5 June 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Trimatra Galung Wiratmaja

Hartanto by Hartanto
April 25, 2025
in Ulas Rupa
Trimatra Galung Wiratmaja

Karya Galung Wiratmaja yang dipamerkan bertajuk “Metastomata: Metamorphosis Manifesto Galang Kangin” di Neka Art Museum, Ubud | Foto: Ist

MENDENGAR kata artefak, maka ingatan kita akan menuju ke arkeolog atau antropolog. Pasalnya, Artefak biasanya merujuk pada benda atau hasil karya yang dibuat oleh manusia, terutama yang memiliki nilai sejarah, budaya, arkeologi atau antropologi. Contohnya bisa berupa perhiasan kuno, alat-alat batu dari zaman prasejarah, manuskrip, atau bahkan bangunan tua. Artefak memberikan kita wawasan tentang kehidupan, teknologi, dan kebudayaan di masa lampau.

Menurut para ahli, artefak adalah objek buatan manusia atau perilakunya yang memiliki nilai historis, budaya, atau seni. National Geographic mendefinisikan artefak mencakup seni, alat, dan pakaian yang dibuat oleh manusia dari waktu dan tempat tertentu. Artefak juga bisa berupa benda seni maupun sisa-sisa benda seperti pecahan tembikar atau barang pecah belah.

Tak jauh berbeda dengan pendapat Science Daily, sebuah laman web dari Amerika yang banyak menerbitkan bidang sains secara churnalism. Menurut SD, artefak adalah benda yang dibuat atau dimodifikasi oleh budaya manusia, sering kali ditemukan melalui upaya arkeologis. Contohnya termasuk alat-alat batu, benda seni, bejana tembikar, atau benda logam seperti senjata dan perhiasan.

Koentjaraningrat, seorang antropolog terkemuka Indonesia, memiliki pandangan yang mendalam tentang artefak dalam konteks kebudayaan. Menyimak dari bukunya “Manusia dan Kebudayaan di Indonesia”,  (1988). Beliau membagi kebudayaan 3 wujud utama, yakni : Ide, Aktivitas, dan Artefak.

Menurut Koentjaraningrat, Artefak,  mencakup semua benda yang dihasilkan oleh manusia untuk memenuhi kebutuhan hidupnya, seperti alat-alat, pakaian, rumah, dan karya seni. Artefak ini tidak hanya memiliki nilai estetika tetapi juga nilai historis dan budaya.

Pendekatan Koentjaraningrat ini membantu kita memahami kebudayaan secara holistik, di mana artefak menjadi salah satu elemen penting dalam merekonstruksi kehidupan manusia di masa lalu. Dan upaya ‘revitalisasi’ dimasa kini, sebab artefak sering kali menjadi sumber utama dalam studi antropologi budaya, karena mereka memberikan wawasan tentang bagaimana manusia berinteraksi dengan lingkungan mereka dan bagaimana budaya berkembang dari dulu, kini, dan nanti.

Bincang soal artefak, ingatan saya tertuju pada karya Galung Wiratmaja yang di gelar di pameran “Metastomata : Metamorphosis Manifesto Galang Kangin”. Perhelatan tersebut digelar di Neka Art Museum, Ubud – 18 april hingga 18 Mei 2025.

Karya Galung Wiratmaja yang dipamerkan bertajuk “Metastomata: Metamorphosis Manifesto Galang Kangin” di Neka Art Museum, Ubud | Foto: Ist

Pada pameran itu, Galung mengusung konsep pada karyarupanya yang bertajuk “artefak”. Menurut interpretasi saya, ini merupakan refleksi ‘pembekuan’ dari ‘rangkaian proses. Ia, seakan menangkap esensi waktu yang berhenti sejenak, merangkum perjalanan yang bersifat fisik, nonfisik, hingga spiritual dan ekspresi kreatif yang kaya.

Selanjutnya, saya jadi ingat Margaret Mead, seorang antropolog budaya terkenal asal Amerika Serikat yang banyak berkontribusi dalam studi tentang hubungan antara kepribadian dan budaya. Ia dikenal karena penelitiannya di kawasan Polinesia, khususnya melalui buku “Coming of Age in Samoa” yang diterbitkan pada tahun 1928.

