25 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Mbah Candi dan Tangan yang Meracik Ramuan Pelancar Air Susu Ibu

Jaswanto by Jaswanto
April 14, 2025
in Khas
Mbah Candi dan Tangan yang Meracik Ramuan Pelancar Air Susu Ibu

Beberapa daun untuk ramuan pelancar air susu ibu | Foto: tatkala.co/Jaswanto

DI dapurnya yang sederhana, dengan gerakan lambat Mbah Candi memungut dedaunan dari kantong plastik itu. Daun-daun itu baru saja dipetik cucunya dari ladang yang tak jauh dari tempat tinggal mereka. “Ini semua tumbuh liar, tak ada yang dibudidayakan,” ujar Candi kepada tatkala.co, Minggu (13/4/2025) siang. “Tapi daun-daun ini memiliki khasiat yang banyak,” sambung perempuan tua itu.

Tentu saja Candi bukan seorang ilmuwan botani yang lulus dari universitas dengan nama besar. Ia hanya seorang perempuan tua yang bahkan tak pernah menyentuh bangku sekolah dasar. Tapi ia tahu soal beberapa tanaman yang bisa diolah menjadi ramuan ajaib—sebagaimana acaraki pada umumnya. Pengetahuan tersebut didapat secara turun-temurun dari keluarganya, lebih tepatnya dari neneknya. “Nenek mengajarkan saya ilmu meracik jamu beserta mantra-mantranya,” akunya dengan bahasa Jawa Timuran yang khas.

Beberapa daun untuk ramuan pelancar air susu ibu | Foto: tatkala.co/Jaswanto

Benar. Daun-daun liar yang Candi kumpulkan memang bukan sebagai sayur pelengkap hidangan di meja makan, tapi diracik untuk memperlancar air susu ibu (ASI) setelah perempuan melahirkan. Sudah sejak lama Candi menerima pesanan jamu pelancar ASI ini. Pesanan datang dari Desa Gaji, Kecamatan Kerek, Kabupaten Tuban, dan sekitarnya. Banyak ibu yang sudah membuktikan manfaat ramuan yang ia racik.

Julita, misalnya. Ibu muda yang baru dua bulan melahirkan ini membuktikan jamu racikan Candi benar-benar berkhasiat. Pada awalnya ia susah mengeluarkan air susu. Tapi setelah semingguan mengonsumsi ramuan ajaib itu, air susunya perlahan-lahan melimpah. Julita nyaris tak percaya bahwa daun-daun liar itu benar-benar dapat membantunya menyusui anak pertamanya.

“Awalnya saya ragu. Tapi setelah mencobanya beberapa kali, saya merasakan perubahan itu,” katanya. Kini Julita rutin memesan jamu racikan Candi. “Rasanya sedikit pahit, sedikit manis, tapi terasa segar—apalagi kalau dikulkas,” terang Julita.

Tidak seperti obat-obatan modern, menurut Julita, jamu buatan Candi tak memiliki efek samping—dan tentu saja aman dikonsumsi. Ya, selama ini tidak ada keluhan dari ibu-ibu yang meminum ramuan ajaib Candi, kecuali pengakuan akan manfaatnya.  

Mbah Candi sedang membuat ramuan pelancar air susu ibu | Foto: tatkala.co/Jaswanto

Ramuan ajaib ini terdiri dari beberapa jenis daun, seperti daun kesambi, kutu, jambu biji, saga rambat, serut, otok, meniran, kalak, dan sembukan (daun kentut) dengan bahan tambahan temulawak, asam jawa, dan garam. Semua daun itu hanya pucuknya—daun yang masih muda—saja yang bisa digunakan. “Yang tua tidak bisa,” kata Candi sembari tersenyum.

