2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Mbah Candi dan Tangan yang Meracik Ramuan Pelancar Air Susu Ibu

Jaswanto by Jaswanto
April 14, 2025
in Khas
Mbah Candi dan Tangan yang Meracik Ramuan Pelancar Air Susu Ibu

Beberapa daun untuk ramuan pelancar air susu ibu | Foto: tatkala.co/Jaswanto

DI dapurnya yang sederhana, dengan gerakan lambat Mbah Candi memungut dedaunan dari kantong plastik itu. Daun-daun itu baru saja dipetik cucunya dari ladang yang tak jauh dari tempat tinggal mereka. “Ini semua tumbuh liar, tak ada yang dibudidayakan,” ujar Candi kepada tatkala.co, Minggu (13/4/2025) siang. “Tapi daun-daun ini memiliki khasiat yang banyak,” sambung perempuan tua itu.

Tentu saja Candi bukan seorang ilmuwan botani yang lulus dari universitas dengan nama besar. Ia hanya seorang perempuan tua yang bahkan tak pernah menyentuh bangku sekolah dasar. Tapi ia tahu soal beberapa tanaman yang bisa diolah menjadi ramuan ajaib—sebagaimana acaraki pada umumnya. Pengetahuan tersebut didapat secara turun-temurun dari keluarganya, lebih tepatnya dari neneknya. “Nenek mengajarkan saya ilmu meracik jamu beserta mantra-mantranya,” akunya dengan bahasa Jawa Timuran yang khas.

Beberapa daun untuk ramuan pelancar air susu ibu | Foto: tatkala.co/Jaswanto

Benar. Daun-daun liar yang Candi kumpulkan memang bukan sebagai sayur pelengkap hidangan di meja makan, tapi diracik untuk memperlancar air susu ibu (ASI) setelah perempuan melahirkan. Sudah sejak lama Candi menerima pesanan jamu pelancar ASI ini. Pesanan datang dari Desa Gaji, Kecamatan Kerek, Kabupaten Tuban, dan sekitarnya. Banyak ibu yang sudah membuktikan manfaat ramuan yang ia racik.

Julita, misalnya. Ibu muda yang baru dua bulan melahirkan ini membuktikan jamu racikan Candi benar-benar berkhasiat. Pada awalnya ia susah mengeluarkan air susu. Tapi setelah semingguan mengonsumsi ramuan ajaib itu, air susunya perlahan-lahan melimpah. Julita nyaris tak percaya bahwa daun-daun liar itu benar-benar dapat membantunya menyusui anak pertamanya.

“Awalnya saya ragu. Tapi setelah mencobanya beberapa kali, saya merasakan perubahan itu,” katanya. Kini Julita rutin memesan jamu racikan Candi. “Rasanya sedikit pahit, sedikit manis, tapi terasa segar—apalagi kalau dikulkas,” terang Julita.

Tidak seperti obat-obatan modern, menurut Julita, jamu buatan Candi tak memiliki efek samping—dan tentu saja aman dikonsumsi. Ya, selama ini tidak ada keluhan dari ibu-ibu yang meminum ramuan ajaib Candi, kecuali pengakuan akan manfaatnya.  

Mbah Candi sedang membuat ramuan pelancar air susu ibu | Foto: tatkala.co/Jaswanto

Ramuan ajaib ini terdiri dari beberapa jenis daun, seperti daun kesambi, kutu, jambu biji, saga rambat, serut, otok, meniran, kalak, dan sembukan (daun kentut) dengan bahan tambahan temulawak, asam jawa, dan garam. Semua daun itu hanya pucuknya—daun yang masih muda—saja yang bisa digunakan. “Yang tua tidak bisa,” kata Candi sembari tersenyum.

Proses membuat jamu ini cukup mudah. Daun-daun muda itu cukup dicuci bersih lalu ditumbuk bersama temulawak. Ditambah air sedikit lalu diperas dan disaring kemudian diberi garam dan asam jawa secukupnya. Sari-sari dedaunan itulah yang dikonsumsi para ibu yang baru saja melahirkan. Khasiatnya, menurut Candi, tak hanya memperlancar air susu ibu, tapi juga membuat perut sang bayi merasa nyaman—adem, kata nenek tua itu.