Dalam buku ini, Mead mengeksplorasi bagaimana budaya memengaruhi perkembangan remaja, dengan fokus pada perbedaan antara masyarakat Samoa dan masyarakat Barat. Penelitian-penelitian Mead sering kali memicu perdebatan, terutama karena pandangannya yang inovatif, dan terkadang kontroversial.

Di Bali, Margaret Mead pernah menulis buku Balinese Character: A Photographic Analysis ini karyanya bersama Gregory Bateson. Buku ini dapat dikaitkan dengan artefak, meskipun fokus utamanya adalah pada analisis budaya dan perilaku masyarakat Bali melalui fotografi. Buku setebal 277 halaman ini diterbitkan New York Academy of Sciences 1942.

Yang menarik dari buku ini, menggunakan lebih dari 700 foto untuk mendokumentasikan berbagai aspek kehidupan masyarakat Bali, seperti ritual, seni, dan interaksi sosial. Foto-foto tersebut dapat dianggap sebagai “artefak visual” yang merekam budaya Bali pada masa itu.

Buku yang berdasarkan pada penelitian mereka di Bali antara tahun 1936 dan 1939 ini juga mencakup deskripsi tentang benda-benda yang digunakan dalam kehidupan sehari-hari dan upacara adat, yang secara teknis dapat dianggap sebagai artefak budaya.

Dengan demikian, buku ini tidak hanya memberikan wawasan tentang karakter masyarakat Bali, tetapi juga tentang artefak yang menjadi bagian dari kehidupan mereka. Karya Margaret Mead dan Gregory Bateson ini merupakan salah satu karya penting dalam antropologi visual, sebab menggabungkan pendekatan fotografi dengan analisis ilmiah.

Menariknya, pada buku ini Mead dan Bateson menggunakan foto sebagai alat untuk menganalisis pola perilaku dan struktur sosial masyarakat Bali. Mereka juga mencatat bagaimana budaya Bali membentuk kepribadian individu, termasuk melalui ritual dan interaksi sosial.

Salah satu fokus utama adalah pada konsep “trance” dalam budaya Bali, yang mereka anggap sebagai ekspresi penting dari karakter budaya Bali. Selain itu, mereka juga memperkenalkan konsep “ethos budaya,” yang menggambarkan bagaimana emosi dan perilaku individu diatur oleh norma budaya.

Buku Balinese Character: A Photographic Analysis ini sangat dihargai di kalangan ilmuwan dunia. Tapi, mohon maaf yang sebesar-besarnya – perkenankan saya mengkritisi karya akbar ini. Menurut subyektifitas saya,  pendekatan Mead dan Bateson mungkin terlalu subjektif, terutama dalam interpretasi mereka tentang budaya Bali.

Sepertinya, masih menurut saya, analisis melalui poto saja, tidaklah cukup. Kendati demikian, sumbangan mereka pada dunia keilmuan luar biasa memang. Dan tetap menjadi referensi penting dalam studi antropologi dan budaya visual. Kita harapkan juga, ke depannya karya visual bli Galung juga bisa memberi kontribusi ke dunia keilmuan.

Detail karya “Artefak” Galung Wiratmaja yang dipamerkan bertajuk “Metastomata: Metamorphosis Manifesto Galang Kangin” di Neka Art Museum, Ubud | Foto: Ist

Kembali ke karyarupa Galung, objek kubus pada permukaan bertekstur di belakang kanvas, berpadu karya abstrak dengan warna-warna hangat, memberikan kesan mendalam tentang perpaduan antara yang material dan yang imaterial. Sepertinya, Galung berupaya menggali refleksinya tentang energi alam dan eksplorasi ruang.

Tampak, Galung mengeksplorasi hubungan antara tradisi dan modernitas melalui penggunaan struktur kayu dengan elemen abstrak. Warna-warna seperti cokelat, merah, oranye, dan putih menciptakan kesan tekstur yang kaya, yang mungkin merepresentasikan lapisan sejarah atau Budaya sesuai pemahaman perupanya.

