2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Ritual  “Seba”:  Lebarannya Suku Baduy?

Asep Kurnia by Asep Kurnia
April 30, 2025
in Esai
Ritual  “Seba”:  Lebarannya Suku Baduy?

Seba saat tahun 2015 bersama Jaro Saija, Jaro Dainah dan Jaro Tanggungan 12 pak Saidi Putra / Foto Dok.Penulis

SETIAP akhir bulan April dan awal bulan Mei (tahun 2000 – 2024) bagi warga etnis Baduy memiliki agenda khusus yang relatif tetap dan istimewa. Di jeda minggu tersebut Komunitas Adat Baduy akan selalu melaksanakan kewajiban atau “rukun adat”  bernama Seba sebagai bukti konkret penerapan dari salah satu 9 tugas pokok kesukuan Baduy pada point “ Ngasuh Ratu Nyayak Menak “. Karena berakhirnya bulan Kawalu Tutug pada akhir bulan April, maka tahun 2025 pun acara ritual Seba akan dilaksanakan pada minggu pertama yaitu tanggal tanggal 1-4 Mei 2025.

Seba sebagai salah satu rangkaian ritual kegiatan keagamaan yang benar-benar diagungkan (dipusti-pusti) setelah mereka melaksanakan tiga bulan berpuasa ( Kawalu ) dibulan Kasa, Karo dan Katiga penanggalan kalender adat mereka yang diakhiri Kegiatan Ritual Ngalaksa,sebagai kegiatan penutup tahun adalah hal sakral yang super wajib untuk dilaksanakan oleh mereka, karena isinya adalah menyampaikan amanat-amanat secara langsung ke “Ratu” dan pemerintahan khusunya yang menjadi tanggungjawab adat, keluhan adat.

Hal lainnya adalah menegaskan dan memberi nasihat mana yang harus dipertegas, mana yang harus dibereskan, dan mana yang harus dilaksanakan oleh pemimpin atau pemerintah agar  keseimbangan alam dan lingkungan ini tetap terjaga, aman, tenteram, dan damai; karena manusia itu biasanya dan pintarnya merusak alam yang ujungnya menimbulkan bencana alam.

Berbagai ulasan, tanggapan serta penjelasan atau narasi tentang ‘Seba Baduy’ pun akhirnya menjadi trendi dan sangat beragam baik yang disajikan di media cetak maupun media elektronik (internet). Hal itu menunjukan bahwa acara ‘Seba Baduy’ adalah suatu acara adat yang penting dan memungkinkan menjadi primadona pilihan berita yang cukup diminati oleh kalangan masyarakat baik para jurnalis,pemerhati komunitas adat, budayawan dan atau para peneliti komunitas adat.

Apalagi Seba ini sudah resmi dinyatakan sebagai aset unggulan budaya lokal  dan menjadi Program Unggulan Destinasi Pariwisata. Bahkan di tahun 2023 dan 2024  sudah masuk bagian dari kerangka Event Budaya Nusantara Indonesia, sehingga manjadi alat pemantik atau penarik kunjungan wisatawan lokal dan mancanegara. Sebagaimana dijelaskan oleh Kadis Pariwisata Kabupaten Lebak, bahwa 30.000 wisatawan diharapkan berkunjung ke Lebak sampai pada acara puncak Seba tahun 2023 yang digelar dari hari Jumat, Sabtu dan Minggu tanggal 28 – 30 April 2023 bertepatan dengan tanggal 7-9 bulan Safar penanggalan kalender adat mereka, juga bersamaan (tanggal reujeung) 7, 8, 9  Syawal 1444 Hijriah. Dan Seba tahun 2024 mampu menghadirkan 40.000 lebih wisatawan dari wilayah Jabodetabek.

