2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Menulis Bagi Kehidupan, Melampaui Ruang Kelas : Pengantar Buku Cerpen “Merawat Indonesia”, SMP Jembatan Budaya

I Wayan Artika by I Wayan Artika
May 15, 2024
in Ulas Buku
Menulis Bagi Kehidupan, Melampaui Ruang Kelas : Pengantar Buku Cerpen “Merawat Indonesia”, SMP Jembatan Budaya

TEKNIK naratif cerpen dalam buku ini menarik. Sebagian besar penulis mengawali kisahnya dengan tipe “pada suatu waktu” atau ”di sebuah tempat”. Dari mana para penulis pemula ini mendapatkannya?

Anthony de Mello yang terkenal dengan buku Doa Sang Katak 1 dan 2, menggunakan cerita dari seluruh dunia untuk meditasi; menyatakan ”pada suatu hari” adalah kata-kata paling bertuah di dalam kebudayaan umat manusia dimana pun itu. Dan, kata-kata itu milik dunia cerita. Cerita sendiri disebut berbagai nama atau istilah di seluruh dunia, seperti hikayat, kisah, cerita, dongeng, fabel, legenda, sage, dan lain-lain. Apapun itu, kalimat pembukanya selalu ”pada suatu hari” atau ”alkisah”.

Asumsi yang dapat dipegang adalah kata-kata untuk mengawali ceritanya, para penulis di dalam buku ini bukanlah terjadi secara alamiah. Itu telah mereka dapat dari pemberian dunia cerita lewat para perantara, seperti ibu di rumah, orang tua, alat perekam, televisi, youtube, dan tradisi cerita di PAUD/TK dan masih ada di kelas-kelas awal di sekolah dasar. Cerita-cerita melekat dengan kuat dan abadi, termasuk firanti-firanti narasinya.

Anthony de Mello benar, karena merupakan kata-kata yang menakjubkan, kata-kata yang paling bertuah, dan kata-kata milik dunia cerita; maka daya lekatnya pada benak anak-anak pun kuat. Hal ini dibawa hingga mereka mungkin mulai meninggalkan dunia kanak-kanak, berada saat remaja dan mendapat kesempatan menulis cerita. Seperti para penulis muda yang karyanya dikumpulkan di dalam satu buku antologi ini; berkat didikan seorang guru yang telah menjaring  siswanya memasuki dunia menulis. Pun mereka kembali kepada kata-kata cerita yang sedemikian dalam menancap di batinnya, ”pada suatu hari” atau ”di sebuah desa/sekolah/pasar atau dengan menulis langsung nama tempat, nama geografi, seperti Padangsambian.”

Cerita-cerita yang sederahana dan abadi karena tuah kisahnya, pernah mengisi seluruh hidup manusia. Semuanya terjadi secara lisan. Cerita disimpan di dalam batin manusia. Hal ini terjadi sangat lama hingga cerita hampir semuanya ditulis. Lalu kelak direkam, disiarkan, dialihwahanakan menjadi komik, relief candi, kartun, film animasi, dan di ujungnya adalah cerita dalam versi digital yang amat jauh dari dunia lisan yang penuh tuah itu: game online.

Pada masa itu, cerita berperan tunggal untuk mengisi batin umat manusia dan ini hanya dimungkinkan oleh daya imajinasi dalam otak yang terbentuk semasa revolusi kognitif Homosapien, 50 ribu tahun yang lalu. Sehingga dengan bagian itu yang ada di dalam otaklah, cerita mendapat sistem operasinya yakni imajinasi.

