13 July 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Merenungi Ajian “Tri Samaya” Lewat Film “Sekawan Limo”

I Dewa Gede Darma Permana by I Dewa Gede Darma Permana
August 2, 2024
in Ulas Film
Merenungi Ajian “Tri Samaya” Lewat Film “Sekawan Limo”

Gambar Cuplikan Film ‘Sekawan Limo’ Diambil dari CNN Indonesia

MANUSIA adalah makhluk hidup yang memiliki keterbatasan. Dalam beberapa hal, manusia masih belum mampu menelaah sesuatu di luar batas nalar dan logikanya.

Manusia di dalam kehidupan, juga hanya bisa memprediksi sesuatu berlandaskan teori dan kejadian yang sudah terjadi. Untuk hal yang lebih luas, tidak ada satupun manusia di dunia yang benar-benar mampu memastikan seperti apa situasi dunia di masa yang akan datang.

Berbicara mengenai masa depan, tidak akan bisa dilepaskan dengan pasangan mesranya yang bernama masa lalu. Sebagai cermin keadaan dan periode yang telah lewat, masa lalu memiliki kecenderungan membawa kesan dan aura yang sangat pekat.

Tidak jarang masa lalu menjelma sebagai tali penjerat yang membuat manusia sangat terjerat. Bahkan yang lebih mengerikan, masa lalu juga bisa hadir sebagai teror hantu yang kehadirannya bisa sangat menakutkan.

Cermin kehidupan ini terefleksi lewat film Sekawan Limo yang hadir di pertengahan tahun 2024. Karya besutan YouTubers terkenal Bayu Skak ini tidak hanya menyajikan film bergenre horor-komedi seperti biasanya. Lebih dari pada itu, film ini sukses menyajikan kekentalan budaya Jawa dan nilai luhur yang membuat rasa dalam raga terperanga.

Dari banyaknya pesan moral yang tersurat maupun tersirat, salah satu pengetahuan yang terlintas sesaat diri ini selesai menonton film ini adalah ajian Tri Samaya.

Mengenal Tri Samaya

Tri Samaya adalah konsepsi luhur akan kehidupan yang mencerminkan 3 alur waktu.

Tiga Alur waktu ini, terdiri atas: 1) ‘Atita’ yang menjadi cermin akan masa lalu, 2) ‘Wartamana’ yang menjadi cermin akan masa kini, serta 3) Anagata yang menjadi cermin akan masa depan. Ketiga alur waktu ini, menjadi hakikat konkret yang akan selalu menemani manusia dalam menjalani kehidupan (Sukrawati, 2019: 114).

Meskipun terlihat sederhana, banyak manusia yang sering tertipu daya akan ajian Tri Samaya. Ada manusia yang terlalu terjebak akan masa lalunya, ada juga manusia yang terlalu mengkhawatirkan seperti apa masa depannya.

Dua situasional tersebut, pada akhirnya membawa konsekuensi, dimana manusia tidak bisa menikmati kehidupannya di masa sekarang.

Melarikan Diri dari Masa Lalu

Setiap manusia pasti memiliki substansi yang disebut masa lalu. Entah hal tersebut menjadi sesuatu yang mengagumkan, atau justru menjadi sesuatu yang kelam. Untuk sebagian besar orang, masa lalu cenderung bisa menjadi kenangan buruk yang mengerikan.

Tidak jarang, beberapa pihak memilih untuk tidak menerima, melarikan diri, atau justru mengutuk masa lalunya yang kurang berkenan. Padahal esensi dari hadirnya Atita, sesungguhnya menjadi cermin pembelajaran terbaik untuk umat manusia yang dikenal dengan istilah “Pengalaman”.

Kegundahan akan masa lalu inilah yang terefleksi secara jelas melalui beberapa karakter di Film Sekawan Limo.

Dikisahkan saat perjalanan mendaki gunung, beberapa karakter seperti Lenni yang diperankan oleh Nadya Arina, Andrew yang diperankan oleh Indra Pramujito, serta Dicky yang diperankan oleh Firza Valaza, tidak ada yang berani menatap ke belakang guna menghadapi masa lalu.

Mereka cenderung menghindar, bahkan hampir mengambil jalan pintas, dan mengorbankan sesuatu yang berharga.

*Apa sesuatu yang berharga itu? Silahkan tonton Filmnya saja nggih, saya tidak mau spoiler, hehehee.

Dihantui Masa Lalu di Masa Sekarang

Bukannya berhasil menjadi pil penenang, masa lalu yang dipaksa diabaikan, justru menjelma menjadi hantu yang membawa teror menakutkan Tidak salah apabila beberapa manusia yang masih dihantui masa lalu, malah tidak berhasil menikmati jalan yang tengah mereka lalui sekarang.

