22 June 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Mengintip Proses Teater Legenda Rasa Kopi Banyuatis | Catatan Penulis Naskah dan Sutradara

Kadek Sonia Piscayanti by Kadek Sonia Piscayanti
August 24, 2022
in Esai
Mengintip Proses Teater Legenda Rasa Kopi Banyuatis | Catatan Penulis Naskah dan Sutradara

Salah satu adegan pada sesi latihan Teater Legenda Rasa Kopi Banyuatis

Mementaskan sejarah legenda Kopi Banyuatis bagi saya memang menantang. Proses menemukan cerita saya mulai dari pembicaraan dengan generasi keempat Kopi Banyuatis, Gede Pusaka Harsadena. Pusaka kini mewarisi bisnis Kopi Banyuatis yang telah berkembang pesat tidak hanya di Bali namun juga di Lombok. Usaha yang dirintis turun temurun sejak generasi kakek buyutnya, kini telah mencapai titik terang. Bisnisnya makin kuat dan makin sehat. Sejarah perjalanan panjang kopi ini kemudian diceritakan Pusaka kepada saya, di rumah Mahima. Saya pun mulai menulis naskahnya. Tak perlu lama, naskah ini telah menjadi. Cerita sederhana yang dirangkai dengan kuat dari satu masa ke masa.

Awalnya begini. Jro Dalang, yang menjadi generasi pertama legenda Kopi Banyuatis, adalah seorang seniman dalang yang menemukan bahwa dengan bercerita hidupnya menjadi bermakna. Dengan bercerita, Jro dalang menemukan rasa. Dengan menjadi dalang pula, ia mendapatkan bidang tanah yang kelak ditanaminya kopi. Mengapa kopi? Karena kopilah yang menemaninya berbagi cerita. Kopilah yang menemani orang-orang bercerita, soal apa saja. Lalu Jro Dalang mulai menanam kopi. Karena ia percaya, kopi ini bisa diwariskan hingga generasi berikutnya.

Mencicipi Legenda Rasa Kopi Banyuatis Melalui Teater

Demikianlah lalu anaknya, Putu Dalang, juga diberi pesan untuk meneruskan menanam kopi untuk meneruskan filosofi bapaknya, bahwa kopi adalah proses menanam cerita, menanam rasa yang kelak juga dapat diteruskan ke generasi berikutnya. Putu Dalang, anak Jro Dalang, adalah petani yang tekun dan disiplin menanam kopi dengan hati. Ditambah istrinya, dalam naskah disebut Dadong/Nini, adalah istri yang bisa menjual kopi. Ia memiliki strategi khusus membuat kopi sehingga racikannya sangat digemari dan menjadi idola bagi penikmat kopi.

Generasi ketiga adalah Ketut Englan, yang mulai mengembangkan kopi Banyuatis dari desa-desa, hingga ke kota, dari satu kabupaten ke kabupaten lainnya. Ia meletakkan bisnis kopi sejati, yang orisinal rasanya, dan tidak dicampur dengan bahan lain. Rahasia menjaga rasa kopi adalah dengan mendiamkannya di karung selama satu tahun agar kadar airnya rendah secara alami. Ia berpesan kepada generasi berikutnya Gede Pusaka Harsadena agar tetap mempertahankan rasa kopinya dengan menjaga proses alami dan jangan sampai mencampur bahan lain. Terbukti, kopi ini berhasil menjadi idola masyarakat Bali hingga kini.

Para pemeran karakter teater ini seperti telah berjodoh dengan naskah yang saya tulis ini. Gusti Made Aryana, yang terpilih berperan sebagai Jro Dalang, adalah seniman dalang dalam kehidupan sebenarnya. Ia kerap dipanggil Dalang Sembroli, karena nama salah satu karakter wayangnya adalah Sembroli. Gusti alias Dalang Sembroli merasa jalannya telah dituntun untuk mendapatkan peran ini.

Perkenalan Jro Dalang Sembroli dengan cerita kopi Banyuatis sesungguhnya tak tiba-tiba dimulai. Ia telah mengenal kopi Banyuatis dengan legenda rasanya. Ia juga kenal Gede Pusaka, dan darinya ia juga mendengar kisah ini. Ia bahkan sempat ditunjukkan rumah Jro Dalang Kopi Banyuatis dan merasa tersentuh melihat langsung wayang-wayang koleksi beliau. Dalang Sembroli juga sempat pentas wayang di rumah sang legenda.

