23 June 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Heritage Coffee Farm & Roastery: Usaha Melestarikan Sejarah dan Menumbuhkan Ekosistem Kopi di Bali Utara

Jaswanto by Jaswanto
May 16, 2024
in Khas
Heritage Coffee Farm & Roastery: Usaha Melestarikan Sejarah dan Menumbuhkan Ekosistem Kopi di Bali Utara

Bibit kopi di Heritage Coffee Farm | Foto: Rusdy

DI The North View Ngiring Ngewedang Restaurant, Desa Munduk, Kecamatan Banjar, Kabupaten Buleleng, beberapa menit sebelum acara dimulai, tamu undangan berbincang-bincang santai di kursi yang telah disediakan panitia.

Orang-orang itu datang dari berbagai kalangan, dari pejabat pemerintah, pelaku usaha dan petani kopi, jurnalis, sampai orang-orang perbankkan. Mereka, orang-orang itu, sedang menghadiri acara peresmian Heritage Coffee Farm and Roastery yang digagas oleh Kopi Banyuatis, Rabu (15/5/2024) pagi.

“Ini dalam rangka meneruskan warisan—atau merawat sejarah usaha Kopi Banyuatis. Makanya kami menggunakan istilah heritage,” ujar Gede Pusaka Harsadena, Owner Kopi Banyuatis sekaligus penggagas Heritage Coffee Farm and Roastery. Saka, begitu ia akrab dipanggil, memang pewaris industri kopi yang berdiri sejak 1960 itu. “Kami akan membuka kebun kopi dan akan dijual di sekitar sini,” sambungnya.

“Heritage Coffee Bali” adalah lini usaha baru Kopi Banyuatis yang menaungi Heritage Coffee Farm dan Heritage Coffee Roastery. Berada di Desa Munduk, Buleleng, Heritage Coffee Farm terletak tepat di depan restaurant Ngiring Ngewedang sementara Heritage Coffee Roastery bertempat di area restaurant itu sendiri yang sesungguhnya dimiliki oleh pemilik yang sama dengan Hotel Bali Taman Beach Resort & Spa dan Kopi Banyuatis, ya, itu, Gede Pusaka Harsadena.

Peresmian kebun kopi Arabika seluas 70 are ini ditandai dengan penanaman bibit kopi secara simbolis oleh Gede Pusaka bersama para tamu undangan yang sudah berdatangan Rabu pagi itu.

Pj. Bupati Buleleng yang pada kesempatan kali ini diwakili oleh Kepala Dinas Pariwisata Gede Dody Sukma Oktiva Askara.S.Sos,. M.Si turut hadir dalam acara pada Rabu (15/5). Ada pula Kepala Dinas Pertanian Ir I Made Sumiarta, Kepala Dinas Kominfosanti Ketut Suarmawan S.Stp. M.M, Perbekel Munduk I Nengah Sudira S.H, Kelian Subak Abian Wija Sari, Wakil Pimpinan Bank BNI Wilayah Bali Acta Suryadinata dan pihak perwakilan dari pemiliki hotel dan restaurant sekitar area Munduk serta travel agent yang menjadi rekanan unit bisnis mereka.

“Dinamakan Heritage Coffee karena ini merupakan warisan dari kakek buyut saya Jro Dalang Gelgel. Kebun kopi pertama yang kami miliki dari tahun 1928 di Desa Banyuatis adalah perkebunan kopi Robusta, sedangkan di Munduk dengan ketinggian 1.250 mdpl kami menanam kopi varietas Komasti Arabica dengan potensi panen 2,1 ton/ha pada 2 tahun mendatang,” kata Gede Pusaka.

Ngiring Ngewedang merupakan restaurant yang memiliki 2 lantai ini memberikan pengalaman bersantap sembari menikmati pemandangan indah Desa Munduk dengan udara segar. Kopi yang disajikan hasil panen dari kebun pribadi milik Gede Pusaka, sehingga terjamin kualitas dan rasanya. Restoran yang telah beroperasi pada tahun 1998 ini, tampil lebih modern setelah direnovasi pada tahun 2018.

