23 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Merenungi Ajian “Tri Samaya” Lewat Film “Sekawan Limo”

I Dewa Gede Darma Permana by I Dewa Gede Darma Permana
August 2, 2024
in Ulas Film
Merenungi Ajian “Tri Samaya” Lewat Film “Sekawan Limo”

Gambar Cuplikan Film ‘Sekawan Limo’ Diambil dari CNN Indonesia

MANUSIA adalah makhluk hidup yang memiliki keterbatasan. Dalam beberapa hal, manusia masih belum mampu menelaah sesuatu di luar batas nalar dan logikanya.

Manusia di dalam kehidupan, juga hanya bisa memprediksi sesuatu berlandaskan teori dan kejadian yang sudah terjadi. Untuk hal yang lebih luas, tidak ada satupun manusia di dunia yang benar-benar mampu memastikan seperti apa situasi dunia di masa yang akan datang.

Berbicara mengenai masa depan, tidak akan bisa dilepaskan dengan pasangan mesranya yang bernama masa lalu. Sebagai cermin keadaan dan periode yang telah lewat, masa lalu memiliki kecenderungan membawa kesan dan aura yang sangat pekat.

Tidak jarang masa lalu menjelma sebagai tali penjerat yang membuat manusia sangat terjerat. Bahkan yang lebih mengerikan, masa lalu juga bisa hadir sebagai teror hantu yang kehadirannya bisa sangat menakutkan.

Cermin kehidupan ini terefleksi lewat film Sekawan Limo yang hadir di pertengahan tahun 2024. Karya besutan YouTubers terkenal Bayu Skak ini tidak hanya menyajikan film bergenre horor-komedi seperti biasanya. Lebih dari pada itu, film ini sukses menyajikan kekentalan budaya Jawa dan nilai luhur yang membuat rasa dalam raga terperanga.

Dari banyaknya pesan moral yang tersurat maupun tersirat, salah satu pengetahuan yang terlintas sesaat diri ini selesai menonton film ini adalah ajian Tri Samaya.

Mengenal Tri Samaya

Tri Samaya adalah konsepsi luhur akan kehidupan yang mencerminkan 3 alur waktu.

Tiga Alur waktu ini, terdiri atas: 1) ‘Atita’ yang menjadi cermin akan masa lalu, 2) ‘Wartamana’ yang menjadi cermin akan masa kini, serta 3) Anagata yang menjadi cermin akan masa depan. Ketiga alur waktu ini, menjadi hakikat konkret yang akan selalu menemani manusia dalam menjalani kehidupan (Sukrawati, 2019: 114).

Meskipun terlihat sederhana, banyak manusia yang sering tertipu daya akan ajian Tri Samaya. Ada manusia yang terlalu terjebak akan masa lalunya, ada juga manusia yang terlalu mengkhawatirkan seperti apa masa depannya.

Dua situasional tersebut, pada akhirnya membawa konsekuensi, dimana manusia tidak bisa menikmati kehidupannya di masa sekarang.

Melarikan Diri dari Masa Lalu

Setiap manusia pasti memiliki substansi yang disebut masa lalu. Entah hal tersebut menjadi sesuatu yang mengagumkan, atau justru menjadi sesuatu yang kelam. Untuk sebagian besar orang, masa lalu cenderung bisa menjadi kenangan buruk yang mengerikan.

Tidak jarang, beberapa pihak memilih untuk tidak menerima, melarikan diri, atau justru mengutuk masa lalunya yang kurang berkenan. Padahal esensi dari hadirnya Atita, sesungguhnya menjadi cermin pembelajaran terbaik untuk umat manusia yang dikenal dengan istilah “Pengalaman”.

Kegundahan akan masa lalu inilah yang terefleksi secara jelas melalui beberapa karakter di Film Sekawan Limo.

Dikisahkan saat perjalanan mendaki gunung, beberapa karakter seperti Lenni yang diperankan oleh Nadya Arina, Andrew yang diperankan oleh Indra Pramujito, serta Dicky yang diperankan oleh Firza Valaza, tidak ada yang berani menatap ke belakang guna menghadapi masa lalu.

Mereka cenderung menghindar, bahkan hampir mengambil jalan pintas, dan mengorbankan sesuatu yang berharga.

*Apa sesuatu yang berharga itu? Silahkan tonton Filmnya saja nggih, saya tidak mau spoiler, hehehee.

