23 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Karang Binangun Menjelang Lebaran

Jaswanto by Jaswanto
April 9, 2024
in Esai
Libur Hari Jumat

tatkala.co

PADA malam menjelang 29, sehari sebelum lebaran, di depan pintu setiap rumah, entah pintu depan, samping, maupun belakang, terdapat bonggol jagung yang dilumuri minyak tanah lalu ditusuk sebatang buluh—seperti hendak membakar jagung—dan dipacak di tanah kemudian dibakar. Bonggol itu menjelma obor kecil yang meliuk diterpa sore yang gerah. Orang Dusun Karang Binangun menyebutnya “colok”.

Tak jelas kapan tradisi ini dimulai. Dan tak jelas pula apa tujuannya. Di Karang Binangun, sejarah gelap seperti gang-gangnya yang sempit. Tetapi, terkait tujuannya, menurut kakek-nenek, colok ini sebagai penerang bagi arwah-roh mereka yang lebih dulu mangkat, yang berkunjung ke rumah saat malam 29. Penjelasan yang agak sulit diterima memang, tapi ini kepercayaan yang sudah dianut berabad-abad silam.

Menjelang lebaran, selain membakar colok dan menancapkannya di depan setiap pintu, Dusun Karang Binangun tampak lebih bergeliat. Ibu-ibu sibuk di dapur, membuat jajanan yang akan dihidangkan di meja tamu. Jajanan macam peyek, kacang asin, marning, keripik singkong, dan keripik pisang, biasanya diatasi sendiri. Selebihnya, jajanan yang dianggap lebih kekinian, mereka memburunya di pasar.

Hari-hari seperti ini, bagai tak ada celah di pasar desa maupun kecamatan. Lapak-lapak kue kering dan jajanan ringan, lapak pakaian, sendal, kupluk, sampai lapak bunga, diserbu masyarakat. Bunga? Ya, untuk ditabur di kuburan keluarga—nyekar, ziarah.

Tapi sebelum nyekar, sementara ibu-ibu sibuk di pasar dan di dapur, bapak-bapak di Karang Binangun berbondong-bondong ke kuburan untuk melakukan resik—kegiatan bersih-bersih area pusara menjelang hari raya. Resik ini biasanya dilakukan dua hari sebelum Idulfitri. Maka, jika kau berkunjung ke Karang Binangun hari ini, kau tak akan mendapati semak-belukar di antara nisan yang ranggas.

Setelah resik di kuburan, para lelaki lanjut resik-resik di rumah. Mereka mengoyak sarang laba-laba yang bergelayut di sudut-sudut ruangan. Mengepel lantai, mencabut rumput liar di halaman dan di pinggir jalan, membenarkan letak meja-kursi setelah mencucinya dengan kasar, dan menata semua hal untuk dua tujuan utama: terlihat rapi dan layak huni.

Pekerjaan tak selesai di situ, pakan kambing dan sapi harus segera dipikirkan. Rumput dan reramban harus dikumpulkan lebih banyak dari hari biasanya. Setiap orang yang memiliki ternak harus menyiapkan tabungan pakan sebelum lebaran. Ini penting! Sebab pada saat hari raya, sebelum Asar menjelang, tak ada orang yang bekerja. Semua orang di rumah. Tapi setelah Asar, bapak-bapak akan ke tegal memberi pakan ternak. Lepas itu pulang, menyambut sanak-tetangga yang hendak beranjangsana.

Tapi itu hanya berlaku saat hari raya saja. Sehari setelahnya, orang-orang Karang Binangun akan kembali seperti hari-hari biasa—kembali ke pengaturan awal sebagai petani yang lebih banyak menghabiskan waktu siang hari di ladang daripada di rumah.

Dalam diri orang Karang Binangun, sebenarnya mereka nyaris menikmati puasa sepanjang hidup dan hari raya setiap harinya. Dalam kehidupan sosial dan politik, misalnya, mereka dipaksa puasa secara sistemik. Menahan diri untuk tidak memiliki hak sebagai warga negara secara sejati. Tapi bisa merayakan kebahagiaan hidupnya setiap hari dengan caranya sendiri.

Dan dalam hidup, sebagian dari mereka menahan lapar dari modernitas dan kemajuan dunia di luar sana. Tapi puas dan kenyang terhadap rasa syukur akan orisinalitas hidup mereka yang default dari Tuhan.

