11 September 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Mengintip Proses Teater Legenda Rasa Kopi Banyuatis | Catatan Penulis Naskah dan Sutradara

Kadek Sonia Piscayanti by Kadek Sonia Piscayanti
August 24, 2022
in Esai
Mengintip Proses Teater Legenda Rasa Kopi Banyuatis | Catatan Penulis Naskah dan Sutradara

Salah satu adegan pada sesi latihan Teater Legenda Rasa Kopi Banyuatis

Mementaskan sejarah legenda Kopi Banyuatis bagi saya memang menantang. Proses menemukan cerita saya mulai dari pembicaraan dengan generasi keempat Kopi Banyuatis, Gede Pusaka Harsadena. Pusaka kini mewarisi bisnis Kopi Banyuatis yang telah berkembang pesat tidak hanya di Bali namun juga di Lombok. Usaha yang dirintis turun temurun sejak generasi kakek buyutnya, kini telah mencapai titik terang. Bisnisnya makin kuat dan makin sehat. Sejarah perjalanan panjang kopi ini kemudian diceritakan Pusaka kepada saya, di rumah Mahima. Saya pun mulai menulis naskahnya. Tak perlu lama, naskah ini telah menjadi. Cerita sederhana yang dirangkai dengan kuat dari satu masa ke masa.

Awalnya begini. Jro Dalang, yang menjadi generasi pertama legenda Kopi Banyuatis, adalah seorang seniman dalang yang menemukan bahwa dengan bercerita hidupnya menjadi bermakna. Dengan bercerita, Jro dalang menemukan rasa. Dengan menjadi dalang pula, ia mendapatkan bidang tanah yang kelak ditanaminya kopi. Mengapa kopi? Karena kopilah yang menemaninya berbagi cerita. Kopilah yang menemani orang-orang bercerita, soal apa saja. Lalu Jro Dalang mulai menanam kopi. Karena ia percaya, kopi ini bisa diwariskan hingga generasi berikutnya.

Mencicipi Legenda Rasa Kopi Banyuatis Melalui Teater

Demikianlah lalu anaknya, Putu Dalang, juga diberi pesan untuk meneruskan menanam kopi untuk meneruskan filosofi bapaknya, bahwa kopi adalah proses menanam cerita, menanam rasa yang kelak juga dapat diteruskan ke generasi berikutnya. Putu Dalang, anak Jro Dalang, adalah petani yang tekun dan disiplin menanam kopi dengan hati. Ditambah istrinya, dalam naskah disebut Dadong/Nini, adalah istri yang bisa menjual kopi. Ia memiliki strategi khusus membuat kopi sehingga racikannya sangat digemari dan menjadi idola bagi penikmat kopi.

Generasi ketiga adalah Ketut Englan, yang mulai mengembangkan kopi Banyuatis dari desa-desa, hingga ke kota, dari satu kabupaten ke kabupaten lainnya. Ia meletakkan bisnis kopi sejati, yang orisinal rasanya, dan tidak dicampur dengan bahan lain. Rahasia menjaga rasa kopi adalah dengan mendiamkannya di karung selama satu tahun agar kadar airnya rendah secara alami. Ia berpesan kepada generasi berikutnya Gede Pusaka Harsadena agar tetap mempertahankan rasa kopinya dengan menjaga proses alami dan jangan sampai mencampur bahan lain. Terbukti, kopi ini berhasil menjadi idola masyarakat Bali hingga kini.

Para pemeran karakter teater ini seperti telah berjodoh dengan naskah yang saya tulis ini. Gusti Made Aryana, yang terpilih berperan sebagai Jro Dalang, adalah seniman dalang dalam kehidupan sebenarnya. Ia kerap dipanggil Dalang Sembroli, karena nama salah satu karakter wayangnya adalah Sembroli. Gusti alias Dalang Sembroli merasa jalannya telah dituntun untuk mendapatkan peran ini.

