6 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Bagaimana Penguasa Bali Memperlakukan Muslim di Zaman Kerajaan?

Abdul Karim Abraham by Abdul Karim Abraham
April 15, 2025
in Opini
Bagaimana Penguasa Bali Memperlakukan Muslim di Zaman Kerajaan?

Ilustrasi tatkala.co | Rusdy

MENYOROTI berbagai peristiwa di Bali belakangan ini, utamanya soal kemacetan dan masalah-masalah sosial lainnya, mendapat tanggapan di media sosial yang kalau diperhatikan bisa membuat kita mengelus dada. Pasalnya, walaupun tidak semua, tapi seringkali masalah-masalah itu dikomentari dengan unsur SARA.

Pengguna Medsos, dengan latar belakang dan usia yang berbeda, dengan mudah men-judge kejadian-kejadian itu dengan mengaitkan pelaku dengan latar suku dan agama tertentu. Dan akan mendapat respon yang berbeda ketika kejadian yang kebetulan pelakunya bagian dari umat mayoritas di Bali.

Kejadian yang cukup viral terakhir, saat video Hari Raya Nyepi di kampung Loloan, Jembrana, beredar di medsos. Hujatan dan cacian memenuhi kolom-kolom komentar. Apalagi beberapa pejabat turut me-repost video tersebut dengan narasi yang agitatif dan propaganda.

Namun, terlepas dari bagaimana kejadian yang sebenarnya, menarik untuk diperhatikan respon Bupati dan Wakil Bupati Jembrana yang justru “membela” komunitas Muslim di Kampung Loloan.

Paling tidak ada dua alasan kenapa respon dari pemimpin di Jembrana itu jadi menarik.

Pertama, karena responsif sebagai Pimpinan Daerah untuk membela warganya ketika dihujat habis-habisan oleh netizen se-Bali. Pembelaan ini tentu sebagai upaya peredaman konflik yang mungkin bisa terjadi secara lebih terbuka, karena yang akan hidup sehari-hari adalah warga Jembrana, bukan mereka yang menghujat di luar Jembrana.

Bahkan hujatan netizen diarahkan ke Bupati dan Wakil Bupati sampai pada hal yang personal. Secara pribadi, saya salut dengan dua pimpinan Jembrana ini, rela menjadi tameng untuk warganya dengan tidak melihat latar agama tertentu. Membela di sini bukan membenarkan kejadian tersebut, tapi mereka berdua ingin menyelesaikan dengan kearifan lokal Jembrana.

Kedua, dua pimpinan ini yang asli putra daerah, sejak kecil bergaul dengan berbagai komunitas Muslim di Bali Barat. Mereka tahu betul bagaimana Muslim di Jembrana ini berkembang bukan baru setahun dua tahun, tapi sudah ratusan tahun.

Muslim Loloan, dan Jembrana secara umum tidak mengenal istilah Mudik saat lebaran, kenapa? Karena mereka sudah turun temurun lahir di Bali. Tindakan mereka berdua sebagai penguasa di Jembrana, juga sebagai kelanjutan dari penguasa zaman kerajaan kepada Muslim.

Bagaimana kebijakan Raja-raja di Bali dulu terhadap umat Muslim?

Nengah Bawa Atmadja dalam bukunya “Genealogi Keruntuhan Majapahit; Islamisasi, Toleransi dan Pemertahanan Agama Hindu di Bali (2010), Pada Abad ke 16 dan Setelahnya”, Raja-raja di Bali menerapkan kebijakan yang disebut dengan Politik Karantinaisasi bagi penduduk Muslim.

Ada beberapa alasan dengan kebijakan ini:

Pertama untuk mencegah timbulnya konflik antara penduduk Islam dengan Hindu Bali yang disebabkan oleh latar belakang perbedaan agama dan kebudayaan.

Kedua, meminimalisir kemungkinan adanya Islamisasi yang dilakukan oleh umat Islam terhadap orang Bali.

Ketiga, memeberikan rasa aman secara sosiologis, kultural, keagamaan, dan psikologis sebab dalam perkampungan yang berpola karantinaisasi, mereka (Muslim) dapat mengembangkan identitasnya secara bebas tanpa didominasi maupun dihegemoni oleh etnik Bali.

