25 June 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Mudik ke Bali

Raudal Tanjung Banua by Raudal Tanjung Banua
June 7, 2019
in Esai
Mudik ke Bali

Rumah panggung di Kampung Loloan, Jembrana, Bali

Dalam urusan mudik Lebaran Idul Fitri, saya termasuk nyantai, agak bertolak belakang dengan kebiasaan saudara senasib lainnya yang sama-sama hidup di perantauan. Saya tidak tahu ini keberuntungan atau kebetulan. Yang jelas, sikap santai saya itu ada hubungannya dengan setidaknya dua momok mudik: macet dan tiket.  

Macet, kita tahu, itu ritual wajib para pemudik, utamanya mereka yang bertolak dari ibukota Jakarta menuju kampungnya masing-masing nun di sana. Jakarta merupakan titik episentrum “gempa” kultural bernama mudik. Jurnalisme mudik, terutama di televisi, pada hakikatnya adalah laporan orang ke luar Jakarta (saat mudik) dan perjalanan kembali masuk Jakarta (saat hilir), ditandai titik-titik persimpangan krodit di Jawa Barat, Jawa Tengah atau Banten, sehingga laporan itu tampak sebagai dislokasi sebab nyaris melupakan tradisi yang sama di berbagai wilayah tanah air.


Masjid Raya Pasuruan, tempat yg sayang dilewatkan saat mudik ke Bali

Kadang saya bayangkan, kalau ibukota Republik kelak pindah ke Kalimantan, barulah mungkin dislokasi mudik beralih ke Surabaya atau Semarang. Sebab moda transportasi terbesarnya akan beralih dari bis dan kereta, ke kapal laut di pelabuhan atau dermaga.

Selanjutnya masalah tiket. Bukan hanya harganya yang bersayap, namun juga perjuangan mendapatkannya. Ibarat menangkap burung liar. Meski sudah ada tiket tambahan, kereta tambahan dan armada bis tambahan, termasuk program mudik gratis, toh persediaan tiket tetap ludes mendekati hari H. Maklum semua tumplek-blek pada waktu berdekatan. Tiket kereta api dari Jakarta ke Jawa  (orang Jakarta biasa menyebut “pulang ke Jawa”) sudah habis bahkan sebulan sebelum Lebaran.

Anehnya, di sini tak berlaku hukum ekonomi yang kita pelajari secara amatir di sekolah dulu. Kata guru ekonomi kita, makin tinggi permintaan makin murah harga barang. Ternyata dalam urusan mudik sebaliknya. Makin tinggi permintaan makin membubung tinggi tiketnya. Belum lagi Dishub secara resmi merestui kenaikan tiket yang dengan mahfum kita sebut tuslah. Sementara tiket pesawat jauh lebih mahal. Apalagi Lebaran tahun ini, seperti ada drama gong yang memaksa kita untuk tertawa. Bayangkan, hari biasa saja harga tiket sudah begitu mahal, apalagi Hari Raya. Konon ada yang mencapai puluhan juta untuk sekali jalan meskipun penumpang dibawa moter-muter dulu di atas langit Nusantara.

Ajaib! Bandung-Medan, misalnya, dihargai 21 juta (dengan transit Bandung-Bali-Jakarta-Medan). Ini hanya mungkin dibandingkan dengan harga sekotak tisu di Venezuela yang mencapai 33 juta—karena krisis dan inflasi. Di Indonesia tak ada krisis apa-apa, tiba-tiba tiket pesawat jadi tertinggi seplanet Bumi; orang ke Medan pun harus muter ke Bali dulu, bukankah ini keajaiban besar? Hanya pernyataan-pernyataan cemerlang Menhub, Budi Karya Sumadi, seputar harga tiket pesawat sajalah yang mungkin menandingi keajaiban ini.

Nah, saya termasuk tidak bersentuhan langsung dengan jalur Jakarta. Mudik saya bertolak dari Yogyakarta. Saya juga lebih sering mudik ke Bali, ke kampung istri, daripada ke Padang, kampung saya sendiri. Kalau opsi ke Padang tak terhindarkan, biasanya saya pilih jalan aman: mudik pasca Lebaran atau hari biasa. Tetap nyantai dan tak terlalu membawa beban di pundak. Toh pulang ke kampung sendiri, masa’ harus diatur orang lain?  Sebaliknya, kalau pulang ke kampung istri, bagaimanapun berurusan dengan pihak ketiga. Mudik ya, mudik, Lebaran ya, Lebaran. Titik. Beruntung, untuk ini pun saya diselamatkan situasi. Mudik ke Bali, ke tanah Buyut Lebai di Loloan, Negara, saya bisa nyantai karena berlainan arus utama dengan umumnya jalur pemudik.


