23 June 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Farm Brew & Co, Menikmati Kopi di Tanah Legendanya

I Wayan Artika by I Wayan Artika
December 20, 2024
in Esai
Farm Brew & Co, Menikmati Kopi di Tanah Legendanya

Farm Brew & Co, Menikmati Kopi di Tanah Legendanya

Kopi Jawa dan Kopi Bali: Dimensi Sejarah, Kultural, dan Ekonomi

Sebagai kecamatan, wilayah Pupuan di Tabanan, subur karena Gunung Batukaru menyediakan humus dan hujan akan melarutkannya ke hulu sungai-sungai yang mengalir di dataran landai menuju Samudera Hindia di Selatan. Gunung Batukaru sendiri adalah dinding di sebelah barat agak ke selatan dari Danau Tamblingan di wilayah Kabupaten Buleleng.

Potensi ini kemudian pada awalnya menyumbang tradisi subak. Semenjak lampau hingga sekarang raja-raja Bali yang membangun puri di Tabanan mengayomi wilayah ini. Karena subur maka migrasi-migrasi lokal kuno pun terjadi. Kelompok-kelompok ksatria dari Bali dataran di sekitar Tabanan, Kaba Kaba, Samsam, pergi bermukim ke wilayah-wilayah yang luas di Kecamatan Pupuan. Di kecamatan ini pada mulanya dibangun persawahan untuk menopang kehidupan dan berbagai upacara adat.

Desa Pupuan di mana adalah persimpangan tiga kabupaten yaitu Buleleng, Negara, dan Tabanan, dipilih menjadi ibu kota kecamatan. Pemukiman yang multikultur, orang-orang Cina datang di awal abad pertama Masehi, demikian pula halnya orang-orang muslim dari Madura dan Jawa bermukim di sekitar terminal atau stanplat Pupuan.

Perkebunan kopi dibawa oleh penjajah Belanda sejalan dengan popularitas komoditas ini di Pulau Bali. Sejak itu ada dua sumber kehidupan atau ekonomi masyarakat di kecamatan Pupuan yaitu pertanian padi dan perkebunan kopi. Masih tersedia lahan yang tidak bisa digunakan untuk subak. Di sinilah lahan bagi tanaman kopi.

Secara ekonomi pertanian, Kecamatan Pupuan sangat tangguh karena memiliki komoditas padi dan kopi (komoditas dunia). Kehadiran perkebunan kopi memberi kesejahteraan yang sangat berarti bagi masyarakat setempat. Perkebunan kopi juga menunjukkan strata ekonomi. Ada kelompok-kelompok masyarakat yang kaya, dengan perkebunan puluhan hektar dan mempekerjakan ratusan buruh. Pada musim panen perkebunan kopi Pupuan menyerap tenaga kerja musiman dari Gianyar, Klungkung, Karangasem, serta dari desa-desa di pinggiran Tabanan.

Perkebunan kopi adalah sebuah legenda ekonomi di kecamatan Pupuan. Masyarakat menjalani berbagai aktivitas hidup di tengah-tengah alam perkebunan. Siapapun di Pupuan tahu tentang kopi.  Di daerah ini ditanam dua jenis kopi dengan istilah lokalnya adalah kopi jawa (robusta) dan kopi bali (doriah godeg, arabika).

Kopi jawa adalah kopi yang pohonnya sangat besar dan tinggi menjulang, buahnya sedikit bulat dengan kulit yang lebih tebal.  Sementara kopi bali kopi yang lebih ramping, lembut (rantingnya lentur), buahnya lonjong besar dan kulitnya sangat tipis. Karena ranting kopi bali tidak sebanyak kopi jawa maka popularitas kopi bali berada di bawah kopi jawa.

Kopi jawa tumbuh terus-menerus sepanjang tahun dan termasuk tanaman berumur panjang.  Karena usianya yang sudah sangat tua mencapai hampir mendekati satu abad, pokok-pokok utama kopi ini sangat besar, mencapai diameter kurang lebih sekitar 80 cm. Para petani biasanya harus bekerja keras untuk memetik kopi dengan cara memanjat dan melenturkan ranting-ranting yang sangat tinggi.  