Mbah Candi sedang membuat ramuan pelancar air susu ibu | Foto: tatkala.co/Jaswanto

Selain ramuan ini, Candi bisa meracik beberapa jamu lain, seperti jamu uyah asem salah satunya. Jamu ini berkhasiat untuk urusan pencernaan. Pada 2012, Kementerian Kesehatan Indonesia mencatat ada 15.773 resep jamu yang berbeda di Nusantara. Setiap jamu dipercaya memiliki khasiat yang berbeda-beda.

Sampai di sini, jamu memiliki sejarah yang kaya dan kuno, berasal dari masa Kerajaan Mataram (abad ke-16)—walaupun ada juga yang meyakini bahwa keberadaan jamu di tengah masyarakat jauh sebelum abad ke-16, yakni abad ke-8, lebih dari 1.300 tahun yang lalu. Hal ini mengingat ditemukannya buku-buku resep kuno pembuatan jamu di perpustakaan kerajaan Jawa di Yogyakarta dan Surakarta.

Menurut beberapa ahli sejarah, jamu pertama kali diminum di lingkungan istana raja, kemudian diperkenalkan ke desa-desa oleh para tabib, dukun. Kemudian, resepnya diturunkan dari mulut ke mulut melalui keluarga—sebagaimana Mbah Candi mewarisinya. Sedangkan menurut antropolog Patrick Vanhoebrouck—yang tinggal di Jawa selama lebih dari 20 tahun, referensi ekstrak herbal (jamu) dapat ditemukan di relief candi Borobudur di Jawa Tengah.

“Penelitian arkeologi pada candi-candi abad ke-9 di Jawa Tengah menunjukkan jamu dan resep obat herbal sudah ada untuk menjaga kesehatan,” kata Vanhoebrouck. Alu dan lesung, alat pembuat jamu, juga ditemukan dalam penggalian arkeologi dan berasal dari zaman Kerajaan Mataram.

Bukti sejarah lainnya terdapat pada prasasti Madhawapura dari peninggalan kerajaan Majapahit yang menyebut adanya profesi “tukang meracik jamu” yang disebut “acaraki”. Setelah mengenal budaya menulis, bukti sejarah mengenai penggunaan jamu semakin kuat dengan keberadaan lontar usada di Bali yang ditulis menggunakan bahasa Jawa kuno.

Ramuan pelancar air susu ibu buatan Mbah Candi | Foto: tatkala.co/Jaswanto

Kini, jamu tidak hanya hadir di ruang-ruang orang tua, tapi mulai menempati hati penggemar mudanya. Jamu perlahan masuk ke ruang-ruang pop dengan berbagai jurusnya: hadir dalam stan-stan acara yang diprakarsai anak muda, menjadi pilihan non-kopi di coffee shop dengan dibuat menjadi mocktail, tampil sebagai alternatif suplemen penjaga kebugaran sehari-hari. Lahirnya berbagai jenama dan cafe yang mengusung rempah Nusantara sebagai bagian dari menu utamanya, membuat jamu kian berumur panjang.

Pada akhirnya, seturut keresahan Arswendo Atmowiloto yang dimuat di Majalah Tempo pada tanggal 25 Oktober 1999, “Jamu bisa menjadi identitas nasional yang aman, membanggakan”. Atau seperti kata mantan Dirjen Kebudayaan Hilmar Farid: jamu adalah salah satu resep yang menyembuhkan, menguatkan, dan menyatukan kita. Budaya Sehat Jamu resmi menjadi Warisan Budaya Takbenda (WBTb) dari Indonesia ke-13 yang diinskripsi ke dalam daftar WBTb UNESCO tahun 2023. [T]

Reporter/Penulis: Jaswanto
Editor: Adnyana Ole

Hikayat Kapas di Tuban dan Perempuan Tua yang Memintalnya
Menyigi Masa Depan Petani Jagung di Tuban, Jawa Timur
Tags: herbalJawa TimurKabupaten Tubanobat herbal
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Dilema Suku Baduy [1]: Antara Kewajiban “Ngahuma” dan Keterbatasan Lahan

Next Post

“Return to Innocence”, Nyepi, dan  Sebuah Ajakan Kembali ke Kepolosan Diri

Jaswanto

Jaswanto

Editor/Wartawan tatkala.co

Related Posts

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
0
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

Read moreDetails

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
0
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

Read moreDetails

 “Tur Mencari Kebebasan: Jakarta—Bogor—Tangerang” —Berkenalan ke Publik yang Lebih Luas

by Rusdy Ulu
September 29, 2026
0
 “Tur Mencari Kebebasan: Jakarta—Bogor—Tangerang” —Berkenalan ke Publik yang Lebih Luas

TIGA tahun telah terlewat, dua buku telah dirilis oleh Beatriff Collective. Buku pertama bertajuk “(Se-)Putar Musik” (2025), kemudian “Memahami Musik,...