Perkenalan Jro Dalang Sembroli dengan cerita kopi Banyuatis sesungguhnya tak tiba-tiba dimulai. Ia telah mengenal kopi Banyuatis dengan legenda rasanya. Ia juga kenal Gede Pusaka, dan darinya ia juga mendengar kisah ini. Ia bahkan sempat ditunjukkan rumah Jro Dalang Kopi Banyuatis dan merasa tersentuh melihat langsung wayang-wayang koleksi beliau. Dalang Sembroli juga sempat pentas wayang di rumah sang legenda.

Bagus Wira, pemeran Ketut Englan

Lalu ketika casting aktor diumumkan, Dalang Sembroli memang niat mengikuti, namun terkendala waktu. Detik-detik terakhir pengumpulan barulah dia mengirim video casting, dan ternyata ketika diumumkan kemudian ia menjadi aktor terpilih. Ketika proses berlatih dimulai, ia mulai merasakan lebih dalam kata-kata di naskah. Ia tersentuh pada kata-kata, terutama pada bagian ketika Jro Dalang berkata bahwa ia mengabdi kepada seni melalui wayang. Ketika ikhlas mengabdi, ia merasa bahagia.

Berikut petikan monolognya

Namanya mengabdi, jarang juga ada yang bayar kala itu.
Dimana ada yang iklas membayar, saya terima, jika tidak juga tidak apa-apa
.

Dalang Sembroli juga merasakan bahwa energi Jro Dalang seperti mengalir melalui kata-kata dalam naskah, dimana ia merasa bahwa sebagian dari karakter Jro Dalang seperti menginspirasinya terutama dalam hal keikhlasan. Dalang Sembroli percaya, seni adalah jembatan rasa yang hanya dapat dirasakan oleh yang mendapat vibrasi rasa yang sama. Di naskah ini, dia merasakan vibrasi itu. Bahkan ia merasa takdir memainkan karakter Jro Dalang ini adalah sebuah keinginan semesta, seperti istilahnya “cara rurunganga” (seperti dibukakan jalan).

Pemain Putu Dalang, Ida Bagus Partawijaya merasakan hal yang unik pula. Sebagai seorang mantan pilot, dunia akting adalah hal baru baginya. Uniknya dia merasa percaya diri ikut casting karena merasa ingin menunjukkan keinginannya berproses di kesenian, dan mencoba hal baru adalah karakternya. Dengan rasa percaya diri, ia melamar sebagai aktor Jro Dalang, karena merasa dari segi usia, lebih pantas masuk karakter Jro Dalang.

Namun di perjalanan, ia malah terpilih sebagai Putu Dalang, sebab karakter Putu Dalang yang kalem dan serius sangat terwakili olehnya. Sebagai aktor pemula, Ida Bagus Partawijaya merasa sangat gugup ketika diumumkan sebagai aktor yang terpilih memerankan Putu Dalang. Ia merasa ini adalah tanggung jawab besar. Apalagi menyangkut sejarah legenda. Ia tak berani tak serius. Akhirnya ia mulai menghafal naskah dan mendalami perannya.

Satu hal yang menurutnya sulit adalah tertawa. Ida Bagus Partawijaya tak mampu tertawa di atas panggung. Apalagi tertawa satir seperti tuntutan naskah. Persoalan berikutnya adalah memposisikan tangan di atas panggung. Juga melangkahkan kaki, melirikkan mata, dan aspek ekspresi lainnya. Namun pelan-pelan akhirnya ia melatih tubuhnya rileks dan punya tujuan tetap.

Ida Bagus Partawijaya (kiri) pemeran Putu Dalang, dan Tni Wahyuni, pemeran Nini/Dadong

Karakter yang lain adalah Dadong/Nini yang diperankan oleh Tini Wahyuni. Tini Wahyuni adalah mantan dokter yang kini adalah seniman lukis dan penggiat seni musik, dan mulai masuk dunia peran. Karir pertamanya di dunia peran adalah sebagai aktor monolog yang terpilih dalam program Cipta Media Ekspresi, 11 Ibu 11 Panggung 11 Kisah, tahun 2018 silam.