Padahal, esensi dari ajian Wartamana atau masa kini adalah sesuatu yang perlu diprioritaskan, karena menjadi kunci penentu kehidupan.

Refleksi akan hantu masa lalu secara gamblang tergambar dalam film Sekawan Limo. Dimana karakter-karakternya yang terlalu terjebak akan perintah ‘tidak boleh menengok ke belakang’, justru gagal memperoleh pengalaman bermakna dalam pendakian.

Mereka masih terbayang-bayang akan kenangan di belakang, padahal ada kenangan indah yang mestinya bisa mereka nikmati sepanjang perjalanan.

Masa Depan Tidaklah Seburuk Itu!

Disamping membawa suasana masa kini yang tidak menyenangkan, teror hantu masa lalu juga bisa menghadirkan rasa kekhawatiran akan masa depan. Hal tersebut dikarenakan, sesuatu yang tidak mengenakkan di periode lampau, sangat ditakutkan bisa terulang kembali di periode yang akan datang.

Tidak jarang, situasi ini justru membawa orang-orang menjadi terlalu cemas akan seperti apa hari esok. Padahal dari sisi ajian Tri Samaya, Anagata atau Masa Depan hanya Sang Penguasa Waktu-lah yang mengetahuinya.

Dalam film Sekawan Limo, kecemasan akan masa depan juga tercermin secara jelas. Dimana dengan bekal masa lalu yang kelam, serta kegagalan dalam menikmati perjalan, juga berimbas pada ketakutan akan situasi di masa depan.

Hal ini juga turut membawa pada perjalanan pendakian yang menemui kesesatan, berputar-putar, dan tidak menemukan jalan pulang.

Titik terangnya pun tiba, ketika mereka berhasil mengalahkan hantu masa lalu dan berkenan menikmati jalan yang tengah mereka lalui. Dari sanalah muncul secercah harapan, akan puncak masa depan yang lebih baik dan menyenangkan.

 Dengan demikian, film Sekawan Limo bisa dikatakan telah berhasil menjadi karya yang membawa kembali pesan esensial ajian Tri Samaya dalam kehidupan.

Masa lalu sebagai bekal pengalaman, masa kini sebagai kunci prioritas, serta masa depan yang tak selamanya bisa diprediksi, diharapkan bisa selalu berusaha dimengerti dan dipedomani. Terlebih pada hakikatnya, setiap manusia atas restu Sang Sutradara, bisa menjadi pemeran utama di setiap episode yang mereka tentukan masing-masing.

Sekarang tinggal memilih, apakah di akhir nanti ingin menjadi happy ending atau sad ending? [T]

Daftar Referensi

  • Sukrawati, Ni Made. 2019. Acara Agama Hindu. Denpasar: UNHI Press.


BACA artikel lain dari penulis DEWA GEDE DARMA PERMANA

Siapa ‘Sang Dewi’ di Balik Hari Raya Saraswati?
Bagaimana Siksa Kubur Versi Hindu?
“Melajah Kalah”
Tumpek Krulut Adopsi Hari Valentine?
Rwa Bhineda Pasti Ada
Suka-Duka-Lara-Pati, Mengenal 4 Serangkai Bekal Abadi
Wajah Nyepi, Relasi Agama dan Budaya untuk Harmoni
Tags: filmhindujawaresensi film
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Gong Tunas Mekar Pengosekan Ubud, Lahir 1958, Dibeli dari Hasil “Maderep” Padi

Next Post

Sthala Ubud Village Jazz Festival 2024, Panggung Kebebasan Itu Telah Dibuka

I Dewa Gede Darma Permana

I Dewa Gede Darma Permana

Penulis, Editor, Penyuluh Agama. Biasa dipanggil Dede Brayen. Lahir dan tinggal di Klungkung.

Related Posts

Ki Ai Nirnur —Ketika Ogoh-Ogoh Bertanya tentang Kita

by Satria Aditya
June 1, 2026
0
Ki Ai Nirnur —Ketika Ogoh-Ogoh Bertanya tentang Kita

SORE itu, 31 Mei 2026, Cinepolis di Plaza Renon, Denpasar, terasa berbeda. Tidak ramai seperti biasanya. Tidak ada antrean panjang...

Read moreDetails

Crocodile Tears (2024): Penjara Air Mata Buaya

by Bayu Wira Handyan
May 11, 2026
0
Crocodile Tears (2024): Penjara Air Mata Buaya

RAUNGAN reptil purba itu masih terdengar samar, terus hidup, bahkan ketika saya berjalan keluar bioskop. Semakin jauh, raungan itu masih...