Kampung Loloan di Bali, tempat mudik

Sekilas mungkin ada yang merasa heran kok ada yang mudik ke Bali saat Lebaran? Kalau berwisata saat Lebaran pasti banyak dan malah menjadi trend belakangan ini. Orang Bali juga tak terlalu kental tradisi rantaunya, dan dalam konteks mudik Idul Fitri, bukankah mayoritas warga Bali beragama Hindu? Tapi lupakanlah generalisasi ini, sebab kita sedang bicara Provinsi Bali, bukan suku-bangsa Bali.

Dalam konteks inilah kita akan bersua realitas kampung-kampung muslim di sejumlah tempat di pelosok Bali, baik yang terbentuk dari migrasi penduduk abad 15-18, dengan kampung-kampung diaspora mulai Loloan, Air Kuning (Jembrana), Kampung Bugis Serangan, Kepaon (Denpasar), Nyuling, Saren Jawa (Karangasem), Pegayaman (Buleleng) dan seterusnya, maupun kampung urban abad 20, seperti Kampung Jawa Denpasar, Medewi, Yeh Sumbul (Jembrana), Sumber Kima, Pemuteran (Buleleng) dan lain-lain.

Dalam peta demografi seperti itu, tak heran tiap Lebaran, pegiat teater Andika Ananda misalnya, akan mudik ke Gatot Subroto, Denpasar, dari Yogyakarta atau Tubaba, Lampung; penyair Ahmadul Faqih Mahfudz di Yogyakarta mudik ke Pemuteran dan belakangan menetap, atau penyair-wartawan Ketut Syahruwardi Abbas kala bertungkus-lumus di Jakarta, akan mudik ke kampung halamannya di Pegayaman atau ke rumah mertua di bilangan Sanglah, Denpasar. Patra Alim Wijaya dan Tantri Masayu (keduanya nama fiktif) akan mudik dari Malang ke Saren Jawa, dan seterusnya. Saya sekeluarga termasuk kelompok ini, mudik ke Bali dari Yogyakarta.

Untuk masalah kedua, yakni tiket, jika saya naik angkutan umum, tentu saya, istri dan anak-beranak (yang jumlahnya terus membengkak) tak mungkin menghindar dari Tuan Tuslah sebab kami bukan warga istimewa. Di negeri ini, dalam soal angkutan, memang tak ada yang istimewa. Orang tua jompo dan anak yang bernafas beberapa tahun, harga tiketnya sami mawon. Tapi itu masih untung sebab saya tak perlu berebut tiket segala. Bis-bis ke Bali seperti Gunung Harta, Wisata Komodo, Safari Dharma Raya, Sedya Mulya atau Pahala Kencana, kosong. Naik kereta api Sri Tanjung hingga Ketapang juga tinggal centang tiket.

Naik pesawat, saya harus mikir dua-tiga kali. Selain harga tiket yang terbangnya lebih tinggi ketimbang pesawatnya, terpikirkan pula perjalanan dari Bandara Ngurah Rai, Denpasar ke Negara di ujung barat Pulau Dewata, makan waktu lebih lama dibanding Yogya-Bali. Nambah ongkos lagi, kena tuslah lagi. Ini salah satu pertimbangan Bang DS. Putra, yang tinggal di Negara, setia naik bis ke Yogya tiap kali menjenguk anak-anaknya yang kuliah di sana. “Ribet, Dik,” katanya, dan saya setuju.

Toh Bandar udara Letkol Wisnu di Gerokgak masih belum melayani maskapai umum seperti Bandara Belimbing Banyuwangi. Sementara rencana bandara Internastional di Buleleng masih wacana. Meski kalau Letkol Wisnu aktif dan bandara besar dibangun di Buleleng saya juga belum tentu mudik lewat udara, jika dan masih jika sengkarut tiket pesawat “main-main” kayak sekarang. 


