4 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Apakah Menulis Masih Relevan di Era Kecerdasan Buatan?

Petrus Imam Prawoto Jati by Petrus Imam Prawoto Jati
April 25, 2025
in Esai
Refleksi Semangat Juang Bung Tomo dan Kepemimpinan Masa Kini

Petrus Imam Prawoto Jati

“Publish or perish”. Publikasikan atau binasa.Ungkapan ini mungkin sering kita dengar, terutama di kalangan akademisi atau para penulis. Namun, di era digital yang serba cepat dan dipenuhi dengan konten dalam bentuk visual, apakah prinsip ini masih relevan?

Jika dulu publikasi atau menulis menjadi penanda penting untuk eksistensi, apakah saat ini kita sedang menyaksikan kematian perlahan dari tradisi menulis? Dan yang lebih menarik lagi, jika teknologi seperti AI kini dapat menghasilkan tulisan dalam hitungan detik, apakah masih ada ruang bagi kemampuan menulis kita sebagai manusia?

Menulis Sebagai Alat Refleksi Manusia

Pada mulanya menulis bukan sekadar menghasilkan teks.  Menulis adalah proses berpikir, proses yang memungkinkan kita mengolah ide dan merefleksikan diri. Socrates pernah mengatakan, “Tulisan adalah bentuk peringatan agar kita tidak melupakan apa yang telah dipikirkan.” Ini menunjukkan bahwa menulis lebih dari sekadar ekspresi verbal, namun lebih lagi ini adalah sarana untuk menjaga kesinambungan pemikiran kita.

Jika AI memang bisa menulis, dan bagus pula, namun sejatinya mesin cerdas tetap tidak dapat mengalami kegelisahan atau pencarian makna yang membentuk tulisan sejati. Hal ini memang terdengar seperti mengenang romantisme kajayaan tulis menulis.

Bagaimana pun, penulis percaya, di tengah dominasi visual di era digital ini, kemampuan menulis masih memiliki tempat penting. Meski tak dapat dipungkiri lagi bahwa generasi muda lebih tertarik pada video singkat dan format visual, menulis akan mengajarkan kita untuk berpikir kritis dan menyusun argumen secara sistematis.

Neil Postman, dalam bukunya Amusing Ourselves to Death (1985), mengingatkan kita tentang pentingnya media yang memungkinkan orang untuk berpikir dalam konteks yang lebih mendalam, bukan hanya mengkonsumsi informasi yang disajikan secara instan. Seperti kata Postman, kegiatan menulis sebagai bentuk komunikasi yang terstruktur, tetap relevan karena memberikan waktu dan ruang untuk pemikiran mendalam, sesuatu yang mungkin tidak selalu bisa dicapai dalam konsumsi media visual yang serba cepat.

Peluang atau Ancaman?

Jika kita mencoba untuk optimis, kemunculan AI dalam dunia menulis membawa tantangan dan sekaligus peluang. Marshall McLuhan, seorang filsuf komunikasi, pernah berkata, “The medium is the message.” Maksudnya adalah bahwa alat atau teknologi yang kita gunakan untuk berkomunikasi memiliki dampak besar pada cara kita berpikir. Meski teori ini dipandang kurang lengkap namun masih inspiratif di era sekarang. Dalam hal ini, kecerdasan buatan memang bisa menjadi alat untuk mempercepat proses menulis dan mempermudah pembuatan teks, tetapi itu bukanlah pengganti bagi keterampilan berpikir yang mendalam.

AI, seperti ChatGPT misalnya, memang dapat menghasilkan teks yang tampaknya “manusiawi”, namun ia tidak memiliki pengalaman atau kesadaran yang melekat pada setiap kata yang ditulis. AI bekerja berdasarkan pola dan data yang ada, sementara menulis sejati melibatkan emosi, pemikiran reflektif, dan pengalaman hidup yang unik. Ini adalah perbedaan mendalam yang membedakan karya manusia dengan karya mesin.

Albert Einstein menyatakan, “Imagination is more important than knowledge,” yang mengingatkan kita bahwa kreativitas, bukan hanya pengetahuan, adalah elemen penting dalam menciptakan karya yang bermakna. AI bisa menulis, tetapi ia tidak bisa menciptakan dunia baru dari imajinasi, berdasarkan fakta, data, dan pengetahuan yang ada.