Cerita bukan sebagai perkara pilihan atau bakat. Cerita adalah perkara klinis dengan adanya bagian di otak yang bekerja untuk mengidupkan daya imajinasi yang sangat dahsyat. Karena itu, siapapun bisa menikmati cerita. Juga siapapun bisa bercerita. Siapapun bisa mengarang cerita. Selanjutnya adalah soal latihan yang terus-menerus untuk mengasah keterampilan bercerita. Di dalam pengasahan yang tidak mengenal batas waktu inilah, hanya bisa membuat orang sedikit tahan di jalan sunyi yang sejatinya nikmat dan ekstase. Mereka adalah para juru kisah atau tukang cerita. Yang tidak hanya menceritakan berbagai kisah abadi tetapi juga mengarang cerita untuk mengisi khazanah sastra umat manusia, menyuplai bagian otak manusia sehingga imajinasi terus hidup dan bekerja.

Maka lahirlah tokoh-tokoh cerita yang tenar dengan cerita-cerita yang mengagumkan. Ini ditemukan di seluruh dunia. Karya-karya Christian Anderson atau Aesop misalnya, telah menjadi warisan dunia. Pada masa yang lebih awal dan jauh sebelum mesin cetak ditemukan, cerita-cerita yang dibuat tidak diketahui lagi siapa pengarangnya. Dunia mewarisi terlampau banyak cerita dengan pengarang tidak bernama.

Para guru sekolah memang lebih banyak menggunakan cerita sebagai materi pelajaran dalam artian yang luas. Di sekolah cerita diwariskan. Sangat sedikit memang sekolah-sekolah awal mengajak siswa mengarang cerita. Namun demikian, keterampilan narasi anak-anak tumbuh diam-diam. Lantas mulai menduplikasi kisah-kisah yang mereka dapat dari guru di kelas.

Keadaan ini adalah proses seseorang menjadi pengarang. Tapi karena sekolah tidak memiliki kurikulum mengarang atau menulis cerita, hal ini tidak dipelajari atau dilatih dalam pelajaran bercerita atau pelajaran lainnya, seperti bahasa dan agama. Hanya ada beberapa anak atau memang jauh lebih sedikit, pun menulis ceritanya diam-diam. Di sini benar kata-kata Gao Xinjian, bahwa dia menulis untuk dirinya sendiri. Demikian pula Anne Frank. Ia menulis untuk Kitty, sosok imajiner di dalam buku hariannya. Jauh berbeda dengan Pramoedya Ananta Toer, yang menulis untuk para kawan tapol, lewat satu proses kisah-kisah lisan yang panjang di Pulau Buru, seluruhnya telah dikisahkan di hadapan para tapol 1965.

Karena kurikulum cerita di sekolah tidak menyediakan materi menulis maka fokus pelajaran cerita adalah menyimak dan dengan sedikit kombinasi, yakni menceritakan. Dengan kondisi inilah, tulisan ini memahami cerita-cerita di dalam antologi ini. Mereka menulis karena motivasi dan pelatihan dari seorang guru yang juga penulis. Tanpa latar belakang kepunulisan seperti ini, seorang guru akan mengubur niat menulis anak-anaknya. Guru memang selalu mengajar dengan kebiasaannya sendiri dan seluruh minatnya. Jadi mengajar adalah tindakan yang sangat subjektif. Bersyukur jika guru mengajar dengan kesadaran sebagai suatu kehebatan, seperti Bapak Indra Andrianto sehingga lahirlah cerita-cerita ini dan terbit dalam satu buku.

Buku ini adalah dokumen karya bahasa dan sastra yang sering dipelajari di dalam kurikulum sekolah dimanapun di dunia ini. Namun menjadi lebih tinggi nilainya setelah dijadikan karya dan terbit. Bukan lagi karya di dalam kelas untuk tujuan belajar yang sempit. Sejatinya belajar itu dalam kehidupan dan semua hal yang dipelajari dan dikembangkan di dalam kelas-kelas adalah bagian dari hidup. Maka menulis cerita dan menerbitkannya menjadi buku adalah mempelajari satu seri kecil dari kehidupan yang maharumit ini.