Proses membuat jamu ini cukup mudah. Daun-daun muda itu cukup dicuci bersih lalu ditumbuk bersama temulawak. Ditambah air sedikit lalu diperas dan disaring kemudian diberi garam dan asam jawa secukupnya. Sari-sari dedaunan itulah yang dikonsumsi para ibu yang baru saja melahirkan. Khasiatnya, menurut Candi, tak hanya memperlancar air susu ibu, tapi juga membuat perut sang bayi merasa nyaman—adem, kata nenek tua itu.

Mbah Candi sedang membuat ramuan pelancar air susu ibu | Foto: tatkala.co/Jaswanto

Selain ramuan ini, Candi bisa meracik beberapa jamu lain, seperti jamu uyah asem salah satunya. Jamu ini berkhasiat untuk urusan pencernaan. Pada 2012, Kementerian Kesehatan Indonesia mencatat ada 15.773 resep jamu yang berbeda di Nusantara. Setiap jamu dipercaya memiliki khasiat yang berbeda-beda.

Sampai di sini, jamu memiliki sejarah yang kaya dan kuno, berasal dari masa Kerajaan Mataram (abad ke-16)—walaupun ada juga yang meyakini bahwa keberadaan jamu di tengah masyarakat jauh sebelum abad ke-16, yakni abad ke-8, lebih dari 1.300 tahun yang lalu. Hal ini mengingat ditemukannya buku-buku resep kuno pembuatan jamu di perpustakaan kerajaan Jawa di Yogyakarta dan Surakarta.

Menurut beberapa ahli sejarah, jamu pertama kali diminum di lingkungan istana raja, kemudian diperkenalkan ke desa-desa oleh para tabib, dukun. Kemudian, resepnya diturunkan dari mulut ke mulut melalui keluarga—sebagaimana Mbah Candi mewarisinya. Sedangkan menurut antropolog Patrick Vanhoebrouck—yang tinggal di Jawa selama lebih dari 20 tahun, referensi ekstrak herbal (jamu) dapat ditemukan di relief candi Borobudur di Jawa Tengah.

“Penelitian arkeologi pada candi-candi abad ke-9 di Jawa Tengah menunjukkan jamu dan resep obat herbal sudah ada untuk menjaga kesehatan,” kata Vanhoebrouck. Alu dan lesung, alat pembuat jamu, juga ditemukan dalam penggalian arkeologi dan berasal dari zaman Kerajaan Mataram.

Bukti sejarah lainnya terdapat pada prasasti Madhawapura dari peninggalan kerajaan Majapahit yang menyebut adanya profesi “tukang meracik jamu” yang disebut “acaraki”. Setelah mengenal budaya menulis, bukti sejarah mengenai penggunaan jamu semakin kuat dengan keberadaan lontar usada di Bali yang ditulis menggunakan bahasa Jawa kuno.

Ramuan pelancar air susu ibu buatan Mbah Candi | Foto: tatkala.co/Jaswanto

Kini, jamu tidak hanya hadir di ruang-ruang orang tua, tapi mulai menempati hati penggemar mudanya. Jamu perlahan masuk ke ruang-ruang pop dengan berbagai jurusnya: hadir dalam stan-stan acara yang diprakarsai anak muda, menjadi pilihan non-kopi di coffee shop dengan dibuat menjadi mocktail, tampil sebagai alternatif suplemen penjaga kebugaran sehari-hari. Lahirnya berbagai jenama dan cafe yang mengusung rempah Nusantara sebagai bagian dari menu utamanya, membuat jamu kian berumur panjang.

