2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Legu Juga Bisa Digugu

I Dewa Gede Darma Permana by I Dewa Gede Darma Permana
January 27, 2025
in Esai
Legu Juga Bisa Digugu

Foto ilustrasi oleh Darma Permana

JIKA ada yang bertanya, binatang apa yang diri ini paling tidak sukai, dengan tegas tanpa ragu lidah tak bertulang ini akan menyebut kata legu (nyamuk).

Binatang yang berukuran kecil namun mampu menghisap darah ini cukup membawa kenangan buruk dalam sanubari. Belum lekang dalam ingatan ketika ia mampu membuat diri ini tanpa sengaja menjatuhkan HP dalam genggaman. Tambah lagi, ketika ia juga mampu membawa seorang bibi, tepat satu tahun lalu, menginap di rumah sakit.

Berbicara mengenai eksistensi, keberadaan legu terasabertambah banyak saat musim hujan tiba. Setiap pagi, siang, dan malam, suara racing khasnya kian menggema mengelilingi daun telinga.

Tubuh dan pikiran ini pun terasa dibuat tidak tenang, was-was, serta diliputi rasa nestapa. Percayalah! Saat Anda membaca tulisan ini, mungkin ia juga tengah bersiap menghisap darah anda bak vampir di film-film horror.

***

“Terkadang, pembelajaran yang bisa digugu datang dari sesuatu yang dirimu benci!”

Seperti itulah seuntai quotes indahyang saya sempat lihat di Instagram beberapa waktu lalu. Ungkapan yang secara tidak langsung mampu mengarahkan manah pada keberadaan makhluk yang kebanyakan meninggalkan kesan kelabu ini. Memangnya pembelajaran apa yang bisa digugu dari seekor Legu?

1. Masalah Terkadang Perlu Selesai di Saat dan Tempat yang Tepat

Pernah pada suatu masa diri ini dibuat begitu jengkel pada seekor legu berwarna hitam. Beberapa kali ia telah dapat meninggalkan jejak bentolan, dan diri ini coba tepuk namun selalu gagal. Sampai pada saatnya tiba, ia tiba-tiba hinggap di atas kemeja putih yang tergantung di atas pintu.

Namun sekali lagi, saat telapak tangan sudah diarahkan sekencang-kencangnya, ia masih bisa selamat dan terbang menyelamatkan diri.

“Kle ngidang gen ye mekeber.” (Sial bisa saja ia terbang). Begitu umpat diri ini sambil mengibaskan tangan yang menjadi kebas.

Meskipun demikian, perjuangan diri ini dalam membalaskan dendam akan darah yang telah dihisap tidaklah surut. Diri ini coba menambahkan power damage dengan mengambil sapu lidi yang tergeletak di sudut kamar.

Tibalah saatnya ketika mata ini mampu melirik ia hinggap di tembok kamar yang telah menganga. Tak mau mengulang kegagalan yang sama, dengan sekali hempasan sapu lidi “Plakkkkkkk!!!” Legu itu pun harus puas meregang nyawa.

Setelah melihat jasad legu itu di tembok disertai dengan darah berceceran, sanubari tiba-tiba diliputi perenungan. Bukan karena perjuangan menepuk legu hitamyang akhirnya menemui keberhasilan. Namun lebih daripada itu, rasa syukur tiba-tiba timbul justru karena melihat TKP matinya legu hitamtersebut.

“Kle aget matine di temboke. Apa dadine yang tuni bakat matiang di kemeja putihe. Dong be je.” (Piuh, untung matinya ia di tembok. Apa jadinya kalau tadi berhasil mati di kemeja putih. Ya sudahlah).

Atas kejadian tersebut, diri ini pun mampu menarik sebuah pembelajaran, bahwa jasad legu, ternyata bisa menyimbolisasikan sebuah masalah perlu selesai di saat dan tempat yang tepat. 

2. Masalah Memang Akan Datang Lagi, Lagi, dan Lagi

Alkisah di suatu pagi hari yang gabut, diri ini begitu bangga dapat menepuk banyak sekali Legu. Dalam durasi waktu kurang dari 1 jam, secara berturut-turut sembilan ekor legu penyek di tangan Sang Dewa. Sambil menghela napas, diri ini pun sempat berpikir sejenak.

