3 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Tulus dan Pesona Lirik Puitis: Menelusuri Jiwa Remaja dalam “Tujuh Belas”

Putu Gangga Pradipta by Putu Gangga Pradipta
March 31, 2025
in Ulas Musik
Tulus dan Pesona Lirik Puitis: Menelusuri Jiwa Remaja dalam “Tujuh Belas”

Tulus

MUSIK memiliki kekuatan magis untuk membangkitkan kenangan dan menyentuh kalbu, terlebih lagi ketika liriknya menyimpan makna yang mendalam. Tulus, penyanyi sekaligus penulis lagu yang dikenal dengan kepekaan bahasa dan puitisitasnya, telah berkali-kali membuktikan kemampuannya menciptakan karya yang tak hanya enak didengar, tetapi juga mengandung nilai estetika sastra yang tinggi.

Salah satu karya yang menonjol adalah “Tujuh Belas” dari album Manusia (2022), sebuah lagu yang tidak hanya menggambarkan nostalgia masa remaja, tetapi juga menyajikan rangkaian diksi dan majas yang memperkuat pesan jiwa remaja.

Menyelami Esensi Lirik “Tujuh Belas”

Pada intinya, “Tujuh Belas” adalah ode untuk masa remaja yang penuh gejolak, kebebasan, dan pencarian jati diri. Lagu ini mengajak pendengar untuk kembali sejenak menengok masa sekolah, mengingat hari-hari ketika segala sesuatu terasa lebih intens—baik dalam kebahagiaan maupun tantangan.

Bait pembuka, “Masihkah kau mengingat di saat kita masih 17?”, tidak hanya berfungsi sebagai ajakan untuk bernostalgia, tetapi juga membuka ruang bagi pendengar untuk meresapi setiap momen yang pernah mereka alami pada usia tersebut.

Melalui liriknya, Tulus dengan cermat menangkap dinamika emosi yang mewarnai fase transisi antara remaja dan dewasa. Pada saat itu, setiap peristiwa kecil—mulai dari tanggal merah yang membawa keistimewaan hingga tantangan mata pelajaran yang rumit—memiliki nilai emosional yang luar biasa.

Pendekatan ini sejalan dengan temuan dalam studi tentang memori emosional yang menunjukkan bahwa kenangan masa remaja memainkan peran penting dalam pembentukan identitas seseorang. (Referen Jurnal UHAMKA).

Diksi yang Memikat dan Gaya Bahasa yang Puitis

Salah satu kekuatan utama “Tujuh Belas” terletak pada pilihan diksi Tulus yang sangat terencana. Setiap kata dipilih dengan seksama untuk menggambarkan suasana hati dan suasana jiwa remaja yang penuh semangat dan kerapuhan. Ungkapan seperti “putaran bumi dan waktu yang terus berjalan menempa kita” tidak sekadar menggambarkan perjalanan waktu, melainkan juga menyiratkan bahwa setiap momen, sekecil apapun, memiliki peran penting dalam membentuk karakter dan kepribadian.

Gaya bahasa yang dipergunakan Tulus memiliki keunikan tersendiri. Ia menggabungkan bahasa sehari-hari dengan elemen sastra, sehingga liriknya terasa ringan namun penuh kedalaman. Penggunaan metafora, perumpamaan, dan majas secara halus membuat pendengar tidak hanya mendengar, tetapi juga “merasakan” pesan yang ingin disampaikan. Contohnya, pernyataan “Kita masih sebebas itu, rasa takut yang tak pernah mengganggu” menggambarkan semangat kebebasan dan keberanian yang mengatasi segala keraguan, sebuah refleksi dari jiwa remaja yang idealis dan penuh impian.

Para kritikus musik menilai bahwa kemampuan Tulus dalam menyusun diksi bukan hanya soal pemilihan kata, tetapi juga cara mengemasnya agar selaras dengan irama dan melodi. Seperti yang diulas oleh sejumlah pengamat di Kompas, kepekaan Tulus terhadap bahasa dan ritme liriknya memberikan warna tersendiri dalam industri musik Indonesia, yang kerap kali mengedepankan produksi bombastis namun kurang dalam hal isi dan keindahan bahasa.

Majas dan Keindahan Imaji dalam Lirik

Lagu “Tujuh Belas” kaya akan penggunaan majas yang menambah lapisan makna pada setiap baitnya. Majas hiperbola, misalnya, digunakan untuk menggambarkan intensitas perasaan masa remaja—di mana setiap pengalaman dipersepsikan seolah-olah memiliki bobot yang lebih besar daripada kenyataan. Ungkapan seperti “kenangan yang abadi di dalam relung hati” merupakan bentuk hiperbola yang menguatkan pesan bahwa memori masa muda adalah sumber kekuatan yang tak tergantikan, meskipun waktu terus berlalu.