Pada akhirnya, seturut keresahan Arswendo Atmowiloto yang dimuat di Majalah Tempo pada tanggal 25 Oktober 1999, “Jamu bisa menjadi identitas nasional yang aman, membanggakan”. Atau seperti kata mantan Dirjen Kebudayaan Hilmar Farid: jamu adalah salah satu resep yang menyembuhkan, menguatkan, dan menyatukan kita. Budaya Sehat Jamu resmi menjadi Warisan Budaya Takbenda (WBTb) dari Indonesia ke-13 yang diinskripsi ke dalam daftar WBTb UNESCO tahun 2023. [T]

Reporter/Penulis: Jaswanto
Editor: Adnyana Ole

Hikayat Kapas di Tuban dan Perempuan Tua yang Memintalnya
Menyigi Masa Depan Petani Jagung di Tuban, Jawa Timur
Tags: herbalJawa TimurKabupaten Tubanobat herbal
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Dilema Suku Baduy [1]: Antara Kewajiban “Ngahuma” dan Keterbatasan Lahan

Next Post

“Return to Innocence”, Nyepi, dan  Sebuah Ajakan Kembali ke Kepolosan Diri

Jaswanto

Jaswanto

Editor/Wartawan tatkala.co

Related Posts

Ngusaba Segara lan Ngusaba Nini Desa Adat Kusamba: Generasi Muda Jangan Malu Lestarikan Tradisi

by Wahyu Mahaputra
October 25, 2026
0
Ngusaba Segara lan Ngusaba Nini Desa Adat Kusamba: Generasi Muda Jangan Malu Lestarikan Tradisi

RATUSAN krama Desa Adat Kusamba berjalan beriringan dari Pura Puseh menuju Pura Segara, Minggu (25/10/2026). Mereka mengikuti tradisi mapeed, mengiringi...

Read moreDetails

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
0
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

Read moreDetails

“Satu Pemberhentian Lagi”: Film Pendek tentang Bus, Kemacetan, dan Pilihan Bertransportasi di Pekan Iklim Bali

by Ingga Adelia
October 18, 2026
0
“Satu Pemberhentian Lagi”: Film Pendek tentang Bus, Kemacetan, dan Pilihan Bertransportasi di Pekan Iklim Bali

Siang itu, Flow Workspace di kawasan Sanur, Denpasar, dipenuhi anak-anak muda, terutama pencinta film dan para aktor. Mereka berkumpul, bercakap-cakap,...

Read moreDetails

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
0
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

Read moreDetails

 “Tur Mencari Kebebasan: Jakarta—Bogor—Tangerang” —Berkenalan ke Publik yang Lebih Luas

by Rusdy Ulu
September 29, 2026
0
 “Tur Mencari Kebebasan: Jakarta—Bogor—Tangerang” —Berkenalan ke Publik yang Lebih Luas

TIGA tahun telah terlewat, dua buku telah dirilis oleh Beatriff Collective. Buku pertama bertajuk “(Se-)Putar Musik” (2025), kemudian “Memahami Musik,...

Read moreDetails

Menari di Langit Batu Tampih, Ribuan Rare Angon Hidupkan Tradisi Layang-Layang

by Nyoman Budarsana
September 28, 2026
0
Menari di Langit Batu Tampih, Ribuan Rare Angon Hidupkan Tradisi Layang-Layang

SEMARAK dan meriah. Begitulah suasana yang terlihat di kawasan Pantai Batu Tampih, Desa Pangkung Tibah, Kecamatan Kediri, Kabupaten Tabanan, Minggu...

Read moreDetails

Usaha Merawat Rasa di Tengah Bisingnya Informasi

by Nyoman Budarsana
September 27, 2026
0
Usaha Merawat Rasa di Tengah Bisingnya Informasi

BERITA tentang bencana, perang, pengungsian, sampah, persoalan air, dan menyusutnya ruang hidup datang hampir tanpa jeda. Sebagian muncul sebagai notifikasi...

Read moreDetails

Kondisi Situs Cagar Budaya Bale Kulkul Puri Pemecutan, Tak Terawat, Ditumbuhi Rumput dan Semak Belukar

by Jaswanto
September 24, 2026
0
Kondisi Situs Cagar Budaya Bale Kulkul Puri Pemecutan, Tak Terawat, Ditumbuhi Rumput dan Semak Belukar

“YA, kondisinya memang tak terawat―mungkin nggak peduli,” jawab Dewa Purwita Sukahet kepada tatkala.co saat dihubungi melalui direct message Instagram, Rabu...