Mudik ke Bali naik bus

Perjalanan darat belakangan relatif lebih menyenangkan, sebab ada bentangan jalan tol yang mempercepat perjalanan. Mulai dari Kebakkramat, Sragen, sampai Granti Probolinggo, sudah ada jalan tol. Biasanya kita akan masuk ke Bali agak siang, tapi via tol subuh sudah bisa masuk. Meski ongkos tol itu tetap dibebankan kepada penumpang melalui kenaikan harga tiket. Pak Ketut, kepala agen Wisata Komodo di Yogya sambil senyum-senyum bilang, “Nambah dikit, Mas, tapi nambah banyak kecepatan.”

Mudik bawa kendaraan sendiri pun, tidak mengurangi hobi nyantai saya. Sebab jalan ke timur akan sepi dibanding arah ke barat. Orang-orang lebih banyak keluar Bali dan Surabaya, dua pusat manisan ekonomi yang dikerubungi semut urban itu. Mungkin saya akan berselisih jalan dengan Mas Nuryana yang mudik dari Denpasar ke Jepara atau Kim Ghozoli yang mudik ke Probolinggo, mungkin juga dengan R. Giryadi yang mudik dari Surabaya ke Blitar dan Umar Fauzi Ballah yang mudik dari Madura ke Boyolali.

Selebihnya, kami hanya perlu berupaya untuk naik kapal fery selagi hari masih pagi, syukur-syukur subuh, sebab bulan-bulan ini biasanya gelombang besar. Untuk tol, kami pilih-pilih. Jika dari Sragen hingga Probolinggo langsung bablas masuk tol, kami merasa romansa perjalanan jadi hilang—lewat kampung-kampung, kota-kota kecil, alun-alun, warung makan, Pom—dan ongkosnya pun tak bisa dibilang ringan. Kami juga akan kehilangan kebiasaan untuk mampir ziarah di Makam Mbah Hamid, Pasuruan atau di PP Darul Ulum Karangpandan sowan Gus Haidar Hafeez.

Maka saya pilih masuk tol untuk menghindari jalur-jalur hutan jati saja seperti Mantingan dan Nganjuk-Kertosono. Jalannya turun-naik dan berliku sehingga sulit sekali menyalip truk; dan jangan coba-coba nyalip di marka jalan yang tak putus, sebab polisi di pos hutan jati itu bermata cerlang. Dua kali sudah saya pernah kena tilang. Karena itu, saya pilih masuk tol di sekitar Mantingan dan Caruban-Kertosono, aman. Bebas dari rangkaian truk-truk besar, sisanya kembali ke jalan konvensional tanah Jawa.

Dengan demikian mudik ke Bali ibarat melawan arus, orang ke mudik kami ke hilir. Begitu pula nanti saat pulang ke Yogya, kami pun kembali melawan arus: orang-orang bergegas ke timur, ke Surabaya atau Denpasar, kami nyantai-nyantai saja ke Yogya. Apa pun semuanya adalah berkah. Tapi hidup di luar mainstream rasanya Alhamdulillah sekali ya…   [T]

Tags: baliIdul FitriIslamKampung LoloanLebaranmudikMuslim
Share80TweetSendShareSend
Previous Post

Pemaafan, Ibu Dari Segala Ibadah

Next Post

Dhamma Camp 2019: Camping Chef yang Tak Kalah Seru dengan Master Chef Indonesia

Raudal Tanjung Banua

Raudal Tanjung Banua

Lahir di Sumatera Barat, pernah merantau ke Bali dan kini tinggal di Yogyakarta. Menulis cerpen dan puisi sembari mengelola Komunitas Rumah Lebah, Penerbit Akar Indonesia, dan Jurnal Cerpen Indonesia.

Related Posts

Banalitas Dialog dan Demokrasi Cuci Piring

by Azhari M. Latief
June 24, 2026
0
Banalitas Dialog dan Demokrasi Cuci Piring

SUDAH sejak lama demokrasi kita direduksi semata-mata dialog, dan ia berhenti tepat di tingkatan yang oleh generasi hari ini sebut...

Read moreDetails

Membaca Demokrasi Abu-Abu Indonesia

by Chusmeru
June 24, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

LAPORAN V-Dem (Varieties of Democracy) 2025 menarik untuk disimak. Lembaga riset politik paling besar di dunia soal demokrasi yang berbasis...