Selain itu, penggunaan majas metafora sangat kental dalam lagu ini. Bandingkan, misalnya, antara perjalanan hidup dengan “putaran bumi” yang tiada henti. Imaji ini bukan hanya menyiratkan siklus waktu, tetapi juga mengajak pendengar untuk merenung bahwa setiap liku dan tantangan dalam hidup merupakan bagian dari proses pembentukan diri. Konsep ini selaras dengan pandangan para ahli komunikasi yang menekankan bahwa metafora dalam seni dapat memperdalam pemahaman terhadap realitas kehidupan (Siregar, 2021, dalam Jurnal Komunikasi Nusantara).

Gaya bahasa yang puitis ini juga menunjukkan bahwa bahasa Indonesia memiliki potensi artistik yang luar biasa. Tulus membuktikan bahwa lirik lagu tidak harus dibuat sederhana atau klise agar bisa diterima publik. Justru, dengan memilih kata-kata yang jarang dipakai dalam percakapan sehari-hari, ia membuka ruang bagi kekayaan bahasa dan menumbuhkan apresiasi terhadap sastra dalam musik populer.

Pesan Filosofis dan Nilai Budaya yang Terpancar

Di balik keindahan diksi dan penggunaan majas, “Tujuh Belas” menyimpan pesan-pesan filosofis yang mendalam. Lagu ini bukan sekadar bernada nostalgia, melainkan juga merupakan refleksi atas perjalanan hidup dan pencarian jati diri. Baris “seberapa pun dewasa mengujimu, takkan lebih dari yang engkau bisa” mengandung pesan optimisme yang kuat—sebuah pengingat bahwa setiap tantangan merupakan peluang untuk tumbuh dan belajar.

Nilai budaya juga hadir dalam setiap lirik lagu ini. Latar belakang budaya Minangkabau yang dimiliki Tulus tercermin dalam kepekaannya terhadap keindahan bahasa Melayu, yang tercermin dari pilihan kata yang elegan dan penggunaan majas yang khas. Identitas budaya ini tidak hanya memberikan warna tersendiri pada lagu, tetapi juga menghubungkan pendengar dengan akar budaya yang kaya, menjadikan setiap bait lirik sebagai warisan kearifan lokal yang relevan dalam konteks modern. Hal ini sejalan dengan beberapa studi yang menunjukkan pentingnya nilai budaya dalam pembentukan identitas remaja (Hidayat, 2020, dalam Jurnal Psikologi Musik).

Integrasi Musik dan Lirik: Simfoni Emosi yang Harmonis

Kekuatan “Tujuh Belas” tidak hanya terletak pada liriknya yang mendalam, melainkan juga pada sinergi antara kata-kata dan aransemen musik. Musik yang lembut, melodius, dan penuh kehangatan berfungsi sebagai wadah yang menyampaikan pesan lirik dengan lebih intens. Irama yang mengalun seiring dengan bait-bait lirik menciptakan suasana yang hampir seperti simfoni emosi, di mana pendengar dapat merasakan setiap nuansa yang diungkapkan oleh Tulus.

Pendekatan ini membuat lagu “Tujuh Belas” menjadi lebih dari sekadar rangkaian nada dan kata; ia menjadi sebuah pengalaman mendalam yang mengajak pendengar untuk merenungkan perjalanan hidup mereka. Sebagaimana diungkapkan dalam penelitian mengenai pengaruh musik terhadap perkembangan emosional remaja, simbiosis antara musik dan lirik mampu memberikan dampak positif dalam membentuk identitas dan kekuatan batin seseorang (Hidayat, 2020, dalam Jurnal Psikologi Musik).

Refleksi: Kenangan sebagai Sumber Inspirasi dan Perjalanan Hidup

Pada akhirnya, “Tujuh Belas” merupakan karya yang menyuarakan betapa pentingnya menghargai setiap momen dalam hidup, terutama masa remaja yang penuh dengan impian dan tantangan. Lagu ini mengajarkan bahwa kenangan, betapapun sederhana, dapat menjadi sumber inspirasi dan kekuatan untuk menghadapi segala ujian di masa depan. Pesan ini sangat relevan di era modern, di mana arus kehidupan yang serba cepat seringkali membuat kita lupa untuk sesekali berhenti dan mengenang kembali perjalanan hidup yang telah dilalui.

Tulus, melalui lirik puitis dan gaya bahasa yang penuh majas, tidak hanya menghadirkan sebuah karya musik, tetapi juga menyuguhkan sebuah pelajaran tentang pentingnya kejujuran dalam berkarya serta penghargaan terhadap nilai-nilai budaya dan keindahan bahasa. Karya-karyanya, khususnya “Tujuh Belas,” telah mengukirkan kesan mendalam bagi pendengarnya, menjadikannya sebagai simbol perjalanan hidup yang penuh warna dan makna. [T]

Penulis: Putu Gangga Pradipta
Editor: Adnyana Ole

  • BACA JUGA:
Pembacaan Heuristik dan Hermeneutik Lagu “Guru Oemar Bakrie” Karya Iwan Fals
Pementasan Musik “Gala Resonant”: Perpaduan Tradisi dan Modernitas dalam Narasi Filosofis
Tembang Puitik Ananda Sukarlan: Penerjemahan Intersemiotik
Berimajinasi Bersama Repertoar “Canson” Karya Noé Clerc Trio dari Prancis
Tags: musikmusik pop indonesiaresensi
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Idulfitri ala Mahasiswa Rantau di Singaraja: Bertamu, Menelepon Ibu, dan Menangis Usai Sholat Ied

Next Post

Mudik Tanpa Tiket: Pulang dalam Ingatan, Bukan dalam Langkah

Putu Gangga Pradipta

Putu Gangga Pradipta

Lahir di Surabaya, kini sedang menempuh pendidikan di SMA Negeri 1 Singaraja.