                                                                        ***

Keragaman tanggapan dan ulasan serta narasi ‘Seba Baduy’ adalah merupakan pencerahan sekaligus penambahan dan pembuka wawasan bagi publik yang interes pada acara ritual tersebut. Saya sebagai bagian dari orang yang selalu setia mendampingi, mangawal, dan membantu pelaksanaan Seba  dari tahun 2000 – 2023  merasa berkepentingan juga untuk ikut berkontribusi mencerahkan publik perihal seputar dan sekitar ‘Seba Baduy’ dalam rangka memperlengkapi informasi kekinian Seba agar terhindar dari ketimpangan, kerancuan dan pembiasan berita dari aslinya. Juga demi menghapus narasi atau  pandangan yang kurang sedap tentang Seba yang masih sering diartikan sebagai suatu Penyerahan Upeti atau Pertanda Tunduknya suku Baduy pada pemerintah. Padahal Seba bukan itu, karena Seba memang bukan ritual seperti itu.

Dalam konteks Seba sebagai suatu kewajiban adat yang harus tetap dilaksanakan, maka setiap tahun di awal bulan Safar sebagai awal tahun kalender adat mereka pasti melaksanakannya. Terlepas apakah acara Seba itu meriah atau sepi (baca : banyak dan sedikitnya peserta Seba atau sederhana dan meriahnya sambutan balik Pemda). Diterima atau diabaikan pemimpin atau pemerintah, maka Seba akan tetap dilaksanakan walau hanya disaksikan sebatang kayu (Tunggul jeung dahan sapapan nu nyaksian) dan Seba hanya akan berakhir ketika suku Baduy sudah tiada atau punah.

Tetapi dalam konteks konten Seba, sejarah membuktikan terjadi perubahan atau pergeseran disesuaikan dengan situasi dan kondisi saat Seba itu dilaksanakan. Sejarah juga membuktikan bahwa Seba di Baduy selalu berubah dan berganti selang sekitar  tiap dua tahun sekali ada  “Seba Alit atau Leutik”   dan “Seba Ageung atau Gede “.

Setiap Seba juga terjadi perubahan tema atau misi atau usulan yang diemban pihak adat, dan itu tergantung situasi kenegaraan dan juga kebutuhan adat pada saat itu. Dari sisi pelayanan pemerintah pun setiap tahun selalu ada pergeseran dan perubahan men-service pesereta Seba (proses modifikasi ) itu juga dilihat dari kuantitas peserta dan interes sang pemimpin serta situasi kondisi politik saat itu. ‘Seba Baduy’ selalu mengikuti zaman (ngindung ka waktu ngabapak ka zaman) dan interesnya pemimpin yang saat itu menjabat.

‘Seba Baduy’ tidak pernah menawarkan dan meminta bentuk pelayanan khusus dari pemerintah dan tidak pernah protes apa pun tentang bentuk pelayanan atau respons pemerintah. Mereka selalu legowo, nerimo dan tepo seliro bagaimana pemerintah mendudukan dan atau memposisikan Seba, karena bagi mereka hal terpenting mereka bisa melaksanakan ritual Seba sebagai Rukun Adat.

Tentang adanya rekayasa acara tambahan di luar Seba sebelum dan atau sesudah Seba yang dianggap dapat menyemarakan dan mem-booming-kan Seba, mereka sepenuhnya menyerahkan pada sang penerima Seba. Seba yang pokok bagi mereka bahwa membacakan mantra Seba dan menyerahkan Laksa sebagai inti acara Seba tidak diubah. Itulah maka situasi dan kondisi yang saya narasikan di atas adalah menunjukan bahwa : “ Seba Baduy selalu mengalami dinamisasi dan pergeseran” (Asep Kurnia, 2025 ).

Benarkah bahwa terjadi dinamisasi dan pergeseran “Seba Baduy” atau tetap monoton? Bagi pemerhati Seba yang selalu setia tentunya bisa menjawab secara gamblang bahwa pergeseran dan perubahan pelaksanaan Seba itu selalu terjadi. Paling tidak kita bisa membaca dari tema atau misi yang diusung pada saat Seba, kemudian dari jumlah peserta, dan tak kalah penting dilihat dari ragam bawaan hasil bumi mereka; dari sajian agenda kegiatan Seba di setiap Pemda yang disinggahi Seba dan dari tingkat hingar-bingar atau kemeriahan para pengunjung yang ikut menghadiri ritual Seba.

