2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Anomali Bahasa Putu Wahya Santosa Dalam Novelet ”Aji Kecubung”

I Wayan Artika by I Wayan Artika
April 9, 2024
in Ulas Buku
Anomali Bahasa Putu Wahya Santosa Dalam Novelet ”Aji Kecubung”

DI mana kekhasan sastra Bali di tengah-tengah relasi sastra yang luas? Hal ini dapat dibahas pada dikhotomi sastra yang sudah sangat konvensional dan tidak terbantah: apa kandungan sastra dan bahasa yang digunakan oleh pengarang.

Bahasa-bahasa tertentu memiliki konvensi formalisme yang kuat. Di sini bahasa memegang kendali dan para sastrawan menaruh hormat yang setinggi-tingginya. Sastrawan-satrawan pada periode yang panjang tetap sujud di bawah konvensi formalisme itu. Tapi pada kasus lain, terjadi dekonstruksi-dekonstruksi formalistik. Konvensi bahasa dirusak oleh penyair yang baru. Aturan berbahasa dalam sastra yang digubah dibuat dan dijadikan kredo. Maka karya yang lahir pun menyampaikan perubahan, minimal pada satu karya tersebut.

Konvensi bahasa Bali dalam komunikasi sudah sangat kuat dan memadai sebagai bahasa untuk memenuhi seluruh kebutuhan fungsi komunikasi. Dari ranah rumah tangga, perjudian, pertanian, hingga ritual dan komunikasi di ranah adat. Itu semua adalah puncak kebudayaan dalam ranah bahasa.

Namun demikian, ketika bahasa Bali berdampingan dengan bahasa Indonesia, maka mau tidak mau orang Bali menjadi dwibahasawan. Sejak kemerdekaan dan kurang lebih hanya dalam 45 tahun ke depan, orang Bali telah menggunakan bahasa Indonesia menjadi bahasa ibu. Ini terutama terjadi di kota-kota urban di Bali. Namun demikian, gejala atau kasus-kasus yang jumlahnya cukup banyak dalam penggunaan bahasa Indonesia sebagai bahasa pertama atau bahasa ibu tidak hanya ada di kota tetapi hingga ke pedesaan. Terutama pada keluarga-keluarga Bali modern. Anak-anak yang lahir berbicara dengan menggunakan Bahasa Indonesia. Di sini generasi tua menyesuikan diri dengan menggunakan bahasa Indonesia. Tidak tumbuh kesadaran untuk mengendalikan atau mengontrol penggunaan bahasa sehingga lebih setia pada bahasa Bali ketimbang menggunakan bahasa Indonesia.

Sementara itu, pemerintah Bali melakukan resistensi bahasa dengan berbagai peraturan dan aksi nyata yang berupa gerakan menggunakan bahasa Bali, terutama di ranah-ranah pemerintahan, perekonomian modern, dan dunia pendidikan. Resistensi ini memang berjalan dan disambut dengan baik. Namun demikian, berhadapan dengan arus kuat bahasa Indonesia. Peralihan-peralihan penggunaan Bahasa dan pemilihan bahasa Indonesia secara spontan dan praktis, terjadi secara masif dalam kehidupan sehari-hari.

Hal itu menyebabkan ranah penggunaan bahasa Bali semakin terbatas. Di sekolah misalnya praktis yang dipakai adalah bahasa Indonesia. Pelajaran bahasa Bali ternyata tidak mampu menandingi kuatnya dominasi bahasa Indonesia. Bahasa Indonesia ragam nonformal atau bahasa Indonesia tidak baku adalah alat komunikasi baru di hampir semua ranah kehidupan orang Bali.

Dalam dunia kesenian dan sastra pun hal ini terjadi. Namun demikian, di panggung seni pertunjukan seperti arja, topeng, barong, dan calon arang, kesetiaan pada konvensi bahasa masih sangat kuat. Hal itu terjadi karena bahasa yang sejalan dengan karakter suatu seni pertunjukan menjadi sangat terintegrasi dengan dunia pertunjukan tersebut. Maka di dalamnya konvensi bahasa Bali terjaga dan karakternya tetap hidup menjiwai seluruh komunikasi para pemain di atas panggung.

Namun demikian, konvensi bahasa Bali tidak bisa diadopsi oleh sastra Bali Anyar atau sastra modern berbahasa Bali yang pengaruhnya didapat dari sastra kolonial. Sastrawan Bali modern berkarya bentuk-bentuk sastra modern dari barat, seperti cerpen, novel, dan drama.

