12 September 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Apakah Menjadi Penyair Seperti Wayan Jengki Sunarta Bisa Hidup Bahagia?

Sulis Gingsul AS by Sulis Gingsul AS
November 10, 2020
in Khas
Apakah Menjadi Penyair Seperti Wayan Jengki Sunarta Bisa Hidup Bahagia?

Penyair Wayan Jengki Sunarta (berdiri) saat peluncuran buku Solilokui di JKP Denpasar

Pada tanggal 24 Oktober 2020, di Jatijagat Kampung Puisi (JKP 109), berlangsung dengan sederhana peluncuran buku kumpulan puisi Solilokui karya penyair Wayan Jengki Sunarta (Jengki). Peluncuran buku itu dihadiri oleh kurang lebih 40 orang, dengan menerapkan protokol kesehatan. Imam Barker didapuk oleh Jengki untuk menjadi pembawa acaranya.

Acara dibuka dengan sepatah kata pengantar dari Jengki.
“Saya menapaki jalan puisi sejak tahun 1990. Bagi saya, menciptakan puisi adalah sebuah proses sepanjang usai dalam rangka memaknai kehidupan. Puisi adalah anugerah Semesta yang menuntun batin saya mengembara menjelajahi rimba kehidupan. Buku puisi ini adalah buku puisi saya yang ke-8. Bolehlah sesekali di dalam hidup yang absurd ini, saya memberikan hadiah kepada diri saya sendiri. Solilokui adalah hadiah yang khusus saya berikan untuk diri sendiri dalam rangka ulang tahun saya yang ke-45. Solilokui ini juga sekalian menjadi persembahan saya kepada Ayah dan Ibu saya yang telah merestui setiap langkah hidup saya. Solilokui berisi 55 puisi yang saya pilih dari masa penciptaan tahun 2016 hingga 2020. Cover buku Solilokui merupakan patung Sisipus karya pematung besar, I Ketut Putra Yasa, yang dijepret oleh Phalayasa Sukmakarsa.”

Acara dilanjutkan dengan bedah buku. Acara yang dimoderatori oleh Ni Amor Fati dengan pembicara kondang Profesor Petualang Sabang ini berlangsung dengan sangat alot selama 2 jam. Hehe…maaf, baru saja saya telah menyampaikan suatu hal yang tidak benar. Sesungguhnya di dalam acara itu tidak ada moderator, tidak ada pembedah buku, dan tidak ada diskusi. Amor Fati adalah buku kumpulan puisi karya Wayan Jengki Sunarta terbitan tahun 2019 sedangkan Petualang Sabang adalah buku kumpulan puisi karya penyair yang sama terbitan tahun 2018. Saya hanya ingin menekankan bahwa acara ini, seperti yang saya sebutkan sebelumnya, adalah acara peluncuran buku yang dilangsungkan dengan sederhana. Ya, hal itu memang disengaja sebagai respon sederhana terhadap covid 19. Sesederhana itu.

Sesederhana apa pun, musik bisa bikin asik. Musikalisasi puisi sepertinya sudah menjadi menu wajib pada acara peluncuran buku puisi. Tetapi di masa pandemi ini, musikalisasi puisi ternyata sudah termasuk barang mewah. Diperlukan latihan berkali-kali; dibutuhkan persiapan yang memakan waktu dan tenaga yang tidak sedikit. Dan hal itu, dengan kondisi seperti ini, tidak lagi bisa disebut sebagai sesuatu yang sederhana. Untunglah pada malam yang cerah itu, Dedysumantara Yasa hadir. Ia menyanyikan dua buah lagu ciptaannya sendiri, diiringi dengan petikan gitarnya sendiri. Sebagian dari yang hadir terlihat asik menikmatinya. Sebagian yang lain terlihat asik berdiskusi. Spontanitas, apa adanya, alami, begitulah kira-kira suasana yang ingin saya laporkan. Apakah hal tersebut belum cukup untuk menjelaskan kata sederhana yang saya tulis di kalimat pertama paragraf pertama di atas?