Karena rimbunnya tanaman kopi ini, rantingnya yang sangat tinggi dan berdaun lebat, maka memasuki perkebunan kopi seperti masuk ke dalam ruang yang gelap. Sinar matahi tidak sampai menembus. Perkebunan kopi tradisional yang sedemikin itu (kini sudah tidak ada lagi di Kecamatan Pupuan) dinaungi oleh tanaman penau atau inang dari pohon dapdap berduri atau dapdap oong. Hasil sampingan dari kebun kopi adalah kayu bakar yang sangat tinggi mutunya. Kayu bakar diperoleh dari ranting-ranting atau dahan pohon kopi tua yang sudah tidak produktif.

Kopi bubuk dalam kemasan di Pupuan | Foto: Artika

Komoditas kopi yang dihasilkan oleh perkebunan kopi di kecamatan Pupuan telah menjadi sumber pendapatan ekonomi yang sangat penting bagi masyarakat. Di sini kopi adalah semacam alat pembayaran dan investasi.

Ketika uang belum banyak dikenal maka kopi adalah alat tukar. Kopi bisa dipakai untuk berbelanja beras, ditukar dengan garam, digunakan untuk membeli sawah atau kebun. Kopi juga sebagai alat simpan-pinjam. Ekonomi kopi mengantarkan transformasi sosial di kecamatan Pupuan. Anak-anak petani era 70-an dan 80-an banyak yang bersekolah/kuliah menengah di Tabanan atau Denpasar bahkan di Yogjakarta (Jawa Tengah) atau Malang (Jawa Timur)  dengan mengandalkan hasil perkebunan kopi. Mereka kinitelah menjadi dokter, arsitek, dan guru.

Tiada berlebihan menyebut itu sebagai sebuah legenda perkebunan kopi. Komoditas ini pun melahirkan tradisi minum kopi. Sayang sekali kecamatan ini tidak memiliki tradisi-tradisi minum kopi di warung-warung,  seperti di Gayo, Lampung, Flores dan lain sebagainya. Minum kopi dilakukan di rumah-rumah. Bubuk kopi siap seduh diolah sendiri dari kopi yang masih baru dipetik hingga diolah menjadi biji yang siap di-sangrai atau di-roasting dan pada akhirnya siap seduh. Kopi sebagai minuman sehari-hari sedemikian populer. Minum kopi adalah rutinitas pagi untuk mengusir dingin sambil menikmati hangat di depan paon atau tungku (Novel iIncest, I Wayan Artika, 2008).

Sehabis makan adalah waktu yang tepat minum kopi. Pada saat rehat sejenak dari kerja, minum kopi lagi. Demikian seterusnya. Suguhan satu-satunya bagi tamu adalah segelas kopi panas. Kalau dihitung, setiap orang di kecamatan Pupuan minum kopi kurang lebih 5-8 kali sehari. Minum kopi bagi siapapun, orang tua, perempuan, dan bahkan anak-anak.

Sebagai petani kopi masyarakat Pupuan bekerja di kebun dari menanam, memelihara dan  menjaga hingga panen. Setelah itu mereka melepas biji-biji kopi terbaiknya kepada tengkulak. Mereka tidak tahu untuk apa kopi yang mereka hasilkan. Mereka tidak bisa menghirup aroma kopi di kedai-kedai di ruang tunggu bandara internasional, di mall-mall mewah, dan hotel-hotel. Mereka tentu tidak tahu bagaimana kopi dinikmati dan dipuja di kedai-kedai itu atau di coffee shop elite di mana minum kopi adalah sebuah gaya hidup modern yang berkelas. Sebagai petani kopi, tugas mereka sampaipada menghasilkan biji kopi terbaik sehingga laku dijual di pasar.

Marginalisasi dan Revolusi Hijau

Dalam sejarahnya yang panjang kopi Pupuan memang tidak luput dari marginalisasi walaupun sudah jelas kopi memberikan dukungan ekonomi yang tidak bisa diragukan lagi. Ketika komoditas cengkeh muncul orang-orang di Pupuan pun mulai mengurangi (atau bahkan menebang) tanaman kopi dengan menyelingi cengkeh. Demikian pula halnya ketika vanili menjadi primadona sekitar tahun 80-an.  Untuk kedua kalinya tanaman kopi harus berbagi lahan dengan tanaman vanili atau cengkeh. Vanili memang tidak bertahan lama.

