22 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Buku “Menafsir Realitas dan Wacana” | Epilog: Mencari Pembaca

I Wayan Artika by I Wayan Artika
November 25, 2023
in Esai
Buku “Menafsir Realitas dan Wacana” | Epilog: Mencari Pembaca

Mungkin ada persaaan puas setelah selesai satu tulisan. Tapi lebih bahagia lagi jika tulisan ini mendapat pembaca. Menulis kemudian adalah sebuah perjuangan untuk mendapat pembaca. Pembaca tidak mudah diraih. Sangat ditentukan oleh kecocokan antara materi tulisan dan pembaca. Di tengah kesulitan itu, saya memang mendapat pembaca. Meskipun Terlalu sedikit. Setidaknya saya tidak hanya masturbasi (lagi).

Saya pernah tergelincir ke dalam situasi yang sangat sempit. Selingkup desa. Saya menulis satu persoalan konspirasi antara investor dan aparat desa. Yang akhirnya terjuallah tanah perkebunan milik warga secara paksa. Ada penipuan di sini. Yang paling saya tolak adalah pelanggaran teritori jalur hijau kuno yang membatasi alas tutupan dan pemukiman. Lalu saya menulis masalah ini. Berhasil dibaca banyak orang, di kalangan pembaca koran Bali Post. Dan, utamanya membuat heboh di desa saya.

Mendapat pembaca ternyata mudah. Tulis hal yang berkaitan dengan pembaca. Bisa pujian atau kritik. Tapi yang lebih mudah lagi mendapat pembaca adalah tulisan yang mengkritik pembaca, apalgi kiritik ini diterima sebagai hujatan atau pelecehan.

Hal ini memang bukan “resep” jitu bagi saya untuk mendapat pembaca (atau tidak dianjurkan). Cara ini terjadi secara alamiah dan jujur. Saya menulis topik yang memancing diri saya untuk berpendapat. Pun, berkali kali tersandung perkara dengan pembaca. Puncaknya adalah pada novel Inses, yang berlatar belakang Desa Batungsel, desa kelahiran saya. Novel ini saya perkaya dengan berbagai pengetahuan yang saya miliki, diberi oleh Bapak sebagai cerita ketika saya anak-anak, sebagai buah parenting seorang ayah.

Saya masih melewati beberapa kali kejadian buruk, akibat tulisan saya. Unjungnya permusuhan yang saya alami dengan pembaca yang dirugikan. Sungguh tidak enak. Tulisan yang bertentangan dengan pembaca tidak dihindari oleh pembaca itu sendiri tetapi justru sebaliknya, diburu. Pada skala yang lebih besar, inilah disebut tulisan yang memicu kontroversi.

Tulisan yang kontroversial bukan berarti jelek tetapi harus dikembalikan kepada wacana atau realitas yang ditulis. Benar, apakah ada kontroversi? Atau memang masyarakat pembaca sudah terbelah dalam kontroversi sebelum adanya tulisan. Maka tulisan pun harus berpihak atau sedikit lebih “aman” bagi penulis kalau dijadikan tulisan yang moderat.

Saya lebih paham setelah menulis epilog ini, tulisan-tulisan saya yang dibaca dan menimbulkan permusuhan di antara saya dan mereka adalah karena lewat tulisan, saya berpihak kepada salah satu kelompok. Tegasnya, masyarakat terbelah dalam pertentangan. Lantas tulisan yang dilempar ke tengah mereka menjadi infrastruktur memicu ”perang” terbuka. Dari banyak pengalaman ini saya dapat simpulkan kalau pada akhirnya sayalah yang terseret ke dalam pertentangan atau kontroversi itu. Sementara pihak yang diuntungkan atau yang dibela (walau ini hanya konsekuensi) di dalam tulisan pun cenderung bergeming. Maka saya sebagai penulis telah berani ambil risiko walaupun ketika satu tulisan disusun, sama sekali tidak sanggup memikirkannya. Kalau sudah dipikirkan, maka arah tulisan pasti belok. Pasti aman. Sehingga saya tidak dapat pengalaman masuk kandang harimau desa adat yang sangat ganas, bersama Bapak saya yang tidak sanggup lagi menjelaskan rasa cemas dan malunya; tidak sampai nginep di kantor Polsek Pupuan, tidak pernah menjalani ritual pengusiran dari desa.

Semua pengalaman itu ada dalam bingkai mendapatkan pembaca. Ada dua kategori pembaca: yang dikenal dengan baik (karena berdekatan) dan yang tidak. Pembaca yang dikenal dengan baik adalah pembaca yang dekat dengan penulis. Selebihnya tentu pembaca-pembaca yang jauh, waktu dan ruang.

