5 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Trimatra Galung Wiratmaja

Hartanto by Hartanto
April 25, 2025
in Ulas Rupa
Trimatra Galung Wiratmaja

Karya Galung Wiratmaja yang dipamerkan bertajuk “Metastomata: Metamorphosis Manifesto Galang Kangin” di Neka Art Museum, Ubud | Foto: Ist

MENDENGAR kata artefak, maka ingatan kita akan menuju ke arkeolog atau antropolog. Pasalnya, Artefak biasanya merujuk pada benda atau hasil karya yang dibuat oleh manusia, terutama yang memiliki nilai sejarah, budaya, arkeologi atau antropologi. Contohnya bisa berupa perhiasan kuno, alat-alat batu dari zaman prasejarah, manuskrip, atau bahkan bangunan tua. Artefak memberikan kita wawasan tentang kehidupan, teknologi, dan kebudayaan di masa lampau.

Menurut para ahli, artefak adalah objek buatan manusia atau perilakunya yang memiliki nilai historis, budaya, atau seni. National Geographic mendefinisikan artefak mencakup seni, alat, dan pakaian yang dibuat oleh manusia dari waktu dan tempat tertentu. Artefak juga bisa berupa benda seni maupun sisa-sisa benda seperti pecahan tembikar atau barang pecah belah.

Tak jauh berbeda dengan pendapat Science Daily, sebuah laman web dari Amerika yang banyak menerbitkan bidang sains secara churnalism. Menurut SD, artefak adalah benda yang dibuat atau dimodifikasi oleh budaya manusia, sering kali ditemukan melalui upaya arkeologis. Contohnya termasuk alat-alat batu, benda seni, bejana tembikar, atau benda logam seperti senjata dan perhiasan.

Koentjaraningrat, seorang antropolog terkemuka Indonesia, memiliki pandangan yang mendalam tentang artefak dalam konteks kebudayaan. Menyimak dari bukunya “Manusia dan Kebudayaan di Indonesia”,  (1988). Beliau membagi kebudayaan 3 wujud utama, yakni : Ide, Aktivitas, dan Artefak.

Menurut Koentjaraningrat, Artefak,  mencakup semua benda yang dihasilkan oleh manusia untuk memenuhi kebutuhan hidupnya, seperti alat-alat, pakaian, rumah, dan karya seni. Artefak ini tidak hanya memiliki nilai estetika tetapi juga nilai historis dan budaya.

Pendekatan Koentjaraningrat ini membantu kita memahami kebudayaan secara holistik, di mana artefak menjadi salah satu elemen penting dalam merekonstruksi kehidupan manusia di masa lalu. Dan upaya ‘revitalisasi’ dimasa kini, sebab artefak sering kali menjadi sumber utama dalam studi antropologi budaya, karena mereka memberikan wawasan tentang bagaimana manusia berinteraksi dengan lingkungan mereka dan bagaimana budaya berkembang dari dulu, kini, dan nanti.

Bincang soal artefak, ingatan saya tertuju pada karya Galung Wiratmaja yang di gelar di pameran “Metastomata : Metamorphosis Manifesto Galang Kangin”. Perhelatan tersebut digelar di Neka Art Museum, Ubud – 18 april hingga 18 Mei 2025.

Karya Galung Wiratmaja yang dipamerkan bertajuk “Metastomata: Metamorphosis Manifesto Galang Kangin” di Neka Art Museum, Ubud | Foto: Ist

Pada pameran itu, Galung mengusung konsep pada karyarupanya yang bertajuk “artefak”. Menurut interpretasi saya, ini merupakan refleksi ‘pembekuan’ dari ‘rangkaian proses. Ia, seakan menangkap esensi waktu yang berhenti sejenak, merangkum perjalanan yang bersifat fisik, nonfisik, hingga spiritual dan ekspresi kreatif yang kaya.