Gejala atau peristiwa hilangnya konvensi artistik bahasa Bali yang kaya dengan metafora dan tata kalimat yang kaya pula karena pengaruh dialek dari daerah-daerah penggunaan bahasa yang terisolasi; tidak hanya terjadi pada sastra. Hal ini juga terjadi dalam jurnalistik berbahasa Bali, pemberitaan, dan lagu pop Bali. Pada semua ranah itu, karakter bahasa Bali sama sekali semakin terancam.

Sastra Bali modern memang ditandai dengan penggunaan bahasa Bali dan huruf latin dan sejak awal adalah karya yang untuk dibaca, menjadi sastra cetak atau sastra kertas. Karena ciri modern ini, maka struktur dan aspek estetika yang dibangun di dalam sastra Bali Anyar adalah sastra Indonesia. Bahasa dalam cerpen-cerpen atau novel (terutama setelah periode Mlancaran ka Sasak atau Tresna Lebur Ajur satonden Kembang) hanyalah terjemahan dari struktur dan estetika dalam bahasa Indonesia. Ini adalah gejala yang sangat kuat dalam sastra Bali Anyar.

Kejadian ini melahirkan karya-karya sastra Bali Anyar yang sulit dibedakan dengan sastra Indonesia atau sastra asing lainnya yang diterjemahkan ke dalam bahasa Bali. Mungkin karena para pengarang sastra Bali Anyar terlebih dahulu mengenal konvensi bahasa dan estetika sastra Indonesia atau sastra yang dipengaruhi oleh sastra barat.

Kenyataanya para sastrawan Bali modern atau Bali Anyar itu pernah mengenyam pendidikan modern dan di sinilah mereka mendapat pengaruh sastra Indonesia. Dengan berbagai alasan pun akhirnya mereka berkarya dalam bentuk sastra Indonesia dalam bahasa Bali. Di luar kesadaran mereka, bahasa yang digunakan yakni bahasa Bali dinilai sudah dapat mewakili karakter bahasa Bali. Karena itu, karya-karya mereka terasa sangat miskin idiom bahasa Bali. Sebaliknya, banyak memasukkan gaya bahasa Indonesia dengan upaya untuk menerjemahkannya ke dalam bahasa Bali.

Padahal mereka sejatinya menulis dalam bahasa Bali terjemahan dari bahasa Indonesia. Ini adalah tantangan estetika sastra yang semakin diabaikan karena tidak sanggup kembali menggali kedalaman dan kekayaan metafora atau idiom dalam bahasa Bali. Mereka para sastrawan Bali Anyar lebih ironis lagi karena tidak pernah mendalami sastra Bali Purwa yang sangat kaya.

Kenyataan ini memang tampaknya tidak terbendung, tetapi mau tidak mau akan menjadi model dalam sejarah sastra Bali Anyar pada masa yang akan datang dengan lahirnya generasi-generasi yang baru. Maka, sudah pada ghalibnya akan tercipta suatu konvensi sastra Bali Anyar yang baru. Mungkin bunyinya: ”sastra terjemahan”. Dan, konvensi ini telah tampak dengan sangat jelas pada ketimpangan bahasa Bali dalam sastra Bali Anyar. Konvensinya mungkin tidak berlebihan dirumuskan menjadi: sastra Bali modern adalah sastra yang ditulis dalam bahasa Bali dengan metode terjemahan dari bahasa Indonesia ke dalam bahasa Bali. Mungkin pandangan ini tidak mengenakkan!

Dari aspek konvensi bahasa dan aspek formalisme (keindahan bahasa) terasa novel karya Putu Wahya Santosa ini menjadi anomali. Mungkin karena dia sendiri banyak mendalami sastra dari khazanah sastra Bali purwa yang sangat kaya tidak tertandingi, sebelum dirinya menulis sastra Bali Anyar. Bahasa novel ini masih dengan sangat kuat menyisakan persambungan karakter dengan alam bahasa Bali. Wahya Santosa dalam novel ini berdiri di atas formalisme dan karakter bahasa Bali yang pernah digunakan dalam khazanah sastra purwa. Hal itu memberi kesan kuat atau cita rasa original bahwa ini adalah novelet yang berhulu pada sastra Bali Purwa dan bukan pada sastra Indonesia.

Modal diri berupa kekayaan khazanah sastra Bali purwa yang mendalam dalam dirinya menjadikan pilihan bahasa di dalam novel ini bukan sebagai karya terjemahan dari bahasa Indonesia ke dalam bahasa Bali dan di atas semua itu, bahasa dalam novel ini terasa sangat alamiah dan tidak dipaksakan untuk menjadi novelet berbahasa Bali.

