24 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Pengikisan Kedaulatan Pangan

Doni Sugiarto Wijaya by Doni Sugiarto Wijaya
November 10, 2020
in Esai
Pengikisan Kedaulatan Pangan

Karya Seni Berjudul Mask oleh Ngurah Bob Trinity Art

Pada tanggal 1 Agustus 2020 di Kulidan Kitchen, diadakan pembukan pameran seni Artwork Showcase Refleksi Pandemi COvid 19 dengan tema kedaulatan pangan. Acara juga diisi oleh Mitra Bali Fair Trade , pegiat  perdagangan adil serta Nostress sebagai band music yang menyuarakan  isu isu keadilan dan lingkungan hidup.

Melangkah ke ruang galeri, terdapat satu karya seni yang benar benar sesuai dengan tema pembukaannya. 

Karya seni  berupa padi di pot dengan latar belakang sawah di bidang kain masker dengan ukuran 150 cm X 90 cm menggambarkan kedaulatan pangan tergerus. Lukisan dibuat dengan tita acrylic. Gambar depan berwarna  berupa padi yang tertanam di pot dan dibelakangnya potret seorang petani yang berada di sawah dengan pepohonan diantara sawah itu yang diwarnai dengan hitam putih. Dengan latar tersebut , sang seniman memperingatkan bahwa sawah di suatu tempat seperti Bali Selatan akan tinggal  sejarah saja. Warna mengkilap padi yang tumbuh di atas pot menunjukkan bahwa padi hanya jadi tanaman pot saja di kawasan itu karena tidak ada tanah luas untuk ditanami. Karya ini menunjukkan suramnya kedaulatan pangan yang akan menimpa.   

Sawah menyimpan potensi yang luar biasa besar. Secara tak langsung keberadaan sawah mewajibkan kita untuk melestarikan hutan karena air yang untuk mengairi berasal dari situ. Tanaman padi menyimpan beragam potensi yang belum maksimal dimanfaatkan. Sebagai contoh jerami padi dapat digunakan untuk media tanam jamur merang. Jerami dapat jadi bahan pembuatan tikar. Sekam padi dimanfaatkan untuk media tanam dan briket untuk memasak. Biota biota sawah yang dianggap hama seperti belalang dan burung pipit perlu diteliti kegunaanya seperti dijadikan santapan atau pakan hewan ternak dan ikan.

Sawah dijadikan vila. Pemborosan air tak terhindarkan. Bali Selatan desicit air karena resapan air menyusut akibat diselimuti beton tanahnya. Wisatawan mancanegara ke Bali untuk menikmati sawah bukan beton. Disini terjadi gejala marjinalisasi petani , nelayan , petambak dan gembala. Coba pikir, orang orang yang berbaju jas berwarna mengkilap dengan dasi dan kenakan sepatu mulus tidak begitu peduli dengan mereka yang baju dan celananya berlumpur dan berdebu tiap hari serta sering jadi korban penggusuran dan permainan. Padahal jika tidak ada orang orang ini tidak ada pangan  kecuali impor.

Telah terjadi keterputusan antara petani dan konsumen. Supermarket dan tengkulak berperan disini sehingga kontribusi petani jadi tidak kelihatan. Sistem pertanian monokultur dengan pestisida dna pupuk kimia membunuh biota tanah sehingga tanah cepat rusak membuat petani terus menerus membeli pupuk. Ketika tidak sanggup lagi, dia jual tanahnya dan beralih mata pencaharian. Buruh tani yang menggarap sawah bukan bagian dari sawah yang mereka garap karena hanya pekerja upahan yang tidak mendapat kebebasan di lahan itu melainkan tunduk pada pemilik lahan . karena itu niatnya untuk menjaga kualitas lahan dan air rendah karena sewaktu waktu buruh tani ini diusir saat tidak dibutuhkan lagi.

Penyebab lain kerawanan ini adalah penguasaan tanah yang timpang dan buruknya pengelolaan air dan tata ruang dimana satu persen orang Indonesia menguasai lebih dari 50% tanah dan tanah pertanian sering kekurangan air karena sistem monokultur boros air dan daerah yang curah hujannya rendah dipaksa menanam tanaman yang butuh banyak air. Selain itu betonisasi tanah untuk pariwisata dan industri memperkecil daya resapan air pada tanah. Banyak tengkulak yang mempermainkan petani sehingga terus merugi dan bertani tidak membuat hidupnya layak. Daya tawar petani amat rendah. Petani memutuskan menjual tanahnya untuk melunasi utang dan menutup kerugian produksi. Ini merupakan factor semakin terpusatnya lahan di tangan segelintir orang. Lahan pertanian terus digerogoti alih fungsi untuk infrastruktur, pengembangan property, akomodasi pariwisata dan industri skala besar yang berefek samping pada sosial dan ekologi.

Ada relasi kuasa yang timpang antara pemodal dan tengkulak dengan petani buruh dan gurem. Oleh karena itu reformasi agrarian yang berkeadilan sosial harus ditegakkan. Perlu dibuat hukum tertulis dan tak tertulis bahwa tiap pemilik lahan punya tanggung jawab sosial dan ekologi. Makin besar lahan yang dimiliki, makin besar tanggung jawab yang dipikul sehingga mengurangi konsentrasi kepemilikan lahan di tangan segelintir orang. AKses lahan semakin terjangkau bagi buruh tani dan petani gurem. Pemilik lahan tidak layak cari untung dengan korbankan petani dan ekologi. Ekonomi yang sejati ditopang oleh kesehatan ekologi dan keadilan sosial bukan sekedar uang saja. Tanah dan laut adalah dasar ekonomi kita bukan uang.