Selanjutnya, saya jadi ingat Margaret Mead, seorang antropolog budaya terkenal asal Amerika Serikat yang banyak berkontribusi dalam studi tentang hubungan antara kepribadian dan budaya. Ia dikenal karena penelitiannya di kawasan Polinesia, khususnya melalui buku “Coming of Age in Samoa” yang diterbitkan pada tahun 1928.

Dalam buku ini, Mead mengeksplorasi bagaimana budaya memengaruhi perkembangan remaja, dengan fokus pada perbedaan antara masyarakat Samoa dan masyarakat Barat. Penelitian-penelitian Mead sering kali memicu perdebatan, terutama karena pandangannya yang inovatif, dan terkadang kontroversial.

Di Bali, Margaret Mead pernah menulis buku Balinese Character: A Photographic Analysis ini karyanya bersama Gregory Bateson. Buku ini dapat dikaitkan dengan artefak, meskipun fokus utamanya adalah pada analisis budaya dan perilaku masyarakat Bali melalui fotografi. Buku setebal 277 halaman ini diterbitkan New York Academy of Sciences 1942.

Yang menarik dari buku ini, menggunakan lebih dari 700 foto untuk mendokumentasikan berbagai aspek kehidupan masyarakat Bali, seperti ritual, seni, dan interaksi sosial. Foto-foto tersebut dapat dianggap sebagai “artefak visual” yang merekam budaya Bali pada masa itu.

Buku yang berdasarkan pada penelitian mereka di Bali antara tahun 1936 dan 1939 ini juga mencakup deskripsi tentang benda-benda yang digunakan dalam kehidupan sehari-hari dan upacara adat, yang secara teknis dapat dianggap sebagai artefak budaya.

Dengan demikian, buku ini tidak hanya memberikan wawasan tentang karakter masyarakat Bali, tetapi juga tentang artefak yang menjadi bagian dari kehidupan mereka. Karya Margaret Mead dan Gregory Bateson ini merupakan salah satu karya penting dalam antropologi visual, sebab menggabungkan pendekatan fotografi dengan analisis ilmiah.

Menariknya, pada buku ini Mead dan Bateson menggunakan foto sebagai alat untuk menganalisis pola perilaku dan struktur sosial masyarakat Bali. Mereka juga mencatat bagaimana budaya Bali membentuk kepribadian individu, termasuk melalui ritual dan interaksi sosial.

Salah satu fokus utama adalah pada konsep “trance” dalam budaya Bali, yang mereka anggap sebagai ekspresi penting dari karakter budaya Bali. Selain itu, mereka juga memperkenalkan konsep “ethos budaya,” yang menggambarkan bagaimana emosi dan perilaku individu diatur oleh norma budaya.

Buku Balinese Character: A Photographic Analysis ini sangat dihargai di kalangan ilmuwan dunia. Tapi, mohon maaf yang sebesar-besarnya – perkenankan saya mengkritisi karya akbar ini. Menurut subyektifitas saya,  pendekatan Mead dan Bateson mungkin terlalu subjektif, terutama dalam interpretasi mereka tentang budaya Bali.

Sepertinya, masih menurut saya, analisis melalui poto saja, tidaklah cukup. Kendati demikian, sumbangan mereka pada dunia keilmuan luar biasa memang. Dan tetap menjadi referensi penting dalam studi antropologi dan budaya visual. Kita harapkan juga, ke depannya karya visual bli Galung juga bisa memberi kontribusi ke dunia keilmuan.

Detail karya “Artefak” Galung Wiratmaja yang dipamerkan bertajuk “Metastomata: Metamorphosis Manifesto Galang Kangin” di Neka Art Museum, Ubud | Foto: Ist

Kembali ke karyarupa Galung, objek kubus pada permukaan bertekstur di belakang kanvas, berpadu karya abstrak dengan warna-warna hangat, memberikan kesan mendalam tentang perpaduan antara yang material dan yang imaterial. Sepertinya, Galung berupaya menggali refleksinya tentang energi alam dan eksplorasi ruang.