Hari ini memang para legu sedang apes atau tangan ini yang semakin cekatan?

Menimbang jumlah kematian legu dalam satu masa yang kuantitasnya lebih banyak, jiwa ini pun merasa lebih aman, tentram, dan nyaman. Gangguan dari para legu durjana mungkin tidak akan datang menimbang jumlah kematian mereka yang begitu signifikan.

Berdasar pada ekspektasi tersebut, diri ini pada akhirnya memutuskan untuk lanjut membuat proyek tulisan. Ditimpali secangkir kopi, disertai luapan hati yang penuh ketenangan dan keriangan.

Namun apa yang terjadi? Apakahpara legu tersebut benar-benar lenyap dan menyerah?

Oh tidak semudah itu, Ferguso! Baru beberapa jam mengetik, seekor legu kembali datang dan bersandar di atas layar laptop. Begitu juga sampai pada malam harinya, nyanyian bunyi legu semacam tak surut-surut untuk senantiasa menghantui.

“Kle ber sing telah-telah teka Legune.” (Sial, tidak habis-habis datang nyamuknya).

Atas kejadian tersebut, diri ini pun berhasil menarik pembelajaran kedua, bahwa legu, bisa menjadi cermin dari masalah yang akan datang lagi, datang lagi, dan datang lagi.

3. Masalah Perlu Digali dan Dicabut Hingga ke Akar

Saking lelahnya menghadapi substansi bernama legu, pada akhirnya diri ini mulai merenungi dan memutuskan untuk menggali akar permasalahan. Akar di sini diarahkan pada hal-hal yang dapat memicu atau menjadi alasan kuat mengapa legu masih bisa eksis dan berkembak biak dalam ekosistem kamar. Mulai dari baju tergantung, adanya genangan air dalam wadah di waktu yang lama, sampah makanan yang dibiarkan mengendap dalam kamar, hingga air dalam bak kamar mandi yang jarang dikuras.

Setelah semua analisis alasan-alasan tersebut dikumpulkan, sarira pun mulai bergerak dan akar permasalahan coba diatasi satu demi satu.

Diri  mulai rajin merapikan baju dan memilih menyimpannya dalam lemari, membuang air dalam wadah apapun agar tidak menimbulkan genangan, mulai rajin dalam membersihkan dan memastikan kamar dalam keadaan bersih, sampai pada taat dalam menguras dan membersihkan kamar mandi.

Semua dilakukan demi tercabutnya gangguan Para Legu yang selama ini melanda. Belum lagi, obat nyamuk juga senantiasa tersedia dan diintensifkan untuk mengatasi serta mencegah sedotan mereka yang mematikan.

Dari sisi proses yang menyita pembiasaan, usaha untuk menganalisis dan mengatasi penyebab eksistensi legu mulai menampakkan hasil yang positif.

Gangguan legu memang masih ada, namun tidak seintens pada hari-hari biasanya. Sang diri pun mampu beraktivitas normal tanpa adanya gangguan.

Pada akhirnya, tidur malam juga bisa menjadi lebih nyenyak, menimbang suara knalpot mungil yang mengintimidasi gendang telinga sudah tidak ada lagi.

“Kle, akhirne suba siang ada legu buin.” (Piuhhh, akhirnya sudah tidak ada nyamuk lagi).

Atas kejadian tersebut, diri ini pun berhasil menarik sekali lagi pembelajaran, bahwa legu, juga bisa mengajarkan kita agar mampu menyelesaikan masalah hingga ke akar.

***

JADI bagaikan warnanya yang belang bercorak hitam dan putih, legu yang biasanya menjengkelkan ternyata juga mampu menghadirkan sisi hitam dan juga putih dalam kehidupan. Bahkan jika diselami secara lebih mendalam, sisi putihnya jauh lebih mampu menghadirkan pedoman hidup yang bisa digugu dan juga ditiru.

Jadi dari segala putih yang telah berhasil dihadirkan, apakah legu mampu menghapus stigmanya dalam sanubari ini sebagai hewan yang tidak disukai?

