25 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Sredek, Makanan Pokok, dan Bagaimana Ia Nyaris Dilupakan

Jaswanto by Jaswanto
April 17, 2025
in Kuliner
Sredek, Makanan Pokok, dan Bagaimana Ia Nyaris Dilupakan

Sredek dengan sambal kacang yang gurih | Foto: tatkala.co/Jaswanto

DI sekitar daerah Gaji, Kerek, Tuban, Jawa Timur, terdapat kuliner lama yang nyaris dilupakan. Namanya sredek, makanan yang terbuat dari singkong parut yang dibumbui garam lalu ditanak—seperti nasi—kemudian disajikan dengan parutan kelapa atau sambal kacang tanah. Makanan berkarbo ini biasanya dijadikan hidangan pagi dan dimasak ketika musim kemarau. Era 2000-an, kuliner ini juga dijajakan pedagang bersama jajanan pasar seperti klepon, jemblem, gethuk, gemblong (jadah), serabi, tape, dll. Namun, kini, sredek sudah jarang dikonsumsi, sebagaimana tiwul dan gatot—dua makanan yang sama-sama berbahan baku singkong.

Nama sredek memang tidak sepopuler gethuk, jenang, wajik, apem, bikang, atau ketan, yang notabene masih banyak dijajakan di warung-warung atau hadir dalam setiap acara seperti pernikahan, khitanan, slametan, atau kematian. Kuliner yang satu ini memang tidak berkaitan dengan kegiatan tradisi apa pun. Ia hanya sekadar makanan pokok pengganti nasi—walaupun di daerah Tulungagung, Jawa Timur, sredek tidak ditanak, tapi digoreng, menjadi cemilan alih-alih makanan pokok.   

Sredek tak tercatat dalam Serat Centhini (karya sastra yang ditulis pada kisaran 1814-1823 Masehi atas perintah Adipati Anom Amangkunagara III yang menjadi raja Kasunanan Surakarta dan bergelar Sunan Pakubuwana V—yang bertahta pada tahun 1820-1823 M), sebagaimana kuliner Jawa lainnya seperti jenang, gemblong, apem, jangan menir, bikang, criping, karag, pecel, gudheg, rujak, nasi uduk, ketan, lemet, pasung, atau legen, dll. Namanya hanya tersiar di pelosok-pelosok tegalan miskin di sekitar bukit-bukit kapur di Tuban. Dulu, ia menjadi makanan pokok di kalangan petani yang sulit memasak nasi—beras.

Zaman berlalu, ketika beras seolah sudah menjadi satu-satunya sumber karbohidrat manusia Tuban, sredek dilupakan dan perlahan-lahan menjelma sekadar ingatan yang ngendon di benak orang-orang desa tegalan pelosok yang sudah tua. Sekarang sredek sudah langka. Semua orang sudah makan nasi beras. Memang masih ada yang jual, tapi sangat jarang. Orang-orang makan sredek hanya karena ingin, hanya sekadar nostalgia, pengobat rindu. Tak benar-benar dibutuhkan seperti dulu.

Sependek ingatan saya, makanan seperti sredek—pun nasi jagung—juga mengandung stigma negatif di kalangan masyarakat tertentu. Dulu, ada anggapan bahwa masyarakat yang menjadikan beras sebagai makanan pokoknya memiliki status sosial yang lebih tinggi daripada masyarakat yang mengonsumsi singkong atau jagung. Masyarakat yang mengonsumsi sredek sebagai makanan pokok dianggap memiliki status sosial lebih rendah atau digolongkan dalam kelompok miskin.

Sredek dengan sambal kacang yang gurih | Foto: tatkala.co/Jaswanto

Waktu duduk di bangku sekolah dasar, saya punya seorang teman yang selalu mengantuk di kelas. Tidak konsentrasi saat belajar. Dan kata guru kami, entah ini hanya lelucon atau serius, bahwa teman saya yang ngantukan itu dikarenakan sering makan nasi jagung dan sredek sebelum berangkat ke sekolah. Ya, makan terlalu banyak karbohidrat memang bisa menyebabkan kantuk karena meningkatnya kadar triptofan dan melatonin dalam tubuh. Tapi bukankah nasi beras juga demikian?

