2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Buku “Menafsir Realitas dan Wacana” | Epilog: Mencari Pembaca

I Wayan Artika by I Wayan Artika
November 25, 2023
in Esai
Buku “Menafsir Realitas dan Wacana” | Epilog: Mencari Pembaca

Mungkin ada persaaan puas setelah selesai satu tulisan. Tapi lebih bahagia lagi jika tulisan ini mendapat pembaca. Menulis kemudian adalah sebuah perjuangan untuk mendapat pembaca. Pembaca tidak mudah diraih. Sangat ditentukan oleh kecocokan antara materi tulisan dan pembaca. Di tengah kesulitan itu, saya memang mendapat pembaca. Meskipun Terlalu sedikit. Setidaknya saya tidak hanya masturbasi (lagi).

Saya pernah tergelincir ke dalam situasi yang sangat sempit. Selingkup desa. Saya menulis satu persoalan konspirasi antara investor dan aparat desa. Yang akhirnya terjuallah tanah perkebunan milik warga secara paksa. Ada penipuan di sini. Yang paling saya tolak adalah pelanggaran teritori jalur hijau kuno yang membatasi alas tutupan dan pemukiman. Lalu saya menulis masalah ini. Berhasil dibaca banyak orang, di kalangan pembaca koran Bali Post. Dan, utamanya membuat heboh di desa saya.

Mendapat pembaca ternyata mudah. Tulis hal yang berkaitan dengan pembaca. Bisa pujian atau kritik. Tapi yang lebih mudah lagi mendapat pembaca adalah tulisan yang mengkritik pembaca, apalgi kiritik ini diterima sebagai hujatan atau pelecehan.

Hal ini memang bukan “resep” jitu bagi saya untuk mendapat pembaca (atau tidak dianjurkan). Cara ini terjadi secara alamiah dan jujur. Saya menulis topik yang memancing diri saya untuk berpendapat. Pun, berkali kali tersandung perkara dengan pembaca. Puncaknya adalah pada novel Inses, yang berlatar belakang Desa Batungsel, desa kelahiran saya. Novel ini saya perkaya dengan berbagai pengetahuan yang saya miliki, diberi oleh Bapak sebagai cerita ketika saya anak-anak, sebagai buah parenting seorang ayah.

Saya masih melewati beberapa kali kejadian buruk, akibat tulisan saya. Unjungnya permusuhan yang saya alami dengan pembaca yang dirugikan. Sungguh tidak enak. Tulisan yang bertentangan dengan pembaca tidak dihindari oleh pembaca itu sendiri tetapi justru sebaliknya, diburu. Pada skala yang lebih besar, inilah disebut tulisan yang memicu kontroversi.

Tulisan yang kontroversial bukan berarti jelek tetapi harus dikembalikan kepada wacana atau realitas yang ditulis. Benar, apakah ada kontroversi? Atau memang masyarakat pembaca sudah terbelah dalam kontroversi sebelum adanya tulisan. Maka tulisan pun harus berpihak atau sedikit lebih “aman” bagi penulis kalau dijadikan tulisan yang moderat.

Saya lebih paham setelah menulis epilog ini, tulisan-tulisan saya yang dibaca dan menimbulkan permusuhan di antara saya dan mereka adalah karena lewat tulisan, saya berpihak kepada salah satu kelompok. Tegasnya, masyarakat terbelah dalam pertentangan. Lantas tulisan yang dilempar ke tengah mereka menjadi infrastruktur memicu ”perang” terbuka. Dari banyak pengalaman ini saya dapat simpulkan kalau pada akhirnya sayalah yang terseret ke dalam pertentangan atau kontroversi itu. Sementara pihak yang diuntungkan atau yang dibela (walau ini hanya konsekuensi) di dalam tulisan pun cenderung bergeming. Maka saya sebagai penulis telah berani ambil risiko walaupun ketika satu tulisan disusun, sama sekali tidak sanggup memikirkannya. Kalau sudah dipikirkan, maka arah tulisan pasti belok. Pasti aman. Sehingga saya tidak dapat pengalaman masuk kandang harimau desa adat yang sangat ganas, bersama Bapak saya yang tidak sanggup lagi menjelaskan rasa cemas dan malunya; tidak sampai nginep di kantor Polsek Pupuan, tidak pernah menjalani ritual pengusiran dari desa.

