14 May 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Pertemuan Sejarah dan Pariwisata: Perihal Kebebasan Sejarah

I Wayan Artika by I Wayan Artika
September 25, 2023
in Ulas Buku
Pertemuan Sejarah dan Pariwisata: Perihal Kebebasan Sejarah

Buku Prosa Gerilya

Pahlawan Tak Dikenal

Sepuluh tahun yang lalu dia terbaring
Tetapi bukan tidur, sayang
Sebuah lubang peluru bundar di dadanya
Senyum bekunya mau berkata, kita sedang perang

Dia tidak ingat bilamana dia datang
Kedua lengannya memeluk senapang
Dia tidak tahu untuk siapa dia datang
Kemudian dia terbaring, tapi bukan tidur sayang

Wajah sunyi setengah tengadah
Menangkap sepi padang senja
Dunia tambah beku di tengah derap dan suara merdu
Dia masih sangat muda

Hari itu 10 November, hujanpun mulai turun
Orang-orang ingin kembali memandangnya
Sambil merangkai karangan bunga
Tapi yang nampak, wajah-wajahnya sendiri yang tak dikenalnya

Sepuluh tahun yang lalu dia terbaring
Tetapi bukan tidur, sayang
Sebuah peluru bundar di dadanya
Senyum bekunya mau berkata: aku sangat muda.

Demikianlah sebuah puisi nostalgia perang-perang kemerdekaan. Setelah perang dibangun monumen perjuangan di titik-titik pertempuran, gerilya, atau jalan penyingkiran. Yang selamat menjadi vetaran. Yang gugur mendapat predikat pahlawan yang dikubur di taman kusuma bangsa atau yang lebih besar jasanya mendapat anugerah pahlawan nasional, seperti I Gusti Ngurah Rai. Tidak hanya sebatas itu, namanya diabadikan menjadi nama bandara internasional di Bali, nama-nama jalan di berbagai kota, posternya dicetak dan dipasang di berbagai kantor atau kelas sekolah. Mata uang juga merekam wajah, nama, dan atribut pahlawannya.

Puisi ”Pahlawan Tak Dikenal” adalah monumen sastra. Dalam pelajaran bahasa di sekolah rasanya kalimat ”pahlawan tak dikenal” ini sebagai mitos. Hanya ciptaan penyair karena terasa indah dan heorik dalam kesendirian dan tidak memiliki nama. Tapi seperti yang ditulis oleh Andre Syahreza (2023) dalam Prosa Gerilya, Mengurai Kisah Ngurah Rai, itu tidak mitos. Pahlawan tak dikenal memang ada!

 Di barisan paling belakang, dari arah pusara I Gusti Ngurah Rai, Taman Kusuma Bangsa Marga Rana, sebuah makam dengan ukuran lebih besar dari kebanyakan makam, setelahn makam Ngurah Rai, adalah makam dengan nisan bertuliskan ”Pahlawan Tak Dikenal”. Karena itu, puisi Toto Sudarto Bachtiar adalah realitas. Di sini sastra itu tidak lagi hubungan yang kabur antara realitas dan dunia sastra itu sendiri tetapi historis.

 Tapak tilas sastra dalam bentuk prosa dari jejak atau jalan gerilya I Gusti Ngurah Rai sampai ke titik-titik yang bersejarah dengan bangunan tugu peringatan atau monumen perjuangan. Semua nasib monumen perjuangan setali tiga uang. Muram. Dilupakan. Tidak dianggap penting. Bahkan, api patriotisme Taman Kusuma Bangsa Marga Rana hanya dimaknai sebatas tempat aman aktivitas berpacaran. Ironis memang. Untuk ini, pihak pengelola memberi peringatan ”dilarang berpacaran di kompleks makam pahlawan”. Literasi sejarah tidak terpatri pada diri masyarakat karena pelajaran sejarah gagal. Sehingga sejarah tidak penting.