Kata pengantar buku dicarikan penulis orang yang berpengalaman atau menjadi praktisi di bidangnya. Karya diterbitkan menjadi buku yang beredar di masyarakat. Peran seorang guru dalam hal ini sangat penting. Banyak peluang belajar dalam hidup nyata sering dikontaminasi oleh sikap atau paradigma yang memisahkan sekolah dari kehidupan. Dengan cara ini, seorang guru telah mengerdilkan pendidikan itu sendiri hanya pada bagian satuan yang lebih kecil, yakni mata pelajaran yang diampunya.

Dengan cara ini, Bapak Guru Indra Andrianto telah membawa siswanya ke dalam dunia nyata kepunulisan dan penerbitan karya atau buku. Siswa akan paham bagaimana kelanjutan dan sejatinya pelajaran menulis cerita. Bukan hanya untuk mata pelajaran di kelas. Menulis cerita bisa digunakan jauh lebih praktis dari hanya kehidupan di kelas di bawah langit mata pelajaran dengan horison yang tertabatas oleh tembok-tembok dan papan tulis, dimana merdeka belajar kembali mentok karena guru-gurunya sendiri yang terpasung paradigma sesat dalam dunia pendidikan, yang antiperubahan.

Anak-anak atau para penulis di dalam buku ini beruntung karena telah ditarik jauh ke dalam kehidupan dengan berkarya menerbitkan buku. Mereka mendapat guru yang memiliki pandangan luas. Pelajaran dan hasil-hasilnya bukan saja untuk dunia belajar yang terasing dari hiruk-pikuk masyarakat. Belajar di sekolah adalah bagian dari kehidupan ini. Indra Andrianto   yang menjadi mentor para penulis pemula ini  amat menyadari bahwa ada tujuan yang lebih besar di dalam hidup ketimbang hanya mencapai tujuan-tujuan instruksional. Hal ini ia terapkan di dalam dunia menulis.

Fokus kata pengantar ini memang tidak membahas sejumlah karya, walaupun hal ini disinggung pada bagian awalnya, soal geneologi naratif ketika cerita-cerita bergerak dari kalimat-kalimat penuh tuah, ”pada suatu hari” atau ”di sebuah …”. Dan, secara umum memang terasa energi kuat cerita ini yang masih harus mencari satu data pendukung. Apakah energi yang terpancar di dalam cerita ini terjadi secara alamiah atau berkat pelatihan menulis yang dilakukan oleh seorang guru.

Sayang sekali waktu untuk menulis kata pengantar ini sangat singkat. Jika lebih lama, akan ada tinjauan beberapa karya dan dengan ini jadi satu sampel kritik atas karya tersebut. Namun demikian adanya, ada dua hal yang penting dalam seluruh karya: (1) Teknik narasi yang geneologis dan (2) energi cerita atau energi bahasa. Yang kedua terasa saat membaca cerita-cerita ini sepintas kilas. Bahasa itu merujuk pada suatu peradaban yang kuat. Terasa terbawa pada suatu lingkungan sosial yang melahirkan dan kelak mengasuh anak-anaknya, para penulis di dalam buku ini. Hal ini akan terpecahkan lewat pembahasan latar belakang para penulis, yang mereka berkumpul di suatu sekolah bernama Jembatan Budaya. Ideologi pendidikan yang dikembangkan di sekolah ini pun akan sangat membantu untuk mengungkap energi bahasa anak-anak di dalam buku ini. Demikian pula perspektif yang digunakan oleh para penulisnya dalam mengurai cerita.

Tidak hanya dua itu, karena di samping itu, harus ada satu hal yang menjadi konsekuensi lagi, yakni pemilihan tema cerita atau memilih persoalan. Hal ini juga sangat kuat! Jika harus biacara potensi di kalangan para penulis muda, yang mungkin terasa latah karena suatu kekaguman, sejalan dengan ketiga hal yang dijadikan fokus dari seluruh karya ini maka sangat besar peluang untuk ditingkatkan menjadi karya yang jauh lebih baik.