Read moreDetails

Penyair Bali Bukan Penyair Lomba

by Angga Wijaya
June 23, 2026
0
Penyair Bali Bukan Penyair Lomba

TULISAN pendek Tan Lioe Ie tentang Kusala menarik bukan semata karena membicarakan penghargaan sastra, tetapi karena menyentuh persoalan yang lebih...

Read moreDetails

Perluasan Basis Pajak sebagai Strategi Ketahanan Fiskal di Tengah Dinamika Global

by Vito Prasetyo
June 22, 2026
0
Perluasan Basis Pajak sebagai Strategi Ketahanan Fiskal di Tengah Dinamika Global

Di tengah ketidakpastian ekonomi global, mulai dari konflik geopolitik, perlambatan perdagangan internasional, hingga disrupsi teknologi yang mengubah pola bisnis, negara...

Read moreDetails

Titik Nol, Titik Awal Singaraja —Membangun Kota, Memuliakan Ingatan

by Dewa Rhadea
June 21, 2026
0
Tawuran SD dan Gagalnya Pendidikan Holistik: Cermin Retak Indonesia Emas 2045

"Selama ini kita membangun sekolah di dalam kota. Sudah saatnya kita membangun kota sebagai sekolah." Kalimat itu mungkin terdengar sederhana....

Read moreDetails

Kritik Seni yang Sependek Feed Instagram dan Kolom Komentar

by Made Chandra
June 21, 2026
0
Kritik Seni yang Sependek Feed Instagram dan Kolom Komentar

10 tahun lalu, rubrik perihal kritik seni masih tersusun padat, dengan desain layout yang sebisa mungkin berpihak pada kelengkapan informasi...

Read moreDetails

Membaca Pesta Kesenian Bali Menjelang 50 Tahun   

by I Nyoman Tingkat
June 21, 2026
0
Membaca Pesta Kesenian Bali Menjelang 50 Tahun   

PESTA Kesenian Bali (PKB)ke-48 pada 2026 telah dibuka pada Sabtu, 13 Juni 2026 oleh Gubernur Bali Wayan Koster. Pembukaan tanpa...

Read moreDetails

Menitipkan Jembrana kepada Kreator Digital

by Angga Wijaya
June 21, 2026
0
Menitipkan Jembrana kepada Kreator Digital

MAMED Wedanta adalah salah satu pemuda paling jenaka yang pernah lahir di Jembrana. Melihat wajahnya saja orang sudah ingin tertawa....

Read moreDetails

KLAKSON

by Hartanto
June 20, 2026
0
KLAKSON

SETENGAH abad yang lalu, saya paling benci mendengar suara klakson (dulu disebut tuter), mobil atau motor. Pasalnya, manakala itu saya...

Read moreDetails

Political Awareness: Jalan Kesadaran yang Holistik

by Agung Sudarsa
June 20, 2026
0
Political Awareness: Jalan Kesadaran yang Holistik

Spiritualitas Bukan Pelarian dari Kehidupan Salah satu kesalahpahaman terbesar tentang spiritualitas adalah anggapan bahwa orang spiritual harus menjauh dari urusan...

Read moreDetails
Next Post
Dhamma Camp 2019: Camping Chef yang Tak Kalah Seru dengan Master Chef Indonesia

Dhamma Camp 2019: Camping Chef yang Tak Kalah Seru dengan Master Chef Indonesia

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Kolaborasi Osaka Gakugei High School Jepang dengan Toska
Khas

Kolaborasi Osaka Gakugei High School Jepang dengan Toska

SEBANYAK 48 siswa Osaka Gakugei High School Jepang mengunjungi SMA Negeri 2 Kuta Selatan (Toska)  pada Selasa, 23 Juni 2026...

by I Nyoman Tingkat
June 24, 2026
Aubrey Nova dan Muhammad Ardiansyah: Sang Montir Mobil Kerdil
Persona

Aubrey Nova dan Muhammad Ardiansyah: Sang Montir Mobil Kerdil

GARA-GARA video di TikTok 2023 silam, Aubrey Nova kini jadi salah seorang seniman―atau sebut saja montir―muda yang lihai dalam memodifikasi...