Pada acara pembacaan puisi, Pematung Kondang yang karya patung Sisipus-nya dijadikan sampul depan buku tersebut, dimohon dengan sangat oleh Jengki untuk membacakan puisi. Pembacaan puisi disusul oleh Gm Sukawidana, Ketut Syahruwardi Abbas, Mira Antigone, Kardanis MudaWi Jaya, Hendra Utay, April Artison, Imam Barker, Wayan Jengki Sunarta, Sulis Gingsul AS serta beberapa orang yang tidak saya ketahui namanya karena baru kali itu saya jumpai di JKP 109.

Sebelum membaca puisi karya Jengki, GM Sukawidana menegaskan bahwa dirinya membaca puisi bukan karena diminta membaca puisi. “Kalau diminta itu bisa saja dilakukan dengan terpaksa. Saya membaca puisi ini atas keinginan saya sendiri. Sejak dulu saya sering suka sekali mengejek Jengki. Nah, ini adalah kesempatan saya untuk melunasi. Pembacaan puisi yang saya lakukan ini adalah semacam silih atas semua ejekan “sayang” yang saya pernah lontarkan kepada Jengki. Menurut saya, Solilokui adalah buku Jengki yang paling baik di antara semua buku puisinya. Semoga pembacaan puisi yang saya lakukan ini adalah akhir dari kesukaan saya mengejekmu ya, Jeng!”

Sebelum membaca puisi, Ketut Syahruwardi Abbas (Abbas) menyatakan bahwa Soliloqui ini berbeda dengan semua buku kumpulan puisi karya Jengki (Solilokui adalah buku Rp kumpulan puisi karya Jengki yang ke-8). Menurutnya, Soliloqui lebih matang. Sebagai perbandingan, ia menyatakan bahwa di dalam kumpulan puisi Petualang Sabang, Jengki seperti kehilangan kedalamannya. Petualang Sabang terkesan sekedar “laporan pandangan mata.” Saya tidak ingat dengan persis kata-kata Abbas, terutama yang pada frasa yang saya beri tanda petik (“).

Setelah membaca satu buah puisi, Sulis Gingsul AS menyatakan kekagumannya,  kepada Jengki. Didorong oleh keharuan, sebenarnya ada banyak sekali yang ingin disampaikannya. Tetapi karena itu adalah acara pembacaan puisi, hanya sedikit yg bisa tersampaikan. Apa yang ingin disampaikannya pada saat itu saya tuliskan di bawah ini.

Ada satu hal saja yang membuat saya kagum sekaligus terharu menyaksikan Wayan Jengki Sunarta. Umbu Landu Paranggi (ULP) pernah menulis “Puisi adalah kehidupan, kehidupan adalah Puisi.” Kalimat tersebut pernah menjadi “tag line” pada spanduk Kampung Puisi Bali (cikal bakal JKP 109) yang dipakai untuk latar belakang panggung pada acara-acara di JKP.  Saya merasa bahwa Jengki adalah salah satu yang benar-benar menghayati kalimat ULP tersebut dalam arti harafiah. Sebagai penyair, sebagian besar hidup Jengki (bisa kita baca: seluruh hidup Jengki) adalah untuk puisi. Bisakah Anda bayangkan, pada zaman milenial ini, masih ada Jengki, seorang penyair yang dihidupi hanya oleh puisi. Lebih jelasnya, sumber penghidupan Jengki ya dari menjadi penyair. Hampir tidak ada sumber penghasilan lain. Sekarang ada berapa gelintir orang sih yang masih berani dan kuat menjadi penyair yang seperti Jengki? Jika itu pilihan hidup Jengki, saya angkat topi. Dan jika itu adalah takdir, saya memang telah dan sedang terharu. Saya baru saja menduga bahwa itu adalah takdir yang telah ditemukan oleh Jengki sebagai pilihan hidup. Untuk menjalani kepenyairan seperti itu, banyak sekali yang harus dikurbankannya. Apa yang bisa dilakukan oleh seorang penyair seperti Jengki? Mari kita simak puisi berjudul “Seekor Kucing Hitam Sekarat”. Puisi ini saya pilih karena (kebetulan) sampul belakang buku puisi Solilokui adalah foto Jengki sedang memangku seekor kucing hitam.