Melalui pengalaman itu, Tini mendalami karakter Dadong/Nini dengan mudah. Apalagi kemiripan karakter dengannya yaitu disiplin dan tangguh, membuat Tini makin merasa klik dengan karakter. Hal lain adalah kesamannya dengan hobinya minum kopi, dan peran Dadong/Nini adalah peracik kopi hebat, yang kelak membangun bisnis kopi Banyuatis dengan mantap. Satu tantangan bagi Tini Wahyuni adalah ketika dia membayangkan bagaimana pada masa itu kopi diracik dengan khusus. Bagaimana dan dengan cara apa. Akhirnya sedikit terkuak di naskah bahwa setelah air panas dan kopi diaduk di cangkir, ditutup sebentar dengan tutup cangkir, lalu dibuka hingga aromanya tercium sempurna.

Tini Wahyuni adalah aktor yang disiplin. Dari empat aktor, dialah yang paling awal menyelesaikan hafalan naskah. Strateginya, bagian naskahnya ia bagi menjadi satuan-satuan ide, lalu disalin ulang dengan tulisan tangan menjadi empat bagian ide. Dipahami dan dihafal dalam dua hari. Luar biasa.

Lain lagi dengan Bagus Widhia Kusuma Putra pemeran Ketut Englan. Dia adalah aktor termuda di kelompok ini, 24 tahun, dan rupanya pengalaman ini adalah pengalaman pertama. Menyutradarai Bagus, saya merasakan bahwa ia membawa tubuh yang sangat santun, merunduk dan rendah hati. Merasa paling muda, Bagus selalu merunduk runduk dan tak berani menatap lawan bicara. Saya mencoba mengarahkannya agar rileks dan tak terbebani. Meski minggu pertama cukup sulit, ternyata beberapa hari berikutnya ia telah mulai rileks dan mampu memperbaiki kelemahan itu.

Proses teater ini berjalan dengan organik dimana para pemainnya bertumbuh menemukan celah terbaik dirinya dalam konteks panggung. Dalang Sembroli yang paling berpengalaman dalam konteks pertunjukan menjadi lead actor yang saya beri tugas memberi benang merah pada adegan, bahkan di beberapa bagian merajut cerita dengan pendekatan seni pertunjukan wayang.

Proses ini juga berkembang pada musik, dimana tim musik mengembangkan suasana melalui kehadiran gender dan suling gambuh, juga suara sesendon dalang. Visual juga ditata dengan lighting yang menghadirkan suasana hangat dan bahagia. Kehadiran kayon memperkuat narasi kebun kopi, pohon kopi, dan filsafat kopi. Semua dihadirkan dengan sederhana dan kuat.

Gusti Made Aryana, pemeran Jro Dalang

Bagi saya, tantangan terbesar pentas ini adalah bagaimana kisah nyata ini dapat dipanggungkan dalam waktu kurang dari sebulan. Terlebih para pemeran terbilang baru di dunia teater. Juga jadwal masing-masing pemain yang padat membuat latihan terjeda beberapa kali. Tantangan berikutnya adalah audiens, yang merupakan kalangan terbatas, dari intern Kopi Banyuatis.

Saya berharap ini berterima bagi keluarga besar Kopi Banyuatis. Setidaknya legenda ini telah dapat didokumentasikan melalui panggung teater. [T]

  • Catatan: Teater Legenda Rasa Kopi Banyuatis ini diakan dipentaskan, Sabtu 27 Agustus 2022, di Hotel Bali Taman, Lovina, Buleleng
Tags: bulelengkopi banyuatisTeaterTeater Kopi Banyuatis
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Pada Kekinian Situs-Situs Lampau, Mengoreografi Wacana dan Tubuh-Hibrida-Kini

Next Post

Di Kota Singaraja, Ada Ruang Terbuka Hijau, Ada Ruang Terbuka Sayur-Mayur

Kadek Sonia Piscayanti

Kadek Sonia Piscayanti

Penulis adalah dosen di Universitas Pendidikan Ganesha Singaraja

Related Posts

Pasar Tradisional : Membaca Tanda, Merawat Manusia

by Tri Nugroho Adi
September 11, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

"Pinten niki, Bu?"  (Berapa ini, Bu?) "Tigang doso gangsal ewu." (Tiga puluh lima ribu ) "Waduh... mboten saged kirang? Kula...

