3 June 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Buku “Menafsir Realitas dan Wacana” | Prakata: Jejak di Atas Jalan Bahasa

I Wayan Artika by I Wayan Artika
November 25, 2023
in Esai
Buku “Menafsir Realitas dan Wacana” | Prakata: Jejak di Atas Jalan Bahasa

(Mungkin kalimat awal yang tidak enak dibaca!) Ada empat keterampilan berbahasa. Maka hanya para penulis yang melakukan dengan lengkap. Keempatnya! Para penulis menyisakan atau meninggalkan dokumen. Berupa tulisan yang dicetak (print capitalism). Penulis menghasilkan produk berbahasa, entah buku risalah, resep masakan, mantra purba dari diksi-diksi bertanda salib dari sebuah kamus, surat-surat dari dunia yang dipingit, etnogafi persalinan seorang antropolog atau deskripsi desa yang serupa novel yang sangat memukau karena rel kereta membelah persawahan jadi dua bagian simestris, sebaris lirik, ramuan obat dari negeri usada, pengalaman di penjara, memoar sebuah pulau gulag, dan masih banyak contoh lain yang tiada berhingga.

Benarkan para penulis tidak perlu pembaca?

Apa harus tulisan mendapat para pembaca?

Untuk apa dan untuk siapa seorang menulis?

Beberapa genre atau jenis tulisan mengharuskan pembaca karena tulisan ini memang ditujukan untuk pembaca. Surat Kartini! Ini contoh yang baik. Tapi Gao Xinjian berbisik bahwa ia menulis untuk berbicara dengan dirinya sendiri.

Mungkin Anne Frank juga. Ia menulis perasaannya atas perang. Bagaimana dengan Darwin atau Wallace? Mereka para petualang dunia fosil dan pengoleksi specimen serangga. Setelah pulang dari Galapagos atau dari Malaya, mereka merawat koleksinya. Lantas menulis risalah-risalah. Untuk apa Darwin menulis? Dan, untuk apa Walace menulis? Apakah hanya untuk berbisik kepada dirinya sendiri? Tidak. Darwin menulis The Origin of Species untuk mengajukan teori baru mengenai asal mula kehidupan dan akan menentang  “Bab Kejadian” dalam Perjanjian Lama. Tugasnya sebagai penulis teori tidak selesai pada tersusunnya risalah tetapi masih harus menyebarkannya kepada masyarakat agar ada yang membaca. Untuk ini Darwin harus bekerja dengan perebit. Tapi tidak semua penerbit percaya penulis. Karena itu, buku Darwin ditolak sebelum dibaca.

Ada kekuatan lain yang ikut bermain dalam keterampilan menulis. Lembaga penerbitan dan industri percetakan. Merekalah yang getol menemukan penulis dan mencetak karya untuk dijual. Tiga keterampilan berbahasa lainnya gagal dalam hal ini.

Di atas dunia dagang. tulisan pun menjadi komoditas. Di sini penulis seolah mendapat pembaca. Tidak; tetapi hanya mendapat gerombolan para pembeli yang dimuliakan untuk menggerakan roda industri buku. Di tengah keadaan dunia yang seperti ini, para penulis tidak banyak yang ingin kaya dari tulisannya. Mereka sama sekali tidak bisa memprediksi tulisan mereka akan laku di pasar buku. Maka para editor penerbitan pun mencoba masuk untuk membantu penulis agar karya mereka laris di pasar.

Yang pertama bagi penulis adalah menyampaikan untuk dirinya sendiri. Jadi, demi sederhananya, Gao atau Anne Frank, dapat dibenarkan. Setelah sebaris kalimat usai para penulis tidak meninggalkan kalimat itu di atas kertas ketika tinta mengeras. Penulis kembali membacanya. Terjadi peristiwa metamorfosis: dari penulis jadi pembaca. Artinya, pembaca itu amat mutlak dalam dunia tulis-menulis. Penulis selalu butuh pembaca dan itu adalah irinya karena yang menjadi pembaca pertama setiap kalimat yang disusun adalah dirinya sendiri, penulis itu: K’tut Tantri, Soe Hok Gie, Linus Suryadi, dan siapapun penulis itu.

Para penulis pada mulanya adalah kaum mastubator!