Ia, melibatkan eksplorasi media yang tidak konvensional (kubus kayu di belakang kanvas) dalam karya ini. Penggunaan kayu sebagai media utama menunjukkan pendekatan yang menggabungkan elemen alami dengan seni abstrak. Hal ini mencerminkan tren dalam seni kontemporer yang sering kali memadukan bahan tradisional dengan teknik modern.

Detail karya “Artefak” Galung Wiratmaja yang dipamerkan bertajuk “Metastomata: Metamorphosis Manifesto Galang Kangin” di Neka Art Museum, Ubud | Foto: Ist

Jika kita hendak mempergunakan pendekatan semiotika, karya seni dipahami sebagai sistem tanda. Elemen visual seperti warna cokelat, merah, oranye, dan putih dalam karya ini dapat dianggap sebagai “penanda” yang mengacu pada lapisan sejarah atau budaya. Kayu sebagai media yang membentuk kubus di belakang lukisan, mungkin menjadi “petanda” yang merepresentasikan hubungan sang perupa dengan hasil alam.

Memang, semiotika menekankan bahwa makna karya seni tidak hanya berasal dari seniman, tetapi juga dari interpretasi audiens. Judul Artefak ini mengundang audiens untuk merenungkan apa yang dianggap sebagai artefak dalam konteks budaya modern.

Pendekatan yang di sampaikannya, benar-benar menggambarkan kedalaman seni sebagai medium eksplorasi ruang, emosi, dan spiritualitas. Penekanan pada elemen non-fisik seperti ekspresi, emosi, dan spirit memberikan dimensi yang sangat penting dalam karya seni.

Ini, memungkinkan audiens untuk terhubung dengan energi alam dan imaji bawah sadar. Ide bahwa alam menjadi titik tolak kreatifitas, di mana realitas spiritual menjadi latar belakang, adalah sebuah konsep yang kuat—memposisikan seni sebagai sarana untuk menyadari kekuatan dan siklus alamiah, serta dampak disharmoni.

Karakteristik karya rupa abstrak Galung ini,  didominasi warna merah, oranye, dan cokelat.. Melihat elemen-elemen visual seperti warna, tekstur, dan komposisi – karya-karya ini menunjukkan penggunaan tekstur yang kaya dan teknik layering yang menciptakan kedalaman serta dinamika.

Warna-warna hangat memberikan kesan energi dan intensitas. Galung tampak mencurahkan emosi atau pengalaman pribadinya, yang diterjemahkan melalui pola-pola abstrak dan warna yang kuat. Apakah ini mencerminkan muatan tradisi atau simbolisme lokal ?? Nah ini menarik untuk didiskusikan dengan perupanya.

Secara visual, pemanfaatan ruang yang bersifat eksploratif dapat mengacu pada teori spatial aesthetics, di mana hubungan antara objek seni dan ruang sekitarnya menciptakan makna baru. Ruang yang “melebar” atau “menonjol” mencerminkan upaya untuk melampaui batas konvensional, sehingga karya seni tidak hanya menawarkan estetika tetapi juga menjadi pengalaman yang interaktif dan reflektif.

Selain itu, melibatkan alam bawah sadar dan emosi dalam kekaryaan dapat dikaitkan dengan pendekatan psikologi seni, seperti yang dijelaskan oleh Carl Jung. Jung sering menghubungkan seni dengan simbolisme dan arketipe yang muncul dari alam bawah sadar. Ini dapat dianalisis melalui pendekatan psychoanalytic aesthetics.