Karang Binangun menjelang lebaran adalah dusun yang dilanda ketidakpastian musim. Sekarang musim sangat susah diramal. Layaknya judi togel. Ada waktu-waktu tertentu ketika matahari bersinar dengan terang—dan panas, panas sekali. Tetapi hanya sepersekian menit dan tanpa diduga-duga, angin kembali mengirim matahari pulang, membuat terbirit-birit kumpulan awan hitam—walaupun terik membakar lebih banyak mengguyurnya daripada air yang menyejukkan. Tuhan, kacang tanah kami butuh air.

Saat panas, jalanan seperti dipanggang dan angin kering berembus membawa debu dan aroma kotoran ternak. Orang-orang berlalu-lalang dengan gerutu-gerutu. Para perempuan berkumpul di tiap-tiap beranda rumah sambil berbicara banyak hal—bahkan tak sanggup saya uraikan di sini. Setiap menit pembicaraan, mereka mengungkapkan teori yang sama bahwa matahari sesungguhnya tidak sepanas ini beberapa tahun sebelumnya.

Gumpalan rumput kering menggelinding dan berhenti terhalang pematang. Kemarau adalah musim yang dibenci kalong. Buah-buahan tidak mereka temukan. Serangga pun seperti tulisan yang dilalap oleh karet penghapus. Lenyap entah ke mana. Pada saat seperti ini, Karang Binangun tak lebih dari dusun miskin tegalan yang meratapi ketidakberdayaan di tengah tsunami modernitas yang nggegirisi.

Menjelang lebaran seperti sekarang, saatnya orang-orang Karang Binangun yang merantau—seperti saya—pulang ke rumah masing-masing, mudik. Perantau-perantau, termasuk saya, adalah jenis orang yang pandai menutupi luka-luka. Nyaris tak satu pun cerita sengsara di tanah seberang digumamkan. Otomatis, tanpa disadari, seolah hanya cerita manis dan capaian-capaian gemilang yang patut disampaikan. Kami, para perantau-perantau kampungan ini, adalah pembohong-pembohong ulung menjelang akhir Ramadan. Percayalah!

Ah, Karang Binangun yang kecil. Tempat saya dilahirkan. Tempat saya menusuk biji-biji mete dan menyusupkannya ke lapis terdalam dedaunan kering yang dibakar. Saat biji-biji itu mengepul dan hitam arang, saya membukanya dengan batu. Serpihan arangnya memberi noda di tepi beton telaga kecil berair cokelat—tempat saya memasukkan kaki ke dasarnya yang berlumpur dan penuh dengan pecahan rumah keong. Sebutir inti, kacang kecil di antara pecahannya, akan menggelinding ke mana saja. Saya hanya perlu mengusapnya dengan ibu jari, bahkan kadang tidak, sebelum memamahbiaknya.[T]

Tags: Idulfitrikampung halamanLebaranmudikRamadan
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Anomali Bahasa Putu Wahya Santosa Dalam Novelet ”Aji Kecubung”

Next Post

Hal yang Didapat dan Hal yang Ditinggalkan Saat Antrean Pemudik di Gilimanuk

Jaswanto

Jaswanto

Editor/Wartawan tatkala.co

Related Posts

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
0
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

Read moreDetails

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

Read moreDetails

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
0
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

Read moreDetails

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
0
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

Read moreDetails

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
0
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

Read moreDetails

Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

by I Wayan Yudana
October 19, 2026
0
Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

ADA pemandangan yang belakangan terasa tidak biasa di Bali. Orang-orang rela antre berjam-jam di SPBU, bahkan bertahan hingga malam, demi...

Read moreDetails

Membaca “Nyama Selam”, Melampaui Perdebatan Kata

by Angga Wijaya
October 19, 2026
0
Membaca “Nyama Selam”, Melampaui Perdebatan Kata

SEBELUM memulai esai ini, izinkan saya menyampaikan penghargaan kepada IGA Darma Putra atas keterlibatannya dalam perbincangan mengenai istilah selam dan...

Read moreDetails
Next Post
Hal yang Didapat dan Hal yang Ditinggalkan Saat Antrean Pemudik di Gilimanuk

Hal yang Didapat dan Hal yang Ditinggalkan Saat Antrean Pemudik di Gilimanuk

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.
Ulas Buku

Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.

SUNGGUH beruntung, saya mendapatkan buku Karya Visual dengan Multi Sensorik karya IB Putra Adnyana ini. Meski baru sampai bab III...

by Hartanto
October 21, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

by Chusmeru
October 21, 2026
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami
Esai

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

by Angga Wijaya
October 20, 2026
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya
Esai

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co