Perubahan drastis jumlah peserta dan pelaksanaan Seba pada saat Covid-19, misalnya dari jumlah peserta 1500 orang  lebih di tahun sebelumnya menjadi 30 orang, dan tidak ramai. Itu bukti otentik bahwa pelaksanaan Seba memang sangat dinamis atau dalam bahasa saya, Seba itu selalu mengalami elastisitas atau fleksibiltas dalam pelaksanaanya, tergantung sikon dan tuntutan juga tuntunan. Bahkan  untuk ajang menaikan popularitas dan elektabilitas pemimpin dan calon pemimpin Seba pun bisa dijadikan tumpangsari bila kita mau.

                                                                        ***

Azas peluang terbuka dari Seba sudah nampak dibuka, tinggal tergantung tingkat interes dan kemahiran pemangku jabatan dalam menegosiasi atau melobi dan memusyawarahkan dengan pemangku adat serta tergantung bagaimana cara mengemas acaranya. Bahasa singkat saya, diramaikan okeh and tidak diramaikan juga okeh saja.

Jika membaca pernyataan dari Kadis Pariwisata Lebak di berbagai medsos yang mengestimasikan bahwa Seba 2023 akan dihadiri oleh sekitar 1500 peserta atau 10 kali lipat dari Seba 2022 dengan kutipan sebagai berikut :

“Perayaan Seba Baduy tahun ini akan dihadiri para duta besar negara sahabat agar banyak wisatawan mancanegara,” kata Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Lebak Imam Rismahayadin dalam keterangan tertulis di Lebak, liputan 6 ,Selasa (25/2/2023). Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Lebak, Imam Rismahayadin mengatakan, sekitar 1.250 warga Baduy akan jadi peserta seba untuk bertemu pemerintah. “Info terkahir dari desa (Kanekes) 1.250 orang,” kata Imam kepada Kompas.com melalui pesan WhatsApp, Rabu (26/4/2023). Dalam gelaran empat hari tersebut banyak acara menarik yang digelar mulai dari gelar produk UMKM, lomba dan permainan tradisional, pameran foto, wayang golek dan pertunjukankesenian 

Maka pernyataan dikutipan tersebut adalah bukti terkini bahwa kekinian Seba itu selalu mengalami dinamisasi. Apakah di Pemda Pandeglang, Serang dan Pemda tingkat provinsi akan melakukan hal yang serupa dengan Pemda Lebak, yach kita sebagai penonton mah tinggal wait and see saja ?

Sebagai penguat argumentasi, saya tulis ulang kutipan Pak Jaro Saija di Tempo.Co 26/04/2023 tentang tema Seba 2023 yang menyatakan :

“Dengan Seba Baduy itu tentu dapat memperkuat persatuan dan kesatuan bangsa juga nilai -nilai toleransi,di mana bangsa ini memiliki keberagaman suku, budaya, sosial dan agama,” .

Jadi, pergeseran dan perubahan content (ruh), tujuan serta fungsi ritual “Sba Baduy” dari tahun ke tahun tidak bisa dipungkiri keberadaannya. Kini Seba tidak hanya sebatas membacakan rajah mantra dan menyerahkan Laksa, tetapi sudah digunakan sebagai ajang penyampaian informasi, aspirasi, harapan serta kebutuhan warga Baduy karena di sesi akhir disediakan ruang tanya jawab untuk kedua belah pihak. Seba telah mulai bergeser pula menjadi acara dan arena dialog, curhat, bahkan sesekali menjadi ajang kritikan, terlebih setelah etnis Baduy secara resmi dinyatakan sebagai Aset Unggulan Budaya Lokal dan masuk dalam program unggulan Destinasi Pariwisata Pemda Kabupaten Lebak. (Asep Kurnia,  2025).