Detail karya “Artefak” Galung Wiratmaja yang dipamerkan bertajuk “Metastomata: Metamorphosis Manifesto Galang Kangin” di Neka Art Museum, Ubud | Foto: Ist

Karya Galung ini, menggunakan simbol dan visual untuk memprovokasi respons emosional yang mendalam, yang menurut Freud dan Jung berasal dari interaksi antara kesadaran dan alam bawah sadar. Simbolisme dan eksplorasi bawah sadar dalam karya ini memberi dimensi spiritual yang memperkaya interpretasi seni. Begitulah menariknya karya Galung

Menurut saya, jika Galung Wiratmaja ingin terus mengembangkan proses kreatif ‘trimatra’ nya sesuai thema Metastomata yang merupakan metamorphosis Manifesto Galang Kangin – ada baiknya menyimak proses kreatif perupa Anselm Kiefer. Seniman Jerman ini sering menggunakan bahan-bahan seperti kayu, tanah, dan logam dalam karya-karyanya. Kiefer mengeksplorasi tema sejarah, budaya, dan memori melalui seni abstrak.

Dalam seluruh karyanya, Kiefer berargumen dengan masa lalu dan membahas isu-isu tabu dan kontroversial dari sejarah terkini. Tema-tema dari pemerintahan Nazi tercermin secara khusus dalam karyanya; misalnya, lukisan Margarete (cat minyak dan jerami di atas kanvas) terinspirasi oleh puisi terkenal Paul Celan yang berjudul  “Todesfuge” (“Death Fugue”). Kita semua tentu berharap, Semoga thema pameran ini benar-benar bisa menyentuh kesadaran Galung untuk terus me-metamorfosis-kan proses kreatifnya, tanpa henti, Astungkara. [T]

Penulis: Hartanto
Editor: Adnyana Ole

  • BACA JUGA
Selilit: Perlawanan Simbolik Ketut Putrayasa
Memorial Made Supena
METASTOMATA: Metamorphosis Manifesto Galang Kangin  di Neka Art Museum, Ubud
Sekilas Pentas “Kekecewaan” Wayan Jengki Sunarta : Narasi Tekstual ke Narasi Teaterikal
Tags: Galung WiratmajaKomunitas Galang KanginNeka Art MuseumPameran Seni RupaSeni Rupa
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Pura Semuhu: Ia yang Tak Pernah Meminta untuk Dipermanenkan

Next Post

Apakah Menulis Masih Relevan di Era Kecerdasan Buatan?

Hartanto

Hartanto

Pengamat seni, tinggal di mana-mana

Related Posts

Everything is Doing Something: Material yang Membawa Ingatan

by Made Chandra
June 2, 2026
0
Everything is Doing Something: Material yang Membawa Ingatan

Persepsi apa yang tertinggal pada sebuah kayu yang telah menjadikannya arang? Kerapuhan? Ketidakutuhan? Atau justru kesan hitam yang solid? Begitu...

Read moreDetails

Pameran ‘Roots & Routes’: Refleksi Tentang Identitas, Ingatan dan Perjalanan Hidup

by I Gede Made Surya Darma
May 7, 2026
0
Pameran ‘Roots & Routes’: Refleksi Tentang Identitas, Ingatan dan Perjalanan Hidup

DI tengah geliat seni rupa kontemporer yang semakin cair dan lintas disiplin, pameran “Roots & Routes” yang berlangsung di Biji...

Read moreDetails

Refracted — Perspektif yang Menolak Keutuhan

by Made Chandra
May 4, 2026
0
Refracted — Perspektif yang Menolak Keutuhan

Artikel ini adalah catatan kuratorial pameran seni rupa “Refracted” pada 2 Mei 2026 di Ruang Arta Derau, Tegallalang. Tak pernah...

Read moreDetails

Kenapa sih Harus Solo Exhibition?

by Made Chandra
April 14, 2026
0
Kenapa sih Harus Solo Exhibition?

HARI itu rasanya begitu spesial, hari dimana buku-buku tersusun bertumpuk untuk dirayakan kehadirannya. Semerebak wangi dupa menyeruak sampai menyentil dalam-dalam...

