23 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Sekilas Pentas “Kekecewaan” Wayan Jengki Sunarta : Narasi Tekstual ke Narasi Teaterikal

Hartanto by Hartanto
April 22, 2025
in Ulas Pentas
Sekilas Pentas “Kekecewaan” Wayan Jengki Sunarta : Narasi Tekstual ke Narasi Teaterikal

Jengki Sunarta

MENANDAI pembukaan pameran “Metastomata : Metamorphosis Manifesto Galang Kangin” di Neka Art Museum, 18 April 2025 yang dibuka oleh anggota DPD, Dr. Ida Bagus Rai Dharmawijaya Mantra, S.E., M.Si – digelar sebuah seni pertunjukan berdurasi sekitar 10 menit.

Pada perhelatan itu, sebuah kolaborasi yang apik disajikan oleh penyair Wayan Jengki Sunarta manakala merespon karya patung Dewa Somawijaya yang berjudul “Kekecewaan”. Sementara itu, perupa Made Gunawan merespon dengan permainan serulingnya. Dewa Somawijaya, selaku pematungnya sekaligus konseptor perhelatan ini. Ia mempersiapkannya selama 3 bulan.

Pertunjukan ini berangkat dari keresahan pematungnya terhadap renovasi bangunan bersejarah yang seringkali dilakukan tanpa mempertimbangkan kesadaran sejarah dan budaya lokal. Ini, banyak terjadi dalam renovasi Pura-Pura tua di Bali. Alih-alih melestarikan, renovasi yang tidak bijak justru dapat menghapus jejak sejarah yang seharusnya tetap terjaga.

Dalam konteks ini, Wayan Jengki Sunarta menghidupkan puisinya yang berjudul “Situs Candi”, yang menggambarkan //Bayangan candi : wujud masa silam yang meleleh ke dalam genang kenangan bocah gembala//... Puisi ini mengangkat refleksi tentang perjalanan spiritual dan sejarah yang terjalin dalam pahatan purba, serta bagaimana manusia berinteraksi dengan warisan budaya mereka.

Made Gunawan dan Jengki Sunarta pada pembukaan pameran “Metastomata : Metamorphosis Manifesto Galang Kangin” di Neka Art Museum, 18 April 2025

Malam itu, Jengki Sunarta tampil total, dan menunjukkan kepiawaiannya dalam seni teater. Ia menghidupkan kata-kata dalam bentuk ekspresi tubuh, suara, dan interaksi dengan ruang.

Sementara itu, Made Gunawan,  yang memainkan musik seruling, menghadirkan elemen suara yang memperkuat atmosfer kegelisahan dan harapan. Musiknya menciptakan suasana yang mendalam, membawa penonton ke dalam perjalanan emosional yang penuh refleksi.

Beberapa teman sastra yang menikmati repertoar ini, menyebutnya sebagai ‘teaterikal puisi’. Ada juga yang menyebutnya ‘dramatisasi puisi’. Maksudnya adalah bentuk seni pertunjukan yang menggabungkan puisi denganelemen teater, seperti ekspresi tubuh, intonasi suara, musik, dan pencahayaan sederhana.

Pertunjukan yang  menggabungkan unsur puisi, teater, musik, dan seni visual ini menciptakan pengalaman yang multidimensional dan penuh makna. Dalam hal ini, Jengki tidak hanya membacakan puisi, tetapi ia juga memainkan ekspresi tubuh dan suara, dan menjadikannya bagian dari seni pertunjukan yang lebih bermakna. 

Jengki Sunarta pada pembukaan pameran “Metastomata : Metamorphosis Manifesto Galang Kangin” di Neka Art Museum, 18 April 2025

Jengki berhasil memvisualisasikan puisinya melalui gerakan dan atmosfer panggung. Ia menghidupkan kata-kata dengan intonasi yang dramatik, gestur yang ekspresif, dan interaksi dengan properti panggung. Sementara itu, musik Made Gunawan memperkuat suasana, menciptakan efek emosional yang mendalam.

Pertunjukan diawali dengan orasi singkat oleh pematungnya, selanjutnya penyair Wayan Jengki Sunarta keluar dari gerbang candi dengan kostum hitam dan berkerudung kain ‘poleng’. Sembari membaca puisi, ia mengelilingi beberapa patung karya Dewa Soma yang tertata di panggung, dekat dengan beberapa obor yang melengkapi property panggung. Jengki, membaca dengan totalitas dan ekspresi yang mendalam.

Api dalam pertunjukan ini bisa diinterpretasikan sebagai simbol transformasi dan pembaruan, sekaligus sebagai metafora bagi kehancuran yang terjadi akibat renovasi yang tidak bijak. Ini bisa kita rasakan pada teks puisinya ; ..//Aku terperangkap dalam ruang dan waktu// karena karma// karena punarbhawa, //tak paham kapan awal kapan akhir letih ini/.., yang semakin memperkuat kritiknya tentang “ketidakpastian sejarah dan siklus kehidupan”.

