2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Misteri Layar Lebar: Mengapa Film Horor Merajai Bioskop Indonesia?

Petrus Imam Prawoto Jati by Petrus Imam Prawoto Jati
January 26, 2025
in Esai
Misteri Layar Lebar: Mengapa Film Horor Merajai Bioskop Indonesia?

Poster-poster film horor populer | Foto: Google

BARU-BARU ini saya berencana mengajak keluarga untuk pergi nonton film di bioskop. Tapi naas bagi saya, dari 6 film yang ditawarkan hari itu lima film merupakan film horor, yang satu film drama romantis. Sebenarnya saya senang juga dengan film horor karena tidak asing bagi saya. Tapi tidak cocok untuk anak saya.

Hal ini membuat saya sedikit merenung, betapa film horor menjadi favorit di masyarakat kita. Memang, film horor telah lama menjadi raja takhta box office Indonesia. Deretan film seperti Pengabdi Setan, Sebelum Iblis Menjemput, hingga KKN di Desa Penari membuktikan bahwa genre ini bukan sekadar film untuk menghibur, tetapi sekaligus juga fenomena budaya, ekonomi, bahkan psikologi yang menarik untuk kita cermati.

Sebagai orang Indonesia pasti sering Anda mendengar kisah kuntilanak di sudut kampung, pocong di sekitar kantor, atau genderuwo yang suka menampakkan diri di pohon besar? Tradisi lisan bermuatan mistis seperti ini bukan hanya dongeng omong kosong, tetapi merupakan tak terpisahkan dari kesadaran kolektif masyarakat Indonesia. Jadi dalam hal ini, horor bukan sekadar genre namun lebih sebagai jendela untuk menyaksikan warisan budaya yang hidup di sekitar kita.

Nah, para produser film horor Indonesia dengan cerdik memanfaatkan elemen-elemen ini. Lokasi-lokasi yang angker, ritual mistis, dan makhluk gaib bukan sekadar gimmick, tetapi merupakan simbol yang meresap dalam kehidupan sehari-hari. Ketika penonton menyaksikan film seperti Pengabdi Setan, mereka tidak hanya menikmati ketegangan, tetapi juga merasa terhubung dengan sesuatu yang sangat akrab, sesuatu yang mungkin pernah mereka dengar dari nenek atau orang tua.

Biaya Produksi yang Bersahabat           

Sekarang, mari kita lihat dari kacamata bisnis secara rasional. Coba saja kita kira-kira secara kasar saja produksi film aksi Hollywood yang dipenuhi ledakan dahsyat, efek visual berbiaya tinggi, dan jajaran aktor papan atas dibandingkan dengan genre horor lokal. Film aksi memerlukan tim produksi yang besar, penggunaan teknologi canggih, serta lokasi syuting yang spektakuler. Sementara itu, film horor lokal sering kali cukup memanfaatkan lokasi sederhana, seperti rumah tua, hutan lebat, atau gang sepi, ditambah lagi tanpa harus mengandalkan aktor dengan bayaran miliaran rupiah.

Contoh paling mencolok adalah KKN di Desa Penari. Film ini secara teknis jauh dari istilah “mewah” karena tidak ada ledakan, CGI spektakuler, atau bintang besar yang gajinya bisa bikin anggaran bocor. Namun, apa yang terjadi ketika dilempar ke khalayak? Film ini sukses mencetak pendapatan ratusan miliar rupiah. Bagi para produser, genre horor tentu adalah tambang emas. Lihat saja dari modal produksi yang relatif kecil, risiko kerugian jauh lebih rendah dibanding genre lain, namun potensi keuntungannya bisa luar biasa.

Dalam perspektif bisnis, ini adalah kombinasi sempurna: investasi minimal dengan peluang Return On Investment yang luar biasa besar. Apakah genre lain mampu menawarkan skema serupa? Sudah pasti sulit. Film horor, dengan segala kesederhanaannya dan kengiritannya, telah membuktikan bahwa kreativitas dan keberanian mengambil risiko, bisa menumbangkan logika kapital besar. Dalam industri perfilman yang semakin kompetitif, genre horor adalah bukti bahwa terkadang yang sederhana justru yang paling efektif dan menguntungkan.

Katarsis dari Realitas yang Menekan

Mari kita akui bahwa hidup di masa sekarang makin tidak mudah. Tingginya tekanan akibat masalah ekonomi, pendidikan, dan hubungan sosial sering kali membuat banyak orang merasa terjebak dalam rutinitas yang berat. Hari makin terasa pendek dan orang merasa makin tidak punya waktu rileks.

 Film horor, dengan pengalaman intens dan mendebarkan yang ditawarkan, menjadi distraksi positif yang memberi jeda dari beban hidup. Sensasi yang ditawarkan film genre ini bisa membantu menciptakan suatu momen “melupakan dunia”, meskipun hanya selama dua jam di dalam bioskop. Setelahnya? Ada rasa lega yang tidak bisa dijelaskan, seolah ketakutan itu telah “dicabut” dari kenyataan.

Menonton film horor sesungguhnya bisa menjadi semacam terapi emosional.  Sejalan dengan yang Mathias Clasen ungkapkan tentang recreational fear dalam “Playing with Fear: A Field Study in Recreational Horror”, yang diterbitkan pada tahun 2020 dalam jurnal Psychological Science. Dalam kondisi tekanan sosial dan ekonomi yang sering melanda masyarakat Indonesia, menonton film horor menawarkan suatu pelarian yang aman.