Dihantui Masa Lalu di Masa Sekarang

Bukannya berhasil menjadi pil penenang, masa lalu yang dipaksa diabaikan, justru menjelma menjadi hantu yang membawa teror menakutkan Tidak salah apabila beberapa manusia yang masih dihantui masa lalu, malah tidak berhasil menikmati jalan yang tengah mereka lalui sekarang.

Padahal, esensi dari ajian Wartamana atau masa kini adalah sesuatu yang perlu diprioritaskan, karena menjadi kunci penentu kehidupan.

Refleksi akan hantu masa lalu secara gamblang tergambar dalam film Sekawan Limo. Dimana karakter-karakternya yang terlalu terjebak akan perintah ‘tidak boleh menengok ke belakang’, justru gagal memperoleh pengalaman bermakna dalam pendakian.

Mereka masih terbayang-bayang akan kenangan di belakang, padahal ada kenangan indah yang mestinya bisa mereka nikmati sepanjang perjalanan.

Masa Depan Tidaklah Seburuk Itu!

Disamping membawa suasana masa kini yang tidak menyenangkan, teror hantu masa lalu juga bisa menghadirkan rasa kekhawatiran akan masa depan. Hal tersebut dikarenakan, sesuatu yang tidak mengenakkan di periode lampau, sangat ditakutkan bisa terulang kembali di periode yang akan datang.

Tidak jarang, situasi ini justru membawa orang-orang menjadi terlalu cemas akan seperti apa hari esok. Padahal dari sisi ajian Tri Samaya, Anagata atau Masa Depan hanya Sang Penguasa Waktu-lah yang mengetahuinya.

Dalam film Sekawan Limo, kecemasan akan masa depan juga tercermin secara jelas. Dimana dengan bekal masa lalu yang kelam, serta kegagalan dalam menikmati perjalan, juga berimbas pada ketakutan akan situasi di masa depan.

Hal ini juga turut membawa pada perjalanan pendakian yang menemui kesesatan, berputar-putar, dan tidak menemukan jalan pulang.

Titik terangnya pun tiba, ketika mereka berhasil mengalahkan hantu masa lalu dan berkenan menikmati jalan yang tengah mereka lalui. Dari sanalah muncul secercah harapan, akan puncak masa depan yang lebih baik dan menyenangkan.

 Dengan demikian, film Sekawan Limo bisa dikatakan telah berhasil menjadi karya yang membawa kembali pesan esensial ajian Tri Samaya dalam kehidupan.

Masa lalu sebagai bekal pengalaman, masa kini sebagai kunci prioritas, serta masa depan yang tak selamanya bisa diprediksi, diharapkan bisa selalu berusaha dimengerti dan dipedomani. Terlebih pada hakikatnya, setiap manusia atas restu Sang Sutradara, bisa menjadi pemeran utama di setiap episode yang mereka tentukan masing-masing.

Sekarang tinggal memilih, apakah di akhir nanti ingin menjadi happy ending atau sad ending? [T]

Daftar Referensi

  • Sukrawati, Ni Made. 2019. Acara Agama Hindu. Denpasar: UNHI Press.


BACA artikel lain dari penulis DEWA GEDE DARMA PERMANA

Siapa ‘Sang Dewi’ di Balik Hari Raya Saraswati?
Bagaimana Siksa Kubur Versi Hindu?
“Melajah Kalah”
Tumpek Krulut Adopsi Hari Valentine?
Rwa Bhineda Pasti Ada
Suka-Duka-Lara-Pati, Mengenal 4 Serangkai Bekal Abadi
Wajah Nyepi, Relasi Agama dan Budaya untuk Harmoni
Tags: filmhindujawaresensi film
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Gong Tunas Mekar Pengosekan Ubud, Lahir 1958, Dibeli dari Hasil “Maderep” Padi

Next Post

Sthala Ubud Village Jazz Festival 2024, Panggung Kebebasan Itu Telah Dibuka

I Dewa Gede Darma Permana

I Dewa Gede Darma Permana

Penulis, Editor, Penyuluh Agama. Biasa dipanggil Dede Brayen. Lahir dan tinggal di Klungkung.

Related Posts

“Tung Tung Uma”: Ketika Sawah Menjadi Medan Pertaruhan

by Satria Aditya
August 7, 2026
0
“Tung Tung Uma”: Ketika Sawah Menjadi Medan Pertaruhan

ADA satu hal yang langsung terasa begitu duduk menonton Tung Tung Uma, bagaimana Amrita Dharma memetakan setiap adegannya dengan begitu...

