12 September 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Misteri Layar Lebar: Mengapa Film Horor Merajai Bioskop Indonesia?

Petrus Imam Prawoto Jati by Petrus Imam Prawoto Jati
January 26, 2025
in Esai
Misteri Layar Lebar: Mengapa Film Horor Merajai Bioskop Indonesia?

Poster-poster film horor populer | Foto: Google

BARU-BARU ini saya berencana mengajak keluarga untuk pergi nonton film di bioskop. Tapi naas bagi saya, dari 6 film yang ditawarkan hari itu lima film merupakan film horor, yang satu film drama romantis. Sebenarnya saya senang juga dengan film horor karena tidak asing bagi saya. Tapi tidak cocok untuk anak saya.

Hal ini membuat saya sedikit merenung, betapa film horor menjadi favorit di masyarakat kita. Memang, film horor telah lama menjadi raja takhta box office Indonesia. Deretan film seperti Pengabdi Setan, Sebelum Iblis Menjemput, hingga KKN di Desa Penari membuktikan bahwa genre ini bukan sekadar film untuk menghibur, tetapi sekaligus juga fenomena budaya, ekonomi, bahkan psikologi yang menarik untuk kita cermati.

Sebagai orang Indonesia pasti sering Anda mendengar kisah kuntilanak di sudut kampung, pocong di sekitar kantor, atau genderuwo yang suka menampakkan diri di pohon besar? Tradisi lisan bermuatan mistis seperti ini bukan hanya dongeng omong kosong, tetapi merupakan tak terpisahkan dari kesadaran kolektif masyarakat Indonesia. Jadi dalam hal ini, horor bukan sekadar genre namun lebih sebagai jendela untuk menyaksikan warisan budaya yang hidup di sekitar kita.

Nah, para produser film horor Indonesia dengan cerdik memanfaatkan elemen-elemen ini. Lokasi-lokasi yang angker, ritual mistis, dan makhluk gaib bukan sekadar gimmick, tetapi merupakan simbol yang meresap dalam kehidupan sehari-hari. Ketika penonton menyaksikan film seperti Pengabdi Setan, mereka tidak hanya menikmati ketegangan, tetapi juga merasa terhubung dengan sesuatu yang sangat akrab, sesuatu yang mungkin pernah mereka dengar dari nenek atau orang tua.

Biaya Produksi yang Bersahabat           

Sekarang, mari kita lihat dari kacamata bisnis secara rasional. Coba saja kita kira-kira secara kasar saja produksi film aksi Hollywood yang dipenuhi ledakan dahsyat, efek visual berbiaya tinggi, dan jajaran aktor papan atas dibandingkan dengan genre horor lokal. Film aksi memerlukan tim produksi yang besar, penggunaan teknologi canggih, serta lokasi syuting yang spektakuler. Sementara itu, film horor lokal sering kali cukup memanfaatkan lokasi sederhana, seperti rumah tua, hutan lebat, atau gang sepi, ditambah lagi tanpa harus mengandalkan aktor dengan bayaran miliaran rupiah.

Contoh paling mencolok adalah KKN di Desa Penari. Film ini secara teknis jauh dari istilah “mewah” karena tidak ada ledakan, CGI spektakuler, atau bintang besar yang gajinya bisa bikin anggaran bocor. Namun, apa yang terjadi ketika dilempar ke khalayak? Film ini sukses mencetak pendapatan ratusan miliar rupiah. Bagi para produser, genre horor tentu adalah tambang emas. Lihat saja dari modal produksi yang relatif kecil, risiko kerugian jauh lebih rendah dibanding genre lain, namun potensi keuntungannya bisa luar biasa.

Dalam perspektif bisnis, ini adalah kombinasi sempurna: investasi minimal dengan peluang Return On Investment yang luar biasa besar. Apakah genre lain mampu menawarkan skema serupa? Sudah pasti sulit. Film horor, dengan segala kesederhanaannya dan kengiritannya, telah membuktikan bahwa kreativitas dan keberanian mengambil risiko, bisa menumbangkan logika kapital besar. Dalam industri perfilman yang semakin kompetitif, genre horor adalah bukti bahwa terkadang yang sederhana justru yang paling efektif dan menguntungkan.

Katarsis dari Realitas yang Menekan

Mari kita akui bahwa hidup di masa sekarang makin tidak mudah. Tingginya tekanan akibat masalah ekonomi, pendidikan, dan hubungan sosial sering kali membuat banyak orang merasa terjebak dalam rutinitas yang berat. Hari makin terasa pendek dan orang merasa makin tidak punya waktu rileks.

