4 June 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Mbah Candi dan Tangan yang Meracik Ramuan Pelancar Air Susu Ibu

Jaswanto by Jaswanto
April 14, 2025
in Khas
Mbah Candi dan Tangan yang Meracik Ramuan Pelancar Air Susu Ibu

Beberapa daun untuk ramuan pelancar air susu ibu | Foto: tatkala.co/Jaswanto

DI dapurnya yang sederhana, dengan gerakan lambat Mbah Candi memungut dedaunan dari kantong plastik itu. Daun-daun itu baru saja dipetik cucunya dari ladang yang tak jauh dari tempat tinggal mereka. “Ini semua tumbuh liar, tak ada yang dibudidayakan,” ujar Candi kepada tatkala.co, Minggu (13/4/2025) siang. “Tapi daun-daun ini memiliki khasiat yang banyak,” sambung perempuan tua itu.

Tentu saja Candi bukan seorang ilmuwan botani yang lulus dari universitas dengan nama besar. Ia hanya seorang perempuan tua yang bahkan tak pernah menyentuh bangku sekolah dasar. Tapi ia tahu soal beberapa tanaman yang bisa diolah menjadi ramuan ajaib—sebagaimana acaraki pada umumnya. Pengetahuan tersebut didapat secara turun-temurun dari keluarganya, lebih tepatnya dari neneknya. “Nenek mengajarkan saya ilmu meracik jamu beserta mantra-mantranya,” akunya dengan bahasa Jawa Timuran yang khas.

Beberapa daun untuk ramuan pelancar air susu ibu | Foto: tatkala.co/Jaswanto

Benar. Daun-daun liar yang Candi kumpulkan memang bukan sebagai sayur pelengkap hidangan di meja makan, tapi diracik untuk memperlancar air susu ibu (ASI) setelah perempuan melahirkan. Sudah sejak lama Candi menerima pesanan jamu pelancar ASI ini. Pesanan datang dari Desa Gaji, Kecamatan Kerek, Kabupaten Tuban, dan sekitarnya. Banyak ibu yang sudah membuktikan manfaat ramuan yang ia racik.

Julita, misalnya. Ibu muda yang baru dua bulan melahirkan ini membuktikan jamu racikan Candi benar-benar berkhasiat. Pada awalnya ia susah mengeluarkan air susu. Tapi setelah semingguan mengonsumsi ramuan ajaib itu, air susunya perlahan-lahan melimpah. Julita nyaris tak percaya bahwa daun-daun liar itu benar-benar dapat membantunya menyusui anak pertamanya.

“Awalnya saya ragu. Tapi setelah mencobanya beberapa kali, saya merasakan perubahan itu,” katanya. Kini Julita rutin memesan jamu racikan Candi. “Rasanya sedikit pahit, sedikit manis, tapi terasa segar—apalagi kalau dikulkas,” terang Julita.

Tidak seperti obat-obatan modern, menurut Julita, jamu buatan Candi tak memiliki efek samping—dan tentu saja aman dikonsumsi. Ya, selama ini tidak ada keluhan dari ibu-ibu yang meminum ramuan ajaib Candi, kecuali pengakuan akan manfaatnya.  

Mbah Candi sedang membuat ramuan pelancar air susu ibu | Foto: tatkala.co/Jaswanto

Ramuan ajaib ini terdiri dari beberapa jenis daun, seperti daun kesambi, kutu, jambu biji, saga rambat, serut, otok, meniran, kalak, dan sembukan (daun kentut) dengan bahan tambahan temulawak, asam jawa, dan garam. Semua daun itu hanya pucuknya—daun yang masih muda—saja yang bisa digunakan. “Yang tua tidak bisa,” kata Candi sembari tersenyum.

Proses membuat jamu ini cukup mudah. Daun-daun muda itu cukup dicuci bersih lalu ditumbuk bersama temulawak. Ditambah air sedikit lalu diperas dan disaring kemudian diberi garam dan asam jawa secukupnya. Sari-sari dedaunan itulah yang dikonsumsi para ibu yang baru saja melahirkan. Khasiatnya, menurut Candi, tak hanya memperlancar air susu ibu, tapi juga membuat perut sang bayi merasa nyaman—adem, kata nenek tua itu.

Mbah Candi sedang membuat ramuan pelancar air susu ibu | Foto: tatkala.co/Jaswanto

Selain ramuan ini, Candi bisa meracik beberapa jamu lain, seperti jamu uyah asem salah satunya. Jamu ini berkhasiat untuk urusan pencernaan. Pada 2012, Kementerian Kesehatan Indonesia mencatat ada 15.773 resep jamu yang berbeda di Nusantara. Setiap jamu dipercaya memiliki khasiat yang berbeda-beda.