Read moreDetails

Menari di Langit Batu Tampih, Ribuan Rare Angon Hidupkan Tradisi Layang-Layang

by Nyoman Budarsana
September 28, 2026
0
Menari di Langit Batu Tampih, Ribuan Rare Angon Hidupkan Tradisi Layang-Layang

SEMARAK dan meriah. Begitulah suasana yang terlihat di kawasan Pantai Batu Tampih, Desa Pangkung Tibah, Kecamatan Kediri, Kabupaten Tabanan, Minggu...

Read moreDetails

Usaha Merawat Rasa di Tengah Bisingnya Informasi

by Nyoman Budarsana
September 27, 2026
0
Usaha Merawat Rasa di Tengah Bisingnya Informasi

BERITA tentang bencana, perang, pengungsian, sampah, persoalan air, dan menyusutnya ruang hidup datang hampir tanpa jeda. Sebagian muncul sebagai notifikasi...

Read moreDetails

Kondisi Situs Cagar Budaya Bale Kulkul Puri Pemecutan, Tak Terawat, Ditumbuhi Rumput dan Semak Belukar

by Jaswanto
September 24, 2026
0
Kondisi Situs Cagar Budaya Bale Kulkul Puri Pemecutan, Tak Terawat, Ditumbuhi Rumput dan Semak Belukar

“YA, kondisinya memang tak terawat―mungkin nggak peduli,” jawab Dewa Purwita Sukahet kepada tatkala.co saat dihubungi melalui direct message Instagram, Rabu...

Read moreDetails

Pesta Demokrasi di SMKS Kesehatan Bali Medika: Dihari Purnama dan Hanin Azzahra Siap Pimpin OSIS Kesbam

by Dede Putra Wiguna
September 21, 2026
0
Pesta Demokrasi di SMKS Kesehatan Bali Medika: Dihari Purnama dan Hanin Azzahra Siap Pimpin OSIS Kesbam

SUASANA aula SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar pada Kamis, 17 September 2026, berbeda dari biasanya. Ratusan siswa duduk menghadap panggung....

Read moreDetails

“Batubelah Art Space”: Membawa Sujana Suklu, Nyoman Sartini, dan Nyoman Darmadi ke Art & Bali 2026

by I Wayan Sujana Suklu
September 20, 2026
0
“Batubelah Art Space”: Membawa Sujana Suklu, Nyoman Sartini, dan Nyoman Darmadi ke Art & Bali 2026

Batubelah Art Space, dikomandoi Wayan Sabath Sukma Miarna ketika hadir dalam Art & Bali 2026 di Nuanu Creative City, Tabanan,...

Read moreDetails

Di Lapangan Undiksha, Puluhan Mahasiswa Membicarakan HAM dan Kebebasan Berpendapat—Konsolidasi September Hitam oleh BEM REMA Undiksha

by Rusdy Ulu
September 18, 2026
0
Di Lapangan Undiksha, Puluhan Mahasiswa Membicarakan HAM dan Kebebasan Berpendapat—Konsolidasi September Hitam oleh BEM REMA Undiksha

PULUHAN mahasiswa berpakain hitam berkumpul di Lapangan Upacara Universitas Pendidikan Ganesha (Undiksha), Kamis malam, 17 September 2026. Mereka mengikuti Konsolidasi...

Read moreDetails

Kemah Bintang SLB Negeri 1 Buleleng, Ajang Murid Bekebutuhan Khusus Bersinar

by Hasby Alfin Shidiq
September 16, 2026
0
Kemah Bintang SLB Negeri 1 Buleleng, Ajang Murid Bekebutuhan Khusus Bersinar

Pagi itu, suasana SLB Negeri Buleleng lebih riuh dari biasanya. Rombongan mobil isuzu berbondong datang memenuhi lapangan asrama. Di depan...

Read moreDetails
Next Post
“Return to Innocence”, Nyepi, dan  Sebuah Ajakan Kembali ke Kepolosan Diri

"Return to Innocence", Nyepi, dan  Sebuah Ajakan Kembali ke Kepolosan Diri

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah
Esai

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara
Esai

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co