 Film horor, dengan pengalaman intens dan mendebarkan yang ditawarkan, menjadi distraksi positif yang memberi jeda dari beban hidup. Sensasi yang ditawarkan film genre ini bisa membantu menciptakan suatu momen “melupakan dunia”, meskipun hanya selama dua jam di dalam bioskop. Setelahnya? Ada rasa lega yang tidak bisa dijelaskan, seolah ketakutan itu telah “dicabut” dari kenyataan.

Menonton film horor sesungguhnya bisa menjadi semacam terapi emosional.  Sejalan dengan yang Mathias Clasen ungkapkan tentang recreational fear dalam “Playing with Fear: A Field Study in Recreational Horror”, yang diterbitkan pada tahun 2020 dalam jurnal Psychological Science. Dalam kondisi tekanan sosial dan ekonomi yang sering melanda masyarakat Indonesia, menonton film horor menawarkan suatu pelarian yang aman.

Ketakutan yang dirasakan di bioskop sebenarnya adalah terapi emosional, yang memungkinkan kita melepaskan stres atau emosi terpendam tanpa menghadapi ancaman nyata. Melalui ketegangan yang dirasakan, penonton secara tidak sadar memproses emosi mereka, atau mungkin bahkan trauma yang tak terselesaikan.

Film Horor dan Media Sosial: Penghubung Emosi di Era Modern

Film horor bukan sekadar pengalaman individual, tapi bisa jadi bahan obrolan yang panas di berbagai platform media sosial. Reaksi seperti, “Gila, serem banget filmnya, Cok, sampai kebawa mimpi buruk!” atau “Sumpah, adegan itu bikin jantung gue hampir copot!” sering kali memenuhi kolom komentar, thread, dan story di Instagram, X, hingga TikTok. Media sosial kini tidak hanya menjadi tempat berbagi pengalaman, tetapi juga ruang untuk membentuk komunitas emosional.

Ketika seseorang memposting reaksi mereka setelah menonton suatu film horor, hal itu sering memicu diskusi yang lebih luas. Orang lain yang membaca dengan cepat ikut-ikutan berkomentar, berbagi ketakutan yang sama, atau bahkan sekadar mengirim meme lucu terkait adegan menyeramkan. Proses ini menciptakan keterhubungan di antara netizen yang tidak saling mengenal.

 Mereka merasa divalidasi ketika mengetahui bahwa ketakutan, adrenalin, dan bahkan mimpi buruk mereka dirasakan juga oleh banyak orang lain. Dalam masyarakat modern Indonesia, di mana interaksi online sering kita keluhkan mulai menggantikan percakapan tatap muka, ini menjadi salah satu cara paling efektif untuk membangun rasa kebersamaan.

Yang menarik, film horor juga bisa menjadi pemantik obrolan yang lebih dalam. Di tengah masyarakat yang masih cenderung tabu membicarakan kesehatan mental atau emosi negatif, genre ini membuka ruang diskusi dengan cara yang santai namun signifikan dan mendalam. Ketakutan yang ditampilkan dalam film sering kali menjadi cerminan dari kecemasan, trauma, atau bahkan ketakutan kolektif masyarakat.

Ketika orang-orang mendiskusikan rasa takut mereka dalam film, mereka secara tidak langsung berbicara tentang emosi mereka sendiri, meskipun dalam format yang ringan. Sepertinya ada sisi positif film horor, di tengah masyarakat digital seperti Indonesia, film horor menjadi lebih dari sekadar tontonan. Ia berubah menjadi pengalaman bersama, percakapan lintas platform, dan bahkan bentuk terapi emosional yang tidak disadari.  

Lebih dari Sekadar Hiburan

Film horor di Indonesia jelas lebih dari sekadar hiburan. Ia adalah cerminan budaya, pelarian emosional, dan bahkan alat untuk memproses trauma kolektif. Dalam konteks kesehatan mental, genre ini memberikan ruang untuk katarsis, distraksi, dan refleksi.

Tapi, di sisi lain, ada pertanyaan yang perlu kita renungkan bersama. Jika film horor begitu efektif membantu masyarakat mengolah emosi, apakah ini berarti ada masalah kesehatan mental yang lebih besar yang belum terjawab? Mengingat pula bahwa film horor begitu melimpah pilihannya di luar sana.