Kapasitas restoran yang dapat menampung hingga 200 tamu membuat Ngiring Ngewedang menjadi tempat yang ideal untuk melangsungkan gathering dan acara spesial lainnya. Kedepannya, dengan berdirinya Heritage Coffee Farm & Roastery yang berlokasi di sekitar area restaurant tersebut dapat meningkatkan daya tarik tamu domestik maupun internasional untuk mengunjungi Ngiring Ngewedang pada khususnya dan Munduk pada umumnya.

Bibit kopi komasti di kebun Heritage Coffee Farm di Munduk | Foto: Panitia

Bersama timnya, untuk mengawali kerja Heritage Coffee Farm, Saka mencoba menanam varietas kopi komasti di lahan seluas 70-an are. Letak kebun tersebut hanya sepelemparan batu dari Ngiring Ngewedang Restaurant. Saka hendak membangun destinasi kopi yang terintegrasi dari hulu sampai hilir di sana. “Kopinya kami tanam sendiri, olah sendiri, jual sendiri, dan dikonsumsi langsung dari kebun sendiri,” katanya sembari tertawa.

Benar. Heritage Coffee Farm ini memang mengadopsi konsep Edu Eco Tourism—kegiatan pariwisata berbasis lingkungan dengan mengutamakan aspek konservasi alam, pemberdayaan sosial-budaya-ekonomi masyarakat lokal, serta aspek pembelajaran dan pendidikan. Jadi, setiap pengunjung dapat merasakan pengalaman bersentuhan langsung dengan pengolahan kopi dari hulu sampai hilir dan berinteraksi dengan masyarakat sekitar.

Gede Pusaka Harsadina, Owner Kopi Banyuatis | Foto: Rusdy

Munduk dipilih sebagai tempat Heritage Coffee Farm tentu bukan tanpa alasan. Sebagai daerah yang bertengger di ketinggian 1.250 meter di atas permukaan laut (mdpl), Munduk sangat ideal untuk dijadikan kawasan perkebunan kopi, khususnya arabika.

Jika mengacu pada literatur sejarah, sejak era sebelum kemerdekaan Republik Indonesia, Munduk sudah menjadi sentra budidaya kopi pemerintah kolonial Belanda, memang. Selain faktor ketinggian, temperatur juga menjadi pertimbangan utama budidaya kopi di sana.

Sebagaimana telah disinggung di atas, kopi yang ditamam adalah varietas komasti—kopi arabika yang telah dilepas-tanamkan oleh Pusat Penelitian Kopi dan Kakao Indonesia pada tahun 2013.

“Bibit yang kami tanam ini dari Gesing. Enam daun baru dibawa ke sini. Kalau yang kita taman tadi, umurnya sekitar delapan bulanan. Usia dua tahun setelah tanam baru bisa kami panen. Dan kami menjadi yang pertama menanam varietas ini di Bali,” terang Saka.

Suasana peresmian Heritage Coffee Farm | Foto: Rusdy

Tetapi, mengenai jumlah bibit yang ditanam, Saka tak terang betul menyebutnya. “Untuk satu hektar butuh lima ribu bibit. Karena ini kurang dari satu hektar, ya tinggal dibagi aja, berapa itu?” ujar Saka. Ia tertawa setelah mengatakan hal tersebut.

Kopi komasti yang ditanam di Heritage Coffee Farm akan dirawat secara organik, dari pupuk sampai pengendalian hama. Pengolahan lahan dan perawatan akan dijalankan petani lokal. Dan proses pengolahan produk akan dilakukan secara tradisional. “Jadi, dijemur dulu selama beberapa minggu, baru kemudian dipilah dan diolah di roastery,” jelas Saka.