Mengutip Julia Kristeva,  seorang teoretikus, ahli linguistik, kritikus sastra, filsuf dan psikoananlis kelahiran Belgia. Ia menjelaskan tentang intertekstualitas,  bahwa sebuah teks tidak pernah berdiri sendiri, melainkan selalu berhubungan dengan teks-teks lain. Dalam konteks ini, puisi “Situs Candi” dapat dilihat sebagai bagian dari dialog dengan sejarah, mitologi, dan tradisi Bali (secara tekstual).

Ini bisa kita simak, Jengki mengangkat simbol-simbol seperti candi, arca dewa, ritual, dan masih banyak lagi diksi-diksi yang memiliki makna mendalam dalam kebudayaan Bali. Puisi ini kemudian bertransformasi menjadi seni pertunjukan yang menggabungkan beberapa anasir dan menciptakan pengalaman intertekstual yang lebih luas. Jika tak keberatan, saya berpendapat bahwa Jengki piawai mengubah “narasi tekstual” menjadi “narasi teatrikal”

Jengki Sunarta menunjukkan naskah puisi Situs Candi yang ia pertunjukkan pada pembukaan pameran “Metastomata : Metamorphosis Manifesto Galang Kangin” di Neka Art Museum, 18 April 2025

Dalam puisi “Situs Candi”, Jengki menggunakan berbagai perangkat stilistika seperti metafora, repetisi, dan personifikasi untuk menciptakan suasana yang penuh refleksi. Misalnya, frasa “Bayangan candi: wujud masa silam yang meleleh ke dalam genang kenangan bocah gembala” menunjukkan penggunaan metafora yang menggambarkan bagaimana sejarah dan kenangan dapat larut dalam waktu. Dalam pertunjukan, elemen visual seperti api dan gerakan tubuh memperkuat efek stilistika ini, menciptakan pengalaman yang lebih mendalam bagi penonton.

Dalam seni pertunjukan ini, saya menyebut penggayaannya sebagai ekspresionisme. Sebab berfokus pada ekspresi emosional yang kuat dan penggunaan simbol-simbol yang menggugah perasaan. Dalam pementasan “Kekecewaan” ini ekspresi tubuh, suara, dan musik digunakan untuk menyampaikan kegelisahan dan harapan terhadap pelestarian sejarah. Jengki , sebagai penyair, menggunakan intonasi, gerakan, dan interaksi dengan ruang untuk memperkuat pesan puisinya.

Jengki Sunarta pada pembukaan pameran “Metastomata : Metamorphosis Manifesto Galang Kangin” di Neka Art Museum, 18 April 2025

Pada akhir pertunjukan, usai Dewa Somawijaya menghancurkan patungnya – Jengki mengajak IB Rai Dharmawijaya Mantra, dan beberapa tokoh lainnya ke atas panggung, untuk suatu acara simbolik  oleh Jengki. Puisi “Situs Candi” dihidupkan melalui berbagai ekspresi. Ini adalah contoh bagaimana puisi bisa menjadi lebih dari sekedar teks—ia bisa menjadi pengalaman yang menyentuh dan menggugah.

Dengan menggabungkan teater, musik, dan seni visual, ia menciptakan pengalaman yang tidak hanya estetis tetapi juga penuh refleksi dan kritik sosial. Karya Jengki ini mengajak penonton untuk merenungkan hubungan mereka dengan sejarah, spiritualitas, dan identitas budaya. Selamat Bro Jengki. [T]

Penulis: Hartanto
Editor: Adnyana Ole

  • BACA JUGA
METASTOMATA: Metamorphosis Manifesto Galang Kangin  di Neka Art Museum, Ubud
Wayan Jengki Sunarta# Teluk Benoa, Malam Mabuk di Ubud
Apakah Menjadi Penyair Seperti Wayan Jengki Sunarta Bisa Hidup Bahagia?
Tags: Pameran Seni RupaPuisiSeni RupaWayan Jengki Sunarta
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Melihat Bentir dari Sela-sela Daun Kelapa di Hari Raya, Sebuah Cerita dari Bali Barat

Next Post

Menghidupkan Warisan Leluhur, I Gusti Anom Gumanti Pimpin Tradisi Ngelawar di Banjar Temacun Kuta

Hartanto

Hartanto

Pengamat seni, tinggal di mana-mana

Related Posts

Sinaps Ingatan dari Pertunjukan Rawa Gambut Teater Potlot

by Asmaran Dani
September 4, 2026
0
Sinaps Ingatan dari Pertunjukan Rawa Gambut Teater Potlot

Catatan pendek, sebagai pengantar diskusi menonton ulang dokumentasi pertunjukan Rawa Gambut Teater Potlot melalui Youtube, Sabtu 05 Septemper 2026 di...

Read moreDetails

Sakrum: Sebuah Proses Meretas Jarak Duduk Ayah

by Yanik Parta
August 24, 2026
0
Sakrum: Sebuah Proses Meretas Jarak Duduk Ayah

SEBAGAI penari, aku bergerak dari kode satu ke kode gerak lainnya, sementara ayahku yang merupakan seorang pematung, bergerak dalam duduknya....