 Mungkin, saat kita menikmati ketakutan di layar, kita juga harus mulai mengintip kondisi kesehatan mental kita sendiri secara lebih serius. Tabik. [T]

Penulis: Petrus Imam Prawoto Jati
Editor: Adnyana Ole

BACA artikel lain dari penulis PETRUS IMAM PRAWOTO JATI

Hantu yang Selalu Perempuan dalam Film Indonesia dan 5 Film Horor yang Wajib Ditonton
Pemutaran Film “Death Knot”, Film Horor Tanpa Setan di BaliMakarya Film Festival 2022
Menonton Film Horor, Membayar Mahal untuk Menikmati Rasa Takut
Film Horor: Hantu Perempuan, Hukum, Agama, dan Hal-hal yang Berubah
Jika Film Horor Indonesia Seperti “Bokep” – Bukan Salah Setan!

Tags: filmfilm hororgaya hidup
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Satuan Pendidikan dan Pengelolaan Sampah

Next Post

Legu Juga Bisa Digugu

Petrus Imam Prawoto Jati

Petrus Imam Prawoto Jati

Dosen Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto, Jawa Tengah

Related Posts

KUNJUNGAN BRAHMANA JAWA KE TANAH INDIA (BHUMI JAMBUDWIPA)

by Sugi Lanus
September 12, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

TIGA brahmana Jawa pernah berkunjung ke India. Kisah perjalanan spiritual ini tertuang di dalam pustaka lontar Tantu Pagelaran (atau Tantu...

Read moreDetails

Pasar Tradisional : Membaca Tanda, Merawat Manusia

by Tri Nugroho Adi
September 11, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

"Pinten niki, Bu?"  (Berapa ini, Bu?) "Tigang doso gangsal ewu." (Tiga puluh lima ribu ) "Waduh... mboten saged kirang? Kula...

Read moreDetails

DNA Pancasila Masih Utuh, Cuma Epigenetik Bangsa Mungkin Eror

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 10, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

INI gegara ada informasi tentang penelitian David Sinclair dari Harvard, yang mengatakan bahwa proses penuaan bisa dibalikkan kembali melalui terapi...

Read moreDetails

Kita Salah Menghitung Kesunyian

by Angga Wijaya
September 10, 2026
0
Kita Salah Menghitung Kesunyian

SETIAP 10 September, kita menjadi masyarakat yang tiba-tiba pandai berbicara tentang bunuh diri. Poster bermunculan di media sosial. Kutipan dibagikan....

Read moreDetails

Tubuh yang Saya Suruh Begadang

by Angga Wijaya
September 9, 2026
0
Tubuh yang Saya Suruh Begadang

SELAMA kira-kira sepuluh tahun terakhir, saya punya kebiasaan yang barangkali tidak terlalu baik bagi tubuh, yakni, begadang. Saya menulis pada...

Read moreDetails

Hari Olahraga Nasional: Dari Lapangan ke FYP, dari Medali ke “Endorse”

by Chusmeru
September 9, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

SEPULUH hingga dua puluh tahun silam perayaan Hari Olahraga Nasional (Haornas) tanggal 9 September identik dengan kegiatan senam di lapangan....

Read moreDetails

Kepemimpinan Feminis sebagai Strategi Rekonsiliasi Sosial di Tengah Polarisasi Politik

by Jerry Indrawan
September 8, 2026
0
Mungkinkah Korut Serang AS?

POLARISASI politik yang menguat dalam konteks demokrasi kontemporer telah memicu fragmentasi sosial yang sangat mengkhawatirkan di berbagai belahan dunia, termasuk...

Read moreDetails

Pemakaman Massal Kata “Saya Tidak Tahu”

by Wayan Gde Yudane
September 7, 2026
0
Pemakaman Massal Kata “Saya Tidak Tahu”

SELAMAT datang di era di mana kedalaman berpikir resmi digantikan oleh kecepatan reaksi. Sebuah masa yang sangat efisien, di mana...

Read moreDetails

Menilik Bentuk Visioner Naskah Rawa Gambut Garapan Teater Potlot

by Adwan SA
September 6, 2026
0
Menilik Bentuk Visioner Naskah Rawa Gambut Garapan Teater Potlot

JAUH sebelum Tuan Gubernur mendorong pengadaan puluhan unit motor trail sebab helikopter kebanggaannya kewalahan dalam menangani kebakaran hutan dan lahan,...

Read moreDetails

Jangan-Jangan Kita Semua Mbah Darmi, 25 Ribu Hari ini, 10 Juta Esok Hari

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 5, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

BAGI Mbah Darmi, KTP mungkin hanyalah kartu identitas. Benda kecil yang disimpan di dompet atau tempat aman, diperlukan ketika mengurus...