Related Posts

Hitam dan Biru: Karakter Barasuara dan Pelajaran Menerima Luka

by Putu Gangga Pradipta
September 25, 2026
0
Hitam dan Biru: Karakter Barasuara dan Pelajaran Menerima Luka

DI antara sembilan lagu yang mengisi album ketiga Barasuara, Jalaran Sadrah, ada satu nomor yang tidak berusaha tampil paling riang...

Read moreDetails

Ketika Logika Mengaburkan Jati Diri – [Refleksi Lagu ”The Logical Song” karya Supertramp]

by Ahmad Sihabudin
September 20, 2026
0
Ketika Logika Mengaburkan Jati Diri – [Refleksi Lagu ”The Logical Song” karya Supertramp]

ADA suatu fase dalam kehidupan manusia ketika dunia terasa sederhana dan penuh makna. Masa kecil adalah ruang di mana pengalaman...

Read moreDetails

Eksplorasi Musikal Gong Gede dalam Cipta Pagelaran Intermedium Ranu

by I Made Kartawan
August 16, 2026
0
Eksplorasi Musikal Gong Gede dalam Cipta Pagelaran Intermedium Ranu

GONG Gede memiliki karakter bunyi yang kuat. Kesan agung, monumental, dan berwibawa menjadi salah satu cirinya. Namun, di balik karakter...

Read moreDetails

Filosofi Sabun Ala Umar Haen: Semakin Dikucek, Semakin Perih

by Mahesa Putra
August 13, 2026
0
Filosofi Sabun Ala Umar Haen: Semakin Dikucek, Semakin Perih

“Mitos tentang Jogja, hantui orang tua lepas anaknya jadi mahasiswa.” PERKENALAN pertamaku dengan Umar Haen adalah pada lagu “Di Jogja...

Read moreDetails

Tabuh Pategak Saraswati: Lahir Dari Pengetahuan Audial Tabuh Pat Parianom Desa Adat Batur

by Wayan Diana Putra
August 5, 2026
0
Tabuh Pategak Saraswati: Lahir Dari Pengetahuan Audial Tabuh Pat Parianom Desa Adat Batur

SENIN tanggal 3 Agustus 2026 Institut Seni Indonesia (ISI) BALI melalui program Diseminasi Penelitian, Penciptaan, dan Diseminasi Seni-Desain (P2DSD) tahun...

Read moreDetails

‘Another Brick in the Wall’ dan Krisis Hormat dalam Pendidikan Kontemporer

by Ahmad Sihabudin
August 3, 2026
0
‘Another Brick in the Wall’ dan Krisis Hormat dalam Pendidikan Kontemporer

Pada tahun 1979, band rock progresif Inggris Pink Floyd merilis lagu “Another Brick in the Wall” (Part 2) dalam album...

Read moreDetails

Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village

by Mahesa Putra
August 2, 2026
0
Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village

“Naik-naik ke puncak gunung, tinggi-tinggi sekali.” JIKA pembaca mendaki tangga lagu di platform musik, nihil kita temui musik folk di...

Read moreDetails

Anak Sang Zaman —[Tafsir ‘Child in Time’ dari Deep Purple]

by Ahmad Sihabudin
July 20, 2026
0
Anak Sang Zaman —[Tafsir ‘Child in Time’ dari Deep Purple]

DALAM musik rock, ada lagu-lagu yang tidak hanya didengar, tetapi direnungkan. Salah satunya adalah Child in Time dari band legendaris...

Read moreDetails

Ketika Waktu Berpindah Tangan

by Ahmad Sihabudin
July 13, 2026
0
Ketika Waktu Berpindah Tangan

Ada lagu yang tidak sekadar didengar, melainkan mengetuk zaman. The Times They Are a-Changin’ karya Bob Dylan adalah salah satunya....

Read moreDetails

Praticaya, Ketika Sang Dasamuka Berbalik Menatap Kita  —Catatan Baleganjur Duta Karangasem di Pesta Kesenian Bali 2026

by Pasek Agung Wicaksana
June 28, 2026
0
Praticaya, Ketika Sang Dasamuka Berbalik Menatap Kita  —Catatan Baleganjur Duta Karangasem di Pesta Kesenian Bali 2026

RAHWANA adalah nama yang kerap kali tidak membutuhkan pengantar. Ia hadir lebih dulu dari ceritanya; datang sebagai prasangka sebelum sempat...

Read moreDetails
Next Post
Mudik Tanpa Tiket: Pulang dalam Ingatan, Bukan dalam Langkah

Mudik Tanpa Tiket: Pulang dalam Ingatan, Bukan dalam Langkah

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah
Esai

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara
Esai

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co