Read moreDetails

Apa yang ‘Ada’ dalam Sebuah Lukisan? —Membaca ‘Aurora Blue’ dan ‘Red Blossom’ Karya Wayan Kun Adnyana

by I Wayan Sujana Suklu
March 27, 2026
0
Apa yang ‘Ada’ dalam Sebuah Lukisan?  —Membaca ‘Aurora Blue’ dan ‘Red Blossom’ Karya Wayan Kun Adnyana

Membaca Aurora Blue dan Red Blossom karya Wayan Kun Adnyana, pameran Parama Paraga Retrospective of Biographical Metaphoric Figure to New...

Read moreDetails

SAPA WARANG: Tubuh yang Terbakar di Batas Liminal

by I Wayan Sujana Suklu
March 24, 2026
0
SAPA WARANG: Tubuh yang Terbakar di Batas Liminal

Liminalitas sebagai Ambang Kosmologis LIMINALITAS, dalam pengertian paling mendasar, bukan sekadar fase peralihan, melainkan kondisi ontologis di mana batas-batas eksistensi...

Read moreDetails

Retakan, Api, dan Cara Melihat Diri Sendiri — Membaca Ogoh-ogoh ‘Sapa Warang’ Karya Marmar Herayukti

by Agung Bawantara
March 23, 2026
0
Retakan, Api, dan Cara Melihat Diri Sendiri — Membaca Ogoh-ogoh ‘Sapa Warang’ Karya Marmar Herayukti

Di tengah hiruk-pikuk malam pengerupukan, sehari menjelang Hari Raya Nyepi Tahun Baru Çaka 1948, ketika ogoh-ogoh diarak dalam gegap gempita, sosok...

Read moreDetails

Maestro Tjokot, Gus Tilem, dan Gus Nyana Pulang ke Tugu Mayang Ubud

by Agung Bawantara
March 17, 2026
0
Maestro Tjokot, Gus Tilem, dan Gus Nyana Pulang ke Tugu Mayang Ubud

Karya ogoh-ogoh berjudul “Tugu Mayang” dari ST. Pandawa Banjar Tarukan, Desa Adat Mas, Ubud, Gianyar, menguatkan sebuah kecenderungan estetika yang...

Read moreDetails

Gerabah dan Manusia yang Berubah

by Mas Ruscitadewi
March 7, 2026
0
Gerabah dan Manusia yang Berubah

Dalam pameran Bali Bhuwana Rupa oleh ISI Denpasar di ARMA Museum Ubud, yang bertajuk ' Adhi Jnana Astam (Mastery-Mind-Marvel), banyak...

Read moreDetails

SENI EKOLOGIS —Dari Orasi Ilmiah I Wayan Setem

by Hartanto
February 24, 2026
0
SENI EKOLOGIS —Dari Orasi Ilmiah I Wayan Setem

BENCANA banjir bandang di Aceh, Sumatra Utara, Sumatra Barat dan beberapa daerah di Indonesia – menurut saya, bukanlah sekedar bencana...

Read moreDetails
Next Post
Refleksi Semangat Juang Bung Tomo dan Kepemimpinan Masa Kini

Apakah Menulis Masih Relevan di Era Kecerdasan Buatan?

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Pandemi, Hukum Rta, dan Keimanan Saya

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cinta dan Penyesalan | Cerpen Dede Putra Wiguna

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Dunia Tidak Berutang Bentuk pada Harapanmu | Cerpen Wayan Gde Yudane
Cerpen

Dunia Tidak Berutang Bentuk pada Harapanmu | Cerpen Wayan Gde Yudane

JANU datang ke Bali dengan koper besar, tiga buku filsafat yang belum selesai dibaca, dan keyakinan yang jauh lebih besar...

by Wayan Gde Yudane
June 5, 2026
Puisi-puisi Ama Gaspar
Puisi

Puisi-puisi Ama Gaspar

Sajak Tentang Air IDari perut bumi, riwayat meambat di selasar masa;menjelma buih, pecik, riak, arus, dan air. Dari kulit tanah,...

by Ama Gaspar
June 5, 2026
Catatan dari Ruang Bimtek Revitalisasi SMK: Ketika Gedung Diperbarui
Khas

Catatan dari Ruang Bimtek Revitalisasi SMK: Ketika Gedung Diperbarui

ADA sebuah ungkapan lama yang mengatakan bahwa sekolah adalah jendela masa depan. Masalahnya, kalau jendelanya sudah kusam, atapnya bocor, laboratoriumnya...