Peranan guru yang bekerja jauh lebih banyak karena minat pribadi dan jalan di dunia penulisan itu yang kelak menjadi garansi. Ini adalah jaminan bagi guru dalam bekerja sejati untuk mencapai tujuan yang melampaui tujuan-tujuan instruksional. Satu kutipan penting, anak-anak tidak dipersiapkan dari dalam kelas menuju kehidupan karena kelas dan seluruh proses sehari-hari di sekolah adalah kehidupan yang fana. Sekolah bukan tahapan menunggu dilahirkan di dalam kehidupan setelah tamat. Sekolah-sekolah berbagai jenjang atau tingkatn, inilh kehidupan. 

Sejalan dengan itu, menulis bukan belajar satu hal yang asing dari kehidupan tetapi karena menulis dalam pengertian yang luas, ada dalam kehidupan. Inilah satu alasan pokok yang tidak bisa ditawar mengapa anak-anak dan guru mentornya, Indra Andrianto menyelenggarakan proyek menulis cerita dan menerbitkannya menjadi satu buku. [T]

BACA artikel lain dari penulis I WAYAN ARTIKA

Anomali Bahasa Putu Wahya Santosa Dalam Novelet ”Aji Kecubung”
Guru Bahasa Bali “Pengawi” : Kata Pengantar Buku Antologi Puisi ”Gita Rasmi Sancaya” Karya I Putu Wahya Santosa
Buku “Menafsir Realitas dan Wacana” | Epilog: Mencari Pembaca

.

Pertemuan Sejarah dan Pariwisata: Perihal Kebebasan Sejarah
Tags: Bukubuku kumpulan cerpenkumpulan cerpenLiterasiSMP Jembatan Budaya
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Heritage Coffee Farm & Roastery: Usaha Melestarikan Sejarah dan Menumbuhkan Ekosistem Kopi di Bali Utara

Next Post

Warung Suparmiasih, Menikmati Kopi Sambil Menyaksikan Sunset di Laut Utara Bali

I Wayan Artika

I Wayan Artika

Dr. I Wayan Artika, S.Pd., M.Hum. | Doktor pengajar di Fakultas Bahasa dan Seni, Undiksha Singaraja. Penulis novel, cerpen dan esai. Tulisannya dimuat di berbagai media dan jurnal

Related Posts

Kisah Pinggiran 1965: Belajar Empati dari Lasmi

by Abdul Karim Abraham
September 29, 2026
0
Kisah Pinggiran 1965: Belajar Empati dari Lasmi

LASMI, perempuan muda yang cukup populer di kampungnya. Penampilannya sederhana, ia tidak mengenakan aksesoris apapun, kecuali jam tangan dengan tali...

Read moreDetails

Aku Mau Jadi Penguin! —Ulasan Novel “Di Tanah Lada” Karya Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie

by Kadek Wisnu Oktaditya
September 12, 2026
0
Aku Mau Jadi Penguin! —Ulasan Novel “Di Tanah Lada” Karya Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie

AWALNYA saya mengira nama ‘Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie’ adalah nama pena. Ternyata saya salah. Kemudian dari nama unik dan ajaib inilah saya...

Read moreDetails

Makna Komunikasi di Balik Lagu: Ulas Buku Hermeneusical Karya Ahmad Sihabudin

by Chusmeru
September 3, 2026
0
Makna Komunikasi di Balik Lagu: Ulas Buku Hermeneusical Karya Ahmad Sihabudin

Judul Buku: HERMENEUSICAL Menafsir Musik dalam Komunikasi Manusia Penulis      : Prof.Dr. Ahmad Sihabudin, M.Si Penerbit    : Indigo Media, Kota Tangerang...