Bagus Wira, pemeran Ketut Englan

Lalu ketika casting aktor diumumkan, Dalang Sembroli memang niat mengikuti, namun terkendala waktu. Detik-detik terakhir pengumpulan barulah dia mengirim video casting, dan ternyata ketika diumumkan kemudian ia menjadi aktor terpilih. Ketika proses berlatih dimulai, ia mulai merasakan lebih dalam kata-kata di naskah. Ia tersentuh pada kata-kata, terutama pada bagian ketika Jro Dalang berkata bahwa ia mengabdi kepada seni melalui wayang. Ketika ikhlas mengabdi, ia merasa bahagia.

Berikut petikan monolognya

Namanya mengabdi, jarang juga ada yang bayar kala itu.
Dimana ada yang iklas membayar, saya terima, jika tidak juga tidak apa-apa
.

Dalang Sembroli juga merasakan bahwa energi Jro Dalang seperti mengalir melalui kata-kata dalam naskah, dimana ia merasa bahwa sebagian dari karakter Jro Dalang seperti menginspirasinya terutama dalam hal keikhlasan. Dalang Sembroli percaya, seni adalah jembatan rasa yang hanya dapat dirasakan oleh yang mendapat vibrasi rasa yang sama. Di naskah ini, dia merasakan vibrasi itu. Bahkan ia merasa takdir memainkan karakter Jro Dalang ini adalah sebuah keinginan semesta, seperti istilahnya “cara rurunganga” (seperti dibukakan jalan).

Pemain Putu Dalang, Ida Bagus Partawijaya merasakan hal yang unik pula. Sebagai seorang mantan pilot, dunia akting adalah hal baru baginya. Uniknya dia merasa percaya diri ikut casting karena merasa ingin menunjukkan keinginannya berproses di kesenian, dan mencoba hal baru adalah karakternya. Dengan rasa percaya diri, ia melamar sebagai aktor Jro Dalang, karena merasa dari segi usia, lebih pantas masuk karakter Jro Dalang.

Namun di perjalanan, ia malah terpilih sebagai Putu Dalang, sebab karakter Putu Dalang yang kalem dan serius sangat terwakili olehnya. Sebagai aktor pemula, Ida Bagus Partawijaya merasa sangat gugup ketika diumumkan sebagai aktor yang terpilih memerankan Putu Dalang. Ia merasa ini adalah tanggung jawab besar. Apalagi menyangkut sejarah legenda. Ia tak berani tak serius. Akhirnya ia mulai menghafal naskah dan mendalami perannya.

Satu hal yang menurutnya sulit adalah tertawa. Ida Bagus Partawijaya tak mampu tertawa di atas panggung. Apalagi tertawa satir seperti tuntutan naskah. Persoalan berikutnya adalah memposisikan tangan di atas panggung. Juga melangkahkan kaki, melirikkan mata, dan aspek ekspresi lainnya. Namun pelan-pelan akhirnya ia melatih tubuhnya rileks dan punya tujuan tetap.

Ida Bagus Partawijaya (kiri) pemeran Putu Dalang, dan Tni Wahyuni, pemeran Nini/Dadong

Karakter yang lain adalah Dadong/Nini yang diperankan oleh Tini Wahyuni. Tini Wahyuni adalah mantan dokter yang kini adalah seniman lukis dan penggiat seni musik, dan mulai masuk dunia peran. Karir pertamanya di dunia peran adalah sebagai aktor monolog yang terpilih dalam program Cipta Media Ekspresi, 11 Ibu 11 Panggung 11 Kisah, tahun 2018 silam.

Melalui pengalaman itu, Tini mendalami karakter Dadong/Nini dengan mudah. Apalagi kemiripan karakter dengannya yaitu disiplin dan tangguh, membuat Tini makin merasa klik dengan karakter. Hal lain adalah kesamannya dengan hobinya minum kopi, dan peran Dadong/Nini adalah peracik kopi hebat, yang kelak membangun bisnis kopi Banyuatis dengan mantap. Satu tantangan bagi Tini Wahyuni adalah ketika dia membayangkan bagaimana pada masa itu kopi diracik dengan khusus. Bagaimana dan dengan cara apa. Akhirnya sedikit terkuak di naskah bahwa setelah air panas dan kopi diaduk di cangkir, ditutup sebentar dengan tutup cangkir, lalu dibuka hingga aromanya tercium sempurna.

