6 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

“Return to Innocence”, Nyepi, dan  Sebuah Ajakan Kembali ke Kepolosan Diri

Angga Wijaya by Angga Wijaya
April 15, 2025
in Esai
“Return to Innocence”, Nyepi, dan  Sebuah Ajakan Kembali ke Kepolosan Diri

Enigma - Return To Innocence (Official Video) - Youtube | Tangkap layar dari youtube

FENOMENA menarik terjadi saat perayaan Nyepi beberapa waktu lalu di Bali. Di tengah gegap-gempita kreasi ogoh-ogoh yang memukau, sebuah melodi sayup-sayup kerap kali hadir sebagai latar musik dalam berbagai konten visual yang beredar di media sosial. Lagu tersebut tak lain adalah “Return to Innocence” dari Enigma.

Sebuah kebetulan semata? Mungkin bagi sebagian orang. Namun, bagi mereka yang memiliki kepekaan terhadap semesta, setiap fenomena memiliki makna mendalam. Nyepi 2025, dengan iringan lagu ini, seolah menjadi sebuah seruan universal untuk kembali merenungkan hakikat paling mendasar dari eksistensi manusia: kepolosan.

Di dalam khazanah kearifan lokal Bali, konsep kepolosan ini terangkum dalam frasa “belog-polos”. “Belog” yang berarti bodoh, dalam konteks ini tidak merujuk pada kekurangan intelektual, melainkan lebih kepada ketiadaan pretensi dan kompleksitas. “Polos” menggarisbawahi sikap apa adanya, tanpa topeng, layaknya seorang anak kecil yang lugu, jujur, dan spontan.

Sikap ini kontras dengan konstruksi identitas yang seringkali kita bangun seiring dengan bertambahnya usia dan tuntutan sosial. Pendidikan modern, dengan penekanannya pada kecerdasan intelektual dan pencapaian materi, seringkali secara implisit menggeser kepolosan menjadi sebuah kekurangan yang perlu diatasi. Kita didorong untuk menjadi rasional, strategis, dan kompetitif, yang terkadang menjauhkan kita dari inti diri yang murni.

Mari kita telaah lebih dalam lirik lagu “Return to Innocence” yang, bagi penulis dan mungkin juga bagi Anda, terasa bagaikan pesan inti dari perayaan Nyepi tahun ini:

“Return to Innocence” – Enigma

Love Devotion Feeling Emotion (Cinta Pengabdian Perasaan Emosi)

That’s not the beginning of the end (Ini bukanlah awal dari sebuah akhir) That’s the return to yourself (Ini adalah kembalinya dirimu sendiri) The return to innocence (Kembalinya kepolosan)

Don’t be afraid to be weak (Jangan takut untuk menjadi lemah) Don’t be too proud to be strong (Jangan terlalu bangga untuk menjadi kuat) Just look into your heart my friend (Lihatlah ke dalam hatimu, temanku) That will be the return to yourself (Itulah kembalinya dirimu sendiri) The return to innocence (Kembalinya kepolosan)

And if you want, then start to laugh (Dan jika kau ingin, maka mulailah tertawa) If you must, then start to cry (Jika kau harus, maka mulailah menangis) Be yourself don’t hide (Jadilah dirimu sendiri, jangan bersembunyi) Just believe in destiny (Percayalah pada takdir)

Don’t care what people say (Jangan pedulikan apa kata orang) Just follow your own way (Ikuti jalanmu sendiri) Don’t give up and use the chance (Jangan menyerah dan gunakan kesempatan ini) To return, to return to innocence (Untuk kembali, untuk kembali ke kepolosan)

That’s not the beginning of the end (Ini bukanlah awal dari sebuah akhir) That’s the return to yourself (Ini adalah kembalinya dirimu sendiri) The return to innocence (Kembalinya kepolosan)

Don’t care what people say (Jangan pedulikan apa kata orang) Just follow your own way (Ikuti jalanmu sendiri) Don’t give up and use the chance (Jangan menyerah dan gunakan kesempatan ini) To return, to return to innocence (Untuk kembali, untuk kembali ke kepolosan)

And if you want, then start to laugh (Dan jika kau ingin, maka mulailah tertawa) If you must, then start to cry (Jika kau harus, maka mulailah menangis) Be yourself don’t hide (Jadilah dirimu sendiri, jangan bersembunyi) Just believe in destiny (Percayalah pada takdir)

Lirik awal lagu ini, “Love, Devotion, Feeling, Emotion,” mengingatkan kita pada esensi dasar kemanusiaan. Di tengah hiruk pikuk kehidupan modern yang seringkali didominasi oleh rasionalitas dan ambisi materialistis, kita diingatkan akan pentingnya menghargai dan menghidupi emosi serta perasaan kita. Nyepi, dengan atmosfernya yang tenang dan introspektif, memberikan ruang bagi kita untuk kembali terhubung dengan emosi-emosi yang mungkin selama ini terabaikan.

