2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Merenungi Ajian “Tri Samaya” Lewat Film “Sekawan Limo”

I Dewa Gede Darma Permana by I Dewa Gede Darma Permana
August 2, 2024
in Ulas Film
Merenungi Ajian “Tri Samaya” Lewat Film “Sekawan Limo”

Gambar Cuplikan Film ‘Sekawan Limo’ Diambil dari CNN Indonesia

MANUSIA adalah makhluk hidup yang memiliki keterbatasan. Dalam beberapa hal, manusia masih belum mampu menelaah sesuatu di luar batas nalar dan logikanya.

Manusia di dalam kehidupan, juga hanya bisa memprediksi sesuatu berlandaskan teori dan kejadian yang sudah terjadi. Untuk hal yang lebih luas, tidak ada satupun manusia di dunia yang benar-benar mampu memastikan seperti apa situasi dunia di masa yang akan datang.

Berbicara mengenai masa depan, tidak akan bisa dilepaskan dengan pasangan mesranya yang bernama masa lalu. Sebagai cermin keadaan dan periode yang telah lewat, masa lalu memiliki kecenderungan membawa kesan dan aura yang sangat pekat.

Tidak jarang masa lalu menjelma sebagai tali penjerat yang membuat manusia sangat terjerat. Bahkan yang lebih mengerikan, masa lalu juga bisa hadir sebagai teror hantu yang kehadirannya bisa sangat menakutkan.

Cermin kehidupan ini terefleksi lewat film Sekawan Limo yang hadir di pertengahan tahun 2024. Karya besutan YouTubers terkenal Bayu Skak ini tidak hanya menyajikan film bergenre horor-komedi seperti biasanya. Lebih dari pada itu, film ini sukses menyajikan kekentalan budaya Jawa dan nilai luhur yang membuat rasa dalam raga terperanga.

Dari banyaknya pesan moral yang tersurat maupun tersirat, salah satu pengetahuan yang terlintas sesaat diri ini selesai menonton film ini adalah ajian Tri Samaya.

Mengenal Tri Samaya

Tri Samaya adalah konsepsi luhur akan kehidupan yang mencerminkan 3 alur waktu.

Tiga Alur waktu ini, terdiri atas: 1) ‘Atita’ yang menjadi cermin akan masa lalu, 2) ‘Wartamana’ yang menjadi cermin akan masa kini, serta 3) Anagata yang menjadi cermin akan masa depan. Ketiga alur waktu ini, menjadi hakikat konkret yang akan selalu menemani manusia dalam menjalani kehidupan (Sukrawati, 2019: 114).

Meskipun terlihat sederhana, banyak manusia yang sering tertipu daya akan ajian Tri Samaya. Ada manusia yang terlalu terjebak akan masa lalunya, ada juga manusia yang terlalu mengkhawatirkan seperti apa masa depannya.

Dua situasional tersebut, pada akhirnya membawa konsekuensi, dimana manusia tidak bisa menikmati kehidupannya di masa sekarang.

Melarikan Diri dari Masa Lalu

Setiap manusia pasti memiliki substansi yang disebut masa lalu. Entah hal tersebut menjadi sesuatu yang mengagumkan, atau justru menjadi sesuatu yang kelam. Untuk sebagian besar orang, masa lalu cenderung bisa menjadi kenangan buruk yang mengerikan.

Tidak jarang, beberapa pihak memilih untuk tidak menerima, melarikan diri, atau justru mengutuk masa lalunya yang kurang berkenan. Padahal esensi dari hadirnya Atita, sesungguhnya menjadi cermin pembelajaran terbaik untuk umat manusia yang dikenal dengan istilah “Pengalaman”.

Kegundahan akan masa lalu inilah yang terefleksi secara jelas melalui beberapa karakter di Film Sekawan Limo.

Dikisahkan saat perjalanan mendaki gunung, beberapa karakter seperti Lenni yang diperankan oleh Nadya Arina, Andrew yang diperankan oleh Indra Pramujito, serta Dicky yang diperankan oleh Firza Valaza, tidak ada yang berani menatap ke belakang guna menghadapi masa lalu.

Mereka cenderung menghindar, bahkan hampir mengambil jalan pintas, dan mengorbankan sesuatu yang berharga.

*Apa sesuatu yang berharga itu? Silahkan tonton Filmnya saja nggih, saya tidak mau spoiler, hehehee.

Dihantui Masa Lalu di Masa Sekarang

Bukannya berhasil menjadi pil penenang, masa lalu yang dipaksa diabaikan, justru menjelma menjadi hantu yang membawa teror menakutkan Tidak salah apabila beberapa manusia yang masih dihantui masa lalu, malah tidak berhasil menikmati jalan yang tengah mereka lalui sekarang.