Sebagaimana telah dijelaskan, bahwa inti dari Seba adalah melaksanakan tugas dan kewajiban “ngasuh ratu ngajayak menak” bukan “memilih ratu dan menak, namun di kekinian makna atau nilai Seba lebih diperhalus dengan peminjaman kata “ silaturahmi tahunan “ antara wiwitan dengan negara. Karena pelaksanaan semakin ramai dan peserta Seba dari tahun ke tahun makin bertambah banyak (membludak) dan nyaris selalu berada di angka 1500 peserta lebih.

Efek dari pergeseran konten Seba dari hanya sekadar ritual yang kemudian secara resmi  dinyatakan sebagai Event Budaya Nasional telah dengan nyata mempengaruhi geliat perekonomian masyarakat Baduy secara khusus dan masyarakat Lebak secara umum pun pesat meningkat. Jumlah peserta yang selalu membludak tentunya memerlukan penanganan transportasi dan persiapan logistik yang tidak sederhana dan sedikit, penerimaan pun tidak bisa dilaksanakan secara sederhana dan semua itu memerlukan anggaran dan biaya yang tidak sedikit. Apalagi sekarang “Seba Baduy” itu sudah dijadikan jargon destinasi wisata, bahkan sudah dinobatkan sebagai aset sekaligus omset budaya unggulan. 

Kini keramaian “Seba Baduy” sudah tidak bisa lagi dihindari dan selalu dinanti-nanti oleh publik, akhirnya sadar tidak sadar panitia terdorong untuk selalu mendesain acara “Seba Baduy” dengan kemasan yang lebih up to date. Kini ritual “Seba Baduy” oleh publik mulai diasumsikan atau dianggap sebagai “ Lebarannya Warga atau Suku Baduy”. [T]

Penulis: Asep Kurnia
Editor: Adnyana Ole

  • BACA esai-esai tentang BADUY
  • BACA esai-esai lain dari penulis ASEP KURNIA
Dilema Suku Baduy [1]: Antara Kewajiban “Ngahuma” dan Keterbatasan Lahan
Narman, Sang “Entrepreneur” Etnis Baduy
Para Pejuang dan Pengabdi Suku Baduy
Sekilas Informasi Wisata  Saba Budaya  Baduy
Pengabdi Suku Baduy: Dua Tahun Ditolak, Kini Disayangi
Tags: masyarakat adatProvinsi BantenSuku Baduy
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Dewa Soma Wijaya, Penjaga Budaya Lama

Next Post

Kampusku Sarang Hantu [13]: Cek Khodam Muncul Pocong

Asep Kurnia

Asep Kurnia

Pemerhati Baduy, tinggal di tapal batas Baduy

Related Posts

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
0
Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

Read moreDetails

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
0
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

Read moreDetails

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

Read moreDetails

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
0
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

Read moreDetails

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
0
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

Read moreDetails

Manusia Purba di Kota Denpasar

by Angga Wijaya
October 1, 2026
0
Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

Read moreDetails

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
0
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

Read moreDetails

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

by Chusmeru
September 30, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

Read moreDetails

Cara Sederhana Menilai Kesehatan Bangsa

by Putu Arya Nugraha
September 29, 2026
0
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter

PARA ahli sering berdebat mengenai kemajuan dan kesejahteraan negara kita, memakai berbagai indikator yang kadang sulit dipahami. Beberapa indikator yang...

Read moreDetails

Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

by Ahmad Hirzan Anwari
September 29, 2026
0
Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

PADA 12 September 2026, saya menerima informasi dari grup WhatssApp. Isinya permohonan delegasi untuk mengikuti latihan kader bela negara yang...

Read moreDetails
Next Post
Kampusku Sarang Hantu [1]: Ruang Kuliah 13 yang Mencekam

Kampusku Sarang Hantu [13]: Cek Khodam Muncul Pocong

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah
Esai

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara
Esai

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co