Frasa “That’s not the beginning of the end / That’s the return to yourself / The return to innocence” menjadi inti dari pesan lagu ini. Bahwa melepaskan ego dan kepura-puraan bukanlah sebuah kemunduran, melainkan sebuah perjalanan kembali ke diri kita yang paling murni.

Dalam konteks Nyepi, “mati suri” aktivitas duniawi selama sehari penuh dapat diartikan sebagai kesempatan untuk “kembali pada diri sendiri” dan merenungkan nilai-nilai kepolosan yang mungkin telah tergerus oleh tuntutan kehidupan.

Lirik selanjutnya mengajak kita untuk merangkul kerentanan dan melepaskan keangkuhan. “Don’t be afraid to be weak, don’t be too proud to be strong.” Dalam masyarakat yang seringkali mengagungkan kekuatan dan kesuksesan materi, mengakui kelemahan dianggap sebagai sebuah aib. Namun, kepolosan mengajarkan bahwa menjadi rentan adalah bagian alami dari kemanusiaan. Kekuatan sejati justru terletak pada keberanian untuk menerima diri apa adanya, dengan segala kelebihan dan kekurangan.

Ajakan untuk “just look into your heart my friend” menekankan pentingnya introspeksi. Kembali ke dalam diri, menjernihkan pikiran dari segala kebisingan eksternal, adalah kunci untuk menemukan kembali kepolosan yang mungkin telah tertimbun oleh berbagai pengalaman dan ekspektasi.

Lirik “And if you want, then start to laugh, if you must, then start to cry, be yourself don’t hide, just believe in destiny” mengingatkan kita pada spontanitas dan kejujuran emosi seorang anak kecil. Mereka tidak ragu untuk tertawa riang saat bahagia dan menangis tersedu saat sedih.

Kepolosan berarti membebaskan diri dari tuntutan untuk selalu terlihat kuat atau tegar. Menerima dan mengekspresikan emosi secara otentik adalah bagian dari menjadi diri sendiri. Kepercayaan pada takdir di sini tidak berarti pasrah tanpa usaha, melainkan lebih kepada menerima alur kehidupan dengan hati yang terbuka.

Pesan untuk “don’t care what people say, just follow your own way” adalah inti dari kemerdekaan batin yang ditawarkan oleh kepolosan. Sejak kecil, kita seringkali dihadapkan pada berbagai ekspektasi dan penilaian dari lingkungan sekitar. Demi diterima dan diakui, kita terkadang mengorbankan keaslian diri.

Kepolosan mengajak kita untuk melepaskan belenggu opini orang lain dan berani mengikuti suara hati nurani. “Don’t give up and use the chance to return, to return to innocence” adalah sebuah panggilan untuk tidak menyerah dalam perjalanan kembali ke diri yang polos. Setiap momen adalah kesempatan untuk melepaskan lapisan-lapisan kepalsuan yang telah kita bangun.

Korelasi antara lagu “Return to Innocence” dan semangat Nyepi 2025 terasa begitu kuat. Nyepi, dengan segala ritual dan pantangannya, adalah sebuah momen kontemplasi mendalam. Dalam keheningan dan pengasingan diri, kita diajak untuk melepaskan segala hiruk pikuk duniawi dan kembali ke dalam diri yang paling esensial.

Sama seperti lirik lagu Enigma, Nyepi mengajak kita untuk menanggalkan topeng-topeng sosial, merenungkan kembali nilai-nilai luhur kemanusiaan, dan menemukan kembali kepolosan jiwa yang mungkin telah lama terlupakan.

Penggunaan lagu “Return to Innocence” sebagai latar musik dalam perayaan Nyepi bukanlah sekadar tren sesaat. Ia adalah sebuah pesan spiritual yang mendalam. Di tengah modernitas yang seringkali menjauhkan kita dari akar kemanusiaan, lagu ini dan semangat Nyepi hadir sebagai pengingat yang lembut namun kuat. Bahwa di dalam kesederhanaan dan keotentikan diri terletak kedamaian dan kebahagiaan yang sejati.

