25 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Apakah Menulis Masih Relevan di Era Kecerdasan Buatan?

Petrus Imam Prawoto Jati by Petrus Imam Prawoto Jati
April 25, 2025
in Esai
Refleksi Semangat Juang Bung Tomo dan Kepemimpinan Masa Kini

Petrus Imam Prawoto Jati

“Publish or perish”. Publikasikan atau binasa.Ungkapan ini mungkin sering kita dengar, terutama di kalangan akademisi atau para penulis. Namun, di era digital yang serba cepat dan dipenuhi dengan konten dalam bentuk visual, apakah prinsip ini masih relevan?

Jika dulu publikasi atau menulis menjadi penanda penting untuk eksistensi, apakah saat ini kita sedang menyaksikan kematian perlahan dari tradisi menulis? Dan yang lebih menarik lagi, jika teknologi seperti AI kini dapat menghasilkan tulisan dalam hitungan detik, apakah masih ada ruang bagi kemampuan menulis kita sebagai manusia?

Menulis Sebagai Alat Refleksi Manusia

Pada mulanya menulis bukan sekadar menghasilkan teks.  Menulis adalah proses berpikir, proses yang memungkinkan kita mengolah ide dan merefleksikan diri. Socrates pernah mengatakan, “Tulisan adalah bentuk peringatan agar kita tidak melupakan apa yang telah dipikirkan.” Ini menunjukkan bahwa menulis lebih dari sekadar ekspresi verbal, namun lebih lagi ini adalah sarana untuk menjaga kesinambungan pemikiran kita.

Jika AI memang bisa menulis, dan bagus pula, namun sejatinya mesin cerdas tetap tidak dapat mengalami kegelisahan atau pencarian makna yang membentuk tulisan sejati. Hal ini memang terdengar seperti mengenang romantisme kajayaan tulis menulis.

Bagaimana pun, penulis percaya, di tengah dominasi visual di era digital ini, kemampuan menulis masih memiliki tempat penting. Meski tak dapat dipungkiri lagi bahwa generasi muda lebih tertarik pada video singkat dan format visual, menulis akan mengajarkan kita untuk berpikir kritis dan menyusun argumen secara sistematis.

Neil Postman, dalam bukunya Amusing Ourselves to Death (1985), mengingatkan kita tentang pentingnya media yang memungkinkan orang untuk berpikir dalam konteks yang lebih mendalam, bukan hanya mengkonsumsi informasi yang disajikan secara instan. Seperti kata Postman, kegiatan menulis sebagai bentuk komunikasi yang terstruktur, tetap relevan karena memberikan waktu dan ruang untuk pemikiran mendalam, sesuatu yang mungkin tidak selalu bisa dicapai dalam konsumsi media visual yang serba cepat.

Peluang atau Ancaman?

Jika kita mencoba untuk optimis, kemunculan AI dalam dunia menulis membawa tantangan dan sekaligus peluang. Marshall McLuhan, seorang filsuf komunikasi, pernah berkata, “The medium is the message.” Maksudnya adalah bahwa alat atau teknologi yang kita gunakan untuk berkomunikasi memiliki dampak besar pada cara kita berpikir. Meski teori ini dipandang kurang lengkap namun masih inspiratif di era sekarang. Dalam hal ini, kecerdasan buatan memang bisa menjadi alat untuk mempercepat proses menulis dan mempermudah pembuatan teks, tetapi itu bukanlah pengganti bagi keterampilan berpikir yang mendalam.

AI, seperti ChatGPT misalnya, memang dapat menghasilkan teks yang tampaknya “manusiawi”, namun ia tidak memiliki pengalaman atau kesadaran yang melekat pada setiap kata yang ditulis. AI bekerja berdasarkan pola dan data yang ada, sementara menulis sejati melibatkan emosi, pemikiran reflektif, dan pengalaman hidup yang unik. Ini adalah perbedaan mendalam yang membedakan karya manusia dengan karya mesin.

Albert Einstein menyatakan, “Imagination is more important than knowledge,” yang mengingatkan kita bahwa kreativitas, bukan hanya pengetahuan, adalah elemen penting dalam menciptakan karya yang bermakna. AI bisa menulis, tetapi ia tidak bisa menciptakan dunia baru dari imajinasi, berdasarkan fakta, data, dan pengetahuan yang ada.

Generasi Muda dan Keterampilan Menulis

Di tengah perkembangan teknologi yang pesat, generasi muda kini rasa-rasanya berada di persimpangan antara dunia. Satu sisi yang semakin digital dan di sisi lain dunia yang masih memegang teguh keterampilan menulis sebagai bagian dari identitas intelektual. Ketergantungan pada teknologi dan AI dapat memudarkan kemampuan berpikir mendalam dan menulis reflektif, tentu saja.

Seperti yang dikatakan Nicholas Carr dalam The Shallows: What the Internet Is Doing to Our Brains (2010). Carr berargumen bahwa, “What the Net seems to be doing is chipping away my capacity for concentration and contemplation.” Ia menjelaskan bahwa paparan terus-menerus terhadap media digital, terutama yang cepat dan dangkal, mengurangi kemampuan otak untuk fokus dan berpikir mendalam.

Bagi generasi muda, menulis bukan hanya keterampilan praktis, tetapi juga sebuah sarana untuk mengasah pikiran dan menganalisis dunia sekitarnya. Jika kita membiarkan teknologi mengisi ruang ini tanpa adanya ketrampilan menulis yang mendalam, kita berisiko kehilangan kemampuan untuk berpikir secara merdeka.  Di era AI dan banjir informasi, kemampuan berpikir merdeka menjadi sangat penting. Mengapa demikian, karena tidak semua informasi yang melimpah itu benar atau relevan untuk kita.