Tampak, Galung mengeksplorasi hubungan antara tradisi dan modernitas melalui penggunaan struktur kayu dengan elemen abstrak. Warna-warna seperti cokelat, merah, oranye, dan putih menciptakan kesan tekstur yang kaya, yang mungkin merepresentasikan lapisan sejarah atau Budaya sesuai pemahaman perupanya.

Ia, melibatkan eksplorasi media yang tidak konvensional (kubus kayu di belakang kanvas) dalam karya ini. Penggunaan kayu sebagai media utama menunjukkan pendekatan yang menggabungkan elemen alami dengan seni abstrak. Hal ini mencerminkan tren dalam seni kontemporer yang sering kali memadukan bahan tradisional dengan teknik modern.

Detail karya “Artefak” Galung Wiratmaja yang dipamerkan bertajuk “Metastomata: Metamorphosis Manifesto Galang Kangin” di Neka Art Museum, Ubud | Foto: Ist

Jika kita hendak mempergunakan pendekatan semiotika, karya seni dipahami sebagai sistem tanda. Elemen visual seperti warna cokelat, merah, oranye, dan putih dalam karya ini dapat dianggap sebagai “penanda” yang mengacu pada lapisan sejarah atau budaya. Kayu sebagai media yang membentuk kubus di belakang lukisan, mungkin menjadi “petanda” yang merepresentasikan hubungan sang perupa dengan hasil alam.

Memang, semiotika menekankan bahwa makna karya seni tidak hanya berasal dari seniman, tetapi juga dari interpretasi audiens. Judul Artefak ini mengundang audiens untuk merenungkan apa yang dianggap sebagai artefak dalam konteks budaya modern.

Pendekatan yang di sampaikannya, benar-benar menggambarkan kedalaman seni sebagai medium eksplorasi ruang, emosi, dan spiritualitas. Penekanan pada elemen non-fisik seperti ekspresi, emosi, dan spirit memberikan dimensi yang sangat penting dalam karya seni.

Ini, memungkinkan audiens untuk terhubung dengan energi alam dan imaji bawah sadar. Ide bahwa alam menjadi titik tolak kreatifitas, di mana realitas spiritual menjadi latar belakang, adalah sebuah konsep yang kuat—memposisikan seni sebagai sarana untuk menyadari kekuatan dan siklus alamiah, serta dampak disharmoni.

Karakteristik karya rupa abstrak Galung ini,  didominasi warna merah, oranye, dan cokelat.. Melihat elemen-elemen visual seperti warna, tekstur, dan komposisi – karya-karya ini menunjukkan penggunaan tekstur yang kaya dan teknik layering yang menciptakan kedalaman serta dinamika.

Warna-warna hangat memberikan kesan energi dan intensitas. Galung tampak mencurahkan emosi atau pengalaman pribadinya, yang diterjemahkan melalui pola-pola abstrak dan warna yang kuat. Apakah ini mencerminkan muatan tradisi atau simbolisme lokal ?? Nah ini menarik untuk didiskusikan dengan perupanya.

Secara visual, pemanfaatan ruang yang bersifat eksploratif dapat mengacu pada teori spatial aesthetics, di mana hubungan antara objek seni dan ruang sekitarnya menciptakan makna baru. Ruang yang “melebar” atau “menonjol” mencerminkan upaya untuk melampaui batas konvensional, sehingga karya seni tidak hanya menawarkan estetika tetapi juga menjadi pengalaman yang interaktif dan reflektif.

Selain itu, melibatkan alam bawah sadar dan emosi dalam kekaryaan dapat dikaitkan dengan pendekatan psikologi seni, seperti yang dijelaskan oleh Carl Jung. Jung sering menghubungkan seni dengan simbolisme dan arketipe yang muncul dari alam bawah sadar. Ini dapat dianalisis melalui pendekatan psychoanalytic aesthetics.