SEEKOR KUCING HITAM SEKARAT

seekor kucing hitam sekarat
nafasnya lemah, tubuhnya kaku
betapa bodoh diriku
tak mampu menolongnya

seekor kucing hitam sekarat
rasa sakitnya menjalari hatiku
semesta senyum sinis padaku
tak mampu berbuat apa

seekor kucing hitam sekarat
aku menunggu maut menjemputnya
ah, betapa aku penyair tak berguna
hanya bisa menulis puisi
sebagai pengantar kematiannya
————————————————–

Ada dua hal yang saya selalu temukan dalam sebagian besar puisi-puisi Jengki. Yang pertama adalah kejujuran. Yang kedua adalah kesederhanaan. Kedua hal itu membuat saya berani merekomendasikan kepada Anda untuk membaca puisi-puisi Jengki.  Puisi Jengki adalah pengembaraan batin. Mungkin Jengki belum menemukan apa-apa selain absurditas. Yang pasti, Jengki sudah menjalani pencarian. Dalam pencariannya yang berdarah-darah itu, apa yg sering ia sering menemukan “kejutan tak ternilai”. Kejutan tak ternilai itulah yang diolahnya menjadi puisi. Sesederhana apa pun puisi yang diciptakannya, baginya merupakan anak-anak rohaninya yang tak ternilai dan wajib ia sayangi.

“Apakah menjadi penyair seperti Wayan Jengki Sunarta bisa hidup bahagia?” Itulah yang saya lontarkan kepada khalayak, dan telah dijawab seketika oleh Jengki, “Itu pertanyaan yang sangat Absurd…eh-eh-eh”. Kebetulan (kalau memang takdir itu tidak ada), Jengki telah memilih Sisipus untuk menjadi sampul depan buku kumpulan puisi Solilokui-nya. Untuk Anda yang belum pernah mengetahui cerita tentang Sisipus, berikut ini adalah ringkasan ceritanya.
Sisipus adalah tokoh dalam mitologi Yunani. Karena kesalahannya, ia dikutuk untuk terus-menerus mendorong sebuah batu besar dari bawah ke puncak gunung. Sesampai di puncak, batu itu akan menggelinding jatuh kembali. Begitu batu itu sampai di bawah, Sisipus harus mendorong lagi batu besar itu ke atas. Begitu seterusnya, lagi dan lagi, tanpa akhir yang pasti. Ini terasa seperti suatu kekonyolan, bukan? Mungkinkah kehidupan yang seperti itu bisa menciptakan kebahagiaan? Mari kita tengok hidup kita masing-masing. Jika kita renungkan, tidak miripkah krhidupan Sisipus itu dengan kehidupan kita?

Menyadari bahwa kehidupan Sisipus adalah perumpamaan yang paling dekat bisa menggambarkan keabsurdan kehidupan ini, sebagian orang memilih untuk mengakhiri hidupnya. Untuk apa bersusah payah melakukan segala hal yang ternyata hanya kesia-siaan? Albert Camus, dalam eseinya konon menyarankan “Hidup adalah perjuangan tiada akhir. Dan sesungguhnya perjuangan sudah sangat bisa untuk mengisi waktu dan hidup manusia. Kita seharusnya membayangkan bahwa Sisipus berbahagia. Kalimat “Kita harus membayangkan Sisipus bahagia” ini juga saya dengar dari mas Tatang Bsp yang entah dengan Nur Nuryana Asmaudi atau dengan Muda Wijaya sedang berbisik-bisik membicarakan Sisipus.

Pada suatu masa, saya mulai percaya bahwa sesuatu menjadi bunga yang mekar dan kemudian gugur terjadi bukan atas kehendak bunga itu sendiri. Sesuatu telah ditakdirkan untuk menjadi bunga yang mau tidak mau harus mekar kemudian gugur, mekar kemudian gugur, demikian sampai batas waktu yang tidak diketahui. Dan ketidakbahagiaan hanya akan muncul ketika bunga itu ingin menjadi daun atau sesuatu yang tidak sebagaimana apa-adanya-dirinya-sendiri. Eh, lalu bagaimana dengan yang sering disebut-sebut sebagai kehendak bebas itu? Saya bukan filsuf dan wawasan saya sempit. Entah itu bagaimana, tetapi beginilah yang saya alami. Kemarin pagi, saya berkehendak bebas untuk datang ke JKP 109 jam 6 sore agar bisa membantu Bonk Ava, Obed Wewo, Phalayasa Sumakarsa, Ngurah Arya Dimas Hendratno, dan Ari Antoni untuk menyiapkan sesuatu. Tetapi ternyata pada hari ini bos saya meminta saya masuk kerja lembur meskipun pada hari ini seharusnya saya libur. Akhirnya saya malah terlambat datang di JKP. Ketika memasuki halaman, kira-kira jam delapan malam, panggung sudah siap, orang-orang sudah berkumpul. Saya melihat Wayan Juniarta dan Achmad Obe Marzuki sedang berdiri melihat ke arah Jengki.