Cengkeh tumbuh terlalu tinggi, menyulitkan saat dipanen, dan iklim yang sangat dingin ternyata tidak cocok. Vanili tidak bisa bertahan lama karena terserang hama busuk batang. Akhirnya lagi-lagi para petani kembali kepada legenda itu perkebunan kopi (sebutan tradisionalnya, I Yayu Congkeh). Kalau vanili masih lebih toleran terhadap lahan karena bisa ditanam dengan sistem tumpang sari dan kopi masih tetap bisa dipertahankan. Tetapi, cengkeh adalah tanaman besar yang membutuhkan lahan banyak dan karena itu tanaman kopi harus dikorbankan.

Sudah menjadi cerita lama, beberapa kali tanaman kopi dirombak, diganti cengkeh atau diganti vanili lalu kembali lagi ke kopi. Singkat kata, singkat cerita, legenda kopi Pupuan tetap bertahan.

Sejak 25 atau 30 tahun yang lalu, revolusi hijau merambah pula perkebunan kopi.   Hal ini akan mengubah pola pikir petani. Mereka mulai tergiur untuk melipatgandakan produksi atau hasil panen. Mereka berharap setiap tahun hasil melimpah padahal secara organik tidak setiap tahun panen kopi itu meningkat. Ada irama yang ditentukan oleh daya tanaman serta iklim.

Kafe Farm Brew & Co | Foto: Artika

Sebagai tanaman yang bernilai ekonomi tinggi, kopi sudah sangat baik; tidak sekali berbunga, misalnya. Kopi di perkebunan berbunga setidaknya dua atau bisa pula tiga kali setahun. Ini semua untuk mengantisipasi jika benih-benih bakal buah kopi (biik) gagal pada periode berbunga pertama sekitar bulan Januari dan Februari karena busuk oleh sayong yang terlalu kejam atau terbakar oleh sengatan matahari. Maka ia akan berbunga lagi pada sekitar bulan Maret atau April. Lalu inilah harapan terakhir karena akan matang mulai bulan Agustus hingga September. Jika ini gagal maka dalam bulan-bulan yang mendesak kopi akan berbunga lagi menjelang Agustus tetapi ini sangat jarang terjadi.

Karena keinginan untuk melipatgandakan hasil kini kopi jawa Pupuan yang sekali tanam dan berkelanjutan, demikian pula halnya dengan kopi bali (doriah godeg), telah tamat riwayatnya.  Perkebunan kopi di Pupuan tidak lagi rimbun legam seperti 25 atau 30 tahun yang lalu. Pohon-pohon dapdap berduri yang tinggi tidak ada lagi karena digantikan oleh gamal atau kaliandra yang tumbuh tidak terkendali.

Pohon-pohon kopi yang menjulang tinggi dengan ranting-ranting serta pokok-pokok yang besar diganti dengan kopi top atau stek. Pohon kopi top tidak berumur panjang. Dari awal ditanam membutuhkan waktu empat tahun untuk panen pertama. Setelah itu akan mencapai masa puncak pada tahun ketujuh atau kedelapan. Setelah itu mati perlahan yang diawali dengan pertumbuhan daun keriting kekuning-kuningan. Maka bibit baru harus disiapkan untuk meremajakan kebun secara total.

Siklus di kebun kopi berulang. Perkebunan kopi tidak menghasilkan selama kurang lebih empat atau lima tahun sejak tanam. Selama periode itu itu petani kopi harus melakukan penyambungan dengan harapan hasilnya melimpah, dipilihlah mata sambung yang unggul, seperti varietas tugu sari. Cara bertani kopi seperti ini adalah baru tetapi ini dipilih bersama karena dianggap lebih produktif dan lebih menjanjikan.

Demikianlah walaupun didera oleh marginalisasi karena terdesak komoditas baru seperti vanili dan cengkeh di masa lalu, pohon-pohon kopi di perkebunan tetap abadi.  