Langkanya—untuk tidak mengatakan lenyapnya—sredek sebagai makanan pokok saya kira berkaitan dengan adanya pergeseran pola pangan di Indonesia, sebagaimana Bapanas (Badan Pangan Nasional) mengungkapkannya. Pada era 2000-an, pola konsumsi pangan di beberapa wilayah di Indonesia masih beragam. Selain makan beras, pada era itu masyarakat masih dominan mengonsumsi jagung, ubi jalar, sorgum dan sagu—untuk wilayah Timur. Namun, memasuki 2010 konsumsi beras dan terigu semakin mendominasi. Dan itu, sedikit banyak sepertinya dipengaruhi oleh berasisasi pada masa pemerintahan Soeharto (Orde Baru).

Beras menggusur jagung-singkong di Jawa, sorgum di Nusa Tenggara Timur (NTT), dan menggantikan sagu di Papua. Diversifikasi “merangkak” ini terjadi kira-kira selama dua dekade di masa Orde Baru, periode 1970 hingga 1980-an. Ketika budaya beras masuk, lidah masyarakat—termasuk di perdesaan di Tuban—beralih yang awalnya biasa makan jagung-singkong kini harus mengonsumsi nasi beras. Petani atau masyarakat pada umumnya, kalau belum makan nasi disebut belum makan—walaupun sudah menandaskan sepiring ubi resbus.

Mengenai hal tersebut, atas kesadaran yang ganjil, beberapa pejabat pemerintahan seperti keputusan Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi pada 2014 silam—pun orang-orang kota yang fokus pada soal ketahanan pangan—menganjurkan masyarakat untuk kembali mengonsumsi makanan lokal—walaupun pada kenyataannya tidak mudah dilakukan. Butuh tenaga ekstra untuk mengubah cara berpikir masyarakat dan mengembalikan kepercayaan diri untuk mengonsumsi makanan lokal. Meskipun sejatinya mereka tahu, makan panganan lokal—seperti sredek, misalnya—bukan berarti status sosialnya lebih rendah dibandingkan mereka yang makan nasi beras.

Ya, seperti kata Mohammad Wail, seniman teater yang dibimbing Toni Brur itu, anjuran untuk kembali mengonsumsi pangan lokal ini adalah sebuah keganjilan. Hal itu menurutnya aneh. Dulu masyarakat seolah “dipaksa” untuk mengonsumsi beras, sekarang, saat lidah orang desa sudah familiar dengan nasi beras, malah dianjurkan kembali mengonsumsi pangan lokal. Ia merespon keganjilan tersebut dengan membaca dan menjelaskan isi kitab berbahasa Madura—yang bersampul oranye tanpa judul—dalam pertunjukan Pangan dan Kata-Kata yang Tak Cukup (2023) karya Jacko Kaneko yang dipentaskan di Pekan Kebudayaan Nasional 2023.

Akar Sejarah Singkong

Singkong (Manihot Utilisima) dikenal dengan banyak penyebutan di Indonesia. Di kawasan Melayu disebut ketela pohon, ubi kayu, ubi jalar, dan singkong; di Jawa disebut kaspe, tela cabut, bodin, menyok, sabrang; di Sunda disebut sampeu; dan di Madura disebut dengan balandong. Dalam kosakata Indonesia, sebutan ketela pohon—di samping singkong, ubi kayu, dan ubi jalar—lebih umum digunakan. Ketela pohon merupakan jenis pangan yang populer di kalangan masyarakat Indonesia. Sejak lama, ketela pohon disukai untuk dibudidayakan di berbagai daerah karena tanaman ini selain mudah ditanam juga memiliki daya adaptasi tumbuh di kondisi lahan apa pun.

Dari penelusuran sejarah, singkong diperkirakan mulai dibudidayakan sekitar 5000 tahun yang lalu. Asal tanaman ini masih diperdebatkan oleh para ahli botani dan arkeologi. Hingga akhir abad ke-19, kebanyakan peneliti bersepakat spesies Manihot berasal dari Amerika Selatan. Mereka menyebut Brasil sebagai daerah asal yang paling mungkin, karena kawasan ini adalah “rumah” bagi pertubuhan aneka ragam Manihot terbesar. Hipotesis ini didasarkan pada bukti berkurun waktu antara 110 dan 1300 M yang terletak di Pulau Marajo di delta Amazon. Begitu Anna Curtenius Roosevelt menulis dalam karyanya Parmana: Prehistoric Maize and Manioc Subsistence along the Amazon and Orinoco (1980).

Manihot adalah satu dari sekian banyak jenis tanaman dari Benua Amerika (selain di antaranya ubi jalar, kentang, jagung, kacang tanah, dan tomat) yang dibawa masuk secara bergelombang ke Nusantara sejak abad ke-16 oleh para pedagang Portugis dan Spanyol. Menurut Hayono Rinardi dalam Politik Singkong Zaman Kolonial, singkong masuk ke Indonesia dibawa oleh Portugis ke Maluku sekitar abad ke-16. Sedangkan peneliti pertanian A.J. Koens (1946) menduga ketela pohon masuk ke Jawa pada awal abad ke-17 dari Maluku.

