2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Mudik Tanpa Tiket: Pulang dalam Ingatan, Bukan dalam Langkah

T.H. Hari Sucahyo by T.H. Hari Sucahyo
March 31, 2025
in Esai
Mudik Tanpa Tiket: Pulang dalam Ingatan, Bukan dalam Langkah

Ilustrasi: tatkala.co | Rusdy | Diolah dari Canva

SETIAP tahun, ketika musim mudik tiba, lautan manusia bergegas pulang ke kampung halaman. Mereka yang beruntung mendapatkan tiket pesawat atau kereta api berangkat lebih awal, sementara yang lain memilih perjalanan darat berjam-jam, menghadapi kemacetan yang tak terelakkan. Namun, bagi sebagian orang, terutama mereka yang tinggal di luar negeri atau berada dalam kondisi tertentu, mudik tidak lebih dari sekadar kerinduan yang terus mengendap. Tidak ada tiket di tangan, tidak ada koper yang dikemas, hanya kenangan yang menggantikan perjalanan fisik.

Fenomena ini begitu akrab bagi diaspora Indonesia yang tersebar di berbagai penjuru dunia. Mereka yang tinggal di Eropa, Amerika, Timur Tengah, atau bahkan Asia Tenggara, sering kali harus merelakan kenyataan bahwa pulang kampung bukanlah sesuatu yang mudah. Ada yang terkendala biaya, ada yang terhambat urusan pekerjaan, dan ada pula yang tidak bisa kembali karena regulasi keimigrasian atau alasan lainnya. Maka, bagi mereka, mudik menjadi sesuatu yang dilakukan dalam ingatan, bukan dalam langkah.

Bagi seorang diaspora, pulang ke kampung halaman bukan sekadar perjalanan fisik, melainkan sebuah peristiwa emosional yang kompleks. Rindu akan rumah, suasana Lebaran yang hangat, dan kehadiran keluarga menjadi bagian dari perasaan yang sulit diabaikan. Mereka yang tidak bisa pulang sering kali menemukan cara lain untuk mendekatkan diri dengan keluarga. Teknologi menjadi jembatan bagi mereka yang terpisah ribuan kilometer dari orang-orang tercinta.

 Video call menjadi sarana untuk menyaksikan kebahagiaan keluarga di kampung, meskipun hanya melalui layar. Suara takbir yang dikirimkan dalam rekaman suara, foto-foto hidangan khas Lebaran yang dibagikan melalui media sosial, hingga percakapan larut malam dengan keluarga di tanah air menjadi cara alternatif bagi mereka yang tidak bisa pulang.

Banyak diaspora mengakui bahwa ada rasa sepi yang menyelinap di tengah gegap gempita perayaan Lebaran. Ketika teman-teman mereka di perantauan berkumpul untuk saling menguatkan, suasana tetap terasa berbeda dibandingkan dengan merayakan Lebaran di rumah sendiri. Tak ada opor ayam yang dimasak oleh ibu, tak ada pelukan erat dari ayah, tak ada canda tawa dengan saudara-saudara di pagi hari. Mereka yang tinggal di negara yang tidak memiliki komunitas Muslim yang besar sering kali menjalani Lebaran sebagai hari biasa. Tidak ada libur nasional, tidak ada gema takbir di sudut-sudut kota, hanya mereka sendiri yang tahu bahwa hari itu seharusnya menjadi hari yang istimewa.

Di balik semua itu, ada kekuatan yang tumbuh dalam hati mereka yang tidak bisa pulang. Mereka belajar untuk menghargai arti rumah, arti keluarga, dan arti kebersamaan dengan cara yang lebih mendalam. Banyak dari mereka yang akhirnya membangun tradisi baru di tanah rantau. Beberapa komunitas diaspora mengadakan acara Lebaran bersama, di mana makanan khas Indonesia dihidangkan dan cerita-cerita masa kecil kembali dikenang. Ada pula yang memilih untuk melakukan refleksi diri, menulis surat untuk keluarga yang tak sempat dikirimkan, atau sekadar menonton film Indonesia untuk mengobati rindu.