Cita rasa kopi yang diolah secara tradisional, kata Saka, memiliki tempat tersendiri di lidah penikmatnya dibanding biji kopi yang diproses secara full wash atau semi wash. Menurutnya, cita rasa kopi yang diolah secara tradisional memiliki cita rasa yang lebih asam.

Menumbuhkan Ekosistem Kopi Bali Utara

Di Buleleng bagian selatan, selain cengkeh dan buah-buahan, sebagaimana telah menjadi pengetahuan umum, kopi juga termasuk komoditas yang menjanjikan. Tanaman yang ditemukan di Benua Afrika sekitar 800 SM—pendapat lain mengatakan pada tahun 850 M—itu, tumbuh subur di lereng-lereng Desa Wanagiri, Munduk, Gobleg, Gesing, Umejero, Banyuatis, Kedis dan sekitarnya. Ini bukan sesuatu yang baru, tapi sudah ada sejak zaman kolonial Belanda. Zaman itu, orang-orang di sana sudah menanam kopi.

Namun, mengenai produktifitas, Buleleng masih belum bisa menyuplai kopi secara nasional. Artinya, peningkatan produksi kopi sangat penting sebenarnya. “Kami ingin membangun dari hulu dulu,” kata Saka.

Hadirnya gagasan Heritage Coffee Farm ini, secara tidak langsung, bertujuan untuk menumbuhkan dan menguatkan ekosistem perkopian di Bali Utara. Untuk itulah, Putu Ardana, tokoh masyarakat Adat Dalem Tamblingan sekaligus petani/pelaku usaha kopi di Munduk, menyambut baik akan ide tersebut. Selain dapat menumbuhkan ekosistem kopi di Bali Utara, gagasan ini juga sejalan dengan sejarah Desa Munduk dan sekitarnya, katanya Ardana.

Para tamu undangan menanam bibit kopi komasti | Foto: Rusdy

“Catur Desa Adat Dalem Tamblingan, Desa Gobleg, Gesing, Umejero, dan Munduk itu memang penghasil kopi dari dulu, meskipun Banyuatis lebih terkenal,” ujar Ardana yang membuat hadirin tertawa. Sebelum tahun 70-an 80-an, daerah Catur Desa Adat Tamblingan merupakan penghasil kopi yang produktif di Buleleng. “Tapi, setelah cengkeh masuk, banyak petani yang meninggalkan kopi,” sambungnya.

Desa Munduk dan sekitarnya, menurut Ardana, termasuk jalur perdagangan kopi di zaman kolonial. Bahkan, pada 1920-an, petani sekitar sudah ada yang mampu membeli mobil dari hasil berkebun kopi. “Belanda menjajah Bali itu kan masuknya dari utara. Mereka punya dua tempat peristirahatan, di Bubunan dan Munduk,” jelas Ardana.

Dalam rangka menumbuhkan ekosistem perkopian di Buleleng, menurut Ardana, masih membutuhkan kerja yang lebih keras. Oleh karena itu, dia sangat bersyukur dan senang mengetahui Kopi Banyuatis berkomitmen untuk membangun ekosistem tersebut melalui Heritage Coffee Farm ini.

“Sebab ekosistem ini penting. Tidak hanya ekosistem alamnya saja yang harus dipikir, tapi juga ekosistem yang lain, seperti sosial masyarakat dan bisnisnya,” ujar Ardana. Dengan adanya Heritage Coffee Farm ini, menurut Ardana, dapat juga membangun citra baik di kawasan Catur Desa Adat Tamblingan.

Sementara itu, menyambut gagasan Heritage Coffee Farm ini, melalui Kepala Dinas Pariwisata, I Gede Dody Sukma Oktiva Askara, Pemerintah Kabupaten Buleleng berencana mewujudkan Festival Kopi Bali Utara.

Festival tersebut diharapkan dapat menjadi wadah komunitas pecinta kopi, hotel, restoran, dan coffee shop di Kabupaten Buleleng nantinya—atau sebagai ajang unjuk gigi dan peningkatan popularitas dalam mengolah komoditas kopi Buleleng.