Sampai di sini, jamu memiliki sejarah yang kaya dan kuno, berasal dari masa Kerajaan Mataram (abad ke-16)—walaupun ada juga yang meyakini bahwa keberadaan jamu di tengah masyarakat jauh sebelum abad ke-16, yakni abad ke-8, lebih dari 1.300 tahun yang lalu. Hal ini mengingat ditemukannya buku-buku resep kuno pembuatan jamu di perpustakaan kerajaan Jawa di Yogyakarta dan Surakarta.

Menurut beberapa ahli sejarah, jamu pertama kali diminum di lingkungan istana raja, kemudian diperkenalkan ke desa-desa oleh para tabib, dukun. Kemudian, resepnya diturunkan dari mulut ke mulut melalui keluarga—sebagaimana Mbah Candi mewarisinya. Sedangkan menurut antropolog Patrick Vanhoebrouck—yang tinggal di Jawa selama lebih dari 20 tahun, referensi ekstrak herbal (jamu) dapat ditemukan di relief candi Borobudur di Jawa Tengah.

“Penelitian arkeologi pada candi-candi abad ke-9 di Jawa Tengah menunjukkan jamu dan resep obat herbal sudah ada untuk menjaga kesehatan,” kata Vanhoebrouck. Alu dan lesung, alat pembuat jamu, juga ditemukan dalam penggalian arkeologi dan berasal dari zaman Kerajaan Mataram.

Bukti sejarah lainnya terdapat pada prasasti Madhawapura dari peninggalan kerajaan Majapahit yang menyebut adanya profesi “tukang meracik jamu” yang disebut “acaraki”. Setelah mengenal budaya menulis, bukti sejarah mengenai penggunaan jamu semakin kuat dengan keberadaan lontar usada di Bali yang ditulis menggunakan bahasa Jawa kuno.

Ramuan pelancar air susu ibu buatan Mbah Candi | Foto: tatkala.co/Jaswanto

Kini, jamu tidak hanya hadir di ruang-ruang orang tua, tapi mulai menempati hati penggemar mudanya. Jamu perlahan masuk ke ruang-ruang pop dengan berbagai jurusnya: hadir dalam stan-stan acara yang diprakarsai anak muda, menjadi pilihan non-kopi di coffee shop dengan dibuat menjadi mocktail, tampil sebagai alternatif suplemen penjaga kebugaran sehari-hari. Lahirnya berbagai jenama dan cafe yang mengusung rempah Nusantara sebagai bagian dari menu utamanya, membuat jamu kian berumur panjang.

Pada akhirnya, seturut keresahan Arswendo Atmowiloto yang dimuat di Majalah Tempo pada tanggal 25 Oktober 1999, “Jamu bisa menjadi identitas nasional yang aman, membanggakan”. Atau seperti kata mantan Dirjen Kebudayaan Hilmar Farid: jamu adalah salah satu resep yang menyembuhkan, menguatkan, dan menyatukan kita. Budaya Sehat Jamu resmi menjadi Warisan Budaya Takbenda (WBTb) dari Indonesia ke-13 yang diinskripsi ke dalam daftar WBTb UNESCO tahun 2023. [T]

Reporter/Penulis: Jaswanto
Editor: Adnyana Ole

Hikayat Kapas di Tuban dan Perempuan Tua yang Memintalnya
Menyigi Masa Depan Petani Jagung di Tuban, Jawa Timur
Tags: herbalJawa TimurKabupaten Tubanobat herbal
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Dilema Suku Baduy [1]: Antara Kewajiban “Ngahuma” dan Keterbatasan Lahan

Next Post

“Return to Innocence”, Nyepi, dan  Sebuah Ajakan Kembali ke Kepolosan Diri

Jaswanto

Jaswanto

Editor/Wartawan tatkala.co

Related Posts

Dari Kamar Biasa ke Pengalaman Luar Biasa —Cerita Desa Kedisan Berbenah

by Ni Luh Putu Intan Nirmalasari
June 3, 2026
0
Dari Kamar Biasa ke Pengalaman Luar Biasa —Cerita Desa Kedisan Berbenah

DESA Kedisan di Kintamani, Bangli, itu sebenarnya sudah “menjual” tanpa harus banyak usaha. Pemandangan Danau Batur yang tenang, udara sejuk, dan suasana desa yang...

Read moreDetails

‘Lambuk Baa’ di Pura Parerepan Samuan Tiga: Ritus Api di Tengah Kota Denpasar

by Abdi Jaya Prawira
June 3, 2026
0
‘Lambuk Baa’ di Pura Parerepan Samuan Tiga: Ritus Api di Tengah Kota Denpasar

BULAN Purnama Asaddha yang baru lewat sehari masih bulat sempurna, menggantung sedikit miring di atas langit Desa Sidakarya, seperti sedang...