Pulang dalam ingatan juga berarti membawa serta kenangan yang telah tertanam sejak kecil. Aroma rendang yang dimasak sehari sebelum Lebaran, suara petasan yang mewarnai malam takbiran, hingga tradisi sungkeman yang selalu membuat hati hangat. Semua itu menjadi harta yang tersimpan di dalam memori dan sesekali dikeluarkan kembali ketika rindu datang melanda. Dalam diam, mereka yang tidak bisa pulang tetap merasakan kehadiran kampung halaman dalam diri mereka.

Ada diaspora yang menjadikan ketidakhadiran mereka sebagai sebuah pelajaran hidup. Mereka menyadari bahwa rumah bukanlah sekadar tempat fisik, melainkan juga sebuah keadaan hati. Sebagian besar dari mereka mulai memahami bahwa kebersamaan sejati tidak selalu harus diukur dari jarak yang ditempuh, tetapi dari seberapa dalam mereka menghargai momen-momen kecil yang pernah mereka lalui bersama keluarga. Lebaran tidak lagi hanya tentang berkumpul di satu tempat, tetapi tentang bagaimana mereka tetap terhubung meskipun berjauhan.

Lebih jauh lagi, ada fenomena menarik di mana diaspora justru menjadi penghubung antara tradisi Lebaran Indonesia dengan budaya lokal tempat mereka tinggal. Beberapa dari mereka memperkenalkan makanan khas Lebaran kepada teman-teman mereka di luar negeri, mengundang rekan kerja untuk ikut merasakan kebersamaan, dan bahkan mengadakan acara kecil untuk menjelaskan makna Idul Fitri. Dalam hal ini, mereka tidak hanya membawa ingatan tentang kampung halaman, tetapi juga menyebarkan kebudayaan mereka ke tempat baru.

Seiring waktu, teknologi yang semakin canggih membuat pengalaman mudik virtual menjadi lebih nyata. Kini, dengan bantuan video 360 derajat atau VR (Virtual Reality), beberapa diaspora bahkan dapat merasakan suasana kampung halaman secara lebih mendalam. Beberapa keluarga di Indonesia mulai menggunakan teknologi ini untuk membawa pengalaman Lebaran lebih dekat bagi mereka yang tidak bisa pulang. Meski tetap tidak bisa menggantikan sentuhan fisik, setidaknya ini menjadi solusi kecil bagi mereka yang terpisah oleh jarak.

Mudik tanpa tiket bukan berarti kehilangan esensi pulang itu sendiri. Pulang tidak selalu harus dilakukan dengan langkah kaki, tetapi juga bisa dengan menghidupkan kembali kenangan, menjaga komunikasi dengan keluarga, dan tetap merawat tradisi meskipun di tanah rantau. Bagi mereka yang tidak bisa mudik, rindu memang selalu menjadi teman. Namun, dalam rindu itu pula ada kehangatan yang terus dijaga, ada cinta yang tetap tumbuh, dan ada rumah yang selalu ada dalam hati, meskipun tidak bisa didatangi secara fisik.

Lebaran adalah tentang kembali ke fitrah, tentang merayakan kebersamaan dalam bentuk apa pun yang memungkinkan. Mereka yang bisa pulang akan merasakan kebahagiaan yang luar biasa, sementara mereka yang tidak bisa, tetap bisa merayakan dengan cara mereka sendiri. Tidak ada tiket pesawat yang bisa mengantar mereka pulang, tetapi ada satu hal yang selalu bisa membawa mereka kembali ke kampung halaman, kenangan yang tak pernah pudar, dan kasih sayang yang selalu tersimpan di hati. Bagi diaspora, mudik sejati adalah ketika mereka tetap merasa dekat, meskipun berada di tempat yang jauh. [T]