Andre Syahrezaberkali-kali menegaskan tugu peringatan yang diabaikan. Tinggal jargon besar, ”bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai jasa-jasa para pahlawannya.” Atau tidak ada cukup makna pada kata-kata Presiden Soekarno yang dikutipnya dari sehabis mengunjungi museum perjuangan di luar negeri ”Don’t leave history” yang dikenal dalam terjemahan bahasa Indonesia ”Jangan sekai-kali melupakan sejarah” disingkat jasmerah.

 Taman makam pahlawan dan puluhan tugu perang atau titik-titik peringatan yang bersejarah, hingga pada tahun-tahun awal kemerdekaan masih bermakna untuk memori, lebih-lebih bagi para veteran. Kemudian, taman makam pahlawan atau tugu-tugu pertempuran itu semakin penting hanya bagi sisa-sisa para veteran yang sudah beranjak tua. Pemerintah tiba-tiba ingat taman makam pahlawan atau monumen-monumen perjuangan tentara/rakyat ketika memperingatai HUT Negara Indonesia atau memperingati hari pahlawan (10 November, Hari Pahlawan Surabaya) dan khusus untuk Bali tentu saja tanggal 20 November (Hari Puputan Margarana).

 Selebihnya, taman makam pahlawan hanyalah tempat yang aman untuk berpacaran (?). Demikian pula, museum yang dibangun di kompleks Taman Kusuma Bangsa Marga Rana  harus mengunci pintunya, debu-debu menempel pada topi baja atau senapan.

 Tulisan ini membahas buku Prosa Gerilya dengan menggunakan teori analisis isi atau content analysis yang menekankan pada aspek isi atau informasi yang disampaikan. Walaupun kajian ini sudah lama dikenal di dunia penelitian sosial dan humaniora, para peneliti tidak bisa berpaling. Hal ini menunjukkan suatu esensi dalam narasi atau teks, yakni informasi yang disampaikan.

 Di samping menggunakan analisis isi, juga akan dibahas dari aspek strukturnya. Struktur adalah cara pengarang menyampaikan ceritanya atau dalam hal ini cara yang digunakan Andre Syahreza ”mengurai kisah Ngurah Rai” (anak judul).

 Analisis isi fokus kepada kandungan informasi atau pengetahaun di dalam teks. Dalam ilmu komunikasi sering disebut pesan. Analisis isi tidak hanya memberi pengetahuan kepada pembaca. Analisis isi mampu memotret arkeologi pengetahuan penulisnya. Buku adalah kumpulan pengetahuan penulisnya yang dipindahlan dari otak ke atas kertas atau ke dalam media digital. Analisis isi juga memberi informasi cara kerja penulis. Karena menggunakan analisis isi, selanjutnya disampaikan keluasan pengetahuan yang disampaikan di dalam buku ini.

 Dimulai dari deskripsi atau narasi mengenai Kota Singaraja, dengan fokus analisis pada SMAN 1  atau lambang Kabupaten Buleleng. Pada bagian awal buku ini mulai disinggung puputan  sebagai salah satu teknik berperang. Pembicaraan ini bersumber pada perang tradisional yang kontroversial dan dikaitkan dengan Puputan  Margarana.

Andre mengakui bahwa dirinya tidak menyukai sejarah. Itu dulu Ketika ia menjadi pelajar.  Tapi Prosa Gerilya (Proxy Media, 2023) telah membantahnya. Ia pecinta sejarah dan dia mengurai sejarah. Buku ini menjadi satu versi sejarah Ngurah Rai. Tidak ada penjelasan bagimana cinta sejarah itu lahir kemudian? Dan, itu jatuh pada Ngurah Rai? Hal ini mungkin subjektif namun mengandung argumen atau justifikasi yang tidak dituliskan di dalam buku ini. Buat apa? Alasan jatuh cinta atas sejarah tidak penting. Yang terpenting adalah mengurai sejarah itu dengan cara sendiri, entah menjadi Prosa Gerilya atau yang lain.

Andre mengritik pelajaran sejarah dan ini memang demikian adanya. Para sejarawan tidak pernah sanggup membina masyarakat agar tidak menderita mati rasa sejarah. Mungkin pengajaran sejarah memang salah metode. Terlalu mengguri siswa! Siswa ditenggelamkan dalam fakta sejarah (tahun, nama, dan peristiwa) tanpa pengolahan yang kreatif. Di sini siswa adalah objek sejarah.