Read moreDetails

DNA Pancasila Masih Utuh, Cuma Epigenetik Bangsa Mungkin Eror

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 10, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

INI gegara ada informasi tentang penelitian David Sinclair dari Harvard, yang mengatakan bahwa proses penuaan bisa dibalikkan kembali melalui terapi...

Read moreDetails

Kita Salah Menghitung Kesunyian

by Angga Wijaya
September 10, 2026
0
Kita Salah Menghitung Kesunyian

SETIAP 10 September, kita menjadi masyarakat yang tiba-tiba pandai berbicara tentang bunuh diri. Poster bermunculan di media sosial. Kutipan dibagikan....

Read moreDetails

Tubuh yang Saya Suruh Begadang

by Angga Wijaya
September 9, 2026
0
Tubuh yang Saya Suruh Begadang

SELAMA kira-kira sepuluh tahun terakhir, saya punya kebiasaan yang barangkali tidak terlalu baik bagi tubuh, yakni, begadang. Saya menulis pada...

Read moreDetails

Hari Olahraga Nasional: Dari Lapangan ke FYP, dari Medali ke “Endorse”

by Chusmeru
September 9, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

SEPULUH hingga dua puluh tahun silam perayaan Hari Olahraga Nasional (Haornas) tanggal 9 September identik dengan kegiatan senam di lapangan....

Read moreDetails

Kepemimpinan Feminis sebagai Strategi Rekonsiliasi Sosial di Tengah Polarisasi Politik

by Jerry Indrawan
September 8, 2026
0
Mungkinkah Korut Serang AS?

POLARISASI politik yang menguat dalam konteks demokrasi kontemporer telah memicu fragmentasi sosial yang sangat mengkhawatirkan di berbagai belahan dunia, termasuk...

Read moreDetails

Pemakaman Massal Kata “Saya Tidak Tahu”

by Wayan Gde Yudane
September 7, 2026
0
Pemakaman Massal Kata “Saya Tidak Tahu”

SELAMAT datang di era di mana kedalaman berpikir resmi digantikan oleh kecepatan reaksi. Sebuah masa yang sangat efisien, di mana...

Read moreDetails

Menilik Bentuk Visioner Naskah Rawa Gambut Garapan Teater Potlot

by Adwan SA
September 6, 2026
0
Menilik Bentuk Visioner Naskah Rawa Gambut Garapan Teater Potlot

JAUH sebelum Tuan Gubernur mendorong pengadaan puluhan unit motor trail sebab helikopter kebanggaannya kewalahan dalam menangani kebakaran hutan dan lahan,...

Read moreDetails

Jangan-Jangan Kita Semua Mbah Darmi, 25 Ribu Hari ini, 10 Juta Esok Hari

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 5, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

BAGI Mbah Darmi, KTP mungkin hanyalah kartu identitas. Benda kecil yang disimpan di dompet atau tempat aman, diperlukan ketika mengurus...

Read moreDetails

Topi Para Penyintas Kanker

by Angga Wijaya
September 5, 2026
0
Topi Para Penyintas Kanker

Di Poliklinik Onkologi sebuah rumah sakit besar di Denpasar, Bali, saya kerap melihat para perempuan memakai tutup kepala atau topi....

Read moreDetails
Next Post
Di Kota Singaraja, Ada Ruang Terbuka Hijau, Ada Ruang Terbuka Sayur-Mayur

Di Kota Singaraja, Ada Ruang Terbuka Hijau, Ada Ruang Terbuka Sayur-Mayur

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Pasar Tradisional : Membaca Tanda, Merawat Manusia

"Pinten niki, Bu?"  (Berapa ini, Bu?) "Tigang doso gangsal ewu." (Tiga puluh lima ribu ) "Waduh... mboten saged kirang? Kula...

by Tri Nugroho Adi
September 11, 2026
Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda
Panggung

Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda

Jangan menganggap Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali sekadar rutinitas dengan sajian yang berulang. Tahun ini, panggung UDG XXXIII tahun 2026...

by Nyoman Budarsana
September 10, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

DNA Pancasila Masih Utuh, Cuma Epigenetik Bangsa Mungkin Eror

INI gegara ada informasi tentang penelitian David Sinclair dari Harvard, yang mengatakan bahwa proses penuaan bisa dibalikkan kembali melalui terapi...