Algoritma dan kecerdasan buatan sering menyajikan konten berdasarkan preferensi kita, bukan kebenaran objektif, sehingga berisiko memperkuat bias. Tanpa analisis yang mandiri, kita mudah terjebak dalam arus opini, hoaks, dan ketergantungan pada sistem otomatis. Pemikiran independen akan memungkinkan kita menyaring untuk informasi, mengambil keputusan bijak, dan tetap bertanggung jawab atas pilihan kita. Sebuah sikap yang krusial di tengah kompleksitas zaman.

Tantangan dan Keberanian untuk Bertahan

AI bukanlah musuh. Dalam dunia penulisan Ai adalah alat yang bisa memperkaya khasanah kita. Dengan memanfaatkan teknologi ini, kita bisa mengatasi hambatan teknis seperti grammar dan struktur yang kurang sempurna, namun manusia jugalah yang harus tetap mengendalikan proses kreatif. Meski ada konsekuensinya, seperti yang dikatakan Marshall McLuhan, “We shape our tools, and thereafter our tools shape us.” Kita sebagai pengguna teknologi, tetaplah harus memiliki tanggung jawab untuk memastikan bahwa teknologi tersebut digunakan untuk meningkatkan kualitas  tulisan dan bukan untuk menggantikannya.

Menulis, terutama di era digital ini, harus dilihat sebagai sebuah bentuk perlawanan terhadap dunia yang semakin cepat dan penuh dengan kebisingan. Menulis memungkinkan kita untuk melambat dan merenung, untuk mengingatkan kita pada esensi kemanusiaan kita yang tidak terikat oleh algoritma atau pola mesin. Ini adalah cara kita untuk bertahan dalam dunia yang terus berubah.

Setidaknya kita bisa tetap memegang kontrol seperti kata Viktor Frankl, dalam Man’s Search for Meaning (1946). Dia menulis, “When we are no longer able to change a situation, we are challenged to change ourselves.” Setidaknya dengan menulis, kita bisa mengubah cara kita mengalami dunia dan, pada gilirannya, mengubah dunia itu sendiri.

Menulis dalam Perspektif Manusia dan Komputer

Menulis di era AI adalah tantangan besar yang harus diterima. Kemampuan menulis tetap relevan dan penting, bahkan di dunia yang semakin didominasi oleh kecerdasan buatan. AI dapat mempercepat proses dan mengatasi masalah teknis, tetapi kreativitas, pemikiran mendalam, dan refleksi manusia tetap tidak dapat digantikan.

Menulis adalah, bagian dari identitas kita sebagai manusia, sebuah ruang untuk berpikir kritis, menggali ide pun imajinasi, dan membentuk dunia kita. Jadi, para pambaca yang budiman, dalam menghadapi perkembangan ini, tak pelak lagi kita harus tetap menjaga keseimbangan antara teknologi dan kemanusiaan, antara analisa cepat komputer dan kedalaman pikiran kita. Tabik. [T]

Penulis: Petrus Imam Prawoto Jati
Editor: Adnyana Ole

BACA artikel lain dari penulis PETRUS IMAM PRAWOTO JATI

Ogah Baca, Nyalakan Bom Waktu
Misteri Layar Lebar: Mengapa Film Horor Merajai Bioskop Indonesia?
Pembatasan Media Sosial Kebijakan Tepat, tetapi Bukan Satu-Satunya Solusi
Tags: kecerdasan buatanLiterasimenulis
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Trimatra Galung Wiratmaja

Next Post

Post-Therapy: Semua Orang Pernah Sakit dan Terluka

Petrus Imam Prawoto Jati

Petrus Imam Prawoto Jati

Dosen Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto, Jawa Tengah

Related Posts

Selamat Datang di Negara “Clickbait”

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 24, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SEPERTINYA sudah bukan lagi zamannya bertanya program mana yang paling bagus. Di negeri yang pandai menjual harapan, pertanyaan pertama justru...

Read moreDetails

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
0
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

Read moreDetails

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
0
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

Read moreDetails

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

Read moreDetails

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
0
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

Read moreDetails

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
0
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

Read moreDetails

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
0
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

Read moreDetails
Next Post
Telenovela

Post-Therapy: Semua Orang Pernah Sakit dan Terluka

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Menyulam Masa Depan Laut Lovina
Liputan Khusus

Menyulam Masa Depan Laut Lovina

PUKUL berapa pun laut memanggil, Edi Harianto tahu apa yang harus dilakukannya. Lelaki berusia 50 tahun itu sudah akrab dengan...

by Jaswanto
October 24, 2026
Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar
Pendidikan

Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar

NILAI rata-rata Tes Kemampuan Akademik (TKA) Matematika di SMP Negeri 14 Denpasar baru mencapai 41,31. Dari 307 peserta didik, sekitar...

by Dede Putra Wiguna
October 24, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Selamat Datang di Negara “Clickbait”

SEPERTINYA sudah bukan lagi zamannya bertanya program mana yang paling bagus. Di negeri yang pandai menjual harapan, pertanyaan pertama justru...

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 24, 2026
Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat
Pendidikan

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat

SEBANYAK 693 lulusan Institut Agama Hindu Negeri (IAHN) Mpu Kuturan Singaraja resmi menyelesaikan pendidikan mereka dalam Wisuda II yang berlangsung...

by Wahyu Mahaputra
October 23, 2026
Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium
Panggung

Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium

KETIKA gamelan Bali disandingkan dengan instrumen Barat seperti biola (strings), gitar, saxophone, keyboard, dan piano, hasilnya adalah sebuah komposisi simfoni...

by Nyoman Budarsana
October 23, 2026
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co