Read moreDetails
Next Post
Legu Juga Bisa Digugu

Legu Juga Bisa Digugu

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU
Esai

KUNJUNGAN BRAHMANA JAWA KE TANAH INDIA (BHUMI JAMBUDWIPA)

TIGA brahmana Jawa pernah berkunjung ke India. Kisah perjalanan spiritual ini tertuang di dalam pustaka lontar Tantu Pagelaran (atau Tantu...

by Sugi Lanus
September 12, 2026
Aku Mau Jadi Penguin! —Ulasan Novel “Di Tanah Lada” Karya Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie
Ulas Buku

Aku Mau Jadi Penguin! —Ulasan Novel “Di Tanah Lada” Karya Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie

AWALNYA saya mengira nama ‘Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie’ adalah nama pena. Ternyata saya salah. Kemudian dari nama unik dan ajaib inilah saya...

by Kadek Wisnu Oktaditya
September 12, 2026
Utsawa Dharmagita XXXIII-2026: Ketika Sastra Suci Menggema di Taman Budaya Bali
Panggung

Utsawa Dharmagita XXXIII-2026: Ketika Sastra Suci Menggema di Taman Budaya Bali

Jeda hanya sesaat. Setelah kulkul dipukul oleh Gubernur Bali Wayan Koster sebagai tanda dibukanya Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali XXXIII,...

by Nyoman Budarsana
September 12, 2026
YouNITE Fest Vol. 1: Ketika Forum GenRe Denpasar Hadirkan Ruang bagi Anak Muda untuk Bersuara dan Bergerak
Panggung

YouNITE Fest Vol. 1: Ketika Forum GenRe Denpasar Hadirkan Ruang bagi Anak Muda untuk Bersuara dan Bergerak

ANAK muda acap menjadi sasaran kebijakan. Namun, seberapa sering mereka benar-benar diberi ruang untuk bersuara, menyampaikan gagasan, bahkan menentukan arah...

by Dede Putra Wiguna
September 12, 2026
Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin
Cerpen

Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

MALAM di rumah sakit selalu terasa lebih panjang daripada malam di tempat lain. Jarum jam di dinding ruang perawatan menunjukkan...

by Ahmad Sihabudin
September 12, 2026
Puisi Ahmad Fatoni | Teruslah Bodoh, Negeri Sedang Membutuhkannya
Puisi

Puisi Ahmad Fatoni | Teruslah Bodoh, Negeri Sedang Membutuhkannya

Puisi-Resensi atas Novel Teruslah Bodoh Jangan Pintar karya Tere Liye Teruslah bodoh, jangan pintar,sebab negeri ini menyukai kepalayang mudah menganggukdan...

by Ahmad Fatoni
September 12, 2026
Pembukaan Utsawa Dharmagita 2026: Orang Bali Harus Pintar Secara Kognitif dan Punya Nilai moral
Budaya

Pembukaan Utsawa Dharmagita 2026: Orang Bali Harus Pintar Secara Kognitif dan Punya Nilai moral

Suasana pembukaan Utsawa Dharmagita Provinsi Bali XXIII Tahun 2026 berlangsung semarak di Taman Budaya Bali, Jumat 11 September 2026. Sebuah...

by Ayu Kahuatu Tamar
September 11, 2026
Ubud Art Collect: Ketika Seni dan Ekosistem Kreatif Ubud Bertemu Publik dalam Ruang yang Lebih Dekat
Pameran

Ubud Art Collect: Ketika Seni dan Ekosistem Kreatif Ubud Bertemu Publik dalam Ruang yang Lebih Dekat

SELAMA tiga hari, 4–6 September 2026, Wantilan Ubud berubah menjadi titik temu bagi wajah seni yang beragam. Lukisan tradisional berdampingan...

by Dede Putra Wiguna
September 11, 2026
Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu
Panggung

Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu

JUMAT, 11 September 2026, Nuanu Creative City di Tabanan, Bali, menjelma jadi panggung pertama Art & Bali platform seni tahunan...

by Ingga Adelia
September 11, 2026
Mengenal PVC WPC Wall Panel untuk Dekorasi Dinding Estetis
Gaya

Mengenal PVC WPC Wall Panel untuk Dekorasi Dinding Estetis

  Untuk dekorasi dinding yang estetis, Decorindo Perkasa menyediakan wall panel PVC WPC yang hadir sebagai solusi modern memadukan fungsi...

by tatkala
September 11, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Pasar Tradisional : Membaca Tanda, Merawat Manusia

"Pinten niki, Bu?"  (Berapa ini, Bu?) "Tigang doso gangsal ewu." (Tiga puluh lima ribu ) "Waduh... mboten saged kirang? Kula...

by Tri Nugroho Adi
September 11, 2026
Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda
Panggung

Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda

Jangan menganggap Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali sekadar rutinitas dengan sajian yang berulang. Tahun ini, panggung UDG XXXIII tahun 2026...

by Nyoman Budarsana
September 10, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co