Read moreDetails

Refleksi Usai Menonton Film ‘Pesta Babi’ di Ubud

by Doni Sugiarto Wijaya
May 10, 2026
0
Refleksi Usai Menonton Film ‘Pesta Babi’ di Ubud

PADA tanggal 9 Mei 2026, di malam hari, sekitar pukul 18:15 , saya mengunjungi Sokasi Café and Living. Alamat café...

Read moreDetails

Film ‘Michael’ : Merayakan Sang Raja, Menghindari Bayang-Bayang Kontroversi

by Made Adnyana
May 6, 2026
0
Film ‘Michael’ : Merayakan Sang Raja, Menghindari Bayang-Bayang Kontroversi

TIDAK banyak film biografi mampu merangkum kehidupan seorang musisi besar secara utuh. Ada yang memilih merayakan, ada pula yang mencoba...

Read moreDetails

Hoppers (2026): Kritik Sosial-Ekologis yang Setengah Hati

by Jaswanto
March 28, 2026
0
Hoppers (2026): Kritik Sosial-Ekologis yang Setengah Hati

SEJAK menonton video promosi singkatnya di media sosial, saya tahu bahwa Hoppers (2026) bukan sekadar film animasi yang diperuntukkan untuk...

Read moreDetails

Film ‘Sore: Istri dari Masa Depan’: Ketika Cinta Datang untuk Mengubah Takdir

by Agung Kesawa Kevalam
February 12, 2026
0
Film ‘Sore: Istri dari Masa Depan’: Ketika Cinta Datang untuk Mengubah Takdir

ADA jenis cinta yang datang untuk menemani, dan banyak juga yang datang untuk mengingatkan. Itulah kesan yang saya dapatkan ketika...

Read moreDetails

Sisi Lain 1965 : ‘Surat dari Praha’ (2016)

by Rana Nasyitha
January 24, 2026
0
Sisi Lain 1965 : ‘Surat dari Praha’ (2016)

WAKTU itu saya melihat judul film ini di sebuah aplikasi/platform streaming lokal. Di antara kumpulan film indonesia lainnya, Surat Dari...

Read moreDetails

Alas Roban: Hermeneutika Ketakutan, Ibu, dan Ingatan Kolektif Jawa

by Ahmad Sihabudin
January 23, 2026
0
Alas Roban: Hermeneutika Ketakutan, Ibu, dan Ingatan Kolektif Jawa

BAGI generasi yang tumbuh sebelum jalan tol Trans Jawa rampung, nama Alas Roban bukan sekadar penanda geografis. Ia adalah kata...

Read moreDetails

Mengapa Kita Membutuhkan Drama untuk Bertahan Hidup? — Tanggapan untuk Jaswanto

by Angga Wijaya
January 21, 2026
0
Mengapa Kita Membutuhkan Drama untuk Bertahan Hidup?  — Tanggapan untuk Jaswanto

PADA esai Eskapisme dan Mikrodrama China di Media Sosial (Tatkala.co, 16 Januari 2026), saya sepakat dengan Jaswanto, sang penulis, dalam...

Read moreDetails

Eskapisme dan Mikrodrama China di Media Sosial

by Jaswanto
January 16, 2026
0
Eskapisme dan Mikrodrama China di Media Sosial

SEORANG pria muda jomlo dan kurang mampu dari zaman modern entah bagaimana ceritanya bisa melintasi waktu dan masuk ke tubuh...

Read moreDetails
Next Post
Sthala Ubud Village Jazz Festival 2024, Panggung Kebebasan Itu Telah Dibuka

Sthala Ubud Village Jazz Festival 2024, Panggung Kebebasan Itu Telah Dibuka

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kacak Kicak dan Pembacaan Akan Sesuatu yang Setengah-Setengah

    23 shares
    Share 23 Tweet 0
  • Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Indonesia Flair Tandem 2026: Saat Bartender Menyulap Atraksi Menjadi Seni Pertunjukan
Panggung

Indonesia Flair Tandem 2026: Saat Bartender Menyulap Atraksi Menjadi Seni Pertunjukan

DENTING botol beradu dengan irama musik. Shaker melayang di udara, berputar beberapa kali sebelum kembali mendarat tepat di tangan sang...

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
Rockestrasi, Ketika Rock dan Orkestra Bersatu di Festival Seni Bali Jani
Panggung

Rockestrasi, Ketika Rock dan Orkestra Bersatu di Festival Seni Bali Jani

DENTUMAN drum, raungan gitar listrik, dan koor ratusan penonton menggema di Panggung Madya Mandala, Taman Budaya Bali, Minggu (12/7/2026) malam....