Read moreDetails

“Niskala yang Menari”: Ketika Guru, Murid, dan Sebuah iPhone Melahirkan Film Juara Favorit

by Angga Wijaya
July 31, 2026
0
“Niskala yang Menari”: Ketika Guru, Murid, dan Sebuah iPhone Melahirkan Film Juara Favorit

MALAM itu, gelap menggantung di langit Pantai Melasti, Ungasan, Badung, Bali. Debur ombak bersahutan dengan suara "cak... cak... cak..." yang...

Read moreDetails

The Odyssey (2026): Nolan Gagal Memulangkan Odysseus

by Bayu Wira Handyan
July 19, 2026
0
The Odyssey (2026): Nolan Gagal Memulangkan Odysseus

SUDAH tentu, Christopher Nolan bukan sutradara pertama yang mengadaptasi epos Odyssey milik Homer. Kisah itu sudah ada sekitar 2.800 tahun...

Read moreDetails

Ki Ai Nirnur —Ketika Ogoh-Ogoh Bertanya tentang Kita

by Satria Aditya
June 1, 2026
0
Ki Ai Nirnur —Ketika Ogoh-Ogoh Bertanya tentang Kita

SORE itu, 31 Mei 2026, Cinepolis di Plaza Renon, Denpasar, terasa berbeda. Tidak ramai seperti biasanya. Tidak ada antrean panjang...

Read moreDetails

Crocodile Tears (2024): Penjara Air Mata Buaya

by Bayu Wira Handyan
May 11, 2026
0
Crocodile Tears (2024): Penjara Air Mata Buaya

RAUNGAN reptil purba itu masih terdengar samar, terus hidup, bahkan ketika saya berjalan keluar bioskop. Semakin jauh, raungan itu masih...

Read moreDetails

Refleksi Usai Menonton Film ‘Pesta Babi’ di Ubud

by Doni Sugiarto Wijaya
May 10, 2026
0
Refleksi Usai Menonton Film ‘Pesta Babi’ di Ubud

PADA tanggal 9 Mei 2026, di malam hari, sekitar pukul 18:15 , saya mengunjungi Sokasi Café and Living. Alamat café...

Read moreDetails

Film ‘Michael’ : Merayakan Sang Raja, Menghindari Bayang-Bayang Kontroversi

by Made Adnyana
May 6, 2026
0
Film ‘Michael’ : Merayakan Sang Raja, Menghindari Bayang-Bayang Kontroversi

TIDAK banyak film biografi mampu merangkum kehidupan seorang musisi besar secara utuh. Ada yang memilih merayakan, ada pula yang mencoba...

Read moreDetails

Hoppers (2026): Kritik Sosial-Ekologis yang Setengah Hati

by Jaswanto
March 28, 2026
0
Hoppers (2026): Kritik Sosial-Ekologis yang Setengah Hati

SEJAK menonton video promosi singkatnya di media sosial, saya tahu bahwa Hoppers (2026) bukan sekadar film animasi yang diperuntukkan untuk...

Read moreDetails

Film ‘Sore: Istri dari Masa Depan’: Ketika Cinta Datang untuk Mengubah Takdir

by Agung Kesawa Kevalam
February 12, 2026
0
Film ‘Sore: Istri dari Masa Depan’: Ketika Cinta Datang untuk Mengubah Takdir

ADA jenis cinta yang datang untuk menemani, dan banyak juga yang datang untuk mengingatkan. Itulah kesan yang saya dapatkan ketika...

Read moreDetails

Sisi Lain 1965 : ‘Surat dari Praha’ (2016)

by Rana Nasyitha
January 24, 2026
0
Sisi Lain 1965 : ‘Surat dari Praha’ (2016)

WAKTU itu saya melihat judul film ini di sebuah aplikasi/platform streaming lokal. Di antara kumpulan film indonesia lainnya, Surat Dari...