Semua pengalaman itu ada dalam bingkai mendapatkan pembaca. Ada dua kategori pembaca: yang dikenal dengan baik (karena berdekatan) dan yang tidak. Pembaca yang dikenal dengan baik adalah pembaca yang dekat dengan penulis. Selebihnya tentu pembaca-pembaca yang jauh, waktu dan ruang.

Saya lebih banyak bermasalah dengan pembaca yang dekat. Mungkin ini satu prinsip yang saya kembangkan bahwa menulis bagi saya adalah untuk mengisi kekosongan teks tulisan di antara warga desa. Ada banyak sekali tulisan, entah buku atau berita di koran, tetapi tidak ada yang menulis tentang mereka dan hidupnya di Desa Batungsel. Anak-anak yang sekolah SD di Desa Batungsel juga tidak pernah membaca nama des aini di dalam buku Pelajaran. Karena itulah tanggung jawab saya sebagai penulis memulai dengan menghadirkan Batungsel di dalam tulisan-tulisan saya. Pembaca akan bertemu satu nama desa yang asing dan juga sangat sulit diucapkan. Jalan yang saya tempuh untuk hal ini adalah dalam cerpen. Sampai pada kasus novel Inses, yang saat terbit harus mengubah seting, dari Desa Batungsel, menjadi Jelungkap, lalu berubah lagi kelak dengan revisi besar, terbit sebagai edisi II, menjadi Kemoning; latar cerita saya selalu Desa Batungsel, dengan kebun kopi, sayong, Batukaru, jalan setapak, dengung lebah, harum bunga kopi, bunga sungenge dengan getah pahit (di Jawa Srengenge).

 Tulisan-tulisan saya memang pada akhirnya menghadirkan Desa Batungsel ke dunia baru: tulisan. Hal ini tentunya sangat mengagumkan. Setidaknya saya alami ketika SD. Pada satu buku di perpustakaan sekolah SD 1 Batungsel, saya bertemu buku bergambar penuh warna. Ada ular yang saya kenal di dalam habitatnya: sawah. Yang lain lebih memukai saya. Tulisan pendek dan foto-foto burung pemakan padi. Satu jenis adalah burung peking yang sama dengan burung yang saya sering pelihara ketika musim padi berbuah, namanya berbeda sedikit ”petingan” yang sungguh membuat saya tercengang. Kok  ada burung petingan di dalam buku sekolah? Bagaimana hal ini terjadi?

Pengalaman ini seperti memberi wawasan realitas baru bagi saya. Ada realitas sehari-hari hidup di desa dan ada realitas lain, realitas di atas buku atau realitas tertulis. Jika demikian halnya, buku jadi sangat menarik. Pembaca dapat menemukan hubungan erat antara realitas dengan tulisan di atas kertas. Inilah yang membuat saya sangat terkesan.

Pengalaman itu cukup lama jadi mimpi. Saya ingin sekali ada bacaan atau buku mengenai kehidupan di desa. Inilah yang banyak saya tulis dan menjadi satu cara untuk mendapat pembaca, selingkup desa. Ini sudah cukup. Lewat tulisan saya, mendapat pembaca dan materi bacaan ini dekat dengan mereka serta kehidupannya. Maka Batungsel adalah pilihan. Pun harus diterima karena pernah jadi malapetaka bagi saya.