Erupsi Gunung Agung, Buruh Musiman, Pesta Desa

Ketika Gunung Agung meletus (1963), perkebunan kopi di Pupuan pada awalnya menjadi tujuan pengungsian lalu mereka di sini bermukim, menjadi tenaga buruh perkebunan kopi. Sampai pada generai kedua atau ketiga, mereka sudah sukses.

Catatan lain tentang perkebunan kopi, kecamatan Pupuan dan beberapa desa dengan perkebunan kopi di bagian atas arah selatan Kecamatan Busungbiu (Buleleng), pernah menjadi tujuan bekerja orang-orang dari Gianyar, Tabanan, Klungkung, dam Karangasem. Mereka pergi ke kecamatan Pupuan ketika musim kopi. Hal ini bertahan hingga pariwisata maju pesat di Bali. Karena pariwisata Bali menjanjikan kehidupan baru, sejak itu tidak lagi kerja musiman di kebun-kebun kopi menjadi pilihan.

Cerita lain kopi Pupuan adalah masih berkaitan dengan ekonomi. Pada setiap musim kopi adalah masa yang menggembirakan tidak hanya bagi petani tetapi juga bagi pedagang-pedagang di kota Kecamatan Pupuan. Mereka yakin bahwa dagangannya akan laku berlipat banyak pada musim kopi. Di samping itu, musim kopi juga menjadi arena keramaian di setiap desa dengan menanggap drama gong, beberapa kali selama musim kopi. Secara bergiliran desa-desa di kecamatan Pupuan akan menyelenggarakan pertunjukan drama gong. Ini bukan hanya pertunjukan drama tradisional tetapi juga arena keramaian atau pasar malam. Di sinilah orang-orang Pupuan membelanjakan uangnya.

Ketika musim kopi gagal atau harga kopi merosot tajam, tidak hanya para petani kopi yang sedih. Para pedagang Jawa, Cina, dan Madura di kecamatan Pupuan yang membangun toko-toko mereka di stanplat juga bersedih.

Farm Brew & Co Menawar Ironi

Setelah biji-biji kopi itu beralih dari tangan petani ke pasar lewat tengkulak atau toke (tauke) maka kopi akan masuk ke sentra-sentra pengolahan. Salah satunya adalah ke kedai kopi. Soal kedai, industri menikmati seduhan kopi, Pupuan adalah sebuah ironi. Di sini tidak ada kedai-kedai kopi modern padahal kecamatan ini menjadi lintasan yang sangat ramai.

Tentu menikmati kopi di kebunnya adalah sensasional, penuh makna, dan kaya cerita.  Namun rupanya hal itu sedikit tertawar dengan berdirinya Farm Brew & Co pada tahun 2022. Konsepnya sangat memanjakan para penikmat dan pecinta kopi, ”fresh from the farm”. Kafe ini terletak di tepi jalan jurusan Antosari Pupuan, salah satu jalan provinsi yang menghubungkan Bali selatan dan Bali utara, tepatnya di depan Vihara Dharma Giri. Bean yang disajikan adalah arabika Pupuan dari perkebunan dan di-roasting dengan teknologi pengolahan kopi berstandar internasional di kaki Gunung Batukaru. Jadi, ”fresh from the farm” bukan omong kosong.

Harga untuk berbagai jenis racikan kopi yang ditawarkan terbilang sangat terjangkau. Hal ini tentu bukan tanpa pertimbangan. Tetapi pasti bukan karena soal ”harga” yang harus dibayar. Hal ini tampaknya keinginan Farm Brew & Co dalam rangka menghadiahkan tradisi minum kopi modern kepada masyarakat petani di Pupuan yang telah mendedikasikan seluruh hidupnya bagi kopi.

Logo Farm Brew & Co | Foto: Artika

Farm Brew & Co seperti hendak menegaskan bahwa ketika minum kopi adalah sebuah gaya hidup modern yang mewah maka petani kopi dan keluarganya pun berhak mencicipinya. Karena itu, mereka tidak pernah putus hubungan dengan buah kerja kerasnya di perkebunan kopi, di bawah sayong atau terik Batukaru.   