Mari kita jadikan Nyepi 2025 yang telah berlalu, sebagai momentum untuk benar-benar “kembali ke kepolosan”. Bukan dalam artian menjadi naif, melainkan dalam keberanian untuk menjadi diri sendiri, tanpa pretensi, dan menerima segala aspek kemanusiaan kita. Inilah esensi dari “belog-polos” sesungguhnya; sebuah kebijaksanaan tersembunyi dalam kesederhanaan. [T]

Penulis: Angga Wijaya
Editor: Adnyana Ole

  • BACA JUGA:
Dari Puisi ke Melodi: Jejak Puitis Chairil Anwar dalam Musik Banda Neira
Tulus dan Pesona Lirik Puitis: Menelusuri Jiwa Remaja dalam “Tujuh Belas”
Pembacaan Heuristik dan Hermeneutik Lagu “Guru Oemar Bakrie” Karya Iwan Fals
Tags: Hari Raya Nyepimusikogoh-ogoh
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Mbah Candi dan Tangan yang Meracik Ramuan Pelancar Air Susu Ibu

Next Post

Bagaimana Penguasa Bali Memperlakukan Muslim di Zaman Kerajaan?

Angga Wijaya

Angga Wijaya

Penulis dan jurnalis asal Jembrana, Bali. Aktif menulis esai kebudayaan dan kehidupan urban Bali di berbagai media. Ia juga dikenal sebagai penyair dan telah menulis belasan buku puisi serta buku kumpulan esai.

Related Posts

Pengungsian Terakhir Batur: Perspektif Pelaku Tantra

by Putu Eka Guna Yasa
October 5, 2026
0
Pengungsian Terakhir Batur: Perspektif Pelaku Tantra

malih kawruhakna uṅgwanira saṅ hyaṅ sūrya śaśaṅka, mwaṅ haranya, yan riṅ bhuwana aguṅ saṅ hyaṅ wulan riṅ lwaṅiṅ bukit batūr,...

Read moreDetails

Sebelum Dunia Merayakan Wayang, Bali Sudah Memuliakannya

by I Gusti Made Darma Putra
October 4, 2026
0
Maguru Kuping & Maguru Sastra: Proses Inkubasi Gagasan Menuju Pondasi Literasi yang Kokoh

ADA sesuatu yang sedikit menggelitik ketika kita berbicara tentang “Hari Wayang”. Seolah-olah wayang membutuhkan satu tanggal tertentu agar kita kembali...

Read moreDetails

Penyair Kelas Teri

by Arief Rahzen
October 4, 2026
0
Penyair Kelas Teri

AKU menyebut diriku penyair kelas teri. Sebutan ini muncul karena sadar posisi di samudera literasi yang begitu luas. Aku menulis...

Read moreDetails

Menara Gading di Pasar Kerja

by I Wayan Renaldi Bayu Permana
October 3, 2026
0
Menara Gading di Pasar Kerja

LULUSAN sarjana bertambah, pekerjaan yang sesuai tidak tumbuh dengan kecepatan sama. Lalu, apa sebenarnya yang kita harapkan dari universitas ketika...

Read moreDetails

Small Is Beautiful untuk Orang Bali

by Angga Wijaya
October 3, 2026
0
Small Is Beautiful untuk Orang Bali

BALI sedang menghadapi sebuah paradoks. Pulau ini semakin ramai, bangunannya semakin besar, investasinya semakin banyak, tetapi bagi sebagian orang Bali...

Read moreDetails

Rocky Gerung dan Godaan Kekuasaan

by Agung Sudarsa
October 3, 2026
0
Rocky Gerung dan Godaan Kekuasaan

ADA satu kalimat yang sejak lama saya pegang: sesuatu yang benar tidak cukup hanya diyakini; ia harus terbukti dan teruji...

Read moreDetails

Nasionalisme Rente Ideologi Para Koruptor

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 3, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SIDANG pembaca yang budiman, bisa jadi para koruptor itu justru lebih nasionalis daripada kita, rakyat biasa. Tapi jangan buru-buru tersinggung....

Read moreDetails

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
0
Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

Read moreDetails

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
0
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

Read moreDetails

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

Read moreDetails
Next Post
Bagaimana Penguasa Bali Memperlakukan Muslim di Zaman Kerajaan?

Bagaimana Penguasa Bali Memperlakukan Muslim di Zaman Kerajaan?