Hal diatas sudah berlangsung puluhan tahun sejak era orde baru. Lalu muncul pandemi corona meluluhlantakan berbagai sector kehidupan ekonomi. Dalam situasi ini manusia kembali berpikir hal yang paling vital untum kelangsungan hidupnya. Sistem politik, produksi dan distribusi pangan yang ada merupakan bagian dari kehidupan manusia dan menentukan nasib suatu negara. Dalam Prakteknya pemerintah lebih mendahulukan keamanan pangan daripada kedaulatan pangan. Indonesia terkadang impor beras, garam , daging , gula bahkan ikan. Padahal tanahnya termasuk yang paling subur, lautnya paling melimpah dan keanekaragaman hayati hewan dan tumbuhan yang dapat dimakan dan berpotensi dijadikan makanan dan obat tertinggi di dunia mengingat negeri ini adalah tiga negara dengan keragaman hayati tertinggi di dunia. Hal ini memunculkan kerawanan pangan

Di pulau Bali tidak setiap jengkal tanahnya cocok dengan padi seperti juga halnya di Indonesia. Daerah yang tanahnya kering dan curah hujannya lebih rendah  lebih cocok ditanamai ubi dan jagung. Penyeragaman pangan ini menimbulkan ketergantungan pada satu jenis saja dan seperti ungkapan jangan meletakkan semua beras dalam satu keranjang , jika terjadi gagal panen padi , munculah kerawanan tersebut. Pemerintah melalukan jalan tercepat berupa beli pangan dari negara lain.  Di tengah pandemic, negara asal impor beras membatasi ekspornya. Momen ini seharusnya membuat pemerintah untuk mereformasi lahan demi meminimalisir ketimpangan lahan sehingga petani tetap mempertahankan penghidupannya. Pemerintah memfasilitasi motor roda tiga di tiap desa agar petani dapat mengangkut hasil panen ke pasar tanpa melalui tengkulak. Sawah organic yang dibangun petani dapat dikembangkan untuk wisata demi menambah pendapatan. Para petani yang mengelola beserta fasilitasnya. Tidak boleh pihak swasta besar masuk di situ. Ini beberapa langkah yang perlu diambil untuk tegakkan kedaulatan pangan. Sayangnya pemerintah menginjak injak kedaulatan pangan ini lewat uu cipta kerja yaitu mengizinkan impor untuk mencukupi pangan sehingga jalan menegakkan kedaulatan pangan yang berkeadilan semakin terjal.

ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Apakah Menjadi Penyair Seperti Wayan Jengki Sunarta Bisa Hidup Bahagia?

Next Post

Sastrawan Oka Sukanta Tentang Novel “Babi Babi Babi” karya Putu Supartika

Doni Sugiarto Wijaya

Doni Sugiarto Wijaya

Lulus Kuliah tahun 2017 dari Universitas Pendidikan Nasional jurusan ekonomi manajemen dengan IPK 3,54. Mendapat penghargaan Paramitha Satya Nugraha sebagai mahasiswa yang menulis skripsi dengan bahasa Inggris. Sejak tahun 2019 pertengahan bulan Oktober, Doni mulai belajar menulis di blog secara otodidak. Doni menulis untuk bersuara kepada publik mengenai isu isu lingkungan hidup, sosial dan satwa liar.

Related Posts

Selamat Datang di Negara “Clickbait”

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 24, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SEPERTINYA sudah bukan lagi zamannya bertanya program mana yang paling bagus. Di negeri yang pandai menjual harapan, pertanyaan pertama justru...

Read moreDetails

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
0
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

Read moreDetails

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
0
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

Read moreDetails

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

Read moreDetails

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
0
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

Read moreDetails

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
0
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

Read moreDetails

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
0
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

Read moreDetails
Next Post
Sastrawan Oka Sukanta Tentang Novel “Babi Babi Babi” karya Putu Supartika

Sastrawan Oka Sukanta Tentang Novel “Babi Babi Babi” karya Putu Supartika

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar
Pendidikan

Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar

NILAI rata-rata Tes Kemampuan Akademik (TKA) Matematika di SMP Negeri 14 Denpasar baru mencapai 41,31. Dari 307 peserta didik, sekitar...

by Dede Putra Wiguna
October 24, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Selamat Datang di Negara “Clickbait”

SEPERTINYA sudah bukan lagi zamannya bertanya program mana yang paling bagus. Di negeri yang pandai menjual harapan, pertanyaan pertama justru...

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 24, 2026
Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat
Pendidikan

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat

SEBANYAK 693 lulusan Institut Agama Hindu Negeri (IAHN) Mpu Kuturan Singaraja resmi menyelesaikan pendidikan mereka dalam Wisuda II yang berlangsung...

by Wahyu Mahaputra
October 23, 2026
Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium
Panggung

Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium

KETIKA gamelan Bali disandingkan dengan instrumen Barat seperti biola (strings), gitar, saxophone, keyboard, dan piano, hasilnya adalah sebuah komposisi simfoni...

by Nyoman Budarsana
October 23, 2026
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co