2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Pengikisan Kedaulatan Pangan

Doni Sugiarto Wijaya by Doni Sugiarto Wijaya
November 10, 2020
in Esai
Pengikisan Kedaulatan Pangan

Karya Seni Berjudul Mask oleh Ngurah Bob Trinity Art

Pada tanggal 1 Agustus 2020 di Kulidan Kitchen, diadakan pembukan pameran seni Artwork Showcase Refleksi Pandemi COvid 19 dengan tema kedaulatan pangan. Acara juga diisi oleh Mitra Bali Fair Trade , pegiat  perdagangan adil serta Nostress sebagai band music yang menyuarakan  isu isu keadilan dan lingkungan hidup.

Melangkah ke ruang galeri, terdapat satu karya seni yang benar benar sesuai dengan tema pembukaannya. 

Karya seni  berupa padi di pot dengan latar belakang sawah di bidang kain masker dengan ukuran 150 cm X 90 cm menggambarkan kedaulatan pangan tergerus. Lukisan dibuat dengan tita acrylic. Gambar depan berwarna  berupa padi yang tertanam di pot dan dibelakangnya potret seorang petani yang berada di sawah dengan pepohonan diantara sawah itu yang diwarnai dengan hitam putih. Dengan latar tersebut , sang seniman memperingatkan bahwa sawah di suatu tempat seperti Bali Selatan akan tinggal  sejarah saja. Warna mengkilap padi yang tumbuh di atas pot menunjukkan bahwa padi hanya jadi tanaman pot saja di kawasan itu karena tidak ada tanah luas untuk ditanami. Karya ini menunjukkan suramnya kedaulatan pangan yang akan menimpa.   

Sawah menyimpan potensi yang luar biasa besar. Secara tak langsung keberadaan sawah mewajibkan kita untuk melestarikan hutan karena air yang untuk mengairi berasal dari situ. Tanaman padi menyimpan beragam potensi yang belum maksimal dimanfaatkan. Sebagai contoh jerami padi dapat digunakan untuk media tanam jamur merang. Jerami dapat jadi bahan pembuatan tikar. Sekam padi dimanfaatkan untuk media tanam dan briket untuk memasak. Biota biota sawah yang dianggap hama seperti belalang dan burung pipit perlu diteliti kegunaanya seperti dijadikan santapan atau pakan hewan ternak dan ikan.

Sawah dijadikan vila. Pemborosan air tak terhindarkan. Bali Selatan desicit air karena resapan air menyusut akibat diselimuti beton tanahnya. Wisatawan mancanegara ke Bali untuk menikmati sawah bukan beton. Disini terjadi gejala marjinalisasi petani , nelayan , petambak dan gembala. Coba pikir, orang orang yang berbaju jas berwarna mengkilap dengan dasi dan kenakan sepatu mulus tidak begitu peduli dengan mereka yang baju dan celananya berlumpur dan berdebu tiap hari serta sering jadi korban penggusuran dan permainan. Padahal jika tidak ada orang orang ini tidak ada pangan  kecuali impor.

Telah terjadi keterputusan antara petani dan konsumen. Supermarket dan tengkulak berperan disini sehingga kontribusi petani jadi tidak kelihatan. Sistem pertanian monokultur dengan pestisida dna pupuk kimia membunuh biota tanah sehingga tanah cepat rusak membuat petani terus menerus membeli pupuk. Ketika tidak sanggup lagi, dia jual tanahnya dan beralih mata pencaharian. Buruh tani yang menggarap sawah bukan bagian dari sawah yang mereka garap karena hanya pekerja upahan yang tidak mendapat kebebasan di lahan itu melainkan tunduk pada pemilik lahan . karena itu niatnya untuk menjaga kualitas lahan dan air rendah karena sewaktu waktu buruh tani ini diusir saat tidak dibutuhkan lagi.

Penyebab lain kerawanan ini adalah penguasaan tanah yang timpang dan buruknya pengelolaan air dan tata ruang dimana satu persen orang Indonesia menguasai lebih dari 50% tanah dan tanah pertanian sering kekurangan air karena sistem monokultur boros air dan daerah yang curah hujannya rendah dipaksa menanam tanaman yang butuh banyak air. Selain itu betonisasi tanah untuk pariwisata dan industri memperkecil daya resapan air pada tanah. Banyak tengkulak yang mempermainkan petani sehingga terus merugi dan bertani tidak membuat hidupnya layak. Daya tawar petani amat rendah. Petani memutuskan menjual tanahnya untuk melunasi utang dan menutup kerugian produksi. Ini merupakan factor semakin terpusatnya lahan di tangan segelintir orang. Lahan pertanian terus digerogoti alih fungsi untuk infrastruktur, pengembangan property, akomodasi pariwisata dan industri skala besar yang berefek samping pada sosial dan ekologi.