Read moreDetails

SEBUT SAJA NAGA DALAM GELAP: Dunia Lain, Tan Lioe Ie, dan Cahaya Pink Floyd

by IRZI
August 3, 2026
0
SEBUT SAJA NAGA DALAM GELAP: Dunia Lain, Tan Lioe Ie, dan Cahaya Pink Floyd

Pengantar singkat: Buku puisi Soto Otak ODGJ, tidak pernah menjadi "isu besar" yang cukup menarik perhatian pembela hak asasi manusia,...

Read moreDetails

Tuhan Yang Maha Puisi

by Heski Dewabrata
August 1, 2026
0
Tuhan Yang Maha Puisi

The Ingredients of Easter: Three nails, Two pieces of wood, a crown of thorns, a fair share of lashing, and...

Read moreDetails

SNERAYUZA: Ketika Studio Menjadi Sajak, Ketika Lukisan Menjadi Puisi

by I Wayan Sujana Suklu
July 26, 2026
0
SNERAYUZA: Ketika Studio Menjadi Sajak, Ketika Lukisan Menjadi Puisi

SEBUAH buku yang selesai dibaca ketika halaman terakhir ditutup. Ada pula buku yang baru mulai dibaca justru setelah kita menutupnya....

Read moreDetails

Kehilangan, Bahasa, dan Memori Kolektif dalam Karya Sastra —Membaca “Singkarak, Riang dan Sendunya” Karya Ragdi F Daye

by Azwar
July 17, 2026
0
Kehilangan, Bahasa, dan Memori Kolektif dalam Karya Sastra —Membaca “Singkarak, Riang dan Sendunya” Karya Ragdi F Daye

Singkarak, Riang dan Sendunya merupakan kumpulan cerpen karya Ragdi F Daye yang diterbitkan Rumahkayu Pustaka pada Mei 2026. Buku ini...

Read moreDetails

“Koloni”: Semut, Semesta, dan Seni Merawat Kehidupan

by I Made Sujaya
July 16, 2026
0
“Koloni”: Semut, Semesta, dan Seni Merawat Kehidupan

Novel Koloni pertama kali diluncurkan oleh Gramedia pada 22 Agustus 2025. Sejak diluncurkan hingga kini, novel ini terus mendapat perhatian...

Read moreDetails

Yang Paling Dalam, Yang Tetap Online  —Prolog untuk Buku Puisi “Yang Paling Dalam, Yang Paling Diam” karya Chris Triwarseno

by IRZI
July 12, 2026
0
Yang Paling Dalam, Yang Tetap Online  —Prolog untuk Buku Puisi “Yang Paling Dalam, Yang Paling Diam” karya Chris Triwarseno

KITA tidak memulai dari halaman kosong. Kita masuk ketika semuanya sudah berlangsung. Layar sudah menyala, jempol bergerak hampir tanpa perintah,...

Read moreDetails

Mahindu, Si Perempuan Tembikar

by Mas Ruscitadewi
July 10, 2026
0
Mahindu, Si Perempuan Tembikar

Risalah Perempuan-Perempuan Tembikar yang dipakai sebagai judul kumpulan puisi ini mengisyaratkan pilihan, penilaian dan sudut pandang penyair dalam membahas masalah...

Read moreDetails
Next Post
Warung Suparmiasih, Menikmati Kopi Sambil Menyaksikan Sunset di Laut Utara Bali

Warung Suparmiasih, Menikmati Kopi Sambil Menyaksikan Sunset di Laut Utara Bali

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

by Chusmeru
September 30, 2026
Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”
Budaya

Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”

TABANAN | TATKALA -- Dua pelajar muda asal Tabanan, Bali, I Putu Bagus Sastra Vedanta Wiyasa dan Ni Kadek Ayu...

by Rusdy Ulu
September 30, 2026
Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?
Opini

Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

PENDIDIKAN gratis kembali menjadi pembicaraan publik pasca Presiden Prabowo Subianto pada 18 September 2026 menyatakan komitmennya agar biaya pendidikan pada...

by Dini Nastiti Wardani
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co