Gemblong dengan sambal kacang dan parutan kelapa | Foto: tatkala.co/Jaswanto

Sementara peneliti lainnya, I.H. Burkill (1935) menyatakan ketela pohon diperkenalkan ke Jawa pada akhir abad ke-18. Tapi Thomas Stamford Raffles (1817) dalam History of Java-nya tidak menyebut ketela pohon namun ia menyebut tanaman impor dari Benua Amerika seperti jagung dan ubi jalar.

Diperkirakan singkong kali pertama diperkenalkan di suatu kabupaten di Jawa Tumur pada 1852. Namun hingga 1876, seturut catatan H.J. van Swieten, kontrolir di Trenggalek, dalam De zoete cassave (Jatropha Janipha) yang terbit 1875, singkong kurang dikenal di beberapa daerah di Jawa meski ditanam besar-besar di bagian lainnya. Baru pada abad ke-20, konsumsinya meningkat pesat. Singkong ditanam meluas, seturut pertumbuhan penduduk Pulau Jawa yang pesat.

Dalam Akar Sejarah Singkong (2014), Hendri F. Isnaeni menulis, menurut Creutzberg dan van Laanen, meski nilai singkong sebagai makanan kurang dibandingkan beras dan jagung, ia mengggantikan beras di berbagai bagian Jawa Tengah—sebenarnya juga di Jawa Timur perbatasan bagian barat—pada masa paceklik sebelum panen atau saat gagal panen. Dan sebagaimana telah saya singgung di atas, Isnaeni melanjutkan, “menurut Marwati dan Nugroho, karena dipandang lebih rendah daripada padi sebagai bahan pangan pokok, singkong memiliki reputasi buruk di kalangan pakar ekonomi pertanian.” Selain kandungan proteinnya lebih rendah daripada padi, di beberapa kalangan singkong dianggap dekat dengan istilah yang menakutkan: kemiskinan.

Tetapi mungkin itu anggapan masa lalu. Bisa saja, pada era tertentu di masa depan, singkong—atau lebih spesifik kuliner macam sredek—akan kembali digemari, dikonsumsi, disajikan secara estetik di resto-resto borju dengan narasi-narasi atau istilah-istilah ilmiah-akademis, dipandang sebagai makanan masa depan saat penduduk membeludak menyesaki Bumi dan meningkatnya kebutuhan pangan dunia. Semoga, saat masa itu tiba, kita masih bisa menanam singkong di samping banyak orang menanam beton di lahan-lahan produktif. [T]

Reporter/Penulis: Jaswanto
Editor: Adnyana Ole

  • BACA JUGA:
Mbah Candi dan Tangan yang Meracik Ramuan Pelancar Air Susu Ibu
Hikayat Kapas di Tuban dan Perempuan Tua yang Memintalnya
Menyigi Masa Depan Petani Jagung di Tuban, Jawa Timur
Tags: Kabupaten Tubankuliner tradisionalmakanan pokokTuban Bercerita
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Dia Dipa, Dia Barista, Dia Tunarungu: Tetes Kopi Racikan Cerita Hidupnya

Next Post

Bali, Pemimpin, Sampah dan “Campah”

Jaswanto

Jaswanto

Editor/Wartawan tatkala.co

Related Posts

Belajar Mengenal Prancis dari Meja Makan

by Rusdy Ulu
October 8, 2026
0
Belajar Mengenal Prancis dari Meja Makan

BAGI orang Indonesia, keju bukan makanan yang hadir setiap hari di meja makan. Karena itu, ketika dua belas peserta berkumpul...

Read moreDetails

Belajar Mengenal Teknik Prancis Lewat Chicken Ballotine Bersama Chef Simon Tailpied

by Rusdy Ulu
October 3, 2026
0
Belajar Mengenal Teknik Prancis Lewat Chicken Ballotine Bersama Chef Simon Tailpied

MEMBUAT hidangan restoran tidak hanya soal mengikuti resep. Cara mempersiapkan bahan, mengolahnya dengan teknik yang tepat, hingga menyajikannya menjadi bagian...