Detail karya “Artefak” Galung Wiratmaja yang dipamerkan bertajuk “Metastomata: Metamorphosis Manifesto Galang Kangin” di Neka Art Museum, Ubud | Foto: Ist

Karya Galung ini, menggunakan simbol dan visual untuk memprovokasi respons emosional yang mendalam, yang menurut Freud dan Jung berasal dari interaksi antara kesadaran dan alam bawah sadar. Simbolisme dan eksplorasi bawah sadar dalam karya ini memberi dimensi spiritual yang memperkaya interpretasi seni. Begitulah menariknya karya Galung

Menurut saya, jika Galung Wiratmaja ingin terus mengembangkan proses kreatif ‘trimatra’ nya sesuai thema Metastomata yang merupakan metamorphosis Manifesto Galang Kangin – ada baiknya menyimak proses kreatif perupa Anselm Kiefer. Seniman Jerman ini sering menggunakan bahan-bahan seperti kayu, tanah, dan logam dalam karya-karyanya. Kiefer mengeksplorasi tema sejarah, budaya, dan memori melalui seni abstrak.

Dalam seluruh karyanya, Kiefer berargumen dengan masa lalu dan membahas isu-isu tabu dan kontroversial dari sejarah terkini. Tema-tema dari pemerintahan Nazi tercermin secara khusus dalam karyanya; misalnya, lukisan Margarete (cat minyak dan jerami di atas kanvas) terinspirasi oleh puisi terkenal Paul Celan yang berjudul  “Todesfuge” (“Death Fugue”). Kita semua tentu berharap, Semoga thema pameran ini benar-benar bisa menyentuh kesadaran Galung untuk terus me-metamorfosis-kan proses kreatifnya, tanpa henti, Astungkara. [T]

Penulis: Hartanto
Editor: Adnyana Ole

  • BACA JUGA
Selilit: Perlawanan Simbolik Ketut Putrayasa
Memorial Made Supena
METASTOMATA: Metamorphosis Manifesto Galang Kangin  di Neka Art Museum, Ubud
Sekilas Pentas “Kekecewaan” Wayan Jengki Sunarta : Narasi Tekstual ke Narasi Teaterikal
Tags: Galung WiratmajaKomunitas Galang KanginNeka Art MuseumPameran Seni RupaSeni Rupa
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Pura Semuhu: Ia yang Tak Pernah Meminta untuk Dipermanenkan

Next Post

Apakah Menulis Masih Relevan di Era Kecerdasan Buatan?

Hartanto

Hartanto

Pengamat seni, tinggal di mana-mana

Related Posts

Mantra Visual Made Wiradana

by Hartanto
August 2, 2026
0
Mantra Visual Made Wiradana

PADA tulisan kali ini, saya ingin "menekuni" karya Made Wiradana yang baru saja dipamerkan di Griya Santrian, Sanur, beberapa waktu...

Read moreDetails

SAMATRA: Membaca Isyarat-Isyarat Kecil dari Buki Gallery di Bumi Kinar Ubud

by Gustra Adnyana
July 31, 2026
0
SAMATRA: Membaca Isyarat-Isyarat Kecil dari Buki Gallery di Bumi Kinar Ubud

Di tepian aliran sungai Petanu, sebuah ruang seni baru tumbuh di tengah lanskap hijau Ubud. Buki Gallery di Bumi Kinar...

Read moreDetails

Ketika Semut Membangun Seorang Ratu—Membaca “Memayu Hayuning Bawana: Build the Queen” karya Dyan Brew

by Angga Wijaya
July 30, 2026
0
Ketika Semut Membangun Seorang Ratu—Membaca “Memayu Hayuning Bawana: Build the Queen” karya Dyan Brew

ADA perubahan yang menarik dalam lanskap seni kriya Indonesia dalam dua dekade terakhir. Jika dahulu kriya lebih sering dipahami sebagai...

Read moreDetails

Empat Jejak Abstraksi dan Figurasi Bali Kontemporer

by Hartanto
July 30, 2026
0
Empat Jejak Abstraksi dan Figurasi Bali Kontemporer

EMPAT karya dari empat pelukis Bali kontemporer yang turut berpartisipasi dalam Jogja Annual Art ke-11, yakni I Made Ruta, Ida...