by I Wayan Yudana
June 5, 2026
‘Madedari’ Karya Putu Ayu Kartika Dewi: Menafsir Jejak ‘Dedari’ dalam Tari Kreasi yang Kontemplatif
Panggung

‘Madedari’ Karya Putu Ayu Kartika Dewi: Menafsir Jejak ‘Dedari’ dalam Tari Kreasi yang Kontemplatif

CAHAYA panggung perlahan meredup. Alunan musik mengalir lembut, mengisi ruang Wantilan Pura Puseh Desa Adat Batuan, Gianyar, yang malam itu...

by Dede Putra Wiguna
June 5, 2026
Catatan dari SMA Negeri 2 Kuta Utara: Guru Membaca Buku
Esai

Catatan dari SMA Negeri 2 Kuta Utara: Guru Membaca Buku

Di tengah gempuran media sosial,  kembali kepada buku kertas adalah penting untuk dipikirkan ulang. Apakah pengetahuan-pengetahuan di media sosial itu...

by I Wayan Artika
June 5, 2026
‘Samagama’, Tabuh Kreasi Inovatif dari Gung Lanang yang Menyuarakan Semangat Tradisi Ngusaba Desa di Menanga, Karangasem
Panggung

‘Samagama’, Tabuh Kreasi Inovatif dari Gung Lanang yang Menyuarakan Semangat Tradisi Ngusaba Desa di Menanga, Karangasem

SUASANA Wantilan Pura Puseh Desa Adat Batuan, Gianyar, malam itu terasa berbeda ketika denting pertama gamelan Selonding mulai mengalun dari...

by Dede Putra Wiguna
June 5, 2026
Roger Penrose dan Misteri Kesadaran Semesta
Esai

Roger Penrose dan Misteri Kesadaran Semesta

Matematikawan yang Menolak Realitas Sekadar Mesin Roger Penrose bukan sekadar fisikawan biasa. Ia adalah salah satu ilmuwan yang berani melampaui...

by Agung Sudarsa
June 5, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Menonton Pemimpin yang ‘Adigang, Adigung, Adiguna’

GAMBARAN sosok pemimpin dari masa ke masa selalu berubah seiring dengan dinamika masyarakatnya. Dahulu kala, pemimpin di Indonesia sarat dengan...

by Chusmeru
June 5, 2026
‘Nalaskara’, Menafsir Nyala Siat Geni dalam Gerak yang Dinamis dan Penuh Semangat
Panggung

‘Nalaskara’, Menafsir Nyala Siat Geni dalam Gerak yang Dinamis dan Penuh Semangat

SOROT lampu panggung perlahan menghangatkan Wantilan Pura Puseh Desa Adat Batuan, Gianyar, Sabtu malam, 30 Mei 2026. Setelah denting gamelan...

by Dede Putra Wiguna
June 4, 2026
Cukup Telulas?
Bahasa

Cukup Telulas?

BISA jadi telanjur terbentuk stigma tiga belas identik dengan celaka, sial, dan segala bentuk ketidakberuntungan maka sangat penting diupayakan menghindari...

by Komang Berata
June 4, 2026
Sekaa Teruna: Menjaga Tradisi, Mencetak Pemimpin
Esai

Sekaa Teruna: Menjaga Tradisi, Mencetak Pemimpin

DI tengah arus globalisasi dan perkembangan teknologi yang berlangsung begitu cepat, generasi muda Bali menghadapi tantangan yang tidak sederhana. Mereka...

by Kadek Agus Yoga Dwipranata
June 4, 2026
Korespondensi, Masihkah Diajarkan di Sekolah Kini?
Esai

Korespondensi, Masihkah Diajarkan di Sekolah Kini?

SIANG hari beberapa waktu lalu saat pulang kampung, saya membuka sebuah kotak lama berisi tumpukan surat. Kertas-kertas itu mulai menguning....

by Angga Wijaya
June 4, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co