Read moreDetails

Dwi Dvara: Antara Keagungan Ciptaan dan Hasrat Merusak dalam Diri Kita

by Dewa Made Ari Kurniawan
August 4, 2026
0
Dwi Dvara: Antara Keagungan Ciptaan dan Hasrat Merusak dalam Diri Kita

Di Ambang Dualitas Eksistensial Dalam ruang pertunjukan yang temaram, pendar cahaya proyektor perlahan menghidupkan bidang panggung. Karya pertunjukan bertajuk DWI...

Read moreDetails

Pada Akhirnya Eksperimentasi Napas, Tubuh, dan Gerak Itu Berjudul Igel Prana ——Catatan Pasca Pertunjukan dan Sidang Tertutup Gus Sena

by Dewa Purwita Sukahet
July 31, 2026
0
Pada Akhirnya Eksperimentasi Napas, Tubuh, dan Gerak Itu Berjudul Igel Prana ——Catatan Pasca Pertunjukan dan Sidang Tertutup Gus Sena

MALAM itu, 20 Juli 2026, jam di ponsel menunjukan pukul 18:52 Wita, di depan gedung Ni Ketut Reneng, kampus Institut...

Read moreDetails

Paradoks Pengkhianatan dan Teologi Tubuh dalam ‘The Last Poison’

by Anselmus Dore Woho Atasoge
July 31, 2026
0
Paradoks Pengkhianatan dan Teologi Tubuh dalam ‘The Last Poison’

MALAM pembukaan Festival Bale Nagi 2026 di Taman Kota Felix Fernandez, Larantuka, Flores Timur, NTT, menyuguhkan sebuah pertunjukan yang memicu...

Read moreDetails

Fragmentari “Jro Luh” dan Sinkronisitas: Sebuah Pembacaan Estetika atas Pertemuan Dramaturgi dan Fenomena Alam

by I Gusti Made Darma Putra
July 28, 2026
0
Maguru Kuping & Maguru Sastra: Proses Inkubasi Gagasan Menuju Pondasi Literasi yang Kokoh

PANGGUNG seni pertunjukan pada dasarnya merupakan ruang rekayasa artistik. Di dalamnya, setiap unsur dirancang dengan cermat, struktur dramatik disusun melalui...

Read moreDetails

Melarut di Bali Utara: No-Audience Performance, Tubuh, dan Lanskap Menjadi Saksi

by I Wayan Sujana Suklu
July 25, 2026
0
Melarut di Bali Utara: No-Audience Performance, Tubuh, dan Lanskap Menjadi Saksi

  Tubuh berjalan pelandi antara bukit, rumah, dan laut yang tidak selesai. Angin membawa nama-namayang pernah singgah di pelabuhan,lalu hilang...

Read moreDetails

Murka Durpadi Mengutuk Dunia Lelaki, Tetapi Dengan Bahasa Siapa?  —Catatan dari Monolog Durpadi di Singaraja Literary Festival 2026

by Chandra Manikan
July 22, 2026
0
Murka Durpadi Mengutuk Dunia Lelaki, Tetapi Dengan Bahasa Siapa?  —Catatan dari Monolog Durpadi di Singaraja Literary Festival 2026

Asap mengepul perlahan hingga menutupi sebagian panggung, sementara cahaya merah merambat dan menerangi Ocha Diartini yang saat itu berperan sebagai...

Read moreDetails

Tubuh yang Dilukiskan, Tak Pernah Dimiliki —Membaca “Agem Ni Pollok” dalam Parade Monolog Festival Seni Bali Jani 2026

by Satria Aditya
July 20, 2026
0
Tubuh yang Dilukiskan, Tak Pernah Dimiliki —Membaca “Agem Ni Pollok” dalam Parade Monolog Festival Seni Bali Jani 2026

PARADE Monolog dalam Festival Seni Bali Jani 2016 yang digelar pada 14 Juli  di Gedung Ksirarnawa, dibuka pukul 17.00 Wita,...

Read moreDetails

Setiap Gerakan Punya Cerita  —Ulas Pentas Tari di Undiksha dan Terima Kasih Dua Hari Pengalamannya

by Putu Intan Juliantika
July 19, 2026
0
Setiap Gerakan Punya Cerita  —Ulas Pentas Tari di Undiksha dan Terima Kasih Dua Hari Pengalamannya

 “Teng! Tong! Teng! Tong! Teng! Tung! Pagi tiba alarm berbunyi...” Itu adalah suara dering alarm saya pukul tiga pagi yang...

Read moreDetails
Next Post
Menghidupkan Warisan Leluhur, I Gusti Anom Gumanti Pimpin Tradisi Ngelawar di Banjar Temacun Kuta

Menghidupkan Warisan Leluhur, I Gusti Anom Gumanti Pimpin Tradisi Ngelawar di Banjar Temacun Kuta

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.
Ulas Buku

Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.

SUNGGUH beruntung, saya mendapatkan buku Karya Visual dengan Multi Sensorik karya IB Putra Adnyana ini. Meski baru sampai bab III...

by Hartanto
October 21, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

by Chusmeru
October 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co