Keempat, etnik Bali Hindu yang berada di sekitarnya bisa mempertahankan identitasnya, tanpa ada perasaan dirongrong oleh Islam.

Kebijakan kerajaan seperti ini adalah jalan tengah ketika Raja tidak bisa sepenuhnya menghadang Muslim. Sebab tenaga-tenaga Muslim bisa dimanfaatkan untuk kepentingan kerajaan, seperti kontak perdagangan dengan kerajaan di luar Bali, juga sebagai pasukan utama saat terjadi peperangan. Penguasa saat itu berupaya untuk tidak tejadi benturan pada ranah kultural, tapi memiliki kesetiaan yang sama saat struktural kerajaan memanggil.

Dengan begitu, terbentuklah perkampungan Muslim seperti Loloan di Jembrana, Pegayaman di Buleleng, Kepaon dan Serangan di Denpasar, dan Gelgel di Klungkung.

Kembali pada kejadian di Kampung Loloan, mereka sudah terbiasa, sebagaimana kampung-kampung muslim lainnya di Bali,  saat Hari Raya Nyepi menutup perbatasan perbatasan kampung agar warga tidak keluar ke kampung Hindu di kanan kirinya. Jadi tindakan menutup kampung ini adalah untuk menghormati saudara Hindu yang sedang beribadah.

Kenapa tidak diam di rumah? Karena di dalam kampung semuanya beragama Islam, sehingga tidak ada yang merasa diganggu ketika keluar rumah.

Kenapa baru dipermasalahkan sekarang? Sebenarnya bukan dipermasalahkan, tapi karena video yang disebar melalui medsos dengan narasi yang liar, membuat netizen turut menghujat. Karena model kampung tua seperti Loloan, tidak bisa disamakan dengan model pemukiman modern yang lintas etnik dan agama. Bagi mereka yang paham akan kesejarahan ini, tidak akan serta menghujat, karena masing masing wilayah memiliki kearifan lokal, dengan pendekatan penyelesaian secara lokal pula.

Kedepan, ancaman narasi egosentris dan propaganda berbasis SARA sepertinya masih terus mengemuka. Banyak yang mengatakan permasalahan utama sebenarnya adalah ruang ekonomi yang semakin kompetitif, sehingga isu “penduduk asli” versus “pendatang” dimunculkan, yang berarti “asli” yang berhak dan “pendatang” tidak berhak. Dan hampir semua permasalahan di Bali, kalau lihat di kolom komentar medsos, diarahkan kepada pendatang. Jika diartikan lebih khusus lagi, “asli” adalah Hindu dan “pendatang” adalah Islam.

Jika narasi seperti ini terus mengemuka, keharmonisan kedua agama yang sudah terjalin ratusan tahun, akan terkoyak oleh generasi yang tidak mengenal masa lalu. Semoga saja tidak. [T]

Penulis: Abdul Karim Abraham
Editor: Adnyana Ole

  • BACA JUGA:
Menengok Wisata Religi Islami di Jembrana, Bali
Sutjidra-Supriatna, Pemimpin Buleleng yang Senantiasa Berbaur dengan Warga Muslim di Bulan Ramadan
Kontak Sosial Singaraja-Lombok: Dari Perdagangan, Perkawinan hingga Pendidikan
Tags: Hari Raya NyepiIslam di BalijembranaKampung Loloan
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

“Return to Innocence”, Nyepi, dan  Sebuah Ajakan Kembali ke Kepolosan Diri

Next Post

Menelisik Danilla Lagi: Telisik (lagi) Tour Bali Danilla Riyadi

Abdul Karim Abraham

Abdul Karim Abraham

Ketua PC GP Ansor Kabupaten Buleleng

Related Posts

“Ajewera”: Dimensi Determinisme yang Dirusak Sebagai Awal Kehancuran Bali

by IM Gede Nesa Saputra
October 4, 2026
0
“Ajewera”: Dimensi Determinisme yang Dirusak Sebagai Awal Kehancuran Bali

AJEWERA pada dasarnya merupakan mekanisme kehati-hatian dalam memperlakukan pengetahuan, khususnya pengetahuan yang memiliki dimensi sakral, filosofis, dan esoteris. Dalam tradisi...