Gede Pusaka Harsadina dan para tamu undangan melepas-liarkan puluhan ekor merpati | Foto: Panitia

“Ini bisa memopulerkan warisan kopi di Bali Utara. Juga dapat bersinergi dengan meningkatnya jumlah kunjungan wisatawan. Jadi tidak hanya menjadi konsumsi lokal saja,” kata Dody.

Sebelum acara peresmian Heritage Coffee Farm selesai, pihak penyelenggara, selain menggelar penanaman bibit kopi komasti bersama tamu undangan, mereka juga melepas-liarkan puluhan ekor merpati di kawasan kebun kopi tersebut. Bersama merpati-merpati yang terbang bebas, doa-doa dan harapan baik didengungkan.[T]

Malam Seni Kopi Banyuatis: Melestarikan Seni dan Mempromosikan UMKM
Mengintip Proses Teater Legenda Rasa Kopi Banyuatis | Catatan Penulis Naskah dan Sutradara
Mencicipi Legenda Rasa Kopi Banyuatis Melalui Teater
Tags: Heritage Coffee Farmkopi banyuatis
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Menikmati Pasang-Surut Dinamika Hidup — Renungan dari Pantai Sanur

Next Post

Menulis Bagi Kehidupan, Melampaui Ruang Kelas : Pengantar Buku Cerpen “Merawat Indonesia”, SMP Jembatan Budaya

Jaswanto

Jaswanto

Editor/Wartawan tatkala.co

Related Posts

Dari Perayaan Hari Yoga Sedunia di Anand Ashram Ubud: Dari Kedamaian Diri Menuju Harmoni Dunia   

by Agung Sudarsa
June 22, 2026
0
Dari Perayaan Hari Yoga Sedunia di Anand Ashram Ubud: Dari Kedamaian Diri Menuju Harmoni Dunia   

Yoga di Tengah Kegelisahan Zaman TANGGAL 21 Juni setiap tahun diperingati sebagai Hari Yoga Sedunia. Ketika Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menetapkan...

Read moreDetails

Mengagumi Mobil Mini

by Jaswanto
June 22, 2026
0
Mengagumi Mobil Mini

SAYA berkenalan dan menjabat tangannya sesaat setelah ia selesai berbincang dengan sepasang pengunjung yang mampir ke lapak komunitasnya dalam gelaran...

Read moreDetails

Mau Jadi Penulis Hebat? Tulislah Hal Unik dan Autentik!

by Dede Putra Wiguna
June 21, 2026
0
Mau Jadi Penulis Hebat? Tulislah Hal Unik dan Autentik!

 “Kalau mau menjadi penulis hebat, tulis yang unik dan autentik.” Kalimat itu meluncur dari mulut sastrawan Bali, Gde Aryantha Soethama,...

Read moreDetails

Ketika Toko Kopi TUKU Belajar Menjadi ‘Tetangga Baik’ di Bali

by Dede Putra Wiguna
June 20, 2026
0
Ketika Toko Kopi TUKU Belajar Menjadi ‘Tetangga Baik’ di Bali

SORE itu, Senin, 15 Juni 2026, suasana di Toko Kopi TUKU Renon tampak lebih ramai dari biasanya. Di antara antrean...

Read moreDetails

Tabanan Menuju Era Baru: Revitalisasi Infrastruktur, Semangat GADARATA, dan Energi Baru AGATA

by Kadek Agus Yoga Dwipranata
June 6, 2026
0
Tabanan Menuju Era Baru: Revitalisasi Infrastruktur, Semangat GADARATA, dan Energi Baru AGATA

KABUPATEN Tabanan saat ini tengah memasuki fase penting dalam pembangunan daerah. Di bawah kepemimpinan Bupati Dr. I Komang Gede Sanjaya,...