Tentu karena masih baru, masyarakat lokal tampaknya belum melirik tempat ini. Mungkin dianggap tidak nyaman atau hal ini terjadi karena memang masyarakat di Pupuan tidak memiliki tradisi minum kopi di warung seperti di Gayo, di Medan, atau di Sumatera pada umumnya. Tradisi minum kopi (walaupun orang Pupuan minum kopi antara 5 sampai 8 kali sehari) terjadi di rumah-rumah. Kopi disiapkan dari biji dari roasting (di-nyahnyah) hingga ditumbuk (seperti di Wai Rebo) hingga nyeduh dilakukan sendiri. Siapapun di Pupuan bisa menyiapkan kopinya dengan sangat baik.

Walaupun tradisi menikmati kopi di kedai  tidak ada di Pupuan namun apa salahnya menikmati kopi yang ditawarkan dengan kemurahan dan apreasiasi dari Farm Brew & Co, sebagai sebuah pengalaman baru. Ini perlu dicoba oleh masyarakat Pupuan sendiri untuk menikmati kopi di tanah leluhurnya, untuk menikmati kopi di tanah legendanya. [T]

BACA esai-esai lain dari penulis I WAYAN ARTIKA

Made Darsana, Kopi, Hutan, dan Ekonomi Berkelanjutan: Inspirasi dari Desa Wanagiri
Kopi dan Pemandangan Alam, Kopi dan Kelestarian Alam
Perempuan-Perempuan Pemetik Kopi di Desa Pegayaman
Wayan Sudiarta dan Kopi Rempah Jiro di Sela Dingin Jatiluwuh
Heritage Coffee Farm & Roastery: Usaha Melestarikan Sejarah dan Menumbuhkan Ekosistem Kopi di Bali Utara
Tags: Desa PupuanKecamatan Pupuankopikopi balikopi pupuantabanan
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

”Ngeceng”, Tradisi Lisan Humor Betawi — [Bagian 2]: Hubungan Kocak, Humor dan ”Ngeceng”

Next Post

“Fisik Bisa Dirubah”: Fenomena Kata-Kata Viral yang Salah Kaprah

I Wayan Artika

I Wayan Artika

Dr. I Wayan Artika, S.Pd., M.Hum. | Doktor pengajar di Fakultas Bahasa dan Seni, Undiksha Singaraja. Penulis novel, cerpen dan esai. Tulisannya dimuat di berbagai media dan jurnal

Related Posts

Penyair Bali Bukan Penyair Lomba

by Angga Wijaya
June 23, 2026
0
Penyair Bali Bukan Penyair Lomba

TULISAN pendek Tan Lioe Ie tentang Kusala menarik bukan semata karena membicarakan penghargaan sastra, tetapi karena menyentuh persoalan yang lebih...

Read moreDetails

Perluasan Basis Pajak sebagai Strategi Ketahanan Fiskal di Tengah Dinamika Global

by Vito Prasetyo
June 22, 2026
0
Perluasan Basis Pajak sebagai Strategi Ketahanan Fiskal di Tengah Dinamika Global

Di tengah ketidakpastian ekonomi global, mulai dari konflik geopolitik, perlambatan perdagangan internasional, hingga disrupsi teknologi yang mengubah pola bisnis, negara...

Read moreDetails

Titik Nol, Titik Awal Singaraja —Membangun Kota, Memuliakan Ingatan

by Dewa Rhadea
June 21, 2026
0
Tawuran SD dan Gagalnya Pendidikan Holistik: Cermin Retak Indonesia Emas 2045

"Selama ini kita membangun sekolah di dalam kota. Sudah saatnya kita membangun kota sebagai sekolah." Kalimat itu mungkin terdengar sederhana....

Read moreDetails

Kritik Seni yang Sependek Feed Instagram dan Kolom Komentar

by Made Chandra
June 21, 2026
0
Kritik Seni yang Sependek Feed Instagram dan Kolom Komentar

10 tahun lalu, rubrik perihal kritik seni masih tersusun padat, dengan desain layout yang sebisa mungkin berpihak pada kelengkapan informasi...