Read moreDetails

Tanah yang Mengingat ——Membaca “Pataka Majapahit III” Karya Dr. Noor Sudiyati

by Angga Wijaya
July 28, 2026
0
Tanah yang Mengingat ——Membaca “Pataka Majapahit III” Karya Dr. Noor Sudiyati

TIDAK semua peninggalan masa lalu hadir sebagai bangunan megah atau artefak yang tersimpan di museum. Ada warisan yang jauh lebih...

Read moreDetails

Orkestra Warna Kun Adnyana

by Hartanto
July 25, 2026
0
Orkestra Warna Kun Adnyana

YOGYA Annual Art ke-11 tahun 2026 dengan tema Direction (Arah) ini, menurut saya, dibuka dengan sebuah kesadaran yang tajam: bahwa...

Read moreDetails

Semesta di Dalam Tanah Liat: Membaca Karya-Karya Keramik Dr. Dra. Ni Made Rai Sunarini, M.Si.

by Angga Wijaya
July 24, 2026
0
Semesta di Dalam Tanah Liat: Membaca Karya-Karya Keramik Dr. Dra. Ni Made Rai Sunarini, M.Si.

BARANGKALI kita terlalu sering memandang alam sebagai sesuatu yang berada di luar diri. Gunung adalah bentang yang dikunjungi ketika musim...

Read moreDetails

Musikal Visual Karya Wayan Sujana Suklu

by Hartanto
July 24, 2026
0
Musikal Visual Karya Wayan Sujana Suklu

Pameran Yogya Annual Art ke-11 yang mengambil tema Direction (Arah) digelar di Bale Banjar Sangkring, Nitiprayan No. 88, Ngestiharjo, Kasihan,...

Read moreDetails

Kosmologi Sulur Wayan Setem

by Hartanto
July 23, 2026
0
Kosmologi Sulur Wayan Setem

PAMERAN Yogya Annual Art #11 dengan tema Direction (Arah) sangatlah menarik. Sebab, pameran ini menghadirkan medan ‘refleksi’ yang unik, terutama...

Read moreDetails

Ketika Kebaya Menjadi Cara Membaca Bali —[Membaca “Sundari Rajata” Karya Ida Ayu Kade Sri Sukmadewi]

by Angga Wijaya
July 23, 2026
0
Ketika Kebaya Menjadi Cara Membaca Bali —[Membaca “Sundari Rajata” Karya Ida Ayu Kade Sri Sukmadewi]

JIKA seni memiliki kemampuan mengembalikan sesuatu yang biasa menjadi luar biasa, maka Sundari Rajata melakukannya melalui sebuah kebaya. Busana yang...

Read moreDetails
Next Post
Refleksi Semangat Juang Bung Tomo dan Kepemimpinan Masa Kini

Apakah Menulis Masih Relevan di Era Kecerdasan Buatan?

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Kemah Budaya  Ajang Penguatan SDM Bali Unggul  
Khas

Kemah Budaya  Ajang Penguatan SDM Bali Unggul  

SAYA bersyukur  menjadi Panyarikan Majelis Desa Adat (MDA) Kecamatan Kuta Selatan merangkap sebagai Kepala Sekolah yang membina  remaja SMA. Posisi...

by I Nyoman Tingkat
August 4, 2026
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU
Esai

NOL KILOMETER ̶S̶I̶N̶G̶A̶R̶A̶J̶A̶ BULELENG : Titik Start Berbenah, Bukan Sekadar Bersolek dan Beautifikasi

ADA banyak sambutan positif dan keceriaan di tengah peresmian tugu Nol Kilometer di depan Kantor Bupati Buleleng. Titik yang dibenahi...

by Sugi Lanus
August 4, 2026
Dwi Dvara: Antara Keagungan Ciptaan dan Hasrat Merusak dalam Diri Kita
Ulas Pentas