Read moreDetails

Cerita Rakyat Sebagai Identitas

by I Wayan Artika
June 6, 2026
0
Cerita Rakyat Sebagai Identitas

Setelah direvitalisasi, kini sejumlah cerita rakyat Bali aga Desa Pedawa hidup kembali. I Jaum misalnya telah dijadikan cerita pertunjukan. Kini...

Read moreDetails

Catatan dari Ruang Bimtek Revitalisasi SMK: Ketika Gedung Diperbarui

by I Wayan Yudana
June 5, 2026
0
Catatan dari Ruang Bimtek Revitalisasi SMK: Ketika Gedung Diperbarui

ADA sebuah ungkapan lama yang mengatakan bahwa sekolah adalah jendela masa depan. Masalahnya, kalau jendelanya sudah kusam, atapnya bocor, laboratoriumnya...

Read moreDetails

Dari Kamar Biasa ke Pengalaman Luar Biasa —Cerita Desa Kedisan Berbenah

by Ni Luh Putu Intan Nirmalasari
June 3, 2026
0
Dari Kamar Biasa ke Pengalaman Luar Biasa —Cerita Desa Kedisan Berbenah

DESA Kedisan di Kintamani, Bangli, itu sebenarnya sudah “menjual” tanpa harus banyak usaha. Pemandangan Danau Batur yang tenang, udara sejuk, dan suasana desa yang...

Read moreDetails

‘Lambuk Baa’ di Pura Parerepan Samuan Tiga: Ritus Api di Tengah Kota Denpasar

by Abdi Jaya Prawira
June 3, 2026
0
‘Lambuk Baa’ di Pura Parerepan Samuan Tiga: Ritus Api di Tengah Kota Denpasar

BULAN Purnama Asaddha yang baru lewat sehari masih bulat sempurna, menggantung sedikit miring di atas langit Desa Sidakarya, seperti sedang...

Read moreDetails

Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

by Putu Agus Eka Pradnyana
June 1, 2026
0
Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

Di bawah langit Mei yang teduh, halaman SMPN 2 Banjar kembali dipenuhi cahaya kebanggaan. Bulan yang identik dengan harum tanah...

Read moreDetails
Next Post
Menulis Bagi Kehidupan, Melampaui Ruang Kelas : Pengantar Buku Cerpen “Merawat Indonesia”, SMP Jembatan Budaya

Menulis Bagi Kehidupan, Melampaui Ruang Kelas : Pengantar Buku Cerpen “Merawat Indonesia”, SMP Jembatan Budaya

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Sepak Bola, Bola Sepak, Football, dan Soccer: Riuh Bahasa di Tengah Piala Dunia
Bahasa

Sepak Bola, Bola Sepak, Football, dan Soccer: Riuh Bahasa di Tengah Piala Dunia

PERNAHKAH Anda merenung sejenak, bagaimana sebuah kata tentang olahraga yang dicintai seantero jagat ini bekerja di dalam kepala kita? Sungguh menarik mengamati...

by I Made Sudiana
June 23, 2026
Penyair Bali Bukan Penyair Lomba
Esai

Penyair Bali Bukan Penyair Lomba

TULISAN pendek Tan Lioe Ie tentang Kusala menarik bukan semata karena membicarakan penghargaan sastra, tetapi karena menyentuh persoalan yang lebih...

by Angga Wijaya
June 23, 2026
Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus
Kritik Seni

Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

LOMBA Baleganjur Kreasi antar Kabupaten se-Bali di Pesta Kesenian Bali (PKB) sejak tahun 2013 telah menjadi ruang penting bagi perkembangan...

by Wayan Sudirana, PhD
June 23, 2026
Buleleng Bercerita Lewat Busana Adat —Dari Payas Ningrat hingga Pedawa
Gaya

Buleleng Bercerita Lewat Busana Adat —Dari Payas Ningrat hingga Pedawa

BULELENG bercerita tentang busana adat khas Bali Utara  di Gedung Ksirarnawa, Taman Budaya Art Center Denpasar dalam acara Utsawa (Parade)...