Read moreDetails
Next Post
Sthala Ubud Village Jazz Festival 2024, Panggung Kebebasan Itu Telah Dibuka

Sthala Ubud Village Jazz Festival 2024, Panggung Kebebasan Itu Telah Dibuka

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [4]: Kerumunan yang Tidak Bisa Dibaca

PADA 2010, sebuah platform bernama Nulisbuku.com mulai beroperasi dengan premis yang terdengar sangat sederhana sekaligus sangat radikal: siapa pun bisa...

by Andre Syahreza
August 22, 2026
Renungan Meja Makan
Esai

Renungan Meja Makan

DI banyak keluarga Indonesia, dulu, meja makan adalah tempat bersama untuk mengobrol, bertukar pikiran, atau berdiskusi sambil atau usai makan....

by Angga Wijaya
August 22, 2026
Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native
Esai

Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native

DIGITAL NATIVE, yaitu generasi yang tumbuh dalam lingkungan yang akrab dengan teknologi digital. Mereka terbiasa memperoleh informasi melalui mesin pencari,...

by I Ketut Suar Adnyana
August 22, 2026
Jaga Ekosistem Alam dan Lingkungan di Buleleng, Wabup Supriatna Lepaskan Tukik dan Bersihkan Saluran di Pantai Banjar
Lingkungan

Jaga Ekosistem Alam dan Lingkungan di Buleleng, Wabup Supriatna Lepaskan Tukik dan Bersihkan Saluran di Pantai Banjar

PEMERINTAH Kabupaten (Pemkab) Buleleng terus menguatkan komitmen terhadap pelestarian lingkungan melalui kegiatan Bersih Pantai dan Pelepasan Tukik di Pantai Banjar,...

by tatkala
August 21, 2026
Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata
Esai

Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata

BALI selama ini dibayangkan sebagai ruang sosial yang hangat, terbuka, dan penuh keramahan. Gambaran tentang orang Bali yang murah senyum,...

by I Ketut Suar Adnyana
August 21, 2026
Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [3]: Melayani Pembaca: Ketika Penulis Berhenti Memimpin

SESUATU bergeser setelah Ayat-Ayat Cinta menjadi fenomena nasional yang mengubah lanskap penerbitan Indonesia. Ayat-Ayat Cinta terbit pada 2004, segera menjadi...

by Andre Syahreza
August 22, 2026
Dari Makam Ki Hadjar Dewantara sampai Candi Prambanan
Tualang

Dari Makam Ki Hadjar Dewantara sampai Candi Prambanan

SAYA tidak merencanakan bahwa ketika kembali ke Bali melalui Bandara Yogyakarta International Airport (YIA), Kulon Progo, dari Kota Yogyakarta, saya...

by I Nyoman Tingkat
August 21, 2026
Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang
Esai

Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang

ADA kalanya sebuah sekolah menjadi tempat berlangsungnya sebuah kegiatan. Tetapi ada kalanya pula, sekolah justru menjadi bagian dari pesan yang...

by I Wayan Yudana
August 21, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Lomba Tujuhbelasan dan Pertanyaan tentang Kemerdekaan yang Kita Rayakan

---Kemerdekaan bukan hanya sesuatu yang diproklamasikan dan diperingati, tetapi sesuatu yang seharusnya dapat dialami manusia dalam kehidupan sehari-hari. PADA suatu...

by Tri Nugroho Adi
August 21, 2026
JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?
Esai

JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?

SAAT tulisan ini dibuat, JIA Curated mungkin sedang melaksanakan acara penutupan. Pamerannya sendiri berlangsung sejak tanggal 13 Agustus sampai 17...

by I Nyoman Gede Maha Putra
August 21, 2026
Buleleng Punya Kekayaan Sumber Daya Pangan Melimpah sebagai Modal Utama Melakukan Inovasi Pangan Lokal
Ekonomi

Buleleng Punya Kekayaan Sumber Daya Pangan Melimpah sebagai Modal Utama Melakukan Inovasi Pangan Lokal

BULELENG | TATKALA – Kabupaten Buleleng memiliki kekayaan sumber daya pangan yang melimpah. Mulai dari umbi-umbian, buah-buahan, hasil pertanian, peternakan,...

by tatkala
August 20, 2026
Sugi Lanus Bedah Akar “Brain Drain” dan Masa Depan Talenta Bali Utara di Buleleng Festival 2026
Khas

Sugi Lanus Bedah Akar “Brain Drain” dan Masa Depan Talenta Bali Utara di Buleleng Festival 2026

Masa depan sumber daya manusia di Bali Utara menjadi salah satu isu yang mengemuka dalam rangkaian agenda budaya tahunan Buleleng...

by Komang Puja Savitri
August 20, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co