Dwi Dvara: Antara Keagungan Ciptaan dan Hasrat Merusak dalam Diri Kita

Di Ambang Dualitas Eksistensial Dalam ruang pertunjukan yang temaram, pendar cahaya proyektor perlahan menghidupkan bidang panggung. Karya pertunjukan bertajuk DWI...

by Dewa Made Ari Kurniawan
August 4, 2026
Kader Dilatih Manfaatkan Ekosistem Google untuk Sistem Pelaporan Digital Kesehatan Balita dan Lansia
Khas

Kader Dilatih Manfaatkan Ekosistem Google untuk Sistem Pelaporan Digital Kesehatan Balita dan Lansia

TIM Pengabdian kepada Masyarakat Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto, yang diketuai oleh Ashlikhatul Fuaddah, pada Sabtu, 25 Juli 2026 menyelenggarakan kegiatan...

by Ashlikhatul Fuaddah
August 4, 2026
SEBUT SAJA NAGA DALAM GELAP: Dunia Lain, Tan Lioe Ie, dan Cahaya Pink Floyd
Ulas Buku

SEBUT SAJA NAGA DALAM GELAP: Dunia Lain, Tan Lioe Ie, dan Cahaya Pink Floyd

Pengantar singkat: Buku puisi Soto Otak ODGJ, tidak pernah menjadi "isu besar" yang cukup menarik perhatian pembela hak asasi manusia,...

by IRZI
August 3, 2026
Presiden di Dalam Kepala Saya
Esai

Presiden di Dalam Kepala Saya

"Man is an animal suspended in webs of significance he himself has spun." Manusia adalah makhluk yang bergantung pada jejaring...

by Angga Wijaya
August 3, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Korupsi di Indonesia: Persekongkolan Antara Kuasa dan Modal

KORUPSI, sebagaimana narkoba dan terorisme bukanlah kejahatan tunggal. Selalu melibatkan orang lain. Korupsi adalah persekongkolan, perselingkuhan, jaringan, dan kongkalikong. Korupsi...

by Chusmeru
August 3, 2026
Menimbun Sunyi dengan Polusi Suara: Mengapa Teater Modern Bali Takut Diam
Kritik Seni

Menimbun Sunyi dengan Polusi Suara: Mengapa Teater Modern Bali Takut Diam

SALAH satu paradoks teater modern Bali hari ini adalah ketidakmampuannya mempercayai keheningan. Hampir setiap pertunjukan merasa perlu memenuhi panggung dengan...

by Wayan Gde Yudane
August 3, 2026
‘Another Brick in the Wall’ dan Krisis Hormat dalam Pendidikan Kontemporer
Ulas Musik

‘Another Brick in the Wall’ dan Krisis Hormat dalam Pendidikan Kontemporer

Pada tahun 1979, band rock progresif Inggris Pink Floyd merilis lagu “Another Brick in the Wall” (Part 2) dalam album...

by Ahmad Sihabudin
August 3, 2026
“Sinergi Air”, Ketika Cinta dan Seni Mengalir dalam Satu Pameran
Pameran

“Sinergi Air”, Ketika Cinta dan Seni Mengalir dalam Satu Pameran

DI sebuah galeri mungil yang tenang di kawasan Seminyak, langkah pengunjung melambat begitu memasuki ruang pamer. Dinding-dinding putih dipenuhi lukisan...

by Nyoman Budarsana
August 3, 2026
Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran
Tualang

Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran

SEBAGAIMANA Pura Ulun Swi pada umumnya, Pura Ulun Swi Jimbaran adalah Pura Subak dengan status Pura Kahyangan Jagat. Terkesan unik...

by I Nyoman Tingkat
August 2, 2026
Mantra Visual Made Wiradana
Ulas Rupa

Mantra Visual Made Wiradana

PADA tulisan kali ini, saya ingin "menekuni" karya Made Wiradana yang baru saja dipamerkan di Griya Santrian, Sanur, beberapa waktu...

by Hartanto
August 2, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co