14 May 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Misteri Layar Lebar: Mengapa Film Horor Merajai Bioskop Indonesia?

Petrus Imam Prawoto Jati by Petrus Imam Prawoto Jati
January 26, 2025
in Esai
Misteri Layar Lebar: Mengapa Film Horor Merajai Bioskop Indonesia?

Poster-poster film horor populer | Foto: Google

BARU-BARU ini saya berencana mengajak keluarga untuk pergi nonton film di bioskop. Tapi naas bagi saya, dari 6 film yang ditawarkan hari itu lima film merupakan film horor, yang satu film drama romantis. Sebenarnya saya senang juga dengan film horor karena tidak asing bagi saya. Tapi tidak cocok untuk anak saya.

Hal ini membuat saya sedikit merenung, betapa film horor menjadi favorit di masyarakat kita. Memang, film horor telah lama menjadi raja takhta box office Indonesia. Deretan film seperti Pengabdi Setan, Sebelum Iblis Menjemput, hingga KKN di Desa Penari membuktikan bahwa genre ini bukan sekadar film untuk menghibur, tetapi sekaligus juga fenomena budaya, ekonomi, bahkan psikologi yang menarik untuk kita cermati.

Sebagai orang Indonesia pasti sering Anda mendengar kisah kuntilanak di sudut kampung, pocong di sekitar kantor, atau genderuwo yang suka menampakkan diri di pohon besar? Tradisi lisan bermuatan mistis seperti ini bukan hanya dongeng omong kosong, tetapi merupakan tak terpisahkan dari kesadaran kolektif masyarakat Indonesia. Jadi dalam hal ini, horor bukan sekadar genre namun lebih sebagai jendela untuk menyaksikan warisan budaya yang hidup di sekitar kita.

Nah, para produser film horor Indonesia dengan cerdik memanfaatkan elemen-elemen ini. Lokasi-lokasi yang angker, ritual mistis, dan makhluk gaib bukan sekadar gimmick, tetapi merupakan simbol yang meresap dalam kehidupan sehari-hari. Ketika penonton menyaksikan film seperti Pengabdi Setan, mereka tidak hanya menikmati ketegangan, tetapi juga merasa terhubung dengan sesuatu yang sangat akrab, sesuatu yang mungkin pernah mereka dengar dari nenek atau orang tua.

Biaya Produksi yang Bersahabat           

Sekarang, mari kita lihat dari kacamata bisnis secara rasional. Coba saja kita kira-kira secara kasar saja produksi film aksi Hollywood yang dipenuhi ledakan dahsyat, efek visual berbiaya tinggi, dan jajaran aktor papan atas dibandingkan dengan genre horor lokal. Film aksi memerlukan tim produksi yang besar, penggunaan teknologi canggih, serta lokasi syuting yang spektakuler. Sementara itu, film horor lokal sering kali cukup memanfaatkan lokasi sederhana, seperti rumah tua, hutan lebat, atau gang sepi, ditambah lagi tanpa harus mengandalkan aktor dengan bayaran miliaran rupiah.

Contoh paling mencolok adalah KKN di Desa Penari. Film ini secara teknis jauh dari istilah “mewah” karena tidak ada ledakan, CGI spektakuler, atau bintang besar yang gajinya bisa bikin anggaran bocor. Namun, apa yang terjadi ketika dilempar ke khalayak? Film ini sukses mencetak pendapatan ratusan miliar rupiah. Bagi para produser, genre horor tentu adalah tambang emas. Lihat saja dari modal produksi yang relatif kecil, risiko kerugian jauh lebih rendah dibanding genre lain, namun potensi keuntungannya bisa luar biasa.

Dalam perspektif bisnis, ini adalah kombinasi sempurna: investasi minimal dengan peluang Return On Investment yang luar biasa besar. Apakah genre lain mampu menawarkan skema serupa? Sudah pasti sulit. Film horor, dengan segala kesederhanaannya dan kengiritannya, telah membuktikan bahwa kreativitas dan keberanian mengambil risiko, bisa menumbangkan logika kapital besar. Dalam industri perfilman yang semakin kompetitif, genre horor adalah bukti bahwa terkadang yang sederhana justru yang paling efektif dan menguntungkan.

Katarsis dari Realitas yang Menekan

Mari kita akui bahwa hidup di masa sekarang makin tidak mudah. Tingginya tekanan akibat masalah ekonomi, pendidikan, dan hubungan sosial sering kali membuat banyak orang merasa terjebak dalam rutinitas yang berat. Hari makin terasa pendek dan orang merasa makin tidak punya waktu rileks.

