3 June 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Mudik Tanpa Tiket: Pulang dalam Ingatan, Bukan dalam Langkah

T.H. Hari Sucahyo by T.H. Hari Sucahyo
March 31, 2025
in Esai
Mudik Tanpa Tiket: Pulang dalam Ingatan, Bukan dalam Langkah

Ilustrasi: tatkala.co | Rusdy | Diolah dari Canva

SETIAP tahun, ketika musim mudik tiba, lautan manusia bergegas pulang ke kampung halaman. Mereka yang beruntung mendapatkan tiket pesawat atau kereta api berangkat lebih awal, sementara yang lain memilih perjalanan darat berjam-jam, menghadapi kemacetan yang tak terelakkan. Namun, bagi sebagian orang, terutama mereka yang tinggal di luar negeri atau berada dalam kondisi tertentu, mudik tidak lebih dari sekadar kerinduan yang terus mengendap. Tidak ada tiket di tangan, tidak ada koper yang dikemas, hanya kenangan yang menggantikan perjalanan fisik.

Fenomena ini begitu akrab bagi diaspora Indonesia yang tersebar di berbagai penjuru dunia. Mereka yang tinggal di Eropa, Amerika, Timur Tengah, atau bahkan Asia Tenggara, sering kali harus merelakan kenyataan bahwa pulang kampung bukanlah sesuatu yang mudah. Ada yang terkendala biaya, ada yang terhambat urusan pekerjaan, dan ada pula yang tidak bisa kembali karena regulasi keimigrasian atau alasan lainnya. Maka, bagi mereka, mudik menjadi sesuatu yang dilakukan dalam ingatan, bukan dalam langkah.

Bagi seorang diaspora, pulang ke kampung halaman bukan sekadar perjalanan fisik, melainkan sebuah peristiwa emosional yang kompleks. Rindu akan rumah, suasana Lebaran yang hangat, dan kehadiran keluarga menjadi bagian dari perasaan yang sulit diabaikan. Mereka yang tidak bisa pulang sering kali menemukan cara lain untuk mendekatkan diri dengan keluarga. Teknologi menjadi jembatan bagi mereka yang terpisah ribuan kilometer dari orang-orang tercinta.

 Video call menjadi sarana untuk menyaksikan kebahagiaan keluarga di kampung, meskipun hanya melalui layar. Suara takbir yang dikirimkan dalam rekaman suara, foto-foto hidangan khas Lebaran yang dibagikan melalui media sosial, hingga percakapan larut malam dengan keluarga di tanah air menjadi cara alternatif bagi mereka yang tidak bisa pulang.

Banyak diaspora mengakui bahwa ada rasa sepi yang menyelinap di tengah gegap gempita perayaan Lebaran. Ketika teman-teman mereka di perantauan berkumpul untuk saling menguatkan, suasana tetap terasa berbeda dibandingkan dengan merayakan Lebaran di rumah sendiri. Tak ada opor ayam yang dimasak oleh ibu, tak ada pelukan erat dari ayah, tak ada canda tawa dengan saudara-saudara di pagi hari. Mereka yang tinggal di negara yang tidak memiliki komunitas Muslim yang besar sering kali menjalani Lebaran sebagai hari biasa. Tidak ada libur nasional, tidak ada gema takbir di sudut-sudut kota, hanya mereka sendiri yang tahu bahwa hari itu seharusnya menjadi hari yang istimewa.

Di balik semua itu, ada kekuatan yang tumbuh dalam hati mereka yang tidak bisa pulang. Mereka belajar untuk menghargai arti rumah, arti keluarga, dan arti kebersamaan dengan cara yang lebih mendalam. Banyak dari mereka yang akhirnya membangun tradisi baru di tanah rantau. Beberapa komunitas diaspora mengadakan acara Lebaran bersama, di mana makanan khas Indonesia dihidangkan dan cerita-cerita masa kecil kembali dikenang. Ada pula yang memilih untuk melakukan refleksi diri, menulis surat untuk keluarga yang tak sempat dikirimkan, atau sekadar menonton film Indonesia untuk mengobati rindu.

Pulang dalam ingatan juga berarti membawa serta kenangan yang telah tertanam sejak kecil. Aroma rendang yang dimasak sehari sebelum Lebaran, suara petasan yang mewarnai malam takbiran, hingga tradisi sungkeman yang selalu membuat hati hangat. Semua itu menjadi harta yang tersimpan di dalam memori dan sesekali dikeluarkan kembali ketika rindu datang melanda. Dalam diam, mereka yang tidak bisa pulang tetap merasakan kehadiran kampung halaman dalam diri mereka.