by Jaswanto
June 24, 2026
Banalitas Dialog dan Demokrasi Cuci Piring
Esai

Banalitas Dialog dan Demokrasi Cuci Piring

SUDAH sejak lama demokrasi kita direduksi semata-mata dialog, dan ia berhenti tepat di tingkatan yang oleh generasi hari ini sebut...

by Azhari M. Latief
June 24, 2026
‘Menapaki Jejak-jejak Bukit Daha, Demulih, Bangli’ —Catatan Proses Pengkaryaan Sekaa Gong Anak-Anak Santika Murti di Pesta Kesenian Bali 2026
Ulas Pentas

‘Menapaki Jejak-jejak Bukit Daha, Demulih, Bangli’ —Catatan Proses Pengkaryaan Sekaa Gong Anak-Anak Santika Murti di Pesta Kesenian Bali 2026

RIUH penonton memadati pelantaran kursi beton panggung terbuka Ardha Candra di Taman Budaya Bali. Kala itu, 15 Juni 2026, di...

by Yudi Laksana
June 24, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Topeng Politik dan Ujian Demokrasi Indonesia

SITUASI politik akhir-akhir ini Kembali menghangat dengan turun nya beberapa komponen mahasiswa (BEM) mempersoalkan kondisi penurunan ekonomi, gugatan terhadap pelaksanaan...

by I Made Pria Dharsana
June 24, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Membaca Demokrasi Abu-Abu Indonesia

LAPORAN V-Dem (Varieties of Democracy) 2025 menarik untuk disimak. Lembaga riset politik paling besar di dunia soal demokrasi yang berbasis...

by Chusmeru
June 24, 2026
Duri Akar dan “Sungga”
Bahasa

Duri Akar dan “Sungga”

SAYA bukan tukang panen umbi yang cakap. Memanen umbi gembili, dua kali ujung linggis yang saya ayunkan justru menghunjam dan...

by Komang Berata
June 24, 2026
Bubarkan DPR: Amarah Publik, Krisis Representasi, dan Ancaman Demokrasi
Opini

Penangguhan Tahanan dan Ujian Kesetaraan Hukum

PENANGGUHAN penahanan terhadap tersangka dalam perkara dugaan pencemaran nama baik, fitnah, dan penyebaran informasi elektronik kembali membuka perdebatan lama dalam...

by Ruben Cornelius Siagian
June 24, 2026
Kawasan Titik Nol Sudah Menyala —Sentuhan Bupati Percantik Wajah Malam Kota Singaraja
Pemerintahan

Kawasan Titik Nol Sudah Menyala —Sentuhan Bupati Percantik Wajah Malam Kota Singaraja

SINGARAJA – TATKALA.CO | Wajah baru kawasan Titik Nol Kota Singaraja mulai terlihat. Bupati Buleleng, I Nyoman Sutjidra, didampingi Wakil...

by tatkala
June 24, 2026
Drama Gong “Nong Nong Kling” Mainkan “Mantri Bongol” yang memikat di Pesta Kesenian Bali 2026
Panggung

Drama Gong “Nong Nong Kling” Mainkan “Mantri Bongol” yang memikat di Pesta Kesenian Bali 2026

DRAMA gong ternyata masih memiliki tempat di hati masyarakat Bali. Hal itu terlihat saat Sanggar Seni Nong Nong Kling dari...

by Nyoman Budarsana
June 23, 2026
Bupati Sutjidra Dukung Singaraja Literary Festival dan Siap Menyambut Para Penulis yang Hadir di Bali Utara
Budaya

Bupati Sutjidra Dukung Singaraja Literary Festival dan Siap Menyambut Para Penulis yang Hadir di Bali Utara

SINGARAJA – TATKALA.CO | Bupati Buleleng I Nyoman Sutjidra mendukung terselenggaranya Singaraja Literary Festival (SLF) ke-4 tahun 2026 yang diadakan...

by tatkala
June 23, 2026
Musim Garam, Musim Menunggu —Cerita dari Desa Les, Buleleng
Khas

Musim Garam, Musim Menunggu —Cerita dari Desa Les, Buleleng

PETANI garam dan musim panas ibarat dua sejoli yang saling merindukan. Setelah berbulan-bulan berpisah oleh hujan, mendung, dan gelombang yang...

by Nyoman Nadiana
June 23, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co