Proses ini berkembang secara sosial, kelak setelah suatu tulisan dibaca ramai-ramai dan melewati abad-abad kemudian. Para pembaca pun hadir dalam konstelasi komunikasi tertulis. Mereka adalah penerima pesan yang (katanya) dikirim oleh penulis dari tempat, waktu, zaman lain yang jauh. Inilah hebatnya tulisan. Melewati waktu dan ruang. Semakin luas lagi dengan adanya pertimbangan tertentu seperti industri atau perdagangan buku atau idealisme penyebaran luas pemikiran. Maka lahirlah penerjemahan buku. Dunia pun diikat atau disatukan oleh pengetahuan yang sama. Di sini juga lahir pusat-pusat wacana dan pengetahuan yang dirujuk selama berabad-abad, sampai ditemukan tulisan lain ayng menyimpan pengetahuan atau wacana baru, baik kiranya untuk menggusur pusat-pusat yang telah ada.

Hubungan pembaca dan penulis sangat sulit diprediksi. Pembaca sama sekali tidak bisa diciptakan, lalu dikendalikan atau hanya dikontrol. Hal ini mungkin bagi tulisan-tulisan di sekolah atau uinversitas sebagai bacaan wajib.

Selebihnya pembaca bebas memilih buku yang dibaca. Maka penulis yang sukses meraih banyak pembaca adalah karena kebetulan belaka atau nasib baik. Penulis sama sekali, dengan demikian tidak mau pusing mengurus pembaca. Itu wilayah lain. Kiranya itu bukan bagian pekerjaan seorang penulis. Itu ranah yang tidak dijangkau. Artinya, penulis dan pembaca tidak bisa saling memengaruhi. Mereka merdeka mutlak. Tugas penulis hanya menulis. Pembaca hanya membaca. Yang pusing soal ini adalah industri buku (penerbitan, percetakan, toko buku). Print Capitalism yang baru saja lewat, sukses membangun Menara bisnis tulisan.

Bagi seorang penulis baru yang sedang masa masturbasi awal yang memabokkan, maka jangan sekali-sekali bercita-cita mendapat pembaca. Ini ide yang membunuh motivasi. Karena bertahun tahun atau lebih lama lagi, pembaca tak akan ada. Maka menulis hanyalah menulis dan untuk memenuhi hasrat pembaca, jadilah kaum mastubator.

Maka, Gao benar! Ia menjadi penulis terbaik untuk dirinya sendiri. Karena itu ia puas dan terus menulis. Tanpa target jadi penulis atau tak pernah menghitung dan berharap pembaca atau buku-bukunya dicetak dan tersebar luas. Juga berharap meraih Nobel Sastra! Tapi, ia hanya nulis untuk dirinya sendiri. Atau minimal bagi Kartini di ruang pingitan Jepara Pantura Jawa, menulis surat-surat kepada sahabat-sahabatnya di Negeri Belanda, seperti Stella. Tak ada maksud untuk terbit jadi Habis Gelap Terbitlah Terang. Kartini hanya menulis pengalaman jiwanya dalam pucuk-pucuk surat esai untuk diungkapkan. Surat-suratnya terkirim dengan gerobak ditarik sepasang sapi jawa berpunuk, menjadi salah satu pernik kecil di antara bergoni-goni hasil bumi Hindia Belanda yang dikeruk di tanah jajahan, melewati Posweg, menuju Pelabuhan di pesisir Semarang atau Batavia, naik kapal laut dan suatu musim yang telah berganti, tibalah jua di Pelabuhan di Negeri Belanda.

Kuasa penulis atas tulisannya tidak ada, sepanjang hidupnya sebatas merahasiakan. Seperti cerita Penyair Umbu Landu Paranggi yang menyelipkan puisi-puisinya di bawah kardus alas tidurnya di Kota Denpasar. Tapi kelak, sepeninggal para penulis itu, keluarganya secara tidak sengaja menemukan tulisan. Sejarah pembacaan telah dimulai di sini. Lantas, menyebar secara terbatas. Memicu rasa penasaran lebih banyak orang. Ujungnya terbit jadi buku, beredar luas. Mungkin ini Nasib baik.