Generasi Muda dan Keterampilan Menulis

Di tengah perkembangan teknologi yang pesat, generasi muda kini rasa-rasanya berada di persimpangan antara dunia. Satu sisi yang semakin digital dan di sisi lain dunia yang masih memegang teguh keterampilan menulis sebagai bagian dari identitas intelektual. Ketergantungan pada teknologi dan AI dapat memudarkan kemampuan berpikir mendalam dan menulis reflektif, tentu saja.

Seperti yang dikatakan Nicholas Carr dalam The Shallows: What the Internet Is Doing to Our Brains (2010). Carr berargumen bahwa, “What the Net seems to be doing is chipping away my capacity for concentration and contemplation.” Ia menjelaskan bahwa paparan terus-menerus terhadap media digital, terutama yang cepat dan dangkal, mengurangi kemampuan otak untuk fokus dan berpikir mendalam.

Bagi generasi muda, menulis bukan hanya keterampilan praktis, tetapi juga sebuah sarana untuk mengasah pikiran dan menganalisis dunia sekitarnya. Jika kita membiarkan teknologi mengisi ruang ini tanpa adanya ketrampilan menulis yang mendalam, kita berisiko kehilangan kemampuan untuk berpikir secara merdeka.  Di era AI dan banjir informasi, kemampuan berpikir merdeka menjadi sangat penting. Mengapa demikian, karena tidak semua informasi yang melimpah itu benar atau relevan untuk kita.

Algoritma dan kecerdasan buatan sering menyajikan konten berdasarkan preferensi kita, bukan kebenaran objektif, sehingga berisiko memperkuat bias. Tanpa analisis yang mandiri, kita mudah terjebak dalam arus opini, hoaks, dan ketergantungan pada sistem otomatis. Pemikiran independen akan memungkinkan kita menyaring untuk informasi, mengambil keputusan bijak, dan tetap bertanggung jawab atas pilihan kita. Sebuah sikap yang krusial di tengah kompleksitas zaman.

Tantangan dan Keberanian untuk Bertahan

AI bukanlah musuh. Dalam dunia penulisan Ai adalah alat yang bisa memperkaya khasanah kita. Dengan memanfaatkan teknologi ini, kita bisa mengatasi hambatan teknis seperti grammar dan struktur yang kurang sempurna, namun manusia jugalah yang harus tetap mengendalikan proses kreatif. Meski ada konsekuensinya, seperti yang dikatakan Marshall McLuhan, “We shape our tools, and thereafter our tools shape us.” Kita sebagai pengguna teknologi, tetaplah harus memiliki tanggung jawab untuk memastikan bahwa teknologi tersebut digunakan untuk meningkatkan kualitas  tulisan dan bukan untuk menggantikannya.

Menulis, terutama di era digital ini, harus dilihat sebagai sebuah bentuk perlawanan terhadap dunia yang semakin cepat dan penuh dengan kebisingan. Menulis memungkinkan kita untuk melambat dan merenung, untuk mengingatkan kita pada esensi kemanusiaan kita yang tidak terikat oleh algoritma atau pola mesin. Ini adalah cara kita untuk bertahan dalam dunia yang terus berubah.

Setidaknya kita bisa tetap memegang kontrol seperti kata Viktor Frankl, dalam Man’s Search for Meaning (1946). Dia menulis, “When we are no longer able to change a situation, we are challenged to change ourselves.” Setidaknya dengan menulis, kita bisa mengubah cara kita mengalami dunia dan, pada gilirannya, mengubah dunia itu sendiri.

Menulis dalam Perspektif Manusia dan Komputer

Menulis di era AI adalah tantangan besar yang harus diterima. Kemampuan menulis tetap relevan dan penting, bahkan di dunia yang semakin didominasi oleh kecerdasan buatan. AI dapat mempercepat proses dan mengatasi masalah teknis, tetapi kreativitas, pemikiran mendalam, dan refleksi manusia tetap tidak dapat digantikan.