 Film horor, dengan pengalaman intens dan mendebarkan yang ditawarkan, menjadi distraksi positif yang memberi jeda dari beban hidup. Sensasi yang ditawarkan film genre ini bisa membantu menciptakan suatu momen “melupakan dunia”, meskipun hanya selama dua jam di dalam bioskop. Setelahnya? Ada rasa lega yang tidak bisa dijelaskan, seolah ketakutan itu telah “dicabut” dari kenyataan.

Menonton film horor sesungguhnya bisa menjadi semacam terapi emosional.  Sejalan dengan yang Mathias Clasen ungkapkan tentang recreational fear dalam “Playing with Fear: A Field Study in Recreational Horror”, yang diterbitkan pada tahun 2020 dalam jurnal Psychological Science. Dalam kondisi tekanan sosial dan ekonomi yang sering melanda masyarakat Indonesia, menonton film horor menawarkan suatu pelarian yang aman.

Ketakutan yang dirasakan di bioskop sebenarnya adalah terapi emosional, yang memungkinkan kita melepaskan stres atau emosi terpendam tanpa menghadapi ancaman nyata. Melalui ketegangan yang dirasakan, penonton secara tidak sadar memproses emosi mereka, atau mungkin bahkan trauma yang tak terselesaikan.

Film Horor dan Media Sosial: Penghubung Emosi di Era Modern

Film horor bukan sekadar pengalaman individual, tapi bisa jadi bahan obrolan yang panas di berbagai platform media sosial. Reaksi seperti, “Gila, serem banget filmnya, Cok, sampai kebawa mimpi buruk!” atau “Sumpah, adegan itu bikin jantung gue hampir copot!” sering kali memenuhi kolom komentar, thread, dan story di Instagram, X, hingga TikTok. Media sosial kini tidak hanya menjadi tempat berbagi pengalaman, tetapi juga ruang untuk membentuk komunitas emosional.

Ketika seseorang memposting reaksi mereka setelah menonton suatu film horor, hal itu sering memicu diskusi yang lebih luas. Orang lain yang membaca dengan cepat ikut-ikutan berkomentar, berbagi ketakutan yang sama, atau bahkan sekadar mengirim meme lucu terkait adegan menyeramkan. Proses ini menciptakan keterhubungan di antara netizen yang tidak saling mengenal.

 Mereka merasa divalidasi ketika mengetahui bahwa ketakutan, adrenalin, dan bahkan mimpi buruk mereka dirasakan juga oleh banyak orang lain. Dalam masyarakat modern Indonesia, di mana interaksi online sering kita keluhkan mulai menggantikan percakapan tatap muka, ini menjadi salah satu cara paling efektif untuk membangun rasa kebersamaan.

Yang menarik, film horor juga bisa menjadi pemantik obrolan yang lebih dalam. Di tengah masyarakat yang masih cenderung tabu membicarakan kesehatan mental atau emosi negatif, genre ini membuka ruang diskusi dengan cara yang santai namun signifikan dan mendalam. Ketakutan yang ditampilkan dalam film sering kali menjadi cerminan dari kecemasan, trauma, atau bahkan ketakutan kolektif masyarakat.

Ketika orang-orang mendiskusikan rasa takut mereka dalam film, mereka secara tidak langsung berbicara tentang emosi mereka sendiri, meskipun dalam format yang ringan. Sepertinya ada sisi positif film horor, di tengah masyarakat digital seperti Indonesia, film horor menjadi lebih dari sekadar tontonan. Ia berubah menjadi pengalaman bersama, percakapan lintas platform, dan bahkan bentuk terapi emosional yang tidak disadari.  

Lebih dari Sekadar Hiburan

Film horor di Indonesia jelas lebih dari sekadar hiburan. Ia adalah cerminan budaya, pelarian emosional, dan bahkan alat untuk memproses trauma kolektif. Dalam konteks kesehatan mental, genre ini memberikan ruang untuk katarsis, distraksi, dan refleksi.

Tapi, di sisi lain, ada pertanyaan yang perlu kita renungkan bersama. Jika film horor begitu efektif membantu masyarakat mengolah emosi, apakah ini berarti ada masalah kesehatan mental yang lebih besar yang belum terjawab? Mengingat pula bahwa film horor begitu melimpah pilihannya di luar sana.

 Mungkin, saat kita menikmati ketakutan di layar, kita juga harus mulai mengintip kondisi kesehatan mental kita sendiri secara lebih serius. Tabik. [T]

Penulis: Petrus Imam Prawoto Jati
Editor: Adnyana Ole

BACA artikel lain dari penulis PETRUS IMAM PRAWOTO JATI

Hantu yang Selalu Perempuan dalam Film Indonesia dan 5 Film Horor yang Wajib Ditonton
Pemutaran Film “Death Knot”, Film Horor Tanpa Setan di BaliMakarya Film Festival 2022
Menonton Film Horor, Membayar Mahal untuk Menikmati Rasa Takut
Film Horor: Hantu Perempuan, Hukum, Agama, dan Hal-hal yang Berubah
Jika Film Horor Indonesia Seperti “Bokep” – Bukan Salah Setan!