Saya lebih banyak bermasalah dengan pembaca yang dekat. Mungkin ini satu prinsip yang saya kembangkan bahwa menulis bagi saya adalah untuk mengisi kekosongan teks tulisan di antara warga desa. Ada banyak sekali tulisan, entah buku atau berita di koran, tetapi tidak ada yang menulis tentang mereka dan hidupnya di Desa Batungsel. Anak-anak yang sekolah SD di Desa Batungsel juga tidak pernah membaca nama des aini di dalam buku Pelajaran. Karena itulah tanggung jawab saya sebagai penulis memulai dengan menghadirkan Batungsel di dalam tulisan-tulisan saya. Pembaca akan bertemu satu nama desa yang asing dan juga sangat sulit diucapkan. Jalan yang saya tempuh untuk hal ini adalah dalam cerpen. Sampai pada kasus novel Inses, yang saat terbit harus mengubah seting, dari Desa Batungsel, menjadi Jelungkap, lalu berubah lagi kelak dengan revisi besar, terbit sebagai edisi II, menjadi Kemoning; latar cerita saya selalu Desa Batungsel, dengan kebun kopi, sayong, Batukaru, jalan setapak, dengung lebah, harum bunga kopi, bunga sungenge dengan getah pahit (di Jawa Srengenge).

 Tulisan-tulisan saya memang pada akhirnya menghadirkan Desa Batungsel ke dunia baru: tulisan. Hal ini tentunya sangat mengagumkan. Setidaknya saya alami ketika SD. Pada satu buku di perpustakaan sekolah SD 1 Batungsel, saya bertemu buku bergambar penuh warna. Ada ular yang saya kenal di dalam habitatnya: sawah. Yang lain lebih memukai saya. Tulisan pendek dan foto-foto burung pemakan padi. Satu jenis adalah burung peking yang sama dengan burung yang saya sering pelihara ketika musim padi berbuah, namanya berbeda sedikit ”petingan” yang sungguh membuat saya tercengang. Kok  ada burung petingan di dalam buku sekolah? Bagaimana hal ini terjadi?

Pengalaman ini seperti memberi wawasan realitas baru bagi saya. Ada realitas sehari-hari hidup di desa dan ada realitas lain, realitas di atas buku atau realitas tertulis. Jika demikian halnya, buku jadi sangat menarik. Pembaca dapat menemukan hubungan erat antara realitas dengan tulisan di atas kertas. Inilah yang membuat saya sangat terkesan.

Pengalaman itu cukup lama jadi mimpi. Saya ingin sekali ada bacaan atau buku mengenai kehidupan di desa. Inilah yang banyak saya tulis dan menjadi satu cara untuk mendapat pembaca, selingkup desa. Ini sudah cukup. Lewat tulisan saya, mendapat pembaca dan materi bacaan ini dekat dengan mereka serta kehidupannya. Maka Batungsel adalah pilihan. Pun harus diterima karena pernah jadi malapetaka bagi saya.

Amat sedikit tulisan tersedia di desa saya. Apalagi yang berhubungan dengan berbagai variable kehidupan di desa. Saya pun banyak menulis tentang desa untuk mengisi dunia teks yang kosong. Harapannya, Masyarakat Batungsel, dapat membaca kehidupan mereka, sebagaimana ada banyak foto. Demikian juga harus ada banyak tulisan yang mendokumentasi kehidupan Batungsel. [T]

Catatan:

  • Tulisan ini diambil dari Epilog dalam buku “Menafsir Realitas dan Wacana” karya I Wayan Artika
Buku “Menafsir Realitas dan Wacana” | Prakata: Jejak di Atas Jalan Bahasa
Tags: BahasaBukurealitaswacana
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Buku “Menafsir Realitas dan Wacana” | Prakata: Jejak di Atas Jalan Bahasa

Next Post

Puisi-puisi GM Sukawidana | Narasi Imajiner Memasuki Ruang Kosong Snerayuza

I Wayan Artika

I Wayan Artika

Dr. I Wayan Artika, S.Pd., M.Hum. | Doktor pengajar di Fakultas Bahasa dan Seni, Undiksha Singaraja. Penulis novel, cerpen dan esai. Tulisannya dimuat di berbagai media dan jurnal

Related Posts

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
0
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

Read moreDetails

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

Read moreDetails

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
0
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

Read moreDetails

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
0
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

Read moreDetails

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
0
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

Read moreDetails

Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

by I Wayan Yudana
October 19, 2026
0
Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

ADA pemandangan yang belakangan terasa tidak biasa di Bali. Orang-orang rela antre berjam-jam di SPBU, bahkan bertahan hingga malam, demi...

Read moreDetails

Membaca “Nyama Selam”, Melampaui Perdebatan Kata

by Angga Wijaya
October 19, 2026
0
Membaca “Nyama Selam”, Melampaui Perdebatan Kata

SEBELUM memulai esai ini, izinkan saya menyampaikan penghargaan kepada IGA Darma Putra atas keterlibatannya dalam perbincangan mengenai istilah selam dan...

Read moreDetails
Next Post
Puisi-puisi GM Sukawidana | Narasi Imajiner Memasuki Ruang Kosong Snerayuza

Puisi-puisi GM Sukawidana | Narasi Imajiner Memasuki Ruang Kosong Snerayuza

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.
Ulas Buku

Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.

SUNGGUH beruntung, saya mendapatkan buku Karya Visual dengan Multi Sensorik karya IB Putra Adnyana ini. Meski baru sampai bab III...

by Hartanto
October 21, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

by Chusmeru
October 21, 2026
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami
Esai

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

by Angga Wijaya
October 20, 2026
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya
Esai

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co