Tapi memang sebaliknya, pengarang tidak hanya menulis dalam sunyi dan bagi dialog diri. Mereka juga berjuang  agar tulisannya dibaca. Sampai pada terbit jadi buku dan dijual di toko-toko atau dibeli untuk perpustakaan; masih mampu penulis lakukan dengan jejaring kerja industri buku. Tapi apakah buku ini dibaca atau tetap bergeming di rak toko atau perpustakaan; sama sekali berada jauh dari jangkauan dan harapan penulis. Buku-buku yang bernasib malang, segera dimasukkan kardus lagi. Tempat sangat terbatas di rak toko dan ada buku baru yang akan bertaruh uji nasibnya. Apakah buku-buku ini hanya akan mengulang nasib buku yang malang? Semua itu ada di tangan pembaca. Para pembaca penguasa.

Betapa terasa mulia sebuah buku yang baru dicetak. Hidup mati penulisnya. Tapi cerita bisa berbalik di masyarakat. Banyak buku tidak tersentuh pembaca. Buku ini gagal. Yang membaca hanya penulisnya.

Karena itu, pasti terlalu jemawa ucapan Gao (walaupun sejatinya realistis), menulis untuk berdialog dengan dirinya sendiri. Demikian adanya jika kehadiran pembaca mutlak dalam konstelasi penulis dan pemba. Tapi pada mulanya adalah aktivitas untuk diri sendiri. Siapapun penulis hanya menulis untuk dirinya sebagai syahwat purba dan ini tidak menjadi umum, untuk sebuah ”masturbasi”. Karena pembaca itu tidak jelas pada awalnya, misteri terbesar dunia kepenulisan, kalau saja itu menjadi target para penulis, maka mereka tidak pernah menulis.

Anne Frank, Soe Hok Gie, K’tut Tantri menuliskan kengerian Perang Dunia II dari mata kanak-kanak yang ras atau etniknya terancam; Gie menuliskan protes-protesnya dalam sunyi buku harian yang kelak menjadi Catatan seorang Demonstran; menulis bagi K’tut Tantri adalah dokumentasi kenangan indah dalam perjalanan mencari tanah impian, di sebuah negeri yang tengah dilanda revolusi, kelak jua menjadi Revolt in Paradise.

Syukurnya para penulis tidak pernah memulai untuk pembaca sebagai mana pengetian sosiologis atau bangunan pasar industri buku. Pada mulanya penulis memang dirinya sendiri. Prinsip hidupnya menjadikan ia bertahan sebagai penulis atau meninggalkannya. Pada tahap inilah seseorang adalah penulis. Mereka memilih menulis sebagai jalan bahasa.

Tapi peranan pembaca sangat besar. Bagi penulis ini untuk legitimasi jiwa atau pengakuan. Seorang penulis telah lolos uji. Tapi bagi industri atau kapitalisme kertas, pembaca adalah pasar. Kemuliaan ide dalam buku-buku tidak penting. Tetap sebagai tumpukan kertas dan tinta. Karena itu, jika semulia apapun buku yang tidak laku harus dikembalikan pada materialnya: kertas dan tinta. Lantas dirajang untuk mengepak barang-barang yang mudah pecah yang akan dikirim jauh. Atau diobral di loak. Amat jauh antara isi buku dan buku itu sendiri (kertas dan tinta).

Banyak penulis pada akhirnya menerima kemuliaan dari para pembacanya. Harga dirinya merangkak. Tulisan telah memberi posisi sosial yang tinggi. Itu artinya, pada sesi selanjutnya peranan pembaca sangat penting.

Jika saja saya menulis untuk pembaca, maka saya tidak akan menulis terus. Saya telah mencapai jalan menulis sejak lama, puluhan tahun. Ini bukan jalan orang banyak. Hanya keberuntungan yang paling dalam artinya bagi saya atau jalan sesat. Tapi saya merasa bahagia di jalan ini.  Saya memiliki pembaca walaupun tidak banyak. Saya memiliki belasan buku dan akan membedakan saya dengan mereka yang tidak memiliki karya. Buku dan banyak tulisan lain sebagai jejak di jalan bahasa.

Karena peranan pembaca itu sangat penting, saya pun berjuang untuk mendapat pembaca. Hal ini dilakukan dengan menulis di media massa. Satu tulisan yang dimuat adalah tabungan rasa bahagia yang panjang sehingga tetap dapat menulis tiada henti: dimuat atau tidak.

Era disrupsi mengubah makna pembaca dalam pandangan lama era print capitalism. Para redaktur penjaga mutu tulisan di industrI media dan buku sudah tidak diperlukan lagi. Menjadi penulis yang menulis saja, lagi-lagi seperti Gao. Media sosial adalah ruang baru bagi kultur menulis. Segala tulisan disebarkan di sini. Jadi, dalam konstelasi penulis dan pembaca, media sosial adalah savana luas sidang pembaca.