“Mohon maaf, kayaknya belum,” jawab langsung sanubari ini sambil tangan yang baru saja berhasil menepuk seekor legu. [T]

Penulis: Dewa Gede Darma Permana
Editor: Adnyana Ole


BACA artikel lain dari penulis DEWA GEDE DARMA PERMANA

FGD Ibu-ibu Kantin: Hujan, Cuaca Buruk atau Berkah?
Merenungi Ajian “Tri Samaya” Lewat Film “Sekawan Limo”
Menikmati Pasang-Surut Dinamika Hidup — Renungan dari Pantai Sanur
Bagaimana Siksa Kubur Versi Hindu?
“Melajah Kalah”
Tags: renungan
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Misteri Layar Lebar: Mengapa Film Horor Merajai Bioskop Indonesia?

Next Post

Antisipasi Bencana di Satuan Pendidikan   

I Dewa Gede Darma Permana

I Dewa Gede Darma Permana

Penulis, Editor, Penyuluh Agama. Biasa dipanggil Dede Brayen. Lahir dan tinggal di Klungkung.

Related Posts

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
0
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

Read moreDetails

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
0
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

Read moreDetails

Manusia Purba di Kota Denpasar

by Angga Wijaya
October 1, 2026
0
Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

Read moreDetails

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
0
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

Read moreDetails

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

by Chusmeru
September 30, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

Read moreDetails

Cara Sederhana Menilai Kesehatan Bangsa

by Putu Arya Nugraha
September 29, 2026
0
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter

PARA ahli sering berdebat mengenai kemajuan dan kesejahteraan negara kita, memakai berbagai indikator yang kadang sulit dipahami. Beberapa indikator yang...

Read moreDetails

Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

by Ahmad Hirzan Anwari
September 29, 2026
0
Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

PADA 12 September 2026, saya menerima informasi dari grup WhatssApp. Isinya permohonan delegasi untuk mengikuti latihan kader bela negara yang...

Read moreDetails

Kusala Sastra Katulistiwa yang Menyalakan Cahaya di Jalan Sunyi Sastra

by Emi Suy
September 29, 2026
0
Kusala Sastra Katulistiwa yang Menyalakan Cahaya di Jalan Sunyi Sastra

ADA jalan yang tidak pernah benar-benar ramai. Sastra berjalan di sana, kadang ditemani lampu kecil dari sebuah kamar, meja kerja...

Read moreDetails

Brigitta Hauser-Schäublin: Batur, “Pasihan”, dan Peluang Diskusi Setelahnya

by Jero Penyarikan Duuran Batur
September 28, 2026
0
Brigitta Hauser-Schäublin: Batur, “Pasihan”, dan Peluang Diskusi Setelahnya

Puspawacana penulis tujukan untuk mendiang Ibu Prof. Brigitta Hauser-Schäublin yang telah berpulang ke kedamaian pada medio 2025. Penulis mengucapkan terima...

Read moreDetails

Melamar Kerja Saat Usia Tak Lagi Muda

by Angga Wijaya
September 27, 2026
0
Melamar Kerja Saat Usia Tak Lagi Muda

DUA hari lalu, saat membuka media sosial, saya melihat informasi lowongan kerja sebagai kontributor penulis pada sebuah media online nasional....

Read moreDetails
Next Post
Pelatihan tentang Kebencanaan selama dua hari bagi 100 SMA/SMK/SLB se-Bali tersebar di 8 Kabupaten dan Kodya Denpasar.

Antisipasi Bencana di Satuan Pendidikan   

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

by Chusmeru
September 30, 2026
Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”
Budaya

Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”

TABANAN | TATKALA -- Dua pelajar muda asal Tabanan, Bali, I Putu Bagus Sastra Vedanta Wiyasa dan Ni Kadek Ayu...

by Rusdy Ulu
September 30, 2026
Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?
Opini

Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

PENDIDIKAN gratis kembali menjadi pembicaraan publik pasca Presiden Prabowo Subianto pada 18 September 2026 menyatakan komitmennya agar biaya pendidikan pada...

by Dini Nastiti Wardani
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co