Kondisi ini berbalik dari keadaan tersebut. Andre mengurai sejarah gerilya Ngurah Rai menjadi satu buku. Tentu hal ini terlalu jauh dalam pengajaran sejarah. Namun demikian jadi model dalam pengajaran sejarah dengan mendekonstruksi hubungan materi sejarah dan siswa. Arah pelajaran sejarah harus dibalik dengan menempatkan siswa sebagai subjek. Merekalah mereproduksi dan merekonstruksi sejarah. Hasil yang dicapai dalam metode ini adalah produk nyata berupa buku atau entah genre teks lainnya, seperti film, testimoni, cerpen, catatan-catatan pribadi. Pengajaran sejarah adalam menulis ulang sejarah itu. Ini dilakukan oleh siswa sendiri.

Buku ini adalah contohnya. Sejarah gerilya Ngurah rai ditulis ulang. Dengan cara sendiri. Dengan pendekatan yang sama sekali berbeda dengan teori penulisan sejarah atau hitoriografi. Dengan demikian benar bahwa sejarah adalah konstruksi peristiwa. Bedanya dengan Andre dan para sejarawan adalah dalam menggunakan bahan-bahan menulis sejarah. Andre Syahreza menggunakan pengalaman hari ini dan buku-buku yang telah dibacanya.

Dari segi konten atau isi, buku ini menyinggung sedikit Pantai Lovina. Hal ini mencerminkan betapa pentingnya tempat wisata ini. Kembali ke soal ini yang relevan dengan kisah Ngurah Rai, adalah pennyebutan dan uraian mengenai Pantai Temukus dana Perang Ringdikit, long march. Di luar tsejarah perang dan dalam waktu sesudahnya, kota-kota memiliki tradisi menamai jalan dengan nama Pahlawan.

Komentar Media Indonesia yang dikutip di sampul depan menyatakan, ”kadang terasa seperti membaca buku sejarah; kadang juga seperti buku traveling”, benar adanya. Buku ini disusun dari dua kategori pengetahuan: sejarah dan pariwisata.

Ubud ditulis sebagai pusat wisata dunia dan penulis kembali ke masa lahir Ngurah Rai (1917). Pada bagian ini Andre mengawinkan sejarah dan pariwisata. Tahun lahir Ngurah Rai dipandang sebagai Bali era kolonial dan pariwisata belum terjadi di Bali. Ini adalah teknik mengurai kisah Ngurah rai yang ditempeli varibel lain: dalam hal ini pariwisata (karena Andre Syahreza adalah wartawan pariwisata). Masih pada tahun-tahun kelahiran Ngurah Rai, ditulis dalam buku ini sejarah pariwisata Bali dengan menebutkan Henri Huberr van Kol adalah wisatawan pertama mengunjungi Bali. Pada bagian ini, dijelaskan promosi Bali karena datangnya para penulis Eropa. Ini mengandung konsep wisata sastra ketika sastra atau buku memberi sumbangan kepada promosi suatu destinasi.

”Misi” pariwisata dalam buku ini, mungkin tampak sebagai variabel kedua, selalu disisipi oleh Ngurah Rai, Andre menggali ingatan orang-orang yang bekerja di sektor pariwisata, seperti di salah satu resort di Ubud, mengenai Ngurah Rai. Sudah bisa ditebak, tidak banyak ingatan yang tersisa soal Ngurah rai, selain sebagai nama bandara internasional.

Tidak hanya monumen perjuangan yang diabaikan kini tetapi juga Ngurah Rai dan kisahnya. Mengaitkan Ngurah Rai sebatas nama bandara internasional yang sibuk, tentu lebih produktif di era pariwisata modern di Bali. Banda adalah infrastruktur terpenting untuk mendatangkan wisatawan mancanegara.