Tini Wahyuni adalah aktor yang disiplin. Dari empat aktor, dialah yang paling awal menyelesaikan hafalan naskah. Strateginya, bagian naskahnya ia bagi menjadi satuan-satuan ide, lalu disalin ulang dengan tulisan tangan menjadi empat bagian ide. Dipahami dan dihafal dalam dua hari. Luar biasa.

Lain lagi dengan Bagus Widhia Kusuma Putra pemeran Ketut Englan. Dia adalah aktor termuda di kelompok ini, 24 tahun, dan rupanya pengalaman ini adalah pengalaman pertama. Menyutradarai Bagus, saya merasakan bahwa ia membawa tubuh yang sangat santun, merunduk dan rendah hati. Merasa paling muda, Bagus selalu merunduk runduk dan tak berani menatap lawan bicara. Saya mencoba mengarahkannya agar rileks dan tak terbebani. Meski minggu pertama cukup sulit, ternyata beberapa hari berikutnya ia telah mulai rileks dan mampu memperbaiki kelemahan itu.

Proses teater ini berjalan dengan organik dimana para pemainnya bertumbuh menemukan celah terbaik dirinya dalam konteks panggung. Dalang Sembroli yang paling berpengalaman dalam konteks pertunjukan menjadi lead actor yang saya beri tugas memberi benang merah pada adegan, bahkan di beberapa bagian merajut cerita dengan pendekatan seni pertunjukan wayang.

Proses ini juga berkembang pada musik, dimana tim musik mengembangkan suasana melalui kehadiran gender dan suling gambuh, juga suara sesendon dalang. Visual juga ditata dengan lighting yang menghadirkan suasana hangat dan bahagia. Kehadiran kayon memperkuat narasi kebun kopi, pohon kopi, dan filsafat kopi. Semua dihadirkan dengan sederhana dan kuat.

Gusti Made Aryana, pemeran Jro Dalang

Bagi saya, tantangan terbesar pentas ini adalah bagaimana kisah nyata ini dapat dipanggungkan dalam waktu kurang dari sebulan. Terlebih para pemeran terbilang baru di dunia teater. Juga jadwal masing-masing pemain yang padat membuat latihan terjeda beberapa kali. Tantangan berikutnya adalah audiens, yang merupakan kalangan terbatas, dari intern Kopi Banyuatis.

Saya berharap ini berterima bagi keluarga besar Kopi Banyuatis. Setidaknya legenda ini telah dapat didokumentasikan melalui panggung teater. [T]

  • Catatan: Teater Legenda Rasa Kopi Banyuatis ini diakan dipentaskan, Sabtu 27 Agustus 2022, di Hotel Bali Taman, Lovina, Buleleng
Tags: bulelengkopi banyuatisTeaterTeater Kopi Banyuatis
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Pada Kekinian Situs-Situs Lampau, Mengoreografi Wacana dan Tubuh-Hibrida-Kini

Next Post

Di Kota Singaraja, Ada Ruang Terbuka Hijau, Ada Ruang Terbuka Sayur-Mayur

Kadek Sonia Piscayanti

Kadek Sonia Piscayanti

Penulis adalah dosen di Universitas Pendidikan Ganesha Singaraja

Related Posts

Titik Nol, Titik Awal Singaraja —Membangun Kota, Memuliakan Ingatan

by Dewa Rhadea
June 21, 2026
0
Tawuran SD dan Gagalnya Pendidikan Holistik: Cermin Retak Indonesia Emas 2045

"Selama ini kita membangun sekolah di dalam kota. Sudah saatnya kita membangun kota sebagai sekolah." Kalimat itu mungkin terdengar sederhana....

Read moreDetails

Kritik Seni yang Sependek Feed Instagram dan Kolom Komentar

by Made Chandra
June 21, 2026
0
Kritik Seni yang Sependek Feed Instagram dan Kolom Komentar

10 tahun lalu, rubrik perihal kritik seni masih tersusun padat, dengan desain layout yang sebisa mungkin berpihak pada kelengkapan informasi...