Ada relasi kuasa yang timpang antara pemodal dan tengkulak dengan petani buruh dan gurem. Oleh karena itu reformasi agrarian yang berkeadilan sosial harus ditegakkan. Perlu dibuat hukum tertulis dan tak tertulis bahwa tiap pemilik lahan punya tanggung jawab sosial dan ekologi. Makin besar lahan yang dimiliki, makin besar tanggung jawab yang dipikul sehingga mengurangi konsentrasi kepemilikan lahan di tangan segelintir orang. AKses lahan semakin terjangkau bagi buruh tani dan petani gurem. Pemilik lahan tidak layak cari untung dengan korbankan petani dan ekologi. Ekonomi yang sejati ditopang oleh kesehatan ekologi dan keadilan sosial bukan sekedar uang saja. Tanah dan laut adalah dasar ekonomi kita bukan uang.

Hal diatas sudah berlangsung puluhan tahun sejak era orde baru. Lalu muncul pandemi corona meluluhlantakan berbagai sector kehidupan ekonomi. Dalam situasi ini manusia kembali berpikir hal yang paling vital untum kelangsungan hidupnya. Sistem politik, produksi dan distribusi pangan yang ada merupakan bagian dari kehidupan manusia dan menentukan nasib suatu negara. Dalam Prakteknya pemerintah lebih mendahulukan keamanan pangan daripada kedaulatan pangan. Indonesia terkadang impor beras, garam , daging , gula bahkan ikan. Padahal tanahnya termasuk yang paling subur, lautnya paling melimpah dan keanekaragaman hayati hewan dan tumbuhan yang dapat dimakan dan berpotensi dijadikan makanan dan obat tertinggi di dunia mengingat negeri ini adalah tiga negara dengan keragaman hayati tertinggi di dunia. Hal ini memunculkan kerawanan pangan

Di pulau Bali tidak setiap jengkal tanahnya cocok dengan padi seperti juga halnya di Indonesia. Daerah yang tanahnya kering dan curah hujannya lebih rendah  lebih cocok ditanamai ubi dan jagung. Penyeragaman pangan ini menimbulkan ketergantungan pada satu jenis saja dan seperti ungkapan jangan meletakkan semua beras dalam satu keranjang , jika terjadi gagal panen padi , munculah kerawanan tersebut. Pemerintah melalukan jalan tercepat berupa beli pangan dari negara lain.  Di tengah pandemic, negara asal impor beras membatasi ekspornya. Momen ini seharusnya membuat pemerintah untuk mereformasi lahan demi meminimalisir ketimpangan lahan sehingga petani tetap mempertahankan penghidupannya. Pemerintah memfasilitasi motor roda tiga di tiap desa agar petani dapat mengangkut hasil panen ke pasar tanpa melalui tengkulak. Sawah organic yang dibangun petani dapat dikembangkan untuk wisata demi menambah pendapatan. Para petani yang mengelola beserta fasilitasnya. Tidak boleh pihak swasta besar masuk di situ. Ini beberapa langkah yang perlu diambil untuk tegakkan kedaulatan pangan. Sayangnya pemerintah menginjak injak kedaulatan pangan ini lewat uu cipta kerja yaitu mengizinkan impor untuk mencukupi pangan sehingga jalan menegakkan kedaulatan pangan yang berkeadilan semakin terjal.

ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Apakah Menjadi Penyair Seperti Wayan Jengki Sunarta Bisa Hidup Bahagia?

Next Post

Sastrawan Oka Sukanta Tentang Novel “Babi Babi Babi” karya Putu Supartika

Doni Sugiarto Wijaya

Doni Sugiarto Wijaya

Lulus Kuliah tahun 2017 dari Universitas Pendidikan Nasional jurusan ekonomi manajemen dengan IPK 3,54. Mendapat penghargaan Paramitha Satya Nugraha sebagai mahasiswa yang menulis skripsi dengan bahasa Inggris. Sejak tahun 2019 pertengahan bulan Oktober, Doni mulai belajar menulis di blog secara otodidak. Doni menulis untuk bersuara kepada publik mengenai isu isu lingkungan hidup, sosial dan satwa liar.

Related Posts

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
0
Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

Read moreDetails

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
0
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

Read moreDetails

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

Read moreDetails

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
0
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

Read moreDetails

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
0
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

Read moreDetails

Manusia Purba di Kota Denpasar

by Angga Wijaya
October 1, 2026
0
Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

Read moreDetails

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
0
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

Read moreDetails

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

by Chusmeru
September 30, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

Read moreDetails

Cara Sederhana Menilai Kesehatan Bangsa

by Putu Arya Nugraha
September 29, 2026
0
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter

PARA ahli sering berdebat mengenai kemajuan dan kesejahteraan negara kita, memakai berbagai indikator yang kadang sulit dipahami. Beberapa indikator yang...

Read moreDetails

Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

by Ahmad Hirzan Anwari
September 29, 2026
0
Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

PADA 12 September 2026, saya menerima informasi dari grup WhatssApp. Isinya permohonan delegasi untuk mengikuti latihan kader bela negara yang...

Read moreDetails
Next Post
Sastrawan Oka Sukanta Tentang Novel “Babi Babi Babi” karya Putu Supartika

Sastrawan Oka Sukanta Tentang Novel “Babi Babi Babi” karya Putu Supartika

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah
Esai

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara
Esai

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co