Read moreDetails

Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

by S. Bekti Istiyanto
October 4, 2026
0
Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

INDONESIA patut berbangga dengan jumlah perguruan tinggi kita yang terus bertambah di berbagai daerah, dan angka partisipasi kasar pendidikan tinggi...

Read moreDetails

Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

by Dini Nastiti Wardani
September 30, 2026
0
Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

PENDIDIKAN gratis kembali menjadi pembicaraan publik pasca Presiden Prabowo Subianto pada 18 September 2026 menyatakan komitmennya agar biaya pendidikan pada...

Read moreDetails

66 Tahun UUPA —Di Tengah 81 Tahun Kemerdekaan, Antara Cita-Cita dan Realitas Agraria Menakar Konsistensi Negara dalam Mewujudkan Keadilan, Kepastian Hukum, dan Kesejahteraan Rakyat

by I Made Pria Dharsana
September 24, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

Enam puluh enam tahun Undang-Undang Pokok Agraria (UUPA) dan 81 tahun Indonesia merdeka merupakan momentum penting untuk kembali bertanya: sejauh...

Read moreDetails

Mengantisipasi Mafia Tanah di Indonesia

by I Made Pria Dharsana
September 23, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

 Land and investment. Nowadays, it not only has a social function, but has become an economic and political commodity. Mendengar...

Read moreDetails

BANK TANAH DAN KITA —Antara Reforma Agraria, Kepentingan Investasi, dan Masa Depan Ruang Hidup Rakyat

by I Made Pria Dharsana
September 16, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

TANAH yang dikuasai negara bukan sekadar benda tidak bergerak yang dapat dipindahkan dari satu tangan ke tangan lain. Di atasnya...

Read moreDetails

Catatan di Tepi Tanah yang Tersisa  —66 Tahun UUPA Bukan Sekadar Angka

by I Made Pria Dharsana
September 10, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

TANAH selalu tampak diam. Ia tidak pernah mengeluh ketika batasnya digeser. Tidak berteriak ketika sawah berubah menjadi kawasan perumahan. Tidak...

Read moreDetails

Menimbang Kata Sebelum Berbicara: Bercermin dari Ucapan Gubernur Bali ’’Diam Kamu’’

by I Ketut Suar Adnyana
September 5, 2026
0
Menimbang Kata Sebelum Berbicara: Bercermin dari Ucapan Gubernur Bali ’’Diam Kamu’’

DI ruang publik, sebuah pernyataan dapat menjadi lebih berbahaya daripada sebuah kebijakan yang keliru. Kebijakan yang keliru masih mungkin diperbaiki...

Read moreDetails

Mengubah Paradigma Penanggulangan Bencana

by Made Bryan Mahararta
September 4, 2026
0
Mengubah Paradigma Penanggulangan Bencana

INDONESIA merupakan salah satu negara yang memiliki tingkat kerentanan bencana yang tinggi. Letak geografis, kondisi geologis, karakter kepulauan, perubahan iklim,...

Read moreDetails

“Anti-Dilution Protection” dalam Perseroan Terbatas:  Menjaga Kepastian Hukum dan Nilai Investasi Pemegang Saham

by I Made Pria Dharsana
September 2, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

DALAM praktik bisnis modern, kebutuhan perseroan untuk memperoleh tambahan modal sering kali diwujudkan melalui penerbitan saham baru. Langkah tersebut lazim...

Read moreDetails
Next Post
Menelisik Danilla Lagi: Telisik (lagi) Tour Bali Danilla Riyadi

Menelisik Danilla Lagi: Telisik (lagi) Tour Bali Danilla Riyadi

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Pengungsian Terakhir Batur: Perspektif Pelaku Tantra
Esai

Pengungsian Terakhir Batur: Perspektif Pelaku Tantra

malih kawruhakna uṅgwanira saṅ hyaṅ sūrya śaśaṅka, mwaṅ haranya, yan riṅ bhuwana aguṅ saṅ hyaṅ wulan riṅ lwaṅiṅ bukit batūr,...

by Putu Eka Guna Yasa
October 5, 2026
“Indonesia Comic Con” sebagai Media dan Representasi Budaya Pop
Panggung

“Indonesia Comic Con” sebagai Media dan Representasi Budaya Pop

INDONESIA Comic Con merupakan salah satu event yang mempertemukan berbagai unsur budaya populer. Di dalamnya terdapat berbagai kegiatan yang berkaitan...