Pariwisata Bali di mata Andre Syahreza adalah bali hari ini. Bali ketika Ngurah Rai kecil hingga 1945 atau 1946 adalah masa lalu. Pengetahuan-pengetahuan di dalam buku ini dikonstruksi pada kedua pembagian waktu tersebut. Buku ini memilah isinya menjadi dua berdasarkan zona waktu: waktu Ngurah rai dan waktu pariwisata. Walaupn terkadang Andre pergi terlalu jauh dan dalam kepada masa kecil Ngurah Rai, terlepas dari bayang-bayang untuk mengkomparasikan waktu itu dengan Bali saat ini.

Menguarai kisah Ngurah Rai memang merupakan satu versi sejarah, dengan campuran pengetahuan yang dengan sadar selalu diakitkan dengan biografi gerilya Ngurah Rai, pengetahuan yang dikutip dan dikonstruksi di dalam buku ini cenderung bersifat interpretatif. Pengetahuan dalam buku ini telah melewati subjektivitas konstruksi penulisnya sndiri. Andre memang tidak sedang menulis artikel jurnal atau menulis laporan jurnalistik.

Andre Syahreza menulis Prosa Gerilya secara subjektif. Membangun pijakan pengetahuan yakni biografi Ngurah Rai dan menempeli berbagai pengetahuan di luar itu dan dengan cara logis bagian-bagian pengetahuan itu dapat relevan dan mempertebal/memperkaya buku ini. Dengan konsep itu, buku ini adalah konstruksi atau kompilasi aneka pengetahuan yang kaya dan luas penulisnya.

Jadi, perkara menulis adalah tidak lagi teknik tetapi isi. Mungkin sedikit bantuan teori intertekstualitas dapat memahami cara kerja penulis. Buku ini adalah wadah percampuran pengetahuan yang telah ada yang disaring oleh penulis dengan suatu alat. Buku ini mengacu ke berbagai sumber, seperti pengalaman dan buku-buku lainnya.

Andre ternyata tetap patuh pada konvensi biografi. Ia masuk ke masa-masa sekolah Ngurah Rai.

Alur biografi Ngurah Rai memang sebagai pijakan. Ini kisah bsarnya sesuai dengan anak judul, Andre kemudian memotong alur itu untuk menempatkan informasi atau narasi-narasi pariwisata atau narasi-narasi lainnya. Terkadang nyambung tetapi sering juga tidak nyambung. Setelah membicarakan pendidikan Ngurah Rai, Andre menulis mengenai hubungan orang Bali dengan pariwisata. Walaupun kemudian, pada beberapa halaman lainnya diceritakan keluarga Ngurah Rai. Selain biografi dan pariwisata, Andre juga membicarakan teori-teori sejarah. Hal ini sebagai kesadaran bahwa dia sedang mengurai sejarah.

Dengan mengawinkan sejarah atau biografi gerilya Ngurah Rai dengan pariwisata, sejarah tidak hanya data/faktual tetapi juga konstruksi kontekstual. Teknik mengurai sejarah seperti ini mungkin belum ada dalam historiografi. Karena itu tidak hanya faktual, sejarah cenderung ke masa lalu. Andre menulis sejarah dengan menggunakan dua perspektif waktu yang tidak lagi leksikal. Dengan demikian, sejarah yang ditulis adalah tarik ulur antara masa lalu dan masa kini. Sayang sekali sejarawan terbelenggu waktu sejarah dan tidak pernah terpikir menulis sejarah dengan dua perspektif waktu.

Dalam penulisan sejarah hanya digunakan satu garis waktu tempat terjadinya perisitiwa. Biografi gerilya Ngurah Rai adalah satu garis konvensional dalam hitoriografi professional. Namun dalam buku ini dikombinasikan dengan garis waktu lain, yaitu perkembangan desa-desa di Bali karena pariwisata.

Tentu cara ini tidak digunakan dalam menulis sejarah karena sejarah harus fokus, independen, dan tunggal. Buku ini menggunakan cara lain, yaitu menggabungkan sejarah yang sudah ada dengan perkembangan wisata. Di sini dipertemukan sejarah dan pariwisata.