Tags: filmfilm hororgaya hidup
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Satuan Pendidikan dan Pengelolaan Sampah

Next Post

Legu Juga Bisa Digugu

Petrus Imam Prawoto Jati

Petrus Imam Prawoto Jati

Dosen Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto, Jawa Tengah

Related Posts

Batas Sains, Kesombongan Epistemik, dan Jalan Holistik: Membaca Ulang Eddington

by Agung Sudarsa
May 14, 2026
0
Batas Sains, Kesombongan Epistemik, dan Jalan Holistik: Membaca Ulang Eddington

Ketika Sains Diposisikan sebagai Kebenaran Tunggal: Ilusi Kepastian Modern Dalam percakapan publik modern, sains sering ditempatkan sebagai otoritas tertinggi pengetahuan....

Read moreDetails

Etika dan Empati di Atas Panggung: Peran MC dalam Menjaga Marwah Acara

by Fitria Hani Aprina
May 13, 2026
0
“Parasocial Relationship”: Antara Hiburan, Pelarian Emosional, dan Strategi Komunikasi Bisnis di Era Digital

PERISTIWA viral pada lomba cerdas cermat MPR baru-baru ini menjadi refleksi penting mengenai urgensi profesionalisme seorang Master of Ceremony (MC)...

Read moreDetails

Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI

by Angga Wijaya
May 12, 2026
0
Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI

JAUH sebelum ada teknologi kecerdasan buatan (AI), sejak dulu saya menulis dengan banyak perbendaharaan kata. Salah satunya “sunyi”. Terlebih dalam...

Read moreDetails

Jebakan Kepercayaan Diri Digital: Mengapa Generasi Z Rentan di Hadapan AI

by Marina Rospitasari
May 12, 2026
0
“Aura Farming” Pacu Jalur: Kilau Viral, Makna Tergerus, Sebuah Analisis Budaya Digital

Marc Prensky, peneliti pendidikan Amerika yang memperkenalkan istilah digital natives pada 2001, menulis dengan penuh keyakinan. Ia berargumen bahwa anak-anak...

Read moreDetails

Eksistensi Suku Baduy di Era Digitalisasi dan ‘Artificial Intelligence’

by Asep Kurnia
May 11, 2026
0
Tugas Etnis Baduy: “Ngasuh Ratu Ngayak Menak”

SAAT penulis baca informasi tentang makhluk bernama Artificial Intelligence  (AI) terus terang sangat tercengang dan ngeri sekali, bagaimana mungkin manusia...

Read moreDetails

Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein

by Agung Sudarsa
May 11, 2026
0
Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein

Satyendra Nath Bose: Saintis Sunyi dari India Satyendra Nath Bose lahir di Kolkata, India, pada 1 Januari 1894, di tengah...

Read moreDetails

Gagal Itu Indah

by Agung Sudarsa
May 10, 2026
0
Gagal Itu Indah

Merekonstruksi Arti Sebuah Kegagalan DALAM kehidupan modern, kegagalan sering dipandang sebagai akhir dari perjalanan. Seseorang dianggap berhasil bila mencapai standar...

Read moreDetails

Ayah Menularkan Kebiasaan Membaca

by Angga Wijaya
May 10, 2026
0
Ayah Menularkan Kebiasaan Membaca

DI tanganku ada sebuah buku. Aku baru membacanya setelah membelinya dari toko buku daring sekitar seminggu lalu. Buku itu kubeli...

Read moreDetails

Pertama Kali Jadi Orang Tua  —Wajar Jika Tak Sempurna

by Putu Nata Kusuma
May 9, 2026
0
Pertama Kali Jadi Orang Tua  —Wajar Jika Tak Sempurna

SELALU ada hal-hal pertama dalam hidup kita. Hal-hal pertama yang memberi pengalaman berharga di masa depan nanti. Kali pertama bersepeda,...

Read moreDetails

BAKAR SAMPAH BERTENTANGAN DENGAN PRINSIP HINDU BALI

by Sugi Lanus
May 9, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

— Catatan Harian Sugi Lanus, 8 Mei 2026 Pemimpin umat atau pemimpin masyarakat yang membiarkan masyarakat membakar sampah secara terbuka...