Menulis adalah, bagian dari identitas kita sebagai manusia, sebuah ruang untuk berpikir kritis, menggali ide pun imajinasi, dan membentuk dunia kita. Jadi, para pambaca yang budiman, dalam menghadapi perkembangan ini, tak pelak lagi kita harus tetap menjaga keseimbangan antara teknologi dan kemanusiaan, antara analisa cepat komputer dan kedalaman pikiran kita. Tabik. [T]

Penulis: Petrus Imam Prawoto Jati
Editor: Adnyana Ole

BACA artikel lain dari penulis PETRUS IMAM PRAWOTO JATI

Ogah Baca, Nyalakan Bom Waktu
Misteri Layar Lebar: Mengapa Film Horor Merajai Bioskop Indonesia?
Pembatasan Media Sosial Kebijakan Tepat, tetapi Bukan Satu-Satunya Solusi
Tags: kecerdasan buatanLiterasimenulis
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Trimatra Galung Wiratmaja

Next Post

Post-Therapy: Semua Orang Pernah Sakit dan Terluka

Petrus Imam Prawoto Jati

Petrus Imam Prawoto Jati

Dosen Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto, Jawa Tengah

Related Posts

Sebelum Dunia Merayakan Wayang, Bali Sudah Memuliakannya

by I Gusti Made Darma Putra
October 4, 2026
0
Maguru Kuping & Maguru Sastra: Proses Inkubasi Gagasan Menuju Pondasi Literasi yang Kokoh

ADA sesuatu yang sedikit menggelitik ketika kita berbicara tentang “Hari Wayang”. Seolah-olah wayang membutuhkan satu tanggal tertentu agar kita kembali...

Read moreDetails

Penyair Kelas Teri

by Arief Rahzen
October 4, 2026
0
Penyair Kelas Teri

AKU menyebut diriku penyair kelas teri. Sebutan ini muncul karena sadar posisi di samudera literasi yang begitu luas. Aku menulis...

Read moreDetails

Menara Gading di Pasar Kerja

by I Wayan Renaldi Bayu Permana
October 3, 2026
0
Menara Gading di Pasar Kerja

LULUSAN sarjana bertambah, pekerjaan yang sesuai tidak tumbuh dengan kecepatan sama. Lalu, apa sebenarnya yang kita harapkan dari universitas ketika...

Read moreDetails

Small Is Beautiful untuk Orang Bali

by Angga Wijaya
October 3, 2026
0
Small Is Beautiful untuk Orang Bali

BALI sedang menghadapi sebuah paradoks. Pulau ini semakin ramai, bangunannya semakin besar, investasinya semakin banyak, tetapi bagi sebagian orang Bali...

Read moreDetails

Rocky Gerung dan Godaan Kekuasaan

by Agung Sudarsa
October 3, 2026
0
Rocky Gerung dan Godaan Kekuasaan

ADA satu kalimat yang sejak lama saya pegang: sesuatu yang benar tidak cukup hanya diyakini; ia harus terbukti dan teruji...

Read moreDetails

Nasionalisme Rente Ideologi Para Koruptor

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 3, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SIDANG pembaca yang budiman, bisa jadi para koruptor itu justru lebih nasionalis daripada kita, rakyat biasa. Tapi jangan buru-buru tersinggung....

Read moreDetails

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
0
Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

Read moreDetails

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
0
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

Read moreDetails

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

Read moreDetails

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
0
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

Read moreDetails
Next Post
Telenovela

Post-Therapy: Semua Orang Pernah Sakit dan Terluka

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

“Ajewera”: Dimensi Determinisme yang Dirusak Sebagai Awal Kehancuran Bali
Opini

“Ajewera”: Dimensi Determinisme yang Dirusak Sebagai Awal Kehancuran Bali

AJEWERA pada dasarnya merupakan mekanisme kehati-hatian dalam memperlakukan pengetahuan, khususnya pengetahuan yang memiliki dimensi sakral, filosofis, dan esoteris. Dalam tradisi...

by IM Gede Nesa Saputra
October 4, 2026
Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?
Opini

Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

INDONESIA patut berbangga dengan jumlah perguruan tinggi kita yang terus bertambah di berbagai daerah, dan angka partisipasi kasar pendidikan tinggi...

by S. Bekti Istiyanto
October 4, 2026
Maguru Kuping & Maguru Sastra: Proses Inkubasi Gagasan Menuju Pondasi Literasi yang Kokoh
Esai

Sebelum Dunia Merayakan Wayang, Bali Sudah Memuliakannya

ADA sesuatu yang sedikit menggelitik ketika kita berbicara tentang “Hari Wayang”. Seolah-olah wayang membutuhkan satu tanggal tertentu agar kita kembali...

by I Gusti Made Darma Putra
October 4, 2026
Anatomi Kata ‘Dungu’ dalam Kamus Warganet Kekinian
Bahasa

Anatomi Kata ‘Dungu’ dalam Kamus Warganet Kekinian

DAHULU, kata dungu rasanya terlalu tabu dan kasar untuk diucapkan dalam percakapan sehari-hari. Namun, bahasa itu hidup, bergerak, dan selalu...

by I Made Sudiana
October 4, 2026
Penyair Kelas Teri
Esai

Penyair Kelas Teri

AKU menyebut diriku penyair kelas teri. Sebutan ini muncul karena sadar posisi di samudera literasi yang begitu luas. Aku menulis...

by Arief Rahzen
October 4, 2026
Monolog “Berpayung Waktu”, Merawat Perjuangan Maria Katarina Sumarsih
Panggung

Monolog “Berpayung Waktu”, Merawat Perjuangan Maria Katarina Sumarsih

IDEALTERNATIF akan menghadirkan pertunjukan monolog berjudul Berpayung Waktu pada Kamis, 8 Oktober 2026 pukul 20.00 WIB di Ngaos Art, Tasikmalaya,...

by tatkala
October 4, 2026
Menara Gading di Pasar Kerja
Esai

Menara Gading di Pasar Kerja

LULUSAN sarjana bertambah, pekerjaan yang sesuai tidak tumbuh dengan kecepatan sama. Lalu, apa sebenarnya yang kita harapkan dari universitas ketika...

by I Wayan Renaldi Bayu Permana
October 3, 2026
Persami Gugus VI Banjar Tanamkan Karakter Pramuka Sejak Sekolah Dasar
Pendidikan

Persami Gugus VI Banjar Tanamkan Karakter Pramuka Sejak Sekolah Dasar

SUASANA Lapangan Labuan Aji, Temukus, Banjar, tampak lebih ramai pada Sabtu (3/10/2026). Sejumlah siswa sekolah dasar datang membawa perlengkapan perkemahan....

by tatkala
October 3, 2026
Belajar Mengenal Teknik Prancis Lewat Chicken Ballotine Bersama Chef Simon Tailpied
Kuliner

Belajar Mengenal Teknik Prancis Lewat Chicken Ballotine Bersama Chef Simon Tailpied

MEMBUAT hidangan restoran tidak hanya soal mengikuti resep. Cara mempersiapkan bahan, mengolahnya dengan teknik yang tepat, hingga menyajikannya menjadi bagian...

by Rusdy Ulu
October 3, 2026
Small Is Beautiful untuk Orang Bali
Esai

Small Is Beautiful untuk Orang Bali

BALI sedang menghadapi sebuah paradoks. Pulau ini semakin ramai, bangunannya semakin besar, investasinya semakin banyak, tetapi bagi sebagian orang Bali...

by Angga Wijaya
October 3, 2026
Rocky Gerung dan Godaan Kekuasaan
Esai

Rocky Gerung dan Godaan Kekuasaan

ADA satu kalimat yang sejak lama saya pegang: sesuatu yang benar tidak cukup hanya diyakini; ia harus terbukti dan teruji...

by Agung Sudarsa
October 3, 2026
Mimpi Ibu Menjadi Manusia
Buku Tatkala

Mimpi Ibu Menjadi Manusia

Judul: Mimpi Ibu Menjadi Manusia Penerbit: PT Tatkala Sekala Media Penulis: Komang Astiari ISBN: Masih dalam proses Tebal: 90 halaman...

by Buku Tatkala
October 3, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co