Dari segi isi, buku ini mengandung informasi sejarah gerilya Ngurah Rai yang sejalan dengan buku-buku sejarah yang sudah ada dan resmi atau teruji. Menulis kembali sejarah akan menghasilkan versi baru namun tetap dipayungi oleh sejarah resmi. Pengajaran dan konsumsi sejarah masih terpaku pada sejarah resmi. Model ini pernah digunakan oleh Pemerintah Orde Baru untuk melakukan legitimasi dan mungkin masih terjadi sampai saat ini sehingga sejarah alternatif atau versi-versi lain tidak ada.

Sejarah tidak selesai tetapi dinamis. Sejarah selalu dapat diurai dengan berbagai cara, seperti yang dilakukan Andre Syahreza. Sejarah selalu bisa direproduksi. Sejarah dapat ditulis terus-menerus oleh siapapun dengan caranya sendiri. Sejarah adalah apa yang diceritakan secara lisan dan bebas. Setiap orang memiliki kebebasan dalam menceritakan sejarah. Dengan demkian, sejarah berbicara sepanjang waktu. [T]

  • BACA artikel lain dari penulis I WAYAN ARTIKA
“Prosa Gerilya: Mengurai Kisah Ngurah Rai” Dalam Festival Powerful Indonesia The Apurva Kempinski Bali
Bayang-Bayang Belanda di Bali Abad XIX: Catatan dari Kidung Bhuwana Winasa dan Yadnyeng Ukir Karya Ida Padanda Ngurah
Ngurah Parsua dan Karyanya: Prosa yang Reflektif, Puisi yang Jernih
Tags: MargaranapahlawanPariwisatasastra
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Ulah Telu dalam Niti Raja Sasana: Cara Menakar Rekam Jejak Pemimpin dari Literasi Politik Bali

Next Post

Keberadaan Diri dalam Psikoanalisa dan Mindfulness

I Wayan Artika

I Wayan Artika

Dr. I Wayan Artika, S.Pd., M.Hum. | Doktor pengajar di Fakultas Bahasa dan Seni, Undiksha Singaraja. Penulis novel, cerpen dan esai. Tulisannya dimuat di berbagai media dan jurnal

Related Posts

Makassar yang Sempat Terabaikan

by Moch. Ferdi Al Qadri
April 16, 2026
0
Makassar yang Sempat Terabaikan

Judul: Makasssar Nol Kilometer Penulis: Anwar J. Rahman, dkk. Penerbit: Tanahindie Press Tahun: 2014 Halaman: xviii + 255 MAKASSAR-NYA satu,...

Read moreDetails

Menggugat Kanon, Mengarsip yang Obskur

by Farhan M. Adyatma
March 27, 2026
0
Menggugat Kanon, Mengarsip yang Obskur

Judul: Terdepan, Terluar, Tertinggal: Antologi Puisi Obskur Indonesia 1945-2045 Penulis: Martin Suryajaya Penerbit: Anagram Tahun terbit: Agustus 2020 Jumlah halaman:...

Read moreDetails

‘Coming Up For Air’, Menghirup Udara yang Tak Lagi Sama

by Radha Dwi Pradnyani
March 25, 2026
0
‘Coming Up For Air’, Menghirup Udara yang Tak Lagi Sama

Judul: Menghirup Udara Segar Judul Asli: Coming Up For Air Penulis: George Orwell Penerjemah: Berliani M. Nugraha Tahun Terbit: 2021...

Read moreDetails

Tubuh, Ingatan, dan Sebuah Paradoks —Membaca Kembali ‘Perawan Remaja dalam Cengkeraman Militer’

by Inno Koten
March 22, 2026
0
Tubuh, Ingatan, dan Sebuah Paradoks —Membaca Kembali ‘Perawan Remaja dalam Cengkeraman Militer’

YANG orang ingat dari Pramoedya Ananta Toer (Pram) adalah ikhtiarnya untuk menyelamatkan martabat manusia. Ia menulis tentang mereka yang kalah,...