Read moreDetails
Next Post
Legu Juga Bisa Digugu

Legu Juga Bisa Digugu

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Karena Tak Sabaran, Tika Pagraky Luncurkan Tiga Lagu Sekaligus dan Buka Cerita di Balik “Bli Made”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cinta dan Penyesalan | Cerpen Dede Putra Wiguna

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Nietzsche Tidak Membunuh Tuhan
Ulas Buku

Nietzsche Tidak Membunuh Tuhan

“Tuhan telah mati,” begitulah bunyi frasa yang dituliskan Nietzsche dalam Thus Spoke Zarathustra yang mencoba menyingkap kondisi sosial masyarakat saat...

by Heski Dewabrata
May 14, 2026
Batas Sains, Kesombongan Epistemik, dan Jalan Holistik: Membaca Ulang Eddington
Esai

Batas Sains, Kesombongan Epistemik, dan Jalan Holistik: Membaca Ulang Eddington

Ketika Sains Diposisikan sebagai Kebenaran Tunggal: Ilusi Kepastian Modern Dalam percakapan publik modern, sains sering ditempatkan sebagai otoritas tertinggi pengetahuan....

by Agung Sudarsa
May 14, 2026
Ubud Food Festival 2026: Jembatan Kolaborasi Khusus Kuliner, Ajang Petani Keren Berbicara
Panggung

Ubud Food Festival 2026: Jembatan Kolaborasi Khusus Kuliner, Ajang Petani Keren Berbicara

Ubud Food Festival ke-11 tinggal dua minggu mendatang, tepatnya pada 28 hingga 31 Mei 2026. Selama empat hari, ajang kuliner...

by Nyoman Budarsana
May 14, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Regulasi Baru, Antrean Baru: Permenkumham 49/2025 dan Ancaman bagi Iklim Investasi

TRANSFORMASI digital administrasi Perseroan Terbatas melalui Permenkumham Nomor 49 Tahun 2025 pada dasarnya merupakan langkah progresif negara dalam mewujudkan pelayanan...

by I Made Pria Dharsana
May 14, 2026
Tips Memilih Travel Malang Kediri dengan Harga Terjangkau
Pop

Tips Memilih Travel Malang Kediri dengan Harga Terjangkau

DALAM memilih jasa travel Malang Kediri memang tidak boleh asal-asalan karena ini akan berdampak langsung terhadap kenyamanan selama di perjalanan...

by tatkala
May 14, 2026
“Parasocial Relationship”: Antara Hiburan, Pelarian Emosional, dan Strategi Komunikasi Bisnis di Era Digital
Esai

Etika dan Empati di Atas Panggung: Peran MC dalam Menjaga Marwah Acara

PERISTIWA viral pada lomba cerdas cermat MPR baru-baru ini menjadi refleksi penting mengenai urgensi profesionalisme seorang Master of Ceremony (MC)...

by Fitria Hani Aprina
May 13, 2026
Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI
Esai

Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI

JAUH sebelum ada teknologi kecerdasan buatan (AI), sejak dulu saya menulis dengan banyak perbendaharaan kata. Salah satunya “sunyi”. Terlebih dalam...

by Angga Wijaya
May 12, 2026
“Aura Farming” Pacu Jalur: Kilau Viral, Makna Tergerus, Sebuah Analisis Budaya Digital
Esai

Jebakan Kepercayaan Diri Digital: Mengapa Generasi Z Rentan di Hadapan AI

Marc Prensky, peneliti pendidikan Amerika yang memperkenalkan istilah digital natives pada 2001, menulis dengan penuh keyakinan. Ia berargumen bahwa anak-anak...

by Marina Rospitasari
May 12, 2026
Pameran ‘Arka Umbara’ di TAT Art Space, Hasil Dari Perjalanan 14 Seniman Jongsarad Bali
Pameran

Pameran ‘Arka Umbara’ di TAT Art Space, Hasil Dari Perjalanan 14 Seniman Jongsarad Bali

Ini yang menarik dari Jongsarad Bali, kolektif seniman lintas bidang yang beranggotakan perupa, desainer, dan pembuat film. Setiap perjalanan mereka,...

by Nyoman Budarsana
May 11, 2026
Pengunjung PKB 2026 Jangan Bawa Makanan dan Minuman dari Luar Taman Budaya
Budaya

Pengunjung PKB 2026 Jangan Bawa Makanan dan Minuman dari Luar Taman Budaya

MENJAGA kebersihan dan mengelola sampah dengan disiplin menjadi kunci agar Pesta Kesenian Bali (PKB) tetap nyaman untuk dikunjungi. Kebersihan merupakan...

by Nyoman Budarsana
May 11, 2026
Tugas Etnis Baduy: “Ngasuh Ratu Ngayak Menak”
Esai

Eksistensi Suku Baduy di Era Digitalisasi dan ‘Artificial Intelligence’

SAAT penulis baca informasi tentang makhluk bernama Artificial Intelligence  (AI) terus terang sangat tercengang dan ngeri sekali, bagaimana mungkin manusia...

by Asep Kurnia
May 11, 2026
Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein
Esai

Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein

Satyendra Nath Bose: Saintis Sunyi dari India Satyendra Nath Bose lahir di Kolkata, India, pada 1 Januari 1894, di tengah...

by Agung Sudarsa
May 11, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co