Amat sedikit tulisan tersedia di desa saya. Apalagi yang berhubungan dengan berbagai variable kehidupan di desa. Saya pun banyak menulis tentang desa untuk mengisi dunia teks yang kosong. Harapannya, Masyarakat Batungsel, dapat membaca kehidupan mereka, sebagaimana ada banyak foto. Demikian juga harus ada banyak tulisan yang mendokumentasi kehidupan Batungsel. [T]

Catatan:

  • Tulisan ini diambil dari Epilog dalam buku “Menafsir Realitas dan Wacana” karya I Wayan Artika
Buku “Menafsir Realitas dan Wacana” | Prakata: Jejak di Atas Jalan Bahasa
Tags: BahasaBukurealitaswacana
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Buku “Menafsir Realitas dan Wacana” | Prakata: Jejak di Atas Jalan Bahasa

Next Post

Puisi-puisi GM Sukawidana | Narasi Imajiner Memasuki Ruang Kosong Snerayuza

I Wayan Artika

I Wayan Artika

Dr. I Wayan Artika, S.Pd., M.Hum. | Doktor pengajar di Fakultas Bahasa dan Seni, Undiksha Singaraja. Penulis novel, cerpen dan esai. Tulisannya dimuat di berbagai media dan jurnal

Related Posts

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
0
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

Read moreDetails

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
0
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

Read moreDetails

Manusia Purba di Kota Denpasar

by Angga Wijaya
October 1, 2026
0
Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

Read moreDetails

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
0
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

Read moreDetails

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

by Chusmeru
September 30, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

Read moreDetails

Cara Sederhana Menilai Kesehatan Bangsa

by Putu Arya Nugraha
September 29, 2026
0
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter

PARA ahli sering berdebat mengenai kemajuan dan kesejahteraan negara kita, memakai berbagai indikator yang kadang sulit dipahami. Beberapa indikator yang...

Read moreDetails

Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

by Ahmad Hirzan Anwari
September 29, 2026
0
Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

PADA 12 September 2026, saya menerima informasi dari grup WhatssApp. Isinya permohonan delegasi untuk mengikuti latihan kader bela negara yang...

Read moreDetails

Kusala Sastra Katulistiwa yang Menyalakan Cahaya di Jalan Sunyi Sastra

by Emi Suy
September 29, 2026
0
Kusala Sastra Katulistiwa yang Menyalakan Cahaya di Jalan Sunyi Sastra

ADA jalan yang tidak pernah benar-benar ramai. Sastra berjalan di sana, kadang ditemani lampu kecil dari sebuah kamar, meja kerja...

Read moreDetails

Brigitta Hauser-Schäublin: Batur, “Pasihan”, dan Peluang Diskusi Setelahnya

by Jero Penyarikan Duuran Batur
September 28, 2026
0
Brigitta Hauser-Schäublin: Batur, “Pasihan”, dan Peluang Diskusi Setelahnya

Puspawacana penulis tujukan untuk mendiang Ibu Prof. Brigitta Hauser-Schäublin yang telah berpulang ke kedamaian pada medio 2025. Penulis mengucapkan terima...

Read moreDetails

Melamar Kerja Saat Usia Tak Lagi Muda

by Angga Wijaya
September 27, 2026
0
Melamar Kerja Saat Usia Tak Lagi Muda

DUA hari lalu, saat membuka media sosial, saya melihat informasi lowongan kerja sebagai kontributor penulis pada sebuah media online nasional....

Read moreDetails
Next Post
Puisi-puisi GM Sukawidana | Narasi Imajiner Memasuki Ruang Kosong Snerayuza

Puisi-puisi GM Sukawidana | Narasi Imajiner Memasuki Ruang Kosong Snerayuza

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

by Chusmeru
September 30, 2026
Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”
Budaya

Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”

TABANAN | TATKALA -- Dua pelajar muda asal Tabanan, Bali, I Putu Bagus Sastra Vedanta Wiyasa dan Ni Kadek Ayu...

by Rusdy Ulu
September 30, 2026
Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?
Opini

Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

PENDIDIKAN gratis kembali menjadi pembicaraan publik pasca Presiden Prabowo Subianto pada 18 September 2026 menyatakan komitmennya agar biaya pendidikan pada...

by Dini Nastiti Wardani
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co