Penulis: T.H. Hari Sucahyo
Editor: Adnyana Ole

Idulfitri ala Mahasiswa Rantau di Singaraja: Bertamu, Menelepon Ibu, dan Menangis Usai Sholat Ied
Idulfitri | Mari Mudik ke Kesejatian
Mudik ke Bali
Tags: Idul FitriIdulfitriIslammudikmudik lebaranMuslim
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Tulus dan Pesona Lirik Puitis: Menelusuri Jiwa Remaja dalam “Tujuh Belas”

Next Post

Evolusi Ogoh-ogoh: Dampak Modernisasi Terhadap Tradisi Hindu di Bali

T.H. Hari Sucahyo

T.H. Hari Sucahyo

Peminat bidang Sosial, Budaya, dan Humaniora. Penggagas Lingkar Studi Adiluhung dan Kelompok Studi Pusaka AgroPol. IG : har1scyhebat

Related Posts

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
0
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

Read moreDetails

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
0
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

Read moreDetails

Manusia Purba di Kota Denpasar

by Angga Wijaya
October 1, 2026
0
Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

Read moreDetails

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
0
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

Read moreDetails

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

by Chusmeru
September 30, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

Read moreDetails

Cara Sederhana Menilai Kesehatan Bangsa

by Putu Arya Nugraha
September 29, 2026
0
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter

PARA ahli sering berdebat mengenai kemajuan dan kesejahteraan negara kita, memakai berbagai indikator yang kadang sulit dipahami. Beberapa indikator yang...

Read moreDetails

Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

by Ahmad Hirzan Anwari
September 29, 2026
0
Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

PADA 12 September 2026, saya menerima informasi dari grup WhatssApp. Isinya permohonan delegasi untuk mengikuti latihan kader bela negara yang...

Read moreDetails

Kusala Sastra Katulistiwa yang Menyalakan Cahaya di Jalan Sunyi Sastra

by Emi Suy
September 29, 2026
0
Kusala Sastra Katulistiwa yang Menyalakan Cahaya di Jalan Sunyi Sastra

ADA jalan yang tidak pernah benar-benar ramai. Sastra berjalan di sana, kadang ditemani lampu kecil dari sebuah kamar, meja kerja...

Read moreDetails

Brigitta Hauser-Schäublin: Batur, “Pasihan”, dan Peluang Diskusi Setelahnya

by Jero Penyarikan Duuran Batur
September 28, 2026
0
Brigitta Hauser-Schäublin: Batur, “Pasihan”, dan Peluang Diskusi Setelahnya

Puspawacana penulis tujukan untuk mendiang Ibu Prof. Brigitta Hauser-Schäublin yang telah berpulang ke kedamaian pada medio 2025. Penulis mengucapkan terima...

Read moreDetails

Melamar Kerja Saat Usia Tak Lagi Muda

by Angga Wijaya
September 27, 2026
0
Melamar Kerja Saat Usia Tak Lagi Muda

DUA hari lalu, saat membuka media sosial, saya melihat informasi lowongan kerja sebagai kontributor penulis pada sebuah media online nasional....

Read moreDetails
Next Post
Evolusi Ogoh-ogoh: Dampak Modernisasi Terhadap Tradisi Hindu di Bali

Evolusi Ogoh-ogoh: Dampak Modernisasi Terhadap Tradisi Hindu di Bali

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

by Chusmeru
September 30, 2026
Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”
Budaya

Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”

TABANAN | TATKALA -- Dua pelajar muda asal Tabanan, Bali, I Putu Bagus Sastra Vedanta Wiyasa dan Ni Kadek Ayu...

by Rusdy Ulu
September 30, 2026
Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?
Opini

Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

PENDIDIKAN gratis kembali menjadi pembicaraan publik pasca Presiden Prabowo Subianto pada 18 September 2026 menyatakan komitmennya agar biaya pendidikan pada...

by Dini Nastiti Wardani
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co