Read moreDetails

Membaca Pesta Kesenian Bali Menjelang 50 Tahun   

by I Nyoman Tingkat
June 21, 2026
0
Membaca Pesta Kesenian Bali Menjelang 50 Tahun   

PESTA Kesenian Bali (PKB)ke-48 pada 2026 telah dibuka pada Sabtu, 13 Juni 2026 oleh Gubernur Bali Wayan Koster. Pembukaan tanpa...

Read moreDetails

Menitipkan Jembrana kepada Kreator Digital

by Angga Wijaya
June 21, 2026
0
Menitipkan Jembrana kepada Kreator Digital

MAMED Wedanta adalah salah satu pemuda paling jenaka yang pernah lahir di Jembrana. Melihat wajahnya saja orang sudah ingin tertawa....

Read moreDetails

KLAKSON

by Hartanto
June 20, 2026
0
KLAKSON

SETENGAH abad yang lalu, saya paling benci mendengar suara klakson (dulu disebut tuter), mobil atau motor. Pasalnya, manakala itu saya...

Read moreDetails

Political Awareness: Jalan Kesadaran yang Holistik

by Agung Sudarsa
June 20, 2026
0
Political Awareness: Jalan Kesadaran yang Holistik

Spiritualitas Bukan Pelarian dari Kehidupan Salah satu kesalahpahaman terbesar tentang spiritualitas adalah anggapan bahwa orang spiritual harus menjauh dari urusan...

Read moreDetails

Integritas Itu Soal Salah Hitung Angka atau Salah Hitung Dosa?

by Petrus Imam Prawoto Jati
June 20, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SIDANG pembaca yang budiman, kemarin pagi saya mampir ke pom bensin, dititipi istri saya buat isi motornya yang hampir kosong...

Read moreDetails

Kalau Marx dan Marcuse Ikut Nonton Aksi Demo Mahasiswa “Indonesia Bangkrut”

by Afgan Fadilla
June 18, 2026
0
(Bukan) Demokrasi Kita

DI tengah demonstrasi mahasiswa yang memprotes pemborosan anggaran, kenaikan biaya hidup, dan berbagai proyek pemerintah yang dianggap tidak berpihak kepada...

Read moreDetails

‘Lamak’ dan ‘Maceniga’:Tantangan Praktik Budaya di Tengah Modernitas

by Pande Susan
June 18, 2026
0
‘Lamak’ dan ‘Maceniga’:Tantangan Praktik Budaya di Tengah Modernitas

SAAT matahari mulai menuju satu garis lurus di atas kepala, derau ritmis mengisi ruang di bawah atap Bale Daja rumahku...

Read moreDetails

Mendengarkan Hidup Saya dari Mulut Orang Lain

by Angga Wijaya
June 18, 2026
0
Mendengarkan Hidup Saya dari Mulut Orang Lain

TIGAminggu lalu saya mendengarkan tunangan saya diwawancarai. Kalimat itu terdengar aneh. Biasanya sayalah yang mewawancarai orang. Sejak menjadi wartawan, entah...

Read moreDetails
Next Post
Di Kota Singaraja, Ada Ruang Terbuka Hijau, Ada Ruang Terbuka Sayur-Mayur

Di Kota Singaraja, Ada Ruang Terbuka Hijau, Ada Ruang Terbuka Sayur-Mayur

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mahendra Mangku Pameran Sekaligus Mengurai Kenangan di Komaneka Fine Art Gallery
Pameran

Mahendra Mangku Pameran Sekaligus Mengurai Kenangan di Komaneka Fine Art Gallery

SORE hari, Sabtu 20 Juni 2026 orang-orang pecinta seni, khususnya seni lukis tampak bergerak ke arah timur tepatnya ke Komaneka...

by Nyoman Budarsana
June 21, 2026
Sanggar Gamelan Suling Gita Semara, Duta Palegongan Klasik Gianyar, Siapkan Rekonstruksi Kesenian Era 1970-an di Pesta Kesenian Bali 2026
Panggung

Sanggar Gamelan Suling Gita Semara, Duta Palegongan Klasik Gianyar, Siapkan Rekonstruksi Kesenian Era 1970-an di Pesta Kesenian Bali 2026