Di dunia media sosial itulah saya menyampaikan tulisan. Buku ini dibuat dari kertas dan tinta yang harum. Kembali ke era yang sudah ditinggalkan, walau tidak secara total. Dibutuhkan uang untuk membayar penerbit dan percetakan. Di sini saya menyampaikan terima kasih kepada Universitas Pendidikan Ganesha yang sepenuhnya mendanai buku ini dan untuk kesekian kalinya. Saya juga mengucapkan terima kasih kepada para sahabat yang mengelola media online yang telah memuat hampir seluruhnya dari tulisan ini. Ucapan terima kasih juga disampaikan kepada sejumlah mahasiswa yang kebetulan saya beri satu atau dua dari tulisan buku ini untuk dijadikan materi kuliah.

Kata kunci judul buku ini adalah ”menafsir”, ”realitas”, dan ”wacana”. Penulis, dari pandangan saya, selalu berurusan dengan realitas dan waca sebagai objek yang akan dipindahkan dengan suatu teknik ke atas ruang tulisan, entah digital atau kertas. Ada oposisi antara realitas dan wacana. Tulisan pun kemungkinan besar adalah berbagai takaran deskripsi atas realitas atau kenyataan dan wacana yang mengambang dalam dunia pikiran sosial. Tulisan dalam buku ini adalah disusun dengan metode interpretasi. Karena itulah judul buku ini demikian, Menafsir Realitas dan Wacana.

Mungkin suatu sikap yang menyederhanakan bahwa saya memahami suatu entitas sosial yang kompleks dalam atau lewat oposisi antara realitas dan wacana. Tafsir atau interpretasi terhadap realitas dan wacana akan mengubah keduanya untuk semakin subjektif. Pada akhirnya tulisan pun sama sekali tidak objektif. Ia hanya konstruksi yang bergantung kepada penulisnya. Kalau saja tulisan dibaca  dan diakui kehebatannya atau dipercaya oleh orang-orang di luar diri penulis, maka ini adalah sebuah kesamaan saja. Orang yang tidak menulis menggunakan tulisan orang lain yang dibacanya dan yang dipercayainya sebagai yang mewakili dirinya sendiri. Jadi, hanya itulah arti pembaca bagi tulisan. Maka hubungan yang ada di antara penulis dan pembaca adalah hubungan-hubungan yang subjektif dan bebas. [T]

Catatan:

  • Tulisan ini diambil dari Prakata dalam buku “Menafsir Realitas dan Wacana” karya I Wayan Artika
Buku “Menafsir Realitas dan Wacana” | Epilog: Mencari Pembaca
Tags: BahasaBukurealitaswacana
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

STAHN Mpu Kuturan Singaraja: 2 Guru Besar Dikukuhkan, 129 Mahasiswa Diwisuda

Next Post

Buku “Menafsir Realitas dan Wacana” | Epilog: Mencari Pembaca

I Wayan Artika

I Wayan Artika

Dr. I Wayan Artika, S.Pd., M.Hum. | Doktor pengajar di Fakultas Bahasa dan Seni, Undiksha Singaraja. Penulis novel, cerpen dan esai. Tulisannya dimuat di berbagai media dan jurnal

Related Posts

‘Nyama Kelod-Nyama Kaje’: Menakar Kerukunan Tradisional Menjadi Mesin Baru Pariwisata Inklusif Buleleng

by Eril Paizi
June 2, 2026
0
‘Nyama Kelod-Nyama Kaje’: Menakar Kerukunan Tradisional Menjadi Mesin Baru Pariwisata Inklusif Buleleng

JIKA ada wilayah di Bali yang paling fasih merawat keberagaman jauh sebelum kosakata "moderasi" riuh diperdebatkan di ruang-ruang seminar, tempat...

Read moreDetails

‘Teror Pocong’ dan Hantu-Hantu di Singgasana Kekuasaan

by Early NHS
June 2, 2026
0
(Semoga) Tak Ada Revolusi Hari Ini!

BELAKANGAN ini, pocong sedang ramai dibicarakan. Berbagai video pendek yang menampilkan sosok berkain kafan beredar luas di media sosial, pesan...

