 2026
Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya
Esai

Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya

"Sebuah peradaban tidak runtuh karena kekurangan orang pintar. Peradaban runtuh ketika orang-orang pintarnya memilih diam. Ketika ilmu kehilangan keberanian, kekuasaan...

by Agung Sudarsa
August 1, 2026
Scared of Bums Rilis “Berlari”, Soundtrack Enerjik untuk “Pelari Kalcer”
Hiburan

Scared of Bums Rilis “Berlari”, Soundtrack Enerjik untuk “Pelari Kalcer”

ADA masa ketika identitas musik punk begitu lekat dengan citra hidup yang berantakan. Rokok, begadang, alkohol, dan semangat melawan apa...

by Dede Putra Wiguna
August 1, 2026
Tiga Belas Penulis Muda Mempresentasikan Karya di Singaraja Literary Festival ——Dari Sesi Presentasi dan Diskusi Karya Emerging Writers MTN Lab x SLF 2026
Panggung

Tiga Belas Penulis Muda Mempresentasikan Karya di Singaraja Literary Festival ——Dari Sesi Presentasi dan Diskusi Karya Emerging Writers MTN Lab x SLF 2026

PADA hari ketiga Singaraja Literary Festival (SLF) 2026, Minggu, 5 Juli 2026, di Kawasan Museum Buleleng, tiga belas penulis muda...

by Dede Putra Wiguna
August 1, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co