KETIKA memasuki salah satu rumah warga di Jalan Serongga No. 31, Banjar Tengah Kanginan, Desa Peliatan, Ubud, Gianyar, mata dan...

by Nyoman Budarsana
June 21, 2026
Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar
Tualang

Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

Saya sangat jarang bergaul dengan alumni apa pun. Dari sekian puluh undangan reuni sekolah, kedatangan saya bisa dihitung dengan jari....

by Made Wirya
June 21, 2026
Lubang | Cerpen Asmaran Dani
Cerpen

Lubang | Cerpen Asmaran Dani

LUBANG menjadi neraka jahanam yang membakar kehidupanku. Di mana saja, lubang selalu ada. Lubang pipet, lubang kloset, lubang tutup odol,...

by Asmaran Dani
June 21, 2026
Puisi-puisi Mahesa Putra | Orkestra Dapur Evolusi Manusia Gemoi
Puisi

Puisi-puisi Mahesa Putra | Orkestra Dapur Evolusi Manusia Gemoi

Pelancong Gersang Aku berhenti memikirkanmu.Jam-jam yang meruntuhkan angka-angka;berlarian masuk rumah. Aku berhenti memikirkanmu.Sejak kamu menggulir layar begitu pagi,memanen percakapan tentang...

by Mahesa Putra
June 21, 2026
Tawuran SD dan Gagalnya Pendidikan Holistik: Cermin Retak Indonesia Emas 2045
Esai

Titik Nol, Titik Awal Singaraja —Membangun Kota, Memuliakan Ingatan

"Selama ini kita membangun sekolah di dalam kota. Sudah saatnya kita membangun kota sebagai sekolah." Kalimat itu mungkin terdengar sederhana....

by Dewa Rhadea
June 21, 2026
Kritik Seni yang Sependek Feed Instagram dan Kolom Komentar
Esai

Kritik Seni yang Sependek Feed Instagram dan Kolom Komentar

10 tahun lalu, rubrik perihal kritik seni masih tersusun padat, dengan desain layout yang sebisa mungkin berpihak pada kelengkapan informasi...

by Made Chandra
June 21, 2026
“Aji Pemalik Sumpah” dari Sekaa Dramatari Arja Sudhamala di Pesta Kesenian Bali 2026: Pertama dan Total
Panggung

“Aji Pemalik Sumpah” dari Sekaa Dramatari Arja Sudhamala di Pesta Kesenian Bali 2026: Pertama dan Total

SEKAA Dramatari Arja Sudhamala ini baru pertamakali pentas di ajang Pesta Kesenian Bali (PKB). Bahkan, sekaa kesenian tradisional Bali yang...

by Nyoman Budarsana
June 21, 2026
’A Salty Dog’, Pelayaran Terakhir di Cakrawala Sunyi
Ulas Musik

’A Salty Dog’, Pelayaran Terakhir di Cakrawala Sunyi

LAGU “A Salty Dog” oleh Procol Harum (1969), dengan lirik karya Keith Reid, adalah elegi tentang pelayaran terakhir, tentang manusia...

by Ahmad Sihabudin
June 21, 2026
Membaca Pesta Kesenian Bali Menjelang 50 Tahun   
Esai

Membaca Pesta Kesenian Bali Menjelang 50 Tahun   

PESTA Kesenian Bali (PKB)ke-48 pada 2026 telah dibuka pada Sabtu, 13 Juni 2026 oleh Gubernur Bali Wayan Koster. Pembukaan tanpa...

by I Nyoman Tingkat
June 21, 2026
Mau Jadi Penulis Hebat? Tulislah Hal Unik dan Autentik!
Khas

Mau Jadi Penulis Hebat? Tulislah Hal Unik dan Autentik!

 “Kalau mau menjadi penulis hebat, tulis yang unik dan autentik.” Kalimat itu meluncur dari mulut sastrawan Bali, Gde Aryantha Soethama,...

by Dede Putra Wiguna
June 21, 2026
Menitipkan Jembrana kepada Kreator Digital
Esai

Menitipkan Jembrana kepada Kreator Digital

MAMED Wedanta adalah salah satu pemuda paling jenaka yang pernah lahir di Jembrana. Melihat wajahnya saja orang sudah ingin tertawa....

by Angga Wijaya
June 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co