Padahal, esensi dari ajian Wartamana atau masa kini adalah sesuatu yang perlu diprioritaskan, karena menjadi kunci penentu kehidupan.

Refleksi akan hantu masa lalu secara gamblang tergambar dalam film Sekawan Limo. Dimana karakter-karakternya yang terlalu terjebak akan perintah ‘tidak boleh menengok ke belakang’, justru gagal memperoleh pengalaman bermakna dalam pendakian.

Mereka masih terbayang-bayang akan kenangan di belakang, padahal ada kenangan indah yang mestinya bisa mereka nikmati sepanjang perjalanan.

Masa Depan Tidaklah Seburuk Itu!

Disamping membawa suasana masa kini yang tidak menyenangkan, teror hantu masa lalu juga bisa menghadirkan rasa kekhawatiran akan masa depan. Hal tersebut dikarenakan, sesuatu yang tidak mengenakkan di periode lampau, sangat ditakutkan bisa terulang kembali di periode yang akan datang.

Tidak jarang, situasi ini justru membawa orang-orang menjadi terlalu cemas akan seperti apa hari esok. Padahal dari sisi ajian Tri Samaya, Anagata atau Masa Depan hanya Sang Penguasa Waktu-lah yang mengetahuinya.

Dalam film Sekawan Limo, kecemasan akan masa depan juga tercermin secara jelas. Dimana dengan bekal masa lalu yang kelam, serta kegagalan dalam menikmati perjalan, juga berimbas pada ketakutan akan situasi di masa depan.

Hal ini juga turut membawa pada perjalanan pendakian yang menemui kesesatan, berputar-putar, dan tidak menemukan jalan pulang.

Titik terangnya pun tiba, ketika mereka berhasil mengalahkan hantu masa lalu dan berkenan menikmati jalan yang tengah mereka lalui. Dari sanalah muncul secercah harapan, akan puncak masa depan yang lebih baik dan menyenangkan.

 Dengan demikian, film Sekawan Limo bisa dikatakan telah berhasil menjadi karya yang membawa kembali pesan esensial ajian Tri Samaya dalam kehidupan.

Masa lalu sebagai bekal pengalaman, masa kini sebagai kunci prioritas, serta masa depan yang tak selamanya bisa diprediksi, diharapkan bisa selalu berusaha dimengerti dan dipedomani. Terlebih pada hakikatnya, setiap manusia atas restu Sang Sutradara, bisa menjadi pemeran utama di setiap episode yang mereka tentukan masing-masing.

Sekarang tinggal memilih, apakah di akhir nanti ingin menjadi happy ending atau sad ending? [T]

Daftar Referensi

  • Sukrawati, Ni Made. 2019. Acara Agama Hindu. Denpasar: UNHI Press.


BACA artikel lain dari penulis DEWA GEDE DARMA PERMANA

Siapa ‘Sang Dewi’ di Balik Hari Raya Saraswati?
Bagaimana Siksa Kubur Versi Hindu?
“Melajah Kalah”
Tumpek Krulut Adopsi Hari Valentine?
Rwa Bhineda Pasti Ada
Suka-Duka-Lara-Pati, Mengenal 4 Serangkai Bekal Abadi
Wajah Nyepi, Relasi Agama dan Budaya untuk Harmoni
Tags: filmhindujawaresensi film
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Gong Tunas Mekar Pengosekan Ubud, Lahir 1958, Dibeli dari Hasil “Maderep” Padi

Next Post

Sthala Ubud Village Jazz Festival 2024, Panggung Kebebasan Itu Telah Dibuka

I Dewa Gede Darma Permana

I Dewa Gede Darma Permana

Penulis, Editor, Penyuluh Agama. Biasa dipanggil Dede Brayen. Lahir dan tinggal di Klungkung.

Related Posts

Breadsong: Menelusuri Jejak Masa Depan dari Roti Berjamur–Catatan Minikino Film Week Festival 12

by Yoga Wismantara
September 24, 2026
0
Breadsong: Menelusuri Jejak Masa Depan dari Roti Berjamur–Catatan Minikino Film Week Festival 12

SAYA saya masih duduk di bangku SMP, saya pernah bertanya pada diri sendiri, “Apa yang akan terjadi jika saya bisa...

Read moreDetails

Gecko: Menelusuri Ingatan Mei 1998

by Arya Dhamma Nanda
September 24, 2026
0
Gecko: Menelusuri Ingatan Mei 1998

PERKEMBANGAN ekonomi dalam masyarakat biasanya memicu berbagai perubahan pada pasar yang kemudian berdampak pada kehidupan masyarakat dan lingkungan di sekitarnya....