Read moreDetails

Pesta Demokrasi di SMKS Kesehatan Bali Medika: Dihari Purnama dan Hanin Azzahra Siap Pimpin OSIS Kesbam

by Dede Putra Wiguna
September 21, 2026
0
Pesta Demokrasi di SMKS Kesehatan Bali Medika: Dihari Purnama dan Hanin Azzahra Siap Pimpin OSIS Kesbam

SUASANA aula SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar pada Kamis, 17 September 2026, berbeda dari biasanya. Ratusan siswa duduk menghadap panggung....

Read moreDetails

“Batubelah Art Space”: Membawa Sujana Suklu, Nyoman Sartini, dan Nyoman Darmadi ke Art & Bali 2026

by I Wayan Sujana Suklu
September 20, 2026
0
“Batubelah Art Space”: Membawa Sujana Suklu, Nyoman Sartini, dan Nyoman Darmadi ke Art & Bali 2026

Batubelah Art Space, dikomandoi Wayan Sabath Sukma Miarna ketika hadir dalam Art & Bali 2026 di Nuanu Creative City, Tabanan,...

Read moreDetails
Next Post
“Return to Innocence”, Nyepi, dan  Sebuah Ajakan Kembali ke Kepolosan Diri

"Return to Innocence", Nyepi, dan  Sebuah Ajakan Kembali ke Kepolosan Diri

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ngusaba Segara lan Ngusaba Nini Desa Adat Kusamba: Generasi Muda Jangan Malu Lestarikan Tradisi
Khas

Ngusaba Segara lan Ngusaba Nini Desa Adat Kusamba: Generasi Muda Jangan Malu Lestarikan Tradisi

RATUSAN krama Desa Adat Kusamba berjalan beriringan dari Pura Puseh menuju Pura Segara, Minggu (25/10/2026). Mereka mengikuti tradisi mapeed, mengiringi...

by Wahyu Mahaputra
October 25, 2026
Puisi-Puisi Rusdy Ulu | Perempuan Rantau
Puisi

Puisi-Puisi Rusdy Ulu | Perempuan Rantau

Perempuan Rantau ---buat Satya Rakasiwi Purbowati Seperti gagak di langit hitamkelana menembus malamdihantam badai selatandan mendung langitmenghapus segala arahyang ingin...

by Rusdy Ulu
October 25, 2026
Menyulam Masa Depan Laut Lovina
Liputan Khusus

Menyulam Masa Depan Laut Lovina

PUKUL berapa pun laut memanggil, Edi Harianto tahu apa yang harus dilakukannya. Lelaki berusia 50 tahun itu sudah akrab dengan...

by Jaswanto
October 24, 2026
Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar
Pendidikan

Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar

NILAI rata-rata Tes Kemampuan Akademik (TKA) Matematika di SMP Negeri 14 Denpasar baru mencapai 41,31. Dari 307 peserta didik, sekitar...

by Dede Putra Wiguna
October 24, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Selamat Datang di Negara “Clickbait”

SEPERTINYA sudah bukan lagi zamannya bertanya program mana yang paling bagus. Di negeri yang pandai menjual harapan, pertanyaan pertama justru...

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 24, 2026
Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat
Pendidikan

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat

SEBANYAK 693 lulusan Institut Agama Hindu Negeri (IAHN) Mpu Kuturan Singaraja resmi menyelesaikan pendidikan mereka dalam Wisuda II yang berlangsung...

by Wahyu Mahaputra
October 23, 2026
Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium
Panggung

Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium

KETIKA gamelan Bali disandingkan dengan instrumen Barat seperti biola (strings), gitar, saxophone, keyboard, dan piano, hasilnya adalah sebuah komposisi simfoni...

by Nyoman Budarsana
October 23, 2026
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co