Kembali ke pertanyaan apakah menjadi penyair seperti Wayan Jengki Sunarta bisa hidup bahagia? Sekali lagi, itu pertanyaan yang absurd. Tetapi saya bisa membayangkan penyair Wayan Jengki Sunarta sesungguhnya sering bahagia.

seekor kucing hitam sekarat
aku menunggu maut menjemputnya
ah, betapa aku penyair
sangat bisa menulis puisi
sebagai pengantar kematiannya
—————————————————

Setelah membacakan puisi pamungkasnya, Penyair Wayan Jengki Sunarta berkata begini: “Puisi adalah batu Sisipus saya”

Bapak Umbu Landu Paranggi hadir dan mengikuti acara peluncuran buku ini dari awal sampai akhir. Bapak Umbu terlihat sangat sehat dan berbahagia. Wajahnya berseri-seri. Bapak Umbu berbahagia terutama karena Jengki akhirnya menemukan. “Akhirnya, Jengki!” Begitu Bapak Umbu mengucapkannya dengan keras dan bahagia.
Beberapa nama sempat disebut-sebut oleh Bapak Umbu, di antaranya yang saya ingat: Bapak Frans Nadjira, Emha Ainun Najib, Warih Wisatsana, Dedari Rsia, Raudal Tanjung Banua, dan Riki Dhamparan Putra. Kebetulan mereka tidak berkesempatan menghadiri acara peluncuran buku. Umbu menyebutkan beberapa hal baik tentang mereka. Kata-kata Umbu yang paling berkesan bagi saya pada acara peluncuran buku kumpulan puisi Solilokui:
“Arti sesungguhnya dari SOLILOKUI
adalah
APA YANG BISA SAYA KERJAKAN!
APA YANG BISA SAYA KERJAKAN!

Selamat atas buku kumpulan puisi Solilokui. Sesuatu yang mewah mungkin akan membuat orang tercengang. Tetapi sesuatu yg sederhana kadang-kadang malah bisa memicu perasaan haru. Sungguh, saya begitu terharu. Semoga penyair Wayan Jengki Sunarta sering bahagia.

Jika memang hidup ini absurd, apakah kita harus bunuh diri. Atau sebaiknya kita menulis puisi saja?

Sulis Gingsul AS
(Tulisan ini saya kerjakan sebagai penghormatan saya kepada Penyair Wayan Jengki Sunarta.)

ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Pojok Baca dari GenBI Bali Komisariat Undiksha

Next Post

Pengikisan Kedaulatan Pangan

Sulis Gingsul AS

Sulis Gingsul AS

Related Posts

Puisi, Luka, dan Ruang Untuk Pulang —Catatan Reflektif dari Kelas Sastra Masuk Sekolah

by Emi Suy
September 10, 2026
0
Puisi, Luka, dan Ruang Untuk Pulang —Catatan Reflektif dari Kelas Sastra Masuk Sekolah

JUMAT, 28 Agustus 2026. Kursi-kursi bergeser. Beberapa siswa masih berbicara dengan teman di sebelahnya, sebagian membuka buku, sebagian lain menunggu...

Read moreDetails

Utsawa Dharma Gita 2026 Tinggal Hitungan Hari, Bali Siapkan Duta Terbaik ke Tingkat Nasional

by Nyoman Budarsana
September 8, 2026
0
Utsawa Dharma Gita 2026 Tinggal Hitungan Hari, Bali Siapkan Duta Terbaik ke Tingkat Nasional

PELAKSANAAN Utsawa Dharma Gita (UDG) Provinsi Bali XXXIII Tahun 2026 tinggal menghitung hari. Perlombaan tersebut bakal dimulai Jumat, 11 September...