Read moreDetails

Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

by Putu Agus Eka Pradnyana
June 1, 2026
0
Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

Di bawah langit Mei yang teduh, halaman SMPN 2 Banjar kembali dipenuhi cahaya kebanggaan. Bulan yang identik dengan harum tanah...

Read moreDetails

Di Tengah Dunia yang Semakin Pintar, Manusia Jangan Sampai Kehilangan Hati

by Emi Suy
June 1, 2026
0
Di Tengah Dunia yang Semakin Pintar, Manusia Jangan Sampai Kehilangan Hati

Catatan tentang AI, media sosial, dan manusia yang semakin sulit mendengar suara hatinya sendiri. KADANG-KADANG saya merasa bahwa perubahan terbesar...

Read moreDetails

Bertumbuh, Berkembang, Meraih Bintang  –Cerita dari Acara Pelepasan di SMAN 2 Kuta Selatan

by I Nyoman Tingkat
May 28, 2026
0
Bertumbuh, Berkembang, Meraih Bintang  –Cerita dari Acara Pelepasan di SMAN 2 Kuta Selatan

SMA Negeri 2 Kuta Selatan (Toska)menggelar acara pelepasan Angkatan V pada Selasa Pon Waregadian, 26 Mei 2026, di Aula Jove...

Read moreDetails

Dari Program Desa Binaan Fakultas Bahasa dan Seni Undiksha: Pelatihan Ekoliterasi di Pondok Literasi Sabih, Desa Pedawa, Buleleng

by I Wayan Artika
May 27, 2026
0
Dari Program Desa Binaan Fakultas Bahasa dan Seni Undiksha: Pelatihan Ekoliterasi di Pondok Literasi Sabih, Desa Pedawa, Buleleng

DESA Pedawa di Kecamatan Banjar, Kabupaten Buleleng, Bali, terkenal dengan gula Pedawa. Gula ini sejatinya adalah gula merah atau gula...

Read moreDetails

Dari Cerita Bergambar ke Dunia Digital: Cara Mahasiswa Pascasarjana Undiksha Menanamkan Literasi di SD Negeri 7 Kampung Baru, Singaraja

by Dede Putra Wiguna
May 27, 2026
0
Dari Cerita Bergambar ke Dunia Digital: Cara Mahasiswa Pascasarjana Undiksha Menanamkan Literasi di SD Negeri 7 Kampung Baru, Singaraja

BAGI sebagian siswa SD Negeri 7 Kampung Baru, Singaraja, hari itu menjadi pengalaman pertama mengenal Canva. Ada yang masih bingung...

Read moreDetails

Riuh yang Mengikat Kebersamaan – Cerita Jeda Semester Genap di SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar

by Dede Putra Wiguna
May 26, 2026
0
Riuh yang Mengikat Kebersamaan – Cerita Jeda Semester Genap di SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar

AULA SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam) pagi itu tidak seperti biasanya. Tidak ada suasana tegang ujian, tidak pula wajah-wajah...

Read moreDetails

Menjadikan Ujian Lebih Bermakna Lewat Antologi Puisi dan Cerpen

by Dede Putra Wiguna
May 25, 2026
0
Menjadikan Ujian Lebih Bermakna Lewat Antologi Puisi dan Cerpen

BAGI sebagian siswa, menulis puisi dan cerpen mungkin bukan perkara sulit. Namun membuatnya dalam bentuk kolektif dan memiliki benang merah...

Read moreDetails

Cekrek Sunyi Mata Kamera Widnyana Sudibya

by Kardanis Mudawi Jaya
May 24, 2026
0
Cekrek Sunyi Mata Kamera Widnyana Sudibya

SEJAK tahun 2018, saya tidak pernah lagi bertemu dan mengobrol lama sambil menikmati kopi dan kacang dalam satu lingkup kerja...

Read moreDetails
Next Post
“Return to Innocence”, Nyepi, dan  Sebuah Ajakan Kembali ke Kepolosan Diri

"Return to Innocence", Nyepi, dan  Sebuah Ajakan Kembali ke Kepolosan Diri

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Pandemi, Hukum Rta, dan Keimanan Saya

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cinta dan Penyesalan | Cerpen Dede Putra Wiguna

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Baduy Luar,  Etalase Pariwisata Banten
Tualang

Baduy Luar,  Etalase Pariwisata Banten

SEHARI di Baduy Luarbersama Bandesa/Panglingsir Desa Adat di Badung pada Jumat Paing Gumbreg, 15 Mei 2026, selain merasakan suasana alami...

by I Nyoman Tingkat
June 3, 2026
Dokter Gia: Pilihan Kata Mengolah Rasa
Bahasa

Dokter Gia: Pilihan Kata Mengolah Rasa

DOKTER Gia Pratama (dr. Gia) —seorang dokter dan penulis yang aktif di media sosial untuk mengedukasi masyarakat dalam dunia kesehatan—pernah...