Para sastrawan Bali modern tetap masih menghadapi tantangan semacam itu: memaksakan diri menulis dalam bahasa Bali dengan diri mereka tidak pernah meraup pengalaman dalam sastra Bali purwa. Hal ini memang dinilai sebagai pencapain atau perkembangan sastra Bali Anyar. Namun demikian, tahapan ini harus menjadi titik dimana para sastrawan Bali Anyar bersedia kembali memasuki dunia dan khazanah sastra Bali Purwa. Hanya dengan kesadaran itu, sastra Bali modern bersambung dengan hulunya dalam dinamika yang sangat hebat.

Atas dasar itulah, persoalan sastra Bali Anyar yang ada pada aspek bahasa sebagai firanti utama seni sastra; harus mendapat pembicaraan, sebagaimana di dalam kata pengantar ini dan inilah yang menjadi krusial sehingga fokus penulis dalam kata pengantar ini adalah aspek bahasa. Aspek isi sama sekali tidak disinggung. Di luar itu, sastra adalah soal cerita. Apapun yang ditulis dalam sastra tetap akan dilarutkan dalam bahasa atau menyatu dengan aspek-aspek formalnya.

Sampai saat ini, di tengah dinamika yang sangat kuat ini, perkembangan sastra Bali Anyar sangat menggembirakan; sastra Bali Anyar mengalami persoalan mendasarnya, yakni pada aspek bahasa. Dengan belajar kembali secara mendalam dan jauh ke dasar dunia sastra Bali Purwa, untuk membangun hulu sastra Bali Anyar dengan kesadaran kreatif yang tinggi-lah akan menjadikan sastra Bali Anyar bukan karya-karya beraroma sastra terjemahan (dari bahasa Indonesia ke dalam bahasa Bali) yang dipaksakan.

Yang perlu dicoba di luar perjalanan ke dunia sastra Bali purwa adalah para sastrawan Bali Anyar harus menggali dan memanfaatkan kekayaan dialek bahasa Bali. Karya-karya mereka harus berdasar pada bahasa Bali dialek-dialek tertentu. Sampai saat ini belum ada kesadaran sastrawan Bali Anyar yang menulis dengan menggunakan bahasa Bali dialek tertentu.

Jadi, selain dengan kembali ke dalam arkeologi sastra Bali Purwa itu, solusi dinamik yang dapat diambil oleh para pengarang Bali Anyar adalah dengan berkarya sastra Bali Anyar dengan menggunakan kekuatan dan kekayaan dialek bahasa Bali, sebagai ragam bahasa sehari-hari yang masih tetap hidup. [T]

BACA artikel lain dari penulis I WAYAN ARTIKA

Guru Bahasa Bali “Pengawi” : Kata Pengantar Buku Antologi Puisi ”Gita Rasmi Sancaya” Karya I Putu Wahya Santosa
Buku “Menafsir Realitas dan Wacana” | Epilog: Mencari Pembaca

.

Pertemuan Sejarah dan Pariwisata: Perihal Kebebasan Sejarah
Jalan Sastra Made Edy Arudi
Tags: apresiasi sastranovelsastra bali modern
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Pesan dari Mimbar Obituari Umbu Landu Paranggi

Next Post

Karang Binangun Menjelang Lebaran

I Wayan Artika

I Wayan Artika

Dr. I Wayan Artika, S.Pd., M.Hum. | Doktor pengajar di Fakultas Bahasa dan Seni, Undiksha Singaraja. Penulis novel, cerpen dan esai. Tulisannya dimuat di berbagai media dan jurnal

Related Posts

Kisah Pinggiran 1965: Belajar Empati dari Lasmi

by Abdul Karim Abraham
September 29, 2026
0
Kisah Pinggiran 1965: Belajar Empati dari Lasmi

LASMI, perempuan muda yang cukup populer di kampungnya. Penampilannya sederhana, ia tidak mengenakan aksesoris apapun, kecuali jam tangan dengan tali...

Read moreDetails

Aku Mau Jadi Penguin! —Ulasan Novel “Di Tanah Lada” Karya Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie

by Kadek Wisnu Oktaditya
September 12, 2026
0
Aku Mau Jadi Penguin! —Ulasan Novel “Di Tanah Lada” Karya Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie

AWALNYA saya mengira nama ‘Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie’ adalah nama pena. Ternyata saya salah. Kemudian dari nama unik dan ajaib inilah saya...