Ketakutan yang dirasakan di bioskop sebenarnya adalah terapi emosional, yang memungkinkan kita melepaskan stres atau emosi terpendam tanpa menghadapi ancaman nyata. Melalui ketegangan yang dirasakan, penonton secara tidak sadar memproses emosi mereka, atau mungkin bahkan trauma yang tak terselesaikan.

Film Horor dan Media Sosial: Penghubung Emosi di Era Modern

Film horor bukan sekadar pengalaman individual, tapi bisa jadi bahan obrolan yang panas di berbagai platform media sosial. Reaksi seperti, “Gila, serem banget filmnya, Cok, sampai kebawa mimpi buruk!” atau “Sumpah, adegan itu bikin jantung gue hampir copot!” sering kali memenuhi kolom komentar, thread, dan story di Instagram, X, hingga TikTok. Media sosial kini tidak hanya menjadi tempat berbagi pengalaman, tetapi juga ruang untuk membentuk komunitas emosional.

Ketika seseorang memposting reaksi mereka setelah menonton suatu film horor, hal itu sering memicu diskusi yang lebih luas. Orang lain yang membaca dengan cepat ikut-ikutan berkomentar, berbagi ketakutan yang sama, atau bahkan sekadar mengirim meme lucu terkait adegan menyeramkan. Proses ini menciptakan keterhubungan di antara netizen yang tidak saling mengenal.

 Mereka merasa divalidasi ketika mengetahui bahwa ketakutan, adrenalin, dan bahkan mimpi buruk mereka dirasakan juga oleh banyak orang lain. Dalam masyarakat modern Indonesia, di mana interaksi online sering kita keluhkan mulai menggantikan percakapan tatap muka, ini menjadi salah satu cara paling efektif untuk membangun rasa kebersamaan.

Yang menarik, film horor juga bisa menjadi pemantik obrolan yang lebih dalam. Di tengah masyarakat yang masih cenderung tabu membicarakan kesehatan mental atau emosi negatif, genre ini membuka ruang diskusi dengan cara yang santai namun signifikan dan mendalam. Ketakutan yang ditampilkan dalam film sering kali menjadi cerminan dari kecemasan, trauma, atau bahkan ketakutan kolektif masyarakat.

Ketika orang-orang mendiskusikan rasa takut mereka dalam film, mereka secara tidak langsung berbicara tentang emosi mereka sendiri, meskipun dalam format yang ringan. Sepertinya ada sisi positif film horor, di tengah masyarakat digital seperti Indonesia, film horor menjadi lebih dari sekadar tontonan. Ia berubah menjadi pengalaman bersama, percakapan lintas platform, dan bahkan bentuk terapi emosional yang tidak disadari.  

Lebih dari Sekadar Hiburan

Film horor di Indonesia jelas lebih dari sekadar hiburan. Ia adalah cerminan budaya, pelarian emosional, dan bahkan alat untuk memproses trauma kolektif. Dalam konteks kesehatan mental, genre ini memberikan ruang untuk katarsis, distraksi, dan refleksi.

Tapi, di sisi lain, ada pertanyaan yang perlu kita renungkan bersama. Jika film horor begitu efektif membantu masyarakat mengolah emosi, apakah ini berarti ada masalah kesehatan mental yang lebih besar yang belum terjawab? Mengingat pula bahwa film horor begitu melimpah pilihannya di luar sana.

 Mungkin, saat kita menikmati ketakutan di layar, kita juga harus mulai mengintip kondisi kesehatan mental kita sendiri secara lebih serius. Tabik. [T]

Penulis: Petrus Imam Prawoto Jati
Editor: Adnyana Ole

BACA artikel lain dari penulis PETRUS IMAM PRAWOTO JATI

Hantu yang Selalu Perempuan dalam Film Indonesia dan 5 Film Horor yang Wajib Ditonton
Pemutaran Film “Death Knot”, Film Horor Tanpa Setan di BaliMakarya Film Festival 2022
Menonton Film Horor, Membayar Mahal untuk Menikmati Rasa Takut
Film Horor: Hantu Perempuan, Hukum, Agama, dan Hal-hal yang Berubah
Jika Film Horor Indonesia Seperti “Bokep” – Bukan Salah Setan!

Tags: filmfilm hororgaya hidup
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Satuan Pendidikan dan Pengelolaan Sampah

Next Post

Legu Juga Bisa Digugu

Petrus Imam Prawoto Jati

Petrus Imam Prawoto Jati

Dosen Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto, Jawa Tengah

Related Posts

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
0
Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

Read moreDetails

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
0
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

Read moreDetails

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

Read moreDetails

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
0
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

Read moreDetails

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
0
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

Read moreDetails

Manusia Purba di Kota Denpasar

by Angga Wijaya
October 1, 2026
0
Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

Read moreDetails

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
0
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

Read moreDetails

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

by Chusmeru
September 30, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

Read moreDetails

Cara Sederhana Menilai Kesehatan Bangsa

by Putu Arya Nugraha
September 29, 2026
0
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter

PARA ahli sering berdebat mengenai kemajuan dan kesejahteraan negara kita, memakai berbagai indikator yang kadang sulit dipahami. Beberapa indikator yang...

Read moreDetails

Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

by Ahmad Hirzan Anwari
September 29, 2026
0
Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

PADA 12 September 2026, saya menerima informasi dari grup WhatssApp. Isinya permohonan delegasi untuk mengikuti latihan kader bela negara yang...

Read moreDetails
Next Post
Legu Juga Bisa Digugu

Legu Juga Bisa Digugu

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah
Esai

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara
Esai

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co