Read moreDetails

Di Hati Kami Orang Indonesia —Perempuan Swiss di Sumatra dan Jawa Selama 25 tahun: 1920-1945

by Sigit Susanto
March 17, 2026
0
Di Hati Kami Orang Indonesia —Perempuan Swiss di Sumatra dan Jawa Selama 25 tahun: 1920-1945

Judul: Im Herzen waren wir Indonesier Penulis: Gret Surbeck Penerbit: Limmat Verag, 2007 Tebal: 508 Bahasa : Jerman Christa Miranda, menemukan...

Read moreDetails

Membaca Luka Digital dan Kegelisahan Zaman  —Ulasan Buku Puisi ‘Anak-anak Luka di Dunia Maya’ Karya Yahya Umar

by Dian Suryantini
March 13, 2026
0
Membaca Luka Digital dan Kegelisahan Zaman  —Ulasan Buku Puisi ‘Anak-anak Luka di Dunia Maya’ Karya Yahya Umar

SASTRA sering kali menjadi cermin paling jujur bagi kehidupan sosial. Sastra tidak selalu menyampaikan fakta dalam bentuk angka, statistik, atau...

Read moreDetails

Ingatan, Kehilangan, dan Perlawanan dalam ‘Laut Bercerita’

by Muhammad Khairu Rahman
March 8, 2026
0
Ingatan, Kehilangan, dan Perlawanan dalam ‘Laut Bercerita’

NOVEL Laut Bercerita karya Leila S. Chudori merupakan salah satu karya sastra Indonesia kontemporer yang menghadirkan luka sejarah sebagai ruang...

Read moreDetails

Sugianto Membongkar Bali

by Wayan Esa Bhaskara
March 8, 2026
0
Sugianto Membongkar Bali

Judul Buku    : Aib Penulis          : I Made Sugianto Penerbit        : Pustaka Ekspresi Cetakan         : Pertama, Januari 2026 Tebal              :...

Read moreDetails

Catatan Kecil Tentang ‘Dokter Gila’ Karya Putu Arya Nugraha

by Putu Lina Kamelia
February 28, 2026
0
Catatan Kecil Tentang ‘Dokter Gila’ Karya Putu Arya Nugraha

Judul Buku : Dokter Gila Penulis : dr. Putu Arya Nugraha Penerbit : Tatkala Tahun : 2025 RUMAH itu mungil...

Read moreDetails

Membaca ‘Lampah Sang Pragina’, Membicarakan Kasta yang Itu-itu Saja  

by Wayan Esa Bhaskara
February 20, 2026
0
Membaca ‘Lampah Sang Pragina’, Membicarakan Kasta yang Itu-itu Saja  

Judul Buku: Lampah Sang Pragina Penulis: Ketut Sugiartha Penerbit: Pustaka Ekspresi Cetakan: Pertama, November 2025 Tebal: 116 halaman ISBN: 978-634-7225-31-3...

Read moreDetails
Next Post
Kemajuan Manusia dan Kestabilan Mental

Keberadaan Diri dalam Psikoanalisa dan Mindfulness

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Karena Tak Sabaran, Tika Pagraky Luncurkan Tiga Lagu Sekaligus dan Buka Cerita di Balik “Bli Made”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cinta dan Penyesalan | Cerpen Dede Putra Wiguna

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

“Parasocial Relationship”: Antara Hiburan, Pelarian Emosional, dan Strategi Komunikasi Bisnis di Era Digital
Esai

Etika dan Empati di Atas Panggung: Peran MC dalam Menjaga Marwah Acara

PERISTIWA viral pada lomba cerdas cermat MPR baru-baru ini menjadi refleksi penting mengenai urgensi profesionalisme seorang Master of Ceremony (MC)...

by Fitria Hani Aprina
May 13, 2026
Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI
Esai

Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI

JAUH sebelum ada teknologi kecerdasan buatan (AI), sejak dulu saya menulis dengan banyak perbendaharaan kata. Salah satunya “sunyi”. Terlebih dalam...

by Angga Wijaya
May 12, 2026
“Aura Farming” Pacu Jalur: Kilau Viral, Makna Tergerus, Sebuah Analisis Budaya Digital
Esai