Ada diaspora yang menjadikan ketidakhadiran mereka sebagai sebuah pelajaran hidup. Mereka menyadari bahwa rumah bukanlah sekadar tempat fisik, melainkan juga sebuah keadaan hati. Sebagian besar dari mereka mulai memahami bahwa kebersamaan sejati tidak selalu harus diukur dari jarak yang ditempuh, tetapi dari seberapa dalam mereka menghargai momen-momen kecil yang pernah mereka lalui bersama keluarga. Lebaran tidak lagi hanya tentang berkumpul di satu tempat, tetapi tentang bagaimana mereka tetap terhubung meskipun berjauhan.

Lebih jauh lagi, ada fenomena menarik di mana diaspora justru menjadi penghubung antara tradisi Lebaran Indonesia dengan budaya lokal tempat mereka tinggal. Beberapa dari mereka memperkenalkan makanan khas Lebaran kepada teman-teman mereka di luar negeri, mengundang rekan kerja untuk ikut merasakan kebersamaan, dan bahkan mengadakan acara kecil untuk menjelaskan makna Idul Fitri. Dalam hal ini, mereka tidak hanya membawa ingatan tentang kampung halaman, tetapi juga menyebarkan kebudayaan mereka ke tempat baru.

Seiring waktu, teknologi yang semakin canggih membuat pengalaman mudik virtual menjadi lebih nyata. Kini, dengan bantuan video 360 derajat atau VR (Virtual Reality), beberapa diaspora bahkan dapat merasakan suasana kampung halaman secara lebih mendalam. Beberapa keluarga di Indonesia mulai menggunakan teknologi ini untuk membawa pengalaman Lebaran lebih dekat bagi mereka yang tidak bisa pulang. Meski tetap tidak bisa menggantikan sentuhan fisik, setidaknya ini menjadi solusi kecil bagi mereka yang terpisah oleh jarak.

Mudik tanpa tiket bukan berarti kehilangan esensi pulang itu sendiri. Pulang tidak selalu harus dilakukan dengan langkah kaki, tetapi juga bisa dengan menghidupkan kembali kenangan, menjaga komunikasi dengan keluarga, dan tetap merawat tradisi meskipun di tanah rantau. Bagi mereka yang tidak bisa mudik, rindu memang selalu menjadi teman. Namun, dalam rindu itu pula ada kehangatan yang terus dijaga, ada cinta yang tetap tumbuh, dan ada rumah yang selalu ada dalam hati, meskipun tidak bisa didatangi secara fisik.

Lebaran adalah tentang kembali ke fitrah, tentang merayakan kebersamaan dalam bentuk apa pun yang memungkinkan. Mereka yang bisa pulang akan merasakan kebahagiaan yang luar biasa, sementara mereka yang tidak bisa, tetap bisa merayakan dengan cara mereka sendiri. Tidak ada tiket pesawat yang bisa mengantar mereka pulang, tetapi ada satu hal yang selalu bisa membawa mereka kembali ke kampung halaman, kenangan yang tak pernah pudar, dan kasih sayang yang selalu tersimpan di hati. Bagi diaspora, mudik sejati adalah ketika mereka tetap merasa dekat, meskipun berada di tempat yang jauh. [T]

Penulis: T.H. Hari Sucahyo
Editor: Adnyana Ole

Idulfitri ala Mahasiswa Rantau di Singaraja: Bertamu, Menelepon Ibu, dan Menangis Usai Sholat Ied
Idulfitri | Mari Mudik ke Kesejatian
Mudik ke Bali
Tags: Idul FitriIdulfitriIslammudikmudik lebaranMuslim
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Tulus dan Pesona Lirik Puitis: Menelusuri Jiwa Remaja dalam “Tujuh Belas”

Next Post

Evolusi Ogoh-ogoh: Dampak Modernisasi Terhadap Tradisi Hindu di Bali

T.H. Hari Sucahyo

T.H. Hari Sucahyo

Peminat bidang Sosial, Budaya, dan Humaniora. Penggagas Lingkar Studi Adiluhung dan Kelompok Studi Pusaka AgroPol. IG : har1scyhebat

Related Posts

‘Nyama Kelod-Nyama Kaje’: Menakar Kerukunan Tradisional Menjadi Mesin Baru Pariwisata Inklusif Buleleng

by Eril Paizi
June 2, 2026
0
‘Nyama Kelod-Nyama Kaje’: Menakar Kerukunan Tradisional Menjadi Mesin Baru Pariwisata Inklusif Buleleng

JIKA ada wilayah di Bali yang paling fasih merawat keberagaman jauh sebelum kosakata "moderasi" riuh diperdebatkan di ruang-ruang seminar, tempat...