Read moreDetails

(Tidak Ada) Literasi Digital

by I Wayan Artika
June 2, 2026
0
(Tidak Ada) Literasi Digital

LITERASI digital berkaitan dengan proses kognitif terhadap apa yang dilihat seseorang pada layar komputer ketika menggunakan media yang terhubung melalui...

Read moreDetails

Bali Sané Mangkin: Pembiasaan Laku Malalaksana?

by Rsi Suwardana
June 1, 2026
0
Bali Sané Mangkin: Pembiasaan Laku Malalaksana?

PEMBIASAAn terhadap cara pandang ataupun perbuatan yang tidak sepantasnya (mala-laksana/malalaksana) adalah benalu. Pembiasaan ini mengaburkan batas antara yang patut dan...

Read moreDetails

Perayaan Hari Lahir Pancasila Zaman Now, Dari Seremoni Menuju Kesadaran Kolektif

by Agung Sudarsa
June 1, 2026
0
Perayaan Hari Lahir Pancasila Zaman Now, Dari Seremoni Menuju Kesadaran Kolektif

Hari Lahir Pancasila: Merayakan Gagasan Besar Bangsa Setiap tanggal 1 Juni bangsa Indonesia memperingati Hari Lahir Pancasila. Pada hari itu,...

Read moreDetails

Awas Ada Pocong!

by Dede Putra Wiguna
May 31, 2026
0
Awas Ada Pocong!

BELAKANGAN ini, masyarakat di berbagai daerah di Indonesia dihebohkan oleh kemunculan ‘pocong jadi-jadian’. Sosok yang biasanya ada dalam cerita horor...

Read moreDetails

Membaca Kembali W.S. Rendra di Tengah Wacana Penutupan Prodi

by Ahmad Fatoni
May 31, 2026
0
Membaca Kembali W.S. Rendra di Tengah Wacana Penutupan Prodi

……………..Aku bertanya:Apakah gunanya pendidikanbila hanya akan membuat seseorang menjadi asingdi tengah kenyataan persoalannya?Apakah gunanya pendidikanbila hanya mendorong seseorangmenjadi layang-layang di...

Read moreDetails

Wisata Bahari di Negeri Maritim

by Chusmeru
May 31, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

BERUNTUNG Indonesia memiliki alam yang penuh pesona. Laut menjadi salah satu kekayaan alam yang membanggakan. Luas wilayah laut Indonesia mencapai...

Read moreDetails

FOR HATI BALI: Ketika Cinta pada Bali Menjadi Tindakan

by Agung Sudarsa
May 31, 2026
0
FOR HATI BALI: Ketika Cinta pada Bali Menjadi Tindakan

Dari Kegelisahan Menuju Gerakan Moral BALI sedang berada pada persimpangan zaman. Di satu sisi, pulau ini menikmati pertumbuhan ekonomi yang...

Read moreDetails

Dari Candi Pustaka hingga Monumen Puja: Jejak Spiritualitas Ida Sri Pandita Buddha Raksitha

by IGP Weda Adi Wangsa
May 30, 2026
0
Dari Candi Pustaka hingga Monumen Puja: Jejak Spiritualitas Ida Sri Pandita Buddha Raksitha

CANDI Pustaka merupakan istilah yang sering dipakai oleh seorang rakawi (penyair sastra Jawa Kuno) untuk menyebut karya sastranya sebagai medium...

Read moreDetails
Next Post
Buku “Menafsir Realitas dan Wacana” | Epilog: Mencari Pembaca

Buku "Menafsir Realitas dan Wacana" | Epilog: Mencari Pembaca

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Pandemi, Hukum Rta, dan Keimanan Saya

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cinta dan Penyesalan | Cerpen Dede Putra Wiguna

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

‘Nyama Kelod-Nyama Kaje’: Menakar Kerukunan Tradisional Menjadi Mesin Baru Pariwisata Inklusif Buleleng
Esai

‘Nyama Kelod-Nyama Kaje’: Menakar Kerukunan Tradisional Menjadi Mesin Baru Pariwisata Inklusif Buleleng

JIKA ada wilayah di Bali yang paling fasih merawat keberagaman jauh sebelum kosakata "moderasi" riuh diperdebatkan di ruang-ruang seminar, tempat...

by Eril Paizi
June 2, 2026
Ketika Veni Calista dan Jesselyn Lauwreen Mengulek Sambal di Ubud Food Festival 2026
Persona

Ketika Veni Calista dan Jesselyn Lauwreen Mengulek Sambal di Ubud Food Festival 2026