Read moreDetails

Membaca Komik di Era Digital: Mengapa Manga, Manhwa, dan Manhua Semakin Populer?

by tatkala
September 7, 2026
0
Membaca Komik di Era Digital: Mengapa Manga, Manhwa, dan Manhua Semakin Populer?

RAK di sudut kamar dulu menjadi penanda seberapa serius seseorang mengikuti sebuah judul. Penanda itu perlahan berpindah ke daftar bacaan...

Read moreDetails

Desa Adat Tista Menatap Masa Depan dari Anjungan Desa dan Kekayaan Alam

by Nyoman Budarsana
September 6, 2026
0
Desa Adat Tista Menatap Masa Depan dari Anjungan Desa dan Kekayaan Alam

DIIRINGI gending gamelan yang dinamis, gerak, seledet, dan perpindahan posisi para penari mengalir membentuk jalinan yang hidup. Setiap gerakan seolah...

Read moreDetails

Ceraken Bali: Menyeimbangkan Cipta, Rasa, dan Karsa Mewujudkan SDM Bali Unggul

by I Nyoman Tingkat
September 6, 2026
0
Ceraken Bali: Menyeimbangkan Cipta, Rasa, dan Karsa Mewujudkan SDM Bali Unggul

"CERAKEN BALI: Menyeimbangkan Cipta, Rasa, dan Karsa Mewujudkan SDM Bali Unggul". Itulah tema HUT VII SMA Negeri 2 Kuta Selatan...

Read moreDetails

Sampah Plastik yang Turut Membangun Merdu dan Syahdu Suara Gamelan Selonding

by Dian Suryantini
September 1, 2026
0
Sampah Plastik yang Turut Membangun Merdu dan Syahdu Suara Gamelan Selonding

ADA sesuatu yang terasa ganjil ketika pertama kali melihatnya. Selonding, sebuah gamelan yang selama ini begitu dekat dengan kayu, tradisi,...

Read moreDetails

Janger Dalam Ingatan Penarinya —Cerita Kecil Tentang Janger di Jembrana

by Ega Surya Mahendra
August 31, 2026
0
Janger Dalam Ingatan Penarinya —Cerita Kecil Tentang Janger di Jembrana

MALAM, pukul 21.30, 10 Agustus 2026. Saya baru saja usai melewati jalan yang nestapa dari Tanjung Benua menuju kampung halaman...

Read moreDetails

Langit Sanur, Panggung Rare Angon dan Tradisi Melayangan

by Nyoman Budarsana
August 31, 2026
0
Langit Sanur, Panggung Rare Angon dan Tradisi Melayangan

ANGGIN itu sahabat para Rare Angon. Ketika embusannya mulai menguat di Pantai Mertasari, Sanur, kesibukan pun muncul di antara para...

Read moreDetails

Okokan Menggema, Tanah Lot Art & Food Festival VII Resmi Dibuka

by Nyoman Budarsana
August 29, 2026
0
Okokan Menggema, Tanah Lot Art & Food Festival VII Resmi Dibuka

“Dug dug, dag, dug dug.., dag dug dag…, jedug kapak, jedug kapak…!” SUARA kendang dan okokan menggema mengiringi pembukaan Tanah...

Read moreDetails

Sugi Lanus Bedah Akar “Brain Drain” dan Masa Depan Talenta Bali Utara di Buleleng Festival 2026

by Komang Puja Savitri
August 20, 2026
0
Sugi Lanus Bedah Akar “Brain Drain” dan Masa Depan Talenta Bali Utara di Buleleng Festival 2026

Masa depan sumber daya manusia di Bali Utara menjadi salah satu isu yang mengemuka dalam rangkaian agenda budaya tahunan Buleleng...

Read moreDetails
Next Post
Pengikisan Kedaulatan Pangan

Pengikisan Kedaulatan Pangan

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU
Esai

KUNJUNGAN BRAHMANA JAWA KE TANAH INDIA (BHUMI JAMBUDWIPA)

TIGA brahmana Jawa pernah berkunjung ke India. Kisah perjalanan spiritual ini tertuang di dalam pustaka lontar Tantu Pagelaran (atau Tantu...

by Sugi Lanus
September 12, 2026
Aku Mau Jadi Penguin! —Ulasan Novel “Di Tanah Lada” Karya Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie
Ulas Buku

Aku Mau Jadi Penguin! —Ulasan Novel “Di Tanah Lada” Karya Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie

AWALNYA saya mengira nama ‘Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie’ adalah nama pena. Ternyata saya salah. Kemudian dari nama unik dan ajaib inilah saya...

by Kadek Wisnu Oktaditya
September 12, 2026
Utsawa Dharmagita XXXIII-2026: Ketika Sastra Suci Menggema di Taman Budaya Bali
Panggung

Utsawa Dharmagita XXXIII-2026: Ketika Sastra Suci Menggema di Taman Budaya Bali

Jeda hanya sesaat. Setelah kulkul dipukul oleh Gubernur Bali Wayan Koster sebagai tanda dibukanya Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali XXXIII,...

by Nyoman Budarsana
September 12, 2026
YouNITE Fest Vol. 1: Ketika Forum GenRe Denpasar Hadirkan Ruang bagi Anak Muda untuk Bersuara dan Bergerak
Panggung

YouNITE Fest Vol. 1: Ketika Forum GenRe Denpasar Hadirkan Ruang bagi Anak Muda untuk Bersuara dan Bergerak

ANAK muda acap menjadi sasaran kebijakan. Namun, seberapa sering mereka benar-benar diberi ruang untuk bersuara, menyampaikan gagasan, bahkan menentukan arah...

by Dede Putra Wiguna
September 12, 2026
Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin
Cerpen

Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

MALAM di rumah sakit selalu terasa lebih panjang daripada malam di tempat lain. Jarum jam di dinding ruang perawatan menunjukkan...

by Ahmad Sihabudin
September 12, 2026
Puisi Ahmad Fatoni | Teruslah Bodoh, Negeri Sedang Membutuhkannya
Puisi

Puisi Ahmad Fatoni | Teruslah Bodoh, Negeri Sedang Membutuhkannya

Puisi-Resensi atas Novel Teruslah Bodoh Jangan Pintar karya Tere Liye Teruslah bodoh, jangan pintar,sebab negeri ini menyukai kepalayang mudah menganggukdan...

by Ahmad Fatoni
September 12, 2026
Pembukaan Utsawa Dharmagita 2026: Orang Bali Harus Pintar Secara Kognitif dan Punya Nilai moral
Budaya

Pembukaan Utsawa Dharmagita 2026: Orang Bali Harus Pintar Secara Kognitif dan Punya Nilai moral

Suasana pembukaan Utsawa Dharmagita Provinsi Bali XXIII Tahun 2026 berlangsung semarak di Taman Budaya Bali, Jumat 11 September 2026. Sebuah...

by Ayu Kahuatu Tamar
September 11, 2026
Ubud Art Collect: Ketika Seni dan Ekosistem Kreatif Ubud Bertemu Publik dalam Ruang yang Lebih Dekat
Pameran

Ubud Art Collect: Ketika Seni dan Ekosistem Kreatif Ubud Bertemu Publik dalam Ruang yang Lebih Dekat

SELAMA tiga hari, 4–6 September 2026, Wantilan Ubud berubah menjadi titik temu bagi wajah seni yang beragam. Lukisan tradisional berdampingan...

by Dede Putra Wiguna
September 11, 2026
Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu
Panggung

Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu

JUMAT, 11 September 2026, Nuanu Creative City di Tabanan, Bali, menjelma jadi panggung pertama Art & Bali platform seni tahunan...

by Ingga Adelia
September 11, 2026
Mengenal PVC WPC Wall Panel untuk Dekorasi Dinding Estetis
Gaya

Mengenal PVC WPC Wall Panel untuk Dekorasi Dinding Estetis

  Untuk dekorasi dinding yang estetis, Decorindo Perkasa menyediakan wall panel PVC WPC yang hadir sebagai solusi modern memadukan fungsi...

by tatkala
September 11, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Pasar Tradisional : Membaca Tanda, Merawat Manusia

"Pinten niki, Bu?"  (Berapa ini, Bu?) "Tigang doso gangsal ewu." (Tiga puluh lima ribu ) "Waduh... mboten saged kirang? Kula...

by Tri Nugroho Adi
September 11, 2026
Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda
Panggung

Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda

Jangan menganggap Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali sekadar rutinitas dengan sajian yang berulang. Tahun ini, panggung UDG XXXIII tahun 2026...

by Nyoman Budarsana
September 10, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co