by Muhammad Dylan Ibadillah Arrasyidi
October 5, 2026
”Questions”: Negeri dalam Tanda Tanya dan Krisis Kepercayaan Publik
Ulas Musik

”Questions”: Negeri dalam Tanda Tanya dan Krisis Kepercayaan Publik

DALAM khazanah progresif rock 1970-an, “Questions” dari Manfred Mann's Earth Band menempati ruang reflektif yang khas: ia bukan sekadar komposisi...

by Ahmad Sihabudin
October 5, 2026
“Ajewera”: Dimensi Determinisme yang Dirusak Sebagai Awal Kehancuran Bali
Opini

“Ajewera”: Dimensi Determinisme yang Dirusak Sebagai Awal Kehancuran Bali

AJEWERA pada dasarnya merupakan mekanisme kehati-hatian dalam memperlakukan pengetahuan, khususnya pengetahuan yang memiliki dimensi sakral, filosofis, dan esoteris. Dalam tradisi...

by IM Gede Nesa Saputra
October 4, 2026
Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?
Opini

Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

INDONESIA patut berbangga dengan jumlah perguruan tinggi kita yang terus bertambah di berbagai daerah, dan angka partisipasi kasar pendidikan tinggi...

by S. Bekti Istiyanto
October 4, 2026
Maguru Kuping & Maguru Sastra: Proses Inkubasi Gagasan Menuju Pondasi Literasi yang Kokoh
Esai

Sebelum Dunia Merayakan Wayang, Bali Sudah Memuliakannya

ADA sesuatu yang sedikit menggelitik ketika kita berbicara tentang “Hari Wayang”. Seolah-olah wayang membutuhkan satu tanggal tertentu agar kita kembali...

by I Gusti Made Darma Putra
October 4, 2026
Anatomi Kata ‘Dungu’ dalam Kamus Warganet Kekinian
Bahasa

Anatomi Kata ‘Dungu’ dalam Kamus Warganet Kekinian

DAHULU, kata dungu rasanya terlalu tabu dan kasar untuk diucapkan dalam percakapan sehari-hari. Namun, bahasa itu hidup, bergerak, dan selalu...

by I Made Sudiana
October 4, 2026
Penyair Kelas Teri
Esai

Penyair Kelas Teri

AKU menyebut diriku penyair kelas teri. Sebutan ini muncul karena sadar posisi di samudera literasi yang begitu luas. Aku menulis...

by Arief Rahzen
October 4, 2026
Monolog “Berpayung Waktu”, Merawat Perjuangan Maria Katarina Sumarsih
Panggung

Monolog “Berpayung Waktu”, Merawat Perjuangan Maria Katarina Sumarsih

IDEALTERNATIF akan menghadirkan pertunjukan monolog berjudul Berpayung Waktu pada Kamis, 8 Oktober 2026 pukul 20.00 WIB di Ngaos Art, Tasikmalaya,...

by tatkala
October 4, 2026
Menara Gading di Pasar Kerja
Esai

Menara Gading di Pasar Kerja

LULUSAN sarjana bertambah, pekerjaan yang sesuai tidak tumbuh dengan kecepatan sama. Lalu, apa sebenarnya yang kita harapkan dari universitas ketika...

by I Wayan Renaldi Bayu Permana
October 3, 2026
Persami Gugus VI Banjar Tanamkan Karakter Pramuka Sejak Sekolah Dasar
Pendidikan

Persami Gugus VI Banjar Tanamkan Karakter Pramuka Sejak Sekolah Dasar

SUASANA Lapangan Labuan Aji, Temukus, Banjar, tampak lebih ramai pada Sabtu (3/10/2026). Sejumlah siswa sekolah dasar datang membawa perlengkapan perkemahan....

by tatkala
October 3, 2026
Belajar Mengenal Teknik Prancis Lewat Chicken Ballotine Bersama Chef Simon Tailpied
Kuliner

Belajar Mengenal Teknik Prancis Lewat Chicken Ballotine Bersama Chef Simon Tailpied

MEMBUAT hidangan restoran tidak hanya soal mengikuti resep. Cara mempersiapkan bahan, mengolahnya dengan teknik yang tepat, hingga menyajikannya menjadi bagian...

by Rusdy Ulu
October 3, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co