Read moreDetails

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

by Rusdy Ulu
October 3, 2026
0
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

Read moreDetails

Es Waneng Tabanan dan Rasa Manis yang Bertahan Sejak 1938

by Wahyu Mahaputra
September 28, 2026
0
Es Waneng Tabanan dan Rasa Manis yang Bertahan Sejak 1938

CUKUP dengan uang tiga ribu rupiah saja, segelas penuh minuman es santan yang creamy dan menyegarkan sudah bisa mengalir di...

Read moreDetails

Maklor dan Cilor, Jajanan Jadul yang Bertahan di Tikungan Jalan Merak Singaraja

by Putu Gangga Pradipta
September 4, 2026
0
Maklor dan Cilor, Jajanan Jadul yang Bertahan di Tikungan Jalan Merak Singaraja

MATAHARI pagi belum genap sejengkal naik ketika sebuah gerobak biru berhenti di pinggir Jalan Merak, Singaraja. Di belakangnya, truk-truk besar...

Read moreDetails

Ulam Carik, Jejak Kuliner Persawahan dalam Tanah Lot Art and Food Festival VI 2026

by Nyoman Budarsana
September 1, 2026
0
Ulam Carik, Jejak Kuliner Persawahan dalam Tanah Lot Art and Food Festival VI 2026

UDARA pagi terasa panas ketika rangkaian Tanah Lot Art and Food Festival VII 2026 memasuki penghujung acara. Usai menutup festival,...

Read moreDetails

Merawat Kebersamaan Melalui Tradisi ‘Sambelan’

by Tri Nugroho Adi
August 9, 2026
0
Merawat Kebersamaan Melalui Tradisi ‘Sambelan’

"BU, kulo mung mbekto kuluban godhong kates nggih? Lha ya mung niku sing wonten teng  nggriyo ." (Bu, saya hanya...

Read moreDetails

Becek Tuban, Kuliner Jamuan Hari-Hari Besar

by Jaswanto
June 17, 2026
0
Becek Tuban, Kuliner Jamuan Hari-Hari Besar

“BECEK lagi, becek lagi,” keluh istri saya setiap kali menghadiri hajatan di kampung—entah pernikahan, tujuh bulanan, kematian, sedekah bumi, khitanan,...

Read moreDetails

Serangga dalam Piring Makan Kita

by Jaswanto
April 25, 2026
0
Serangga dalam Piring Makan Kita

JIKA di Gunung Kidul orang-orang desa terbiasa menggoreng belalang, atau masyarakat Jawa Timur—khususnya di kawasan hutan jati—gemar menyantap kepompong ulat...

Read moreDetails

Seporsi Nasi Cokot dan Senyum Fadillah —Menggigit Harapan di Trotoar Dewi Sartika Singaraja

by Putu Gangga Pradipta
April 12, 2026
0
Seporsi Nasi Cokot dan Senyum Fadillah —Menggigit Harapan di Trotoar Dewi Sartika Singaraja

MATAHARI baru saja mengintip di ufuk timur Kota Singaraja. Jarum jam menunjukkan pukul 07.00 WITA, namun denyut nadi di Jalan...

Read moreDetails
Next Post
Bali, Pemimpin, Sampah dan “Campah”

Bali, Pemimpin, Sampah dan "Campah"

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Menyulam Masa Depan Laut Lovina
Liputan Khusus

Menyulam Masa Depan Laut Lovina

PUKUL berapa pun laut memanggil, Edi Harianto tahu apa yang harus dilakukannya. Lelaki berusia 50 tahun itu sudah akrab dengan...

by Jaswanto
October 24, 2026
Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar
Pendidikan

Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar

NILAI rata-rata Tes Kemampuan Akademik (TKA) Matematika di SMP Negeri 14 Denpasar baru mencapai 41,31. Dari 307 peserta didik, sekitar...

by Dede Putra Wiguna
October 24, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Selamat Datang di Negara “Clickbait”

SEPERTINYA sudah bukan lagi zamannya bertanya program mana yang paling bagus. Di negeri yang pandai menjual harapan, pertanyaan pertama justru...

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 24, 2026
Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat
Pendidikan

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat

SEBANYAK 693 lulusan Institut Agama Hindu Negeri (IAHN) Mpu Kuturan Singaraja resmi menyelesaikan pendidikan mereka dalam Wisuda II yang berlangsung...

by Wahyu Mahaputra
October 23, 2026
Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium
Panggung

Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium

KETIKA gamelan Bali disandingkan dengan instrumen Barat seperti biola (strings), gitar, saxophone, keyboard, dan piano, hasilnya adalah sebuah komposisi simfoni...

by Nyoman Budarsana
October 23, 2026
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co