by I Made Sudiana
June 3, 2026
Dari Kamar Biasa ke Pengalaman Luar Biasa —Cerita Desa Kedisan Berbenah
Khas

Dari Kamar Biasa ke Pengalaman Luar Biasa —Cerita Desa Kedisan Berbenah

DESA Kedisan di Kintamani, Bangli, itu sebenarnya sudah “menjual” tanpa harus banyak usaha. Pemandangan Danau Batur yang tenang, udara sejuk, dan suasana desa yang...

by Ni Luh Putu Intan Nirmalasari
June 3, 2026
Dari Panggung Proklamasi di Desa Depeha: Ketika Siswa SD Mengumandangkan Kembali Teks Proklamasi yang Sakral
Panggung

Dari Panggung Proklamasi di Desa Depeha: Ketika Siswa SD Mengumandangkan Kembali Teks Proklamasi yang Sakral

SELASA pagi, 2 Juni 2026, udara dingin bergerak pelan hingga memenuhi setiap sudut Wantilan Kantor Desa Depeha, Kecamatan Kubutambahan, Buleleng....

by Komang Sujana
June 3, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Reforma Agraria : Ketika Rakyat Hanya Memegang HGB di Atas HPL Bank Tanah

REFORMA Agraria merupakan salah satu agenda konstitusional yang lahir dari cita-cita besar para pendiri bangsa untuk mewujudkan keadilan sosial di...

by I Made Pria Dharsana
June 3, 2026
‘Ruwating Bumi’ —Tradisi Perang Gandu yang Menjelma Komposisi Semar Pegulingan
Panggung

‘Ruwating Bumi’ —Tradisi Perang Gandu yang Menjelma Komposisi Semar Pegulingan

MALAM itu, di Wantilan Pura Puseh Desa Adat Batuan, Gianyar, karya berjudul ‘Ruwating Bumi’ membuka rangkaian Diseminasi Karya Tugas Akhir...

by Dede Putra Wiguna
June 3, 2026
Refleksi Harmoni dalam Panggung Seni —Ketika Mahasiswa Sendratasik UPMI Bali Merawat Tradisi Melalui Karya Inovatif
Panggung

Refleksi Harmoni dalam Panggung Seni —Ketika Mahasiswa Sendratasik UPMI Bali Merawat Tradisi Melalui Karya Inovatif

DI tengah derasnya arus modernisasi yang terus menguji ketahanan budaya Bali, seni pertunjukan kembali menegaskan perannya sebagai ruang refleksi sekaligus...

by Dede Putra Wiguna
June 3, 2026
Pertemuan William James dan Vivekananda
Esai

Pertemuan William James dan Vivekananda

Dua Biografi: Jalan dari Timur dan Barat SWAMI Vivekananda lahir dengan nama Narendra Nath Datta pada tahun 1863 di Kolkata,...

by Agung Sudarsa
June 3, 2026
‘Lambuk Baa’ di Pura Parerepan Samuan Tiga: Ritus Api di Tengah Kota Denpasar
Khas

‘Lambuk Baa’ di Pura Parerepan Samuan Tiga: Ritus Api di Tengah Kota Denpasar

BULAN Purnama Asaddha yang baru lewat sehari masih bulat sempurna, menggantung sedikit miring di atas langit Desa Sidakarya, seperti sedang...

by Abdi Jaya Prawira
June 3, 2026
‘Nyama Kelod-Nyama Kaje’: Menakar Kerukunan Tradisional Menjadi Mesin Baru Pariwisata Inklusif Buleleng
Esai

‘Nyama Kelod-Nyama Kaje’: Menakar Kerukunan Tradisional Menjadi Mesin Baru Pariwisata Inklusif Buleleng

JIKA ada wilayah di Bali yang paling fasih merawat keberagaman jauh sebelum kosakata "moderasi" riuh diperdebatkan di ruang-ruang seminar, tempat...

by Eril Paizi
June 2, 2026
Ketika Veni Calista dan Jesselyn Lauwreen Mengulek Sambal di Ubud Food Festival 2026
Persona

Ketika Veni Calista dan Jesselyn Lauwreen Mengulek Sambal di Ubud Food Festival 2026

SORE itu, aroma cabai, terasi, dan rempah-rempah perlahan memenuhi Teater Kuliner Ubud Food Festival 2026. Di atas panggung, tak ada...

by Dede Putra Wiguna
June 2, 2026
Ke Pacet Mereka Kembali
Tualang

Ke Pacet Mereka Kembali

DI pertigaan Krian arah Mojosari, kendaraan berplat L dan W beriring-iringan menyesaki jalan menuju ke titik yang sama. Mobil-motor dari...

by Jaswanto
June 2, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co