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Pengungsian Terakhir Batur: Perspektif Pelaku Tantra
Esai

Pengungsian Terakhir Batur: Perspektif Pelaku Tantra

malih kawruhakna uṅgwanira saṅ hyaṅ sūrya śaśaṅka, mwaṅ haranya, yan riṅ bhuwana aguṅ saṅ hyaṅ wulan riṅ lwaṅiṅ bukit batūr,...

by Putu Eka Guna Yasa
October 5, 2026
“Indonesia Comic Con” sebagai Media dan Representasi Budaya Pop
Panggung

“Indonesia Comic Con” sebagai Media dan Representasi Budaya Pop

INDONESIA Comic Con merupakan salah satu event yang mempertemukan berbagai unsur budaya populer. Di dalamnya terdapat berbagai kegiatan yang berkaitan...

by Muhammad Dylan Ibadillah Arrasyidi
October 5, 2026
”Questions”: Negeri dalam Tanda Tanya dan Krisis Kepercayaan Publik
Ulas Musik

”Questions”: Negeri dalam Tanda Tanya dan Krisis Kepercayaan Publik

DALAM khazanah progresif rock 1970-an, “Questions” dari Manfred Mann's Earth Band menempati ruang reflektif yang khas: ia bukan sekadar komposisi...

by Ahmad Sihabudin
October 5, 2026
“Ajewera”: Dimensi Determinisme yang Dirusak Sebagai Awal Kehancuran Bali
Opini

“Ajewera”: Dimensi Determinisme yang Dirusak Sebagai Awal Kehancuran Bali

AJEWERA pada dasarnya merupakan mekanisme kehati-hatian dalam memperlakukan pengetahuan, khususnya pengetahuan yang memiliki dimensi sakral, filosofis, dan esoteris. Dalam tradisi...

by IM Gede Nesa Saputra
October 4, 2026
Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?
Opini

Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

INDONESIA patut berbangga dengan jumlah perguruan tinggi kita yang terus bertambah di berbagai daerah, dan angka partisipasi kasar pendidikan tinggi...

by S. Bekti Istiyanto
October 4, 2026
Maguru Kuping & Maguru Sastra: Proses Inkubasi Gagasan Menuju Pondasi Literasi yang Kokoh
Esai

Sebelum Dunia Merayakan Wayang, Bali Sudah Memuliakannya

ADA sesuatu yang sedikit menggelitik ketika kita berbicara tentang “Hari Wayang”. Seolah-olah wayang membutuhkan satu tanggal tertentu agar kita kembali...

by I Gusti Made Darma Putra
October 4, 2026
Anatomi Kata ‘Dungu’ dalam Kamus Warganet Kekinian
Bahasa

Anatomi Kata ‘Dungu’ dalam Kamus Warganet Kekinian

DAHULU, kata dungu rasanya terlalu tabu dan kasar untuk diucapkan dalam percakapan sehari-hari. Namun, bahasa itu hidup, bergerak, dan selalu...

by I Made Sudiana
October 4, 2026
Penyair Kelas Teri
Esai

Penyair Kelas Teri

AKU menyebut diriku penyair kelas teri. Sebutan ini muncul karena sadar posisi di samudera literasi yang begitu luas. Aku menulis...

by Arief Rahzen
October 4, 2026
Monolog “Berpayung Waktu”, Merawat Perjuangan Maria Katarina Sumarsih
Panggung

Monolog “Berpayung Waktu”, Merawat Perjuangan Maria Katarina Sumarsih

IDEALTERNATIF akan menghadirkan pertunjukan monolog berjudul Berpayung Waktu pada Kamis, 8 Oktober 2026 pukul 20.00 WIB di Ngaos Art, Tasikmalaya,...

by tatkala
October 4, 2026
Menara Gading di Pasar Kerja
Esai

Menara Gading di Pasar Kerja

LULUSAN sarjana bertambah, pekerjaan yang sesuai tidak tumbuh dengan kecepatan sama. Lalu, apa sebenarnya yang kita harapkan dari universitas ketika...

by I Wayan Renaldi Bayu Permana
October 3, 2026
Persami Gugus VI Banjar Tanamkan Karakter Pramuka Sejak Sekolah Dasar
Pendidikan

Persami Gugus VI Banjar Tanamkan Karakter Pramuka Sejak Sekolah Dasar

SUASANA Lapangan Labuan Aji, Temukus, Banjar, tampak lebih ramai pada Sabtu (3/10/2026). Sejumlah siswa sekolah dasar datang membawa perlengkapan perkemahan....

by tatkala
October 3, 2026
Belajar Mengenal Teknik Prancis Lewat Chicken Ballotine Bersama Chef Simon Tailpied
Kuliner

Belajar Mengenal Teknik Prancis Lewat Chicken Ballotine Bersama Chef Simon Tailpied

MEMBUAT hidangan restoran tidak hanya soal mengikuti resep. Cara mempersiapkan bahan, mengolahnya dengan teknik yang tepat, hingga menyajikannya menjadi bagian...

by Rusdy Ulu
October 3, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co