Read moreDetails

‘Teror Pocong’ dan Hantu-Hantu di Singgasana Kekuasaan

by Early NHS
June 2, 2026
0
(Semoga) Tak Ada Revolusi Hari Ini!

BELAKANGAN ini, pocong sedang ramai dibicarakan. Berbagai video pendek yang menampilkan sosok berkain kafan beredar luas di media sosial, pesan...

Read moreDetails

(Tidak Ada) Literasi Digital

by I Wayan Artika
June 2, 2026
0
(Tidak Ada) Literasi Digital

LITERASI digital berkaitan dengan proses kognitif terhadap apa yang dilihat seseorang pada layar komputer ketika menggunakan media yang terhubung melalui...

Read moreDetails

Bali Sané Mangkin: Pembiasaan Laku Malalaksana?

by Rsi Suwardana
June 1, 2026
0
Bali Sané Mangkin: Pembiasaan Laku Malalaksana?

PEMBIASAAn terhadap cara pandang ataupun perbuatan yang tidak sepantasnya (mala-laksana/malalaksana) adalah benalu. Pembiasaan ini mengaburkan batas antara yang patut dan...

Read moreDetails

Perayaan Hari Lahir Pancasila Zaman Now, Dari Seremoni Menuju Kesadaran Kolektif

by Agung Sudarsa
June 1, 2026
0
Perayaan Hari Lahir Pancasila Zaman Now, Dari Seremoni Menuju Kesadaran Kolektif

Hari Lahir Pancasila: Merayakan Gagasan Besar Bangsa Setiap tanggal 1 Juni bangsa Indonesia memperingati Hari Lahir Pancasila. Pada hari itu,...

Read moreDetails

Awas Ada Pocong!

by Dede Putra Wiguna
May 31, 2026
0
Awas Ada Pocong!

BELAKANGAN ini, masyarakat di berbagai daerah di Indonesia dihebohkan oleh kemunculan ‘pocong jadi-jadian’. Sosok yang biasanya ada dalam cerita horor...

Read moreDetails

Membaca Kembali W.S. Rendra di Tengah Wacana Penutupan Prodi

by Ahmad Fatoni
May 31, 2026
0
Membaca Kembali W.S. Rendra di Tengah Wacana Penutupan Prodi

……………..Aku bertanya:Apakah gunanya pendidikanbila hanya akan membuat seseorang menjadi asingdi tengah kenyataan persoalannya?Apakah gunanya pendidikanbila hanya mendorong seseorangmenjadi layang-layang di...

Read moreDetails

Wisata Bahari di Negeri Maritim

by Chusmeru
May 31, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

BERUNTUNG Indonesia memiliki alam yang penuh pesona. Laut menjadi salah satu kekayaan alam yang membanggakan. Luas wilayah laut Indonesia mencapai...

Read moreDetails

FOR HATI BALI: Ketika Cinta pada Bali Menjadi Tindakan

by Agung Sudarsa
May 31, 2026
0
FOR HATI BALI: Ketika Cinta pada Bali Menjadi Tindakan

Dari Kegelisahan Menuju Gerakan Moral BALI sedang berada pada persimpangan zaman. Di satu sisi, pulau ini menikmati pertumbuhan ekonomi yang...

Read moreDetails

Dari Candi Pustaka hingga Monumen Puja: Jejak Spiritualitas Ida Sri Pandita Buddha Raksitha

by IGP Weda Adi Wangsa
May 30, 2026
0
Dari Candi Pustaka hingga Monumen Puja: Jejak Spiritualitas Ida Sri Pandita Buddha Raksitha

CANDI Pustaka merupakan istilah yang sering dipakai oleh seorang rakawi (penyair sastra Jawa Kuno) untuk menyebut karya sastranya sebagai medium...

Read moreDetails
Next Post
Evolusi Ogoh-ogoh: Dampak Modernisasi Terhadap Tradisi Hindu di Bali

Evolusi Ogoh-ogoh: Dampak Modernisasi Terhadap Tradisi Hindu di Bali

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Pandemi, Hukum Rta, dan Keimanan Saya

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cinta dan Penyesalan | Cerpen Dede Putra Wiguna

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

‘Nyama Kelod-Nyama Kaje’: Menakar Kerukunan Tradisional Menjadi Mesin Baru Pariwisata Inklusif Buleleng
Esai

‘Nyama Kelod-Nyama Kaje’: Menakar Kerukunan Tradisional Menjadi Mesin Baru Pariwisata Inklusif Buleleng

JIKA ada wilayah di Bali yang paling fasih merawat keberagaman jauh sebelum kosakata "moderasi" riuh diperdebatkan di ruang-ruang seminar, tempat...