Read moreDetails

Makna Komunikasi di Balik Lagu: Ulas Buku Hermeneusical Karya Ahmad Sihabudin

by Chusmeru
September 3, 2026
0
Makna Komunikasi di Balik Lagu: Ulas Buku Hermeneusical Karya Ahmad Sihabudin

Judul Buku: HERMENEUSICAL Menafsir Musik dalam Komunikasi Manusia Penulis      : Prof.Dr. Ahmad Sihabudin, M.Si Penerbit    : Indigo Media, Kota Tangerang...

Read moreDetails

SEBUT SAJA NAGA DALAM GELAP: Dunia Lain, Tan Lioe Ie, dan Cahaya Pink Floyd

by IRZI
August 3, 2026
0
SEBUT SAJA NAGA DALAM GELAP: Dunia Lain, Tan Lioe Ie, dan Cahaya Pink Floyd

Pengantar singkat: Buku puisi Soto Otak ODGJ, tidak pernah menjadi "isu besar" yang cukup menarik perhatian pembela hak asasi manusia,...

Read moreDetails

Tuhan Yang Maha Puisi

by Heski Dewabrata
August 1, 2026
0
Tuhan Yang Maha Puisi

The Ingredients of Easter: Three nails, Two pieces of wood, a crown of thorns, a fair share of lashing, and...

Read moreDetails

SNERAYUZA: Ketika Studio Menjadi Sajak, Ketika Lukisan Menjadi Puisi

by I Wayan Sujana Suklu
July 26, 2026
0
SNERAYUZA: Ketika Studio Menjadi Sajak, Ketika Lukisan Menjadi Puisi

SEBUAH buku yang selesai dibaca ketika halaman terakhir ditutup. Ada pula buku yang baru mulai dibaca justru setelah kita menutupnya....

Read moreDetails

Kehilangan, Bahasa, dan Memori Kolektif dalam Karya Sastra —Membaca “Singkarak, Riang dan Sendunya” Karya Ragdi F Daye

by Azwar
July 17, 2026
0
Kehilangan, Bahasa, dan Memori Kolektif dalam Karya Sastra —Membaca “Singkarak, Riang dan Sendunya” Karya Ragdi F Daye

Singkarak, Riang dan Sendunya merupakan kumpulan cerpen karya Ragdi F Daye yang diterbitkan Rumahkayu Pustaka pada Mei 2026. Buku ini...

Read moreDetails

“Koloni”: Semut, Semesta, dan Seni Merawat Kehidupan

by I Made Sujaya
July 16, 2026
0
“Koloni”: Semut, Semesta, dan Seni Merawat Kehidupan

Novel Koloni pertama kali diluncurkan oleh Gramedia pada 22 Agustus 2025. Sejak diluncurkan hingga kini, novel ini terus mendapat perhatian...

Read moreDetails

Yang Paling Dalam, Yang Tetap Online  —Prolog untuk Buku Puisi “Yang Paling Dalam, Yang Paling Diam” karya Chris Triwarseno

by IRZI
July 12, 2026
0
Yang Paling Dalam, Yang Tetap Online  —Prolog untuk Buku Puisi “Yang Paling Dalam, Yang Paling Diam” karya Chris Triwarseno

KITA tidak memulai dari halaman kosong. Kita masuk ketika semuanya sudah berlangsung. Layar sudah menyala, jempol bergerak hampir tanpa perintah,...

Read moreDetails

Mahindu, Si Perempuan Tembikar

by Mas Ruscitadewi
July 10, 2026
0
Mahindu, Si Perempuan Tembikar

Risalah Perempuan-Perempuan Tembikar yang dipakai sebagai judul kumpulan puisi ini mengisyaratkan pilihan, penilaian dan sudut pandang penyair dalam membahas masalah...

Read moreDetails
Next Post
Libur Hari Jumat

Karang Binangun Menjelang Lebaran

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

by Chusmeru
September 30, 2026
Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”
Budaya

Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”

TABANAN | TATKALA -- Dua pelajar muda asal Tabanan, Bali, I Putu Bagus Sastra Vedanta Wiyasa dan Ni Kadek Ayu...

by Rusdy Ulu
September 30, 2026
Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?
Opini

Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

PENDIDIKAN gratis kembali menjadi pembicaraan publik pasca Presiden Prabowo Subianto pada 18 September 2026 menyatakan komitmennya agar biaya pendidikan pada...

by Dini Nastiti Wardani
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co