Read moreDetails

Membaca Pesta Kesenian Bali Menjelang 50 Tahun   

by I Nyoman Tingkat
June 21, 2026
0
Membaca Pesta Kesenian Bali Menjelang 50 Tahun   

PESTA Kesenian Bali (PKB)ke-48 pada 2026 telah dibuka pada Sabtu, 13 Juni 2026 oleh Gubernur Bali Wayan Koster. Pembukaan tanpa...

Read moreDetails

Menitipkan Jembrana kepada Kreator Digital

by Angga Wijaya
June 21, 2026
0
Menitipkan Jembrana kepada Kreator Digital

MAMED Wedanta adalah salah satu pemuda paling jenaka yang pernah lahir di Jembrana. Melihat wajahnya saja orang sudah ingin tertawa....

Read moreDetails

KLAKSON

by Hartanto
June 20, 2026
0
KLAKSON

SETENGAH abad yang lalu, saya paling benci mendengar suara klakson (dulu disebut tuter), mobil atau motor. Pasalnya, manakala itu saya...

Read moreDetails

Political Awareness: Jalan Kesadaran yang Holistik

by Agung Sudarsa
June 20, 2026
0
Political Awareness: Jalan Kesadaran yang Holistik

Spiritualitas Bukan Pelarian dari Kehidupan Salah satu kesalahpahaman terbesar tentang spiritualitas adalah anggapan bahwa orang spiritual harus menjauh dari urusan...

Read moreDetails

Integritas Itu Soal Salah Hitung Angka atau Salah Hitung Dosa?

by Petrus Imam Prawoto Jati
June 20, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SIDANG pembaca yang budiman, kemarin pagi saya mampir ke pom bensin, dititipi istri saya buat isi motornya yang hampir kosong...

Read moreDetails

Kalau Marx dan Marcuse Ikut Nonton Aksi Demo Mahasiswa “Indonesia Bangkrut”

by Afgan Fadilla
June 18, 2026
0
(Bukan) Demokrasi Kita

DI tengah demonstrasi mahasiswa yang memprotes pemborosan anggaran, kenaikan biaya hidup, dan berbagai proyek pemerintah yang dianggap tidak berpihak kepada...

Read moreDetails
Next Post
“Fisik Bisa Dirubah”: Fenomena Kata-Kata Viral yang Salah Kaprah

“Fisik Bisa Dirubah”: Fenomena Kata-Kata Viral yang Salah Kaprah

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

’Ngajum’ atau ’Ajum’?  —Antara Baleganjur Jembrana dan Asumsi Penikmatnya di Pesta Kesenian Bali 2026
Ulas Musik

’Ngajum’ atau ’Ajum’?  —Antara Baleganjur Jembrana dan Asumsi Penikmatnya di Pesta Kesenian Bali 2026

“Jembrana mesuang Baleganjur jani?” kata seorang teman saya. Sore hari, pukul 15.00 WITA, tanggal 18 Juni 2026, saya yang baru...

by Ega Surya Mahendra
June 23, 2026
Sepak Bola, Bola Sepak, Football, dan Soccer: Riuh Bahasa di Tengah Piala Dunia
Bahasa

Sepak Bola, Bola Sepak, Football, dan Soccer: Riuh Bahasa di Tengah Piala Dunia

PERNAHKAH Anda merenung sejenak, bagaimana sebuah kata tentang olahraga yang dicintai seantero jagat ini bekerja di dalam kepala kita? Sungguh menarik mengamati...

by I Made Sudiana
June 23, 2026
Penyair Bali Bukan Penyair Lomba
Esai

Penyair Bali Bukan Penyair Lomba

TULISAN pendek Tan Lioe Ie tentang Kusala menarik bukan semata karena membicarakan penghargaan sastra, tetapi karena menyentuh persoalan yang lebih...

by Angga Wijaya
June 23, 2026
Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus
Kritik Seni

Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

LOMBA Baleganjur Kreasi antar Kabupaten se-Bali di Pesta Kesenian Bali (PKB) sejak tahun 2013 telah menjadi ruang penting bagi perkembangan...