SORE itu, aroma cabai, terasi, dan rempah-rempah perlahan memenuhi Teater Kuliner Ubud Food Festival 2026. Di atas panggung, tak ada...

by Dede Putra Wiguna
June 2, 2026
Ke Pacet Mereka Kembali
Tualang

Ke Pacet Mereka Kembali

DI pertigaan Krian arah Mojosari, kendaraan berplat L dan W beriring-iringan menyesaki jalan menuju ke titik yang sama. Mobil-motor dari...

by Jaswanto
June 2, 2026
(Semoga) Tak Ada Revolusi Hari Ini!
Esai

‘Teror Pocong’ dan Hantu-Hantu di Singgasana Kekuasaan

BELAKANGAN ini, pocong sedang ramai dibicarakan. Berbagai video pendek yang menampilkan sosok berkain kafan beredar luas di media sosial, pesan...

by Early NHS
June 2, 2026
Menjaga Tradisi, Menemukan Rasa  —Pelajaran dari Jepang dan Thailand di Ubud Food Festival 2026
Panggung

Menjaga Tradisi, Menemukan Rasa —Pelajaran dari Jepang dan Thailand di Ubud Food Festival 2026

PADA hari terakhir Ubud Food Festival 2026, Minggu, 31 Mei 2026, Rumah Kayu, Taman Kuliner Ubud dipenuhi pengunjung yang datang...

by Dede Putra Wiguna
June 2, 2026
(Tidak Ada) Literasi Digital
Esai

(Tidak Ada) Literasi Digital

LITERASI digital berkaitan dengan proses kognitif terhadap apa yang dilihat seseorang pada layar komputer ketika menggunakan media yang terhubung melalui...

by I Wayan Artika
June 2, 2026
Everything is Doing Something: Material yang Membawa Ingatan
Ulas Rupa

Everything is Doing Something: Material yang Membawa Ingatan

Persepsi apa yang tertinggal pada sebuah kayu yang telah menjadikannya arang? Kerapuhan? Ketidakutuhan? Atau justru kesan hitam yang solid? Begitu...

by Made Chandra
June 2, 2026
PT Garuda Mas Anugerah Resmikan Kantor di Bali: Beri Awarding Bagi Para Afiliator, Perluas Jangkauan Pelayanan di Kawasan Indonesia Timur
Ekonomi

PT Garuda Mas Anugerah Resmikan Kantor di Bali: Beri Awarding Bagi Para Afiliator, Perluas Jangkauan Pelayanan di Kawasan Indonesia Timur

Ketika namanya disebut, Ni Ketut Sari langsung berteriak kegirangan. Teriakannya, langsung disambut seluruh peserta yang hadir memenuhi ruangan, seperti para...

by Nyoman Budarsana
June 1, 2026
’Africa’ dan Kerinduan Universal: Lagu Pop sebagai Doa Sekuler Kemanusiaan
Ulas Musik

’Africa’ dan Kerinduan Universal: Lagu Pop sebagai Doa Sekuler Kemanusiaan

LAGU ”Africa” karya Toto sering dibaca secara dangkal sebagai romansa eksotis atau nostalgia pop era 1980-an. Namun jika ditempatkan dalam...

by Ahmad Sihabudin
June 1, 2026
Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik
Khas

Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

Di bawah langit Mei yang teduh, halaman SMPN 2 Banjar kembali dipenuhi cahaya kebanggaan. Bulan yang identik dengan harum tanah...

by Putu Agus Eka Pradnyana
June 1, 2026
Ki Ai Nirnur —Ketika Ogoh-Ogoh Bertanya tentang Kita
Ulas Film

Ki Ai Nirnur —Ketika Ogoh-Ogoh Bertanya tentang Kita

SORE itu, 31 Mei 2026, Cinepolis di Plaza Renon, Denpasar, terasa berbeda. Tidak ramai seperti biasanya. Tidak ada antrean panjang...

by Satria Aditya
June 1, 2026
Bali Sané Mangkin: Pembiasaan Laku Malalaksana?
Esai

Bali Sané Mangkin: Pembiasaan Laku Malalaksana?

PEMBIASAAn terhadap cara pandang ataupun perbuatan yang tidak sepantasnya (mala-laksana/malalaksana) adalah benalu. Pembiasaan ini mengaburkan batas antara yang patut dan...

by Rsi Suwardana
June 1, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co