by Eril Paizi
June 2, 2026
Ketika Veni Calista dan Jesselyn Lauwreen Mengulek Sambal di Ubud Food Festival 2026
Persona

Ketika Veni Calista dan Jesselyn Lauwreen Mengulek Sambal di Ubud Food Festival 2026

SORE itu, aroma cabai, terasi, dan rempah-rempah perlahan memenuhi Teater Kuliner Ubud Food Festival 2026. Di atas panggung, tak ada...

by Dede Putra Wiguna
June 2, 2026
Ke Pacet Mereka Kembali
Tualang

Ke Pacet Mereka Kembali

DI pertigaan Krian arah Mojosari, kendaraan berplat L dan W beriring-iringan menyesaki jalan menuju ke titik yang sama. Mobil-motor dari...

by Jaswanto
June 2, 2026
(Semoga) Tak Ada Revolusi Hari Ini!
Esai

‘Teror Pocong’ dan Hantu-Hantu di Singgasana Kekuasaan

BELAKANGAN ini, pocong sedang ramai dibicarakan. Berbagai video pendek yang menampilkan sosok berkain kafan beredar luas di media sosial, pesan...

by Early NHS
June 2, 2026
Menjaga Tradisi, Menemukan Rasa  —Pelajaran dari Jepang dan Thailand di Ubud Food Festival 2026
Panggung

Menjaga Tradisi, Menemukan Rasa —Pelajaran dari Jepang dan Thailand di Ubud Food Festival 2026

PADA hari terakhir Ubud Food Festival 2026, Minggu, 31 Mei 2026, Rumah Kayu, Taman Kuliner Ubud dipenuhi pengunjung yang datang...

by Dede Putra Wiguna
June 2, 2026
(Tidak Ada) Literasi Digital
Esai

(Tidak Ada) Literasi Digital

LITERASI digital berkaitan dengan proses kognitif terhadap apa yang dilihat seseorang pada layar komputer ketika menggunakan media yang terhubung melalui...

by I Wayan Artika
June 2, 2026
Everything is Doing Something: Material yang Membawa Ingatan
Ulas Rupa

Everything is Doing Something: Material yang Membawa Ingatan

Persepsi apa yang tertinggal pada sebuah kayu yang telah menjadikannya arang? Kerapuhan? Ketidakutuhan? Atau justru kesan hitam yang solid? Begitu...

by Made Chandra
June 2, 2026
PT Garuda Mas Anugerah Resmikan Kantor di Bali: Beri Awarding Bagi Para Afiliator, Perluas Jangkauan Pelayanan di Kawasan Indonesia Timur
Ekonomi

PT Garuda Mas Anugerah Resmikan Kantor di Bali: Beri Awarding Bagi Para Afiliator, Perluas Jangkauan Pelayanan di Kawasan Indonesia Timur

Ketika namanya disebut, Ni Ketut Sari langsung berteriak kegirangan. Teriakannya, langsung disambut seluruh peserta yang hadir memenuhi ruangan, seperti para...

by Nyoman Budarsana
June 1, 2026
’Africa’ dan Kerinduan Universal: Lagu Pop sebagai Doa Sekuler Kemanusiaan
Ulas Musik

’Africa’ dan Kerinduan Universal: Lagu Pop sebagai Doa Sekuler Kemanusiaan

LAGU ”Africa” karya Toto sering dibaca secara dangkal sebagai romansa eksotis atau nostalgia pop era 1980-an. Namun jika ditempatkan dalam...

by Ahmad Sihabudin
June 1, 2026
Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik
Khas

Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

Di bawah langit Mei yang teduh, halaman SMPN 2 Banjar kembali dipenuhi cahaya kebanggaan. Bulan yang identik dengan harum tanah...

by Putu Agus Eka Pradnyana
June 1, 2026
Ki Ai Nirnur —Ketika Ogoh-Ogoh Bertanya tentang Kita
Ulas Film

Ki Ai Nirnur —Ketika Ogoh-Ogoh Bertanya tentang Kita

SORE itu, 31 Mei 2026, Cinepolis di Plaza Renon, Denpasar, terasa berbeda. Tidak ramai seperti biasanya. Tidak ada antrean panjang...

by Satria Aditya
June 1, 2026
Bali Sané Mangkin: Pembiasaan Laku Malalaksana?
Esai

Bali Sané Mangkin: Pembiasaan Laku Malalaksana?

PEMBIASAAn terhadap cara pandang ataupun perbuatan yang tidak sepantasnya (mala-laksana/malalaksana) adalah benalu. Pembiasaan ini mengaburkan batas antara yang patut dan...

by Rsi Suwardana
June 1, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co