by Wayan Sudirana, PhD
June 23, 2026
Buleleng Bercerita Lewat Busana Adat —Dari Payas Ningrat hingga Pedawa
Gaya

Buleleng Bercerita Lewat Busana Adat —Dari Payas Ningrat hingga Pedawa

BULELENG bercerita tentang busana adat khas Bali Utara  di Gedung Ksirarnawa, Taman Budaya Art Center Denpasar dalam acara Utsawa (Parade)...

by Nyoman Budarsana
June 22, 2026
Dari Perayaan Hari Yoga Sedunia di Anand Ashram Ubud: Dari Kedamaian Diri Menuju Harmoni Dunia   
Khas

Dari Perayaan Hari Yoga Sedunia di Anand Ashram Ubud: Dari Kedamaian Diri Menuju Harmoni Dunia   

Yoga di Tengah Kegelisahan Zaman TANGGAL 21 Juni setiap tahun diperingati sebagai Hari Yoga Sedunia. Ketika Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menetapkan...

by Agung Sudarsa
June 22, 2026
Perluasan Basis Pajak sebagai Strategi Ketahanan Fiskal di Tengah Dinamika Global
Esai

Perluasan Basis Pajak sebagai Strategi Ketahanan Fiskal di Tengah Dinamika Global

Di tengah ketidakpastian ekonomi global, mulai dari konflik geopolitik, perlambatan perdagangan internasional, hingga disrupsi teknologi yang mengubah pola bisnis, negara...

by Vito Prasetyo
June 22, 2026
Mengagumi Mobil Mini
Khas

Mengagumi Mobil Mini

SAYA berkenalan dan menjabat tangannya sesaat setelah ia selesai berbincang dengan sepasang pengunjung yang mampir ke lapak komunitasnya dalam gelaran...

by Jaswanto
June 22, 2026
Kimono Jepang dan Wastra Indonesia di Panggung BWCC Pesta Kesenian Bali 2026: Simbol Persahabatan dan Dialog Budaya
Gaya

Kimono Jepang dan Wastra Indonesia di Panggung BWCC Pesta Kesenian Bali 2026: Simbol Persahabatan dan Dialog Budaya

Rekasadana (performance) Kimono Gallery Yawara dari Tokyo, Jepang membuat panggung Bali World Culture Celebration (BWCC) 2026 lebih harmoni. Dalam satu...

by Nyoman Budarsana
June 22, 2026
Ketika Sastra Menyatukan Dua Saudara dalam “Putra Cahyaning Kulawandu Wandawa”  —Taman Penasar Duta Kabupaten Klungkung di Pesta Kesenian Bali 2026
Panggung

Ketika Sastra Menyatukan Dua Saudara dalam “Putra Cahyaning Kulawandu Wandawa” —Taman Penasar Duta Kabupaten Klungkung di Pesta Kesenian Bali 2026

KEMATIAN Bapa Gunung seharusnya menjadi saat bagi keluarganya untuk bersatu. Namun yang terjadi malah sebaliknya. Di tengah persiapan ngaben, I...

by Dede Putra Wiguna
June 22, 2026
Mahendra Mangku Pameran Sekaligus Mengurai Kenangan di Komaneka Fine Art Gallery
Pameran

Mahendra Mangku Pameran Sekaligus Mengurai Kenangan di Komaneka Fine Art Gallery

SORE hari, Sabtu 20 Juni 2026 orang-orang pecinta seni, khususnya seni lukis tampak bergerak ke arah timur tepatnya ke Komaneka...

by Nyoman Budarsana
June 21, 2026
Sanggar Gamelan Suling Gita Semara, Duta Palegongan Klasik Gianyar, Siapkan Rekonstruksi Kesenian Era 1970-an di Pesta Kesenian Bali 2026
Panggung

Sanggar Gamelan Suling Gita Semara, Duta Palegongan Klasik Gianyar, Siapkan Rekonstruksi Kesenian Era 1970-an di Pesta Kesenian Bali 2026

KETIKA memasuki salah satu rumah warga di Jalan Serongga No. 31, Banjar Tengah Kanginan, Desa Peliatan, Ubud, Gianyar, mata dan...

by Nyoman Budarsana
June 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co