Jebakan Kepercayaan Diri Digital: Mengapa Generasi Z Rentan di Hadapan AI

Marc Prensky, peneliti pendidikan Amerika yang memperkenalkan istilah digital natives pada 2001, menulis dengan penuh keyakinan. Ia berargumen bahwa anak-anak...

by Marina Rospitasari
May 12, 2026
Pameran ‘Arka Umbara’ di TAT Art Space, Hasil Dari Perjalanan 14 Seniman Jongsarad Bali
Pameran

Pameran ‘Arka Umbara’ di TAT Art Space, Hasil Dari Perjalanan 14 Seniman Jongsarad Bali

Ini yang menarik dari Jongsarad Bali, kolektif seniman lintas bidang yang beranggotakan perupa, desainer, dan pembuat film. Setiap perjalanan mereka,...

by Nyoman Budarsana
May 11, 2026
Pengunjung PKB 2026 Jangan Bawa Makanan dan Minuman dari Luar Taman Budaya
Budaya

Pengunjung PKB 2026 Jangan Bawa Makanan dan Minuman dari Luar Taman Budaya

MENJAGA kebersihan dan mengelola sampah dengan disiplin menjadi kunci agar Pesta Kesenian Bali (PKB) tetap nyaman untuk dikunjungi. Kebersihan merupakan...

by Nyoman Budarsana
May 11, 2026
Tugas Etnis Baduy: “Ngasuh Ratu Ngayak Menak”
Esai

Eksistensi Suku Baduy di Era Digitalisasi dan ‘Artificial Intelligence’

SAAT penulis baca informasi tentang makhluk bernama Artificial Intelligence  (AI) terus terang sangat tercengang dan ngeri sekali, bagaimana mungkin manusia...

by Asep Kurnia
May 11, 2026
Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein
Esai

Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein

Satyendra Nath Bose: Saintis Sunyi dari India Satyendra Nath Bose lahir di Kolkata, India, pada 1 Januari 1894, di tengah...

by Agung Sudarsa
May 11, 2026
Menjaga Tubuh, Menjaga Sesama —Catatan dari Sebuah Hari Kemanusiaan bersama SCAU
Khas

Menjaga Tubuh, Menjaga Sesama —Catatan dari Sebuah Hari Kemanusiaan bersama SCAU

Prolog: Datang dari Sebuah Informasi Sederhana Kadang sebuah perjalanan panjang dimulai dari kalimat yang sangat pendek. Saya mengetahui kegiatan ini...

by Emi Suy
May 11, 2026
Crocodile Tears (2024): Penjara Air Mata Buaya
Ulas Film

Crocodile Tears (2024): Penjara Air Mata Buaya

RAUNGAN reptil purba itu masih terdengar samar, terus hidup, bahkan ketika saya berjalan keluar bioskop. Semakin jauh, raungan itu masih...

by Bayu Wira Handyan
May 11, 2026
Pulang | Cerpen Dede Putra Wiguna
Cerpen

Pulang | Cerpen Dede Putra Wiguna

DI penghujung tahun, aku akhirnya memberanikan diri untuk merantau. Dari kampung, mencoba peruntungan di Ibu Kota. Berbekal ijazah sarjana manajemen,...

by Dede Putra Wiguna
May 10, 2026
Gagal Itu Indah
Esai

Gagal Itu Indah

Merekonstruksi Arti Sebuah Kegagalan DALAM kehidupan modern, kegagalan sering dipandang sebagai akhir dari perjalanan. Seseorang dianggap berhasil bila mencapai standar...

by Agung Sudarsa
May 10, 2026
Refleksi Usai Menonton Film ‘Pesta Babi’ di Ubud
Ulas Film

Refleksi Usai Menonton Film ‘Pesta Babi’ di Ubud

PADA tanggal 9 Mei 2026, di malam hari, sekitar pukul 18:15 , saya mengunjungi Sokasi Café and Living. Alamat café...

by Doni Sugiarto Wijaya
May 10, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co