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
“Sumpah Drupadi”, Panggung Refleksi tentang Martabat dan Keadilan
Panggung

“Sumpah Drupadi”, Panggung Refleksi tentang Martabat dan Keadilan

PERTUNJUKAN drama klasik persembahan Sanggar Teater Mini pada pembukaan Festival Seni Bali Jani (FSBJ) VIII Tahun 2026 membangkitkan nostalgia penonton,...

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
Festival Seni Bali Jani 2026 Resmi Bergulir, Ruang Kreativitas Baru Seni Modern dan Kontemporer Bali
Panggung

Festival Seni Bali Jani 2026 Resmi Bergulir, Ruang Kreativitas Baru Seni Modern dan Kontemporer Bali

Usai menutup rangkaian Pesta Kesenian Bali (PKB) XLVIII Tahun 2026, Pemerintah Provinsi Bali langsung membuka lembaran baru perjalanan kesenian melalui...

by Nyoman Budarsana
July 12, 2026
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU
Esai

HINDU BALI OLENG KARENA TIGA PILAR SUCI TAK SEIMBANG?

— Sugi Lanus, Catatan Harian 8 Juli 2026 Agama Hindu di Bali berdiri di atas tiga pilar suci yang tak...

by Sugi Lanus
July 12, 2026
Pra-Ignite Fest Kesbam, Membangun Keakraban Sebelum Mengenal Lebih Jauh
Khas

Pra-Ignite Fest Kesbam, Membangun Keakraban Sebelum Mengenal Lebih Jauh

PAGI itu, matahari belum membumbung tinggi. Namun halaman SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam) sudah dipenuhi ratusan wajah baru penuh...

by Dede Putra Wiguna
July 12, 2026
Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum
Esai

Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum

Materi ini akan disampaikan dalam Festival Seni Bali Jani VIII, Denpasar 20 Juli 2026 MENJADI dosen sastra bagi saya bukan...

by I Wayan Artika
July 12, 2026
Yang Paling Dalam, Yang Tetap Online  —Prolog untuk Buku Puisi “Yang Paling Dalam, Yang Paling Diam” karya Chris Triwarseno
Ulas Buku

Yang Paling Dalam, Yang Tetap Online  —Prolog untuk Buku Puisi “Yang Paling Dalam, Yang Paling Diam” karya Chris Triwarseno

KITA tidak memulai dari halaman kosong. Kita masuk ketika semuanya sudah berlangsung. Layar sudah menyala, jempol bergerak hampir tanpa perintah,...

by IRZI
July 12, 2026
Tak Ada Goresan yang Salah —Mengenang Made Budhiana
Esai

Tak Ada Goresan yang Salah —Mengenang Made Budhiana

Hal pertama yang saya ingat dari Made Budhiana bukanlah lukisan. Melainkan suara The Doors yang diputar keras-keras di studionya. Kadang...

by Agung Bawantara
July 12, 2026
Keserakahan yang Menghancurkan Persaudaraan: Drama-Tari “Pemurtian Sunda Upasunda” Hidupkan Kembali Pesan Adiparwa di Piodalan Pura Dalem Desa Adat Ubud
Panggung

Keserakahan yang Menghancurkan Persaudaraan: Drama-Tari “Pemurtian Sunda Upasunda” Hidupkan Kembali Pesan Adiparwa di Piodalan Pura Dalem Desa Adat Ubud

SERANGKAIAN dengan Upacara Piodalan Pedudusan Alit di Pura Dalem Desa Adat Ubud pada Rahina Anggara Kasih Medangsia, hari Selasa (7/7/2026),...

by Agus Eka Cahyadi
July 11, 2026
Tubuh-Properti-Panggung “Gita Sarayu” Desa Selat, Karangasem: Catatan Ringkas dari Perspektif (Seni) Rupa
Ulas Pentas

Tubuh-Properti-Panggung “Gita Sarayu” Desa Selat, Karangasem: Catatan Ringkas dari Perspektif (Seni) Rupa

BERDAMAI dengan panggung terbuka Ardha Candra di Taman Budaya Bali, Art Centre di Denpasar tidaklah mudah, sebab siapa pun yang...

by Dewa Purwita Sukahet
July 11, 2026
Belajar, Mencoba, Lalu Menemukan—Dari Workshop Pembelajaran Mendalam Berbasis STEM di SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar
Khas

Belajar, Mencoba, Lalu Menemukan—Dari Workshop Pembelajaran Mendalam Berbasis STEM di SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar

SUASANA ruang pertemuan SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar hari itu terasa berbeda. Para guru berdiri mengelilingi meja, saling berdiskusi, tertawa,...

by Dede Putra Wiguna
July 11, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co