by Nyoman Budarsana
June 22, 2026
Dari Perayaan Hari Yoga Sedunia di Anand Ashram Ubud: Dari Kedamaian Diri Menuju Harmoni Dunia   
Khas

Dari Perayaan Hari Yoga Sedunia di Anand Ashram Ubud: Dari Kedamaian Diri Menuju Harmoni Dunia   

Yoga di Tengah Kegelisahan Zaman TANGGAL 21 Juni setiap tahun diperingati sebagai Hari Yoga Sedunia. Ketika Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menetapkan...

by Agung Sudarsa
June 22, 2026
Perluasan Basis Pajak sebagai Strategi Ketahanan Fiskal di Tengah Dinamika Global
Esai

Perluasan Basis Pajak sebagai Strategi Ketahanan Fiskal di Tengah Dinamika Global

Di tengah ketidakpastian ekonomi global, mulai dari konflik geopolitik, perlambatan perdagangan internasional, hingga disrupsi teknologi yang mengubah pola bisnis, negara...

by Vito Prasetyo
June 22, 2026
Mengagumi Mobil Mini
Khas

Mengagumi Mobil Mini

SAYA berkenalan dan menjabat tangannya sesaat setelah ia selesai berbincang dengan sepasang pengunjung yang mampir ke lapak komunitasnya dalam gelaran...

by Jaswanto
June 22, 2026
Kimono Jepang dan Wastra Indonesia di Panggung BWCC Pesta Kesenian Bali 2026: Simbol Persahabatan dan Dialog Budaya
Gaya

Kimono Jepang dan Wastra Indonesia di Panggung BWCC Pesta Kesenian Bali 2026: Simbol Persahabatan dan Dialog Budaya

Rekasadana (performance) Kimono Gallery Yawara dari Tokyo, Jepang membuat panggung Bali World Culture Celebration (BWCC) 2026 lebih harmoni. Dalam satu...

by Nyoman Budarsana
June 22, 2026
Ketika Sastra Menyatukan Dua Saudara dalam “Putra Cahyaning Kulawandu Wandawa”  —Taman Penasar Duta Kabupaten Klungkung di Pesta Kesenian Bali 2026
Panggung

Ketika Sastra Menyatukan Dua Saudara dalam “Putra Cahyaning Kulawandu Wandawa” —Taman Penasar Duta Kabupaten Klungkung di Pesta Kesenian Bali 2026

KEMATIAN Bapa Gunung seharusnya menjadi saat bagi keluarganya untuk bersatu. Namun yang terjadi malah sebaliknya. Di tengah persiapan ngaben, I...

by Dede Putra Wiguna
June 22, 2026
Mahendra Mangku Pameran Sekaligus Mengurai Kenangan di Komaneka Fine Art Gallery
Pameran

Mahendra Mangku Pameran Sekaligus Mengurai Kenangan di Komaneka Fine Art Gallery

SORE hari, Sabtu 20 Juni 2026 orang-orang pecinta seni, khususnya seni lukis tampak bergerak ke arah timur tepatnya ke Komaneka...

by Nyoman Budarsana
June 21, 2026
Sanggar Gamelan Suling Gita Semara, Duta Palegongan Klasik Gianyar, Siapkan Rekonstruksi Kesenian Era 1970-an di Pesta Kesenian Bali 2026
Panggung

Sanggar Gamelan Suling Gita Semara, Duta Palegongan Klasik Gianyar, Siapkan Rekonstruksi Kesenian Era 1970-an di Pesta Kesenian Bali 2026

KETIKA memasuki salah satu rumah warga di Jalan Serongga No. 31, Banjar Tengah Kanginan, Desa Peliatan, Ubud, Gianyar, mata dan...

by Nyoman Budarsana
June 21, 2026
Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar
Tualang

Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

Saya sangat jarang bergaul dengan alumni apa pun. Dari sekian puluh undangan reuni sekolah, kedatangan saya bisa dihitung dengan jari....

by Made Wirya
June 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co