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 10, 2026
Puisi, Luka, dan Ruang Untuk Pulang —Catatan Reflektif dari Kelas Sastra Masuk Sekolah
Khas

Puisi, Luka, dan Ruang Untuk Pulang —Catatan Reflektif dari Kelas Sastra Masuk Sekolah

JUMAT, 28 Agustus 2026. Kursi-kursi bergeser. Beberapa siswa masih berbicara dengan teman di sebelahnya, sebagian membuka buku, sebagian lain menunggu...

by Emi Suy
September 10, 2026
Wajah I Made Galung Wiratmaja
Ulas Rupa

Wajah I Made Galung Wiratmaja

PADA tanggal 19 Agustus hingga 15 September ini, digelar pameran bertajuk “Impulse”. Perhelatan ini digelar Kalpataru Art Space - Sanur...

by Hartanto
September 10, 2026
“Memoar: Suara-Suara dari Ingatan”: Pameran Kolektif Tentang Memori dan Ketakutan Akan Kehilangan
Pameran

“Memoar: Suara-Suara dari Ingatan”: Pameran Kolektif Tentang Memori dan Ketakutan Akan Kehilangan

BAGAIMANA jika suatu hari kita lupa segalanya? Nama orang yang kita cintai, tempat-tempat yang pernah didatangi, percakapan yang pernah tinggal...

by Dede Putra Wiguna
September 10, 2026
Kita Salah Menghitung Kesunyian
Esai

Kita Salah Menghitung Kesunyian

SETIAP 10 September, kita menjadi masyarakat yang tiba-tiba pandai berbicara tentang bunuh diri. Poster bermunculan di media sosial. Kutipan dibagikan....

by Angga Wijaya
September 10, 2026
Majelis Lidah Berduri Kembali ke Bali, Bersua Pendengar Lewat “Hujan Tentang Cinta”
Pop

Majelis Lidah Berduri Kembali ke Bali, Bersua Pendengar Lewat “Hujan Tentang Cinta”

ADA kerinduan yang sebentar lagi dituntaskan Majelis Lidah Berduri di Bali. Band rock alternatif asal Yogyakarta yang akrab disapa Melbi...

by Dede Putra Wiguna
September 10, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Catatan di Tepi Tanah yang Tersisa  —66 Tahun UUPA Bukan Sekadar Angka

TANAH selalu tampak diam. Ia tidak pernah mengeluh ketika batasnya digeser. Tidak berteriak ketika sawah berubah menjadi kawasan perumahan. Tidak...

by I Made Pria Dharsana
September 10, 2026
490 Mahasiswa Baru UPMI Bali Memulai Kehidupan Kampus lewat Malam Kreativitas
Pendidikan

490 Mahasiswa Baru UPMI Bali Memulai Kehidupan Kampus lewat Malam Kreativitas

SEBANYAK 490 mahasiswa baru Universitas PGRI Mahadewa Indonesia (UPMI) Bali memulai kehidupan kampus melalui Malam Kreativitas Kampus dan Pembukaan Pengenalan...

by Dede Putra Wiguna
September 9, 2026
Hadirkan Pop-Punk Berbahasa Bali, Satria N Band Luncurkan Single dan Video Klip “Bukan Pemenang Hatimu”
Pop

Hadirkan Pop-Punk Berbahasa Bali, Satria N Band Luncurkan Single dan Video Klip “Bukan Pemenang Hatimu”

BELANTIKA musik Bali kembali mendapat warna baru. Kali ini datang dari Satria N Band, grup musik yang mencoba membawa pop-punk...

by Dede Putra Wiguna
September 9, 2026
Tubuh yang Saya Suruh Begadang
Esai

Tubuh yang Saya Suruh Begadang

SELAMA kira-kira sepuluh tahun terakhir, saya punya kebiasaan yang barangkali tidak terlalu baik bagi tubuh, yakni, begadang. Saya menulis pada...

by Angga Wijaya
September 9, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co