Read moreDetails

Menelusuri Enam Film ENIGMA di Minikino Film Week 2026: Ketika Setiap Keputusan Memiliki Konsekuensi

by Arya Dhamma Nanda
September 21, 2026
0
Menelusuri Enam Film ENIGMA di Minikino Film Week 2026: Ketika Setiap Keputusan Memiliki Konsekuensi

ENIGMA adalah program kompilasi film pendek dalam ajang Minikino Film Week 12 (MFW12) yang mengusung subjudul What Goes Around Comes...

Read moreDetails

SPEEDY!, Film Anak-Anak yang Mengajak Orang Tua Berkaca —Catatan Minikino Film Week 12

by Arya Dhamma Nanda
September 13, 2026
0
SPEEDY!, Film Anak-Anak yang Mengajak Orang Tua Berkaca —Catatan Minikino Film Week 12

PERKEMBANGAN teknologi yang pesat di era globalisasi menyita perhatian publik dari berbagai aspek, mulai dari ekonomi, transportasi, hiburan, hingga lembaga...

Read moreDetails

“Tung Tung Uma”: Ketika Sawah Menjadi Medan Pertaruhan

by Satria Aditya
August 7, 2026
0
“Tung Tung Uma”: Ketika Sawah Menjadi Medan Pertaruhan

ADA satu hal yang langsung terasa begitu duduk menonton Tung Tung Uma, bagaimana Amrita Dharma memetakan setiap adegannya dengan begitu...

Read moreDetails

“Niskala yang Menari”: Ketika Guru, Murid, dan Sebuah iPhone Melahirkan Film Juara Favorit

by Angga Wijaya
July 31, 2026
0
“Niskala yang Menari”: Ketika Guru, Murid, dan Sebuah iPhone Melahirkan Film Juara Favorit

MALAM itu, gelap menggantung di langit Pantai Melasti, Ungasan, Badung, Bali. Debur ombak bersahutan dengan suara "cak... cak... cak..." yang...

Read moreDetails

The Odyssey (2026): Nolan Gagal Memulangkan Odysseus

by Bayu Wira Handyan
July 19, 2026
0
The Odyssey (2026): Nolan Gagal Memulangkan Odysseus

SUDAH tentu, Christopher Nolan bukan sutradara pertama yang mengadaptasi epos Odyssey milik Homer. Kisah itu sudah ada sekitar 2.800 tahun...

Read moreDetails

Ki Ai Nirnur —Ketika Ogoh-Ogoh Bertanya tentang Kita

by Satria Aditya
June 1, 2026
0
Ki Ai Nirnur —Ketika Ogoh-Ogoh Bertanya tentang Kita

SORE itu, 31 Mei 2026, Cinepolis di Plaza Renon, Denpasar, terasa berbeda. Tidak ramai seperti biasanya. Tidak ada antrean panjang...

Read moreDetails

Crocodile Tears (2024): Penjara Air Mata Buaya

by Bayu Wira Handyan
May 11, 2026
0
Crocodile Tears (2024): Penjara Air Mata Buaya

RAUNGAN reptil purba itu masih terdengar samar, terus hidup, bahkan ketika saya berjalan keluar bioskop. Semakin jauh, raungan itu masih...

Read moreDetails

Refleksi Usai Menonton Film ‘Pesta Babi’ di Ubud

by Doni Sugiarto Wijaya
May 10, 2026
0
Refleksi Usai Menonton Film ‘Pesta Babi’ di Ubud

PADA tanggal 9 Mei 2026, di malam hari, sekitar pukul 18:15 , saya mengunjungi Sokasi Café and Living. Alamat café...

Read moreDetails
Next Post
Sthala Ubud Village Jazz Festival 2024, Panggung Kebebasan Itu Telah Dibuka

Sthala Ubud Village Jazz Festival 2024, Panggung Kebebasan Itu Telah Dibuka

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

by Chusmeru
September 30, 2026
Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”
Budaya

Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”

TABANAN | TATKALA -- Dua pelajar muda asal Tabanan, Bali, I Putu Bagus Sastra Vedanta Wiyasa dan Ni Kadek Ayu...

by Rusdy Ulu
September 30, 2026
Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?
Opini

Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

PENDIDIKAN gratis kembali menjadi pembicaraan publik pasca Presiden Prabowo Subianto pada 18 September 2026 menyatakan komitmennya agar biaya pendidikan pada...

by Dini Nastiti Wardani
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co